Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 2, 2025 Open Access: https://ojs. id/jste/ Penerapan Pembelajaran Berbasis Cerita Interaktif untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Perintah Puasa pada di kelas Vi SMP Negeri 1 Rambah Hilir Sri Muliani1. Erna Fitri2. Roswita3 1 SMP Negeri 1 Rambah Hilir, 2 SMP Negeri 7 Rambah Hilir, 3 SD Negeri 008 Rambah Hilir Correspondence: srimuliani4876@gmail. Article Info Article history: Received 02 Jan 2025 Revised 20 Feb 2025 Accepted 31 Mar 2025 Keyword: Interactive Storytelling. Fasting Commandments. Islamic Education. Classroom Action Research. Student Engagement ABSTRACT This classroom action research aims to improve studentsAo understanding of the fasting commandments . erintah puas. in Islamic teachings by applying interactive storytelling methods. The study was conducted with eighth-grade students at SMP Negeri 1 Rambah Hilir. The research was carried out in two cycles, each involving planning, action, observation, and Initially, students showed a limited understanding of the significance and purpose of fasting in Islam. The introduction of interactive storytelling, where students actively participated in narrating and discussing stories related to fasting, greatly enhanced their engagement and The results showed that students were more able to explain the spiritual and practical aspects of fasting, including its benefits and rules. They also demonstrated increased enthusiasm and critical thinking about how fasting is connected to self-discipline and empathy. This method effectively connected theoretical learning with real-life experiences, making the lesson more meaningful. As a result, the study concluded that interactive storytelling is an effective approach to teaching complex religious concepts and can significantly enhance studentsAo understanding and retention of Islamic teachings, particularly on topics such as fasting. A 2025 The Authors. Published by PT SYABAN MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Agama Islam di sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa serta pemahaman mereka terhadap ajaran agama. Salah satu materi yang diajarkan dalam Pendidikan Agama Islam adalah tentang puasa, yang merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Materi ini sangat penting untuk dipahami, terutama oleh siswa di jenjang SMP, yang mulai memasuki usia remaja dan mengalami perubahan fisik serta psikologis yang dapat mempengaruhi pemahaman mereka terhadap ajaran agama (Syaiful, 2. Namun, berdasarkan observasi awal, banyak siswa di kelas Vi SMP Negeri 1 Rambah Hilir yang masih kurang memahami tujuan dan hikmah puasa. Mereka hanya mengerti bahwa puasa adalah menahan makan dan minum tanpa mengetahui secara mendalam makna spiritual dan filosofis di Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk mengembangkan metode yang dapat menyampaikan pemahaman lebih mendalam tentang puasa, yang tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga sebagai bentuk latihan spiritual dan pengembangan diri (Rahmawati, 2. Di sisi lain, metode pembelajaran yang selama ini diterapkan di kelas cenderung bersifat konvensional dan lebih menekankan hafalan, seperti menghafal doa-doa dan aturan-aturan puasa. Meskipun hal ini penting, namun tidak cukup untuk membentuk pemahaman yang utuh mengenai puasa. Siswa sering kali menganggap pelajaran ini sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan mereka, sehingga sulit untuk mereka mengaitkan ajaran agama dengan perilaku sehari-hari (Fitria, 2. Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman siswa, diperlukan sebuah pendekatan yang lebih menarik dan mampu menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman hidup mereka. Salah satu metode yang dianggap efektif adalah pembelajaran berbasis cerita interaktif. Melalui metode ini, siswa First Author. Second Author, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 tidak hanya mendengar atau menghafal cerita, tetapi juga terlibat secara aktif dalam diskusi dan refleksi tentang materi yang disampaikan (Suyadi, 2. Cerita interaktif memungkinkan siswa untuk melihat relevansi antara ajaran agama dengan kehidupan mereka, sehingga meningkatkan pemahaman dan kesadaran mereka. Dalam pendekatan ini, guru dapat menggunakan cerita-cerita yang berkaitan dengan pengalaman hidup Nabi Muhammad SAW, para sahabat, atau cerita-cerita inspiratif lainnya yang mengandung nilai-nilai moral yang relevan dengan materi puasa. Cerita-cerita ini dapat dijadikan titik awal untuk mengajak siswa berdiskusi dan merenungkan makna puasa secara lebih mendalam, baik secara pribadi maupun sosial (Syaiful, 2. Penggunaan cerita interaktif ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membantu siswa untuk lebih menghargai esensi puasa. Kelebihan lain dari pembelajaran berbasis cerita interaktif adalah kemampuannya untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih hidup dan menyenangkan. Siswa tidak hanya belajar secara pasif, tetapi mereka dapat terlibat aktif dalam menceritakan kembali cerita, berdiskusi, dan bahkan berperan dalam peran-peran yang ada dalam cerita tersebut. Hal ini sangat sesuai dengan karakteristik perkembangan siswa SMP yang lebih menyukai pembelajaran yang melibatkan interaksi, diskusi, dan pengalaman langsung (Arsyad, 2. Metode cerita interaktif juga mampu mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa. Siswa yang lebih dominan belajar melalui pendengaran . dapat mengikuti cerita dengan baik, sementara siswa yang lebih kinestetik dapat terlibat dalam gerakan atau peran-peran dalam cerita tersebut. Selain itu, cerita interaktif memberikan ruang bagi siswa untuk berimajinasi dan mengembangkan keterampilan sosial mereka, seperti bekerja sama dan mendengarkan pendapat teman (Gardner, 2. Namun, meskipun cerita interaktif memiliki banyak keuntungan, penerapannya dalam pembelajaran PAI di tingkat SMP masih terbilang jarang. Banyak guru yang lebih memilih menggunakan metode konvensional karena dirasa lebih mudah dan cepat. Padahal, metode yang lebih menarik dan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan, khususnya dalam materi yang memerlukan penghayatan mendalam, seperti puasa (Suyanto, 2. Pada kenyataannya, pembelajaran tentang puasa tidak hanya mengajarkan siswa tentang aturan, tetapi juga nilai-nilai spiritual, seperti kesabaran, empati terhadap sesama, dan pengendalian diri. Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditekankan, terutama bagi siswa yang sedang berada dalam fase perkembangan remaja, di mana mereka sering kali menghadapi tantangan dalam mengontrol diri dan emosi mereka (Suyadi, 2. Oleh karena itu, penggunaan cerita yang mengandung nilai-nilai tersebut sangat tepat untuk memperdalam pemahaman siswa tentang puasa. Pembelajaran berbasis cerita interaktif dapat memperkenalkan puasa tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritual. Dengan cara ini, puasa menjadi lebih dari sekadar kegiatan fisik, tetapi juga sebuah latihan jiwa yang mengajarkan nilai-nilai luhur yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Fitria, 2. Siswa diajak untuk melihat puasa sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang memperkaya diri. Seiring dengan perkembangan zaman, pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan siswa semakin penting. Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang berbasis pada aktivitas dan pengalaman nyata sangat mendukung penerapan metode ini. Melalui cerita interaktif, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan mereka, menjadikannya lebih bermakna dan aplikatif (Kemendikbud, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menggali lebih dalam bagaimana penerapan pembelajaran berbasis cerita interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi perintah puasa. PTK ini juga bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode cerita interaktif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berdampak pada peningkatan kesadaran spiritual siswa. Melalui dua siklus, penelitian ini akan menilai perubahan yang terjadi pada siswa dalam hal pemahaman, partisipasi, dan sikap mereka terhadap puasa sebagai salah satu ibadah yang penting dalam Islam. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus di kelas Vi SMP Negeri 1 Rambah Hilir, dengan subjek penelitian sebanyak 30 siswa. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan, di mana guru menerapkan First Author. Second Author, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 metode cerita interaktif untuk menyampaikan materi tentang perintah puasa. Cerita yang disampaikan berkaitan dengan pengalaman Nabi Muhammad SAW dan sahabat, yang kemudian dibahas bersama siswa dalam diskusi untuk memperdalam pemahaman mereka. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, tes formatif, dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mencatat tingkat keterlibatan siswa selama pembelajaran, sedangkan tes formatif berupa pretest dan posttest digunakan untuk mengukur pemahaman siswa sebelum dan sesudah Wawancara dilakukan untuk mengetahui persepsi siswa tentang penggunaan metode cerita interaktif dalam pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman dan partisipasi siswa dalam materi perintah puasa serta dampaknya terhadap sikap mereka terhadap ibadah puasa. RESULTS AND DISCUSSION Pelaksanaan siklus I menunjukkan adanya peningkatan minat siswa terhadap materi perintah puasa setelah diterapkannya metode cerita interaktif. Guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan cerita tentang pengalaman Nabi Muhammad SAW selama berpuasa, yang mengundang perhatian siswa. Namun, hasil tes formatif menunjukkan bahwa hanya 14 dari 30 siswa . %) yang dapat menjelaskan makna dan tujuan puasa secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun siswa terlibat aktif, mereka belum memahami dengan baik esensi dari perintah puasa yang diajarkan melalui cerita (Suyadi. Selain itu, observasi menunjukkan bahwa sebagian siswa hanya mengingat informasi dari cerita tanpa mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka lebih fokus pada cerita itu sendiri dan tidak sepenuhnya memahami tujuan spiritual dari puasa. Guru mencatat perlunya mengaitkan cerita dengan refleksi langsung mengenai pengalaman siswa, seperti bagaimana mereka menjalani puasa di bulan Ramadan (Fitria, 2. Pada siklus II, guru menambahkan sesi diskusi kelompok untuk mendorong siswa menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan bagaimana puasa mengajarkan mereka untuk lebih sabar dan empati. Hasilnya, pemahaman siswa meningkat tajam. Sebanyak 24 dari 30 siswa . %) dapat menjelaskan tujuan puasa dengan lebih jelas dan dapat memberikan contoh penerapan nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari (Rahmawati, 2. Siswa juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mereka untuk menggali nilai moral dari Mereka tidak hanya mengingat cerita, tetapi juga mampu mengidentifikasi pesan-pesan yang terkandung dalam cerita tersebut, seperti pentingnya kesabaran dan pengendalian diri selama berpuasa. Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode cerita interaktif dapat membantu siswa lebih memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa (Syaiful, 2. Wawancara dengan siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih mudah mengerti tentang puasa setelah mendengarkan cerita yang disampaikan dengan cara yang menarik. Beberapa siswa mengatakan bahwa cerita tersebut membuat mereka merasa lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW dan merasa terdorong untuk menjalankan puasa dengan penuh kesadaran. Hal ini menunjukkan dampak positif dari cerita yang relevan dengan kehidupan mereka (Suyanto, 2. Selain itu, guru juga merasakan manfaat dari penerapan metode ini. Guru merasa lebih mudah mengelola kelas karena siswa lebih aktif dan berpartisipasi dalam diskusi. Ketika siswa diberi kesempatan untuk berbicara dan berbagi pendapat, mereka menjadi lebih tertarik dan tidak merasa bosan dengan pembelajaran PAI yang selama ini terkesan monoton (Asmani, 2. Penurunan jumlah siswa yang tidak mencapai KKM dari siklus I ke siklus II juga menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman materi. Pada siklus I, 16 siswa . %) tidak mencapai KKM, sementara pada siklus II, hanya 6 siswa . %) yang tidak mencapai KKM. Ini menandakan bahwa cerita interaktif tidak hanya meningkatkan keterlibatan, tetapi juga memperbaiki pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan (Arsyad, 2. Dalam hal motivasi, siswa juga menunjukkan perubahan sikap yang positif. Mereka lebih antusias berbicara tentang puasa dan tidak hanya menganggapnya sebagai kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk meningkatkan keimanan dan kedekatan mereka dengan Allah. Siswa juga mulai menunjukkan sikap empati terhadap teman-teman yang mungkin mengalami kesulitan dalam menjalankan puasa, yang merupakan salah satu tujuan dari ibadah puasa (Syaiful, 2. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif, di mana siswa tidak hanya belajar secara pasif, tetapi juga aktif dalam proses diskusi dan refleksi. Mereka saling mendukung satu sama lain dalam memahami First Author. Second Author, etc . Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. 2 Maret 2025 materi dan saling berbagi pengalaman. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis cerita dapat mendorong kerja sama dan meningkatkan keterampilan sosial siswa (Gardner, 2. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis cerita interaktif dapat meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa terhadap materi perintah puasa. Metode ini tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, tetapi juga membantu siswa untuk mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, penggunaan cerita interaktif dalam pembelajaran PAI di SMP sangat direkomendasikan, terutama pada materi-materi yang bersifat kompleks dan memerlukan pemahaman mendalam CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis cerita interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi perintah puasa pada kelas Vi SMP Negeri 1 Rambah Hilir. Dalam siklus pertama, meskipun minat siswa meningkat, pemahaman mereka terhadap esensi puasa masih terbatas. Namun, setelah penambahan sesi diskusi kelompok pada siklus kedua, hasil tes dan wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menjelaskan tujuan, hikmah, dan aplikasi puasa dalam kehidupan mereka dengan lebih baik. Cerita interaktif memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat secara emosional dan reflektif, memperdalam pemahaman mereka terhadap ajaran Islam, khususnya puasa. Penerapan cerita yang mengandung nilai moral dan spiritual juga berkontribusi pada peningkatan sikap siswa, membuat mereka lebih menghargai ibadah puasa dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, metode cerita interaktif terbukti efektif dalam pembelajaran PAI dan dapat diterapkan untuk materi-materi lain yang memerlukan penghayatan mendalam, terutama bagi siswa remaja yang membutuhkan metode yang lebih menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka. REFERENCES