JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA), VOL. NO. JULI 2025 E-ISSN 2715-842X PENILAIAN KINERJA SISTEM JARINGAN IRIGASI AIR TANAH KAWASAN KARST GUNUNGKIDUL UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN Hendro Susilo Universitas Merdeka Madiun. Jalan Serayu No 79 Kota Madiun hendro_susilo@unmer-madiun. Abstrak Ketahanan pangan mempunyai peran penting untuk mewujudkan negara yang kuat dan mandiri. Ditengah situasi geopolitik yang tidak menentu, ketahanan pangan harus segera terwujud. Untuk mewujudkan ketahanan pangan semua daerah yang ada di Indonesia harus menghasilkan produktifitas pertanian secara maksimum dengan melibatkan semua aspek seperti infrastruktur, sumberdaya manusia dan sosial masyarakat. Kabupaten Gunungkidul sebagai bagian dari wilayah Indonesia mempunyai sebagian daerah unik berupa karakteristik geologi karst yang memiliki keterbatasan sumber air Kawasan daerah karst dapat memanfaatkan potensi air tanah untuk digunakan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pertanian. Dengan melakukan pendekatan indeks kinerja irigasi air tanah menggunakan rumus AuKautsarAy kita bisa mengetahui nilai parameter fisik, sosial dan manajemen dalam rangka evaluasi untuk perbaikan sitem irigasi air tanah. Hasil survey dan analisa pada lokasi studi diperoleh hasil nilai 2,886 Ae 3,515 yang berarti mempunyai nilai indek kinerja kurang sd sedang. Dengan nilai tersebut kita bisa mengevaluasi parameter yang mempunyai nilai kurang untuk dilakukan perbaikan supaya diperoleh hasil maksimum. Kata Kunci: Ketahanan pangan, indeks kinerja, penilaian. Abstract Food security plays an important role in realizing a strong and self-reliant nation. Amid uncertain geopolitical conditions, achieving food security must be prioritized. To realize food security, all regions in Indonesia must maximize agricultural productivity by involving all aspects such as infrastructure, human resources, and social communities. Gunungkidul Regency, as part of Indonesia's territory, has unique areas characterized by karst geological features, which have limited surface water sources. Karst areas can utilize groundwater potential to support agricultural needs. By using a groundwater irrigation performance index approach with the AuKautsarAy formula, we can identify the values of physical, social, and management parameters to evaluate and improve the groundwater irrigation system. Survey and analysis results at the study site showed index values ranging from 2. 886 to 3. indicating low to moderate performance. Based on these values, we can evaluate the underperforming parameters for improvement in order to achieve optimal results. Keywords: Food security, performance index, evaluation. parameternya, bergantung pada seberapa berhasilnya petak irigasi tersebut menjalankan fungsinya, yaitu air yang optimal untuk padi yang diairi dan tanaman yang menyertainya di petak irigasi sawah . Pengertian karst pendapat Ford dan Williams . ialah formasi geologi dibawa oleh campuran batu pelarut dan memiliki porositas tambahan yang tinggi terkembang dengan baik sehingga memiliki karakteristik hidrologi dan bentuk lahan yang unik. Sifat batuannya yang mudah terlarut mengakibatkan adanya cekungan-cekungan menutup ataupun lembah kering dengan bermacam bentuk serta Selain itu pada daerah karst jarang atau bahkan tidak terdapat drainase atau sungai permukaan karena tingginya porositas sekunder, menyebabkan air mudah lolos ke bawah PENDAHULUAN Pemanfaatan irigasi air tanah yaitu dengan sistem jaringan irigasi air tanah (JIAT) merupakan salah satu cara agar kebutuhan air irigasi dapat terpenuhi, dengan demikian P2AT membuat sumur produksi dengan melakukan pengeboran dan pembangunan jaringan irigasi air . Sumber daya air pertanian terutama lahan dan air mengalami penurunan secara kuantitas dan kualitas. Selain penurunan luas baku lahan pertanian akibat konversi ke penggunaan non pertanian seiring dengan upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kualitas lahan pertanian juga mengalami penurunan . Elemen utama dari sistem irigasi adalah petak irigasi. Seberapa berhasilnya irigasi dan JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA). VOL. NO. JULI 2025 permukaan dan membentuk sistem drainase bawah tanah . Kawasan karst merupakan bentang alam yang terbentuk dalam waktu yang sangat lama. Karst merupakan bentang alam yang tersusun oleh batuan karbonat . atu gampin. yang membentuk tatanan morfologi dan hidrologi yang unik dan khas . Karst dalam kawasan Gunungkidul, atau yang dikenalkan oleh Danes . dengan sebutan Karst Gunungsewu, berupa kubah karst . egel kars. berbentuk sinusoidal tumpul dan digolongkan selaku karst terbuka . are/nackter kars. bermacam conical hills. Karakteristik tersebut tidaklah dapat dilihat di kawasan karst lain dan menjadi suatu keunikan sendiri di Indonesia bahkan dunia . Perubahan iklim dapat berdampak secara tidak langsung terhadap berkurangnya sumber daya alam yang potensial. Kawasan karst merupakan salah satu bentang alam permukaan bumi yang memiliki potensi kerentanan terhadap sumber daya air. Sumber daya air tanah di akuifer karst rentan terhadap kontaminasi, eksploitasi berlebihan, dan perubahan iklim . Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan . JIAT adalah Eksploitasi sumur dalam langsung ke akuifer diperlukan untuk pengambilan air memakai alat pemompa. Metode tersebut dimana dikenal sebagai Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) (Lasmana & Millo, 2. Upaya pencapaian ketahanan pangan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengelolaan air yang berkelanjutan, karena keterhubungan erat antara sektor air, energi. E-ISSN 2715-842X dan pangan menjadi kunci dalam menjaga kesejahteraan masyarakat pedesaan . Risiko kekeringan di Indonesia semakin meningkat akibat variabilitas iklim, sehingga diperlukan pendekatan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengelolaan sumber daya air . Strategi irigasi yang adaptif terhadap perubahan iklim terbukti mampu menekan konsumsi air pertanian tanpa mengurangi produktivitas, sehingga menjadi solusi penting bagi keberlanjutan ketahanan pangan . Sistem Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul belum menunjukkan kinerja yang optimal dalam mendukung pemenuhan kebutuhan air Terdapat perbedaan tingkat kinerja pada masing-masing aspek JIAT, dimana aspek manajemen cenderung menjadi kelemahan dominan dibandingkan aspek fisik maupun Dengan metode penilaian indeks kinerja sistem irigasi air tanah dapat diketahui tingkat keberhasilan pada sistem tersebut sehingga merepresentasikan kondisi aktual dilapangan untuk dapatnya dilakukan evaluasi dan perbaikan secara tepat. Dikarenakan belum terdapat penelitian yang secara spesifik menilai kinerja JIAT di kawasan karst Gunungkidul ataupun metode evaluasi yang ada masih umum, belum menyentuh aspek sosial dan manajemen. Diperlukan suatu metode evaluasi yang mampu merepresentasikan kondisi aktual kinerja JIAT di lapangan, salah satunya melalui penerapan Indeks Kautsar sebagai pendekatan penilaian yang komprehensif. Sedangkan pendekatan model indeks kinerja yang digunakan adalah model indeks kinerja Kautsar, karena model indeks kinerja Kautsar diperuntukkan untuk sistem irigasi air tanah yang berbeda dengan indeks umum irigasi Penelitian ini penting dilakukan saat ini karena isu ketahanan pangan nasional semakin mendesak di tengah kondisi perubahan iklim, keterbatasan sumber daya air, dan dinamika JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA). VOL. NO. JULI 2025 geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas pangan. Kabupaten Gunungkidul, sebagai wilayah dengan karakteristik geologi karst yang rentan kekeringan, membutuhkan sistem irigasi air tanah yang andal untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Oleh karena itu, evaluasi kinerja Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) melalui pendekatan Indeks Kautsar menjadi relevan dan strategis sebagai upaya perbaikan manajemen sumber daya air sekaligus mendukung pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan. E-ISSN 2715-842X untuk keperluan irigasi yang berlokasi di Kabupaten Gunungkidul. Hasil survei lokasi dan kondisi sumur JIAT Kabupaten Gunungkidul dipilih 10 titik sumur. Lokasi studi dipilih Kabupaten Gunungkidul dengan pertimbangan Kabupaten Gunungkidul didominasi bentuk lahan karst sebagai bagian dari kompleks Perbukitan Karst Gunung sewu dan sebagian berupa lahan non karst Dasar penentuan lokasi studi adalah kawasan tersebut masuk dalam daerah CAT (Cekungan Air Tana. Letak Kabupaten Gunungkidul yakni di 110,35A BT sampai 110,83A BT serta 7,76A LS hingga 8,15A LS. Kabupaten seluas 1. 485,36 km2 ini termasuk dalam wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). II. METODE Pengumpulan Data Pengumpulan identifikasi langsung dilokasi terhadap kondisi sumur air tanah dalam yang dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui BBWS Serayu Opak Sumber: Hasil Analisis Gambar 1 Peta Penyebaran Sumur Pompa Tabel 1. Lokasi Pengujian JIAT Kabupaten Gunungkidul JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA), VOL. NO. JULI 2025 Nama Sumur SP. Bogor SP. Playen I SP. Karangayu 2 SP. Karangayu 1 SP. Ngunut 1 SP. Karangduwet 1 SP. Kelor SP. Blimbing SP. Slametan SP. Mengger Kecamatan Playen Wonosari Karangmojo Karangmojo Karangmojo Wonosari Karangmojo Wonosari Karangmojo Karangmojo E-ISSN 2715-842X 0,2671. = 0,2588. f31 0,2205. = 0,1263. f41 0,1775. f42 0,3088. 0,2131. ILSosial = 0,2529. S1 0,7471. S2 . = 0,4790. s12 0,2277. = 0,3022. s21 0,5713. 0,3045. ILManajemen= 0,0674. M1 0,2270. 0,1987. M3 0. M5 . = 0,1584. m11 0,1672. = 0,2170. m21 0,2009. 0,2082. = 0,2029. m31 0,1847. 0,1606. = 0,3633. = 0,3463. m51 0,2974. Kabupaten Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Gunungkidul Karangmojo Pengolahan Data Penelitian ini menggunakan metode penilaian kinerja JIAT dengan menghitung indeks kinerja melalui rumus AuIndeks Layanan Kinerja KautsarAy. Dengan rumusan sebagai AuILKautsar = 0,6686. ILfisik 0,0856. ILsosial 0,2458. ILmanajemenAy . Model indeks kinerja Sistem Irigasi Air Tanah dari masing-masing aspek adalah sebagai ILFisik = 0. F1 0. F2 0. F4 . = 0,1269. f11 0,3421. f12 0,1629. 0,3322. f17 0,2020. = 0,2245. f21 0,3130. Dengan parameter sebagai berikut: Tabel 2. Parameter Indeks Kinerja Kautsar Variabel Aspek Fisik Aspek Sosial Dimensi Prasarana Fisik Simbol No Kondisi Geologis Kondisi Daerah Imbuhan Air Kualitas Air Kondisi Ekonomi Masyarakat Indikator Sumber Energi Pompa Rumah Pompa Sumur Bangunan Bagi Outlet Saluran Pembawa Kondisi Debit Konduktivitas Hidroulis (K) Jenis Batuan Kemiringan Lahan Potensi Air Tanah Jumlah Presipitasi di hulu Analisis PH Air Analisis COD Air Analisis BOD Air Analisis DO Air Zona Kering Aktivitas Ekonomi Simbol JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA), VOL. NO. JULI 2025 Variabel Dimensi Simbol No Indikator Kesejahteraan masyarakat Kondisi Sosial budaya Aspek Manajemen Arahan Penataan Ruang Produktivitas Tanaman Kondisi Organisasi Pengelola JIAT E-ISSN 2715-842X Kondisi Organisasi P3A Penganggaran Pendidikan Masyarakat Profesi Aktivitas kemasyarakatan Penilaian Lokasi Sumur Terhadap Upaya Konservasi Lokasi sumur terhadap RTRW Hasil Produksi Tanaman Pangan terhadap Kebutuhan Konsumsi Masyarakat Penentuan Jenis Tanaman Pangan Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Air Metode Pemberian Air Simbol Badan Hukum Status Aset Kompetensi Personal Monitoring pengelola terhadap sumur pompa Badan Hukum Pengalaman Kegiatan Kompetensi Personal Pendapatan operator Operasional sumur pompa Kinerja organisasi Status P3A terhadap aset Penganggaran (AKNOP) Anggaran dari pengelola untuk kebutuhan masing-masing sumur pompa Sumber: Performance index model of groundwater irrigation systems. Journal of Southwest Jiaotong University . Bobot pada setiap aspek dalam Indeks Kautsar diperoleh dari hasil penelitian sebelumnya yang mengombinasikan expert judgement dan kalibrasi statistik terhadap data empiris penggunaan JIAT di beberapa lokasi. Pembobotan ini mempertimbangkan tingkat pengaruh setiap aspek fisik, sosial, dan manajemen terhadap keberhasilan sistem irigasi air tanah. Dengan demikian, nilai indeks yang dihasilkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi mampu menggambarkan kondisi nyata di Selain itu, hubungan antara nilai indeks dengan output nyata ketahanan pangan dapat ditunjukkan melalui keterkaitan antara skor indeks dengan luas lahan yang berhasil diairi serta produktivitas pertanian yang Hal ini memperkuat relevansi Indeks Kautsar sebagai alat evaluasi yang dapat dijadikan dasar dalam perbaikan dan pengambilan keputusan pengelolaan JIAT. Klasifikasi Penilaian Indeks Kinerja Penilaian Indeks Kinerja Sistem Irigasi Air Tanah dilakukan berdasarkan klasifikasi skor, seperti yang tertera pada Tabel 3. Selanjutnya, peneliti menganalisis hasil dan penilaian untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki. Tabel 3. Klasifikasi Penilaian Indeks Kinerja Sistem Irigasi Air Tanah Skor Klasifikasi Penilaian Indeks 1-<2 Buruk 2-<3 Kurang 3-<4 Sedang 4-<5 Baik JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA). VOL. NO. JULI 2025 ILSosial = 0,2529. 2,5741 0,7471. 5,890 = 5,0550 = 0,1584. 5 0,1672. 5 = 1,6280 = 0,2170. 3 0,2009. 4 0,2082. 2,2874 = 0,2029. 3 0,1847. 3 0,1606. 1,8052 = 0,3633. 4 = 1,4532 = 0,3463. 3 0,2974. 4 = 2,2285 ILManajemen= 0,0674. 1,6280 0,2270. 2,2874 0,1987. 1,8052 0. 1,4532 2,2285 = 1,8561 ILKautsar = 0,6686. 3,7977 0,0856. 5,0550 0,2458. 1,8561 = 3,4281 Sehingga Sistem Irigasi Air Tanah SP. Ngunut 1 berindeks kinerja Au3,428Ay atau berkinerja AuSedangAy. Skor Klasifikasi Penilaian Indeks Sangat baik Sumber: Performance index model of groundwater irrigation systems. Journal of Southwest Jiaotong University . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Perhitungan Masing-masing parameter yang diuji adalah ILFisik. ILSosial. ILManajemen. Contoh perhitungan menggunakan AuIndeks Layanan KautsarAy. Pada SP. Ngunut 1 hasil penelitian dan observasi bernilai sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Penilaian SP. Bogor Aspek Aspek Fisik Aspek Sosial Manajemen E-ISSN 2715-842X Hasil perhitungan pada SP. Ngunut 1 adalah sebagai berikut: Gambar 2 Foto Eksisting SP. Ngunut 1 Tabel 3. Hasil Penilaian SP. Ngunut 1 Hasil uji parameter masing-masing pada sampel sumur JIAT pada Kabupaten Gunungkidul adalah seperti pada Tabel 4 = 0,1269. 5 0,3421. 5 0,1629. 0,3322. 4 0,2020. 3 = 4,9314 = 0,2245. 4 0,3130. 3 0,2671. 2,6383 = 0,2588. 3 0,2205. 3= 1,4379 = 0,1263. 3 0,1775. 2 0,3088. 0,2131. 2 = 2,0870 ILFisik = 0. 4,9314 0. 2,6383 1,4379 0. 2,0870 = 3,7977 = 0,4790. 3 0,2277. 5 = 2,5741 = 0,3022. 5 0,5713. 5 0,3045. 5,890 Tabel 4. Hasil Uji Setiap Parameter JIAT Kabupaten Gunungkidul Nama Sumur Fisik Sosial Manajemen SP. Bogor 3,632 3,462 1,849 SP. Playen I 3,558 3,357 1,688 SP. Karangayu 2 3,317 4,322 1,560 SP. Karangayu 1 3,363 5,072 1,911 JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA), VOL. NO. JULI 2025 Nama Sumur SP. Ngunut 1 SP. Karangduwet 1 SP. Kelor SP. Blimbing SP. Slametan SP. Mengger Fisik 3,798 3,806 3,900 3,552 2,970 3,856 Sosial 5,055 4,521 5,055 4,212 4,950 4,950 Manajemen 1,856 1,964 1,932 1,774 1,923 2,046 E-ISSN 2715-842X Analisis Aspek Fisik. Aspek Sosial dan Aspek Manajemen Menurut bobot model indeks Kautsar, aspek fisik mempunyai nilai bobot terbesar yaitu sebesar 0,6686, disusul dengan aspek manajemen sebesar 0,2458 dan aspek sosial sebesar 0,0856. Akan tetapi dengan melihat hasil perhitungan hal tersebut tidak linear, dimana dari obyek penelitian berupa 10 sumur yang tersebar indeks layanan berupa sosial nilainya lebih besar bila dibandingkan dengan fisik dan manajemen. Adapun secara grafik dapat kami sampaikan seperti dalam Gambar 5. Gambar 3 Barchart Semua Aspek Hasil perhitungan indeks kinerja pada sampel sumur JIAT di Kabupaten Gunungkidul adalah sebagai berikut: Tabel 5 Hasil Perhitungan Indeks Kinerja JIAT Kabupaten Gunungkidul Indeks Nama Sumur Parameter Layanan SP. Bogor 3,179 Sedang SP. Playen I 3,082 Sedang SP. Karangayu 2 2,971 Kurang SP. Karangayu 1 3,152 Sedang SP. Ngunut 1 3,428 Sedang SP. Karangduwet 1 3,415 Sedang SP. Kelor 3,515 Sedang SP. Blimbing 3,172 Sedang SP. Slametan 2,886 Kurang SP. Mengger 3,505 Sedang Gambar 5 Indeks Layanan Sumur Dengan grafik diatas kita bisa melihat indeks layanan fisik, sosial dan manajemen untuk masing-masing lokasi sumur. Dari hasil survey dilapangan kondisi fisik sumur banyak yang mengalami kerusakan ( sumber energi, pompa, rumah pompa, sumur, bangunan bagi, outlet, saluran pembawa, dan debi. sehingga menyebabkan nilai indek layanan menjadi kecil. Sedangkan kondisi dilapangan dari tinjauan faktor sosial . endidikan, aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyaraka. mempunyai kondisi yang bagus sehingga menyebabkan indeks layanan sosial bernilai tinggi. Dan yang terakhir dari tinjauan manajemen dikarenakan menyebabkan nilainya tidak bisa optimal. Strategi Ketahanan Pangan Dari hasil diatas dapat dianalisis dan aspek-aspek diperbaiki atau dikembangkan demi mencapai indeks kinerja yang optimal dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Berikut beberapa Gambar 4 Diagram Alir Penelitian JURNAL INOVTEK SERI TEKNIK SIPIL DAN APLIKASI (TEKLA). VOL. NO. JULI 2025 aspek yang dapat diperbaiki dalam masingmasing JIAT adalah: Aspek Fisik E-ISSN 2715-842X keberlanjutan sistem JIAT secara menyeluruh. Beberapa strategi yang dapat diterapkan C Penyusunan pemeliharaan (O&P) yang jelas dan berbasis kalender tanam lokal. C Pencatatan dan pelaporan debit air secara berkala untuk memantau penggunaan dan tren ketersediaan air tanah. C Pengalokasian anggaran rutin dari dana desa atau bantuan pemerintah untuk perawatan JIAT. C Pemanfaatan teknologi monitoring seperti sensor debit atau panel surya untuk mengurangi beban biaya energi. C Penerapan sistem pembiayaan kolektif dari petani untuk kebutuhan operasional yang ringan dan berkelanjutan Perbaikan aspek fisik bertujuan untuk meningkatkan efisiensi distribusi air dan daya tahan infrastruktur JIAT. Beberapa perbaikan yang dapat dilakukan antara lain: C Rehabilitasi sumur dan pompa yang sudah aus atau rusak untuk meningkatkan debit dan efisiensi pengambilan air. C Perbaikan jaringan distribusi agar tidak terjadi kebocoran dan kehilangan air di sepanjang jalur irigasi. C Penambahan tandon atau bak penampung untuk menyimpan cadangan air dan menjaga kontinuitas suplai saat pompa tidak berfungsi. C Pengaturan kembali saluran distribusi agar air lebih merata ke seluruh lahan pertanian, khususnya lahan yang berada di posisi topografi lebih tinggi. IV. KESIMPULAN Penilaian terhadap Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan bahwa sistem irigasi ini berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan, terutama di wilayah karst. Nilai indeks layanan berada pada kategori sedang, dengan aspek sosial relatif baik, namun aspek fisik dan Optimalisasi JIAT melalui peningkatan infrastruktur, penguatan kelembagaan, dan pemanfaatan teknologi irigasi efisien menjadi produktivitas pertanian. Aspek Sosial Perbaikan aspek sosial bertujuan untuk membangun kesadaran, partisipasi, dan tanggung jawab kolektif dalam pengelolaan JIAT. Langkah-langkah perbaikan antara lain: C Penguatan kelembagaan petani pengguna air . elompok tani atau P3A) agar lebih aktif dalam pengambilan keputusan dan pembagian air. C Peningkatan melalui pelatihan teknis sederhana tentang pemeliharaan dan pengoperasian JIAT. C Penerapan sistem sanksi dan insentif dalam penggunaan air untuk mendorong efisiensi dan kepatuhan terhadap jadwal irigasi. C Pendidikan masyarakat tentang konservasi air tanah untuk mengurangi sikap eksploitatif terhadap sumber daya. Aspek Manajemen UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta bantuan berupa data pendukung, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA