Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 MEMBANGUN CHARACTER BUILDING BAGI ANAK DIFABEL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM CHARACTER BUILDING FOR DIFFABLE CHILDREN IN ISLAMIC EDUCATION LEARNING Istiqomah1, Hendro Widodo2 1 Universitas Ahmad Dahlan, Jalan Pramuka No. 42 Sidikan Umbulharjo, Yogyakarta, Indonesia e-mail: istiomah.faiz@gmail.com ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ranah penanaman dan pengembangan karakter bagi anak difabel dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SD NU Sleman. Kajian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik analisa data dilakukan dengan model Spradley yakni teknik analisa data dengan pengumpulan data dilakukan secara bersamaan. Analisis ini terdiri dari analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis data. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penanaman karakter bagi anak difabel di SD NU yaitu tentang kemandirian, penerimaan diri dan sosial, dan self confidence terutama di sekolah. Dengan penanaman karakter ini, peserta difabel tidak mendapatkan persepsi negatif oleh peserta didik normal lainnya. Justru peserta didik normal mengapresiasi dan mengagumi kegigihan belajar peserta didik difabel.SD NU memiliki kurikulum terpadu dalam pembelajaran PAI agar pembentukan karakter akhlaqul karimah semakin terwujud.Peserta didik difabel ataupun yang berkebutuhan khusus lainnya berhak mendapat pendidikan agama Islam yang sama meski dengan keterbatasan yang ada. Dalam menetapkan materi, tujuan, dan metode pembelajaran agama Islam, guru mempertimbangkan kemampuan, kedalaman materi, metode, serta waktu yang tersedia. Kata Kunci: kemandirian, penerimaan diri dan sosial, self confidence, pendidikan agama Islam, difabel. ABSTRACT This article aims to examine the realm of planting and character development for children with disabilities in learning Islamic religious education at SD NU Sleman. This study is a field research with a descriptive qualitative approach. Data analysis techniques were carried out using the Spradley model, namely data analysis carried out in conjunction with data collection consisting of domain analysis, taxonomic analysis, compound analysis, and data analysis. The results of this study indicate that character planting must be built for children with disabilities in NU Elementary School, namely about independence, self-acceptance and social, and self-confidence, especially in school. By planting this character, disabled participants did not get negative perceptions by other normal students. Instead normal students appreciate and admire the persistence of learning disabled students. NU Elementary School has an integrated curriculum in PAI learning so that the formation of the akhlaqul karimah character is increasingly realized. Students with disabilities or those with other special needs have the right to receive the same Islamic education despite the limitations. In determining the material, objectives, and methods of learning Islam, religious teachers consider the ability, depth of material, methods, and time available. Keywords: Independence, Self and Social Acceptance, Self Confidence, Islamic Education, Diffable. First Received: 30 September 2019 Revised: 04 October 2019 Accepted: 05 October 2019 Published: 07 October 2019 ________________________________________________________________________________________________ 98 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 PENDAHULUAN Istilah difabel acapkali dilihat sebagai akronim (differently abbled) bukan different abbility seperti yang disebutkan oleh sebagian orang. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris yang berarti “orang yang memiliki kemampuan berbeda”. Istilah difabel dimaknai dengan kemampuan berbuat sesuatu dengan cara yang berbeda dengan lainnya. Misalnya orang yang tidak mempunyai kaki bisa melakukan mobilitas atau pergerakan dengan kursi roda. Ada beberapa sumber kapan dan bagaimana istilah difabel digunakan. Salah satunya adalah difabel diperkenalkan pada tahun 1981 dalam sebuah diskusi pada konferensi ketunanetraan Asia dengan penyelenggaranya dari International Federation of the Blind (IFB) bekerja sama dengan World Council for the Welfare of the Blind (WCWB) di Singapura. Tarsidi dan Somad mengemukakan bahwa para pendukung istilah difabel dengan tidak tepat memaknai disability sebagai ketidakmmapuan. Mereka beralasan bahwa mereka yang disabilitas dianggap bukannya tidak mampu dalam berbagai hal normal tetapi mempunyai kecenderungan atau kemampuan berbeda dengan lainnya (Maftuhin, 2016: 49). Difabel bukanlah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan (disable), mereka menjalankan aktivitas keseharian dengan keadaan fisik ataupun mental yang berbeda dengan mayoritas orang. Keadaan ini bisa merupakan bawaan sejak lahir ataupun muncul saat sudah dewasa, seperti bisa akibat dari penyakit, kecelakaan, malnutrisi, penganiayaan, atau sebab lainnya sehingga menyebabkan cacat mental dan atau fisik (Zuntriana, 2011: 20). Pada tahun 1999, P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 penggunaan istilah penyandang cacat diubah menjadi istilah diffable, karena istilah ini mengandung unsur pemaknaan dengan lebih halus dan lebih humanistik bagi kaum berkebutuhan khusus. Melalui penggunaan istilah diffable, masyarakat diajak untuk merombak nilai-nilai yang awalnya memandang keadaan tidak normal atau cacat sebagai ketidakmampuan atau kurangnya pemahaman terhadap diffable sebagai orang yang memiliki keadaan fisik berbeda pada umumnya (Gutama, 2016: 43). Hal ini sesungguhnya merupakan langkah yang baik menuju kesetaraan. Anak difabel berdaya beda dan bukan tidak berdaya (cacat), dan upaya ameliorasi ini seharusnya ditindaklanjuti dengan perlakuan nyata berupa pemenuhan hak-hak para diffable yang selama ini masih tidak terperhatikan (Zuntriana, 2011: 20). Anak difabel sering mendapatkan label atau stigma dari kaum yang mempunyai kekurangan sehingga dianggap memiliki ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas teretntu dibandingkan dengan anak normal lainnya. Labeling tersebut merujuk pada pernyataan ataupun sikap negatif orang-orang normal kepada mereka. Bahkan, masyarakat juga “pelit" memberikan apresiasi ataupun ramah terhadap mereka. Sebagai contoh dalam pembuatan gedung, fasilitas umum, dan lainnya yang sebagian belum ramah difabel (Hafiar, 2012: 44). Sebagian besar difabel memiliki kecenderungan eksklusif di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam artian mengasingkan diri ketika berinteraksi dengan orang lain. Hal ini sangatlah mempengaruhi perkembangan diri mereka karena kecenderungan ini bisa menjadikan ________________________________________________________________________________________________ 99 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 difabel sulit mengakses informasi ataupun komunikasi (Gutama, 2016: 43). Hak aksebilitas kaum difabel telah dijamin Undang-Undang No. 4, Pasal 7, Tahun 1997 yang menegaskan bahwa setiap penyandang cacat berhak memperoleh aksebilitas dalam rangka kemandiriannya. Undang-Undang ini didukung oleh pasal 10 ayat 2 tentang penyediaan aksebilitas diperuntukkan pada penciptaan kondisi dan lingkungan yang lebih menunjang para penyandang cacat agar sepenuhnya bisa hidup berdampingan dengan warga (Hafiar, 2012: 44 dan 45). Diskriminasi yang diterima oleh anak difabel, sudah seharusnya dihapuskan. Masyarakat maupun institusi sudah seharusnya membuka mata terhadap realitas kaum difabel. Di antara mereka bahkan sukses dengan kemampuan yang ditekuninya ataupun bakat alami yang dikembangkan dari diri mereka sendiri. Anak difabel berhak mendapatkan pendidikan. Islam memandang bahwa pendidikan merupakan kebutuhan mendasar tiap insan agar keberlangsungan hidup mereka lebih terjamin dan lebih bermartabat. Maka dari itu, negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bernilai atau bermutu pada tiap warga negaranya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan atau difabel (Sholeh, 2015: 293). Anak difabel umumnya diberikan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yaitu Sekolah Luar Biasa. Dalam perjalanannya, eksklusifisme anakanak difabel dan berkebutuhan khusus semakin nyata. Komunitas difabel menjadi teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat. Mereka mengalami problem dalam interaksi P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 secara sosial dan merasa keberadaannya bukan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Suprihatiningrum, dkk., 2013: 169). SD NU Sleman menerima anak-anak difabel untuk bersekolah dan bersosialisasi dengan anak-anak normal lainnya meski bukan merupakan bagian dari pendidikan inklusi. Bagi anak difabel, keterampilan dalam bersosial itu penting. Cartledge dan Milburn mengemukakan bahwa keterampilan sosial memungkinkan orang untuk berkomunikasi, belajar, mengajukan pertanyaan, meminta bantuan, mendapatkan kebutuhan mereka dengan cara yang sesuai, bergaul dengan orang lain, mencari teman, dan mengembangkan hubungan antar individu yang sehat, melindungi mereka sendiri, dan umumnya dapat berinteraksi dengan siapapun dalam kehidupan nyata. Interaksi sosial ini merupakan potensi bagi anak difabel dengan tujuan utamanya adalah penerimaan sosial. Mereka ingin bisa diterima oleh lingkungan masyarakat pada umumya (Trisnani, dkk., 2017: 146). Pada tahun pelajaran 2018-2019 ini, SD NU Sleman memiliki peserta didik difabel dengan beberapa keterbatasan diantaranya keterbatasan pada anggota gerak (tuna daksa) dan tuna grahita (keterbatasan mental). Tuna daksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal, baik sejak bawaan lahir maupun sebab lain. Pergeseran istilah, model pendekatan, dan sifat pendekatan terhadap anak-anak difabel dan disabilitas menggambarkan pergeseran perkembangan peran dan posisi difabel juga penyandang disabilitas. Menurut Brown S, mulanya difabel dan penyandang ________________________________________________________________________________________________ 100 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 disabilitas hanya sebagai objek semata, terintervensi, menerima bantuan, menjadi pasien, dan sebagai subjek penelitian. Adapun paradigma baru difabel dan penyandang disabilitas melihtanya sebagai user, menjadi partisipan riset, mitra yang terberdayakan (empowered peer), dan pemegang tampuk kebijakan (Sholeh, 2015: 302-303). Dalam pengembangan kurikulum PAI bagi difabel di beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB), ada permasalahan pada penyelarasan materi pembelajaran, kemampuan intelektual yang berbeda, terbatasnya timing belajar, kurangnya kemampuan guru pada penguasaan metode belajar yang efektif, dukungan orang tua yang kurang, media pembelajaran yang kurang variatif, dan lainnya (Irfan, 2017: 69). Berawal dari pertimbangan tersebut, orang tua difabel menginginkan tujuan agar putra putrinya mendapatkan pendidikan yang lebih dari sekedar pemenuhan kebutuhan pendidikan standar minimal. Untuk itulah, orang tua banyak memasukkan putra putrinya yang difabel untuk bersekolah bersama dengan anak normal lain, baik sekolah tersebut menyelenggarakan pendidikan inklusi ataupun tidak. Selain itu, karakter yang ingin dibangun terlepas dari eksklusiftas anak-anak difabel di sekolah bersama anakanak normal merupakan salah satu tujuannya. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian yang sifatnya kualitatif yang memakai jenis penelitian lapangan. Sumber data diperoleh secara langsung lewat pengamatan langsung atau observasi, interview, rekam, foto, dan informan yang sudah dipilih melalui hasil interview mendalam pada penelitian ini. Pengumpulan data dilaksanakan melalui cara P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 indepth interview, pengamatan langsung (observasi) di lapangan, dan studi literatur. Siswa-siswa SD NU ada yang berkebutuhan khusus, difabel, low learner, dan superior. Akan tetapi, subjek penelitian yang penulis ambil adalah para siswa yang terindikasi berkebutuhan khusus dan difabel baik dari kelas 2 sampai kelas 6, baik cacat fisik, autisme, maupun keterlambatan perkembangan mental. Teknik analisis data pada penelitian ini memakai teknik analisis data model Spradley, yakni analisis data dan proses pengumpulan data dilaksanakan secara bersamaan, terdiri dari analisis domain (untuk mendapatkan informasi ranah konseptual), analisis taksonomi (mendalami domain dan subdomain penting dengan merujuk pada bahan pustaka agar diperoleh pemahaman mendalam), analisis komponensial (mengkontraskan unsur-unsur pada ranah yang diperoleh dan berikutnya kategorisasi yang relevan), dan analisis tema. Perombakan pada bentuk narasi, deskripsi, dan argumentasi untuk ditarik kesimpulan sesuai sasaran penelitian (Spradley, 1997: 145). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, mengenai penanaman karakterdalam pembelajaran PAI bagi anak difabel di SD NU Sleman, ada beberapa pengalaman difabel didasarkan pada hasil temuan penelitian baik persepsi awal sebagian anak sekolah terkait keterbatasan fisik anak difabel, peran yang tidak dipercayakan kepada anak difabel, partisipasi, dan kesempatan dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya di sekolah. Namun, SD NU memiliki model ________________________________________________________________________________________________ 101 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 pendekatan sosial yang memandang difabel sepenuhnya sebagai bagian dari warga sekolah. Mereka berhak melakukan kegiatan yang dikehendakinya termasuk program sekolah baik belajar, bermain, outing, study tour, maupun kegiatan lainnya. Melalui model ini, peserta didik difabel memiliki hak, privilese, dan sumber daya yang sama dengan peserta didik lainnya (Zuntriana, 2011: 22). Proses pengambilan akses yang sama bagi difabel dapat diwujudkan dengan adanya kebijakan yang mendukung, pelayanan institusi pada peserta didik diffable dan modifikasi belajar pada pembelajaran tertentu (Abdorin, 2011: 346). Karakter yang dibangun bagi anak difabel adalah tentang kemandirian, penerimaan diri dan sosial, dan self confident terutama di sekolah. Kemandirian merupakan salah satu tujuan penting untuk diraih supaya difabel tidak mengalami persoalan ekstrim yang bisa membuat hak-haknya terabaikan (Gutama, 2016: 46). Di SD NU, anak difabel harus berbaur dengan sebagian besar anak normal. Melalui kegiatan sekolah yang beraneka ragam, kebutuhan akan kemandiarian bisa terpenuhi melalui proses pembelajaran di sekolah agar difabel dapat berkembang sesuai kodratnya serta hidup berdampingan dengan peserta didik lainnya. Kebutuhan sekolah tidak dibeda-bedakan. Selanjutnya difabel juga diarahkan untuk mencapai tujuan kemandirian, bertindak selaras dengan norma dan nila yang sudah menjadi budaya. Karakter mandiri dalam minoritas dibangun, menjadikan difabel tidak banyak tergantung kepada orang lain. Sikap kemandirian yang dibangun antara lain dalam belajar, melaksanakan ibadah, bermain, dan kegiatan makan selama P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 masih bisa dilakukan sendiri, mereka tidak banyak atau selalu meminta bantuan orang lain. Peserta didik difabel di SD NU berada di kelas 4 dan 5. Selama di area dalam gedung sekolah, difabel tidak perlu menggunakan kursi roda. Cukup memakai tongkat atau berjalan sambil berjinjit. Peserta didik difabel di sekolah kami, salah satunya hanya memiliki satu tangan dan satu kaki di bagian kiri dan ketidaksempurnaan anggota tubuhnya merupakan bawaan sejak lahir. Peserta didik difabel ini masuk kategori berkebutuhan khusus dan masuk dalam kelompok kelainan fisik tunadaksa ortopedi. Tunadaksa ortopedi yaitu orang yang mengalami ketunaan, kecacatan, ketidaksempurnaan tertentu pada motorik tubuhnya, terutama pada bagian tulang-tulang, otot tubuh, dan daerah persendian (Abdullah, 2013: 4). Peserta didik difabel lainnya yaitu tidak lengkapnya anggota jari tangan dan kaki saja. Teras sekolah antar satu dengan lainnya saling terhubung dan dibangun ramah difabel agar kursi roda bisa meluncur tanpa hambatan oleh tangga atau lainnya. Gambar 1. Siswa difabel bersama guru dan rekan sekolah. Carolina (2006) mengemukakan ketika melakukan aktivitas bersama dengan orang normal pada umumnya, akan terlihat permasalahan yang cukup mendasar pada perilaku difabel. Sebagai contoh ditemuinya kesulitan-kesulitan baik dalam kegiatan fisik, ________________________________________________________________________________________________ 102 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 sosial, ataupun psikologis saat mereka berbicara, bermain, ataupun ketika bersama dengan orang normal. Seiring berjalannya waktu, hal yang dirasakan difabel setelah masalah fisik yang tidak sempurna umumnya disertai masalah kesehatan, sosial, hingga psikologis. Namun, pengaruh masalah psikologis yang dialami difabel banyak terjadi akibat rentannya mendapatkan gangguangangguan salah satunya penerimaan diri (Tentama, 2014: 2). Gambar 2. Kemandirian selama Pesantren Ramadlan Ceria (PRC) 18 hari. Peserta didik difabel di SD NU bisa dikatakan mempunyai penerimaan diri yang cukup bagus. Cirinya adanya kemampuan dalam menghadapi hidup sehari-hari, tidak beranggapan bahwa dirinya abnormal, tidak beranggapan orang lain menolak diri mereka, bisa menghargai dirinya sebagai orang yang sederajat dengan lainnya, berani bertanggung jawab atas segala perilakunya, tidak hanya fokus terhadap dirinya dan tidak pemalu, dalam bertingkah laku memakai norma, menerima pujian dan celaan dengan obyektif serta tidak menyalahkan diri atas keterbatasan dirinya. Penerimaan diri sejatinya berupa sikap merasa puas dengan dirinya, bakat dan kualitas diri serta pengakuan akan keterbatasan sendiri. Suleman (1995) mengemukakan bahwa difabel yang menerima dirinya mempunyai penghargaan P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 yang tinggi tentang potensi dirinya beserta penghargaan bahwa dirinya bisa bermanfat untuk lainnya, percaya akan norma dan nilai serta tentang keterbatasan-keterbatasan tanpa memunculkan perilaku penolakan diri. Mereka bisa menerima keberadaan dirinya, mengetahui dan menghargai potensi dirinya (Tentama, 2014: 2-3). Kemampuan difabel dalam memahami akan dirinya yang diselaraskan dengan batas kemampuan intelektual dan kesempatan diri untuk menemukan jati dirinya menunjukkan pemahaman diri difabel. Difabel bisa mengenal dan menyadari keberadaan dirinya. Pemahaman diri sejalan dengan penerimaan diri. Harapan yang realistis menuntutnya untuk menyadari kelemahan sekaligus kelebihan yan dimilikinya. Perilaku sosial yang menyenangkan diupayakan oleh sekolah terhadap peserta didik difabel agar difabel menerima dirinya. Faktor kesuksesan atau keberhasilan dalam mendalami bakat juga mempengaruhi dan membentuk penerimaan diri. Perspektif diri dan adanya kondisi emosi yang menyenangkan diupayakan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah. Hal positif seperti inilah yang menjadikan difabel menerima dirinya (Tentama, 2014: 6). Umumnya, pola komunikasi dan interaksi anak difabel terhadap orang tuanya, kualitas interaksi dengan teman dan penerimaan anak pada lingkup wilayah tertentu adalah faktor eksternal atau lingkungan yang bisa mempengaruhi perkembangan sosial anak difabel. Cartledge dan Milburn (1995) mengemukakan adanya unsur keterampilan sosial diantaranya meminta izin, saling menolong, berbagi pengalaman, kontrol diri, negosiasi, mempertahankan hal yang umumnya benar, ________________________________________________________________________________________________ 103 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 merespon hinaan, menghindari permasalahan dengan siapapun, dan membuang jauh-jauh keinginan ingin bertengkar. Adapun salah satu cirinya adalah peer acceptance. Maksudnya tingkah laku yang berkaitan dengan penerimaan dengan teman sebaya, contohnya memberikan salam, berkomunikasi dalam pemberian dan penerimaan informasi, membersamai teman untuk terlibat dalam suatu kegiatan, dan memahami emosi orang lain dengan baik (Trisnani, dkk., 2017: 148149). Selain kemandirian dan penerimaan diri serta sosial, self confident atau kepercayaan diri mutlak harus ditanamkan pada difabel. Kepercayaan diri merupakan aspek penting untuk meraih kesuksesan. Ghufron dan Rini (2011) mengemukakakan bahwa kepercayaan diri merupakan keyakinan dalam melaksanakan sesuatu pada diri subjek sebagai karakteristik pribadi yang mana terdapat optimisme, objektifitas, kemampuan diri, rasional, bertanggung jawab, dan realistis. Surya mengemukakan bahwa ada unsur psikologis yang memberikan pengaruh dan membentuk kepercayaan diri yaitu gabungan unsur karakteristik citra fisik, citra psikologis, citra sosial, aspirasi, prestasi, dan emosional. Unsur emosional diantaranya self control (pengendali diri), keadaan hati yang sedang dirasakan, citra fisik, citra sosial, self image (pencitraan diri) dan aspek keterampilan teknis berbentuk keahlian menyusun kerangka berpikir dan keterampilan dalam menyelesaikan masalah (Hapsari, 2011: 341-342). SD NU berupaya menetralkan gejolak yang timbul akibat dari pola pikir peserta didik lain yang keliru mengenai difabel juga memperbaiki derajat kepercayaan peserta P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 didik kepada difabel, begitu pula sebaliknya. Hampir tidak ada anak normal yang suka mencela keadaan kekurangan bahkan kecacatan fisik difabel di SDNU. Anak-anak normal justru termotivasi dan menghargai difabel dengan kemampuan mereka yang bisa menyuguhkan sikap positif di hadapan peserta didik lainnya. Penanaman karakter Islami sangat ditekankan agar akhlakul karimah bisa terwujud diantara mereka. Penyaluran bakat peserta didik difabel juga diupayakan oleh orang tua maupun pendidik di sekolah. Minat renang dari difabel diupayakan secara intensif dan profesional sehingga tumbuh menjadi anak difabel yang berbakat dan bisa mengikuti Pekan Olahraga Difabel (Porda) DIY pada tahun 2019. Dengan penanaman sikap kemandirian, penerimaan diri dan kepercayaan diri, peserta difabel bisa belajar dengan baik di sekolah. Mereka nyaman bergaul dengan orang dewasa di sekolah maupun teman-teman. Dengan penanaman karakter ini, peserta difabel tidak mendapatkan persepsi negatif oleh peserta didik normal lainnya. Justru peserta didik normal mengapresiasi dan mengagumi kegigihan belajar peserta didik difabel. Hal yang terjadi di SD NU, kekurangan bentuk fisik akan lebih diterima dan dihargai daripada mereka yang mempunyai kekurangan dalam bidang mental. Karena selain difabel, di SD NU ada pula peserta didik yang berkebutuhan khusus, seperti autis dan low learner. Peningkatan dari sisi psikologi, sosial, maupun akademik difabel menjadikan dampak positif diterimanya peserta didik difabel di SD NU. Peserta didik difabel bisa menunjukkan karakter mandiri, ________________________________________________________________________________________________ 104 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 tidak selalu tergantung kepada orang lain. Aktif, dan percaya diri. Pendekatan terhadap peserta didik difabel di SD NU juga dilakukan agar upaya mendidik anak yang mempunyai kemampuan berbeda bisa dioptimalkan, yaitu prinsip kasih sayang dan tanpa memanjakan, bersikap peduli terhadap kebutuhannya, dan memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan difabel. Prinsip layanan individual perlu mendapat porsi yang berbeda, prinsip siap belajar baik di dalam maupun di luar kelas (outing), prinsip motivasi dengan menitikberatkan pada pembelajaran, pemberian evaluasi yang disesuaikan dengan keadaan anak difabel, dan prinsip belajar dan bekerja kelompok yang arahnya adalah mengembangkan kemampuan sosial peserta didik difabel dan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka saling memahami, menghayati perasaan sehingga anak difabel pecaya diri di hadapan orang normal. Prinsip keterampilan yang sifatnya selektif, edukatif, rekreatif, dan terapi juga diberikan, dan prinsip penanaman serta penyempurnaan sikap agar secara fisik maupun psikis anak difabel mempunyai akhlak yang baik (Abdullah, 2013: 8-9). Gambar 3. Perlakuan kasih sayang dan komunikatif antara guru dengan siswa berkebutuhan khusus. P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 SD NU memiliki kurikulum terpadu dalam pembelajaran PAI agar pembentukan karakter akhlaqul karimah semakin terwujud. Kegiatan pembelajaran sejak jam belajar sekolah dimulai dengan shalat Dhuha bersama, berdoa, dan tikrar surat-surat pencapaian juz amma. Selain kurikulum yang menginduk kepada Kemendiknas, SD NU juga menggunakan kurikulum diniyah takmiliah dari Kemenag yang diintegrasikan dengan PAI. Hal ini dikehendaki oleh sekolah agar peserta didik mendapatkan pembelajaran agama dengan porsi yang lebih berkualitas dan terukur. Peserta didik yang di rumah tidak terbiasa dengan mengaji diniyah atau TPA terutama anak-anak difabel atau berkebutuhan khusus bisa diakomodir oleh sekolah. Anakanak difabel dan berkebutuhan khusus di SD NU nyatanya tidak mengikuti pendidikan agama selain di sekolah. Mereka merasa minder dan malu karena berhubungan dengan anak-anak normal yang terkadang belum bisa memahami keterbatasan mereka. Meskipun prosesnya harus senantiasa diusahakan dengan penuh perjuangan, tetapi niat sekolah agar anak-anak mendapat pendidikan agama lebih matang sangat dipentingkan. Pelaksanaan pendidikan agama Islam untuk anak difabel di SD NU secara konsep tidak ada unsur membedakan dengan anak lainnya. Problematika secara teknis pasti adanya, tetapi selama problem tersebut tidak banyak mengganggu pencapaian hasil belajar yang baik tidak dipersoalkan secara berarti. Umumnya, problematika yang ada seputar materi PAI, perilaku, motivasi, dan konsentrasi (Albab, 2015: 6). Kegiatan pembelajaran PAI khususnya bagi anak difabel pada awalnya perlu pengkondisian dan penanaman sikap bahwa peserta didik difabel ________________________________________________________________________________________________ 105 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 seperti halnya peserta didik normal yang harus menerima semua kekurangan yang ada pada dirinya. Peserta didik difabel ataupun yang berkebutuhan khusus lainnya berhak mendapat pendidikan agama Islam yang sama walaupun dengan keterbatasan yang ada. Dalam menetapkan materi, tujuan, dan metode pembelajaran agama Islam, guru agama mempertimbangkan kemampuan, kedalaman materi, serta waktu yang tersedia. Penyesuaian tergantung dari capaian materi PAI dan menggunakan strategi yang tepat dalam pembelajaran (Nurussalihah, 2016: 11). DAFTAR PUSTAKA SIMPULAN Difabel dimaknai dengan kemampuan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Difabel bukanlah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan (disable), mereka menjalankan aktivitas hidup dengan kondisi fisik dan atau mental yang berbeda dengan orang kebanyakan. Karakter yang mesti dibangun bagi anak difabel adalah tentang kemandirian, penerimaan diri dan sosial, dan self confident terutama di sekolah. Dengan penanaman karakter ini, peserta difabel tidak mendapatkan persepsi negatif oleh peserta didik normal lainnya. Justru peserta didik normal mengapresiasi dan mengagumi kegigihan belajar peserta didik difabel. Dalam menetapkan materi, tujuan, dan metode pembelajaran agama Islam, guru agama mempertimbangkan kemampuan, kedalaman materi, metode, serta waktu yang tersedia kepada anak difabel. Abdullah, N. (2013). Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus. Magistra, 25 (86), 1-10. Abdorin, M. (2011). Kemampuan Berfikir Matematis Mahasiswa Difabel Netra Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Matakuliah Statistika. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema “Matematika dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran” pada tanggal 3 Desember 2011 di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, halaman 346-355. Albab, H.A.U. (2015). Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Siswa Autis (Studi Kasus di SMA Galuh Handayani Surabaya). Tesis Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Gutama, Th.A., dan Setyaningsih, R. (2016). Pengembangan Kemandirian bagi Kaum Difabel. Jurnal Sosiologi DILEMA, 31 (1), 42-52. Hafiar, H. (2012). Komunikasi Difabel Melalui Buku Bacaan bagi Anak-anak. Jurnal Edulib, 2 (1), 43–50. Hapsari, M.J. (2011). Upaya Meningkatkan Self-Confident Siswa dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Inkuiri Terbimbing. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema ________________________________________________________________________________________________ 106 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 16 No. 2, Oktober 2019 “Matematika dan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran” pada tanggal 3 Desember 2011 di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, halaman 337-345. Irfan, L.A. (2017). Menyelesaikan Problem Materi Belajar bagi Anak-anak Berkebutuhan Khusus dengan Reseach and Development in Education. Nadwa Jurnal Pendidikan Islam, 11 (1), 67-83. Maftuhin, A. (2016). Mengikat Makna Diskriminasi: Penyandang Cacat, Difabel, dan Penyandang Disabilitas. Inklusi: Journal of Disability Studies, 3 (2), 139-162. Nurussalihah, A. (2016). Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi (Studi Multisitus di SDN Mojorejo 01 dan SDN Junrejo 01 Kota Batu). Tesis Program Magister PAI Fakultas Pascasarjana, UIN Maulana Malik Ibrahim. Sholeh, A. (2015). Islam dan Penyandang Disabilitas: Telaah Hak Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. JurnalPalastren, 8 (2), 293-320. P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Pengembangan Modul Pembelajaran Sains Berbasis Integrasi Islam-Sains untuk Peserta Didik Difabel Netra MI/SD Kelas 5 Semester 2 Materi Pokok Bumi dan Alam Semesta. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 2 (2), 169177. Tentama, F. (2014). Hubungan Positive Thinking dengan Self-Acceptance pada Difabel (Bawaan Lahir) di SLB Negeri 3 Yogyakarta. Jurnal Psikologi Integratif, 2 (2), 1-7. Trisnani, R.P., Anggriana, Tyas M., dan Kadafi, A. (2017). Peran Konselor dalam Meningkatkan Keterampilan Sosial Siswa Difabel. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNIPMA, h. 146-151. Wawancara dengan kepala sekolah SD NU Sleman pada tanggal 20 Mei 2019 mengenai konsep pendidikan karakter bagi anak difabel di SD NU. Zuntriana, A. (2011). Hak atas Informasi bagi Difabel. Jurnal Pustakalola, 3 (2), 19-28. Spradley, J. (1997). The Etnographic Interview, terj. Misbah Zulfah Elizabeth, Metode Etnografi, (Yogyakarta: Tiara Wacana). Suprihatiningrum, J., Yuliawati, F., dan Rokhimawan, M.A. (2013). ________________________________________________________________________________________________ 107 Istiqomah dan Hendro Widodo: Membangun Character Building bagi Anak Difabel dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam