Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Sinergitas Kemampuan Pedagogik Guru dan Orang Tua dalam Mengembangkan Sikap Sosial-Spiritual Peserta Didik pada Pendidikan Agama Islam Utami Qonita Rahmi*) Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Jawa Barat. Indonesia utamiqonitarahmi@upi. Salma Rahmasari Alfalah Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Jawa Barat. Indonesia salmarahmasari@upi. Udin Supriadi Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Jawa Barat. Indonesia udinsupriadi@upi. Hanifatun Jamil Universitas Islam Indonesia. Sleman. Yogyakarta. Indonesia 23913054@uii. Zetri Setiawan Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus. Batusangkar. Sumatera Barat. Indonesia zetrisetiawan23@gmail. *)Corresponding Author Received: 12-03-2025 Revised: 27-03-2025 Approved: 20-04-2025 Abstrak Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia memegang peranan penting dalam membentuk sikap sosial-spiritual peserta didik. Namun, pengembangan nilai-nilai ini sering terhambat oleh ketidakseimbangan kemampuan pedagogik antara guru dan orang Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sinergitas kemampuan pedagogik guru dan orang tua serta dampaknya terhadap sikap sosial-spiritual peserta didik. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menganalisis berbagai literatur terkait sinergi antara guru dan orang tua dalam konteks Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi yang efektif antara guru dan orang tua dapat meningkatkan internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari anak, berkontribusi pada pengembangan karakter dan moralitas mereka. Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Dengan implementasi program sinergi yang melibatkan komunikasi timbal balik dan partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah, serta integrasi nilai-nilai budaya yang dominan, sinergi ini terbukti dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran agama. Temuan ini menegaskan bahwa sinergitas kemampuan pedagogik guru dan orang tua adalah kunci untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya berpengetahuan agama, tetapi juga memiliki sikap sosial-spiritual yang positif, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur pendidikan Islam dan menawarkan rekomendasi praktis untuk meningkatkan mutu pendidikan agama di Indonesia. Kata Kunci: Pedagogik. Guru. Orang Tua. Sikap. PAI Abstract In Indonesia. Islamic Education (PAI) plays an important role in developing studentsAo social-spiritual attitudes. However, the development of these values is often hindered by the imbalance of pedagogical competencies between teachers and parents. This study aims to explore the synergy of teachers and parentsAo pedagogical competencies and its impact on students' socio-spiritual attitudes. Using a qualitative method with a literature review approach, this research analyzed various literature related to teachers and parentsAo synergy in education context. The findings of this study reveal that effective collaboration between teachers and parents can enhance the internalization of religious values in children's daily lives, contributing to the development of their character and morality. With the implementation of a synergy program that involves reciprocal communication and active participation in school activities, as well as the integration of dominant cultural values, this synergy has proven to enhance the effectiveness of religious education. These findings affirm that the synergy of teachers and parents' pedagogical competencies is the key to foster a younger generation that is not only knowledgeable in religion but also possesses a positive socio-spiritual attitude, thereby enabling them to make tangible contributions to society. This research makes a significant contribution to the literature on Islamic education and offers practical recommendation to improve the quality of religious education in Indonesia. Keywords: Pedagogy. Teacher. Parents. Attitude. Islamic Religious Education PENDAHULUAN Pendidikan agama Islam adalah satu dari beberapa mata pelajaran yang sangat penting dalam kurikulum nasional Indonesia. Hal ini menjadi dasar bahwa memang pendidikan agama Islam ini merupakan hal yang penting dalam pendidikan. Tujuan pembelajaran meliputi sikap sosial dan spiritual, pengetahuan, serta keterampilan pada peserta didik. Namun, pengembangan sikap sosial-spiritual peserta didik seringkali terkendala oleh faktor-faktor internal juga tentunya faktor eksternal yang pada umumnya permasalahan ini kompleks. Salah satu permasalahan yang signifikan adalah Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 adanya ketidakseimbangan dalam pengembangan kemampuan pedagogik antara guru dengan orang tua. Data resmi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menunjukan anak-anak Indonesia menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari (Tria & Muliati. Selain hal tersebut, juga survei yang dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia juga menunjukan bahwa kurangnya sinergi antara guru dan orang tua dalam mengembangkan kemampuan pedagogik anak, hal ini tentunya menjadi penyebab utama dari fenomena penelitian yang hendak diteliti (Yulikah. AAoisah, et al. Pengembangan sikap sosial-spiritual peserta didik pada mata pelajaran PAI memerlukan sinergi antara guru dan orang tua. Studi oleh Epstein . menegaskan bahwa kemitraan antara sekolah, keluarga, dan komunitas berkontribusi besar terhadap keberhasilan akademik dan sosial siswa. Dalam konteks ini, sinergitas antara guru dan orang tua dalam pendidikan Islam sejalan dengan model kemitraan pendidikan yang Tetapi kebanyakan ketidakseimbangan dalam pengembangan kemampuan pedagogik antara antara orang tua dan guru seringkali menyebabkan kesulitan dalam menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan agama. Meta-analisis oleh Hoover-Dempsey & Sandler . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memiliki dampak signifikan terhadap pencapaian akademik dan pengembangan sikap sosial-spiritual mereka. Data dari penelitian sebelumnya oleh Suryani . dan Kantova . menyebutkan bahwa kolaborasi orang tua dan guru meningkatkan keberhasilan belajar hingga 25%. Namun. Tria & Muliati . menunjukkan bahwa keluarga dengan latar belakang sosial-ekonomi rendah menghadapi hambatan dalam membangun sinergi pedagogik, seperti keterbatasan waktu, pendidikan orang tua yang rendah, dan kurangnya akses informasi. Hal ini menunjukkan bahwa sinergi tidak dapat disamaratakan, tetapi perlu strategi adaptif berdasarkan kondisi lokal. Dalam penelitian ini mengkaji sinergi antara kemampuan pedagogik guru dan orang tua dalam mengembangkan sikap sosial-spiritual peserta didik. Kajian oleh Goodall & Montgomery . memperkenalkan model Aucontinuum of parental engagementAy yang mengklasifikasikan tingkat keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Model ini relevan untuk menyesuaikan strategi keterlibatan dalam konteks pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam. Penelitian ini berargumen bahwa sinergi ini Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 tidak hanya memperkuat efektivitas pembelajaran agama, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang lebih berkualitas dan berakhlak baik. Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini adalah bahwa investasi dalam sinergi antara guru dan orang tua dapat memberikan umpan balik yang signifikan dalam bentuk individu yang lebih berkembang dalam hal spiritual dan moral. Penelitian ini menganalisis lebih dalam lagi mengenai kemampuan pedagogik guru dan orang tua dalam mengembangkan sikap sosial-spiritual peserta didik. Sinergi adalah bentuk kolaborasi produktif yang bertujuan menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas. Kerjasama antara orang tua dan guru memiliki peran penting dalam pendidikan peserta didik. Dengan adanya sinergi ini, peserta didik akan merasa didukung dan dihargai atas setiap pencapaian yang mereka raih (Yulikah. Ay, et al. Crawford . melalui teori ekologi sistem menjelaskan bahwa interaksi antara berbagai sistem sosial, termasuk keluarga dan sekolah, memiliki dampak besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, penelitian ini dapat lebih dalam membahas bagaimana interaksi antara rumah dan sekolah dapat dioptimalkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih efektif dalam membentuk karakter siswa. Dalam penelitian ini memiliki kebaruan atau novelty yang terletak pada fokus yang spesifik antara guru dan orang tua dalam konteks PAI. Sedikitnya penelitian yang dilakukan pada tema ini menunjukan adanya ruang kosong yang memang luas untuk bereksplorasi lebih lanjut. Dengan demikian, penelitian ini lebih berkontribusi pada literatur pendidikan agama Islam dengan memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang bagaimana sinergi antara guru dan orang tua dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran agama dan khususnya untuk mengembangkan sikap sosialspiritual peserta didik. Wilder . menekankan bahwa keterlibatan orang tua harus dilihat sebagai strategi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu menyoroti bagaimana program pelibatan orang tua dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pendidikan agama Islam. Fakta dari kebaruan atau novelty penelitian ini adalah, penelitian sebelumnya cenderung lebih fokus kepada aspek individual saja tanpa mempertimbangkan interaksi kompleks antara rumah dan sekolah. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih holistik tentang bagaimana sinergi antara guru dan orang tua dapat memaksimalkan potensi belajar anak-anak. Seperti halnya dalam penelitian Uce . Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 yang hanya mengkaji mengenai kemampuan pedagogik orang tua saja, tetapi dalam penelitian ini mengkaji bagaimana sinergitas kemampuan pedagogik antara orang tua dan guru dalam mengembangkan sikap sosial-spiritual dalam PAI. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan . ibrary researc. , yang melakukan kajian kritis secara mendalam terhadap literatur yang relevan dengan topik penelitian, seperti buku dan jurnal sebagai referensi. Studi kepustakaan ini bertujuan mengumpulkan informasi dan data melalui berbagai sumber yang tersedia di perpustakaan, seperti dokumen, buku, majalah, sejarah, dan materi lainnya (Assyakurrohim et al. , 2. Dalam penelitian ini mengidentifikasi sumber pustaka yang berkaitan dengan sinergitas antara guru dan orang tua dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam. Pemilihan referensi dilakukan secara sistematis menggunakan pendekatan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. Kriteria pemilihan mencakup publikasi ilmiah terindeks SINTA. Scopus, atau Web of Science, relevansi dengan topik sinergitas guru dan orang tua dalam pendidikan Islam, dan tahun terbit 10 tahun terakhir. Artikel yang digunakan telah disaring berdasarkan abstrak, kata kunci, dan isi penuh untuk memastikan relevansi dan validitas. Penelitian ini mengkaji lebih lanjut lagi mengenai pencarian literatur yang mencakup jurnal akademik, buku, artikel, dan laporan penelitian yang membahas peran orang tua dan guru dalam pendidikan serta dampaknya terhadap perkembangan sosialspiritual peserta didik. Alvesson & Skyldberg . menyoroti pendekatan metodologi reflektif dalam penelitian pendidikan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program sinergitas antara guru dan orang tua. Pengumpulan berbagai sumber ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai topik yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan agama Islam adalah program yang mengajarkan nilai-nilai Islam melalui proses pembelajaran, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, namun tetap disajikan dalam bentuk mata pelajaran yang termasuk dalam pendidikan agama Islam. Dalam kurikulum nasional PAI ini memegang peranan yang sangat penting, karena Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 pendidikan ini wajib diterapkan pada pendidikan TK sampai pada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Rakhmat & Hidayat . Pendidikan agama Islam tentunya memegang peranan yang penting dalam pembentukan dan pengembangan karakter sikap sosial-spiritual peserta didik, yang mana dalam konteks ini orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama yang berada di lingkungan rumah tentunya memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kemampuan pedagogik yang dapat mendukung pembelajaran anak ketika pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Kemampuan ini tentunya tidak hanya mencakup pengetahuan tentang agama saja, melainkan terhadap kemampuan untuk mengajarkan nilai-nilai sosial dan spiritual yang akan membentuk kepribadian anak. Kompetensi Pedagogik Guru Kompetensi Guru Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi didefinisikan sebagai serangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki, dipahami, dan dikuasai oleh guru atau dosen agar dapat menjalankan tugas secara profesional. Kompetensi terdiri dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang terwujud dalam pola pikir dan tindakan. Angelina. Kartadinata, & Budiman . Hornby mendefinisikan kompetensi sebagai kompetensi seseorang dalam melakukan apa yang diperlukan, meliputi kapasitas, kewenangan, keterampilan, dan pengetahuan. Kompetensi adalah hasil dari pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk menguasai suatu keahlian. Usman dikutip oleh Habibullah dalam Angelina et al . menegaskan bahwa profesi guru memerlukan keterampilan khusus untuk melaksanakan tugas dengan baik. Dalam bahasa Arab, istilah kompetensi disebut al-KafaAoah dan al-Ahliyah, yang mencerminkan kompetensi seseorang dalam bidang tertentu sehingga ia memiliki wewenang dalam batasan ilmunya. Menurut Alim, tanpa keahlian ini, seorang guru tidak dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan benar (Angelina et al. , 2. Kompetensi seorang guru mencakup berbagai kemampuan, seperti aspek personal, akademik, teknologi, sosial, dan spiritual. Semua aspek ini berpadu membentuk standar kompetensi profesional yang mencakup penguasaan materi pelajaran, pemahaman siswa, serta pengembangan diri dan profesionalisme. Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Kompetensi juga menjadi elemen utama dalam standar profesi guru, di samping kode etik yang mengatur perilaku dan pengawasan profesional. Dalam konteks ini, kompetensi didefinisikan sebagai serangkaian perilaku efektif yang membantu seorang guru mencapai tujuan pendidikan secara efisien. Kualitas seorang guru dalam proses belajar-mengajar dapat diukur dari kompetensinya, seperti kemampuannya menjadi teladan bagi peserta didik (Diana, 2. Disimpulkan, kompetensi guru memegang peranan penting dalam keberhasilan proses Dengan menguasai berbagai kompetensi, seorang guru dapat menjalankan tugasnya sebagai tenaga pendidik secara efektif dan efisien, menjadikannya sosok yang berpengaruh dalam membimbing dan mengarahkan siswa menuju tujuan pendidikan yang diinginkan. Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang diperjelas dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, profesi guru dituntut untuk menguasai empat jenis kompetensi, yaitu pedagogik, kepribadian, profesional, dan Kompetensi pedagogik berfokus pada pemahaman terhadap peserta didik serta kompetensi mengelola pembelajaran yang bersifat mendidik dan berbasis Widyaningrum et al. , dikutip oleh Somantri . , guru harus memahami peserta didik, membantu mengembangkan potensinya, dan mampu mengevaluasi hasil belajarnya. Kompetensi kepribadian menggambarkan seorang guru yang dewasa, stabil, bijaksana, berwibawa, menjadi contoh yang baik, dan memiliki akhlak yang mulia. Kompetensi profesional melibatkan penguasaan mendalam Sedangkan, kompetensi sosial mencakup kompetensi berinteraksi dengan peserta didik, tenaga pendidikan, sesama guru, komunitas sekitar, dan orang tua siswa. Keempat kompetensi ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi, sehingga tidak dapat berfungsi secara terpisah. Namun, kompetensi pedagogik dianggap sangat penting dalam proses pembelajaran karena berkaitan langsung dengan peran inti guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar (Diana, 2. Disimpulkan, kompetensi pedagogik menjadi inti dari peran seorang guru karena terkait langsung dengan efektivitas pembelajaran. Namun, kesuksesan dalam tugas mengajar juga bergantung pada penguasaan kompetensi lainnya, yang bersama- Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 sama menciptakan profil guru yang profesional dan mampu memenuhi kebutuhan pendidikan siswa secara holistik. Kompetensi Pedagogik Guru Berdasarkan penjelasan dalam Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 poin a, kompetensi pedagogik diartikan sebagai kompetensi dalam mengelola pembelajaran siswa. Hal ini meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan potensi siswa. Yunus dalam Nurhamidah . menambahkan bahwa kompetensi pedagogik mencakup pemahaman yang mendalam tentang pendidikan, pelaksanaan proses pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan potensi siswa. Desforges & Abouchaar . menyoroti bahwa lingkungan keluarga memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan sekolah dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual anak. Beberapa aspek kunci dalam kompetensi pedagogik, sesuai dengan Penilaian Kinerja Guru, meliputi pemahaman teori belajar, pengembangan kurikulum, kegiatan pembelajaran yang efektif, pengembangan potensi siswa, kompetensi berkomunikasi secara efektif dengan siswa, serta penilaian dan evaluasi hasil belajar (Angelina et al. , 2. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 merumuskan kompetensi pedagogik menjadi 37 kompetensi yang dikelompokkan dalam 10 kompetensi inti. Kompetensi-kompetensi ini termasuk pemahaman terhadap karakteristik siswa dari berbagai aspek, penguasaan teori belajar, pengembangan kurikulum, serta penyelenggaraan pembelajaran yang efektif. Selain itu, kompetensi ini juga mencakup pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran, fasilitasi pengembangan potensi siswa, kompetensi komunikasi yang empatik, evaluasi proses dan hasil belajar, serta penerapan evaluasi untuk peningkatan kualitas Kompetensi pedagogik mengarahkan guru untuk menjadi kreatif, inovatif, dan produktif, serta mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan siswa secara tepat (Diana, 2. Keterampilan pengembangan siswa agar dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Pemahaman guru terhadap siswa termasuk pengetahuan mengenai psikologi perkembangan peserta didik, serta kompetensi untuk merancang pembelajaran yang Pembelajaran yang mendidik mencakup perencanaan yang baik, pelaksanaan yang tepat, penilaian proses dan hasil belajar, serta upaya perbaikan secara berkala. Berdasarkan peraturan pemerintah, kompetensi pedagogik seorang guru harus mencakup beberapa aspek, antara lain (Diana, 2. Pemahaman landasan pendidikan: Seorang guru perlu memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, baik dari segi akademis maupun intelektual, yang relevan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Bukti dari latar belakang ini dapat ditunjukkan melalui ijazah akademik serta keahlian mengajar yang diperoleh dari lembaga yang terakreditasi. Pemahaman terhadap peserta didik: Guru perlu mengetahui psikologi perkembangan siswa agar dapat menerapkan pendekatan yang tepat sesuai tahap perkembangan mereka, serta memahami latar belakang pribadi untuk mengidentifikasi masalah dan solusi yang sesuai. Pengembangan kurikulum: Seorang guru harus memiliki kompetensi untuk merancang kurikulum pendidikan nasional yang sesuai dengan kebutuhan di sekolah. Perancangan pembelajaran: Guru harus mampu merancang proses pembelajaran dengan strategi yang efektif, memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada, serta mampu mengantisipasi masalah yang mungkin muncul. Pelaksanaan Guru bertanggung jawab untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif, aktif, menyenangkan, dan kondusif, sehingga siswa dapat mengeksplorasi potensi yang mereka miliki. Pemanfaatan teknologi: Guru memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran, membantu siswa terbiasa menggunakan teknologi yang . Evaluasi hasil belajar: Guru merancang dan melaksanakan penilaian yang efektif, mengukur keberhasilan proses pembelajaran, dan mengambil keputusan yang tepat berdasarkan hasil penilaian. Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 . Pengembangan potensi peserta didik: Guru membimbing siswa dalam mengenali dan mengembangkan potensinya melalui metode seperti penelitian tindakan kelas, yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran secara sistematis. Dengan keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh guru untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berlangsung secara efektif, mencapai tujuan yang diharapkan, serta meningkatkan kualitas pendidikan. Kompetensi Pedagogik Guru pada Proses Pembelajaran Studi oleh Manik. Nasution, & Sumanti . menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran mencakup kompetensi pengetahuan agama Islam. Guru perlu merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan regulasi pemerintah dan memodifikasinya agar relevan dengan situasi siswa. Modifikasi tersebut mencakup pemilihan sumber buku, alat pembelajaran, dan media. Dalam pelaksanaan, guru memulai dengan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, menggunakan strategi serta media yang memudahkan pemahaman siswa. Jika siswa mengalami kesulitan dalam aspek kognitif, afektif, atau psikomotor, guru akan menggunakan pendekatan persuasif untuk membantu mereka. Hasil penelitian Hasanah & Jannah . menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran mencakup: . perencanaan yang dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dari silabus. pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan program agar lebih berkualitas. penilaian yang berlandaskan pada validitas, reliabilitas, dan . memberikan contoh yang mudah ditiru. pembelajaran yang bertujuan untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari studi yang dilakukan, terlihat bahwa kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran sangat multifaset dan kompleks. Guru diharapkan tidak hanya menguasai kompetensi merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, tetapi juga mampu memahami karakteristik peserta didik secara individual. Penggunaan Rencana Pelaksanaan Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Pembelajaran (RPP) dan penyesuaian metode pembelajaran dengan situasi siswa, menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan kreativitas dalam mengajar. Selain itu, penekanan pada evaluasi dan pengembangan potensi siswa melalui berbagai kegiatan menandakan bahwa pembelajaran harus berorientasi pada pencapaian tujuan yang lebih luas, tidak hanya sekadar transfer ilmu tetapi juga penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Keseluruhan hasil penelitian menekankan bahwa kompetensi pedagogik guru merupakan kunci dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan bermakna. Keterampilan Pedagogik Guru di Era Modern Destiana & Utami dalam Somantri . Guru yang profesional tidak hanya bertugas mentransmisikan budaya dan pengetahuan, tetapi juga harus dapat mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam ilmu pengetahuan agar menjadi lebih kompetitif dan berkualitas. Seorang guru profesional tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi . eacher-centere. , tetapi juga sebagai dinamisator, fasilitator, dan katalisator yang memacu kreativitas siswa. Tantangan di abad ke-21, seperti krisis ekonomi global, terorisme, rendahnya kesadaran multikultural, pemanasan global, dan ketimpangan dalam mutu pendidikan, mengharuskan persiapan yang matang baik dalam konsep maupun praktik untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global. Kompetensi yang perlu disiapkan di abad ke-21 erat kaitannya dengan teknologi informasi, mencakup dimensi etika dan sosial, informasi, serta komunikasi. Kompetensi ini sangat bergantung pada kualitas guru, yang harus terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu menguasai beberapa kompetensi Pertama, kompetensi pembelajaran yang berbasis internet sebagai keterampilan dasar. Kedua, kompetensi komersialisasi teknologi, yang mendorong guru membantu siswa mengembangkan sikap kewirausahaan berbasis teknologi dari karya inovatif mereka. Ketiga, kompetensi dalam globalisasi, yang memastikan guru tidak ketinggalan budaya dan mampu menghadapi tantangan pendidikan. Keempat, kompetensi strategi masa depan, yakni kompetensi memprediksi masa depan secara akurat melalui kolaborasi akademik seperti kuliah bersama, penelitian bersama, serta mobilitas staf. Kelima, kompetensi sebagai konselor, yang menuntut Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 guru memahami bahwa masalah siswa tidak hanya soal akademik, tetapi juga psikologis akibat perkembangan zaman (Diana, 2. Kemampuan Pedagogik Orang Tua Kemampuan Pedagogik Orang Tua Kemampuan pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap anak didik. Kemampuan ini merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak sehingga akan meningkatkan aspekaspek pada perkembangan pembelajaran peserta didik (Alfiana, 2. Kemampuan pedagogik orang tua mencakup segala kemampuan yang harus dimiliki orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan cara yang benar dan juga efektif demi menciptakan anak tersebut menjadi manusia yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki oleh orang tua dalam mendidik seorang anak, antara lain sebagai berikut: Pemahaman mengenai perkembangan anak Orang tua tentunya memang perlu memahami mengenai tahapan perkembangan fisik, emosional, dan sosial anak agar nantinya dapat memberikan pemahaman pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Kemampuan komunikasi Komunikasi yang baik antar orang tua dan anak mempunyai pengaruh yang sangat penting untuk menciptakan hubungan yang Hal ini juga termasuk kemampuan untuk mendengarkan, memberi umpan balik dan menjelaskan mengenai konsep-konsep agama dengan cara yang mudah diphamai oleh anak. Penerapan nilai-nilai agama Sebagai mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, karena akan berdampak positif terhadap perkembangan anak. Dengan demikian anak dapat melihat penerapan nyata mengenai nilai-nilai agama dengan cara yang mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Uce . menjelaskan bahwa tentunya orang tua berperan aktif dalam pengembangan sikap, karakter dan moral Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 anak tetapi tentunya tidak semua harus diterapkan dalam pendidikan di lingkungan rumah, harus ada sebagian yang diambil dan sebagian kita serahkan ke pihak Terdapat beberapa prinsip yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam pendidikan, antara lain prinsip motivasi dan perhatian, dan prinsip keaktifan. Peran Strategis Orang Tua dalam Pendidikan Agama Islam Pola pengasuhan orang tua menjadi fondasi karakter anak sebelum mereka masuk atau di adentrasi ke dunia pendidikan formal. Hal ini memiliki kaitan dengan strategi-strategi dalam manajemen pendidikan yang ditujukan untuk merancang pengalaman yang optimal sehingga nantinya menjadi titik utama perkembangan sikap sosial-spiritual anak kedepannya (Putra, 2. Menjadi teladan Sebagai orang tua tentunya harus senantiasa menunjukan sikap toleransi, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama melalui Tindakan yang nyata, hal ini menjadi pondasi bagi anak untuk mengembangkan sikap sosial mereka terhadap sesama. Juga sebagai orang tua harus mencontohkan bagaimana melaksanakan ibadah yang baik dan benar juga tentunya menjalankan ibadah dengan konsisten. Seperti halnya sholat lima waktu, puasa, dan membaca Al-QurAoan, sehingga nantinya anak akan melihat seberapa pentingnya praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya hal ini akan menjadikan anak berkembang dengan sendirinya berdasarkan hal spiritual yang sudah mereka lihat dan praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Menciptakan lingkungan belajar yang mendukung Lingkungan yang kondusif akan sangat berpengaruh terhadap pembelajaran anak, tentunya akan menjadikan anak berkembang dari segi pembelajaran khususnya. Orang tua harus menyediakan sumber belajar yang mumpuni untuk menciptakan dan menumbuh kembangkan pemahaman anak terhadap pembelajaran baik pembelajaran yang khusus dipelajari di sekolah maupun pembelajaran yang berhubungan dengan lingkungan sekitar. Juga orang tua haruslah menciptakan ruang diskusi khusus bagi anak yang sedang belajar demi perkembangan Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 pemahaman yang ia dapatkan khususnya dalam pengembangan sosialspiritual seorang anak. Mengajarkan praktek agama secara aktif Orang tua tentunya perlu melibatkan anak dalam kegiatan praktik keagamaan yang dilakukannya sehari-hari seperti hal nya sholat berjamaah menjadikan anak berkembang dalam hal spiritualnya, karena ibadah inilah yang menjadi pondasi kita sebagai umat muslim dalam kehidupan di dunia, juga tentunya ada kaitannya dengan hubungan bersosial karena ketika seorang anak sudah dibiasakan untuk sholat. Juga tentunya orang tua haruslah mengajarkan anak untuk membaca AlQurAoan bersama-sama ini menjadikan anak menjadi pribadi yang mencintai kitab suci yang diturunkan kepada seluruh alam, dan menciptakan sikap sosial-spiritual karena di dalam Al-QurAoan mengajarkan cara hidup baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam lingkungan keluarga, peran orang tua sangat krusial dalam perkembangan kemampuan anak. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa orang tua secara alami merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Selain itu, orang tua juga menjadi contoh yang dapat diidentifikasi, sehingga setiap tindakan yang mereka lakukan akan menjadi acuan atau bahan perbandingan bagi Hal ini menunjukan bahwa peran orang tua menjadi sangat penting demi keberlangsungan perkembangan sikap sosial-spiritual anak (Adi, 2. Strategi Pengembangan Sikap Sosial-Spiritual Merupakan tanggung jawab orang tua untuk mendidik, membimbing, membesarkan, melindungi, serta menjamin kesehatan anak. Mereka juga berkewajiban untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, kaidah, dan akhlak mulia yang bermanfaat bagi kehidupan anak, sehingga anak dapat meraih kebahagiaan di dunia dan dipersiapkan untuk kehidupan di akhirat kelak (Suharyun et al. , 2. Hal ini tentunya sejalan dengan pemikiran bahwa orang tua juga harus mengembangkan sikap spiritual seorang anak, tentunya hal ini akan menjadi bekal untuk kehidupan di dunia dan juga akhirat, ada beberapa strategi untuk orang tua terapkan dalam pengembangan sikap sosial-spiritual anak, antara lain sebagai Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 Dialog terbuka Sebagai orang tua yang memiliki tanggung jawab dalam mendidik seorang anak tentunya harus mengajak anak untuk berpikir lebih berkembang mengenai perkembangan hidupnya, orang tua juga haruslah memberikan ruang diskusi seluas-luasnya kepada anak untuk berdiskusi khususnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan juga moralitas. Hal ini tentunya akan menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan pemahaman anak. Kegiatan sosial bersama Orang tua dan anak haruslah melakukan aktivitas sosial bersama demi membantu anak memahami pentingnya kepedulian terhadap sesama, seperti contoh orang tua harus sering mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan amal seperti memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan bahkan terlibat dalam program penggalangan dana. Atau bahkan mengajak anak untuk berbagi kasih sayang dengan mengunjungi panti asuhan atau rumah sakit. Hal ini tentunya akan menumbuh kembangkan sikap sosial-spiritual anak karena kedua hal ini merupakan ibadah yang erat kaitannya dengan kehidupan bersosial antar sesama manusia. Penguatan nilai-nilai agama melalui cerita Tentunya dalam pendidikan orang tua juga harus ada metode yang mendasari bagaimana cara menumbuhkan pemahaman anak terhadap suatu materi, dalam kemampuan yang harus dimiliki oleh orang tua antara lain bercerita mengenai hal-hal yang ada kaitannya dengan keberlangsungan perkembangan anak, misalnya orang tua harus menceritakan kisah para nabi dan juga kisah inspiratif yang nantinya akan menjadikan anak lebih paham lagi mengenai hal-hal moral dan spiritual, juga tentunya sosial-spiritual yang lebih dipahami lagi oleh anak tersebut. Dalam kehidupan keluarga, terdapat dua komponen utama, yaitu orang tua dan anak. Dari sudut pandang pedagogis, orang tua berperan sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Hal ini menjadi dasar bahwa antara Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 orang tua dan anak haruslah membangun komunikasi yang baik yang bisa memberikan dampak positif, yang mana nantinya akan menjadikan pemahaman terhadap anak bahwa memang penting untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi dirinya (Mizani, 2. Evaluasi dan Refleksi Tentunya penting bagi orang tua untuk melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan yang telah dilakukan, antara lain sebagai berikut: Refleksi diri Orang tua tentunya perlu merenungkan apakah mereka sudah memberikan contoh yang baik dan mendidik dengan cara yang efektif dalam mengembangakan sikap sosial-spiritual anak, hal ini akan menjadi dasar apa yang kurang dan apa yang harus dihilangkan dalam didikan yang orang tua lakukan kepada anak-anak mereka. Umpan balik dari anak Orang tua juga perlu mengajak anak untuk memberikan pendapat tentang apa yang mereka pelajari dan bagaimana perasaan mereka terhadap praktik keagamaan yang mereka laksanakan dirumah. Hal ini tentunya akan menjadikan orang tua juga berintropeksi terhadap didikan yang mereka ajarkan kepada anak merka. Oleh karena itu, kemampuan pedagogik orang tua memiliki dampak besar terhadap pengembangan sikap sosial-spiritual anak dalam pendidikan agama Islam. Dengan memahami peran mereka dan menerapkan strategi pendidikan yang aktif, orang tua dapat mendukung anak-anak mereka untuk berkembang menjadi individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga memiliki karakter yang baik serta kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. KESIMPULAN Kemampuan pedagogik yang dimiliki oleh guru, termasuk pemahaman mendalam tentang psikologi perkembangan siswa, kurikulum yang relevan, dan kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran, berfungsi sebagai landasan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Di sisi lain, kemampuan pedagogik orang tua, yang mencakup pemahaman tentang perkembangan anak, kemampuan komunikasi yang baik, dan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Utami Qonita Rahmi, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 1 Tahun 2025 berperan sebagai pendukung utama dalam pendidikan di rumah. Melalui teladan yang baik, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, dan keterlibatan aktif dalam praktik keagamaan, orang tua dapat memberikan bimbingan yang signifikan bagi anak-anak Kegiatan bersama dan dialog terbuka antara orang tua dan anak juga penting untuk mengembangkan pemahaman dan kepedulian sosial yang lebih mendalam. Evaluasi dan refleksi yang dilakukan secara berkala juga penting untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam proses pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan guru untuk membuat jadwal pertemuan berkala dengan orang tua menggunakan media digital dan tatap muka. Orang tua diharapkan memantau perkembangan belajar anak melalui jurnal komunikasi yang disediakan sekolah. Pemerintah dapat menyediakan pelatihan daring bagi orang tua tentang pengasuhan berbasis nilai-nilai Islam. Lembaga pendidikan disarankan membuat program sinergitas berkelanjutan dengan pengukuran dampak tiap semester. DAFTAR PUSTAKA