Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education Volume 2 Number 2. Mei . DOI : Studi Deskriptif Intensitas Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Pendidikan Geografi Syilham Zulkarmi1*. Asri Rabiatul Ihsani2. Armin Subhani 3 Program Studi Pendidikan Geografi. Universitas Hamzanwadi123. Selong. Indonesia Email: Syilhamzulkarmi@gmail. com *1 Riwayat Artikel Abstrak Dikirim : 29 April 2026 Direvisi : 20 Mei 2026 Diterima : 27 Mei 2026 Dipublikasi : 30 Mei 2026 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran di perguruan tinggi yang berpotensi memberikan manfaat sekaligus memengaruhi kemandirian belajar Hingga saat ini, informasi empiris mengenai intensitas penggunaan AI dan kemandirian belajar mahasiswa Pendidikan Geografi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat intensitas penggunaan AI dan tingkat kemandirian belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 30 mahasiswa aktif yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif yang meliputi nilai minimum, maksimum, rata-rata, standar deviasi, distribusi frekuensi, dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan AI berada pada kategori tinggi dengan persentase 73,3% dan nilai rata-rata 48,37, sedangkan kemandirian belajar juga berada pada kategori tinggi dengan persentase 80,0% dan nilai rata-rata 55,60. Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya penggunaan AI tidak diikuti oleh rendahnya kemandirian Mahasiswa mampu memanfaatkan AI sebagai pendukung pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan belajar secara mandiri. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi program studi dalam menyusun strategi pemanfaatan AI yang mendukung proses pembelajaran secara optimal. Kata Kunci : Kecerdasan Buatan (AI). Intensitas Penggunaan AI. Kemandirian Belajar Keywords : Artificial Intelligence (AI). Usage Intensity. Learning Independence Abstract The increasing use of Artificial Intelligence (AI) in higher education has transformed students' learning activities by providing faster access to information and academic support. However, excessive AI use may influence students' learning independence. Empirical evidence regarding AI usage intensity and learning independence among Geography Education students remains limited. This study aimed to describe the levels of AI usage intensity and learning independence among students of the Geography Education Study Program at Hamzanwadi University. A quantitative descriptive approach was employed involving 30 active students selected through random sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics, including mean, standard deviation, frequency distribution, and percentage. The results showed that AI usage intensity was predominantly high . 3%) with a mean score of 48. 37, while learning independence was also categorized as high . 0%) with a mean score of 55. These findings indicate that students utilize AI to support learning while maintaining independent learning behaviors effectively. A 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License (CC BY 4. license Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan tinggi, terutama melalui hadirnya Artificial Intelligence (AI). AI merupakan teknologi yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, bernalar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan sehingga semakin banyak dimanfaatkan dalam proses pembelajaran (Luckin. Kehadiran AI generatif, seperti ChatGPT. Gemini, dan Copilot, memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam mencari referensi, menyusun tugas, menerjemahkan teks, serta memperoleh penjelasan terhadap berbagai materi perkuliahan. Kondisi tersebut menjadikan AI sebagai salah satu teknologi yang berkembang paling cepat dalam mendukung pembelajaran di perguruan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mampu meningkatkan akses terhadap sumber belajar, mendukung pembelajaran adaptif, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan personal (Ouyang & Jiao, 2021. Bond et al. , 2. Di Indonesia, penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi juga terus mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi, sebagian besar mahasiswa telah menggunakan AI dalam berbagai aktivitas akademik, seperti mencari referensi, menyusun tugas, merangkum materi, hingga membantu menyelesaikan permasalahan pembelajaran. Kemudahan tersebut memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam meningkatkan efisiensi belajar. Namun, pada saat yang sama masih ditemukan mahasiswa yang cenderung menggunakan AI untuk memperoleh jawaban secara instan tanpa melakukan analisis secara Kondisi tersebut berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses berpikir kritis serta menimbulkan ketergantungan terhadap teknologi apabila tidak digunakan secara proporsional. Kasneci et al. dan Grassini . menjelaskan bahwa penggunaan AI yang tidak terkontrol dapat memengaruhi proses belajar mahasiswa karena sebagian aktivitas berpikir dialihkan kepada sistem AI. Salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa adalah kemandirian belajar . elfregulated learnin. Kemandirian belajar merupakan kemampuan individu dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri untuk mencapai tujuan pembelajaran (Zimmerman & Schunk, 2. Mahasiswa yang memiliki tingkat kemandirian belajar yang baik akan lebih mampu mengatur strategi belajar, mengelola waktu, serta bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya (Schunk & Greene, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa AI dapat memberikan umpan balik yang cepat dan membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan regulasi diri apabila dimanfaatkan secara tepat (Chiu, 2024. Guan et al. , 2. Sebaliknya, penelitian lain mengungkapkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menurunkan inisiatif belajar dan meningkatkan ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi (Kasneci et al. , 2. Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh AI terhadap kemandirian belajar masih menjadi isu yang memerlukan kajian lebih lanjut. Mahasiswa Pendidikan Geografi memiliki karakteristik pembelajaran yang menuntut kemampuan berpikir spasial, analisis fenomena keruangan, interpretasi data geografi, serta penyelesaian masalah lingkungan secara mandiri. AI dapat membantu mahasiswa dalam mengakses informasi maupun mengolah data, tetapi kemampuan analisis dan pengambilan keputusan tetap memerlukan keterlibatan aktif mahasiswa. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana tingkat intensitas penggunaan AI dan kondisi kemandirian belajar mahasiswa Pendidikan Geografi sebagai dasar dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang memanfaatkan AI secara tepat. Hingga saat ini, penelitian yang secara khusus mendeskripsikan kedua variabel tersebut pada mahasiswa Pendidikan Geografi masih sangat terbatas sehingga informasi empiris mengenai kondisi tersebut belum tersedia secara Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada efektivitas AI dalam pembelajaran atau pengembangan self-regulated learning secara terpisah. Zawacki-Richter et al. dan Crompton dan Burke . melaporkan bahwa penelitian AI di pendidikan tinggi didominasi oleh kajian mengenai implementasi dan efektivitas pembelajaran. Sementara itu. Memarian dan Doleck . menegaskan bahwa penelitian mengenai AI dan self-regulated learning masih memerlukan bukti empiris yang lebih luas, terutama pada konteks program studi tertentu. Dengan demikian, terdapat kesenjangan penelitian yang menjadi dasar pelaksanaan penelitian ini, yaitu belum tersedianya gambaran empiris mengenai 64 Volume 2 | Issue 2 | Mei, 2026 Syilham Zulkarmi. Asri Rabiatul Ihsani. Armin Subhani / Studi Deskriptif Intensitas Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Pendidikan Geografi intensitas penggunaan AI dan kemandirian belajar pada mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan tingkat kemandirian belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi dasar bagi program studi dan dosen dalam merancang strategi pemanfaatan AI yang mendukung proses pembelajaran tanpa mengurangi kemandirian belajar mahasiswa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Desain deskriptif dipilih karena penelitian bertujuan menggambarkan secara empiris tingkat intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan kemandirian belajar mahasiswa tanpa menguji hubungan atau pengaruh antarvariabel. Menurut Sugiyono . , penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan mendeskripsikan suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh secara sistematis, faktual, dan akurat. Penelitian dilaksanakan pada Program Studi Pendidikan Geografi. Fakultas Ilmu Sosial. Ekonomi, dan Humaniora. Universitas Hamzanwadi. Kabupaten Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan pada semester genap Tahun Akademik 2026/2027. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Pengambilan Sampel diambil menggunakan Random Sampling berdasarkan jumlah yang mengisi angket di Google Form yaitu sebanyak 30 Mahasiswa. Prosedur penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah identifikasi permasalahan melalui observasi awal dan studi literatur mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran serta kemandirian belajar mahasiswa. Tahap kedua adalah penyusunan instrumen penelitian berdasarkan indikator masing-masing variabel yang diperoleh dari kajian teori. Tahap ketiga yaitu melakukan uji validitas dan uji reliabilitas instrumen sebelum digunakan dalam pengumpulan data. Selanjutnya, instrumen penelitian disebarkan kepada responden melalui Google Form. Data yang telah terkumpul kemudian diolah menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics Tahap terakhir adalah interpretasi hasil analisis dan penyusunan artikel ilmiah. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan skala Likert lima tingkat, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, dan sangat setuju. Instrumen penelitian terdiri atas dua variabel, yaitu intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan kemandirian belajar. Variabel intensitas penggunaan AI diukur melalui indikator frekuensi penggunaan, durasi penggunaan, tujuan pemanfaatan, dan tingkat ketergantungan terhadap AI. Variabel kemandirian belajar diukur melalui indikator inisiatif belajar, perencanaan belajar, pelaksanaan belajar, pengelolaan belajar, monitoring dan evaluasi belajar, serta tanggung jawab belajar. Sebelum digunakan dalam penelitian, seluruh butir instrumen diuji validitasnya menggunakan korelasi Product Moment Pearson dan diuji reliabilitasnya menggunakan koefisien Cronbach's Alpha. Instrumen dinyatakan valid apabila nilai koefisien korelasi lebih besar daripada nilai r tabel, sedangkan instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai Cronbach's Alpha lebih besar dari 0,70. Analisis data dilakukan menggunakan analisis statistik deskriptif dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 26. Analisis meliputi perhitungan skor minimum, skor maksimum, nilai rata-rata . , standar deviasi, distribusi frekuensi, dan persentase. Selanjutnya, skor masing-masing variabel diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan rentang skor ideal. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan diinterpretasikan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan kemandirian belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini melibatkan 30 mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi sebagai responden. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan tingkat intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan kemandirian belajar Mei, 2026 | Issue 2 | Volume 2 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 Hasil penelitian disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, nilai rata-rata . , dan standar deviasi. Deskripsi Intensitas Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) Berdasarkan hasil pengolahan data terhadap 30 responden, diperoleh skor maksimum sebesar 75 dan skor minimum sebesar 15. Selanjutnya, kategori intensitas penggunaan kecerdasan buatan (AI) dibagi menjadi empat kategori, yaitu sangat tinggi . Ae. , tinggi . Ae . , sedang . Ae . , dan rendah . Ae . Hasil kategorisasi intensitas penggunaan AI disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kategori Intensitas Penggunaan AI Kategori Interval Skor Frekuensi Persentase Sangat Tinggi 61 Ae 75 3,3% Tinggi 46 Ae 60 73,3% Sedang 31 Ae 45 23,3% Rendah 15 Ae 30 0,0% Total Sumber : Hasil Olah Data dari SPSS,2026 Berdasarkan Tabel 1, intensitas penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh mahasiswa Pendidikan Geografi didominasi oleh kategori tinggi sebanyak 22 responden atau sebesar 73,3%. Sebanyak 7 responden atau 23,3% berada pada kategori sedang dan 1 responden atau 3,3% berada pada kategori sangat tinggi. Tidak terdapat responden yang berada pada kategori rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Pendidikan Geografi memiliki intensitas penggunaan AI yang relatif tinggi dalam aktivitas akademiknya. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Crompton dan Burke . yang menyatakan bahwa penggunaan Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi karena mampu mendukung mahasiswa dalam memperoleh informasi, mengakses berbagai sumber belajar, dan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Selain itu. Kasneci et al. menjelaskan bahwa AI mampu meningkatkan efisiensi belajar apabila digunakan sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa. Dengan kata lain. AI memberikan manfaat yang optimal apabila dimanfaatkan untuk membantu proses analisis, memperluas pemahaman, dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, sementara mahasiswa tetap berperan aktif dalam mengevaluasi serta menginterpretasikan informasi yang diperoleh. Hasil penelitian ini memperkuat temuan tersebut, di mana mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi menunjukkan tingkat intensitas penggunaan AI yang tinggi dalam aktivitas akademik tanpa mengabaikan proses belajar secara mandiri. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa telah memanfaatkan AI sebagai media pendukung pembelajaran yang membantu meningkatkan efisiensi dalam menyelesaikan berbagai tugas akademik, memahami materi perkuliahan, serta memperoleh referensi ilmiah yang relevan. Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menggunakan aplikasi Statistical Package for the Social Sciences (SPSS), nilai rata-rata . variabel intensitas penggunaan AI berada pada kategori tinggi dengan penyebaran data yang relatif homogen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pemanfaatan AI yang hampir sama dalam mendukung kegiatan pembelajaran. Hasil analisis ini memperlihatkan bahwa penggunaan AI telah menjadi salah satu bentuk adaptasi mahasiswa terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin berkembang di lingkungan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatan AI yang disertai dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan tanggung jawab akademik dapat menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran tanpa mengurangi peran aktif mahasiswa sebagai subjek utama dalam membangun pengetahuan. Tingginya intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar sehari-hari. Mahasiswa memanfaatkan AI tidak hanya untuk memperoleh informasi secara cepat, tetapi juga untuk membantu memahami konsep-konsep geografi yang kompleks, mencari dan membandingkan referensi ilmiah, merangkum materi perkuliahan, menerjemahkan artikel berbahasa asing, serta memperoleh alternatif penyelesaian tugas akademik. Pemanfaatan AI juga membantu mahasiswa dalam menyusun kerangka tulisan, mengembangkan ide, dan memberikan penjelasan terhadap materi yang belum dipahami. Kondisi tersebut menunjukkan 66 Volume 2 | Issue 2 | Mei, 2026 Syilham Zulkarmi. Asri Rabiatul Ihsani. Armin Subhani / Studi Deskriptif Intensitas Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Pendidikan Geografi bahwa AI telah berfungsi sebagai sumber belajar pendukung yang mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab. Kemudahan akses terhadap informasi yang diberikan oleh AI memungkinkan mahasiswa memperoleh berbagai sumber pengetahuan dalam waktu yang relatif singkat sehingga proses belajar menjadi lebih fleksibel dan produktif. Meskipun demikian, pemanfaatan AI tetap memerlukan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar mahasiswa mampu menyeleksi, mengevaluasi, serta memverifikasi informasi yang diperoleh sebelum digunakan sebagai dasar dalam kegiatan akademik. Dengan demikian. AI tidak hanya berperan sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai media pendukung pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan kualitas proses belajar mahasiswa tanpa mengurangi peran aktif mereka dalam membangun pengetahuan secara mandiri. Meskipun demikian, tingginya intensitas penggunaan AI juga perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Informasi yang dihasilkan oleh AI tidak selalu sepenuhnya akurat sehingga mahasiswa tetap perlu melakukan proses verifikasi terhadap berbagai sumber ilmiah. Oleh karena itu, penggunaan AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses analisis dan penalaran mahasiswa. Pendekatan tersebut akan membantu mahasiswa memperoleh manfaat maksimal dari teknologi tanpa mengurangi kualitas proses belajarnya. Tingginya intensitas penggunaan AI pada mahasiswa juga menunjukkan adanya perubahan karakteristik proses pembelajaran di perguruan tinggi. Sebelum berkembangnya AI generatif, mahasiswa lebih banyak mengandalkan buku, jurnal, dan penjelasan dosen sebagai sumber utama Saat ini. AI mampu memberikan informasi secara cepat sehingga mahasiswa memiliki alternatif lain dalam memperoleh pengetahuan. Perubahan tersebut memberikan keuntungan berupa efisiensi waktu dan kemudahan akses informasi. Akan tetapi, kemudahan tersebut perlu disertai kemampuan memilih sumber yang kredibel agar informasi yang digunakan tetap memiliki kualitas Oleh karena itu, kemampuan literasi digital menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki mahasiswa ketika memanfaatkan AI dalam kegiatan akademik. Selain meningkatkan efisiensi belajar, penggunaan AI juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi apabila dimanfaatkan secara Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk membandingkan berbagai konsep, menyusun kerangka tulisan ilmiah, mengevaluasi jawaban, serta memperoleh alternatif penyelesaian masalah. Dengan demikian. AI tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai media yang membantu mahasiswa memperluas wawasan akademik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas penggunaan AI lebih menentukan dibandingkan dengan frekuensi penggunaannya. Deskripsi Kemandirian Belajar Mahasiswa Variabel kemandirian belajar mahasiswa diukur menggunakan instrumen yang terdiri atas 15 butir pernyataan dengan rentang skor minimum 15 dan skor maksimum 75. Berdasarkan rentang skor ideal, kategori kemandirian belajar dibagi menjadi empat kategori, yaitu sangat tinggi . Ae. , tinggi . Ae. , sedang . Ae. , dan rendah . Ae. Tabel 2. Kategori Kemandirian Belajar Mahasiswa Kategori Interval Skor Frekuensi Persentase Sangat Tinggi 61 Ae 75 16,7% Tinggi 46 Ae 60 80,0% Sedang 31 Ae 45 3,3% Rendah 15 Ae 30 0,0% Total Sumber : Hasil Olah Data dari SPSS,2026 Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa tingkat kemandirian belajar mahasiswa Pendidikan Geografi didominasi oleh kategori tinggi sebanyak 24 responden atau sebesar 80,0%. Selanjutnya, sebanyak 5 responden atau 16,7% berada pada kategori sangat tinggi dan 1 responden atau 3,3% berada pada kategori sedang. Tidak terdapat responden yang berada pada kategori rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kemandirian belajar yang relatif tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa mampu merencanakan, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses belajarnya secara mandiri. Temuan ini sesuai dengan teori Zimmerman dan Schunk . yang menjelaskan bahwa kemandirian belajar merupakan kemampuan individu dalam Mei, 2026 | Issue 2 | Volume 2 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 mengatur proses belajarnya secara sadar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian Chiu . yang menyatakan bahwa AI dapat memperkuat pembelajaran mandiri apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Tingginya tingkat kemandirian belajar menunjukkan bahwa mahasiswa tetap memiliki kemampuan untuk mengelola proses belajar secara mandiri meskipun memanfaatkan AI dalam kegiatan akademik. Mahasiswa mampu menentukan tujuan belajar, mengatur waktu, memilih strategi belajar yang sesuai, serta mengevaluasi hasil belajarnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI belum mengurangi tanggung jawab mahasiswa terhadap proses pembelajaran yang dijalani. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa AI lebih banyak dimanfaatkan sebagai media pendukung pembelajaran dibandingkan sebagai sumber utama dalam memperoleh jawaban. Dengan demikian, mahasiswa tetap menjadi subjek utama dalam proses belajar, sedangkan AI berfungsi sebagai fasilitator yang membantu mempercepat pencarian informasi dan memperluas pemahaman terhadap materi Kemandirian belajar merupakan salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam pendidikan tinggi karena mahasiswa dituntut mampu mengelola proses belajarnya secara mandiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Geografi telah memiliki kemampuan tersebut meskipun berada pada lingkungan belajar yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Mahasiswa tetap mampu menentukan prioritas belajar, mengatur waktu penyelesaian tugas, serta mengevaluasi hasil belajar yang telah dicapai. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggunaan AI belum menggantikan peran mahasiswa sebagai pengelola utama proses pembelajaran. Temuan tersebut juga mengindikasikan bahwa pemanfaatan AI dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kemandirian belajar apabila mahasiswa memiliki motivasi belajar yang baik. AI hanya berfungsi sebagai alat pendukung yang membantu memperoleh informasi secara lebih cepat, sedangkan proses memahami, menganalisis, dan menerapkan informasi tersebut tetap dilakukan oleh mahasiswa. Oleh karena itu, pembelajaran di perguruan tinggi perlu diarahkan agar mahasiswa mampu menggunakan AI secara kritis, selektif, dan bertanggung jawab sehingga manfaat teknologi dapat diperoleh secara optimal. Analisis Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa variabel intensitas penggunaan AI memiliki nilai rata-rata . sebesar 48,37 dengan standar deviasi sebesar 4,34. Sementara itu, variabel kemandirian belajar memiliki nilai rata-rata sebesar 55,60 dengan standar deviasi sebesar 6,28. Tabel 3. Analisis Statistik Deskriptif Variabel Mean Standar Deviasi Intensitas Pengunaan AI 48,37 4,34 Kemandirian Belajar 55,60 6,28 Sumber : Hasil Olah Data dari SPSS,2026 Nilai rata-rata intensitas penggunaan AI sebesar 48,37 menunjukkan bahwa secara umum mahasiswa berada pada kategori tinggi dalam memanfaatkan AI untuk mendukung aktivitas akademik. Sementara itu, nilai rata-rata kemandirian belajar sebesar 55,60 juga menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi. Standar deviasi variabel intensitas penggunaan AI sebesar 4,34 menunjukkan bahwa penyebaran data relatif kecil sehingga skor responden cenderung berada di sekitar nilai rata-rata. Dengan demikian, tingkat intensitas penggunaan AI antarresponden relatif homogen dan tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. Pada variabel kemandirian belajar, standar deviasi sebesar 6,28 juga menunjukkan bahwa data responden relatif homogen karena penyebaran data tidak terlalu jauh dari nilai rata-rata. Akan tetapi, dibandingkan variabel intensitas penggunaan AI, penyebaran data pada variabel kemandirian belajar sedikit lebih besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemandirian belajar mahasiswa lebih beragam dibandingkan intensitas penggunaan AI. Penyebaran data yang relatif homogen pada kedua variabel menunjukkan bahwa karakteristik responden dalam penelitian ini memiliki pola yang hampir sama. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh kesamaan latar belakang responden yang berasal dari Program Studi Pendidikan Geografi sehingga memperoleh pengalaman pembelajaran, kurikulum, dan akses teknologi yang relatif serupa. Dengan demikian, nilai rata-rata masing-masing variabel dapat menggambarkan kondisi umum mahasiswa dalam penelitian ini. 68 Volume 2 | Issue 2 | Mei, 2026 Syilham Zulkarmi. Asri Rabiatul Ihsani. Armin Subhani / Studi Deskriptif Intensitas Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan Kemandirian Belajar Mahasiswa Pendidikan Geografi Homogenitas data juga menunjukkan bahwa penggunaan AI telah menjadi kebiasaan yang cukup merata di kalangan mahasiswa. Hampir seluruh responden telah memanfaatkan AI sebagai salah satu sumber belajar dalam aktivitas akademik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital telah memberikan perubahan terhadap pola belajar mahasiswa, terutama dalam memperoleh informasi dan menyelesaikan berbagai tugas perkuliahan. Temuan ini menunjukkan bahwa tingginya penggunaan AI tidak diikuti oleh rendahnya tingkat kemandirian belajar mahasiswa. Mahasiswa mampu memanfaatkan AI sebagai media pendukung pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan belajar secara mandiri. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Bond et al. yang menyatakan bahwa integrasi AI dalam pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas belajar apabila disertai kemampuan regulasi diri yang baik. Berdasarkan hasil tersebut, pemanfaatan AI di Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi perlu diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran yang tetap mendorong mahasiswa berpikir kritis, menyelesaikan masalah secara mandiri, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa penggunaan AI tidak selalu memberikan dampak negatif terhadap perilaku belajar mahasiswa. Efektivitas penggunaan AI sangat dipengaruhi oleh cara mahasiswa memanfaatkan teknologi tersebut dalam kegiatan akademik. Mahasiswa yang menggunakan AI sebagai media untuk memperdalam pemahaman materi dan mengevaluasi hasil belajarnya cenderung tetap memiliki tingkat kemandirian belajar yang tinggi. Sebaliknya, penggunaan AI secara pasif tanpa proses analisis berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, intensitas penggunaan Artificial Intelligence (AI) pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi berada pada kategori tinggi, demikian pula tingkat kemandirian belajar mahasiswa yang juga berada pada kategori tinggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan AI telah menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa, terutama dalam mencari informasi, memahami materi perkuliahan, dan menyelesaikan tugas akademik. Tingginya penggunaan AI tidak menyebabkan menurunnya kemandirian belajar, tetapi justru dapat mendukung proses pembelajaran apabila dimanfaatkan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Mahasiswa tetap mampu mengatur tujuan belajar, mengelola waktu, memilih strategi belajar, serta mengevaluasi hasil belajarnya secara mandiri meskipun memanfaatkan AI sebagai media pendukung Temuan ini menunjukkan bahwa AI berperan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar tanpa menggantikan peran mahasiswa dalam membangun pengetahuan secara mandiri. Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam pembelajaran di perguruan tinggi perlu diintegrasikan secara tepat melalui strategi pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kemandirian belajar sehingga teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pendidikan. DAFTAR PUSTAKA