Ekuivalensi J u r n a l Eko nom i B i s n i s Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap Manfaat Pencatatan Keuangan dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi di Medan Utara Taufiq Azmi Harahap1. Abdul Aziz2. Devia Febrina3. Mega Sanjaya4. Kuandi Chandra5 3,4,5 Universitas Mikroskil Institut Bisnis Informasi Teknologi dan Bisnis Email: taufiq. harahap@mikroskil. Abstrak Ketidakpastian ekonomi yang terus meningkat menuntut pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UKM) untuk memiliki kemampuan adaptif dalam pengelolaan usaha, salah satunya melalui praktik pencatatan keuangan yang sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pelaku UKM terhadap manfaat pencatatan keuangan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di wilayah Medan Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 pelaku UKM yang dipilih secara purposive. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi atas fungsi pencatatan keuangan, meliputi aspek pengendalian keuangan, pengambilan keputusan, dan kesiapan menghadapi risiko ekonomi. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap manfaat pencatatan keuangan berpengaruh signifikan terhadap kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Temuan ini menegaskan bahwa pencatatan keuangan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga strategis dalam manajemen risiko. Implikasi manajerial dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku UKM perlu meningkatkan literasi dan disiplin pencatatan keuangan untuk memperkuat ketahanan usaha. Pemerintah dan lembaga pendamping UKM disarankan untuk mengembangkan program pelatihan keuangan yang praktis dan aplikatif sebagai bagian dari kebijakan pemberdayaan ekonomi lokal. Kata Kunci: Persepsi pelaku usaha. Pencatatan keuangan. Ketidakpastian Ekonomi. UKM Abstract The growing economic uncertainty demands that Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. develop adaptive capabilities in managing their businesses, particularly through systematic financial recordkeeping. This study aims to analyze Taufiq Azmi Harahap. Abdul Aziz. Devia Febrina. Mega Sanjaya. Kuandi Chandra MSME actorsAo perceptions of the benefits of financial recording in coping with economic uncertainty in the North Medan region. A quantitative approach was employed using a survey method involving 100 purposively selected MSME The research instrument was a structured questionnaire measuring perceptions of the functions of financial recording, including financial control, decision-making, and risk preparedness. Data were analyzed using descriptive statistics and multiple linear regression. The results indicate that a positive perception of financial recordkeeping significantly influences business readiness to face economic volatility. These findings underscore that financial records are not merely administrative tools but serve as strategic instruments in risk management. The managerial implication suggests that MSME actors need to improve their financial literacy and recordkeeping discipline to strengthen business resilience. Government and SME development agencies are encouraged to implement practical and applicable financial training programs as part of broader local economic empowerment policies. Keywords: Business owner perception. Financial record-keeping. Economic uncertaint. MSMEs PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UKM) memiliki peran vital dalam mendukung perekonomian Indonesia (Z. Lubis et al. , 2. Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, sektor ini berkontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja di Indonesia (Fadli. Peran signifikan tersebut menjadikan UKM sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terlebih di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global (Razaq et al. , 2. Meski demikian. UKM tetap menjadi sektor yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi, terutama yang beroperasi di kawasan urban seperti Medan Utara yang menghadapi tingkat persaingan dan dinamika pasar yang sangat tinggi. Ketidakpastian ekonomi tercermin melalui fluktuasi nilai tukar, inflasi, kenaikan harga bahan baku, serta ketidakstabilan kebijakan fiskal dan moneter (Sihombing et al. , 2. Kondisi ini menuntut pelaku UKM untuk memiliki sistem pengelolaan usaha yang tanggap dan adaptif terhadap dinamika lingkungan eksternal (Harianto. Chandra, et al. , 2. Salah satu strategi penting yang dapat diterapkan adalah penerapan pencatatan keuangan yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan (Salsabillah, 2. Pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban administratif, tetapi juga menjadi landasan krusial dalam proses pengambilan keputusan, evaluasi kinerja 96 |Ekuvalensi Vol. 11 No. 1 April 2025 Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap. usaha, serta sebagai alat prediktif dalam menghadapi potensi risiko keuangan di masa mendatang (Harianto. Honkley, et al. , 2. Selain itu, penerapan akuntansi yang tepat juga menjadi masalah yang signifikan bagi sebagian besar UKM di Indonesia, termasuk di Medan Utara. Sebagian besar UKM masih melakukan pencatatan keuangan secara manual atau bahkan tidak melakukan pencatatan sama Padahal, penerapan akuntansi yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku sangat penting untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kesehatan keuangan perusahaan, serta memudahkan dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya (Nurhidayah et al. , 2. Penerapan sistem akuntansi yang baik juga penting bagi UKM untuk meningkatkan kredibilitas pelaku bisnis di mata investor, mitra bisnis, dan lembaga keuangan (Dewi et al. , 2. Penelitian ini hadir untuk mengkaji persepsi pelaku usaha kecil terhadap manfaat pencatatan keuangan dalam konteks ketidakpastian ekonomi, dengan fokus wilayah di Medan Utara. Melalui pendekatan kuantitatif, penelitian ini akan mengukur sejauh mana pelaku usaha memahami pentingnya pencatatan keuangan serta bagaimana persepsi pelaku bisnis memengaruhi kesiapan dalam menghadapi dinamika ekonomi yang tidak menentu. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat maupun pendukung dalam proses pencatatan keuangan yang dilakukan oleh pelaku UKM. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya literatur mengenai perilaku keuangan pelaku UKM dalam situasi krisis dan ketidakpastian. Sementara secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan institusi pendidikan vokasi dalam merancang program pendampingan dan pelatihan pencatatan keuangan yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, penguatan kemampuan pencatatan keuangan diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam meningkatkan ketahanan UKM menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang. TINJAUAN PUSTAKA Ketidakpastian Ekonomi Ketidakpastian ekonomi mengacu pada situasi makro ekonomi yang sulit diprediksi dan rentan mengalami perubahan mendadak Vol. 11 No. 1 April 2025 Ekuivalensi | 97 Taufiq Azmi Harahap. Abdul Aziz. Devia Febrina. Mega Sanjaya. Kuandi Chandra (Amelia & Tambunan, 2. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor seperti fluktuasi nilai tukar, inflasi tinggi, lonjakan harga bahan baku, serta kebijakan fiskal dan moneter yang berubah-ubah (Nasib et al. Ketidakstabilan tersebut menimbulkan tantangan serius bagi dunia usaha, terutama bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UKM) yang umumnya memiliki keterbatasan sumber daya dan ketahanan finansial (Hou et al. , 2. Dalam situasi seperti ini. UKM menjadi kelompok paling rentan dan memerlukan strategi adaptif untuk menjaga keberlangsungan usahanya di tengah tekanan ekonomi yang tidak menentu (Razaq et al. , 2. Dalam sektor UKM, ketidakpastian ekonomi merupakan faktor eksternal yang sangat memengaruhi keberlangsungan usaha (Lestari & Nasib, 2. Lonjakan harga bahan baku atau peningkatan biaya operasional secara tiba-tiba sering kali tidak dapat diantisipasi oleh UKM karena keterbatasan modal cadangan (Susanto, 2. Kondisi ini dapat menghambat proses produksi, menurunkan kapasitas penjualan, dan secara langsung berdampak pada penurunan pendapatan (Wijaya, 2. Ketiadaan strategi keuangan yang kuat membuat UKM rentan terhadap perubahan pasar yang cepat (Nasib et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi pelaku UKM untuk memiliki sistem manajemen risiko dan keuangan yang memadai agar tetap bertahan di tengah dinamika ekonomi yang tidak stabil (Daulay, 2. Ketidakpastian ekonomi turut berdampak pada perubahan perilaku konsumen, khususnya ketika daya beli masyarakat menurun akibat tekanan ekonomi (Harefa & Siboro, 2. Penurunan ini menyebabkan permintaan terhadap produk dan layanan UKM ikut Dalam situasi tersebut, pelaku UKM dituntut memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi agar tetap bertahan dan bersaing di pasar (Ayuni et al. , 2. Strategi adaptif yang dapat dilakukan mencakup inovasi produk, efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional, serta penyesuaian strategi pemasaran sesuai dengan kondisi pasar yang berkembang (Fazira Lubis et al. , 2. Kemampuan beradaptasi menjadi kunci bagi UKM untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah dinamika ekonomi yang tidak stabil (Hou, 2. Ketidakpastian ekonomi turut memengaruhi aspek perencanaan usaha pada sektor UKM (Harianto. Honkley, et al. , 2. Ketidakstabilan kondisi makroekonomi menyebabkan pelaku UKM kesulitan dalam menyusun proyeksi bisnis yang akurat (Temouri. Akibatnya, sebagian besar pengusaha kecil cenderung bersikap 98 |Ekuvalensi Vol. 11 No. 1 April 2025 Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap. reaktif dibandingkan proaktif dalam merespons dinamika pasar (Selamat, 2. Keterbatasan akses terhadap informasi ekonomi yang akurat serta rendahnya literasi keuangan turut memperburuk situasi, sehingga pengambilan keputusan bisnis lebih banyak didasarkan pada intuisi daripada analisis data yang sistematis (Ndombi Avouba, 2. Kondisi ini berpotensi menurunkan efektivitas manajerial UKM dan memperlemah daya tahan usaha dalam menghadapi tekanan ekonomi yang terus berubah (Maziriri, 2. Pencatatan Keuangan Pencatatan keuangan adalah proses sistematis yang mencakup pencatatan, pengklasifikasian, dan analisis seluruh transaksi keuangan dalam suatu usaha (Ali, 2. Tujuannya adalah menyediakan informasi yang akurat dan relevan guna mendukung pengambilan keputusan manajerial. Bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UKM), pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban administratif, tetapi juga sebagai alat strategis dalam pengelolaan usaha (Muzindutsi, 2. Informasi keuangan yang tersusun dengan baik membantu pelaku usaha mengontrol arus kas, mengevaluasi kinerja, serta menyusun perencanaan usaha yang lebih terarah dan responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis (Almeida, 2. Sebagian besar UKM di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam pengelolaan keuangan, khususnya dalam hal pencatatan (Alkadash, 2. Banyak pelaku usaha belum memahami pentingnya pencatatan keuangan yang rapi dan sistematis (Novitasari, 2. Padahal, pencatatan keuangan berperan penting dalam memantau arus kas, mengenali pengeluaran yang tidak efisien, dan mengevaluasi kinerja usaha secara berkala (Iskandar, 2. Informasi keuangan yang akurat dan lengkap memungkinkan pelaku UKM merumuskan strategi perbaikan dan pengembangan usaha yang lebih tepat sasaran. Dengan demikian, pencatatan keuangan menjadi fondasi penting bagi pengambilan keputusan yang rasional dan berorientasi pada keberlanjutan usaha (Harmawan Saputra & Adiati Pratomo, 2. Pencatatan keuangan yang tertib menjadi landasan penting dalam pengambilan keputusan manajerial (Kaur & Bedi, 2. Keputusan terkait investasi, ekspansi usaha, pengendalian biaya, hingga penetapan harga produk akan lebih akurat jika didasarkan pada data keuangan yang valid. Selain itu, informasi keuangan yang lengkap dan terstruktur sangat dibutuhkan dalam penyusunan laporan keuangan, khususnya untuk memenuhi persyaratan akses pembiayaan dari Vol. 11 No. 1 April 2025 Ekuivalensi | 99 Taufiq Azmi Harahap. Abdul Aziz. Devia Febrina. Mega Sanjaya. Kuandi Chandra lembaga formal seperti bank atau koperasi (Khan, 2. Banyak UKM yang mengalami kendala dalam memperoleh pembiayaan bukan karena tidak layak secara usaha, melainkan karena tidak memiliki laporan keuangan yang dapat diverifikasi secara profesional dan kredibel (Mustofa & Tjahjono, 2. Pencatatan keuangan juga memiliki peran penting dalam mendukung kepatuhan terhadap regulasi yang ditetapkan pemerintah (Rakshit et al. , 2. Melalui kebijakan fiskal, pelaku UKM didorong untuk menyelenggarakan pembukuan yang tertib sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban perpajakan. Dalam konteks ini, pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengendalian internal, tetapi juga menjadi instrumen transparansi dan akuntabilitas kepada pihak eksternal (Al-azzam et al. , 2. Laporan keuangan yang rapi dan dapat dipercaya dibutuhkan oleh otoritas pajak, investor, serta mitra usaha sebagai dasar dalam menilai kesehatan finansial dan kredibilitas usaha yang dijalankan oleh pelaku UKM (Xuan et al. Persepsi Pelaku UKM Persepsi merupakan hasil penilaian atau tanggapan seseorang terhadap suatu objek, situasi, atau informasi yang diperoleh melalui indera dan ditafsirkan berdasarkan latar belakang, pengalaman, serta pemahamannya (A. Lubis & Effendi, 2. Dalam lingkup usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM), cara pandang pelaku usaha terhadap aktivitas pencatatan keuangan sangat menentukan apakah kegiatan tersebut dijalankan secara serius atau hanya sebagai pemenuhan kewajiban administratif (Kurniawan et al. , 2. Persepsi ini terbentuk dari berbagai faktor, mulai dari pengalaman pribadi, pengaruh lingkungan sekitar, hingga tingkat pemahaman akan pentingnya manajemen keuangan (Riyadh et al. , 2. Tidak jarang pelaku UKM memandang pencatatan keuangan sebagai hal yang rumit atau tidak terlalu penting (Nugroho et al. Jika persepsi pelaku bisnis terhadap kegiatan ini bersifat negatif, maka besar kemungkinan pencatatan keuangan dilakukan secara asal-asalan, tidak konsisten, atau bahkan diabaikan sama sekali (Matarazzo et al. , 2. Akibatnya, informasi keuangan yang tersedia menjadi tidak akurat dan sulit digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha (Syaifullah, 2. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha cenderung mengandalkan intuisi atau perkiraan kasar dalam menjalankan bisnisnya, yang berisiko terhadap keberlanjutan usahanya 100 |Ekuvalensi Vol. 11 No. 1 April 2025 Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap. terutama di tengah dinamika pasar yang cepat berubah (Totojani & Ramadani, 2. Sebaliknya, apabila pelaku UKM memiliki persepsi yang positif dan menyadari bahwa pencatatan keuangan adalah elemen penting dalam pengelolaan usaha, maka pelaku bisnis akan lebih termotivasi untuk melakukan pencatatan yang teratur dan sesuai dengan prinsip akuntabilitas (Fukugawa, 2. Dengan data keuangan yang terdokumentasi dengan baik, pelaku usaha dapat memantau perkembangan bisnis, mengendalikan pengeluaran, serta merancang strategi berdasarkan kondisi riil (Novirsari, 2. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperbesar peluang keberhasilan usaha dalam jangka panjang (Aulia, 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk mengukur persepsi pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UKM) terhadap manfaat pencatatan keuangan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di Medan Utara. Desain yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 100 pelaku UKM yang telah menjalankan usaha minimal dua tahun. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang dikembangkan berdasarkan indikator persepsi manfaat pencatatan keuangan dan kesiapan menghadapi risiko ekonomi. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji melalui pilot test terhadap 30 responden. Data menggambarkan karakteristik responden, serta regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel persepsi dan kesiapan menghadapi ketidakpastian ekonomi. Uji asumsi klasik seperti normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas juga dilakukan. Seluruh analisis dilakukan dengan bantuan SPSS versi terbaru untuk menjamin akurasi dan validitas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden pada penelitian ini adalah Wajib yang berjumlah 100 responden, berikut ini karakteristik responden berdasarkan jenis Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase Vol. 11 No. 1 April 2025 Ekuivalensi | 101 Taufiq Azmi Harahap. Abdul Aziz. Devia Febrina. Mega Sanjaya. Kuandi Chandra Laki-Laki Perempuan TOTAL Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui tentang jenis Kelamin Responden UKM yang diambil sebagai responden yang menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan yakni sebesar 53 responden dengan persentase 53%. Sedangkan responden laki-laki yakni sebesar 47 responden dengan persentase 47%. Hasil Uji Outler Model Tabel 2. Construct validity testing Persepsi Manfaat Pelaku UKM pencatatan (X. (Y) X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. X1. Berdasarkan hasil pada tabel, dapat disimpulkan bahwa seluruh item pertanyaan pada setiap variabel dalam penelitian ini memenuhi kriteria 102 |Ekuvalensi Vol. 11 No. 1 April 2025 Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap. Hal ini ditunjukkan oleh nilai validitas yang diperoleh, di mana seluruh nilai loading factor melebihi angka 0,7. Dengan demikian, setiap indikator dinyatakan mampu merepresentasikan konstruk yang diukur secara memadai. Nilai tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara indikator dan variabel laten tergolong kuat, sehingga instrumen yang digunakan dalam penelitian ini layak digunakan untuk analisis lebih lanjut. Validitas yang tinggi ini juga mendukung keandalan pengukuran dalam model penelitian yang Construct Reliability Test Table 3. Construct Reliability Cronbach's rho_A Composite AVE Alpha Reliability Persepsi Pelaku 0,915 0,921 0,895 0,816 UKM (X. Manfaat 0,940 0,956 0,893 0,847 keuangan (Y) Berdasarkan data dalam tabel, diketahui bahwa nilai rata-rata variabel memiliki nilai lebih dari 0,5, yang menunjukkan bahwa masing-masing indikator telah memenuhi syarat average variance extracted (AVE). Selain itu, nilai composite reliability untuk seluruh konstruk berada di atas 0,7, yang berarti tingkat konsistensi internal antar indikator berada dalam kategori baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh indikator dalam penelitian ini mampu mengukur konstruknya secara andal dan konsisten. Hasil ini memperkuat validitas instrumen yang digunakan dalam model, sehingga layak digunakan dalam analisis selanjutnya. R Square Table 4. R-Square R Square R Square Adjusted 0,860 Manfaat pencatatan 0,877 keuangan (Y) Berdasarkan data pada tabel di atas, diketahui bahwa nilai R-squared adjusted untuk variabel Kinerja Keuangan adalah sebesar 0,860 atau Vol. 11 No. 1 April 2025 Ekuivalensi | 103 Taufiq Azmi Harahap. Abdul Aziz. Devia Febrina. Mega Sanjaya. Kuandi Chandra Hal ini menunjukkan bahwa sebesar 86% variasi dalam kinerja keuangan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen yang digunakan dalam model penelitian ini. Sementara itu, sisanya sebesar 14% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Nilai ini mencerminkan tingkat penyesuaian model yang tinggi, sehingga model dinilai memiliki kemampuan prediktif yang baik terhadap variabel dependen. Uji Hipotesis Penelitian Table 5. Pengujian Hipotesis Persepsi Pelaku UKM (X. Manfaat Pencatatan Keuangan (Y) Original Sample (O) 0,511 Sample Mean (M) 0,634 Standard T Statistics Deviation (|O/STDEV|) Values (STDEV) 0,342 2,768 0,000 Penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi yang dimiliki oleh pelaku UKM di wilayah Medan Utara secara signifikan memengaruhi sejauh mana pelaku bisnis memanfaatkan pencatatan keuangan dalam merespons dinamika ketidakpastian ekonomi. Implikasi dari temuan ini membuktikan pemerintah daerah maupun instansi pendamping UKM perlu tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga fokus pada upaya membentuk pola pikir pelaku usaha tentang manfaat strategis pencatatan keuangan. Metode pembinaan dapat diperluas dengan pendekatan yang bersifat reflektif dan interaktif, seperti studi kasus, sesi coaching, maupun mentoring antar pelaku usaha. Tujuannya adalah agar pelaku UKM tidak hanya sekadar tahu cara, tetapi juga memahami mengapa pencatatan keuangan penting Selanjutnya lembaga keuangan dan investor, persepsi pelaku usaha terhadap pencatatan keuangan dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai tingkat kesiapan dan akuntabilitas UKM. Pencatatan yang tertib mencerminkan pengelolaan risiko yang baik dan memberikan jaminan transparansi dalam penggunaan dana, sehingga memperkuat kepercayaan mitra eksternal terhadap kapasitas bisnis pelaku UKM. Temuan ini diperkuat oleh hasil penelitian (Lypez & Yepes, 2. yang menunjukkan bahwa pelaku UKM dengan persepsi positif 104 |Ekuvalensi Vol. 11 No. 1 April 2025 Persepsi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah terhadap. terhadap praktik akuntansi cenderung menyusun laporan keuangan secara lebih transparan, akurat, dan tepat waktu. Laporan keuangan yang disusun dengan baik memungkinkan pelaku usaha untuk melakukan evaluasi performa usaha secara menyeluruh dan berbasis Transparansi ini juga membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih rasional dan strategis (Vu, 2. Dengan demikian, persepsi yang baik terhadap akuntansi tidak hanya meningkatkan kualitas pelaporan, tetapi juga berdampak langsung pada efektivitas pengelolaan dan keberlanjutan usaha UKM secara keseluruhan (Al Qudah et al. , 2. PENUTUP Penelitian ini menemukan bahwa adopsi FinTech di kalangan Gen Z tinggi, didorong oleh kenyamanan dengan teknologi dan preferensi terhadap layanan digital. Layanan FinTech yang populer meliputi pembayaran digital, investasi, dan pinjaman. Meskipun FinTech meningkatkan literasi keuangan, rendahnya pemahaman keuangan di sebagian Gen Z dapat menimbulkan risiko, seperti keputusan keuangan buruk atau ketergantungan utang. Oleh karena itu, edukasi keuangan sangat penting. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan diperlukan untuk meningkatkan literasi keuangan dan memastikan penggunaan FinTech yang aman. DAFTAR PUSTAKA