JURNAL BASICEDU Volume 9 Nomor 6 Tahun 2025 Halaman 1974 - 1982 Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Muhammad Ricky Rohan1A. Iksam2 Universitas Mulawarman. Indonesia1,2 E-mail: mrickyrohan@gmail. Abstrak Rendahnya hasil belajar Pendidikan Pancasila pada siswa sekolah dasar sering disebabkan oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan minim melibatkan siswa secara aktif. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila melalui penerapan model Problem Based Learning pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 26 siswa kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda. Teknik pengumpulan data meliputi observasi aktivitas guru dan siswa, tes hasil belajar, serta dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dari pra-siklus hingga siklus II disertai peningkatan persentase ketuntasan belajar yang melampaui indikator keberhasilan. Penerapan Problem Based Learning mampu meningkatkan keterlibatan siswa, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman konseptual terhadap materi. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi guru sekolah dasar dalam menerapkan pembelajaran aktif serta kontribusi akademik bagi pengembangan pembelajaran Pendidikan Pancasila berbasis masalah. Kata kunci: hasil belajar, problem-based learning, pendidikan Pancasila Abstract Low learning outcomes in Pancasila Education at the elementary school level remain a challenge, particularly due to teacher-centered instructional practices that limit student engagement. This study aimed to improve studentsAo learning outcomes through the implementation of the Problem Based Learning model on the topic of Village and Sub-district Apparatus. The research employed a Classroom Action Research design conducted in two cycles. The participants were 26 fourth-grade students at SD Fastabiqul Khairat Samarinda. Data were collected through observation, learning achievement tests, and documentation, and analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The results indicated an improvement in studentsAo learning outcomes and mastery learning from the pre-cycle to Cycle II. The implementation of Problem Based Learning also enhanced studentsAo engagement and critical thinking skills. This study provides practical implications for elementary school teachers and contributes academically to the development of problem-based learning in Pancasila Education. Keywords: learning outcomes, problem-based learning, pancasila education Copyright . 2025 Muhammad Ricky Rohan. Iksam A Corresponding author : Email : mrickyrohan@gmail. DOI : https://doi. org/10. 31004/basicedu. ISSN 2580-3735 (Media Ceta. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1975 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, sikap kewarganegaraan, serta pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai kebangsaan sejak usia dini. Pendidikan ini diarahkan untuk menanamkan nilai Pancasila secara utuh melalui proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap, nilai moral, dan perilaku kewarganegaraan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (Fauziyah et al. , 2. Oleh karena itu. Pendidikan Pancasila menjadi fondasi penting dalam membangun warga negara yang demokratis, bertanggung jawab, dan Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar menuntut pendekatan yang kontekstual dan bermakna agar peserta didik mampu mengaitkan konsep kewarganegaraan dengan realitas sosial di sekitarnya. (Sutoyo, 2. menegaskan bahwa Pendidikan Pancasila harus dilaksanakan melalui pembelajaran aktif yang memungkinkan peserta didik memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara serta menginternalisasi nilai Pancasila dalam praktik kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pembelajaran Pendidikan Pancasila tidak dapat hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi perlu dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif peserta Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa capaian pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar masih menghadapi permasalahan, terutama rendahnya hasil belajar pada materi yang bersifat konseptual dan kontekstual. (Susanto, 2. mengemukakan bahwa pembelajaran yang masih berpusat pada guru menyebabkan peserta didik kurang aktif, pasif dalam bertanya, serta mengalami kesulitan dalam menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya pemahaman konsep serta lemahnya internalisasi nilai kewarganegaraan. Permasalahan serupa juga ditemukan berdasarkan hasil observasi awal di kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik belum mampu menjelaskan pengertian, fungsi, dan peran perangkat desa dan kelurahan secara tepat. Proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah dan penugasan tertulis, sehingga kesempatan peserta didik untuk berdiskusi dan mengemukakan pendapat masih terbatas. Akibatnya, pembelajaran Pendidikan Pancasila cenderung bersifat hafalan dan kurang bermakna. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang seharusnya berpusat pada peserta didik dengan praktik pembelajaran yang masih bersifat teacher-centered. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu melibatkan peserta didik secara aktif, mendorong kemampuan berpikir kritis, serta memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sosial. Salah satu model pembelajaran yang dinilai relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Problem Based Learning (PBL). Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menempatkan masalah nyata sebagai titik awal pembelajaran untuk mendorong peserta didik membangun pengetahuan melalui proses penyelidikan, diskusi, dan refleksi (Hmelo-Silver, 2. Model ini mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah secara Secara teoretis. Problem Based Learning sejalan dengan pendekatan konstruktivisme sosial yang menekankan pembelajaran sebagai proses aktif dan kolaboratif. Menurut (Loyens et al. , 2. PBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengonstruksi pemahaman melalui interaksi sosial dan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga menghasilkan pemahaman konsep yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Pendekatan ini sangat sesuai dengan karakteristik Pendidikan Pancasila yang menuntut pemahaman nilai dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik. Penelitian (Fariasih & Fathoni, 2. menemukan bahwa penerapan Problem Based Learning pada pembelajaran Pendidikan Pancasila mampu meningkatkan hasil belajar dan partisipasi siswa secara signifikan. Temuan serupa juga dilaporkan oleh (Rosfiani et al. , 2. yang menyatakan bahwa PBL berpengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep siswa sekolah Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1976 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Meskipun demikian, kajian tentang Problem Based Learning pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila masih relatif terbatas dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti IPA dan matematika. Penelitian yang secara khusus mengkaji penerapan PBL pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan di sekolah dasar masih jarang ditemukan, padahal materi tersebut memiliki karakteristik kontekstual yang kuat dan berkaitan langsung dengan kehidupan kewarganegaraan peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini memiliki kebaruan pada penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan di sekolah Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda melalui penerapan Problem Based Learning. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang aktif dan bermakna. Secara akademik, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian ilmiah mengenai implementasi Problem Based Learning dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. METODE Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses serta hasil pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara siklikal dan berkelanjutan. Setiap siklus dirancang berdasarkan hasil refleksi dari siklus sebelumnya sehingga tindakan pembelajaran yang diberikan dapat disesuaikan dengan permasalahan yang ditemukan di kelas dan diarahkan pada perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan (Arikunto, 2. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda pada semester ganjil tahun pembelajaran 2025/2026. Subjek penelitian meliputi seorang guru kelas IV dan seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 26 siswa. Peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana tindakan, sekaligus pengumpul data selama proses penelitian berlangsung, sedangkan guru kelas bertindak sebagai kolaborator yang membantu pelaksanaan observasi dan refleksi pembelajaran. Kehadiran peneliti secara langsung di lapangan dimaksudkan untuk memastikan keterlaksanaan tindakan dan ketepatan pengumpulan data sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan siswa selama penerapan model Problem Based Learning dengan menggunakan lembar observasi yang disusun berdasarkan indikator aktivitas pembelajaran. Tes hasil belajar digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan pada setiap siklus pembelajaran. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa foto kegiatan pembelajaran, daftar nilai, dan arsip administrasi penelitian yang relevan (Sugiyono, 2. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar dan lembar observasi disusun berdasarkan kisi-kisi yang mengacu pada indikator pencapaian kompetensi Pendidikan Pancasila. Validitas instrumen dijamin melalui expert judgment, yaitu dengan meminta penilaian dari dosen pembimbing dan guru kelas terhadap kesesuaian instrumen dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Reliabilitas instrumen dijaga melalui konsistensi penggunaan instrumen pada setiap siklus penelitian sehingga data yang diperoleh dapat dibandingkan secara objektif dan akurat (Azwar, 2. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung nilai rata-rata hasil belajar dan persentase ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus pembelajaran. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berdasarkan hasil observasi. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi teknik dan sumber, yaitu dengan membandingkan data hasil observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi penelitian (Ridder, 2. Penelitian ini juga memperhatikan aspek etika penelitian dengan memperoleh izin resmi dari pihak sekolah, menyampaikan tujuan penelitian kepada guru dan siswa, serta memastikan bahwa seluruh data yang Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1977 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. diperoleh digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik dan pengembangan pembelajaran. Identitas peserta didik dijaga kerahasiaannya sehingga penelitian ini memenuhi kaidah metodologis dan etis sebagai artikel ilmiah yang layak dipublikasikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Belajar Siswa Hasil penelitian pada tahap pra-siklus menunjukkan bahwa hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda masih berada pada kategori rendah berdasarkan capaian nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar. Nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 64,38 dengan persentase ketuntasan belajar 34,61% menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan sekolah. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemahaman awal siswa terhadap materi Perangkat Desa dan Kelurahan masih bersifat dangkal dan belum mampu dikaitkan dengan konteks kehidupan bermasyarakat secara tepat. Rendahnya hasil belajar pada tahap pra-siklus tidak terlepas dari proses pembelajaran yang masih didominasi oleh pendekatan konvensional yang berpusat pada guru. Guru lebih banyak menyampaikan materi melalui metode ceramah tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam proses diskusi dan pemecahan masalah yang Akibatnya, siswa cenderung pasif, kurang termotivasi untuk berpikir kritis, serta mengalami kesulitan dalam memahami konsep kewarganegaraan yang bersifat kontekstual dan aplikatif sebagaimana dituntut dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila (Mantri et al. , 2. Kondisi hasil belajar pada tahap prasiklus ini menjadi dasar penting bagi perlunya penerapan model pembelajaran yang lebih inovatif dan berorientasi pada keterlibatan aktif siswa. Data pra-siklus digunakan sebagai tolok ukur awal untuk menilai efektivitas penerapan model Problem Based Learning pada siklus selanjutnya. Dengan demikian, permasalahan pembelajaran yang teridentifikasi pada tahap awal ini menjadi landasan utama dalam merancang tindakan perbaikan pembelajaran secara sistematis dan berkelanjutan. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar Pra-Siklus Prasiklus Hasil Belajar Siswa Frekuensi Persentase Keterangan Nilai < 75 65,38% Tidak Tuntas Nilai Ou 75 34,61% Tuntas Rata-rata Kelas 64,38 Predikat Kurang Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 1, terlihat bahwa sebagian besar siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditetapkan sekolah. Sebaran nilai siswa menunjukkan dominasi kategori belum tuntas, yang mengindikasikan rendahnya penguasaan konsep awal mengenai materi Perangkat Desa dan Kelurahan. Kondisi ini mencerminkan bahwa proses pembelajaran sebelumnya belum mampu memfasilitasi siswa untuk memahami konsep kewarganegaraan secara mendalam dan kontekstual. Peningkatan Hasil Belajar pada Siklus I Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dilakukan dengan menerapkan model Problem Based Learning yang diawali dengan penyajian permasalahan kontekstual terkait kehidupan desa dan kelurahan. Permasalahan tersebut digunakan sebagai pemantik untuk mendorong siswa berdiskusi, bertukar pendapat, serta mengembangkan pemahaman konsep melalui kerja kelompok yang terstruktur. Model ini menuntut siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan pembelajaran konvensional sebelumnya. Hasil tes pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa secara kuantitatif. Nilai rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 75 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 61,53%, yang menunjukkan bahwa sebagian siswa mulai mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa penerapan Problem Based Learning mulai memberikan dampak positif terhadap Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1978 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. pemahaman siswa terhadap materi Perangkat Desa dan Kelurahan secara lebih bermakna. Meskipun terjadi peningkatan, hasil pada siklus I belum sepenuhnya memenuhi indikator keberhasilan penelitian yang telah Beberapa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengemukakan pendapat, menyusun argumen secara sistematis, serta menarik kesimpulan dari hasil diskusi kelompok. Oleh karena itu, diperlukan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sebagai dasar untuk merancang perbaikan tindakan pada siklus Tabel 2. Hasil Belajar Siklus I Siklus I Hasil Belajar Siswa Frekuensi Persentase Keterangan Nilai < 75 38,46% Tidak Tuntas Nilai Ou 75 61,53% Tuntas Rata-rata kelas Predikat Cukup Peningkatan hasil belajar 16,49% Data pada Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model Problem Based Learning pada siklus I. Meskipun belum seluruh siswa mencapai ketuntasan, peningkatan nilai rata-rata dan jumlah siswa tuntas menunjukkan respons positif terhadap perubahan strategi pembelajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis masalah mulai membantu siswa memahami konsep secara lebih terarah. Optimalisasi Hasil Belajar pada Siklus II Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilakukan dengan beberapa perbaikan yang lebih terarah dan sistematis. Guru meningkatkan intensitas bimbingan selama diskusi kelompok, memperjelas instruksi pembelajaran, serta memberikan contoh permasalahan yang lebih dekat dengan pengalaman nyata siswa. Perbaikan ini bertujuan untuk mengoptimalkan keterlibatan seluruh siswa dalam proses pemecahan masalah. Hasil tes pada akhir siklus II menunjukkan peningkatan hasil belajar yang lebih signifikan dibandingkan siklus sebelumnya. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 84,34 dengan persentase ketuntasan belajar sebesar 84,61%, yang berarti sebagian besar siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Capaian ini menunjukkan bahwa penerapan Problem Based Learning secara optimal mampu meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila secara efektif. Peningkatan hasil belajar pada siklus II tidak hanya mencerminkan keberhasilan dalam aspek kognitif, tetapi juga menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kerja sama siswa. Keberhasilan ini menegaskan bahwa kualitas perencanaan, pelaksanaan, serta refleksi pembelajaran memiliki peran penting dalam menentukan efektivitas model Problem Based Learning. Dengan demikian, siklus II menjadi indikator keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian ini. Tabel 3. Hasil Belajar Siklus II Siklus II Hasil Belajar Siswa Frekuensi Persentase Keterangan Nilai < 75 15,38% Tidak tuntas Nilai Ou 75 84,61% Tuntas Rata-rata kelas 84,34 Predikat Baik Peningkatan hasil belajar 31% Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 3, terlihat bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II. Sebagian besar siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal, dengan nilai rata-rata kelas yang meningkat secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dilakukan pada siklus II berjalan secara efektif. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1979 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Perkembangan Aktivitas Belajar Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Selain meningkatkan hasil belajar, penerapan model Problem Based Learning juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta bekerja sama dalam Peningkatan aktivitas belajar ini terlihat secara bertahap dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, sebagian siswa masih menunjukkan sikap pasif dan bergantung pada arahan guru dalam menyelesaikan tugas pembelajaran. Namun, pada siklus II, siswa mulai menunjukkan kemandirian belajar yang lebih baik, keberanian dalam mengemukakan ide, serta kemampuan menyampaikan hasil diskusi secara lebih runtut dan sistematis. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran pembelajaran dari berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa. Peningkatan aktivitas belajar siswa memiliki kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar yang dicapai. Dalam konteks Problem Based Learning, keterlibatan aktif siswa merupakan prasyarat utama agar proses konstruksi pengetahuan dapat berlangsung secara optimal (Hmelo-Silver, 2. Oleh karena itu, aktivitas belajar yang tinggi menjadi indikator penting keberhasilan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam penelitian ini. Tabel 4. Rekapitulasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus Rata-rata nilai Siswa Tuntas Persentase Siswa tidak tuntas Persentase Pra Siklus 64,38 34,61% 65,38% Siklus I 61,53% 38,46% Siklus II 84,34 84,34% 15,38% Data pada Tabel 4 menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa selama penerapan Problem Based Learning. Aktivitas seperti bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Pembahasan Peningkatan hasil belajar siswa dari tahap pra-siklus hingga siklus II menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada kualitas proses pembelajaran secara keseluruhan. Temuan ini memperkuat teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman belajar yang bermakna (Piaget, 1. Dalam konteks ini. Problem Based Learning menyediakan ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pemahaman kewarganegaraan melalui keterlibatan langsung dalam pemecahan masalah sosial yang relevan. Secara konseptual. Problem Based Learning menempatkan masalah autentik sebagai pemicu utama proses belajar, sehingga mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi, diskusi, dan refleksi secara berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa dihadapkan pada situasi problematik yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan pengambilan Keputusan (Hmelo-Silver et al. , 2. Oleh karena itu, peningkatan hasil belajar dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai hasil dari proses pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam membangun pengetahuan. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, temuan penelitian ini menunjukkan konsistensi sekaligus penguatan terhadap efektivitas Problem Based Learning di sekolah dasar. Penelitian (Sarifah, 2. melaporkan bahwa Problem Based Learning mampu meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa secara signifikan. Secara internasional, hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Walker & Leary, 2. serta yang menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Namun demikian, penelitian ini memperluas temuan-temuan sebelumnya dengan menempatkan Problem Based Learning secara spesifik dalam konteks Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan. Berbeda dengan penelitian yang berfokus pada mata pelajaran sains atau matematika, penelitian ini menunjukkan bahwa PBL juga efektif diterapkan pada materi kewarganegaraan yang sarat dengan nilai, norma, dan konteks sosial (Fauziyah et al. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1980 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Hal ini menegaskan bahwa PBL tidak hanya relevan untuk pembelajaran berbasis konsep ilmiah, tetapi juga untuk pembelajaran nilai dan karakter. Efektivitas Problem Based Learning dalam konteks Pendidikan Pancasila dapat dijelaskan melalui karakteristik materi yang berkaitan langsung dengan kehidupan sosial siswa. Materi Perangkat Desa dan Kelurahan menuntut pemahaman terhadap peran, fungsi, dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat, sehingga sangat sesuai diajarkan melalui diskusi masalah nyata dan simulasi sosial (Sutoyo, 2. Melalui Problem Based Learning, siswa tidak hanya memahami struktur pemerintahan desa dan kelurahan secara konseptual, tetapi juga belajar mengambil perspektif kewarganegaraan secara reflektif. Peningkatan hasil belajar yang lebih signifikan pada siklus II juga menunjukkan pentingnya refleksi dan perbaikan berkelanjutan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Temuan ini sejalan dengan pandangan (Kemmis et al. , 2. serta (Arikunto, 2. yang menegaskan bahwa keberhasilan tindakan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh proses refleksi sistematis terhadap kelemahan siklus sebelumnya. Dengan kata lain, efektivitas Problem Based Learning dalam penelitian ini tidak bersifat instan, melainkan berkembang melalui proses adaptasi pedagogis yang Selain itu, peningkatan aktivitas belajar siswa yang menyertai peningkatan hasil belajar memperkuat hubungan antara keterlibatan aktif dan pencapaian akademik. Penelitian (Fredricks et al. , 2. dan (Schunk et , 2. menunjukkan bahwa keterlibatan kognitif dan sosial siswa berkontribusi signifikan terhadap pemahaman konsep dan retensi belajar. Temuan ini mengonfirmasi bahwa Problem Based Learning efektif karena mampu mengintegrasikan keterlibatan kognitif, sosial, dan emosional siswa dalam satu kesatuan proses Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa peningkatan hasil belajar Pendidikan Pancasila dalam penelitian ini bukan sekadar akibat pengulangan materi, melainkan merupakan hasil dari penerapan model Problem Based Learning yang selaras dengan teori konstruktivisme dan karakteristik pembelajaran kewarganegaraan. Temuan penelitian ini tidak hanya mengonfirmasi teori dan hasil penelitian terdahulu, tetapi juga memberikan kontribusi empiris baru mengenai efektivitas Problem Based Learning dalam konteks Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila pada siswa kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda, khususnya pada materi Perangkat Desa dan Kelurahan. Peningkatan hasil belajar terlihat secara konsisten dari tahap pra-siklus hingga siklus II, baik dari segi nilai rata-rata maupun persentase ketuntasan belajar siswa, yang pada akhirnya telah melampaui indikator keberhasilan penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu membantu siswa memahami konsep kewarganegaraan secara lebih mendalam dan kontekstual. Secara teoretis, temuan penelitian ini memperkuat pandangan konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif melalui pengalaman belajar dan interaksi sosial. Problem Based Learning memberikan ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pemahamannya sendiri melalui proses pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan nyata. Dalam konteks Pendidikan Pancasila, pendekatan ini terbukti efektif karena materi pembelajaran berkaitan langsung dengan lingkungan sosial dan kehidupan bermasyarakat siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi guru sekolah dasar untuk menerapkan model Problem Based Learning sebagai alternatif pembelajaran yang berpusat pada siswa dalam Pendidikan Pancasila. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses pemecahan masalah, mendorong diskusi, serta membangun keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian hasil belajar kognitif, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan sikap kewarganegaraan. Jurnal Basicedu Vol 9 No 6 Tahun 2025 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 1981 Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila melalui Model Problem Based Learning di Sekolah Dasar Ae Muhammad Ricky Rohan. Iksam DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup subjek dan materi yang diteliti, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk menguji efektivitas model Problem Based Learning pada materi Pendidikan Pancasila lainnya, jenjang kelas yang berbeda, maupun dalam konteks sekolah yang lebih beragam, sehingga dapat memperkaya kajian dan praktik pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan seluruh dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman atas bimbingan dan dukungan akademik selama pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada kepala sekolah dan guru kelas IV SD Fastabiqul Khairat Samarinda yang telah memberikan izin serta membantu pelaksanaan penelitian, serta kepada seluruh siswa kelas IV yang telah berpartisipasi dalam kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA