17 | P a g e Jurnal Ilmiah Stikes YARSI Mataram (JISYM) Vol 10 No 2. Month Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 Website:http://Journal. GAMBARANPENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI PONDOK PESANTREN ASSULAMI LOMBOK BARAT Marthilda Suprayitna. Baiq Ruli Fatmawati. Melati Inayati AB. 1, 2, 3 STIKES YARSI MATARAM mathildasuprayitna@gmail. ABSTRACT Background:HIV stands for Human Immuno deficiency Virus, which is a virus that can weaken immunity on humans. Meanwhile. AIDS stands for Acquired Immune Deficiency Syndrome, which is a collection of symptoms and infections or commonly called syndromes caused by damage to the human immune system due to the HIV virus. HIV / AIDS is a sexually transmitted disease that can causes of death. Adolescents are risk group for HIV / AIDS transmission. Proper knowledge on disease will help them to take prevention efforts. Adolescents promiscuity is a indicator that can transmit the disease. The aim of this research was to identify an overview of adolescent knowledge on HIV / AIDS. The research method used in this research was descriptive research. The populations of this research were 134 students, samples of the research were 57 people. The sampling technique used in this research was random sampling. Instrument of data collection used in this research was questionnaire. This research conducted at Assulamy Langko Islamic Boarding School. West Lombok. The results of this research obtained that more than 30 respondents were female . %) and 27 respondents . %) were male. The knowledge of students on HIV / AIDS was 44 respondents . %) with sufficient criteria, and 13 respondents . %) were lacking. It can be concluded that the knowledge of adolescents on HIV / AIDS in Assulamy Langko Islamic Boarding School is sufficient. Adolescents have good enough knowledge, but it needs to be considered and improved through providing health education related to HIV / AIDS. Keyword: HIV / AIDS. Knowledge. Adolescents ABSTRAK HIV merupakan singkatan dari Human Immuno deficiency Virus adalah virus yang dapat melemahkan kekebalan tubuh pada manusia. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan dari gejala dan infeksi atau biasa disebut sindrom yang diakibatkan oleh kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia karena virus HIV. HIV/AIDS adalah penyakit menular seksual yang mengakibatkan kematian. Remaja merupakan kelompok beresiko untuk penularan HIV/AIDS. Pengetahuan yang baik tentang penyakit akan membantu remaja untuk melakukan upaya pencegahan. Pergaulan bebas remaja merupakan salah satu indikator yang dapat menularkan penyakit tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa siswa Pondok Assulamy Coresponding author: Marthilda Suprayitna Email coresponding author: mathildasuprayitna@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 18 | P a g e Langko sebanyak 134 dengan sampel 57 orang dengan tehnik pengambilan sampel adalah Random Sampling. Data di ambil dengan menggunakan kuisioner yang dilakukan di Ponpes Assulamy Langko Lombok Barat. Hasil penelitian ini diperoleh data bahwa lebih banyak siswa 30 responden berjenis kelamin perempuan ( 53 %) dan 27 responden . %) berjenis kelamin laki-laki. Pengetahuan siswa MA tentang HIV/AIDS sebanyak 44 responden . %) dengan kriteria cukup, dan 13 responden . %) Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Ponpes Assulamy Langko tersebut cukup. Remaja memiliki pengetahuan yang cukup baik , tetapi perlu diperhatikan dan ditingkatkan melalui pemberian edukasi kesehatan berkaitan HIV/AIDS. Kata kunci: HIV/AIDS. Pengetahuan. Remaja INTRODUCTION HIV/AIDS(HumanImmunodeficiencyVir us/AcquiredImmuneDeficiencySyndrom. merupakan masalah kesehatan di seluruh WHO (World Health Organizatio. menyatakan bahwa HIV/AIDS saat ini menjadi ancaman global dan mengakibatkan dampak merugikan di semua sektor. Infeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) mengakibatkan kerusakan sistem kekebalan dan pertahanan tubuh penjamu. Selama bertahunAetahun, pengetahuan dan pengobatan efektif. HIV dianggap sebuah penyakit fatal yang berkembang secara cepat. Saat ini infeksi HIV di pandang lebih optimis sebagai penyakit kronis yang dapat dikontrol dengan pelayanan kesehatan yang tepat (Black & Hawks, 2. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia, yang disebabkan oleh HIV. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV, dimana perjalanan HIV akan berlanjut menjadi AIDS membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 13 tahun (Smeltzer & Bare. Kasus HIV/AIDS banyak terjadi pada usia produktif, sehingga sangat berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang, bahkan HIV/AIDS dapat berdampak kematian. Dalam banyak kesempatan diskusi dan seminar mengenai HIV/AIDS sering para pakar menyebutkan fenomena gunung es di tengah pandemi, artinya dari seluruh data yang dapat di ungkap sesungguhnya tersembunyi masalah yang jauh lebih besar. Misalnya terungkap 100 data penderita HIV maka mungkin saja angka realnya bisa mencapai 100 atau 1000 kali lipat(Dinkes NTB, 2. Secara global, pada tahun 2006 lebih dari 65 juta orang dengan HIV/AIDS. Pada tahun 2005, terdapat 4,9 juta orang baru terinfeksi, dan lebih dari 3,1 juta kematian terkait AIDS. Orang AfrikaAeAmerika penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS, dan AIDS adalah penyebab utama kematian bagi wanita kulit hitam usia 25 Ae 44 tahun pada Menurut UNAIDS WHO . , kasus endemik HIV/AIDS di seluruh dunia adalah jumlah orang hidup dengan positif HIV sejumlah 36,7 juta dan untuk jumlah kasus infeksi baru HIV sejumlah 2,1 juta. Dimana distribusi populasi terkait usia dan jenis kelamin adalah kasus infeksi baru HIV Laki Ae Laki usia > 25 tahun 39 % dan Perempuan usia > 25 tahun sebanyak 27%, sedangkan untuk positif HIV Laki-Laki usia > 52 tahun 39% dan Perempuan usia > 25 tahun sebanyak 39%, dan dari data yang tersedia bahwa 90% orang dengan infeksi HIV baru didapatkan dari hubungan seksual. Di Indonesia total jumlah orang dengan HIV per 31 Maret 2016 sejumlah 191. 073 dan AIDS sejumlah 77. 940 (Kemenkes RI, 2. Sedangkan untuk kasus HIV/AIDS di Nusa Coresponding author: Marthilda Suprayitna Email coresponding author: mathildasuprayitna@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 19 | P a g e Tenggara Barat setiap tahunnya terus Jumlah kasus HIV/AIDS sampai tahun 2016 sejumlah 1. 265 orang, dan di Kota Mataram sampai tahun 2016 sejumlah 464 orang dan merupakan jumlah tertinggi dari kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat (KPA NTB, 2. Banyaknya jumlah penderita HIV/AIDS di Nusa Tenggara Barat terjadi secara fluktuasi, pada tahun 2012 sebanyak 173 kasus dan terjadi penurunan pada tahun 2016 sebanyak 130 kasus. Penularan kasus HIV/AIDS kumulatif dilaporkan melalui Heteroseksual . %). Injecting Drug User (IDU) . %). Homoseksual . %). Perinatal . %) dan tidak diketahui . %) (Dinkes NTB, 2. Perilaku HIV khususnya oleh ODHA ke orang lain sangatlah penting untuk dilakukan melalui perubahan perilaku beresiko, guna memutuskan mata rantai penularan HIV dan mengurangi dampak sosial ekonomi dari HIV/ AIDS, sehingga tidak terjadi masalah kesehatan masyarakat(Notoadmodjo,2. Selain disebabkan pleh perilaku seksual. HIV/AIDS bisa disebabkan oleh penggunaan jarum Kemungkinan terjadinya peningkatan kejadian HIV/AIDS, khususnya pada remaja tantangan karena semakin banyaknya pengguna narkoba usia remaja. Di Indonesia jumlah pengguna narkoba sekitar 35% adalah siswa SMA dan 30% siswa SMP. Kondisi ini juga berhubungan dengan jumlah penderita HIV/AIDS sekitar 80% adalah remaja usia 18 Ae 28 tahun(Andriani, 2. Fenomena remaja yang terungkap belakangan ini dengan kenyataan ada remaja yang hamil diluar nikah, aborsi, prostitusi dan penyebaran video porno dan pengguanaan obat-obatan terlarang. Sementara sarana tentang informasi kesehatan pada umumnya dan penyakit menular seksual khususnya HIV/AIDS dibeberapa sekolah menegah atas masih kurang, baik itu bacaan mendidik maupun penyuluhan dari pihak-pihak terkait. (Yani et al. , 2. Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap IMS dengan jumlah terbesar mengidap HIV/AIDS. Masa remaja sangat erat kaitannya dengan perkembangan psikis pada periode pubertas dan diiringi dengan perkembangan seksual, remaja juga mengalami perubahan yang mencakup perubuhan fisik dan emosional yang kemudian tercermin dalam sikap dan Kondisi ini menyebabkan remaja menjadi rentan terhadap masalah perilaku berisiko dan penularan HIV/AIDS. Kondisi tersebut diatas mungkin dipengaruhi oleh pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihata, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga ( (Notoatmodj, 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan kepada 10 siswa dengan instrumen tanya jawab, terdapat 4 siswa yang belum mengerti tentang apa itu HIV/AIDS. Sedangkan 6 siswa sudah mengenal tentang HIV/AIDS tetapi belum mengetahui secara keseluruhan apa itu HIV/AIDS. Berdasarkan uraian di atas penulis merasa Au Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS di Pondok Pesanteren Assulami. RESEARCH METHOD Penelitian deskriptif cross sectional ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2019. Tempat penelitian di Pondok Assulamy Lombok Barat. Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa kelas X. XI. XI. XII. II. B Assulamy yang berjumlah 134 Coresponding author: Marthilda Suprayitna Email coresponding author: mathildasuprayitna@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 20 | P a g e Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 57 siswa. pengetahuan baik. Karakteristik Responden Sikap (%) Positif Negatif Total Sumber : Data primer diolah tahun 2019 Berdasarkan hasil penelitian yang telah responden sebagai berikut: Distribusi frekuensi umur siswa MA Assulamy tahun 2019 Tabel Distribusi berdasarkan umur di Ponpes Assulami Mean Umur 16,91 0,987 Sumber : Data primer, 2019 MinMax 15 - 20 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa ratarata responden berumur 16,91 tahun dengan standar deviasi 0,987. Umur siswa termuda adalah 15 tahun dan umur tertua adalah 20 Tabel Distribusi pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Ponpes Assulami tahun 2019 Pengetahuan (%) Baik Cukup Kurang Total Sumber : Data primer diolah tahun 2019 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dari 57, responden yang berpengetahuan cukup berjumlah 37 responden . %) dan responden yang berpengetahuan kurang sejumlah 20 responden . %) serta tidak ada Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa dari 57, responden yang bersikap positif sebanyak 22 responden . %), dan responden yang bersikap negatif sejumlah 35 responden . %). Data dari 57 orang responden memiliki rentang usia 15 Ae 20 tahun dengan nilai rerata 16,91 tahun. Menurut (Hockenberry, 2. remaja dibagi menjadi 3 fase yakni remaja awal ( usia 11 Ae 14 tahun ), remaja tengah ( usia 15 Ae 17 tahun ) dan remaja akhir ( usia 18 Ae 20 tahun. Berdasarkan pembagian tersebut, usia responden berada pada tahap remaja tengah. Remaja usia ini berada pada masa pendidikan SMA. Masa pendidikan responden yang telah SMA responden telah memperoleh banyak (Ridillah, 2. menyebutkan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi Semakin tinggi pengetahuan semakin tinggi tingkat pengetahuan yang Umur responden yang telah mencapai remaja menunjukkan bahwa responden telah mengalami beragam pengalaman dalam Ridillah . mengatakan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseoarang. Semakin meningkat umur seseorang maka semakin matang fungsi inderanya dan semakin banyak pula pengalaman yang didapatkan. Pengalaman yang telah diperoleh dari pengalaman sendiri Coresponding author: Marthilda Suprayitna Email coresponding author: mathildasuprayitna@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 Tabel 3 : Distribusi gambaran sikap remaja tentang HIV/AIDS di Ponpes Assulami tahun 2019 RESULTS AND DISCUSSION Variabel 21 | P a g e maupun oranglain yang ada di lingkungan sekitarnya dapat memperluas pengetahuan Responden yang berada pada tahap remaja tengah . Ae17 tahu. mengalami membayangkan rangkaian kejadian yang akan terjadi misalnya konsekuensi dari tindakan yang dilakukan (Hockenberry, 2. Selain itu remaja pada tahap ini juga telah mampu membayangkan opini orang lain terhadap dirinya. Remaja mulai menyadari bahwa masyarakat memiliki norma dan standar yang berbeda. Hal ini menunjukan bahawa pada tahap ini remaja telah mampu mengambil sikap sesuai norma dan standar masyarakat di lingkungannya jika dihadapkan pada suatu hal misalnya terkait perilaku seksual pranikah yang terjadi di kalangannya. Pengetahuan tentang HIV/AIDS Pengetahuan yang diukur dalam penelitian ini adalah mencapai domain tahu yakni domain terendah yang menggambarkan bahwa pada tingkatan ini pengetahuan terkait HIV/AIDS telah dipelajari sebelumnya. Responden diukur pengetahuannya mengenai HIV/AIDS secara umum, tranmisi dan cara pencegahannya terhadap penyakit tersebut. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden tentang HIV/AIDS diantaranya pengetahuan cukup sebanyak 44 orang ( 77 % ) dan pengetahuan kurang sebanyak 13 orang ( 23 % ). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang HIV/AIDS masih kurang. Proporsi pengetahuan cukup terlihat cukup tinggi. Dan tidak adanya responden yang memiliki pengetahuan dengan tingkat pengetahuan Hal ini terlihat dari cara mereka dalam pengertian, penyebab, tanda dan gejala, cara penularan, serta pencegahan yang dirasa masih kurang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Meilana, bahwa faktor Ae faktor pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS pada kelas XI di SMA Surakarta adalah usia. dan lingkungan. Dari faktor Ae pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS pendorong dan faktor penghambat. Yang termasuk faktor pendorong adalah usia dan pendidikan, sedangkan yang termasuk dalam faktor penghambat adalah lingkungan. Sikap Sikap seseorang terhadap suatu objek responden HIV/AIDS dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu diantaranya pengalaman pribadi, media massa, pengaruh orang lain, lembaga pendidikan dan lembaga amal serta faktor amal. Pengaruh dari media massa dan pengaruh orang lain yang dia anggap dekat berperan dalam membentuk sikap seseorang ,karena dari dua faktor itu informasi HIV/AIDS pencegahannya akan membentuk dan mempengaruhi sikap seseorang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Haringi, yang menunjukkan bahwa dari 347 responden, terdapat 9 responden dengan 2,6 % presentasi yang memiliki sikap negatif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS. Sedangkan responden yang memiliki sikap positif terhadap upaya pencegahan HIV/AIDS yaitu sebanyak 336 responden dengan presentasi 97, 4%. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan responden memiliki tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di Pondok Assulamy Langko Lobar didapatkan sebagian besar siswa berjenis kelamin laki Ae laki dan memiliki pengetahuan cukup . %). Dan menunjukkan responden memiliki sikap tentang HIV/AIDS negatif . %). Coresponding author: Marthilda Suprayitna Email coresponding author: mathildasuprayitna@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 22 | P a g e Diharapkan kepada lembaga pendidikan dan petugas kesehatan agar terus berupaya melaksanakan pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS meningkatkan pengetahuan remaja dan mencegah berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya resiko HIV/AIDS. REFERENCES