Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 ISSN 2528-4967 . dan ISSN 2548-219X . Pemberdayaan Ekonomi Petani Jeruk melalui Produksi Eco-Enzyme Berbasis Limbah Organik di Desa Mandastana Economic Empowerment of Citrus Farmers through Organic Waste-Based EcoEnzyme Production in Mandastana Village Aris Purwanto1*. Awaluddin Padjrin1. Hasbi As-shiddiq1. Herman Ariadi1. Nor Latifah1. Najwi Hasani1 1Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin arispurwanto@umbjm. id, awaluddinpadjrin@umbjm. id, hasbi_asshiddiq@umbjm. hermanariadi@umbjm. id, nor_latifah@umbjm. id, najwihasani@umbjm. *Corresponding author: arispurwanto@umbjm. ABSTRAK Eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik, terutama kulit jeruk, gula, dan air, yang diproses selama kurang lebih tiga bulan. Fermentasi ini menghasilkan cairan berwarna cokelat dengan aroma khas yang mengandung enzim serta senyawa bioaktif bermanfaat. Produk eco-enzyme memiliki beragam fungsi, antara lain sebagai pembersih alami, pupuk organik cair, desinfektan, pengusir serangga, dan pengharum ruangan. Pemanfaatan limbah kulit jeruk menjadi eco-enzyme memiliki nilai strategis karena mampu mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga, menekan pencemaran lingkungan, serta menghasilkan produk ramah lingkungan dengan nilai ekonomis. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, pelatihan pembuatan eco-enzyme tidak hanya meningkatkan kesadaran dan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang usaha kecil berbasis lingkungan. Dengan demikian, eco-enzyme berbasis kulit jeruk dapat menjadi solusi sederhana, murah, dan berkelanjutan dalam mendukung pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun komunitas. Kata Kunci: eco enzyme, kulit buah jeruk, ramah lingkungan ABSTRACT Eco-enzyme is a liquid produced by fermenting organic waste, primarily orange peel, sugar, and water, processed for approximately three months. This fermentation produces a brown liquid with a distinctive aroma that contains enzymes and beneficial bioactive compounds. Eco-enzyme products have various functions, including as a natural cleaner, liquid organic fertilizer, disinfectant, insect repellent, and air freshener. Utilizing orange peel waste to produce eco-enzyme has strategic value because it can reduce household organic waste generation, reduce environmental pollution, and produce environmentally friendly products with economic value. Through community service programs, eco-enzyme production training not only increases community awareness and skills but also opens up opportunities for environmentally-based small businesses. Thus, orange peel-based eco-enzyme can be a simple, affordable, and sustainable solution to support organic waste management at the household and community level. Keywords: ecoenzyme, orange peel, environmentally friendly PENDAHULUAN sistematik untuk memiliki nilai jual. Hasil Masyarakat Desa Karang Indah sampai saat limbah yang belum memiliki nailai ini tidak ini masin menghadapi permasalahn dalam hanya menimbulkan gangguan pencemaran pengolahan limbah organik dari hasil pertanian jeruk, limbah tersebut berupa ranting, kulit dan buah jeruk yang rusak karena rasa yang disebabkan perubahan iklim yang dihasilkan ekonimi dan nilai jual. Kondisi ini dalam jumlah besar dan belum di kelola secara diperparah karena keterbatasan masyarakat Copyright A 2026. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. http://journal. um-surabaya. id/index. php/Axiologiya/index DOI: http://dx. org/10. 30651/aks. Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 terhadap pengetahuan pengolahan limbah organik belum bisa memberikan dampak ekonomi agar memiliki nilai tambah serta belum adanya yang signifikan untuk masyarakat sekitar. unit usaha yang mendukung untuk pengolahan Kondisi ini sangat menunjukkan bahwa limbah organik hasil pertanian. (Zhang et al. upaya mandiri yang dilakukan mitra memerlukan penguatan melalui bimbingan Kabupaten Barito Kuala memiliki luas pertanian sekitar 7. 000 hektar, jenis peningkatan sumber daya manusia, serta jeruk yang banyak di budidaya adalah siam integrasi dengan aspek kewirausahaan serta varietas Banjar, yang merupakan jenis jeruk yang (Agustina et al. , 2. di unggulkan di wilayan Desa Karangindah dan Berdasarkan hasil observasi yang Dalam satu hektar lahan terdapat 9-19 dilakukan dari wawancara perwakilan bedakan jeruk yang berjarak antar tanaman kelompok tani, diperkirakan sekitar 70-80% dari limbah jeruk hasil musim panen masih diperkirakan populasi tanaman jeruk setiap hektar belum dimanfaatkan dan umunnya hanya di mencapai 250-380 pohon. Produkstivitas jeruk bakar dan di buang di lahan persawahan. tergantung terhadap tingkat perawatan dan umur Upaya tanama, apabila pohon jeruk sudah berumur 15 kurang dari 25% dari kelompok tani dengan tahun dan dikelola dengan baik maka pohon jeruk frekuensi yang tidak rutin, sehingga belum memiliki produktivitas berkisar antara 170-230 memiliki dampak ekonomi yang signifikan kg per tanaman per tahun, dengan demikian hasil jeruk per hektar dapat mencapai 45-63 ton per ketrampilan dan kurangnya pendampingan (Ramadani et al. , 2. dari pemerintah desa setempat. (Djaelani et Dengan Masyarakat secara tidak langsung sudah melakukan beberapa upaya mandiri , 2. Mitra menangani limbah organik hasil pertanian, seperti pengabdian ini memiliki potensi yang dapat petani sudah memanfaatkan hasil pertanian mendukung keberhasilan kegiatan, seperti digunakan sebagai kompos sederhana atau di antaranya pengalaman dasar dalam pembuangan hasil limbah di lahan pertanian. budidaya pertanian, ketersediaan limbah Nmun upaya tersebut dirasa masih terbatas karena jeruk yang melimpah untuk diolah menjadi belum dilakukan secara berkelanjutan tanpa produk bernilai tambah seperti eco-enzyme, adanya pendampingan. Selain itu limbah yang serta letak geografis desa yang strategis dihasilkan belum memiliki hasil yang standar untuk distribusi produk ke pasar lokal dan secara mutu, kwalitas dan nilai jual, sehingga (Pereira, 2. Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 Limbah organik sebenarnya dapat diolah Kab Barito Kuala, dilaukan pada bulan melalui teknologi tepat guna, salah satunya adalah September Tahun 2025 bertempat di Aula eco-enzyme, yaitu hasil fermentasi limbah serba guna kantor desa karangindah Kec organik dengan air dan gula selama 3Ae6 bulan Mandastana. yang menghasilkan cairan bioaktif bermanfaat Pelaksanaan program pengabdian ini dibagi sebagai pupuk cair, pestisida alami, pembersih, menjadi lima tahapan utama yaitu: maupun produk ramah lingkungan lainnya . Tahap pertama adalah sosialisasi, yang Teknologi ini terbukti ramah lingkungan, murah, bertujuan membangun pemahaman dan dan mudah diterapkan, sehingga berpotensi komitmen awal mitra melalui pertemuan dikembangkan di desa apabila disertai pelatihan dengan aparat desa dan kelompok tani, dan pendampingan intensif. Berdasarkan kondisi penyuluhan dengan media visual, serta tersebut, diperlukan intervensi melalui program komunikasi melalui grup WhatsApp. pengabdian berbasis kolaborasi antara perguruan (Marlianingrum et al. , 2. Tahap kedua adalah pelatihan, meliputi praktik pembuatan eco-enzyme, pengenalan Program pengabdian ini bertujuan utama Peserta dibagi dalam enam untuk meningkatkan kemampuan masyarakat kelompok tani dengan total 43 orang. Desa Karang Indah untuk pengolahan limbah masing-masing kulit jeruk, gula merah, dan air dalam eco-enzyme ekonomis dan ramah lingkungan dan kelompok wadah fermentasi berkapasitas 20 liter. tani memiliki kemampuan dalam pembuatan Tahap ketiga adalah penerapan teknologi, prodak eco-enzyme secara benar sampai tahap yaitu penggunaan wadah fermentasi, pH pemanenan serta bisa membedakan ciri dan tanda meter, dan timbangan digital untuk menjaga hasil pembuatan eco-enzyme yang berhasil. METODE PENELITIAN pencatatan hasil fermentasi. Untuk mengatasi permasalahan pengolahan Tahap keempat berupa pendampingan dan limbah jeruk yang masih belum optimal serta evaluasi dilakukan dengan monitoring masih terbatasanya pengetahuan masyarakat, proses fermentasi, pencatatan pH, serta pengandian ini adalah melalui peningkatan pengetahuan peserta. rangkaian kegiatan pelatihan langsung pembuatan Tahap terakhir mitra bisa membedakan ciri eco-enzyme. Pelaksanaan pengabdian ini di dan tanda hasil pembuatan eco-enzyme lakukan di Desa Karangindah. Kec Mandastana, yang berhasil, mitra juga bisa membuat Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 secara mandiri di rumah dan bisa berbagi (Ito et al. , 2. Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini antar lain adalah: sampah organik kulit jeruk, gula merah, air bersih dan wadah untuk fermentasi. Formula perbandingan . :3:. missal 100 g gula merah: 300 g kulit jeruk dan 100 ml air bersih. (Zhang et al. , 2. Gambar 2. Cara pembuatan dan manfaatnya eco-enzyme HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini memberikan gambaran terkait profil responden yang di sertai dengan hasil prites dan postes. Adapun profil responden mitra sebagai berikut: Usia Responden dalam kegiatan PKM ini terdiri dari beberapa kelompok usia, hasil analisis deskripsif memperlihatkan bahwa responden paling banyak dari kelompok usia 40 < usia O 50 sebanyak 57%. Gambar 1. Alur pelaksanaan kegiatan Tabel 1. Kelompok usia responden Kelompok Usia Jumlah 20 < usia O 30 30 < usia O 40 40 < usia O 50 Usia > 50 Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 Berdasarkan dari Tabel 1 responden Mayoritas responden berpendidikan didominasi pada rentang usia 40-50 tahun yang SMA . %) yang menunjunkkan kesiapan menunjukkan kegiatan ini lebih banyak diikuti mitra dalam menerima materi dan pelatihan oleh masyarakat dengan tingkat kematangan dan teknologi tepat gunda berupa bimtek eco- pengalaman mitra yang sudah tinggi dalam aktivitas kelompok tani. Pada usia ini petani memiliki peran penting dalam pengambilan menegaskan masih pentingnya metode keputusan, sehingga berpotensi mempercepat untuk pendampingan yang sederhana dan aplikatif dengan pendekatan yang harus di Rendahnya partisipasi dari kelompok usia muda ulang-ulang agar seluruh mitra dapat 20-30 tahun memperlihatkan masih terbatasnya keterlibatan generasa produksi, hal ini menjadi memperoleh manfaat program yang sama. catatan penting untuk pengembangan program (Damayanti & Sofyan, 2. (Khanif & lanjutan agar terjaga regenerasi pelaku kegiatan. Mahmudiono, 2. Tingkat Pendidikan Adanya . %) Hasil pritest dan postest Tingkat pendidikan dari responden yang peserta dalam PKM ini Untuk pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan memiliki Pendidikan lulusan SMA atau sederajat melalui pretest dan posttest terhadap 43 seperti pada gambar berikut ini. Pretest mengetahui tingkat ilmu pengetahuan awal dilaksanakan setelah kegiatan berakhir menilai peningkatan pemahaman Berdasarkan statistik terhadap nilai pretest dan posttest pada Gambar 4 dan 5 menggunakan Gambar 3. Distribusi tingkat pendidikan diperoleh nilai: t-hitung = -9,78 dan p-value = 2,8 y 10a. Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 Karena nilai p < 0,05, maka terdapat perbedaan langsung, diskusi aktif serta pendampingan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. proses pembuatan eco-enzyme, sehingga mitra tidak hanya menerima materi secara teoritis tetapi kegiatan pelatihan Dengan Gambar 4. Grafik skor prites dan postes metode eco-enzyme Wilcoxon peserta mitra masyarakat. (Desmawati et , 2. Gambar 5. Perbandingan rata-rata nilai pretest dan postest metode Wilcoxon Berdasarkan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah Gambar 6. Rangkaian Kegiatan kegiatan pelatihan, terjadi peningkatan nilai yang Pengabdian cukup signifikan. Rata-rata nilai pretest peserta sebesar 6,8 A 2,0, sedangkan rata-rata posttest meningkat menjadi 9,6 A 1,2. Hasil uji statistik menggunakan metode Wilcoxon Masyarakat Hasil pembuatan eco-enzyme Luaran Prodak Luaran ini menghasilkan tujuh wadah Signed-Rank Test menunjukkan nilai p-value < fermentasi yang ditutup baik dengan 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang kapasitas 20 liter atau setara dengan A140 signifikan secara statistik antara nilai pretest dan liter eco-enzyme. Produk harus melewati tahap fermentasi dan memerlukan proses Hal pendekatan berbasis bimbingan teknis praktik Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 pematangan selama empat bulan. (Suprayogi et (Jacob , 2. (Desmawati et al. , 2. Mitra bisa memahami tanda dan ciri-ciri prodak yang berhasil diantaranya: diperoleh aroma asam manis dan segar akan bau jeruk, memiliki warna coklat tua, memiliki pH asam di 0, muncul jamur yang berwarna putih di permukaan cairan yang sering disebut dengan jamur pitera, tidak berbau busuk, ditandai terbentuknya endapan di bawah wadah dan di tandai dengan keluar gas yang di tampung dengan alat bantu selang pada botol kecil, gas ini biasanya muncul di awal minggu pertama. (Jacob Peningkatan kapasitas mitra bisa di lihat dari peningkatan pengetahuan hasil pretest dan meningkatnya kemampuan peserta dalam mempraktikkan pembuatan ecokulit jeruk secara mandiri, hal ini diperlihatkan dari keberhasilan peserta dalam mengikuti seluruh tahapan produksi eco-enzyme mulai dari penyiapan bahan limbah kulit jeruk, organik: air: gula cai. , peserta juga mampu tahapan dalam pencampuran bahan secara Peserta juga tahu proses lamanya fermentasi hingga proses pemanenan. (Paredes et , 2. Capian ini didukung dari karakteristik pendidikan responden yang sebagian besar berada pada tingkat menengah (SMA sebesar 49%), meningkatnya kesadaran untuk menglola pendampingan langsung dapat diterima baik Peserta mulai mengurangi pembakaran limbah jeruk dan beralih pada pengolahan limbah menjadi prodak eco-enzyme di lingkungan kelompok tani dan keluarga Perubahan ini menunjukkan pergeseran penggunaan perbandingan antara . imbah Perubahan perilaku dari mitra terlihat terutama mitra yang Luaran Peningkatan Kapasitas Luaran Perubahan Perilaku limbah organik secara ramah lingkungan et al. , 2016. Manuputty et al. , 2. postest selain itu Gambar 7. Proses panen eco-enzyme memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan sebagai dampak dari kegiatan pengabdian (Marvos & Hale, 2. Program pengabdian ini didukung oleh ketersediaan sumber daya lokal yang memadai, terutama limbah jeruk yang dihasilkan secara rutin dari aktivitas pertanian masyarakat sehingga bahan baku mudah untuk diperoleh untuk pembuatan eco-enzyme. (Sulaeman , 2. Purwanto, dkk/Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 656-666 Komitmen mitra terlihat dari keterlibatan aktif pada 7 wadah berkapasitas 20 liter (A140 peserta selama pelatihan dan kesediaan untuk liter eco enzym. , sehingga kegiatan ini melanjutkan proses fermentasi secara mandiri telah memberikan. yang didukung juga dari inisiatif kelompok tani UCAPAN TERIMAKASIH