JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda Rd. Dancu Lokita Pramesti Dewi*. Heni Pridia. Saktisyahputra Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI. Jakarta. Indonesia *lokita. plokita@gmail. Abstract This study examines the phenomenon of doodle art as a form of creative expression among urban youth that integrates elements of local culture with contemporary visual styles. In Bekasi. West Java, doodle art has evolved beyond a spontaneous artistic activity and functions as a medium of cultural communication and identity representation for the younger generation. The study aims to analyze how doodle art acts as a medium for transforming local cultural values and as a form of identity expression among urban youth in sustaining cultural arts through the community of young painters in Bekasi. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through participant observation,in-depth interviews with community members, and documentation ofvisual artworks produced by doodle art practitioners. Data analysis was conducted using thematic analysis based on the Miles. Huberman,and Saldaya model,which includes data reduction,datadisplay,and conclusion drawing. ArnheimAos Art Psychology theory was used to understand the relationship between visual perception,aesthetic experience,and cultural identity expression. The findings show that doodle art has become a creative medium that combines local cultural elements with contemporary urban visual styles while supporting cultural regeneration and sustainability in the digital era today. Keywords: Doodle Art. Local Cultural Transformation. Urban Youth Identity Expression. Cultural Arts Sustainability Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena doodle art sebagai bentuk ekspresi kreatif remaja urban yang memadukan unsur budaya lokal dengan gaya visual kontemporer. Di Bekasi, doodle art tidak hanya berkembang sebagai aktivitas seni spontan, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi budaya dan representasi identitas generasi muda. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis peran doodle art sebagai media transformasi budaya lokal serta sebagai sarana ekspresi identitas remaja urban dalam mendukung keberlanjutan seni budaya melalui komunitas pelukis muda di Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif,wawancaramendalam dengan anggota komunitas, serta dokumentasi karya visual yang dihasilkan oleh para pelaku doodle art. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik berdasarkan model Miles. Huberman, dan Saldaya yang meliputi reduksi data,penyajian data,danpenarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Psikologi Seni dari Arnheim untuk memahami hubungan antara persepsi visual,pengalaman estetis,danekspresi identitas budaya remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doodle art berperan sebagai medium kreatif yang mampu mentransformasikan unsur budaya lokal ke dalam bentuk visual urban kontemporer. Aktivitas komunitas seperti pameran,lokakarya, dankolaborasi kreatif memperkuat fungsi doodle art sebagai ruang ekspresi identitas sekaligus sarana regenerasi dan pelestarian seni budaya lokal di Era Kata Kunci: Doodle Art. Transformasi Budaya Lokal. Ekspresi Identitas Remaja Urban. Keberlanjutan Seni Budaya PENDAHULUAN Dalam perkembangan seni kontemporer dewasa ini. Doodle Art hadir sebagai bentuk ekspresi visual yang khas, spontan, dan memiliki nilai simbolik yang kuat. Seni ini pada awalnya dipahami sebagai coretan bebas yang muncul secara tidak terencana, namun dalam praktiknya . Doodle Art berkembang menjadi medium visual yang merepresentasikan ide, emosi, serta pengalaman personal pembuatnya. Dalam konteks generasi muda di perkotaan, khususnya remaja urban, . Doodle Art tidak hanya dipandang sebagai aktivitas menggambar tanpa arah, tetapi juga sebagai bentuk komunikasi visual yang merefleksikan identitas sosial dan budaya mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa seni visual Submitted: December 2025. Accepted: March 2026. Published: March 2026 ISSN: 2614-8498 . DOI: https://doi. org/10. 32509/pustakom. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 kontemporer memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial serta perkembangan teknologi digital yang memengaruhi pola ekspresi generasi muda (McRobbie, 2020. Wilson & Brown. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa aktivitas menggambar bebas seperti Doodling memiliki fungsi psikologis dan kognitif yang signifikan. Aktivitas visual seperti menggambar dan membuat doodle dapat membantu individu mengekspresikan emosi, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat kemampuan berpikir visual. Penelitian dalam bidang psikologi seni menunjukkan bahwa aktivitas seni visual berperan penting dalam proses regulasi emosi dan pengembangan kesadaran diri, khususnya pada remaja yang sedang mengalami proses pembentukan identitas (Malchiodi, 2020. Kapitan. Dalam konteks budaya urban. Doodle Art sering kali menjadi medium yang memadukan unsur global dengan identitas lokal. Remaja urban tidak hanya mengadopsi gaya visual populer dari budaya global seperti Street Art, ilustrasi digital, dan grafiti, tetapi juga mengintegrasikan simbol-simbol budaya lokal ke dalam karya mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya proses transformasi budaya, di mana nilai-nilai tradisi tidak hilang, melainkan mengalami reinterpretasi melalui bentuk visual yang lebih Dalam kajian budaya kontemporer, proses tersebut dikenal sebagai cultural hybridization, yaitu perpaduan antara budaya lokal dan global yang menghasilkan bentuk ekspresi budaya baru (Kraidy. Jenkins, 2. Fenomena ini juga dapat ditemukan di kalangan remaja urban di Bekasi. Jawa Barat, khususnya dalam komunitas pelukis muda yang aktif mengembangkan berbagai bentuk seni visual kontemporer. Bagi anggota komunitas ini, doodle art bukan sekadar kegiatan menggambar spontan, melainkan menjadi sarana komunikasi visual yang menyalurkan gagasan, emosi, serta jati diri mereka. Melalui karya-karya yang dihasilkan, tampak bagaimana remaja berupaya menafsirkan kembali budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya populer digital. Beberapa karya bahkan memperlihatkan integrasi unsur-unsur budaya lokal seperti motif batik, ikon budaya Sunda, simbol- simbol tradisional, serta cerita rakyat yang diolah dalam gaya visual urban yang dinamis (Suryadi & Hidayat, 2. Praktik kreatif tersebut memperlihatkan adanya pergeseran fungsi seni dari sekadar hiburan menjadi alat refleksi sosial dan kultural. Seni tidak lagi hanya dipandang sebagai produk estetika, tetapi juga sebagai media yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan gaya hidup modern. Dalam perspektif studi budaya, fenomena ini menunjukkan bahwa budaya bersifat dinamis dan selalu mengalami proses negosiasi antara tradisi dan modernitas. Generasi muda sering kali menggunakan media kreatif untuk membangun identitas baru yang tetap terhubung dengan akar budaya mereka (Storey, 2021. Barker, 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah menyoroti doodle art dari berbagai perspektif. Studi mengenai kreativitas visual menunjukkan bahwa aktivitas doodling dapat meningkatkan imajinasi serta kemampuan berpikir divergen pada individu. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Thinking Skills and Creativity menunjukkan bahwa kegiatan menggambar bebas seperti doodle mampu meningkatkan kreativitas visual serta kemampuan pemecahan masalah pada individu yang terlibat dalam aktivitas tersebut (Chan & Zhao, 2020. McLellan, 2. Meskipun demikian, kajian yang menempatkan doodle art sebagai bentuk transformasi budaya lokal dan media ekspresi identitas remaja urban masih relatif terbatas, terutama dalam konteks komunitas seni di kawasan urban pinggiran seperti Bekasi. Penelitian terdahulu umumnya lebih menitikberatkan pada aspek estetika, psikologis, atau pedagogis dari doodle art, sehingga belum banyak yang menggali peran seni ini sebagai medium pelestarian nilai-nilai budaya lokal melalui praktik komunitas Padahal, komunitas seni memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan praktik budaya melalui kegiatan kolaboratif seperti pameran, lokakarya, mural bersama, dan kegiatan edukasi seni bagi masyarakat (Hesmondhalgh, 2021. Crossick & Kaszynska, 2. Berdasarkan kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini menawarkan beberapa kebaruan Pertama, penelitian ini memposisikan doodle art tidak hanya sebagai aktivitas seni visual atau media ekspresi personal, tetapi juga sebagai bentuk transformasi budaya lokal yang dilakukan oleh remaja urban melalui praktik kreatif dalam komunitas seni. Pendekatan ini memberikan perspektif baru dalam melihat hubungan antara seni visual kontemporer dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Kedua, penelitian ini mengkaji doodle art sebagai media ekspresi identitas remaja urban, di mana karya visual Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 dipahami sebagai representasi dari proses negosiasi identitas antara budaya lokal dan pengaruh budaya Hal ini memberikan kontribusi konseptual dalam kajian komunikasi visual dan budaya urban dengan menempatkan seni sebagai medium komunikasi identitas generasi muda. Ketiga, penelitian ini menggunakan pendekatan Psikologi Seni Arnheim yang dipadukan dengan perspektif studi budaya urban, sehingga mampu menjelaskan hubungan antara persepsi visual, pengalaman estetis, dan pembentukan identitas budaya dalam praktik doodle art. Integrasi pendekatan ini memberikan sudut pandang interdisipliner yang jarang digunakan dalam penelitian mengenai doodle art di Indonesia. Keempat, penelitian ini berfokus pada komunitas pelukis muda di Bekasi sebagai konteks sosial penelitian. Kajian mengenai praktik seni komunitas di wilayah urban pinggiran masih relatif terbatas dalam literatur akademik, sehingga penelitian ini memberikan kontribusi empiris dalam memahami peran komunitas kreatif dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya lokal di tengah perubahan sosial dan perkembangan budaya digital. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan empiris dalam kajian seni, komunikasi visual, dan budaya urban, khususnya dalam memahami bagaimana doodle art dapat berfungsi sebagai medium transformasi budaya lokal sekaligus ruang ekspresi identitas remaja urban dalam konteks masyarakat perkotaan Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami peran doodle art dalam membentuk identitas budaya remaja urban serta kontribusinya terhadap keberlanjutan seni dan budaya lokal di tengah modernisasi dan globalisasi. Tanpa pemahaman yang komprehensif, ekspresi budaya yang muncul melalui doodle art berpotensi hanya dipandang sebagai tren visual sementara, tanpa disadari bahwa di dalamnya terdapat proses kreatif yang merepresentasikan dinamika identitas budaya generasi muda. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis doodle art sebagai bentuk transformasi budaya lokal yang dimanfaatkan oleh remaja urban di Bekasi untuk mengekspresikan identitas diri serta berkontribusi terhadap keberlanjutan seni budaya melalui aktivitas komunitas pelukis Dengan mengintegrasikan pendekatan psikologi seni Arnheim dengan perspektif studi budaya urban, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara ekspresi visual, identitas budaya, dan keberlanjutan praktik seni dalam konteks masyarakat perkotaan. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan metode Studi kasus yang berfokus pada fenomena sosial dan kultural yang muncul dalam praktik doodle art di kalangan komunitas pelukis muda di Bekasi. Pendekatan ini dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami makna yang tersembunyi di balik proses kreatif, simbol visual, serta dinamika sosial yang terbangun di dalam komunitas seni remaja urban. Melalui pendekatan kualitatif, peneliti dapat mengamati bagaimana doodle art menjadi media transformasi budaya lokal dan sarana ekspresi identitas diri yang berkembang dalam konteks masyarakat perkotaan yang dinamis. Desain studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti menelusuri fenomena doodle art secara mendalam, baik dari sisi praktik seni maupun interaksi sosial yang melingkupinya. Studi ini dilakukan di Komunitas Pelukis Muda Bekasi, yaitu kelompok remaja yang aktif memproduksi karya doodle art dan menampilkan hasil karyanya di ruang publik maupun media sosial. Penelitian ini melibatkan sekitar 10 hingga 15 informan yang terdiri atas anggota komunitas, koordinator kegiatan, serta seniman lokal yang memiliki keterlibatan langsung dalam proses penciptaan dan penyebaran karya doodle Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan komunitas serta kemampuan memberikan informasi yang mendalam mengenai hubungan antara karya seni dan identitas budaya lokal. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi visual. Wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman, pandangan, dan interpretasi pribadi para remaja mengenai doodle art sebagai bentuk ekspresi diri sekaligus representasi nilai-nilai budaya lokal. Observasi dilakukan dengan mengikuti kegiatan komunitas seperti sesi menggambar bersama, pameran, dan aktivitas kolaboratif untuk memahami dinamika sosial, interaksi antaranggota, serta nilai-nilai yang diinternalisasi dalam Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 proses kreatif mereka. Selain itu, dokumentasi berupa foto karya, arsip komunitas, serta unggahan media sosial dianalisis untuk mengidentifikasi pola visual, tema budaya, dan pesan simbolik yang muncul dari karya-karya doodle art tersebut. Proses analisis data dilakukan secara interaktif dan tematik mengacu pada model Miles. Huberman, dan Saldaya . , yang meliputi tiga tahapan utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi, mengorganisasi, dan mengelompokkan data berdasarkan tema-tema kunci seperti ekspresi identitas, transformasi budaya, dan keberlanjutan seni lokal. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk narasi dan peta konseptual yang menggambarkan hubungan antara doodle art dengan proses sosial budaya yang Tahap akhir dilakukan dengan menarik kesimpulan dan memverifikasi makna simbolik yang ditemukan melalui interpretasi teoritis. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan metode sebagaimana disarankan oleh Denzin . Data hasil wawancara diverifikasi dengan observasi lapangan serta dokumentasi visual agar interpretasi peneliti tetap objektif dan konsisten. Selain itu, dilakukan member checking dengan para informan untuk memastikan bahwa hasil interpretasi sesuai dengan pengaJlaman dan makna yang mereka sampaikan. Penelitian ini berlandaskan pada Teori Psikologi Seni dari Rudolf Arnheim . , yang menekankan bahwa karya seni merupakan hasil proses persepsi visual dan refleksi kognitif manusia terhadap dunia sekitarnya. Teori ini digunakan untuk memahami doodle art sebagai bentuk visualisasi pikiran dan emosi remaja yang berhubungan erat dengan lingkungan budaya mereka. Pendekatan ini kemudian dipadukan dengan studi budaya urban, yang menyoroti bagaimana remaja di wilayah perkotaan beradaptasi dan menegosiasikan identitas di tengah arus globalisasi. Melalui perpaduan kedua kerangka teoretis ini, penelitian berupaya menafsirkan doodle art bukan hanya sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai praktik budaya yang merefleksikan nilai-nilai lokal dan membentuk keberlanjutan seni komunitas di wilayah Bekasi HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan seni visual kontemporer menunjukkan bahwa bentuk-bentuk ekspresi artistik yang sebelumnya dianggap sederhana kini mengalami transformasi makna yang signifikan. Salah satu bentuk seni visual yang mengalami perkembangan tersebut adalah doodle art. Dalam konteks penelitian ini, doodle art tidak lagi dipahami sekadar sebagai aktivitas menggambar spontan tanpa perencanaan, melainkan sebagai medium ekspresi visual yang sarat dengan makna simbolik, identitas sosial, serta refleksi budaya yang berkembang di kalangan generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doodle art memiliki peran penting sebagai sarana komunikasi visual yang memungkinkan remaja urban mengekspresikan gagasan, emosi, serta pengalaman sosial mereka secara kreatif. Bagi remaja urban yang tergabung dalam komunitas pelukis muda di Bekasi, doodle art menjadi ruang ekspresi yang memberikan kebebasan artistik sekaligus ruang refleksi diri. Proses kreatif dalam doodle art umumnya bersifat spontan dan tidak terikat oleh aturan formal seni rupa, sehingga memungkinkan individu untuk mengeksplorasi berbagai bentuk visual secara bebas. Kebebasan ini memberikan peluang bagi remaja untuk mengekspresikan identitas diri mereka melalui simbol, karakter visual, tipografi, maupun komposisi visual yang unik. Dalam banyak karya yang dihasilkan oleh anggota komunitas tersebut, terlihat bahwa doodle art sering kali menjadi sarana untuk mengekspresikan berbagai pengalaman personal seperti kegelisahan, aspirasi masa depan, kritik sosial, serta refleksi terhadap realitas kehidupan sehari-hari di lingkungan perkotaan. Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 Tabel 1. Media Ekspresi yang Paling Banyak Digunakan Remaja Urban Bekasi . Media Ekspresi Doodle Art Persentase Penggunaan Sumber Survei peneliti, 2024 Mural Komunitas Pelukis Muda Bekasi Digital Art BEKRAF, 2023 Fotografi Hidayat, 2022 Musik Rahmawati, 2021 Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi. Data Kependudukan dan Sosial Budaya 2024 Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa doodle art memiliki fungsi komunikasi visual yang Dalam konteks ini, gambar tidak hanya berfungsi sebagai objek estetika, tetapi juga sebagai bahasa simbolik yang mampu menyampaikan makna yang kompleks. Melalui simbol-simbol visual yang muncul dalam karya doodle, para seniman muda dapat mengomunikasikan pengalaman hidup, nilai- nilai yang mereka yakini, serta cara pandang mereka terhadap realitas sosial yang mereka alami. Hal ini menunjukkan bahwa seni visual memiliki peran penting sebagai medium komunikasi alternatif yang mampu melampaui keterbatasan bahasa verbal. Selain sebagai medium ekspresi individual, doodle art yang dihasilkan oleh remaja Bekasi juga merefleksikan dinamika budaya urban yang berkembang di wilayah tersebut. Bekasi sebagai salah satu kota penyangga Jakarta mengalami pertumbuhan urbanisasi yang sangat pesat dalam beberapa dekade Perkembangan kawasan industri, pertumbuhan penduduk, serta ekspansi wilayah perkotaan telah menciptakan lingkungan sosial yang kompleks dan heterogen. Dalam situasi tersebut, generasi muda di Bekasi hidup dalam ruang sosial yang dipengaruhi oleh berbagai arus budaya, baik budaya lokal maupun budaya global yang masuk melalui media digital dan budaya populer. Tabel 2. Keterlibatan Komunitas Pelukis Muda Bekasi dalam Aktivitas Budaya . 0Ae2. Jenis Kegiatan Jumlah Kegiatan Persentase (%) Sumber Pameran Publik Dokumentasi Komunitas, 2024 Workshop Seni Wawancara Komunitas, 2024 Kolaborasi Mural BEKRAF, 2023 Produksi Merchandise Observasi Lapangan, 2024 Kegiatan Sosial Budaya Laporan Doodle Art Indonesia, 2023 Sumber : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. Tren Ekonomi Kreatif Indonesia Kondisi sosial tersebut tercermin dalam karya-karya doodle art yang dihasilkan oleh anggota komunitas pelukis muda. Banyak karya yang menampilkan simbol-simbol kehidupan urban seperti ruang publik kota, transportasi, bangunan perkotaan, serta karakter visual yang terinspirasi dari budaya pop dan Simbol-simbol tersebut menunjukkan bahwa doodle art tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai refleksi visual dari pengalaman hidup remaja dalam lingkungan perkotaan yang Dengan demikian, doodle art dapat dipahami sebagai bentuk representasi budaya urban yang menggambarkan cara generasi muda memaknai kehidupan mereka dalam konteks sosial yang terus Temuan penting lainnya dalam penelitian ini adalah adanya proses transformasi budaya lokal yang tercermin dalam karya doodle art yang dihasilkan oleh remaja Bekasi. Meskipun dipengaruhi oleh gaya visual global seperti street art, ilustrasi digital, dan grafiti, banyak karya doodle yang tetap memasukkan unsur-unsur budaya lokal sebagai bagian dari identitas visual mereka. Beberapa karya misalnya menampilkan motif batik yang dimodifikasi dalam gaya doodle, penggunaan simbol budaya Sunda, ilustrasi tokoh-tokoh tradisional, serta elemen visual yang terinspirasi dari cerita rakyat atau simbolsimbol lokal. Integrasi unsur budaya lokal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak sepenuhnya Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 meninggalkan identitas budaya mereka dalam menghadapi arus globalisasi. Sebaliknya, mereka melakukan proses reinterpretasi terhadap budaya lokal melalui pendekatan visual yang lebih modern dan kontekstual dengan kehidupan mereka sebagai remaja urban. Proses ini dapat dipahami sebagai bentuk transformasi budaya di mana nilai-nilai tradisional tidak hilang, tetapi mengalami adaptasi dalam bentuk ekspresi visual yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Tabel 3. Keterlibatan Komunitas Pelukis Muda Bekasi dalam Aktivitas Budaya . 0Ae2. Jenis Kegiatan Pameran Publik Jumlah Kegiatan Persentase (%) Workshop Seni Sumber Dokumentasi Komunitas, 2024 Wawancara Komunitas, 2024 Kolaborasi Mural BEKRAF, 2023 Produksi Merchandise Observasi Lapangan, 2024 Kegiatan Sosial Budaya Laporan Doodle Art Indonesia, 2023 Sumber : Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF). Laporan Statistik Ekonomi Kreatif Nasional 2024. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa budaya bersifat dinamis dan selalu mengalami proses negosiasi antara tradisi dan modernitas. Remaja urban tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga berperan sebagai agen kreatif yang mampu memproduksi bentuk-bentuk ekspresi budaya baru yang memadukan unsur lokal dan global. Dalam konteks ini, doodle art menjadi medium yang memungkinkan terjadinya dialog antara identitas budaya lokal dengan pengaruh budaya global yang semakin kuat di era digital. Perkembangan doodle art di kalangan remaja urban juga tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial sebagai ruang distribusi dan komunikasi karya seni visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota komunitas pelukis muda memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram. TikTok, dan platform visual lainnya untuk mempublikasikan karya Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai galeri digital tempat karya dipamerkan, tetapi juga sebagai ruang interaksi yang memungkinkan seniman muda untuk berkomunikasi dengan audiens yang lebih luas. Melalui media sosial, karya doodle art yang sebelumnya hanya dikenal dalam lingkup komunitas lokal kini dapat diakses oleh audiens global. Hal ini membuka peluang bagi seniman muda untuk membangun identitas digital sekaligus memperluas jaringan kreatif mereka. Selain itu, media sosial juga menjadi sumber inspirasi yang memungkinkan seniman untuk mengamati perkembangan tren visual global serta mengadaptasinya ke dalam karya mereka. Dengan demikian, media sosial berperan penting dalam mempercepat proses pertukaran ide kreatif serta memperluas ekosistem seni visual kontemporer. Dalam konteks sosial, keberadaan komunitas pelukis muda di Bekasi juga memiliki peran penting dalam membangun ruang kreatif bagi generasi muda. Komunitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya individu yang memiliki minat yang sama terhadap seni visual, tetapi juga sebagai ruang belajar informal yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi Melalui berbagai kegiatan seperti workshop seni, diskusi kreatif, kolaborasi mural, serta pameran karya, komunitas ini memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengembangkan keterampilan artistik sekaligus memperluas perspektif mereka terhadap seni dan budaya. Interaksi yang terjadi dalam komunitas tersebut juga berkontribusi dalam membentuk identitas kolektif para anggotanya sebagai bagian dari komunitas kreatif. Rasa kebersamaan dan solidaritas yang terbentuk melalui aktivitas seni bersama menciptakan lingkungan sosial yang mendukung perkembangan kreativitas generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas seni memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem budaya kreatif di tingkat lokal. Selain memiliki nilai sosial dan budaya, doodle art juga menunjukkan potensi yang signifikan dalam mendukung perkembangan ekonomi kreatif di kalangan generasi muda. Beberapa anggota komunitas pelukis muda mulai mengembangkan karya doodle mereka menjadi berbagai produk kreatif seperti desain kaos, stiker, ilustrasi digital, merchandise komunitas, hingga desain visual untuk berbagai kebutuhan komersial. Transformasi karya seni menjadi produk kreatif menunjukkan bahwa kreativitas visual dapat memiliki nilai ekonomi yang nyata. Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 Perkembangan ini sejalan dengan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang semakin berkembang di Indonesia, di mana kreativitas individu menjadi salah satu sumber daya utama dalam menciptakan nilai ekonomi baru. Bagi remaja urban, doodle art tidak hanya menjadi sarana ekspresi diri, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis kreativitas. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan platform pemasaran daring, seniman muda memiliki kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas. Tabel 4 : Pertumbuhan Komunitas Doodle Art di Kota Bekasi . 9Ae2. Tahun Jumlah Komunitas Aktif 3 komunitas Sumber Observasi lapangan, 2024 4 komunitas Doodle Art Indonesia Report, 2021 6 komunitas BEKRAF, 2022 7 komunitas Kemenparekraf, 2023 9 komunitas Wawancara komunitas, 2024 11 komunitas Dokumentasi Peneliti, 2024 Sumber : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. Tren Ekonomi Kreatif Indonesia 2024 Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa doodle art memiliki peran yang cukup kompleks dalam kehidupan remaja urban di Bekasi. Seni visual ini tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi individual, tetapi juga sebagai sarana komunikasi budaya, refleksi sosial, serta ruang kreatif yang mendukung perkembangan identitas generasi muda. Melalui doodle art, remaja dapat mengekspresikan pengalaman hidup mereka sekaligus membangun hubungan dengan budaya lokal yang menjadi bagian dari identitas mereka. Selain itu, keberadaan komunitas seni serta dukungan media sosial juga memperkuat peran doodle art sebagai bagian dari ekosistem budaya kreatif yang berkembang di masyarakat urban. Fenomena ini menunjukkan bahwa seni visual memiliki potensi besar dalam membentuk identitas budaya generasi muda sekaligus mendukung keberlanjutan praktik seni di tingkat komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doodle art bagi remaja urban di Bekasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan visual, tetapi telah berkembang menjadi medium ekspresi identitas dan transformasi budaya lokal. Kegiatan menggambar yang awalnya dilakukan secara spontan, kini menjadi bentuk komunikasi artistik yang mencerminkan pengalaman hidup, perasaan, serta pandangan remaja terhadap lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tumbuh. Di dalam komunitas pelukis muda Bekasi, praktik doodle art berkembang melalui kolaborasi, diskusi, dan pameran yang digagas secara mandiri oleh anggota komunitas. Aktivitas ini membentuk ruang sosial baru di mana nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan kebanggaan terhadap budaya lokal dapat dihidupkan kembali melalui bahasa visual yang kontemporer. Gambar 1. Grafik hasil survei pameran doodle art. Dari 15 Narasumber, sebanyak 72% menilai doodle art efektif memperkenalkan budaya lokal, sedangkan 28% menilai kurang efektif atau netral Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 Temuan lapangan memperlihatkan bahwa karya doodle art yang diciptakan oleh anggota komunitas banyak memadukan unsur simbolik dari budaya lokal Bekasi seperti motif batik khas, ikon daerah, hingga representasi aktivitas masyarakat urban dengan gaya modern yang dipengaruhi oleh budaya digital dan pop art. Perpaduan tersebut mencerminkan upaya generasi muda untuk menjaga relevansi budaya lokal di tengah perubahan sosial yang cepat. Karya-karya tersebut juga menunjukkan bahwa doodle art menjadi cara bagi remaja untuk menegosiasikan identitas mereka sebagai individu modern yang tetap memiliki akar budaya tradisional. Hal ini sejalan dengan pandangan Arnheim . yang menekankan bahwa karya seni merupakan refleksi dari persepsi visual dan pengalaman batin individu terhadap lingkungannya. Hasil wawancara mendalam dengan anggota komunitas menunjukkan bahwa doodle art bagi mereka merupakan Aubahasa visualAy yang mampu mengekspresikan hal-hal yang sulit disampaikan secara Beberapa informan menyebutkan bahwa melalui doodle art, mereka dapat menyalurkan keresahan, kebanggaan terhadap budaya lokal, serta pandangan kritis terhadap isu sosial di sekitar Dalam konteks ini, doodle art berfungsi sebagai media komunikasi budaya yang memungkinkan remaja mengekspresikan identitas personal dan kolektif secara bebas namun tetap berakar pada nilai Hal ini memperkuat posisi doodle art sebagai bentuk seni urban yang tidak terpisahkan dari dinamika sosial masyarakat perkotaan. Gambar 2. Grafik peningkatan publikasi doodle art di komunitas Instagram per tahun Sumber : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. Tren Ekonomi Kreatif Indonesia 2024 Selain sebagai medium ekspresi, doodle art juga berperan penting dalam membangun keberlanjutan seni budaya lokal melalui kegiatan komunitas. Komunitas pelukis muda Bekasi secara aktif menyelenggarakan lokakarya, pameran terbuka, dan kolaborasi lintas media untuk memperkenalkan doodle art kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kreatif, tetapi juga sarana edukatif yang menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga warisan budaya Melalui aktivitas ini, komunitas berhasil menciptakan pola keberlanjutan seni yang bersifat partisipatif dan inklusif, di mana proses pelestarian budaya tidak lagi bersifat top-down dari lembaga formal, melainkan tumbuh secara organik dari inisiatif masyarakat muda. Analisis terhadap dokumentasi visual menunjukkan bahwa setiap karya doodle art memuat narasi sosial dan budaya yang khas. Penggunaan simbol lokal seperti bentuk arsitektur tradisional, pola florafauna daerah, atau elemen warna khas Bekasi menunjukkan adanya intensi artistik untuk menegaskan identitas lokal dalam karya kontemporer. Praktik ini memperlihatkan proses transformasi budaya yakni peralihan dari bentuk tradisi ke representasi visual modern tanpa kehilangan nilai dasarnya. Proses ini sejalan dengan teori budaya urban yang menjelaskan bahwa remaja di kota membangun identitas kultural baru dengan cara menggabungkan unsur tradisional dan modern secara kreatif. Dengan demikian, doodle art dalam konteks komunitas pelukis muda Bekasi bukan hanya ekspresi seni individual, tetapi juga bentuk partisipasi sosial yang memiliki dimensi budaya. Ia menjadi jembatan antara seni tradisional dan gaya Ekspresi Identitas Remaja Urban Dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda (RD. Dancu Lokita Pramesti Dewi. Heni Pridia. Saktisyahputr. JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI. Vol. No. Maret 2026, 184-194 hidup modern, serta berkontribusi terhadap regenerasi dan keberlanjutan seni budaya lokal. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemahaman bahwa doodle art dapat dipandang sebagai praktik budaya yang hidup sebuah ruang negosiasi identitas dan ekspresi yang mencerminkan cara remaja urban menafsirkan kembali budaya lokal di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi seni. Dengan demikian, doodle art dapat dipahami sebagai bentuk transformasi budaya lokal yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Seni ini tidak hanya mencerminkan kreativitas generasi muda, tetapi juga menjadi medium yang menjembatani hubungan antara tradisi, modernitas, serta dinamika budaya urban yang terus berkembang. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Doodle Art bukan sekadar bentuk seni visual spontan, melainkan telah berkembang menjadi medium ekspresi identitas dan sarana transformasi budaya lokal di kalangan remaja urban Bekasi. Melalui Doodle Art, nilai-nilai tradisi dan simbol-simbol lokal direinterpretasi dalam konteks modern dan digital, menciptakan dialog antara warisan budaya dan gaya hidup kontemporer. Komunitas Pelukis Muda Bekasi berperan penting dalam proses ini, tidak hanya sebagai pelaku seni tetapi juga sebagai agen sosial yang menghidupkan kembali kesadaran budaya melalui kegiatan kreatif seperti pameran, workshop, dan kolaborasi lintas komunitas. Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa seni kontemporer berbasis komunitas memiliki potensi besar dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah arus urbanisasi dan globalisasi. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan institusi budaya untuk mendukung keberlangsungan komunitas seni lokal sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya berbasis kreativitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses penciptaan doodle art tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai budaya lokal yang secara sadar maupun tidak sadar diinternalisasi oleh para kreatornya. Berbagai elemen budaya seperti motif batik, simbol-simbol tradisional, serta narasi mitologi lokal kerap muncul dalam karya-karya doodle yang dihasilkan oleh remaja dalam komunitas tersebut. Integrasi unsurunsur tradisional dengan gaya visual modern menunjukkan adanya proses transformasi budaya yang dinamis, di mana generasi muda berupaya menafsirkan kembali identitas budaya lokal dalam bahasa visual yang lebih relevan dengan konteks kehidupan urban dan era digital Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan komunitas pelukis muda di Bekasi memiliki peran penting dalam memperkuat fungsi sosial dari doodle art. Komunitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang kreatif bagi para anggotanya untuk berkarya, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran, pertukaran gagasan, serta pengembangan identitas kolektif. Melalui aktivitas seperti pameran seni, kolaborasi mural, workshop kreatif, dan interaksi di media sosial, komunitas ini turut mendorong terciptanya ekosistem seni yang memungkinkan doodle art berkembang sebagai bagian dari dinamika budaya urban. Temuan penelitian ini juga menegaskan bahwa doodle art memiliki potensi strategis dalam mendukung keberlanjutan seni dan budaya lokal. Dengan memadukan unsur tradisi dan kreativitas kontemporer, doodle art dapat menjadi medium yang efektif untuk memperkenalkan kembali nilai- nilai budaya kepada generasi muda dalam bentuk yang lebih kontekstual dan menarik. Praktik ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan yang konvensional, tetapi dapat diwujudkan melalui inovasi kreatif yang selaras dengan perkembangan zaman. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa doodle art memiliki peran yang signifikan dalam proses pembentukan identitas budaya remaja urban. Melalui karya-karya visual yang mereka ciptakan, remaja tidak hanya mengekspresikan diri secara personal, tetapi juga turut merekonstruksi makna budaya lokal dalam konteks kehidupan modern. Dengan demikian, doodle art dapat dipahami sebagai bentuk transformasi budaya yang mencerminkan dialog antara tradisi dan modernitas, sekaligus sebagai strategi kreatif generasi muda dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya di tengah dinamika masyarakat urban. UCAPAN TERIMA KASIH