STIKes Mitra Keluarga Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) p-ISSN 2580-3379. ,e-ISSN 2716 0874 . Vol. No. Desember 2025. Hal. 51 Ae 60 Review Article PENERAPAN ART THERAPY SEBAGAI PENANGANAN ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA : LITERATURE REVIEW IMPLEMENTATION OF ART THERAPHY TO MANAGE OF PEOPLE WITH MENTAL DISORDER: LITERATUR REVIEW Renta Sianturi1*. Anggraeni Javalusia2. Hana Najla Nazifah3. Laras Andika Putri4. Muhammad Fathan Mubina5. Muhammad Ricky Prasetyo6. Nada Sari7. Ratna Purnamasari8. Siti Meira Putri9. Siti Syakira Hamdi10. Vinna Widyanti Putri11 1-11 Program Studi Profesi Ners. STIKes Mitra Keluarga Bekasi. Jl. Pengasinan Rawa Semut. Margahayu. Bekasi Timur. Margahayu. Bekasi Tim. Jawa Barat, 17113. Indonesia *nersrensi89@gmail. INFORMASI ARTIKEL Article history Submitted: 18-01-2025 Accepted: 17-09-2025 Published: 31-12-2025 DOI : https://doi. org/10. 47522/jmk Kata Kunci: Art Therapy. Halusinasi. Schizophrenia Keywords : Art Therapy. Hallucinations. Schizophrenia ABSTRAK Pendahuluan : Halusinasi merupakan gangguan jiwa yang paling sering terjadi ditemukan di Rumah Sakit. Halusinasi yang tidak tertangani akan berdampak terhadap keselamatan pasien. Riset ini bertujuan untuk membuat ringkasan tentang penerapan art theraphy pada pasien halusinasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan narrative review dengan membuat ringkasan tentang penerapan art theraphy pada pasien halusinasi. Data base dalam pencarian yaitu Pubmed. ScienceDirect, dan Google Scholar, dan Neliti. Publikasi artikel yang dianalisis yaitu 10 artikel dengan kata kunci art theraphy, halusinasi, dan schizophrenia. Jangka waktu artkel yang digunakan yaitu tahun 2019 Ae 2024. Hasil: Dari penelusuran artikel pada database digunakan 10 artikel yang direview dan relevan dengan tujuan penelitian dan kriteria inklusi. Kesimpulan: Intervensi art therapy berpengaruh dalam menurunkan gejala halusinasi. Sehingga intervensi ini menjadi solusi keperawatan dalam mengatasi orang dengan gangguan jiwa Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 ABSTRACT Introduction: Hallucinations are among the most prevalent psychiatric symptoms encountered in clinical settings and may compromise patient safety if left untreated. This review aims to synthesize evidence on the effectiveness of art therapy for patients experiencing hallucinations. Method: A narrative review was conducted using PubMed. ScienceDirect, and Google Scholar databases. Ten articles published between 2019 and 2024 were selected based on the keywords art therapy, hallucinations, and schizophrenia. Results: Ten studies met the inclusion criteria and were relevant to the objectives of this review. Conclusion: Art therapy demonstrates effectiveness in reducing hallucination symptoms and may be considered a complementary nursing intervention for patients with sensory perception disturbances. PENDAHULUAN Skizofrenia adalah suatu penyakit mental berat yang tidak dapat disembuhkan dan melumpuhkan, ditandai oleh gangguan fungsi otak berupa proses pikir yang tidak terorganisasi, adanya waham atau delusi, halusinasi, serta perilaku yang tidak wajar hingga katatonik. Gangguan ini menyebabkan individu mengalami hambatan komunikasi, kerusakan menilai realita, afek yang tumpul ataupun datar, penurunan kemampuan berpikir, serta kurang mampu melakukan kegiatan kehidupan sehari-hari (Pardede & Laia, 2. Permasalahan gangguan kesehatan jiwa saat ini telah menjadi isu global yang Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan kurang lebih 450 juta penduduk dunia menderita gangguan jiwa, dengan sekitar 135 juta di antaranya mengalami Di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa diperkirakan mencapai 2Ae3 % dari total populasi, atau sekitar 1 hingga 1,5 juta jiwa, dengan sebagian di antaranya mengalami gangguan halusinasi (Aritonang, 2. Halusinasi merupakan gangguan persepsi sensori berupa pengalaman persepsi palsu yang muncul akibat respon neurobiologis yang maladaptif. Individu mempersepsikan stimulus yang tidak nyata seolah-olah benar - benar ada dan memberikan respon terhadapnya. Sekitar Ou 90% pasien dengan gangguan jiwa menderita gangguan halusinasi terutama ganguan pada pendengaran. Suara yang didengar berasal dari internal pasien maupun eksternal individu, dapat berupa satu dan lebih dari satu suara, dikenal atau tidak dikenal, serta sering kali bersifat memerintah perilaku tertentu. Selain pendengaran, halusinasi juga dapat melibatkan sensasi penglihatan, perabaan, pengecapan, maupun penciuman tanpa adanya rangsangan eksternal yang nyata (Pardede, 2. Terapi seni adalah bentuk intervensi okupasi yang memanfaatkan kegiatan ekspresi seni yang dapat dilihat sebagai media terapeutik. Dalam terapi ini, klien diberikan berbagai alat dan media seni untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan pengalaman emosional melalui gambar atau karya seni lainnya, sehingga perhatian klien Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 teralihkan dan gejala halusinasi dapat berkurang akibat adanya aktivitas yang bermakna (Firmawati. Syamsuddin, & Botutihe, 2. Terapi seni menggambar secara khusus merupakan bentuk terapi psikologis yang mengandalkan proses penciptaan karya artistik sebagai sarana komunikasi nonverbal antara klien dan terapis (Sari et al. , 2. Secara umum, art therapy berperan sebagai media terapeutik suportif yang membantu individu beradaptasi dengan lingkungan, meningkatkan kemandirian, kreativitas, serta fungsi edukatif, dengan tujuan menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada orang dengan gangguan jiwa ( Melinda, 2. Terapi seni mencakup beberapa bentuk, antara lain terapi tari, terapi drama, terapi suara musik, dan seni visual. Sementara tarian melibatkan penggunaan gerakan dan tari sebagai sarana ekspresi diri. Terapi drama dilakukan melalui aktivitas bermain peran, ekspresi gerak, vokalisasi, komunikasi nonverbal, atau penggulangan perilaku tertentu yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Terapi musik melibatkan kegiatan memainkan alat musik, bernyanyi, mendengarkan musik, mengubah lirik lagu, serta merefleksikan hubungan interpersonal. Sementara itu, terapi seni visual memberikan kebebasan kepada individu untuk mengekspresikan diri melalui gambar, lukisan, penulisan, penggunaan foto kenangan, maupun pembentukan objek dari tanah liat dengan berbagai media seperti cat, pensil warna, atau kapur (Putri, 2. Berdasarkan uraian tersebut masih terbatasnya publikasi ilmiah di Indonesia yang secara khusus membahas penerapan art therapy pada pasien dengan halusinasi menggunakan metode literature review, penulis tertarik untuk menyusun studi literatur dengan pendekatan tersebut. Riset ini menganalisis dan merangkum penerapan art therapy untuk pasien yang mengalami halusinasi. Adapun permasalahan penelitian ini adalah bagaimana penerapan art therapy pada pasien dengan gangguan halusinasi. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini berbasis literature review dengan pendekatan narrative review yang berasal dari publikasi ilmiah dengan rentang waktu dari tahun 2019 sampai Peneliti melakukan pencarian artikel menggunakan beberapa database antara lain PubMed. ScienceDirect, dan Google Scholar dengan bantuan kata kunci dan boolean operator AuANDAy or AuNOTAy untuk memaksimalkan penentuan artikel yang relevan berdasarkan elemen PICOS yang meliputi Population (P) yaitu pasien halusinasi. Intervention (I) tidak ada intervensi. Comparison (C) tidak ada pembanding. Outcomes (O) yaitu gambaran penerapan art theraphy pada pasien halusinasi. Study design (S) yaitu Cross-sectional. Cohort. Review. Kata kunci yang digunakan yaitu penerapan art theraphy, halusinasi, schizophrenia. Artikel yang dipilih yaitu berdasarkan kriteria kelayakan yang terdiri dari kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi antara lain artikel menggunakan bahasa indonesia dan bahasa inggris, artikel terbitan tahun 2019-2024, full teks, open akses serta artikel yang relevan dengan penerapan art theraphy. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu artikel tidak sesuai dengan tujuan penelitian, artikel yang terbit di bawah tahun 2019 dan artikel hanya berupa abstrak maupun letter. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan untuk mendapatkan hasil dari tujuan penelitian dan menjawab rumusan masalah. Tahap pertama dimulai dengan terlebih dahulu diskusi dengan dosen pembimbing tentang menentukan tema. Kemudian,tahap selanjutnya pencarian artikel pada database, setelah data terkumpul dilakukan critical appraisal bersama dengan pembimbing. Artikel dengan skor critical appraisal lebih dari 80 dikategorikan layak . untuk dianalisis. Ditemukan 600 artikel yang sesuai dengan kata kunci pencarian dan tema penelitian. Selanjutnya artikel diidentifikasi berdasarkan tema penelitian, diperoleh 110 dan artikel tersebut diskrining kembali berdasarkan 5 tahun terakhir, full teks, dan open akses. Hasil akhir seleksi artikel didapatkan sebanyak 10 artikel yang tercantum pada gambar diagram flow dibawah ini: Identifikasi artikel berdasarkan google scholar . = . Tema penelitian eksklusi . Artikel yang di identifikasi . Hasil disaring berdasarkan tema penelitian . Tema tidak menjawab tema penelitian Judul atau abstrak eksklusi . Artikel dipilih berdasarkan judul/abstrak . Judul atau abstrak studi yang tidak relevan Kriteria eksklusi . Tidak sesuai dengan tujuan penelitian Artikel yang sesuai kriteria inklusi dan tujuan penelitian . HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dilakukan pada tanggal 01 Januari 2025 Ae 04 Januri 2025. Dari penelusuran artikel pada database digunakan 10 artikel yang akan direview karena sesuai dengan tujuan penelitian dan kriteria inklusi. Tabel 1. Hasil Telaah Krisis Artikel Penulis dan (Oktaviani et , 2. (Azka Maulana, (Sujiah et al. Skor pertanyaan 5 6 7 8 1 1 1 1 Skor akhir Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 Penulis dan (Wahyu Nur Indah Ramadani et , 2. (Syamsul Bahri et al. (Laisina & Nurminingsih Hatala, 2. (Annisa et al. Skor pertanyaan 5 6 7 8 1 1 1 1 Skor akhir (Fatihah et , 2. (Sari et al. (Sari et al. Judul The Effectiveness Of Application Of Drawing Activity Occupational Therapy Against Auditory Hallucination Symptoms. Penerapan Intervensi Terapi Seni Terhadap Kemampuan Berpikir Dan Psikomotor Pasien Dalam Mengontrol Halusinasi. Tabel 2. Ringkasan Artikel Intervensi Riset ini menggunakan design quasi-eksperimental. Jumlah responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 83 Intervensi dilaksanakan dalam 8 sesi pertemuan yang berlangsung selama 3 minggu. Instrumen serta lembar Riset ini berupa studi kasus dengan menggambarkan kasus yang didapatkan. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Ruang Abimanyu RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta dengan Intervensi dilakukan 3x kali dalam satu minggu, dengan durasi setiap Hasil/Kesimpulan Setelah pelaksanaan intervensi, hasil analisis statistik pada penurunan tanda dan gejala halusinasi yang signifikan Rerata halusinasi pre test sebesar 38,35 mengalami penurunan menjadi 23,65. Secara statistik didapatkan p value O 0,05 . = 0,. , yang artinya ada perubahan yang signifikan pre dan post test. Disimpulkan kegiatan menggambar efektif menurunkan gejala halusinasi secara bermakna. Setelah dilakukan riset dengan intervensi seni kognitif dan psikomotor pada Setelah menjalani intervensi terapi seni sebanyak 3 kali pertemuan dalam 1 minggu, pasien Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 Judul Intervensi sesi terapi selama 60 menit. Data dikumpulkan dengan wawancara dan pengamatan SDKI,dan standar luaran SLKI. Mengatasi Psychological Emptiness Pada Penderita Skizofrenia Dengan Art Therapy. Efektivitas Terapi Okupasi Menggambar Terhadap Penurunan Tanda Dan Gejala Pada Pasien Halusinasi Pendengaran. Penelitian ini menerapkan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif yang Intervensi dilaksanakan sebanyak 9 sesi selama periode 2 minggu. Rangkaian intervensi meliputi pembinaan hubungan saling percaya serta pelaksanaan dengan berbagai tema, antara keluarga, saudara, kehidupan, kebahagiaan, dan cita-cita. Desain pendekatan literature review. Researcher memakai data peneliti menggunakan asal data yang berasal dari artikel yang relevan dengan topik. Efektifitas Pemberian Terapi Okupasi Aktivitas Waktu Luang Dalam Upaya Mengontrol Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran. Desain riset ini adalah deskriptif studi kasus pada 1 Intervensi dilakukan 1-2 kali selama 1 Alat ukur yang observasi dan wawancara. Hasil/Kesimpulan untuk melaksanakan aktivitas Selain itu, pasien juga mampu halusinasi secara mandiri intervensi tersebut. Hasil penggunaan teknik art therapy terbukti efektif menurunkan gejala halusinasi pada klien dengan gangguan jiwa. Berdasarkan hasil sintesis dari seluruh literatur yang direview, disimpulkan bahwa kegiatan tanda gejala Temuan riset didukung dari 6 artikel ilmiah hasil analisis, tanda gejala halusinasi pada Berdasarkan pelaksanaan terapi dengan penerapan terapi menggambar menunjukkan pengaruh pada gejala pada pasien dengan gangguan sensori persepsi Pelaksanaan tindakan secara rutin, yaitu satu hingga dua kali dalam pasien untuk berinteraksi dengan dunia internalnya Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 Judul Intervensi Literature Review: Terapi Okupasi Menggambar Terhadap Perubahan Tanda Dan Gejala Halusinasi Pada Pasien Dengan Gangguan Jiwa. Pendekatan metodologi riset dengan systematic review dengan mencari artikel dari sumber data dari google rentang tahun 2011 - 2021 dengan kata kunci yang Pengaruh Terapi Okupasi Menggambar Terhadap Tanda Dan Gejala Halusinasi Tahap Comforting Pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (Odg. Di Rsjd Dr. Arif Zainuddin Surakarta. Pengaruh Terapi Okupasi Terhadap Gejala Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Rawat Inap Di Yayasan Aulia Rahma Kemiling Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-eksperimental. Pelaksanaan dilakukan di RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta pada bulan Agustus 2023 dengan melibatkan 30 responden. Pengumpulan data dilakukan Intervensi diberikan selama 3 hari berturut-turut. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan eksperimental yang melibatkan 27 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pretest dan Intervensi dilaksanakan selama 2 minggu dengan total 6 kali sesi Hasil/Kesimpulan sendiri serta meningkatkan kemampuan pasien dalam Analisis mengidentifikasi 10 topik yang Hasil analisis ditemukan menunjukkan bahwa terapi okupasi menggambar efektif mengendalikan tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan halusinasi. Oleh diterapkan sebagai salah satu intervensi terapeutik yang dilakukan secara rutin pada Hasil analisis statistik dengan uji Wilcoxon menunjukkan pvalue 0,000 . <0,. Hal ini bermakna bahwa pemberian intervensi terapi modalitas terhadap perubahan gejala comforting pada ODGJ di RSJD Dr. Arif Zainuddin Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan halusinasi setelah diberikan terapi okupasi, dengan nilai p < . Sebelum pelaksanaan intervensi, sebagian besar responden mengalami gejala halusinasi pendengaran pada kategori sedang, yaitu sebesar 51,9%. Setelah pemberian terapi okupasi menggambar, menunjukkan gejala halusinasi pendengaran dalam kategori ringan, yaitu sebesar 44,4%. Temuan ini mengindikasikan Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 Judul Intervensi Effects Of Visual Art Therapy On Positive Symptoms. Negative Symptoms. And Emotions In Individuals With Schizophrenia: A Systematic Review And Meta-Analysis. Desain riset dengan literatur Tinjauan sistematis ini disusun dan dilaksanakan pedoman PRISMA. How Art-As-Therapy Supports Participants With a Diagnosis of Schizophrenia: Phenomenological Lifeworld Investigation. Penelitian ini melibatkan 15 partisipan dimana partisipan terbagi menjadi 8 laki-laki dan 7 perempuan dengan rentang usia 28 hingga 73 tahun. Seluruh partisipan merupakan pasien rawat inap di rumah sakit forensik psikiatri di Afrika Selatan dan dipilih purposive sampling. Intervensi dalam bentuk sesi kelompok yang berlangsung selama 60 menit dan dilakukan secara Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara. Hasil/Kesimpulan terhadap penurunan gejala halusinasi pendengaran pada halusinasi pendengaran. Secara umum, penelitian ini penerapan terapi seni visual perbaikan gejala positif dan tingkat depresi dan kecemasan pada pasien dengan skizofrenia yang mengalami halusinasi. Secara menyeluruh, temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa intervensi terapi seni meningkatkan kondisi klinis pasien skizofrenia, khususnya positif dan negatif, serta berkurangnya tingkat depresi dan kecemasan yang berkaitan dengan pengalaman halusinasi. Hasil telaah literatur yang dilakukan oleh Ramadani terhadap 14 artikel terpilih mendeskripsikan pemberian terapi okupasi menggambar memberikan manfaat yang bermakna untuk menurunkan tanda tanda halusinasi pendengaran. Temuan ini diperoleh dari hasil pengamatan yang dilaporkan oleh Ramadani. Wahyu, dan rekan . yang menyimpulkan bahwa intervensi terapi okupasi menggambar mampu memberikan perubahan positif terhadap kondisi pasien dengan gangguan halusinasi pendengaran (Rahmadani,etc. ,2. Pemberian art therapy yang dilakukan oleh Azka Maulana juga menunjukkan adanya perubahan kondisi pasien secara bertahap. Setelah pelaksanaan intervensi, subjek yang sebelumnya tidak mampu mengendalikan intensi bunuh diri akibat halusinasi yang muncul dalam pikirannya, mulai mampu mengelola pikiran tersebut melalui aktivitas menggambar. Terapi seni ini berperan dalam membantu pelepasan kecemasan serta ekspresi alam bawah sadar subjek yang kemudian terproyeksikan dalam bentuk visual. Mekanisme ini sejalan dengan konsep katarsis dan asosiasi bebas, sehingga pada akhirnya subjek memperoleh insight serta strategi koping yang lebih Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 adaptif ketika menghadapi kondisi kesepian, sehingga intensi bunuh diri dapat Namun demikian, terapi seni tidak sepenuhnya mampu menghilangkan gejala waham dan halusinasi, sehingga pasien tetap memerlukan kepatuhan terhadap pengobatan farmakologis yang diresepkan oleh dokter (Maulana, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Nur Anisa menunjukkan bahwa intervensi modalitas seni dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan perilaku dalam mengatasi halusinasi setelah diberikan tidakan dalam rentang tiga hari. Intervensi terapi seni memberikan stimulus positif berupa dorongan emosional dan rasa senang yang berkontribusi dalam menurunkan tingkat kecemasan, mengurangi perasaan marah, memperbaiki proses berpikir, serta meningkatkan kemampuan motorik pasien (Annisa, . Oktaviana. , & SuAoib. A, 2. Selain itu, hasil literature review yang dilakukan oleh Ramadani. Wahyu, dan rekan . menegaskan bahwa intervensi okupasi menggambar bermakna merubah tanda Ae tanda halusinasi pendengaran. Kesimpulan didukung oleh 6 artikel ilmiah yang memperlihatkan adanya perubahan gejala halusinasi pada responden setelah diberikan terapi okupasi menggambar. Terapi okupasi menggambar salah satu bentuk terapi yang memanfaatkan media seni sebagai sarana komunikasi nonverbal. Media yang digunakan dapat berupa cat, pensil warna, kapur berwarna, potongan kertas, serta alat mewarnai Melalui aktivitas menggambar, pasien dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran yang sulit disampaikan secara verbal, sehingga memberikan dampak positif terhadap kondisi psikologis pasien, meningkatkan konsentrasi, serta menciptakan perasaan rileks ( Rahmadani,etc. ,2. Penelitian yang dilakukan oleh (Bahri. Ahmad, dan Lestari,2. menunjukkan bahwa berdasarkan hasil observasi, terapi okupasi menggambar dapat digunakan sebagai strategi untuk mengontrol halusinasi. Intervensi ini dilakukan dengan mengarahkan pasien untuk menggambar sesuai dengan keinginannya dalam satu sesi pertemuan, kemudian mewarnai hasil gambar menggunakan pensil warna. Aktivitas ini mendorong pasien untuk mengekspresikan emosi serta melatih kemampuan fokus, sehingga gejala halusinasi dapat lebih terkontrol. Hasil intervensi menunjukkan adanya penurunan tanda dan gejala halusinasi pada tahap comforting, dengan perubahan kategori gejala dari berat menjadi sedang ( Rahmadani,etc. ,2. Penelitian oleh Laisina dan rekan . mengenai terapi okupasi aktivitas waktu luang menunjukkan bahwa terapi ini menjadi terapi pilihan dalam mengontrol halusinasi pendengaran melalui pemberian aktivitas yang disenangi pasien secara rutin. Aktivitas tersebut bertujuan untuk merubah arah perhatian pasien dari halusinasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi okupasi untuk melakukan kegiatan pada saat waktu kosong, responden mampu mengendalikan halusinasi melalui kegiatan seperti menggambar, serta dapat menjelaskan kembali makna dari gambar yang dibuat. Selain itu, pasien juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti membersihkan tempat tidur dan lingkungan rumah (Laisina. , & Nurminingsih Hatala. ,2. Jurnal Mitra Kesehatan (JMK) Vol. No. , pp. 51 Ae 60 KESIMPULAN Terapi intervensi art therapy berpengaruh dalam menurunkan gejala halusinasi. Sehingga art therapy dapat menjadi salah satu tindakan keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori halusinasi. DAFTAR PUSTAKA