AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies Volume 6 Nomor 2 Desember 2025 . Submitted: July. Accepted: Oktober. Published: Desember ANALISIS UNSUR-UNSUR SANAD DALAM PENENTUAN KUALITAS HADIS Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Indonesia E-mail: ahmadsidikzent319@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan membahas analisis mata rantai periwayatan pada penentuan kualitas Metode penelitian ini adalah penelitian library research, yakni penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data melalui buku, serta mengumpulkan beberapa data dari kitab-kitab hadis yang mempunyai relevansi pada tema tulisan. Hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan adanya analisis mata rantai periwayatan pada penentuan kualitas sanad hadis. Setelah melakukan analisis pada unsur-unsur sanad hadis seperti nama rawi, sigat, dan jumlah bilangan rawi penulis melihat bahwa setiap dari unsur tersebut perlu penelusuran ke berbagai kitab-kitab untuk membuka lebih dalam analisis terkait keadaan sanad hadis. Analisis pada nama rawi hendaknya dilakukan dengan membuka banyak kitab-kitab rijal, begitu pula dengan sigat yang perlu untuk melihat adanya hubungan guru murid dengan adanya saksi dari berbagai pemaparan ulama dalam kitab-kitab. Analisis jumlah rawi dalam sanad memerlukan akses ke berbagai kitab tanpa membatasi penelusuran hadis hanya pada kitab-kitab tertentu guna untuk melihat rangkaian panjang pendeknya sanad hadis, walaupun penentuan kualitas hadis hanya melihat jumlah rawi dalam sanad masih perlu pendalaman analisis. Penelitian ini merekomendasikan kepada kalangan akademisi bidang hadis untuk mengembangkan lebih jauh lagi penelitian ini dan mampu menerapkan penelitian ini pada kajian-kajian hadis yang Kata Kunci: Analisis. Kualitas Hadis. Mata Rantai Periwayatan Abstract This study aims to discuss the analysis of the chain of narration . in determining the quality of hadiths. The research method used is library research, which involves collecting data from books and various hadith compilations relevant to the topic of discussion. The results and discussion of this research show that analyzing the chain of narration plays a crucial role in determining the quality of a hadithAos sanad . hain of transmissio. After analyzing the elements of the sanad, such as the narratorsAo names, the forms of transmission . , and the number of narrators, the researcher found that each of these elements requires thorough investigation through various reference works to deepen the analysis of the hadith chainAos condition. The analysis of narratorsAo names should be carried out by consulting multiple rijAl al-uadth . Likewise, the analysis of ghah requires examining teacherAestudent relationships and corroborating them with evidence from the explanations of scholars found in classical works. The analysis of the number of narrators in the sanad demands access to a wide range of sources without limiting the investigation to specific books, in order to trace the length or brevity of the chain. Although determining the quality of a hadith may consider the number of narrators in the chain, further analytical depth is still necessary. This study recommends that hadith scholars and academics further develop this research and apply its framework in future hadith studies. Keywords: Analysis. Hadith Quality. Chain of Narration Copyright A2025. AL ISNAD. ISSN 2775 Ae 0167 (Prin. ISSN 2775 Ae 3247 (Onlin. AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin PENDAHULUAN Hadis merupakan warisan dari Rasulullah saw. yang mempunyai peran intensif dalam perkembangan peradaban Islam. Hadis berperan di setiap sektor kehidupan manusia sehingga secara tidak langsung menjadi penangkal atas setiap permasalahan yang terjadi dalam Islam (Arifuddin, 2. Kedudukan hadis selain sebagai salah satu sumber hukum Islam, juga sebagai informasi sejarah yang memuat peristiwa-peristiwa masa lalu yang pernah terjadi, hal ini terlihat pada hadis Nabi yang berkaitan sejarah, seperti peristiwa runtuhnya Kerajaan Persia melalui pengangkatan seorang putri sebagai raja baru, peristiwa pembangunan dan perkembangan bangunan Masjid, dan peristiwa peperangan Nabi pada beberapa periode. Informasi-informasi yang berasal dari Nabi kadangkala disampaikan oleh banyak sahabat, tetapi dalam beberapa keadaan informasi dari Nabi juga hanya di dengarkan oleh beberapa sahabat saja, sehingga tidak semua sahabat dapat mendengarkan semua informasi secara langsung dari Nabi. Akhirnya para sahabat memiliki inisiatif untuk senantiasa saling menyampaikan informasi kepada orang lain yang tidak mendengarkan secara langsung sebuah informasi dari Nabi dengan berkata. AuSaya mendengarkan Nabi Ay, atau. AuSaya melihat Nabi saw. Ay hingga rangkaian orang-orang yang menyampaikan informasi dari Nabi ini kemudian dikenal dengan istilah sanad (Yaqub, 2. Sanad dalam Islam memiliki eksistensi yang sangat besar karena memberikan pengaruh yang begitu komprehensif dalam perkembangan sumber ajaran Islam. Begitu pentingnya sanad ini hingga beberapa tokoh terkemuka memberikan pendapat tentang sanad sebagai berikut: Muhammad bin Sirin . afat 110 hijria. AuSesungguhnya pengetahuan hadis adalah agama maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamuAy. Abdullah bin al-Mubarak . afat 181 hijria. AuSanad merupakan bagian dari Tanpa sanad niscaya siapapun akan berkata bebas tanpa pertanggungjawaban dari apa yang disampaikannyaAy (Ismail, 2. Beberapa kalangan menerangkan bahwa keberadaan sistem sanad dalam Islam merupakan sebuah keistimewaan. Penelitian pada seorang pembawa informasi sebagai bagian unsur sanad telah terekam di berbagai catatan sejarah, catatan sejarah yang di maksud yakni kitab rijal . ebuah kitab yang dalamnya membahas tentang biografi para ulama khusunya di kalangan ulama hadi. Tahzib al-Kamal. Tahzib alTahzib. Siyar AAolam al-Nubala. Lisan al-Mizan, dan lain sebagainya. Belakangan ditemukan adanya banyak sanad yang keakuratan informasinya lemah atau bermasalah. Akuratnya atau tidaknya sebuah informasi ditentukan oleh pembawa informasi itu sendiri, apakah ia termasuk orang yang terpercaya, kurang terpercaya, atau bahkan tidak dapat dipercaya dengan melihat berbagai komentar-komentar ulama terkait seorang pembawa informasi tersebut (Rahman, 2. Tidak akuratnya sebuah informasi yang sampaikan atas nama Nabi bermula dari adanya keyakinan telah terjadi pemalsuan informasi yang di kemukakan oleh beberapa Analisis Unsur-Unsur SanadA | 172 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin kalangan, di antaranya seperti Ahmad Amin yang menerangkan bahwa hadis Nabi terkait ancaman bagi yang menjual nama Nabi untuk kebohongan disinyalir sebagai dugaan telah terjadi penyelewengan informasi di zaman tersebut, sehingga penelitian pada unsurunsur sanad penting untuk di lakukan guna menjaga autentisitas hadis Nabi (Ismail. Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka penting untuk memperhatikan para rawi sebagai bagian mata rantai periwayatan dalam sebuah hadis. Sebagai alur logis berjalannya penelitian ini, maka perlu dirancang kerangka Al-QurAoan merupakan peninggalan besar Islam yang sangat di jaga kualitasnya dari masa ke masa sejak para sahabat Nabi mulai melakukan pembukuan lebih awal terhadap ayat-ayat yang turun, hingga mengalami proses perbaikan dalam penyusunannya hingga menjadi al-QurAoan yang kita kenal. Hal ini sangat berbeda dengan hadis yang dimana pembukuannya dilakukan jauh setelah Nabi wafat sehingga banyaknya peristiwaperistiwa yang mewarnai perkembangannya mulai dari hafalan, tulisan, hingga sampai ke dalam sebuah kitab (Sholeh, 2. Al-QurAoan yang proses periwayatannya berjalan secara mutawatir sehingga kebenaran yang terkandung kuat . atAoi al-wuru. , sedangkan hadis tidak semua melalui periwayatan mutawatir, bahkan kebanyakan dari hadis-hadis tersebut diriwayatkan secara ahad . anni al-wuru. sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui kebenaran dari hadis tersebut. Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa sanad merupakan unsur hadis yang tak lepas dari penelitian guna untuk menjaga sumber yang terpercaya dan memisahkan antara sumber informasi yang akurat dan tidak akurat. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan penulis pada penelitian terdahulu nampaknya ditemukan beberapa karya ilmiah yang membahas tentang sanad, misalnya penelitian yang dilakukan oleh Wely Dozan. Muhammad Turmuzi, dan Arif Sugitanata tentang Konsep sanad dalam perspektif ilmu Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Saehudin tentang kedudukan sanad menurut para Ulama klasik, dan tulisan dari Sahiron Syamsuddin tentang kaidah kemuttasilan sanad hadis. Penulis berpandangan bahwa beberapa karya ilmiah yang menjadi penelitian terdahulu memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang ada dalam tulisan Persamaannya adalah sama-sama mengkaji sanad tetapi dengan variabel dan pola pendekatan berbeda di setiap karya ilmiah. Perbedaan tulisan ini dengan beberapa tulisan terdahulu yang membahas sanad adalah pada tulisan ini penulis fokus membahas unsurunsur dalam sanad seperti nama pembawa informasi . , cara pembawa informasi menyampaikan informasinya . , dan deretan jumlah pembawa informasi dalam suatu berita yang di sampaikan . ilangan raw. Penulis juga akan membahas beberapa kasus kekeliruan yang mungkin terjadi dalam melakukan penelitian sanad tanpa memperhatikan unsur-unsur sanad secara teliti dan mendalam. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademis bagi yang mendalami kajian ilmu hadis, dan harapannya dapat direalisasikan dalam penelitian lanjutan yang lebih luas dan spesifik (Ramadhan & Alif, 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangsih pemikiran bagi kalangan mahasiswa ilmu hadis untuk lebih memperhatikan unsur-unsur dalam sanad hadis agar tidak terjadinya Analisis Unsur-Unsur SanadA | 173 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin kekeliruan dalam penentuan kualitas sanad hadis, sehingga dalam melakukan penelitian hadis mahasiswa akan lebih teliti dalam melakukan penelitian hadis. METODE PENELITIAN Metode penelitian pada tulisan ini yaitu library research, yakni penelitian yang memakai buku untuk menjadi rujukan dalam mendapatkan informasi ataupun data yang relevan dengan penelitian, serta memakai kitab hadis sebagai sebuah rujukan dalam melakukan analisis terhadap hadis yang akan dikaji permasalahannya. Secara garis besar data-data yang tercantum pada tulisan ini diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, hingga tulisan yang mempunyai relevansi dengan persoalan yang dikaji. Penelusuran hadis ke dalam kitab sumber urgent untuk dilakukan, sebab dalam mengkaji sebuah hadis diperlukan sistematika yang spesifik dan kompleks untuk dapat melacak, menghimpun, hingga mengkaji sebuah hadis agar dapat dianalisis secara khusus dan mendalam, analisis terhadap sebuah hadis takkan berjalan maksimal bila pada penelusuran hadis tidak dilakukan secara maksimal pula (Setiawan. Taufiq, & Sakka, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Unsur-unsur Mata Rantai Periwayatan Menurut Syuhudi Ismail, hadis-hadis yang terdapat di berbagai kitab primer tidak hanya menghimpun perkataan, perbuatan, atau persetujuan Nabi saja, lebih dari itu hadishadis tersebut di dalamnya terkandung nama orang-orang yang menyampaikan berita . , dan berita tersebut di turun-temurun dari satu orang ke orang yang lainnya dengan istilah tahammul wa al-adaAo yang disampaikan dengan metode berbeda atau diistilahkan Secara praktis, unsur-unsur dalam suatu mata rantai periwayatan di klasifikasikan menjadi tiga, yaitu: Nama Rawi Nama rawi pada umumnya terdiri menjadi tiga bagian, diantaranya adalah Kunyah atau nama panggilan yang diberikan kepada seorang rawi seperti Abu Bakar. Abu Hurairah. Ummu Salamah, dan lain sebagainya. Contohnya Ibnu Juraij memiliki dua kunyah yakni Abul-Walid dan Abu Khalid sehingga bila kita mendapati suatu hadis yang dalam satu sanadnya ada Ibnu Juraij, di sanad lain ada Abul-Walid, dan di sanad lainnya ada Abu Khalid maka hendaklah di periksa terlebih dahulu. Kemudian Laqab, yaitu nama yang digelarkan kepada seseorang. Laqab ini perlu diperhatikan karena bila tidak akan menjadi kekeliruan, contohnya seperti Abdullah bin Muhammad bin Yahya al-Tarasusi yang digelari al-DaAoif . rang yang lema. karena lemah badannya lantaran banyak Dan Nasab, yaitu nama negeri, kabilah, nama peperangan, tempat, atau suatu Nasab ini pada umumnya mengindikasikan status umum seorang rawi seperti asalnya atau golongannya (Al-Tahhan, 2. Sigat Sigat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam sanad sebab perannya sebagai sebuah bentuk yang menggambarkan penyampaian informasi dari satu orang ke orang yang lainnya. Bentuk sigat pada umumnya menggambarkan pada beberapa metode Analisis Unsur-Unsur SanadA | 174 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin penyampaian riwayat, yaitu al-SamaAo, al-Aoard{, al-Ijazah, al-Munawalah, al-Mukatabah, al-IAolam, al-Wasiyat, dan al-Wijadah. Contoh bentuk penyampaian informasi yang tercantum dalam rentetan periwayatan diantaranya A aacaIaA. A a ea aIaA. A a ea aIaOA. AA a A aI eA a , dan sebagainya (AoItr, 1. Jumlah Rawi Jumlah seorang rawi dalam satu sanad akan memberikan pengaruh tertentu terutama terhadap kualitas sanad maupun matan yang diriwayatkan. Panjang pendeknya sanad dalam ilmu hadis masuk pada pembahasan al-AoAli . anad yang jumlah rawinya sediki. dan al-Nazil . anad yang jumlah rawinya banyak dibandingkan sanad yang Banyaknya seorang rawi dalam hadis akan memberikan pengaruh terhadap matan hadis yang disampaikan, apakah susunan teks dalam matan tersebut bertambah, berkurang, ataupun berubah. Jumlah rawi yang sedikit dalam sebuah sanad hadis kemungkinan akan dapat menjaga susunan teks hadis sebagaimana susunan dari yang diterima oleh Rasulullah Saw (Al-Rasikh, 2. Mengetahui jumlah rawi dalam sebuah sanad hadis penting, akan tetapi kuantitas tidak menjadi jaminan bahwa setiap hadis yang tersebar tersebut dapat terjaga secara Namun, dengan mengetahui jumlah rawi yang berada dalam sanad disertai pengetahuan terhadap sejarah higga kredibilitas rawi tersebut maka sudah cukup untuk meyakinkan bahwa apa yang bersumber dari rawi tersebut dapat dipercaya dan diakui Tiap rawi dalam sanad hadis sangat perlu untuk diketahui biografinya. Analisis Nama Rawi Nama rawi menjadi aspek utama ketika ingin meneliti suatu kualitas sanad, namun hal ini akan menjadi rumit bila salah seorang rawi pada sanad tidak dapat diketahui dengan pasti. Berikut salah satu contoh hadisnya: a a a a ca a a a a ca a a a ae a a ca a a a a a e a a a e a A I sE aII EAO a I aOAUA eI aO IAUA aI E aeO aOAUAOEA A I au eIA:A CEAUAIA AI aIacIE e aI aNA a a ca a aa a ca a ca a a a a a a a a e a a ca e a ca A auE aOE eOAUA aOE eI a auEO eI a sAUA E aOA a aOI aE auEO a sEA:AacEE E eONa aO aE aIA AacEE AEOA a A CE OEA:A CEAUAN aO aA AaO aEA Muammal bin Hisya>m telah menceritakan kepada kami. IsmaAoil telah menceritakan kepada kami, dari al-Jurairi, dari Abu Na. rah, dari seorang laki-laki dari Tufawah, dari Abu Hurairah ia berkata. Rasulullah saw. AuSeorang laki-laki tidak boleh tidur dengan laki-laki lain dalam satu selimut, dan seorang wanita tidak boleh tidur satu selimut dengan wanita lain, kecuali anak atau orang tuaAy (Ab DAud, 1. Sekilas tidak ada yang kelihatan janggal pada sanad hadis di atas, hingga terdapat satu orang rawi yang dalam sanad tertulis Auseorang laki-laki dari tufawahAy sehingga hal ini membuat bingung karena laki-laki mana yang di maksud dari tufawah tersebut. Bila seorang rawi tidak diketahui dengan pasti namanya maka akan sulit untuk mengetahui Istilah untuk keadaan sanad pada riwayat di atas disebut mubham yaitu suatu nama yang disebutkan dalam sanad tanpa diterangkan secara jelas. Riwayat dari orang yang mubham tidak boleh diterima selagi tidak disebutkan namanya secara jelas karena Analisis Unsur-Unsur SanadA | 175 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin syarat-syarat hadisnya tersebut dapat diterima yakni diketahui kredibilitas rawinya. Bagaimana kredibilitas rawi dapat diketahui bila namanya samar dan tidak jelas? (Ghouri, 2. Berikut contoh sanad hadis lain dari Sunan Abu Daud yang mengandung rawi mubham: a a a ca a A a eIAUA a eI aI aacI eI E aI eIEAUA a eI aI aEEAUaca aI E aC e aI acOA UA I aAUA eI a sE aI aN a aOAUAO e aI a eO sA a a a a a a a a a a ca ca a e a e a a a AEIO aAEOA a a a e a A EOI ENA AOA a A aN I a aOEAUAacEE E eONa aO aE aIA s A I aII I aA:AacEE AEO acEE EONa OEI CEA a a a ca a a e aa aa a e a U a a U a a a aa a a a a A aOEI I eO aIN E eONa ACAU aA auE E a a EN a AE aNAUA aO aE aN E eO aN I eO UIAUAAE aE eO sEA Al-QaAonabi telah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Mu. ammad bin alMunkadir, dari SaAoid bin Jubair, dari seorang laki-laki yang ia ridai, bahwa AoAisyah istri Nabi saw. telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah saw. AuTidaklah seseorang yang terbiasa mengerjakan salat malam, kemudian ia tertidur . idak mengerjakanny. , melainkan akan dicatat baginya pahala salat malam, sementara tidurnya itu merupakan sedekah untuknyaAy (HR. Abu Dau. Melalui dua contoh di atas maka dapat diketahui bahwa suatu sanad yang dalamnya terdapat seorang rawi yang mubham maka sanadnya tidak dapat diterima selama seorang yang sama tersebut tidak dapat di ketahui secara jelas namanya. Perlu diketahui bahwa penolakan pada hal yang mubham itu hanya pada aspek sanad, pada matan hadis bila sanadnya terjaga maka sifat mubham tersebut tidak menjadi masalah karena bukan pokok utama pembahasan sehingga yang menjadi titik utama untuk menilai kualitas dari sebuah hadis yaitu kejelasan dari pembawa berita. Aspek lain yang tak kalah penting dalam melihat nama rawi adalah membedakan nama rawi yang kelihatan mirip, dalam hal ini penulis mendapatkan satu contoh kasus pada sanad hadis yang terdapat di kitab Musnad Ahmad bin Hanbal: a e a a a a ca a a a a a a a a a aca aI u e aNA UA eI e aOAUA eI AA aOI e aI aE eO sIAUA eI a aI e aI eO sAUA I e aI aI a a sEA:AOI e aI au eC CEA a a a e ca ca ca ca a a a a a a a eaa a a e a ea e a a a a ca UAO A aC aNA A OO aAUA auI aI eI aO eI aI EI a O aO a aNA:AacEE E eONa aO aE aI CEA AacEE AEOA a A I a aOEAUA eI aA a AaO a eOA AO a a aI aNA Ibrahim bin Ishaq telah menceritakan kepada kami. Ibnu Mubarak telah menceritakan kepada kami, dari Usamah bin Zaid, dari Safwan bin Sulaim, dari AoUrwah, dari Aisyah bahwa Rasulullah saw. AuSesungguhnya di antara kebaikan seorang wanita adalah mudah dipinang, mudah maharnya, dan mudah rahimnyaAy . nbal, 1. Bila kita melihat rawi pada rentetan sanad, maka tidak ada masalah yang terlihat namun kebingungan akan mulai nampak ketika kita mengarahkan perhatian kepada seorang rawi bernama Usamah bin Zaid. SyuAoaib al-Arnaut berkata: a/aa"A OC A EE I O AO "EIENA. A ONO EEOOAUA I I OAUAuIN IA Penulis menemukan adanya perbedaan pendapat ulama mengenai Usamah bin Zaid yang dimaksud. Imam Nur al-Din al-Haisami berkata dalam kitabnya (Al-Haisami. Analisis Unsur-Unsur SanadA | 176 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin ca ca a ca ca ca a a a a e a a AO aA aC aN aO a eOA a AO e a aN aO a eOA a A uacI I eI aO eII eE aI e a eOA:AacEE a aE eO aO aacE aI aC aEA AOA AI a I EIO AEOA aANA a a a a A aO aCacO a aE aN aCAUA aOC aOaCAUA aON aO aOAAUA aO aAONa a aI e aI eO a e aI eE aIAUA a aO aN aIA. Aa a aI aNA Terdapat dua orang rawi yang bernama Usamah bin Zaid yaitu Usamah bin Zaid al-Laisi dan Usamah bin Zaid bin Aslam. Keduanya juga merupakan murid dari Safwan bin Sulaim (Lihat: Riwayah al-Tahzibai. Akhirnya adanya perbedaan pendapat ulama terkait kualitas sanad sebab perbedaan perawi yang dimaksud, namun SyuAoaib al-Arnau. memberikan penguat bahwa apa yang ia yakini dari penjelasan Ibnu AoAdi dalam kitabnya AuKamilahAy. Fenomena ini dalam ilmu hadis di sebut al-Muhmal yaitu suatu keadaan bila sebuah hadis yang berasal dari seorang rawi yang memiliki kesamaan nama atau sesuatu dengan rawi lain sehingga tidak dapat dibedakan. Bila akhirnya dapat dibedakan rawi yang sama tersebut maka hilanglah muhmal-nya. Penentuan rawi yang tepat perlu di lakukan dengan melihat berbagai komentar ulama pada kitab-kitab rijal terkait dua rawi yang kelihatan sama tersebut agar adanya bukti-bukti konkrit rawi yang tepat dalam sanad tersebut. Penulis beranggapan bahwa contoh kasus pertama dan kedua yang berkaitan pada analisis nama rawi mengajarkan hal penting, yakni ketelitian dalam menghimpun seluruh jalur sanad untuk melihat setiap rawi di tiap sanad hadis. Perlunya banyak membuka kitab-kitab untuk melihat pandangan ulama terkait suatu hadis. Keterbatasan dalam menghimpun seluruh riwayat hadis akan mengakibatkan kekeliruan dalam menilai kualitas sebuah hadis. Penelusuran berbagai kitab-kitab hadis menjadi penting dilakukan, sebab selain menghindari kekeliruan pada proses penelitian sekaligus memaksimalkan temuan-temuan dalam meneliti suatu hadis yang dikaji. Analisis Sigat Memperhatikan lafal sigat untuk menentukan kualitas sanad hadis sangat diperlukan dengan tetap merujuk kepada pandangan dan komentar-komentar ulama tentang seorang rawi. Berikut contoh sanad hadis riwayat Ahmad bin Hanbal yang akan di analisa dari ketersambungan sanadnya: a a a e a e a a e a ca ca a a ca a a e a e a a a ca a a e a ca a A a eI aI eAUA aac aIO OAUAO e aI a e a A I II aA:AOA AIA AIA AEA AIA AI EE I IEA s AO aI E aA a a a a a a e a a a e a a aa ae a a a a a aa e a a a a a ca a a a a a e a e a a e a e ca A aI OEA:A ACE IIAU aA OO I OON EO NO aNAUA AE aN EI EAUAI O aIO I a EI aOI aA a a ca aa a ca a ca U Ue aa a a a e ca e AacEE EN aO aAO EI a aIENA A aIOAUAacEEA AacEEa AEOA a a A " aI eI aIO aI e aA:A aOCOEAUAacEE E eONa aO aE aIA Berdasarkan salah satu pendapat ulama yakni SyuAoaib al-Arnaut mengatakan bahwa sanadnya sahih: A OO OI II OC EE IAUA OEAUA OIEIAUA ON EIOA. AuIN AO EO IEIA A N EuIAUAIEA Menurut Imam Muslim sanad dapat di katakan bersambung bila adanya kemungkinan bertemu bagi kedua rawi dalam kurun waktu yang sama . dan Analisis Unsur-Unsur SanadA | 177 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin tempat tinggalnya tidak saling berjauhan (Yaqub, 2. Untuk membuktikan pendapat ulama dan membutikan lafal sigat yang di gunakan oleh rawi dalam menyampaikan riwayat maka perlu melakukan penelusuran terkait kehidupan antara rawi yang satu dengan yang lain. Penelusuran penulis menyimpulkan beberapa hal, yaitu: Tiap rawi dalam sanad memiliki hubungan guru-murid melalui pengakuan hubungan guru dan murid dalam kitab rijal. Rawi dalam sanad memiliki kepastian kuat bertemu, misalnya antara Ahmad bin Hanbal dengan Abu Asim al-Dahhak bin Makhlad yang pertemuan keduanya diterangkan oleh al-Mizzi dalam kitabnya (Al-Mizzi, 1. a a a a a a a a A aI eI IE I I II IA:A I a AI CEAUA eI IacI eI OOIAUACE IacI eI uC ECAOA A ON OI EACNA Antara rawi satu dan rawi lainnya dalam sanad bertempat tinggal tidak jauh antara guru dan murid. Ahmad bin H. nbal dan Abu AoAsim di Bashrah. AoAbdul Hamid bin JaAofar. JaAofar bin AoAbdullah . Mahmud bin Labid, dan AoUsman bin AoAffan keempatnya di Madinah (Al-ahabiy, 1. Berdasarkan penelusuran langsung ke beberapa kitab, maka lambang-lambang sigat dapat dibuktikan dengan diperkuat pendapat ulama serta temuan-temuan yang di dapat yang berkenaan dengan teori Muslim tentang persambungan mata rantai Komentar atau penilaian dari seorang ulama terhadap seorag rawi sangat penting untuk dipertimbangkan, sebab seorang ulama dalam menilai seorang rawi tentunya memiliki ilmu yang luas serta bersumber dari banyak informasi yang didapatkannya, baik melalui guru, keluarga, kerabat, hingga murid juga termasuk orang yang belajar terhadap rawi yang dinilai. Anaisis Jumlah Rawi Jumlah rawi dalam sebuah sanad penting untuk di perhatikan, sebab panjang pendeknya sebuah sanad akan mempengaruhi kualitas hadis. Berikut contoh hadis dengan sanad yang panjang bahkan yang paling pendek terdiri dari 3 orang rawi, sebagai berikut: a a a a ca a a a ca aA aO aI eI Oa e a eI aO eINAUAacEEA a ca A aO aI eI Oa e a eA eA aOacA aNAUAOI eIO I eI a eO aA aE eI ac a aN a eIE eIA AacEE aO aI eI aOA eA AI OEA a a a U a a U a a e a a a ca a e a a e ca A eO U aO eO a a aI aI EA aA A OI aO AUAOA aN acEEA AuKebaikan . yang ada padaku niscaya tidak akan aku simpan dari kalian. Barangsiapa ingin dipelihara dari meminta-minta, nicaya Allah akan memeliharanya. Barangsiapa meminta untuk diberi kecukupan, niscaya Allah akan mencukupkannya. Barangsiapa berusaha sabar, niscaya Allah akan menjadikannya sabar, dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran. Ay Penulis kemudian menghimpun seluruh sanad hadis sebagai berikut: Sahih al-Bukhari (Al-BukhAriy, 1. ca a a e a a a a e ca a e a a a ca a a U a a e a a e a AOA A aI aI aNAUA I I aEEAUAOAA AacEE I OA a AI A s A I aO aAUA I a aI O aO EEO aOAUAA ca a ca a a a a a a a e a a ca a a e a a a a ea a A aacI aEAUAN eIA a ca AEa eO a aOA U A uacI aIA:AacEE a eI aNA UAONA A AAUAacEE AEO acEE EONa OEIA a A aI aI EIA a EO OEA a a Analisis Unsur-Unsur SanadA | 178 aL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025AA ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah AminAA a Aa e aA Ae a a a aA Aa a acA a Aa a eA Aa a e a a e aac a a a a a a e a a a ac a aA AONA UAAN eI O I aA aI aI aNA UAACEAa :AI aOEOI aI aO aI eI eO s AE eI a a aN IE eIAa UAO aI eIA AANIA UAI EA a a a Aac a a a e a a a ac e a a e a ac a a a e a a U a a U aA AeA Aa aeA AOa e a eA eA aOacA aN ac aA A eO U aO eO a a aI aIA AacEEAa UAO aI eI O e aI aO aINa acEE OII OA OA aN acEEA UAOI aO A a a Aac eA AEA aA. Aa ac aA Aa a aA a Aa aA Ae a a a acA Aac eA a Aa ac aA Aa aA Ae aA Ae a a a eA Aa aA a a a a AeA AUA a AacA AOA AIA UAI OA UA aI EN a aOA UACEA :A aIO I O aO EEO aOA UAI a sA AI O EOI aA Aa aA a Aa a a e a a ac a a a e a a e a a a U e a e acA Aa a a a a a ac a acA Ae a a a ac aA Aa eA Aae aA a AUA AeA AacEE AEO acEE EONa OEIA UAAEI OEN aIINI auEA AE a acOA UANA :AI I aII EIA a EO OE aA a a a a a a aA Aa a a a ac aA Aa acA a AeA a Ae aA Aa ac a aA Aea aA Ae aA A aN O I aA aI aI aNA UAACE E aN eI aOI I aA EE eO s IAC a aO eONa Aa :AI aOE eI aI aO aI eI eO s E a e aNA a Aac a a a e a e a e a a U aA AeA Aa aeA AacEEAa UAO aI eI aO a ac e aO aA e aN ac aA Aa eIE eIAa UAOuacI aN aI eI Oa e aacA aOacA aN ac aA A eO UA AacEEAa UAO aI eI O e aI aO aINa acEEA UAOEI O A a a a a a Aa e a a a ac eA AOO aII EA aA. A)A2. S}ahih Muslim . l-Qusyairi al-Naisaburi, n. Ae a a acA Ae a Aa a a aae aA Aa e a aA AEE eOOAa UAIeA a AeA aca aI aC a eO a a e aI aOAa UA eI aA AOA AOA AIA AIA AAUAA ANA AIA AIA AOA AEA ACA AOIA a AAUAA AIA AIA AEA AEA AIA ANaA a a Aa sA a AsA a a AsA Aa aA a Aa aA a a a a a a a Aa a a a aA Aa acA Aa a a e a a ac a a e a aA Aac aA Aea eA Aa e ae aA AN eIAa UAacI aEONaA AUA a AO E aOA UAI I aII EIA a EO OE acEEa AEO acEE EONa OEIA Ua A aO a sA a a a a a e a aA AN eIAa UAacO u a aIA a aI eI a aN aC aEAa :AI aOE eI eIO I eI a eO aA aE eI ac a aN a eIE eIAa UAO aI eI Oa e a eA eA aOacA aN aA AacEEAUAA a Aa aA a a a a a Aa aA AsA a a a AeA a Aa UA Aac eA Aa aA AacEEAa UAO aI eI aO eA e aO aA e aN aA AaO aI eI Oa e a eI aO eINa aA AacEEAa UAO aI a aO aI eI s eO U aO eO a a aI aI EA aA. a a a a AA3. Sunan Abu DaudAA a Aa acA Aa ac a a a a acA a Aea eA Aa a aA AacEE e aI aI e aE aI a UA eI aIEEAa UAI eI aA a AO E aOAUAA AA UA eI a e aI aO aO EE eO aOA UA eI aO aA ANA AI e aA a AsA a AsA AsA a a a a a Aa a a a a a ac a acA Aa a a e a a ac a a a e a a e aac a a a a a a e a a e a ac a a a aA Aac aA Aa e ae aA AUA AacEE AEO acEE EONa OEI ANIA UAI EON ANIA UAO au IAA AI I aII EIA a EO OE aA a a Ae aa a a a a a aA AacEEAa UAO aI eI Oa e a eI aO eINa ac aA AOI eIO I eI a eOAa UAA aE eI ac a aN a eIE eIAa UAO aI eI Oa e a eA eA aOacA aN ac aA AacEEAUAA AaINA UACEA :AI OEA a a a a a a a AsA a a Aac aA a Aa a UA Aac eA Aa aA Ae aA AaO aI eI aO a ac e aO aA e aN ac aA AacEE aI eI s eO a a aI aI EA aA. AacEEAa UAO aI OA a A)A4. Sunan al-Tirmizi (Al-Tirmiiy, 1998AA a Aac a a a ac a a a e U a a a ac a a a a e a a aA Ae a a aA Aac eA a Aa e a aA Aa ac a a a e aA AeA AI EIA aOA UACEA :AI IIA UACEA :AI I aEE I I sA UA aI EN aOA UAI a aI O aOA UAI aOA a a Aa a a ac ac a ac ac a a a e a a ac a a a e a a e aac a a a a a a e a aA Aac aA Aa ae aA AN eIAa UAacI aC aEA :AIaA AUA a AOA UAI I aII EIA a EO EIO AEO acEE EONa OEI ANIA UAI EON AA A a sA a a a Aa a aA AacEEAa UAO aI eI aO a aceA AacEEAa UAO aI eI Oa e a eA eA aOacA aN ac aA AOI eIO I eI a eO aA aE eI ac a aN a eIE eIAa UAO aI eI Oa e a eI aO eINa ac aA AOEA a a a a a a a AsA a a a a a AeA Aa U a eU a aA AU a eA AU aA Aac eA a Aa a aA AaO aA e aN ac aA AacEEAa UAO aI a aO O N aO eO U aO eO a a aI aI EA a . AON aO a UI A aO aOC a aO aO eIA a Aa a a aA Aa a aA Aa aa aA AeA a a Aa aA Ae acA Aa UA a AeA Ae a e e a a e aA a Aa e aA a Ae a a a a e e a a aA A aOCOEA :AE eI a aNA AE N E aOA :AAEI aN IEIA UAOO eOO INA :AAEI a aN IEI OEIIO aAONa O aA AI aE sA Aa e aA AIE eIA. analisis Unsur-Unsur SanadA | 179AA AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin Sunan al-Darimi (DArimiy, 2. e ae a ae a e a ca a a e U a a a ca a a a e a a A a eI eI AUAEA a A a eI OAUAEE eOOA AOA AOA AOA AIA AIA ANA AEA AIA AIA AEA AIA AEA AI EE aI IA s a s a a aa a a a aa a ca a ca a a a a a a a a e aa aa a a e a a ca ca a a ea e U A acI aIAUAEa eOA A OAUA acI aEO AN eIAUAacEE E eONa aO aE aI AN eIA AacEE AEOA a A aI aI EIA a EO OEA a a e a e a e a a a ca a ca a e e a e a e a a e a e a a a ca e a a e a e e a a a a a a a aa e a a a A OII O aIAUA OII O a O aAN acEEAUA AEI aN IEIAUA I OEOI aI aO aII O sA:Aau I aA I aIN ACEA e ca a a a e a U e a a a U a a U a a e a a a ca a e a a e ca a a a e a a a ca A OI aO NO O OO aII EA aAUA OII OA OA aN acEEAUAaO aINa acEEA Musnad Ahmad bin Hanbal a a ca a a e e ca a U a e a aa e e ae ca ca a e a a a ca a a a e a :AO E aO CEA A I aO aAUA I a aI O aO EEO aOAUA aI EN aOAUA aIO IIAUACA a AI EA a ca a a aa a a e a a a a a a e a a ca a e U a a a a a a a a a a a e a ea e U A aIA a a UA AE E O eEN aII aN eI auE aN O I aA aI aI aNA:A CEAUA AN eIAUAONA A aI aI EIA a AEA a A aOuacI aN aI eI Oa e a eA eA aOacA aNAUA aO aI OE eI eI a aI I eI a eO aA aE eI aIac a aN a eIE eIA:AOI eI aA aC aEacE a eO aONA e a aC aE E aNA UAacEEA AIA a a s a U a a e a e a e a a a e a a e ca a a a e a a a ea a e ca A eO U O eO a a aI aI EA aA A OEI O AUA OII OA OA aN acEEAUAaO aI eI O e aI aO aINa acEEA Muwatta Malik a a a aa a ca a a U e ae a e a e a U a ca a a a AO E aOu I I aII EIA a EO OEA A eI aO aAUA eI a e aI aO aO EE eO aOAUAA AaI aEE aI e aI a aNA a e a a a a a a a caa a a e a e a a ca a e a a e a a eAO aIIA. a AE eIA A I OEOI aI aO aII O s IA:A I CEAUAacEEa AEO acEE EON OEI ANI O I aA I aINA e ea a a a U a a U a a e a a a a e a a e ca a a a e a a ea a a ca A N aO eO U aO eO a a aI aIA AO e a aO aAN acEE aO aI eI O e aI aO aINa acEE OII OA OA aN acEE OI aO A e ca AEA aA Setelah seluruh sanad hadis telah di himpun dari berbagai kitab, penulis mendapati bahwa sanad hadis riwayat Tirmidzi sebagai sanad terpanjang untuk hadis ini sehingga di kategorikan sebagai sanad nazil. Sanad dengan jumlah rawi paling sedikit atau terpendek yaitu sanad hadis riwayat Imam Malik sebagai sanad ali, untuk lebih jelasnya dapat dilihat skema sanad hadis di halaman selanjutnya. Setelah penulis melakukan penelusuran, tidak ditemukan suatu perubahan matan secara signifikan yang disebabkan panjang pendeknya sanad, akan tetapi dalam riwayat Tirmidzi terdapat keterangan dari Imam Tirmidzi bahwa hadis tersebut berkualitas hasan sahih, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Tirmidzi sebagai berikut: a e a a a aa eaa a a aa e a a a a a a e aa U a U a a U a a a a UA AEI N IEIA:AE N E aOA s A ON aO I A aO OC aOO I I aEA. A I I sA a AO aAO EA a a a a a e a a U a a e a e a e a e a e a ca e a a a e a a ea a a A E eI a aN IE eIA:A aOCOEA AOA AOA AIA AIA AEA AOA AIA AEA AIA ANA a a ONA a A AEIA:Ao INA Penelitian ini telah memberikan tambahan pengetahuan baru dalam menganalisis mata rantai periwayatan pada penentuan kualitas sanad hadis. Penentuan kualitas sanad pada akhirnya tetap berfokus dengan kaidah-kaidah yang telah di susun oleh ulama, dan penelitian ini mencoba menyentuh bagian terluar dari penelitian sanad hadis yang mungkin akan memberikan informasi-informasi sederhana terkait hal-hal kecil yang perlu Analisis Unsur-Unsur SanadA | 180 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin diperhatikan dalam penelitian yang mungkin dapat berubah atau adanya temuan-temuan a a a Aa aOa a a a eA a a a aa e a a a a aa ac e aOA a Ae a a a aA Aa e aIA a e a aa Aa a a aIA aa Aaea ac aa e a A a e a a e a a a A a Aa eA aa Aaea ac aa e a a e a aIA aa a Ae a a a e a eI aA aa ca Aaea acA a a Aa eI a A Gambar 1. Skema Sanad Hadis KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa adanya analisis mata rantai periwayatan pada penentuan kualitas sanad hadis. Setelah melakukan analisis pada unsur-unsur sanad hadis seperti nama rawi, sigat, dan jumlah bilangan rawi penulis melihat bahwa setiap dari unsur-unsur sanad hadis tersebut perlu penelusuran ke berbagai kitab-kitab untuk membuka lebih dalam analisis terkait keadaan sanad hadis. Analisis pada nama rawi hendaknya dilakukan dengan membuka banyak kitab-kitab rijal, begitu pula dengan sigat yang perlu untuk melihat adanya hubungan guru murid dengan adanya saksi dari berbagai pemaparan ulama dalam kitab-kitab. Analisis jumlah rawi dalam sanad memerlukan akses berbagai kitab tanpa membatasi penelusuran hadis hanya pada kitab-kitab tertentu guna untuk melihat rangkaian panjang pendeknya sanad hadis walaupun penentuan kualitas hadis hanya dengan melihat jumlah rawi dalam sanad masih Analisis Unsur-Unsur SanadA | 181 AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadist Studies. Vol. 6 No. 2 Desember 2025 Ahmad Siddiq Setiawan. Muhammadiyah Amin perlu pendalaman analisis. Penelitian ini merekomendasikan kepada kalangan akademisi bidang hadis untuk mengembangkan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA