Fropil Vol. 11 No. 2, (Desembe. 2023 DOI: https://doi. org/10. 33019/fropil. EVALUASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN ARSITEKTUR, MEKANIKAL. DAN ELEKTRIKAL PADA GEDUNG HOTEL X DI KOTA PADANG Hanif SUFRAN1. Muhammad Ilham MAULANA1. Rahmi HIDAYATI1. Merley MISRIANI2*. Jumyetti3 Jurusan Teknik Sipil. Politeknik Negeri Padang. Padang, 25166. Indonesia Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Riau. Pekanbaru, 28293. Indonesia Jurusan Administrasi Niaga. Politeknik Negeri Padang. Padang, 25166. Indonesia Email korespondensi: merley. misriani@eng. iterima: 18 November 2023, disetujui: 08 Desember 2. ABSTRACT Based on the results of field inspections, damage to architectural, mechanical, and electrical components was found in several rooms of Hotel X in the city of Padang. West Sumatra. Indonesia. Lack of maintenance is one of the causes of damage to hotel building components. Good maintenance management can reduce repair activities that cost more due to injury. This study aims to evaluate the maintenance management of hotel buildings that have been carried out so far. In this study, researchers conducted surveys and interviews about hotel maintenance management. The survey and discussions focused on the hotel's Standard Operating Procedures (SOP. for each component reviewed. After obtaining the hotel SOP, the researcher analyzed it by comparing the hotel SOP with the Minister of Public Works Regulation No. 24/PRT/M/2008 as a standard in the implementation of building maintenance. From the results of the conformity calculation carried out, the conformity results in each component are architectural components with an average conformity result of 92,61%, mechanical parts with an average conformity result of 94,44%, and electrical components with an average conformity result of 100% of a maximum weight of 100%. This percentage of conformity weight shows that the hotel's maintenance management concerning the Ministerial Regulation is quite good. Still, to further optimize maintenance activities until 100%, it is necessary to plan better standard operating procedures, cost planning, and maintenance schedules to support implementing Hotel X building maintenance in the future. Key words: Evaluation, maintenance management, hotel building, conformity weight INTISARI Berdasarkan hasil inspeksi di lapangan, ditemukan beberapa kerusakan komponen arsitektur, mekanikal, dan elektrikal pada beberapa ruangan hotel X di kota Padang. Sumatera Barat. Indonesia. Kurangnya pemeliharaan menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan pada komponen gedung hotel. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, dapat mengurangi kegiatan perbaikan yang memakan biaya lebih akibat terjadinya Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi manajemen pemeliharaan bangunan hotel yang selama ini sudah terlaksana. Pada penelitian ini, peneliti melakukan survei dan wawancara terkait manajemen pemeliharaan hotel. Survei dan wawancara terfokus pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dimiliki pihak hotel untuk masing-masing komponen yang ditinjau. Setelah didapat SOP hotel, peneliti melakukan analisa dengan membandingkan SOP hotel dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 sebagai standar dalam pelaksanaan pemeliharaan bangunan gedung. Dari hasil perhitungan kesesuaian yang dilakukan, hasil kesesuaian pada masing-masing komponen yaitu komponen arsitektur dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 92,61%, komponen mekanikal dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 94,44%, dan komponen elektrikal dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 100% dari bobot maksimal 100%. Persentase bobot kesesuaian ini menunjukkan bahwa manajemen pemeliharaan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan mengacu pada Peraturan Menteri bernilai sangat baik. Namun, untuk lebih mengoptimalkan kegiatan pemeliharaan hingga bobot 100%, perlu perencanaan standar operasional prosedur, perencanaan biaya dan jadwal pemeliharaan yang lebih baik untuk menunjang pelaksanaan pemeliharaan gedung hotel X dimasa yang akan datang. Kata kunci: Evaluasi, manajemen pemeliharaan, gedung hotel, bobot kesesuaian. Sufran et al. Evaluasi Manajemen. PENDAHULUAN Suatu bangunan memiliki masa waktu dalam penggunaannya. Tetapi bangunan bisa mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya meskipun masa waktunya belum Agar bangunan tidak mengalami kerusakan, diperlukan suatu manajemen pemeliharaan dan perawatan (Prastowo. Rohmat. Manajemen pemeliharaan dan perawatan suatu bangunan merupakan suatu hal yang sangat penting dan memerlukan perhatian khusus karena menyangkut kenyamanan dan keselamatan diri setiap orang yang menggunakan atau tinggal di dalam bangunan tersebut, dan juga bangunan (Kristiana et al. , 2017. Partawijaya et al. , 2023. Soetjipto et al. , 2. Gambaran Gedung dapat dilihat pada Gambar 1 berikut. Suatu bangunan terdiri dari tiga komponen utama yaitu komponen struktur, arsitektur, mekanikal elektrikal dan plumbing (MEP) yang saling berkaitan. Strukturnya menekankan fungsionalitas MEP. Betapapun kuat dan indahnya suatu bangunan, jika tidak ada sistem MEP maka bangunan tersebut tidak akan berfungsi (Ariyanti, 2. Contoh komponen arsitektur adalah dinding, lantai, pintu, jendela, plafon, dan kusen. Contoh komponen MEP . ekanikal, elektrikal dan plumbin. antara lain instalasi listrik. AC, lift, peralatan keselamatan dan peralatan proteksi kebakaran. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ditemukan beberapa kerusakan komponen arsitektur, mekanikal, dan elektrikal pada beberapa ruangan hotel. Dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 3 dan Gambar 4. Gambar 1. Ilustrasi Pentingnya Pemeliharaan Gedung (Sumber: Mulyandari and Saputra. Pemeliharaan yang berkelanjutan dapat mengurangi tingkat kegagalan suatu bangunan, sehingga tingkat kenyamanan dan keamanan penghuni bangunan tetap terjaga, meskipun usia bangunan bertambah (Jalil et , 2014. Rohmat, 2. Pemeliharaan yang berkelanjutan dilakukan tanpa mengubah karakteristik dan fungsi sistem konstruksi setelah konstruksi selesai (Ghani. Hashim and Zamani, 2. Sehingga bangunan yang tertata dengan baik, penggunaan fungsi yang tepat akan memberikan dampak yang baik bagi pengguna dan orang yang melihatnya (Misriani et al. , 2. Gambar 2. Kerusakan Komponen Arsitektur Gambar 3. Kerusakan Komponen Mekanikal Sufran et al. Evaluasi Manajemen. METODOLOGI PENELITIAN Signifikansi Penelitian Gambar 4. Kerusakan Komponen Elektrikal Kurangnya pemeliharaan menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan pada komponen gedung hotel (Misriani et al. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, dapat mengurangi kegiatan perbaikan yang memakan biaya lebih akibat terjadinya kerusakan (Jalil et al. , 2. Pemeliharaan dapat mengurangi biaya operasional dan meningkatkan siklus hidup bangunan (Ghani et al. , 2. Oleh karena itu, kegiatan ini merupakan bagian yang pemeliharaan gedung. Adapun tujuan dilakukan penelitian ini pemeliharaan dan perbaikan yang telah dilaksanakan oleh pihak hotel pada komponen arsitektural, mekanikal dan Pada komponen arsitektural item komponennya yaitu dinding cat, dinding kaca, dinding keramik, lantai keramik, lantai granit, plafon gipsum, dan kusen alumunium. Pada komponen mekanikal yaitu system tata udara (AC), hydrant, dan apar. Pada komponen elektrikal yaitu stop kontak, saklar, lampu, dan CCTV. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan SOP yang dimiliki oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri No. 24/PRT/M/2008 sebagai standar acuan dalam kegiatan pemeliharaan dan perbaikan gedung (Karya. Evaluasi dilakukan agar manajemen pemeliharaan yang selama ini sudah dilaksanakan menjadi lebih baik dan mencegah kerusakan pada masing-masing komponen yang ditinjau. Pada suatu penelitian adanya manfaat yang dapat diberikan, baik bagi peneliti ataupun instansi lain yang berkepentingan padapenelitian Adapun secara umum penelitian ini bermanfaat sebagi berikut: Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan wawasan ilmu pengetahuan. Khususnya dalam mengevaluasi manajemen pemeliharaan gedung hotel. Secara praktis Bagi pihak hotel, penelitian ini dapat bermanfaat untuk evaluasi dan memperbaiki penilaian terhadap manajemen pemeliharaan Pengumpulan Data Pada tahap pengumpulan data, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data utama yang dikumpulkan oleh peneliti dan dikumpulkan langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder adalah data penunjang yang hasilnya sudah ada sebelumnya digunakan untuk melengkapi data Dalam tahap pengumpulan data, peneliti menerapkan beberapa metode: Metode literature Kegiatan yang dilakukan adalah studi literature pada jurnal dan buku yang bangunan gedung. Selain itu, dilakukan studi literature pada peraturan-peraturan yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan konstruksi gedung. Hal tersebut dilakukan agar peneliti mendapatkan sumber yang dapat dijadikan landasan teori dalam penelitian atau sebagai referensi bagi peneliti nantinya dalam melakukan penelitian. Metode observasi Observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan mengamati komponen pemeliharaan yang ada pada hotel serta meninjau bagaimana kondisi dari komponen Sufran et al. Evaluasi Manajemen. pemeliharaan tersebut. Metode wawancara Dalam hal ini peneliti berperan langsung sebagai peneliti lapangan. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terkait dengan manajemen pemeliharaan yang diterapkan hotel serta bagaimana masing-masing komponen yang ditinjau. Metode ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung kondisi yang terjadi pada gedung yang diteliti dan untuk dapat mengetahui bagaimana jenis kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada gedung tersebut. Sedangkan untuk data sekunder dikumpulkan dengan cara menganalisis denah as built drawing, melakukan studi literatur pada peraturan, buku dan jurnal serta menganalisis spesifikasi teknis pada komponen pemeliharaan yang ditinjau. Setelah data-data diperoleh, langkah selanjutnya yaitu dilakukan evaluasi dan perencanaan manajemen pemeliharaan hotel dengan tahap penyusunan antara lain: Melakukan pendataan terhadap komponen pemeliharaan dan perawatan yang terdapat pada hotel. Menghitung bobot kesesuaian metode pemeliharaan dan perawatan hotel sesuai Permen PU No. 24/PRT/M/2008. Metode dokumentasi Dokumentasi yang dilakukan antara lain mengambil gambar kondisi komponen pemeliharaan yang ditinjau. Kemudian, prosedur (SOP), jadwal dan biaya untuk masing-masing komponen pemeliharaan Dokumentasi melengkapi metode observasi dan wawancara sebelumnya. Analisa deskriptif Analisis deskriptif dilakukan berdasarkan Peraturan Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008 Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Gedung. Dari analisa tersebut didapatkan waktu pemeliharaan dan perawatan yang efisien Pengolahan Data dan Analisis Analisis dan pengolahan data dilakukan menggunakan cara deskriptif kualitatif, yaitu data-data yang diperoleh di lapangan dilakukan dengan analisis secara langsung dengan mengaitkan data studi literature. Tahapan yang dilakukan terlebih dahulu adalah mengajukan pertanyaan tentang permasalahan yang dibahas pada penelitian Kemudian, dilakukan pengumpulan data primer dengan cara observasi ke hotel, melakukan wawancara dengan penanggung jawab gedung hotel dan dokumentasi di HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi manajemen pemeliharaan dan perawatan salah satu Gedung Hotel X di Kota Padang dilakukan dengan membandingkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dimiliki pihak hotel X berdasarkan hasil inspeksi dan wawancara dilapangan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008. Dengan menggunakan tabel checklist kesesuaian dapat dengan mudah aspek-aspek pemeliharaan yaitu komponen arsitektur, mekanical dan elektrikal (Hidayat et al. , 2020. Widianto et al. , 2. Evaluasi dilakukan dengan menghitung bobot kesesuaian, dimaksudkan untuk mendapatkan persentase kesesuaian SOP dari pihak hotel dengan Peraturan Menteri PU No. 24/PRT/M/2008 (Hidayat et al. , 2020. Widianto et al. , 2. Dari persentase yang didapat, peneliti dapat mengetahui apakah SOP yang sudah ada memenuhi kelayakan yang ditetapkan peraturan menteri atau tidak. Peneliti menentapkan asumsi penilaian terhadap hasil bobot kesesuaian: 0% - 39% = Sangat Kurang 40% - 59% = Kurang 60% - 79% = Cukup Baik 80% - 100% = Sangat Baik Sufran et al. Evaluasi Manajemen. yayayayayayayayayaya yayayayayayayayayayayayayayayayayayayaya = yayayayayayayayayayaEa yaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaA ycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycNycN yayayayayayayayayayaEa yaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaAyaA ycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycEycE ycAycAycAycAycAycAycAycAycAycAycAycAycAycA ycuycu 100% . Untuk jumlah butir terlaksana dibatasi pada butir pemeliharaan yang sudah dilaksanakan hotel dan yang sesuai dengan isi peraturan menteri No. 24/PRT/M/2008. Dengan menggunakan Persamaan . komponen arsitektur untuk setiap item, lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Kesesuaian Komponen Arsitektur Bobot Item Peraturan Terlaksana Kesesuaia Komponen Menteri n (%) Dinding Cat Dinding Kaca Dinding Keramik Lantai Keramik Lantai Granit Plafon gipsum Kusen Aluminium Total 92,61% sebesar 92,61%. Dari persentase yang diperoleh, peneliti dapat menganalisis bahwa SOP pemeliharaan komponen arsitektur sudah sangat baik dalam memenuhi kelayakan yang ditetapkan oleh peraturan Menteri. Hal ini mengindikasikan bahwa kepatuhan pihak hotel dalam menerapkan SOP pemeliharaan komponen arsitektur cukup Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat perbandingan bobot kesesuaian antara penerapan manajemen pemeliharaan dan perawatan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari setiap item komponen arsitektur. Jumlah Bobot Adapun persamaan yang digunakan untuk menghitung hasil bobot kesesuaian SOP yang ada pada peraturan menteri No. 24/PRT/M/2008 dengan SOP realisasi pada hotel sebagai berikut: Komponen Arsitektur 83,33 Pada Peraturan Menteri No. 24/PRT/M/2008 terdapat 37 butir komponen pemeliharaan arsitektur. Berdasarkan hasil wawancara dan studi terhadap SOP pemeliharaan yang dimiliki oleh pihak hotel ditemukan ada 34 butir aspek pemeliharaan yang terlaksana sesuai dengan peraturan Setelah dilakukan analisis data, maka rata-rata bobot kesesuaian SOP yang dimiliki pihak hotel dengan peraturan menteri dari komponen arsitektur adalah Terlaksana Peraturan Menteri Gambar 5. Bobot Kesesuaian antara Pelaksanaan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari Setiap Item Komponen Arsitektur Dari Gambar 5 dapat dijelaskan bahwa perbandingan antara manajemen pemeliharaan dan perawatan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri dari komponen arsitektur masuk dalam kategori sangat baik. Selanjutnya. Persamaan . diperoleh analisis bobot kesesuaian komponen mekanikal untuk setiap item, lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2. Sufran et al. Evaluasi Manajemen. Tabel 2. Hasil Kesesuaian Komponen Mekanikal Sistem Tata Udara (AC) Hydrant APAR Total Peraturan Bobot Menteri Kesesuaian (%) 66,67 94,44% Pada Peraturan Menteri No. 24/PRT/M/2008 terdapat 16 butir aspek pemeliharaan mekanikal. Berdasarkan hasil inspeksi lapangan dan wawancara dengan pihak hotel ditemukan ada 15 butir aspek pemeliharaan mekanikal terlaksana sesuai dengan peraturan menteri. Setelah dilakukan analisis data, maka rata-rata bobot kesesuaian SOP yang dimiliki pihak hotel dengan peraturan menteri dari komponen mekanikal adalah sebesar 94,44%. Dari persentase yang diperoleh, peneliti dapat menganalisis bahwa SOP pemeliharaan komponen mekanikal sudah sangat baik dalam memenuhi kelayakan yang ditetapkan Menteri. Hal mengindikasikan bahwa kepatuhan pihak hotel dalam menerapkan SOP pemeliharaan komponen mekanikal cukup tinggi. Berdasarkan Gambar 6 dapat dilihat perbandingan bobot kesesuaian antara penerapan manajemen pemeliharaan dan perawatan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari setiap item komponen mekanikal. Dari Gambar 6 dapat dijelaskan bahwa dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri dari komponen mekanikal masuk dalam kategori sangat baik. Jumlah Bobot Item Komponen Terlaksana Sistem Tata Udara Hydrant APAR Komponen Mekanikal Terlaksana Peraturan Menteri Gambar 6. Bobot Kesesuaian antara Pelaksanaan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari Setiap Item Komponen Mekanikal Untuk komponen elektrikal, dengan menggunakan Persamaan . diperoleh bobot kesesuaian untuk setiap item, lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Kesesuaian Komponen Elektrikal Item Komponen Stop Kontak & Saklar Lampu CCTV Total Terlaksana Peraturan Bobot Menteri Kesesuaian (%) Pada peraturan menteri No. 24/PRT/M/2008 terdapat 8 butir aspek pemeliharaan elektrikal. Berdasarkan hasil inspeksi lapangan dan wawancara dengan pihak hotel ditemukan ada 8 butir aspek pemeliharaan terlaksana sesuai dengan peraturan menteri. Setelah dilakukan analisis data, maka rata-rata bobot kesesuaian SOP yang dimiliki pihak hotel dengan peraturan menteri adalah sebesar 100%. Dari persentase yang diperoleh, peneliti dapat menganalisis bahwa SOP pemeliharaan komponen elektrikal sudah sangat baik dalam memenuhi kelayakan yang ditetapkan oleh peraturan Menteri. Hal ini mengindikasikan bahwa kepatuhan pihak hotel dalam menerapkan SOP pemeliharaan komponen elektrikal sangat tinggi. Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat perbandingan bobot kesesuaian antara penerapan Sufran et al. Evaluasi Manajemen. manajemen pemeliharaan dan perawatan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari setiap item komponen elektrikal. Jumlah Bobot Stop Kontak & Lampu CCTV Saklar Komponen Elektrikal Terlaksana Peraturan Menteri Gambar 7. Bobot Kesesuaian antara Pelaksanaan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24/PRT/M/2008 dari Setiap Item Komponen Elektrikal Dari Gambar 7 dapat dijelaskan bahwa dilaksanakan oleh pihak hotel dengan Peraturan Menteri dari komponen mekanikal masuk dalam kategori sangat baik. Persentase Bobot Secara keseluruhan, perbandingan pelaksanaan manajemen pemeliharaan yang diterapkan pihak hotel dengan peraturan Menteri untuk setiap komponen dapat dilihat pada Gambar 8 berikut ini. Berdasarkan Gambar 8, dapat dilihat bahwa masih ada komponen pemeliharaan yang belum mencapai bobot 100%. KESIMPULAN Bobot kesesuaian pemeliharaan dan perawatan yang dilaksanakan oleh salah satu Hotel X di Kota Padang masuk dalam kategori sangat baik mengacu pada Permen PU No. 24/PRT/M/2008. Berdasarkan kesesuaian yang diperoleh pada gambar 8, masih perlu adanya peningkatan hasil bobot kesesuaian hingga mencapai 100%. Maka dari itu, saran dari hasil penelitian ini adalah manajemen pemeliharaan dan perawatan perlu lebih dioptimalkan agar memperoleh hasil yang lebih baik dengan melakukan perancangan Standar Operasional Prosedur (SOP) manajemen pemeliharaan dan perawatan. SOP dibuat berdasarkan Permen PU No. 24/PRT/M/2008 dan SOP yang sudah dimiliki oleh pihak hotel. SOP ini akan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang lebih Pada SOP yang dibuat berisikan peralatan dan bahan yang dibutuhkan serta tata cara komponen arsitektur, mekanikal dan elektrikal. Output atau luaran dari SOP yang dibuat dapat dijadikan sebagai acuan tertulis dalam pemeliharaan dan perawatan gedung hotel. REFERENSI