Jurnal Farmasi SYIFA Volume 3. Nomor 2. Halaman 94-101. Agustus 2025 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS DOI: 10. 63004/jfs. EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN SEPSIS NEONATUS DI RSUP DR. DJAMIL PADANG TAHUN 2021-2022 Evaluation of Antibiotic Use In Neonatal Sepsis Patients at Dr. Djamil Padang Year 2021-2022 Lola Azyenela1*. Juni Fitrah1. Seftri Nadia Prima Putri1 Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia *Corresponding author: lolaazyenela2@gmail. Info Artikel Diterima: 21 Mei 2025 Direvisi: 25 Agustus 2025 Dipublikasikan: 31 Agustus 2025 ABSTRAK Sepsis merupakan respon sistemik terhadap infeksi, yang dapat menyebabkan kegagalan multi organ dan dapat mengakibatkan kematian. Terapi antibiotik diperlukan untuk penyakit sepsis neonatus. Penggunaan antibiotik pada sepsis neonatus selalu berdasarkan pada indikasi yang tepat/rasional. Karena jika indikasi tidak sesuai dapat terjadi kejadian resisten dan dapat mempengaruhi penyembuhan penyakit pada pasien sepsis neonatus. Kelebihan metode Gyssen yaitu lebih teliti dan terperinci/jelas, dapat mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif lebih tepat sehingga akan mencegah perkembangan antibiotik resisten. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus dengan metode Gyssens di RSUP Dr. Djamil Padang tahun 2021-2022. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain retrospektif dengan melihat data rekam medis. Sampel yang diambil adalah pasien sepsis neonatus pada tahun 2021-2022 yang mendapat antibiotik dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang tergolong tepat . sebanyak 28 peresepan . ,88%), antibiotik tidak lebih efektif . ategori IV. sebanyak 3 peresepan . ,17%), antibiotik terlalu lama . ategori i. sebanyak 5 peresepan . ,94%), antibiotik terlalu singkat . ategori i. sebanyak 22 peresepan . ,56%), antibiotik tidak tepat dosis . ategori II. sebanyak 11 peresepan . ,28%), antibiotik tidak tepat interval . ategori II. sebanyak 3 peresepan . ,17%). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonates, terdapat 28 peresepan . ,88%) penggunaan antibiotik yang tepat/rasional . dan 44 peresepan . ,12%) penggunaan antibiotik yang tidak tepat/irasional . ategori VI-I). Kata Kunci : Sepsis. Antibiotik. Metode Gyssens. Neonatus This is an open access article under the CC BY-NC 0 license. ABSTRACT Sepsis is a systemic response to infection, which can cause multi-organ failure and can result in death. Antibiotic therapy is required for neonatal sepsis. The use of antibiotics in neonatal sepsis is always based on appropriate/rational indications. If the indications are not appropriate, resistance can occur, affecting the healing of the disease in neonatal sepsis patients. The advantage of the Gyssen method is that it is more thorough and detailed/precise, it can evaluate the use of antibiotics qualitatively more precisely so that it will prevent the development of antibiotic resistance. This study aimed to evaluate the use of antibiotics in neonatal sepsis patients using the Gyssens method at RSUP Dr. Djamil Padang in 2021-2022. This research is a descriptive analytical study with a retrospective design by looking at medical record data. The samples taken were neonatal sepsis patients from 2021-2022 who received antibiotics and met specific inclusion and exclusion criteria. The results of the study showed that the use of antibiotics that were classified as appropriate . was 28 prescriptions . ,88%), antibiotics were no more effective . ategory IV. as many as 3 prescriptions . ,17%), antibiotics took too long . ategory i. as many as 5 prescriptions . 94%), antibiotics were too short . ategory i. as many as 22 prescriptions . ,56%), antibiotics were not in the correct dose . ategory II. as many as 11 prescriptions . 28%), antibiotics were not in the correct interval . ategory IIb ) as many as 3 prescriptions . 17%). It can be concluded that the evaluation of antibiotic use using the Gyssens method showed that there were 28 prescriptions . ,88%) of appropriate/rational use of antibiotics . and 44 prescriptions . 12%) of inappropriate/irrational use of antibiotics . ategory VI-I ). Keywords : Sepsis. Antibiotics. Gyssens Method. Neonates Jurnal Farmasi SYIFA PENDAHULUAN Sepsis adalah reaksi sistemik terhadap infeksi yang menyebabkan pelepasan mediator vasoaktif, yang menghalangi kontrol sistem saraf Hal ini menyebabkan vasodilatasi difusi dan hipoperfusi, yang dapat menyebabkan kegagalan berbagai organ dan kematian. Sepsis neonatus menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada bayi baru lahir, terjadi pada awal kehidupan bayi (Utomo, 2010. Araujo dan Guimaraes, 2. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) . , 5 juta bayi baru lahir meninggal setiap tahun, dengan angka kematian neonatus sebesar 34/1000 kelahiran hidup . ematian dalam 28 hari kehidupa. , 98% di antaranya adalah kelahiran hidup. Negara berkembang juga memiliki tingkat sepsis neonatus yang lebih tinggi . ,8-18/1000 kelahiran hidu. dibandingkan dengan negara maju . -5/1000 kelahiran hidu. (Wilar dkk. , 2. Laporan WHO State of the World's Mothers tahun 2007 . ata tahun 2000-2. menyatakan bahwa penyakit infeksi seperti sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare menyebabkan 36% kematian bayi baru lahir. Dari Januari hingga September 2005, kasus sepsis neonatus 13,68% dan angka kematian 14-18% tercatat di beberapa rumah sakit rujukan di Indonesia, seperti RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta (Departemen Kesehatan RI, 2. Sekitar 38 kasus sepsis neonatus ditemukan di RSUP Dr. Djamil Padang pada tahun 2014 dan 85 kasus pada tahun 2015. Rumah Sakit Rujukan RSUP Dr. Djamil Padang menerima kasus sepsis neonatus terbanyak dari Sumatera Barat dan daerah lain di Sumatera, seperti Riau dan Jambi. Rumah sakit ini memiliki berbagai jenis bakteri penyebab sepsis neonatus, yang mungkin berbeda dengan rumah sakit lainnya. Jumlah antibiotik yang digunakan di RSUP Dr. Djamil Padang sangat beragam, seperti halnya kasus perlawanan. Model bakteri Staphylococcus aureus. Pseudomonas aeruginosa. Escherichia coli. Staphylococcus epidermidis, dan Klebsiella ditemukan di Unit Perinatologi RSUP Dr. Djamil Padang (Daslina, 2. Sangat penting untuk melakukan evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus. Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 Penggunaan antibiotik pada bayi memerlukan perhatian khusus karena didasarkan pada sistem absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi Antibiotik pada bayi tidak sama dengan orang dewasa dan mereka memiliki tingkat maturasi organ yang berbeda, yang dapat menyebabkan perbedaan dalam respons terapeutik atau efek samping (Pudjiadi dkk. , 2. Menurut Pritanto . , penggunaan obat yang rasional mencakup beberapa komponen, seperti tepat indikasi, tepat pasien, jenis obat yang tepat, dosis yang tepat, dan waktu pemberian yang Salah satu cara untuk mencegah resistensi antibiotik adalah dengan menggunakan metode Gyssens, yang digunakan untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik di berbagai negara. Hasil evaluasi ini mengukur kualitas ketetapan penggunaan antibiotik, yang mencakup dosis, toksisitas, interval, harga, rute pemberian, dan waktu pemberian (Gyssens dan Meer, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nanik dkk. , penelitian tentang penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus di RSAU Salak Bogor menemukan bahwa kombinasi seftriakson- gentamisin digunakan sebanyak 50%, kombinasi ampisilin-gentamisin sebagai lini pertama digunakan sebanyak 35%, ceftriakson tunggal 9%, dan ceftazidim tunggal dan kombinasi seftriakson- gentamisin masing-masing 3%. Hasil evaluasi Gyssens menunjukkan kerasionalan antibiotik sebesar 18% dan ketidakrasionalan sebesar 82%. Nilai sig yang didapat sebesar 0,912 adalah lebih besar dari alpha 0,05. Hasil penelitian evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus di Rumah Sakit X Purwakarta (Hendiyani. et al. , 2. menunjukkan bahwa sebanyak 26 pasien . ,7%) menggunakan antibiotik dengan benar, dan sebanyak 43 pasien menggunakannya dengan tidak Ini termasuk penggunaan antibiotik yang tidak tepat sebanyak 56,5%, penggunaan antibiotik yang tidak tepat sebanyak 4,3%, penggunaan antibiotik yang lebih efektif sebanyak 1,4%, dan penggunaan antibiotik yang terlalu lama sebanyak 1,4%. Nilai d untuk setiap 100 pasien-hari meliputi Ampicilin-Sulbaktam Cefoperazone Sulbaktam . , dan Meropenem . , sedangkan nilai d yang melebihi nilai standar WHO yaitu Gentamisin 1,94 dan Amikasin Jurnal Farmasi SYIFA 12,9. Nilai d untuk setiap 100 pasien-hari juga melebihi nilai standar WHO yaitu gentamicin . dan Amikasin . Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti berharap dapat melakukan studi evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien dengan sepsis neonatus RSUP Dr. Djamil Padang Pada bulan Juli-Oktober tahun 2021-2022, sehingga penelitian ini dapat menjadi salah satu bentuk penilaian penggunaan antibiotik di RSUP Dr. Djamil Padang. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan di bagian rekam medis RSUP Dr. Djamil Padang, dengan metode penelitian deskriptif analitik dengan pengambilan data secara retrospektif yang di dasarkan pada catatan rekam medis pasien dengan diagnosa penyakit sepsis. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini telah lolos kaji etik yang diterbitkan oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUP Dr. Djamil Padang dengan nomor : LB. 02/5. 7/409/2023. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini berjumlah 68 pasien dengan diagnosa sepsis neonatus, data rekam medis di NICU (Neonatal intensive care uni. RSUP Dr. Djamil Padang pada tahun 2021-2022 yang memenuhi kriteria inklusi . dengan umur kurang dari 28 hari, yang mendapatkan terapi antibiotik dan data rekam medis yang ditulis lengkap . mur, nomor rekam medis, jenis kelamin, diagnosa, dosis, dan aturan paka. , sedangkan kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah pasien dengan data rekam medis tidak lengkap, pasien meninggal dan pasien pulang Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperlukan dikumpulkan dan dipindahkan di lembar pengumpulan data yang Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 memuat data jenis antibiotik yang diterima pasien, lama waktu perawatan pasien, serta jumlah antibiotik yang diterima pasien. Data penggunaan antibiotik dianalisis secara kualitatif dengan metode gyssens (Kategori VI-. HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel penelitian terdapat 37 rekam medis pasien sepsis neonatus yang dirawat di rumah sakit yang memenuhi kriteria inklusi. Tabel 1. Jumlah Pasien Sepsis Berdasarkan Kriteria Data Pasien Kriteria Data Pasien Jumlah Persentase Pasien (%) Jenis kelamin Laki Ae laki 54,05 Perempuan 45,95 Umur 0 hari 75,68 1-10 hari 13,51 11-28 hari 10,81 Bakteri penyebab sepsis late onset 2,70 Acinetobacter baumannii 5,41 Enterobacter aerogenes 2,70 Klebsiella pneumonia 16,22 Moraxella group 2,70 Pantoea sp. 2,70 Pseudomonas aureginosa 2,70 Staphylococcus capitis 2,70 Staphylococcus 10,82 Staphylococcus 18,92 Staphylococcus 2,70 Saprophyticus 29,73 Total Berdasarkan hasil penelitian Ciri-ciri pasien dapat dilihat dari nama, jenis kelamin, umur, berat badan, diagnosa penyakitnya, serta waktu kedatangan dan keberangkatannya. Berdasarkan Tabel 5 , laki-laki berjumlah sebanyak 20 pasien . ,05%) dan perempuan sebanyak 17 pasien . ,95%). Jurnal Farmasi SYIFA Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 Tabel 2. Penggunaan Antibiotik Pada Sepsis Neonatus Golongan Spektrum aktivitas Harga Antibiotik yang Ampisillin sulbactam Penisilin Spektrum luas Cefoperazone sulbactam Sefalosporin Spektrum luas Gentamisin Aminoglikosida Spektrum luas Amikasin Aminoglikosida Spektrum luas Meropenem Carbapenem laktam Spektrum luas Vancomisin Glikopeptida Spektrum luas Total Dalam penelitian ini, terdapat 6 antibiotik diberikan kepada pasien sepsis neonatal: ampisilinsulbactam, gentamisin, cefoperazone-sulbactam. Berdasarkan Tabel 6. Antibiotik yang paling sering digunakan adalah gentamisin . ,44%) dan ampisilin sulbaktam . ,44%). Berdasarkan antibiotik RSUP Dr M Djamil Padang Tahun 2022, antibiotik lini pertama yang direkomendasikan untuk pengobatan sepsis neonatus adalah ampicillin sulbactam dan gentamicin. Kombinasi kedua antibiotik ini umumnya efektif melawan berbagai jenis bakteri yang sering menjadi penyebab sepsis pada neonatus, termasuk bakteri gram positif dan gram negatif. Dalam kasus sepsis yang penyebab atau faktor risikonya tidak diketahui, terapi antimikroba spektrum luas perlu Antibiotik intravena harus diberikan sesegera mungkin, namun tidak lebih dari satu jam, setelah diagnosis sepsis dan/atau penyakit sel sabit. Tes kultur darah dilakukan sebelum pemberian antibiotik (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Terapi antibiotik akan efektif jika pasien yang mendapat pengobatan konsisten akan melihat perbaikan klinis dalam waktu singkat (WHO,2. Ampisilin adalah antimikroba -laktam, sedangkan sulbaktam adalah penghambat laktamase. Kombinasi ampisilin dan sulbaktam menunjukkan sinergi dalam mengatasi strain bakteri yang resisten terhadap ampisilin sehingga memberikan cakupan yang lebih luas. Bakteri yang rentan terhadap ampisilin/sulbaktam termasuk Haemophilus influenzae. Escherichia coli. Rp. mg/via. /hari Rp. g/via. /hari Rp. mg/ml/via. /hari Rp. mg/ampu. /hari Rp. mg/via. /hari Rp. mg/via. / hari Jumlah Persentase (%) 44,44 2,78 44,44 4,17 2,78 1,39 Acinetobacter. Klebsiella. Staphylococcus aureus. Enterobacter, dan anaerob. Kombinasi obat ini menggabungkan inhibitor -laktamase ke dalam perlindungan terhadap bakteri resisten. Pada Tabel 8, ampisilin tergolong antibiotik yang paling sering digunakan, dengan penggunaan yang tepat/rasional . sebanyak 28 peresepan. Ampisilin antibiotik disarankan sebagai pengobatan lini pertama untuk pasien dengan sepsis neonatal. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hal ini karena ampisilin, yang bersifat antibakteri, merupakan pengobatan yang efektif untuk sepsis neonatal. Untuk menghindari terjadinya resistensi, ampisillin tidak boleh digunakan oleh pasien di rumah sakit tanpa adanya pemeriksaan (BMJ. Gentamisin Aminoglikosida merupakan antibiotik yang paling umum digunakan pada periode neonatus (Riverachaparro et al. ,2. , gentamisin memiliki mekanisme untuk memecah membran Gramnegatif dalam transpor aktif sehingga menghambat pertumbuhan bakteri. Membunuh bakteri penyebab infeksi dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri - mekanisme kerja ampisilin (Radji. M, 2. Menggabungkan antibiotika dapat memberikan efek sinergis terhadap bakteri penyebab sepsis dengan menghancurkan membran Gram negatif dan menonaktifkan bakteri penyebab Selain itu bila digunakan bersama ampisilin dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri penyebab sepsis (Radji. , 2. Jurnal Farmasi SYIFA Cefoperazone Sulbactam juga digunakan sebagai agen antibakteri terhadap genus sefalosporin ketiga. Cefoperazone sulbactam merupakan antibiotik yang efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Agen antibakteri Cefoperazone Sulbactam memiliki mekanisme kerja yang menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini terkait dengan infeksi bakteri yang serius, seperti pneumonia dan sepsis (Deck dan Winston. Dibandingkan amikasin lebih stabil dalam inaktivasi enzim. Amikasin digunakan untuk mengobati infeksi Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 serius yang disebabkan oleh bakteri Gram-negatif yang resisten terhadap gentamisin. Setiap asam amino memiliki sifat bakteri dan cukup efektif melawan bakteri Gram negatif. Tobramycin, gentamicin, dan amikisin juga efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Saat ini streptomisin digunakan sebagai cadangan untuk pengobatan tuberkulosis karena merupakan agen aktif melawan Mycobacterium tuberculosis. Amikasin efektif melawan isolat resisten gentamisin dan tobramisin, digunakan dalam terapi infeksi serius seperti meningitis, pneumonia, dan sepsis (Krause KM. , et Tabel 3. Data Kerasional Penggunaan Antibiotik Dengan Metode Gyssens Pada Pasien Sepsis Neonatus Di RSUP Dr. Djamil Padang Tahun 2021-2022 Kategori Keterangan No. Peresepan Jumlah Persentase Gyssens (%) Kategori VI Data tidk lengkap Kategori V Antibiotik tidak sesuai indikasi Kategori IV Ada antibiotik lain yang lebih efektif 29a, 30a, 36a 4,17 Kategori IV Ada antibiotik lain yang kurang toksik Kategori IV Ada antibiotik lain 6,94 30,56 15,28 4,17 38,88 yang lebih murah Kategori IV Ada antibiotik lain dengan spektrum lebih Kategori i Antibiotik terlalu lama 6b, 22b, 25a, 31b, 36b Kategori i Antibiotik terlalu 1b, 2b, 3b, 4b, 5b, 9b, 10b, 13b, 15b, 16b, 17b, 23b, 24b, 26b, 27b, 29b, 30b, 32b, 33b, 34b, 35b, 37b Kategori II Antibiotik tidak tepat 1a,8a,10a,14b,18a,19b,20b,21b,24a,25b,28b Kategori II Antibiotik tidak tepat 11a,12a,13a Kategori II Antibiotik tidak tepat rute pemberian Kategori I Antibiotik tidak tepat Kategori 0 Antibiotik 2b, 3a, 4a, 5a, 6a, 7a, 9a, 11b, 12b, 14a, 15a, 16a, 17a, 18b, 19a, tepat/rasional 20a, 21a, 22a, 23a, 26a, 27a, 28a, 31a, 32a, 33a, 43a, 35a, 37a Total Analisis dengan metode Gyssens, tidak ada data yang sesuai dengan kategori ini semua data memenuhi kategori . ata lengka. Apabila terdapat indikasi penggunaan antibiotik namun hasil pemeriksaan tidak sesuai Jurnal Farmasi SYIFA penyakitnya, maka dapat dipahami bahwa antibiotik tidak diindikasikan (Kementerian Kesehatan, 2. Berdasarkan hasil evaluasi tidak terdapat kasus kategori pada kategori V ini semua data teridentifikasi menggunakan antibotik. Ada antibiotik lain yang lebih efektif jika antibiotik yang dipilih memiliki efektivitas yang rendah dan antibiotik lain lebih efektif sebagai pilihan pengobatan. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 3 kasus peresepan . ,17%) untuk pasien nomor 29a,30a dan 36a. Dalam penelitian ini pemilihan antibiotik berdasarkan hasil tes laboraturium, apabila tidak diketahui bakteri penginfeksi maka diberikan antibiotik empirik, pasien mendapatkan terapi empiris lebih banyak dibandingkan terapi definitifnya dikarenakan belum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil evaluasi terdapat antibiotik yang tidak sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik di RSUP Dr M Djamil, sehingga dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam ada pemilihan antibiotik lain yang lebih efektif. Berdasarkan hasil evaluasi pada pasien nomor 29a diberikan terapi antibiotik sefalosporin yang digunakan pasien tidak sesuai dengan pedoman penggunaan antibiotik RSUP Dr M Djamil dan hasil laboratorium pasien menunjukkan resisten terhadap antibiotik golongan Pada pasien nomor 30a dan 36a diberikan terapi antibiotik meropenem, dimana meropenem merupakan golongan carbapenem laktam yang bukan termasuk lini pertama terapi untuk pengobatan sepsis neonatus. Adanya antibiotik alternatif yang kurang toksik/aman ditunjukkan dengan adanya interaksi obat yang dapat meningkatkan toksisitas atau terjadinya efek samping dan alergi yang tidak Selain itu perlu diperhatikan kontraindikasi pada pasien, reaksi individu sangat berbeda-beda sehingga penggunaan obat juga harus diperhatikan (Kementerian Kesehatan, 2. Berdasarkan hasil peninjauan, tidak ada kejadian peresepan yang teridentifikasi pada kategori ini. Antibiotik alternatif yang lebih murah ditemukan tergantung pada jenis antibiotik yang digunakan, khususnya antibiotik generik yang harganya lebih dibandingkan antibiotik bermerek. Berdasarkan hasil peninjauan, tidak ada kejadian peresepan yang teridentifikasi pada kategori ini. Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 Pemilihan antibiotik dengan spektrum yang lebih sempit sebaiknya didasarkan pada hasil kultur atau pola kerentanan antibiotik. Pada kasus sepsis neonatus di NICU RSUD Dr. Djamil Padang, sebagian besar kultur bakteri dan uji sensitivitas tidak dilakukan. Hal ini mungkin disebabkan karena pengujian kultur membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal. Durasi penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Penggunaan antibiotik yang terlalu lama akan meningkatkan konsentrasi obat dalam darah sehingga menimbulkan risiko keracunan (Ishaque & Aighewi, 2. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 5 kasus peresepan . ,94%) yang melebihi batas maksimal penggunaan antibiotik. Antibiotik yang tergolong golongan ia adalah gentamisin, resep dengan durasi lebih dari 10 hari pada pasien nomor 6b,22b,31b dan 36b. cefoperazone sulbactam berjumlah 1 peresepan pada pasien nomor 25a. Antibiotik tidak boleh digunakan terlalu lama karena dapat terjadi resistensi antibiotik. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 22 kasus peresepan . ,56%) yang tergolong dalam kategori ini. Antibiotik yang tergolong tipe ib adalah gentamisin dengan 20 peresepan yang digunakan kurang dari 10 hari pada pasien nomor 1b, 2b, 3b, 4b, 5b, 9b, 10b, 13b, 15b, 16b, 17b, 23b, 24b, 2b6, 27b, 32b, 33b, 34b, 35b, dan 37b. peresepan amikasin yang kurang dari 10 hari pada pasien nomor 29b dan 30b. Jika antibiotik digunakan kurang dari waktu yang ditentukan maka akan terjadi kegagalan pengobatan, akan timbul bakteri yang resisten terhadap antibiotik, bahkan mungkin lebih berbahaya karena efek samping yang tidak diinginkan obat tersebut. Oleh karena itu, hal ini akan menyebabkan peningkatan biaya yang tinggi karena harus memerangi dampak penggunaan obat yang tidak diatur (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Pada kategori ini, antibiotik yang sering tergolong dosis terlalu pendek adalah ampisilin sulbaktam. Berdasarkan panduan obat dosis ampisilin sulbaktam hanya diberikan selama 7- 14 hari pada pasien sepsis neonatus (RSUD Dr. Djamil Padang, 2. Dan juga kebanyakan pasien sembuh atau menyelesaikan terapi antibiotik kurang dari 7 hari. Jurnal Farmasi SYIFA Jika dosisnya terlalu tinggi, terdapat risiko peningkatan toksisitas atau risiko efek samping yang tidak diinginkan. Sebaliknya jika dosisnya terlalu rendah maka efek pengobatan tidak akan (Kementerian Kesehatan. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 11 peresepan . ,28%) yang tidak tepat dosis, pada ampisilin sulbaktam dosis kurang 50 mg/kg/x pada pasien nomor 1a dan 10a. dosis gentamisin lebih besar dari 7,5 mg/kg/hari pada pasien nomor 14b, 18a, 19b, 20b, 21b, 24a, dan 28b. dosis amikasin lebih besar dari 20 mg/kg/x pada pasien nomor 25b. Dosis vancomisin kurang dari 60 mg/kg/x pada pasien nomor 8a. Interval pemberian dosis adalah jarak antara dosis antibiotik pertama, kedua, dan Penggunaan antibiotik dianggap pada interval yang tepat jika konsisten dengan pedoman Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat 3 peresepan . ,17%) antibiotik dengan interval waktu yang salah, yaitu Ampisilin sulbactam yang digunakan 4 kali/hari . eharusnya 2 kal. untuk pasien nomor 11a, 12a, dan 13a. Rute pemberian merupakan faktor penting untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal. Rute pemberian ini harus dipilih sebagai rute yang paling aman dan bermanfaat bagi pasien (Departemen Kesehatan, 2. Berdasarkan hasil evaluasi, tidak ada kejadian peresepan yang termasuk pada kategori ini. Penggunaan antibiotik segera jika sesuai dengan petunjuk penggunaan antibiotik. Berdasarkan hasil peninjauan, tidak ada kejadian peresepan pada kategori ini. Penggunaan antibiotik yang tepat dan bijaksana berarti antibiotik digunakan dalam dosis yang tepat, pada waktu yang tepat, pada interval yang tepat, dan selama waktu yang tepat. Penggunaan antibiotik sesuai kriteria Gyssens atau antibiotik yang memenuhi kategori I hingga VI masuk kategori 0. Berdasarkan hasil evaluasi, 28 resep antibiotik . ,36%) termasuk dalam kategori ini . enggunaan antibiotik yang tepat atau Dapat disimpulkan bahwa evaluasi penggunaan antibiotik yang tergolong. Kategori tepat/rasional . sebanyak 28 peresepan . ,88%). Sedangkan pada penggunaan antibiotik tidak tepat kategori/irasional terdapat penggunaan Volume 3. Nomor 2. Agustus 2025 antibiotik tidak lebih efektif . ategori IV. sebanyak 3 peresepan . ,17%), antibiotik terlalu lama . ategori i. sebanyak 5 peresepan . ,94%), antibiotik terlalu singkat . ategori i. sebanyak 22 peresepan . ,56%), antibiotik tidak tepat dosis . ategori II. sebanyak 11 peresepan . ,28%) dan antibiotik tidak tepat interval . ategori II. sebanyak 3 peresepan . ,17%). Tabel 4 menunjukkan bahwa evaluasi penggunaan antibiotik yang tergolong kategori tepat/rasional . sebanyak 28 peresepan . ,88%). Sedangkan pada penggunaan antibiotik tidak tepat kategori/irasional terdapat penggunaan antibiotik tidak lebih efektif . ategori IV. sebanyak 3 peresepan . ,17%), antibiotik terlalu lama . ategori i. sebanyak 5 peresepan . ,94%), antibiotik terlalu singkat . ategori i. sebanyak 22 peresepan . ,56%), antibiotik tidak tepat dosis . ategori II. sebanyak 11 peresepan . ,28%) dan antibiotik tidak tepat interval . ategori II. sebanyak 3 peresepan . ,17%). Tabel 4. Hasil Evaluasi Penggunaan Antibiotik Dengan Metode Gyssens Pada Pasien Sepsis Neonatus Di RSUP Dr. Djamil Padang Tahun 2021-2022 Nama Kategori Total Antibiotik Gyssens 0 llb lla lb la lVa Ampisillin 25 3 4 Cefoperazone - - 1 Gentamisin 3 - 5 20 4 Amikasin - - 1 2 Meropenem - - 2 Vancomisin - - 1 Total 28 3 11 22 5 Pada penelitian Rani Hendiyani . evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus di Rumah Sakit X Purwakarta kualitas 38,8% penggunaan antibiotik tepat (Kategori . , 56,7% dosis pemberian antibiotik tidak tepat (Kategori II. dan 4,5% terdapat antibiotik lain yang lebih efektif (Kategori IV. Dibandingkan dengan hasil penelitian ini, adanya kesamaan terhadap banyakya kategori tidak tepat/irasional. Hal ini kemungkinan data yang bersifat retrospektif menyebabkan beberapa data rekam medis tidak ditemukan dan peneliti tidak dapat mengamati perkembangan kondisi pasien secara langsung. Jurnal Farmasi SYIFA KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien sepsis neonatus tahun 2021-2022 yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil evaluasi penggunaan antibiotik menurut metode Gyssens menunjukkan dari sebanyak 37 pasien terdapat 28 peresepan . ,88%) merupakan penggunaan antibiotik yang tepat/rasional . dan 44 peresepan . ,12%) merupakan penggunaan antibiotik yang tidak tepat/irasional . ategori VI-I). REFERENSI