Proceedings of PsychoNutrition Student Summit Volume 01. No. Desember 2024 ISSN: 3090-0956 https://proceedings. id/index. php/PINUSS Self-Disclosure Remaja dalam Hubungan Teman dan Orang Tua: Studi Kasus Remaja dengan Orang Tua Bercerai Cheryl Nuraliza1. Syafruddin Faisal Thohar2. Linda Prasetyaning Widayanti3 Fakultas Psikologi dan Kesehatan. UIN Sunan Ampel Surabaya Jln. Dr. Ir. Soekarno No. Gunung Anyar. Surabaya E-mail: cherylnuraliza@gmail. Abstrak Kondisi orang tua yang bercerai memiliki pengaruh yang dirasakan oleh anak terutama yang memasuki fase remaja. Dalam fase remaja, pencarian jati diri anak dimulai dan membutuhkan peran dari orang tua agar tidak salah dalam menentukan pilihan. Dengan kondisi orang tua yang bercerai, remaja dapat merasakan adanya putus asa dengan keadaan, kehilangan peran orang tua, hingga malu akan kondisi yang dimilikinya. Pertemanan menjadi tempat lain bagi remaja dengan orang tua yang bercerai untuk membantu remaja memiliki tempat berbagi keluh kesah yang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-disclosure yang dilakukan remaja dengan orang tua yang bercerai terhadap teman dan orang tuanya dengan metode penelitian kualitatif studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara semi Subjek penelitian berjumlah satu orang remaja berusia 20 tahun dengan kondisi orang tua bercerai. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa self-disclosure yang dimiliki oleh remaja dengan orang tua yang bercerai cukup tinggi. Ditemukan juga adanya perbedaan self-disclosure yang dilakukan oleh remaja dengan orang tua bercerai kepada temannya dan orang tua, ditandai adanya hasil analisis data self-disclosure terhadap teman yang lebih tinggi dibandingkan terhadap orang tua. Kata Kunci: Self-disclosure. orang tua bercerai. PENDAHULUAN Perceraian merupakan sebuah keputusan dari adanya tuntutan penghapusan perkawinan atau yang secara istilah dapat disebut pelepasan ikatan pernikahan (Mauliddina dkk. , 2. Di Indonesia, kasus perceraian mengalami peningkatan yang harus diperhatikan karena mencapai 15,13% di tahun 2022 (Asvia dkk. , 2. Kasus perceraian pada Badan Perhitungan Statistika ditemukan mengalami peningkatan pada tiap tahunnya (Januari, 2. hingga mencapai angka 400. 000 lebih (BPS, 2. Ditemukan bahwa perceraian lebih sering digugat oleh pihak perempuan dengan faktor terbanyak yang ditemui sebagai alasan perceraian adalah terdapat perselisihan dan pertengkaran (Siregar dkk. , 2. Perceraian yang terjadi dalam sebuah keluarga tentunya memiliki dampak terhadap kelaurga tersebut. Kelegaan dalam diri pasangan karena memiliki kebebasan akibat berpisah dapat menjadi dampak positif yang dirasakan oleh pasangan tersebut (Sitepu & Husna, 2. Namun, dampak negatif juga dapat terjadi apabila terdapat anak dalam keluarga tersebut (Pragholapati, 2. Anak dapat merasakan adanya perasaan yang terguncang dan menyalahkan orang tua akan hal tersebut atau bahkan menyalahkan diri sendiri (Aristawaty dkk. , 2. Ditemukan sebanyak 25% dari anak yang dengan kondisi orang tua yang bercerai memiliki masalah terkait sosial, emosional atau psikologis saat dewasa dibandingkan dengan 10% anak yang orangtua nya tidak bercerai (Hasanah. Dampak yang ditemukan akibat perceraian pada remaja adalah cenderung mengalami kesulitan dalam menangani permasalahan dan susah untuk terbuka terhadap orang lain (Salsabila & Abdullah, 2. Ditemukan dalam penelitian (Fisabilillah & Agustina, 2. bahwa terdapat perubahan perilaku dari remaja yang orangtuanya bercerai yakni menjadi pribadi Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 yang lebih pendiam dan menutup diri dari lingkungan luar. Disampaikan juga bahwa anak dengan orang tua yang telah bercerai menutup diri diakibatkan oleh malu dengan situasi yang dijalaninya. Sejalan dengan penelitian Zain . dalam (Pratiwi & Handayani, 2. bahwa remaja cenderung lebih menutup diri setelah orang tua bercerai. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa remaja menutup diri karena merasakan kurang kasih sayang dan hanya tinggal dengan salah satu dari orang tuanya. Dari rendah nya selfdisclosure yang dimiliki oleh remaja dengan orang tua yang bercerai dapat menjadi permasalahan serius ketika menjelang dewasa. Self-disclosure merupakan kemampuan yang dimiliki individu dalam berkomunikasi terkait informasi tentang dirinya sendiri kepada orang lain (Devito . Wiyono & Muhid, 2. Individu dengan self-disclosure yang tinggi, dapat dilihat dari pribadinya yang lebih adaptif, kompeten, bahkan menjadi pribadi yang bisa diandalkan. Adapun, individu dengan self-disclosure yang kurang maka, kemampuan sosial nya akan ikut terganggu seperti menutup diri, rendahnya percaya diri, bahkan dapat memberikan pengaruh pada kondisi mental individu (Utami & Duryati, 23 C. Self-disclosure dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kedekatan dan tingkat percaya yang tinggi terhadap orang lain, kepribadian individu, gender, dan pengalaman yang dialami (Fauzia , 2. Penelitian terkait self-disclosure pada remaja dengan kondisi orang tua yang bercerai terhadap teman dan orang tuanya masih menjadi topik yang perlu diteliti untuk dilakukan sebagai pengetahuan terkait dampak yang dihasilkan dari adanya perceraian orang tua terhadap anak khususnya remaja. Self-disclosure yang rendah dapat membentuk kondisi psikologis yang tidak baik seperti adanya perasaan takut, kecemasan yang berlebih, hingga merasa rendah diri (Oktaviani dkk. , 2. Dalam (Efendi, 2. ditemukan adanya kepercayaan yang lebih tinggi terhadap teman daripada orang tua. Faktor dari tingginya self-disclosure terhadap teman dibandingkan orang tua juga menjadi tujuan dari penelitian ini. Berdasarkan uraian latar belakang dan fenomena di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perbedaan self-disclosure yang dimiliki oleh remaja yang orangtuanya bercerai terhadap orang tua dan temannya. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul AuSelf-Disclosure Remaja dalam Hubungan Teman dan Orang Tua: Studi Kasus Remaja dengan Orang Tua BerceraiAy. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus atau case study memiliki arti sebagai mempelajari sebuah fenomena dengan tujuan mengungkap ciri khusus yang ada pada kasus (Ilhami , 2. Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus karena diketahui bahwa dengan studi kasus dapat memungkinkan peneliti untuk mengulas fenomena secara lebih dalam dengan hanya berfokus pada satu atau sejumlah kasus yang bersifat terbatas (Poltak & Widjaja, 2. Pada penelitian ini, peneliti memiliki karakteristik tertentu dalam menentukan subjek yakni laki-laki dan perempuan yang berada di usia remaja 12-21 tahun, kondisi orang tua yang bercerai, dan bersedia untuk menjadi partisipan pada penelitian. Dalam proses penentuan sampel, terdapat 4 kandidat yang memenuhi kriteria penelitian namun, peneliti mengambil 1 kandidat yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi partisipan. Teknik yang digunakan dalam melakukan pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan metode wawancara. Peneliti menyusun pertanyaan-pertanyaan atau guideline yang sesuai dengan tujuan penelitian yang meliputi aspek pada self-disclosure Nuraliza. Thohar. Widayanti. Self-Disclosure Remaja dalam Hubungan. yakni intimasi, ketepatan, kuantitas, valensi dan niat. Wawancara yang dilakukan bersifat semi-terstruktur dengan berisikan pertanyaan yang dibentuk bersifat terbuka dengan tujuan menjangkau informasi mengenai subjek secara mandalam. Metode analisis yang dilakukan melalui tiga tahap menurut Miles dan Huberman dalam (Astuti dkk. , 2. yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan membuat ringkasan yang telah didapatkan dari proses wawancara yang dilakukan dengan tujuan memfokuskan data yang akan digunakan sebagai kesimpulan akhir. Penyajian data melalui teks naratif yang membantu dalam memahami suatu kasus atau fenomena sebagai dasar analisis dalam sebuah masalah. Penarikan kesimpulan dari data-data yang telah didapatkan menjadi tahap terakhir dalam metode analisis. HASIL PENELITIAN Hubungan Remaja Pada Teman dan Orang Tua Partisipan pada penelitian ini adalah seorang remaja berinisial FS yang berusia 20 FS merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara dan berada dikondisi kedua orang tua yang sudah bercerai. Perceraian telah terjadi 3 tahun lamanya dan ketika orang tuanya memutuskan untuk bercerai FS ikut dengan ibunya hingga saat ini. Kedua orang tua FS diketahui sudah memiliki pasangan baru dan keluarga baru masing-masing. Dari perceraian yang dilakukan oleh orang tua FS, disampaikan bahwa terdapat dampak yang ia rasakan yakni adanya kekurangan dalam figure atau peran seorang ayah dalam Aukarena aku ikutnya sama bunda jadi aku ngerasanya kekurangan peran seorang ayah gituAy Dalam kesehariannya. FS mengatakan bahwa memiliki teman yang menjadi tempatnya membagi cerita. Pertemanan FS dan temannya telah terjalin sejak mereka di bangku SMA dan berlangsung hingga sekarang. FS mengatakan bahwa ia memiliki kepercayaan yang cukup dalam terhadap temannya sehingga bisa dengan leluasa berbagi cerita dengannya. Dibandingkan dengan anggota keluarga nya. FS mengakui bahwa temannya lebih mengetahui lebih banyak informasi dibandingkan orang tuanya. Aulebih banyak ke temen, karena kalo sama temen kan aku ngerasanya yaudah aja sebenernya kan dia gak kenal aku jadi aku bisa bebas aja ngomongin apapunAy Pasca perceraian yang terjadi di antara kedua orang tuanya. FS tidak menyampaikan adanya kesusahan terhadap membuka dirinya kepada orang lain. Namun. FS menyampaikan bahwa setelah bertemu dengan teman yang dapat ia percaya, ia menjadi sering membagikan informasi terkait dirinya meliputi emosi hingga perasaan serta merasakan adanya kesenangan hingga perasaan lega setelah membagikan ceritanya kepada teman. Berdasarkan hasil temuan, terdapat perbedaan namun juga persamaan dari selfdisclosure subjek FS yang dilakukan terhadap temannya dan orang tua. Self-disclosure Pada Remaja Terhadap Teman dan Orang Tua Penilaian self-disclosure yang dilakukan terhadap FS menggunakan dimensi selfdisclosure milik DeVito dalam menggali informasi. Menurut DeVito, self-disclosure memiliki 5 dimensi yakni intimasi, ketepatan, kuantitas, valensi, dan niat. Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 Pada dimensi intimate, self-disclosure individu diukur dari seberapa sering individu membagikan informasi terkait dirinya terhadap orang lain, seberapa dalam atau intimate informasi yang dibagikan oleh individu, dan lama waktu yang digunakan untuk individu terbuka terhadap orang lain. Situasi FS yang memiliki kepercayaan pada temannya, membuat dirinya menjadi bebas ketika membagikan informasi terkait kondisi yang sedang Informasi yang dibagikan FS menyangkut kejadian yang dialaminya di setiap hari hingga bagaimana perasaan dan emosi yang sedang berlangsung di saat itu. Namun, meskipun FS dan temannya tidak dapat selalu bertemu. FS mengatakan bahwa dirinya juga sering menceritakan kesehariannya melalui media sosial. Penyampaian yang dilakukan FS pada temannya berlangsung secara real time, ketika FS mengalami sesuatu ia bisa langsung menghubungi temannya atau menceritakan kesehariannya di akhir hari. Aubiasanya kalo tukar cerita sih tentang kehidupan sehari-hari ya, apa yang lagi dijalani hari ini aja sihAy Dalam dimensi ini jika terhadap orang tua. FS mengatakan bahwa tidak terdapat banyak waktu untuk membagikan informasi terkait diri kepada orang tuanya, terlebih kepada sang ibu dan kakaknya. Disebutkan bahwa FS terkadang hanya sempat berbagi informasi terkait dirinya ketika sang ibu terlihat tidak melakukan hal sibuk atau sedang di waktu yang senggang. Berbeda dengan yang ditemukan pada teman. FS mengatakan bahwa dari cerita yang dibagikan terhadap orang tua tidak dapat diungkapkannya secara keseluruhan karena merasakan adanya kebebasan yang terbatas dalam beberapa hal untuk dibagikan dengan orang tua. Augak sebebas itu, ada nahannya sih kak, ada beberapa hal yang aku masih belum bisa free buat share ke bundaAy Dimensi selanjutnya adalah ketepatan, diukur dengan kebenaran informasi yang disampaikan oleh individu kepada orang lain. Kebenaran ini meliputi seberapa paham individu dengan kondisi yang dialaminya sehingga penyampaian informasi yang dilakukan kepada orang lain sesuai dengan kondisi individu. Dari informasi yang didapat. FS dalam membagikan informasi terkait dirinya terdapat beberapa hal yang tidak ia bagikan secara lengkap dan terkadang melakukan penambahan yang tidak sesungguhnya dialaminya ketika menyampaikan informasi terhadap temannya. FS menyebutkan bahwa dirinya melakukan hal tersebut karena merasa terdapat beberapa hal yang harus ditutupi yang menurut FS temannya kurang sesuai untuk mendengar hal tersebut. Selain itu. FS juga melebih-lebihkan cerita yang dibagikan terhadap temannya karena merasa ada keseruan untuk melebihkan cerita. Aujujur sebenarnya ada sih kak, ada yang aku kurangi ada yang aku lebihin tergantung konteks ceritanyaAy Terdapat dimensi kuantitas dalam self-disclosure yang mengarah kepada seberapa banyak informasi yang individu dapat bagikan kepada orang lain sesuai dengan Dalam penyampaiannya FS mengatakan bahwa ia menceritakan keseluruhan harinya kepada teman dan merasakan bahwa temannya sudah cukup banyak mengetahui informasi terkait dirinya. Aumungkin kalau persentase gitu 60%Ay Pada dimensi kuantitas dalam self-disclosure yang dilakukan kepada teman dan orang tuanya terdapat perbedaan. FS mengatakan bahwa lebih banyak teman yang mengetahui informasi tentangnya dibandingkan orang tua. Hal ini didasarkan adanya Nuraliza. Thohar. Widayanti. Self-Disclosure Remaja dalam Hubungan. perasaan temannya merupakan orang yang sebenarnya tidak mengenal dirinya dan sang ibu sudah kenal dengannya. FS juga mengatakan bahwa dirinya tidak dapat terlalu terbuka kepada sang ibu untuk menjaga situasi yang ada. AuKarena kalo sama temen kan aku ngerasanya yaudah aja, dia kan sebenernya gak kenal aku, jadi aku bisa bebas aja ngomongin apapun. Kalo sama bunda kan, jadi apa ya, karena kenal jadi ada berapa hal yang harus aku tutupin gitu loh kak biar tetep baikbaik ajaAy Self-disclosure memiliki aspek valensi sebagai acuan terkait informasi yang bersifat positif atau negatif yang dibagikan individu kepada orang lain. Dimensi ini mengarah kepada bagaimana individu memposisikan dirinya dan informasi yang dimilikinya sebagai sesuatu yang positif atau negatif. Ketika FS berbagi cerita dengan temannya. FS mengaku bahwa dapat menceritakan hal-hal yang positif dan negatif dan cenderung merasa bebas untuk membagikannya. AuKalau sama dia ini, cenderung hal negatif sih kak. Tapi, gak melulu hal negatif sih ada yang positif jugaAy Berbeda dengan yang dilakukan FS terhadap sang ibu, dirinya mengatakan bahwa cenderung hanya menceritakan hal-hal yang positif terkait dirinya dan memilih untuk tidak menceritakan hal-hal negatif padanya. Dimensi yang terakhir dari self-disclosure merupakan niat. Niat pada dimensi ini merupakan maksud dan tujuan individu ketika membagikan informasi terkait dirinya kepada orang lain. Dengan adanya niat dalam perbuatan self-disclosure yang dilakukan, dapat membentuk kontrol individu dalam membagikan informasi yang ia bagikan kepada orang lain. Dalam kondisi FS, pengungkapan diri yang sering dilakukannya sekedar membagikan apa yang dialami dan dirasakannya tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Aukalo lagi cerita cuma sekedar sharing aja sih kak , aku malah kurang suka kalo dia nunjukkin ekspresi yang mengasihani gitu lohAy Namun, dalam hal kesadaran diri pada dimensi ini. FS mengatakan bahwa terkadang membagikan cerita yang di awal tidak ingin disampaikan kepada temannya atau Pada dimensi ini, self-disclosure FS pada sang ibu dikatakan bahwa dirinya mencoba untuk lebih membuka diri kepada ibunya dengan tujuan mendekatkan diri. Aukalo cerita ke bunda biasanya karena pengen nyoba ngedeketin diri aja sih sama Ay PEMBAHASAN Perceraian yang terjadi dalam sebuah keluarga memiliki dampak terhadap keluarga itu sendiri terutama kepada anak. Pada seorang remaja, situasi tersebut dapat menimbulkan adanya perasaan kurang dukungan maupun perhatian dari kedua orangtuanya (Putri, 2. Dalam menghadapi sebuah situasi, remaja cenderung membutuhkan orang seperti teman sebaya untuk membantu dirinya (Astuti dkk. , 2. Hubungan pertemanan yang dimiliki oleh subjek cukup dekat dengan ditandai adanya kepercayaan yang dimilikinya untuk menceritakan informasi terkait yang dialaminya. Sejalan dengan hasil penelitian yang menemukan bahwa nilai indeks kedekatan remaja pada teman lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua. Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 Pada temuan (Salsabila & Abdullah, 2. terhadap remaja dengan orang tua bercerai, mereka tetap mampu untuk saling berbagi terkait informasi pribadinya kepada orang tua. Berbeda dengan yang ditemukan pada penelitian ini, bahwa subjek cenderung lebih bebas terbuka dengan temannya. Dalam (Baharu dkk. , 2. disebutkan bahwa pada tahap remaja terdapat kecenderungan untuk bersikap melepas keterlibatan orang tua pada hal-hal yang dialaminya. Subjek juga menyampaikan bahwa dirinya sering menahan diri untuk terbuka kepada orang tuanya. Dasar dari perilaku yang dilakukan adalah FS adanya perasaan malu untuk berbagi cerita kepada orang tua dan peranan orang tua yang kurang dirasakan oleh dirinya. Dalam penelitian (Nugrahaningtyas & Nuryanti, 2. juga ditemukan bahwa faktor yang menjadikan anak tidak dekat dengan orang tua adalah kurangnya perhatian dan tidak adanya figure yang positif yang memahami dan menemani. Perbedaan ditemukan kembali pada dimensi kuantitas yang dimiliki subjek terhadap orang tua dan temannya. Ditemukan bahwa dirinya dapat membagikan informasi yang dialaminya kepada teman hampir setiap saat ketika mereka sedang Meskipun keduanya tidak bertemu, media sosial menjadi wadah baginya untuk berbagi cerita dengan sang teman. Proborini . menyebutkan bahwa adanya waktu yang lebih digunakan dengan teman membuat remaja menjadi lebih banyak berinteraksi dan menaruh percaya kepada teman dibandingkan orang tua. Hal tersebut sesuai dengan yang ditemukan pada subjek yang cenderung hanya menyempatkan diri untuk bercerita ketika ibunda terlihat senggang dan situasi di rumah sedang baik-baik saja. Sejalan dengan hasil temuan pada remaja yakni merasa takut membebani orang tua jika terbuka kepada mereka (Astrella & Kholifah, 2. Remaja ditemukan cenderung menghindari self-disclosure kepada orang tua dengan dasar adanya ketakutan untuk menimbulkan konflik yang terjadi dalam keluarga (Abdillah & Pratiwi, 2. Informasi yang dibagikan oleh subjek kepada teman dapat bermacam-macam namun, informasi yang bersifat negatif lebih sering dibagikannya daripada positif. Ditemukan bahwa subjek merasakan adanya kecocokan antara teman dalam menanggapi cerita yang dimilikinya. Hal ini sama dengan yang disebutkan (Liddiniyah & Maryam, 2. terkait persahabatan pada remaja dapat mempengaruhi sejauh mana interaksi diantara mereka terjadi. Berbanding dengan yang dibagikannya kepada orang tua yang cenderung lebih sering menceritakan hal-hal positisf yang Pengaruh pemberian penilian kepada remaja dapat mempengaruhi perkembangan sosial yang dimilikinya. Dengan teman, remaja menemukan adanya penilaian yang diberikan oleh teman yang seusianya bukan berdasarkan penilaian orang dewasa (Mufidha, 2. Penyampaian terkait informasi yang dimiliki oleh individu terhadap orang lain cenderung terdapat niat yang dimilikinya. Subjek diketahui memiliki kedekatan yang kurang dengan sang ibu. Keterbukaan diri yang dilakukan oleh subjek pada sang ibu memiliki tujuan untuk mendekatkan diri. Menurut (Altman & Taylor . dalam (Septiani , 2. hubungan yang lebih dekat dengan orang lain dapat dicapai dengan melakukan pengungkapan diri terhadap orang tersebut. Dalam hubungan pertemanan, tidak ditemukan adanya niat yang dimiliki oleh subjek ketika melakukan self-disclosure kepada teman. Namun, subjek mengungkapkan adanya perasaan lega ketika membagikan informasi terkait dirinya kepada teman. Taylor . menyampaikan bahwa pada dasarnya self-disclosure secara sengaja dan tidak sengaja pasti memiliki niat atau tujuan dilakukannya hal tersebut. Dalam konteks subjek ini tujuan yang tidak sengaja Nuraliza. Thohar. Widayanti. Self-Disclosure Remaja dalam Hubungan. dimilikinya adalah adanya penyampaian ekspresi yang ditandai adanya perasaan lega (Hapsari & Azahra, 2. Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa self-disclosure yang dimiliki oleh subjek dengan kondisi orang tua bercerai pada penelitian ini terhadap hubungan teman lebih tinggi dibandingkan terhadap hubungan orang tua. Hal ini dapat dilihat dari dimensi yang dicapai oleh subjek pada intimasi, ketepatan, kuantitas, valensi, dan niat yang cukup tinggi dalam hubungan dengan teman. Keterbatasan ditemui dalam penelitian ini dengan adanya jumlah sample yang terbatas dan kriteria sample yang kurang menjurus sehingga hasil yang didapatkan kurang bervariasi. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terkait self-disclosure pada remaja dengan kondisi orang tua bercerai memiliki kemampuan untuk mengungkapkan diri kepada orang lain dan cenderung merasa lebih mudah untuk terbuka dalam hubungan pertemanan dibandingkan dengan orang tua. Self-disclosure yang dilakukan terhadap temannya didasari dengan kepercayaan yang tinggi karena kedekatan yang dirasa oleh Hal tersebut mempengaruhi subjek untuk mengungkapkan diri secara mendalam baik informasi yang baik atau buruk terhadap dirinya. Dalam hubungan dengan orang tua, subjek merasakan adanya kedekatan yang kurang sehingga merasa adanya keterbatasan serta kesusahan untuk bisa terbuka dengan orang tua. Bagi individu dengan kondisi yang telah bercerai dengan pasangan dan memiliki anak, diharapkan tetap menaruh perhatian yang lebih terhadap anak khususnya mereka yang sedang berada di fase remaja. Dengan begitu, anak dapat tetap merasakan peran yang dibutuhkannya untuk melanjutkan ke fase berikutnya. Untuk remaja dengan kondisi orang tua yang telah bercerai, diharapkan tetap memiliki kepercayaan diri khususnya dalam pertemanan dan memiliki setidaknya satu orang yang dapat dipercaya untuk menjadi tempat berbagi perasaan yang dimilikinya. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mencakup lebih banyak subjek yang dapat dijadikan perbandingan serta menentukan kriteria subjek yang lebih terperinci. DAFTAR PUSTAKA