E-ISSN: 2746-5926 P-ISSN: 2621-0479 Vol. No. 2, . Jurnal Ilmiah Akuntansi Ekonomi Bisnis. Manajemen Akuntansi https://jurnal. stie-lpi. id/index. php/neraca Analisis Minat Berkunjung Wisatawan Pada Objek Wisata Pantai Biru Kota Makassar Dengan Pendekatan Cased Studies Alfiani Muhae. Abd. Rahi. Citra Ayni Kamaruddi. Diah Retno Dwi Hastut. 4 1,2,3,4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar muhaer321@gmail. rahim@unm. citraayni@unm. retno@unm. ABSTRACT This study aims to analyze tourist interest in visiting Blue Beach in Makassar City. This type of research is descriptive qualitative research with a cased studies approach. The subjects of this research are tourists who come to the Blue Beach tourist attraction in Makassar City. The results show that ease of access contributes to the positive experience of tourists, which can encourage return visits. Adequate facilities, although not luxurious, also play a role in attracting tourists to Affordable travel costs are one of the main attractions for tourists. Demographic characteristics of tourists, such as age, and marital status, also influence their interest in visiting. Younger travelers are more attracted to the visual appeal promoted on social media, while older travelers seek a relaxing experience. The study also found that the purpose of the visit varied, encompassing recreation and wellness, indicating that Pantai Biru serves as a multifunctional Pull factors of Pantai Biru are natural beauty, and affordable prices, which are the main attractions for tourists. Therefore, it is recommended that destination managers pay attention to the differences in motivations and preferences between new and repeat tourists, and implement appropriate strategies in terms of accessibility, facilities, and pricing to increase tourist attraction and satisfaction. Keywords: Makassar City Blue Beach. Tourism. Visit Interest. ABSTRAK Pengembangan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat berkunjung wisatawan ke Pantai Biru di Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan cased studies . tudi kasu. Adapun yang menjadi subjek pada penelitian ini yaitu wisatawan yang datang ke objek wisata Pantai Biru Kota Makassar. Hasil menunjukkan bahwa kemudahan akses berkontribusi pada pengalaman positif wisatawan, yang dapat mendorong kunjungan kembali. Fasilitas yang memadai, meskipun tidak mewah, juga berperan dalam menarik minat berkunjung Biaya perjalanan yang terjangkau menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan. Karakteristik demografis wisatawan, seperti usia, dan status perkawinan, turut memengaruhi minat mereka untuk berkunjung. Wisatawan muda lebih tertarik pada daya tarik visual yang dipromosikan di media sosial, sementara wisatawan yang lebih tua mencari pengalaman relaksasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa tujuan kunjungan bervariasi, mencakup rekreasi dan kesehatan, yang menunjukkan bahwa Pantai Biru berfungsi sebagai destinasi multifungsi. Pull factors dari Pantai Biru adalah keindahan alam, dan harga yang terjangkau, yang menjadi daya tarik utama bagi Oleh karena itu, pengelola destinasi disarankan untuk memperhatikan perbedaan motivasi dan preferensi antara wisatawan baru dan berulang, serta menerapkan strategi yang sesuai dalam hal aksesibilitas, fasilitas, dan penetapan biaya untuk meningkatkan daya tarik dan kepuasan wisatawan. Kata Kunci : Minat berkunjung. Pantai Biru Kota Makassar. Pariwisata. PENDAHULUAN Pertumbuhan industri pariwisata yang memberikan peluang besar untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan regional yang berdampak kepada meningkatnya pendapatan asli daerah. Pemerintah membantu memfasilitasi dan memiliki fungsi strategis untuk mewujudkan upaya-upaya yang mengarah kepada perkembangan industri wisata melalui kepemimpinan institusinya dalam hal perencanaan, pembangunan, pengeluaran kebijakan pariwisata, dan penegakan peraturan, sehingga pariwisata daerah mendapatkan perhatian lebih mendalam. Terutama aset-aset wisata yang memiliki potensi yang bukan hanya bernilai historis akan tetapi mempunyai aset lain dimana aset wisata yang bernilai ekonomis juga. Di Indonesia terdapat banyak wilayah yang mempunyai potensi wisata termasuk Kota Makassar. Perkembangan fisik Kota Makassar yang semakin meningkat, tentunya akan menimbulkan berbagai perubahan masalah kota. Berbagai bentuk reklamasi yang terjadi, membawa perubahan struktur kota semakin terkendali, khususnya terkait dengan masalah pariwisata. Pembenahan masih terus dilakukan dengan mengembangkan berbagai kawasan sebagai sektor wisata bahari. Wisata bahari di Kota Makassar sangat menjanjikan, dengan lokasi Kota Makassar terletak di wilayah pesisir selatan Pulau Sulawesi dan berbatasan langsung dengan selat Makassar sehingga memiliki kekayaan sumber daya hayati laut dan buatan, yang meliputi: pesisir 35,22 Km serta memiliki 11 pulauAepulau kecil dengan luas total 178,5 ha dengan panorama Pantai. Pantai Biru adalah salah satu objek wisata Pantai yang ada di Sulawesi Selatan yang terletak di Kota Makassar. Tepatnya Pantai Biru yang berada di Jalan Metro Tanjung Bunga. Kecamatan Tamalate. Kota Makassar. Sulawesi Selatan yang sampai saat ini masih dalam tahapan Pantai Biru awalnya adalah Pantai Tanjung Merdeka namun lama kelamaan terpisah membentuk beberapa pantai yang juga pengelolanya berbeda beda. Pantai Biru ini dinamakan Pantai Biru, karena pantai ini memiliki warna gazebo dominan biru terang. Pantai biru memiliki banyak potensi yang dapat di manfaatkan, yaitu sebagai wisata bahari, kawasan perdagangan dan lain sebagainya. Beberapa penelitian sebelumnya telah menyoroti berbagai faktor yang berperan penting dalam minat berkunjung wisatawan ke destinasi pariwisata, termasuk aspek-aspek seperti aksesibilitas, fasilitas, dan biaya perjalanan. Namun, belum ada studi yang khusus mengidentifikasi faktor-faktor yang paling signifikan dalam konteks Pantai Biru di Kota Makassar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tersebut dengan melakukan analisis minat berkunjung wisatawan pada objek wisata Pantai Biru. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang komponen ini diharapkan dapat membantu pengelola pariwisata, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang strategi pengembangan pariwisata yang efektif dan berkelanjutan di Kota Makassar. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul penelitian AuAnalisis Minat Berkunjung Wisatawan pada Objek Wisata Pantai Biru Kota MakassarAy. Rumusan masalah pada penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam apa yang mempengaruhi minat berkunjung wisatawan, baik dari aspek internal maupun eksternal. Dalam konteks latar belakang permasalahan, terdapat peningkatan jumlah kunjungan wisatawan setiap Peningkatan wisatawan menimbulkan pertanyaan mengenai faktor apa saja yang menjadi pendorong utama peningkatan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi persepsi, pengalaman, dan motivasi wisatawan yang dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai alasan di balik minat berkunjung wisatawan, serta menganalisis peningkatan kunjungan yang terkait dengan aksesibilitas, fasilitas, dan biaya perjalanan. KAJIAN TEORI Pariwisata Pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu perjalanan yang berlangsung lebih dari 24 jam dari tempat tinggalnya. Menurut Spillane . , pariwisata dalam pengertian yang luas adalah perpindahan sementara dari satu tempat ke tempat lain, baik dilakukan secara individu maupun kelompok, dengan tujuan mencari keseimbangan, keserasian, serta kebahagiaan dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, yang mencakup dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu pengetahuan. Ditambahkan pula bahwa pariwisata dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu: pariwisata untuk menikmati perjalanan . leasure touris. , pariwisata untuk rekreasi . ecreation touris. , pariwisata berbasis budaya . ulture touris. , pariwisata olahraga . ports touris. , pariwisata bisnis . usiness touris. , dan pariwisata untuk menghadiri konvensi . onvention touris. (Wahyuni, 2. Pendorong dan Penarik (Push and Pull Theor. Menurut John L. Crompton . Teori pendorong dan penarik dalam pariwisata merupakan salah satu teori yang menjelaskan alasan di balik minat berkunjung wisatawan untuk melakukan perjalanan. Faktor dorongan adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu, seperti kebutuhan untuk melepaskan diri dari rutinitas, mencari relaksasi, atau petualangan. Faktor Push . terkait dengan kebutuhan psikologis, sosial, dan emosional yang memotivasi seseorang untuk meninggalkan tempat asalnya. Sedangkang Faktor penarik merupakan daya tarik dari destinasi wisata itu sendiri, seperti keindahan alam, budaya, atau fasilitas yang ditawarkan. Faktor penarik adalah atribut eksternal yang ada di destinasi yang menarik seseorang untuk memilih lokasi tersebut. Minat Berkunjung Menurut Albarq dalam (Agusti et al. , 2. , teori minat berkunjung dianalogikan sama dengan minat beli. Minat menurut Kotler dan Susanto adalah minat sebagai dorongan, yaitu rangsangan internal yang kuat serta memotivasi tindakan, dimana dorongan ini dipengaruhi oleh stimulus dan perasaan positif akan produk. Kotler dan Susanto mengatakan bahwa, usia mempengaruhi jenis aktivitas dan objek wisata yang diminati oleh wisatawan. Usia menentukan minat berkunjung wisata berdasarkan kebutuhan emosional dan sosial yang berbeda. Misalnya, wisatawan muda . sia muda hingga usia menenga. cenderung mencari destinasi sesuai tren, seperti wisata alam atau tempattempat yang terkenal di media sosial. Kelompok usia ini umumnya dipengaruhi oleh pencarian pengalaman baru yang dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Menurut Jenkins . bahwa minat berkunjung dan motivasi wisatawan cenderung bervariasi seiring dengan usia mereka. Ia membagi karakteristik wisatawan berdasarkan umur menjadi tiga yaitu Wisatawan Muda . -30 tahu. Wisatawan Usia Menengah . -50 tahu. , dan Wisatawan Lanjut Usia . i atas 50 tahu. (Utomo, 2. Menurut Kotler dalam Agusti et al. setiap tahap usia memiliki kebutuhan, keinginan, dan preferensi yang berbeda terkait konsumsi dan pengalaman wisata. Hal ini disebabkan oleh variasi karakteristik psikologis dan sosiokultural pada tiap kelompok usia, yang memengaruhi motivasi mereka dalam memilih destinasi serta bagaimana mereka menikmati pengalaman wisata tersebut. Menurut Kotler dan Keller terdapat dua faktor eksternal yang memengaruhi minat beli Pertama, sikap orang lain, yang memengaruhi minat beli seseorang bergantung pada dua faktor: seberapa besar pengaruh sikap negatif individu terhadap alternatif yang diminati oleh konsumen, serta motivasi konsumen untuk dipengaruhi oleh orang lain yang terkait dengan minat Kedua, situasi yang tidak terduga, yakni kondisi yang tiba-tiba muncul dan secara tidak langsung dapat mengubah minat beli konsumen. Sedangkan Menurut Kinnear dan Taylor, minat merupakan tahap di mana responden menunjukkan kecenderungan untuk bertindak sebelum keputusan pembelian benar-benar dilakukan. Keputusan Berkunjung Keputusan untuk mengunjungi destinasi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan perilaku keputusan pembelian, sehingga keputusan berkunjung dapat dianalogikan dengan keputusan pembelian barang atau jasa. Menurut James F. Engel. David T. Kollat, dan Roger D. Blackwell, perilaku konsumen merujuk pada aktivitas individu yang secara langsung terlibat dalam memperoleh dan menggunakan barang serta jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang terkait dengan persiapan dan penentuan kegiatan tersebut. Perilaku konsumen adalah tindakan yang dilakukan oleh konsumen dalam proses mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan memperbaiki produk dan jasa. Fokus perilaku konsumen adalah pada cara individu membuat keputusan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dalam rangka mengkonsumsi suatu barang (Luh, 2. Menurut Kotler dan Keller . yang menyatakan bahwa keputusan wisatawan dalam memilih tujuan wisata dipengaruhi oleh faktor-faktor internal, seperti motivasi pribadi dan keinginan untuk mencari pengalaman baru, serta faktor eksternal, seperti jarak, biaya, dan aksesibilitas Keputusan wisatawan untuk mengunjungi destinasi tertentu tidak hanya bergantung pada daya tarik fisik destinasi tersebut, tetapi juga pada kemudahan akses dan perbedaan pengalaman yang ditawarkan dibandingkan dengan tempat tinggal mereka. Konsumen membuat keputusan mengunjungi atau membeli barang tertentu. Ada empat faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, yaitu budaya, sosial, pribadi, dan psikologis (Maharani Bintang et al. , 2. Daya Tarik Wisata Menurut Suwena . Daya tarik wisata merujuk pada segala hal yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai, yang mencakup keanekaragaman kekayaan alam, budaya, serta hasil karya manusia, yang menjadi target atau tujuan kunjungan para wisatawan. Selanjutnya Zaenuri . menyatakan Daya tarik wisata diartikan sebagai objek yang memiliki daya pikat untuk dilihat, disaksikan, dan dinikmati, serta dianggap memenuhi syarat untuk dipasarkan dalam industri pariwisata (Tengku Putri Lindung Bulan et al. , 2. Aksesiilitas Menurut Suwantoro . , aksesibilitas merupakan salah satu aspek penting yang mendukung pengembangan pariwisata, karena berkaitan dengan pengembangan lintas sektor. Tanpa adanya koneksi dengan jaringan transportasi, mustahil bagi suatu objek wisata untuk menarik kunjungan dari wisatawan. Objek wisata adalah tujuan akhir dari perjalanan wisata dan harus memenuhi kriteria aksesibilitas, yang berarti objek wisata tersebut harus mudah dijangkau dan ditemukan. Fasilitas Fasilitas mencakup segala bentuk sarana dan prasarana yang mendukung pengalaman wisata agar dapat dinikmati dengan optimal oleh para wisatawan. Sarana merujuk pada segala hal yang digunakan sebagai alat atau fasilitas yang dinikmati oleh pengunjung di destinasi wisata. Prasarana mencakup fasilitas fisik yang diperlukan oleh wisatawan untuk mencapai suatu tempat, baik yang disediakan oleh pemerintah maupun sektor swasta, yang mendukung aktivitas mereka selama melakukan perjalanan (Bulan et al. , 2. Kebutuhan wisatawan tidak hanya terbatas pada menikmati keunikan dan keindahan alam, tetapi juga mencakup perlunya fasilitas wisata yang memadai di daerah tujuan, seperti akomodasi . empat hiburan, hotel/penginapan, restoran/tempat makan, dan toko cinderamat. , serta fasilitas lainnya . usholla, tempat parkir, dan toile. Kebutuhan wisatawan tidak hanya meliputi pengalaman menikmati keindahan dan keunikan alam, tetapi juga mencakup pentingnya adanya fasilitas wisata yang memadai di lokasi tujuan. Fasilitas tersebut termasuk akomodasi seperti hotel, tempat hiburan, restoran, dan toko cinderamata, serta layanan lain seperti musholla, area parkir, dan toilet. Ketiga, fasilitas penunjang adalah sarana yang berfungsi sebagai pelengkap utama, sehingga kebutuhan wisatawan dapat terpenuhi selama mereka mengunjungi lokasi wisata (Sudarwan et al. , 2. Biaya Perjalanan Menurut Mc. Intosh . , hubungan antara biaya perjalanan dan kunjungan wisata dapat dilihat dari jarak ekonomi yang berkaitan dengan waktu serta biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan dari tempat asal menuju tujuan dan kembali. Semakin besar jarak ekonomi, semakin besar pula hambatan untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga permintaan cenderung menurun. Sebaliknya, jika waktu dan biaya perjalanan menjadi lebih efisien, maka permintaan untuk mengunjungi tempat tersebut akan meningkat (Arifin & Waluyo, 2. Biaya perjalanan adalah salah satu faktor penting yang dipertimbangkan wisatawan saat memilih tujuan. Wisatawan biasanya memperhatikan tingkat biaya sebelum melakukan perjalanan, mengingat tidak semua pengunjung memiliki anggaran yang tidak terbatas. Jika seorang wisatawan memiliki anggaran terbatas, mereka cenderung memilih lokasi yang dekat dengan tempat tinggal untuk mengurangi biaya perjalanan. Wisatawan akan mengeluarkan sebagian dari pendapatannya untuk membayar berbagai kebutuhan, seperti biaya transportasi, makan dan minum selama berkunjung, biaya menginap, belanja, serta kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, mereka akan melakukan perbandingan untuk menentukan tujuan kunjungan mereka. Menurut Kotler . , yang menjelaskan bahwa salah satu elemen penting dalam pengambilan keputusan wisatawan adalah cost and benefit consideration. Jika biaya yang dikeluarkan lebih rendah tetapi pengalaman yang diperoleh tetap berkualitas, maka destinasi tersebut akan lebih menarik bagi METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. dilaksanakan di Pantai Biru. Kota Makaasar. Objek Wisata Pantai Biru yang berlokasi di Jalan Tanjung Merdeka. Kecamatan Tamalate. Kota Makassar. Sulawesi Selatan. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara selama melakukan penelitian. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Reduksi data. Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian kualitatif, informan merupakan suatu pilar utama sebagai sumber memperoleh Wisata Pantai Biru merupakan salah satu objek wisata Bahari yang ada di Kota Makassar. Pantai Biru terletak tidak jauh dari pusat Kota yaitu di kawasan Jalan Metro Tanjung Bunga. Kelurahan Tanjung Merdeka. Kecamatan Tamalate, dari pusat Kota Makassar hanya berjarak sekitar 15 km membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sedangkan dari Pantai Losari hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Beradasarkan data Kecamatan Tamalate dalam angka 2022. Kecamatan tamalate memiliki luas wilayah yaitu 20,21 km, jumlah penduduk yang berada di kecamatan tersebut mencapai 186. 280 jiwa. Yang terbagi menjadi 93. 029 penduduk laki-laki, dan 251 penduduk Perempuan. Wisata Pantai Biru berdekatan dengan beberapa wisata Pantai yang membuatnya sangat mudah ditemukan (Toleman, 2. Tenaga kerja yang ada di wisata Pantai Biru berjumlah sekitar 36 orang yang dimana 8 orang petugas loket, 15 orang kebersihan, 3 jasa foto, dan 10 orang patugas parkir. Sedangkan fasilitas yang ada di Pantai Biru yaitu, gazebo sebanyak 22 unit, tempat duduk sebanyak 24 unit, toilet 15 unit, masjid, menara pemantau, ruangan informasi, serta antraksi air yang berupa banana boat dan bebek-bebek . Karakteristik Wisatawan Hasil penelitian mengenai analisis keputusan berkunjungan wisatawan dipengaruhi oleh karakteristik yang diperoleh peneliti dengan menggunakan teori keputusan berkunjungan oleh Philip Kotler tahun 2008. teori keputusan berkunjungan yang menekankan bahwa wisatawan dipengaruhi oleh faktor seperti usia, asal, status, pendidikan dan pekerjaan. Hal tersebut mempengaruhi mereka dalam memilih destinasi wisata yang ingin di kunjungi. Usia dan Siklus Hidup Usia mempunyai pengaruh besar dalam menentukan keputusan seseorang karena fisiologi, psikologi, dan pengalaman yang berbeda dari berbagai tahap kehidupan. Orang akan membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya yang dimana setiap kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh siklus hidup keluarga. Siklus hidup keluarga yang dimaksudkan adalah status pernikahan wisatawan yang juga berdampak pada keputusan mereka dalam banyak hal karena perbedaan dalam prioritas, minat dan kebutuhan mereka. Roger Jenkins . mengelompokkan karakteristik wisatawan berdasarkan umur. Jenkins mengamati bahwa kecenderungan dan motivasi wisatawan bervariasi seiring dengan usia mereka. Jenkins membagi karakteristik wisatawan berdasarkan umur menjadi tiga yaitu Wisatawan Muda . -30 tahu. Wisatawan Usia Menengah . -50 tahu. , dan Wisatawan Lanjut Usia . i atas 50 tahu. Berdasarkan data wawancara, mayoritas informan 80% dalam penelitian tersebut diketahui belum menikah, sementara hanya 20% sisanya yang sudah menikah. Status perkawinan ternyata mempengaruhi proses pengambilan keputusan wisatawan dalam perencanaan perjalanan Wisatawan yang belum menikah cenderung memiliki lebih banyak kebebasan dan fleksibilitas dalam menentukan destinasi wisata, aktivitas yang diinginkan, dan jenis akomodasi yang dipilih, karena mereka dapat mengutamakan kenyamanan pribadi tanpa mempertimbangkan kebutuhan keluarga atau pasangan mereka. Asal Wisatawan Berdasarkan hasil penelitian, wisatawan yang berkunjung ke Pantai Biru berasal dari wilayah Kota Makassar dan luar Kota Makassar. Hal tersebut menunjukkan bahwa wisata Pantai Biru sudah familiar di Masyarakat. Mereka yang asalnya dari luar Kota Makassar cenderung memiliki tempat tinggal dengan perbedaan geografis yang sangat signifikan, sehingga untuk melakukan kunjungan wisata mereka cenderung memilih tempat yang berbeda dengan daerah asal. Sementara, kunjungan wisata bagi mereka yang berasal dari sekitar wilayah wisata Pantai Biru sudah sering Sedangkan, wisatawan dari luar Kota Makassar memilih berkujung karena adanya ingin merasakan keindahan pantai atau telah mengalami pengalaman yang baik di Pantai Biru sehingga ingin melakukan kunjungan lebih dari sekali. Kunjungan Wisatawan Tujuan Kunjungan Wisatawan Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa tujuan dari kunjungan wisatawan dalam melakukan wisata ke Pantai Biru Kota Makassar sangat beragam. Beberapa informan memiliki lebih dari satu tujuan dalam melakukan kegiatan wisata seperti melakukan kunjungan wisata dengan tujuan untuk liburan sekaligus melakukan terapi kesehatan. Dari data yang diperoleh, mayoritas wisatawan bertujuan untuk liburan, sementara beberapa pengunjung bertujuan untuk melakukan terapi untuk kesehatan. Tujuan kunjungan wisatawan merupakan faktor penting yang menentukan pola kunjungan dan perilaku wisatawan. Pemahaman tentang tujuan ini dapat membantu pengelola destinasi wisata dalam merancang dan menyediakan fasilitas serta layanan yang sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan wisatawan. Dengan demikian. Pantai Biru tidak hanya menjadi tempat liburan, tetapi juga sebagai tempat yang memberikan manfaat kesehatan bagi pengunjungnya. Intensitas Kunjungan Intesitas kunjungan wisatawan merupakan tingkat dari seberapa sering dan seberapa banyak wisatawan yang mengunjungi suatu destinasi wisata dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa wisatawan yang menjadi informan dalam penelitian ini beberapa masih pertama kali melakukan kunjungan di Pantai Biru. Sedangkan bagi wisatawan yang pertama kali melakukan kunjungan wisata di Pantai Biru cenderung datang berkelompok baik bersama teman atau keluarga. Informan yang pertama kali berkunjung ke Pantai Biru mendapatkan informasi melalui sosial media, sehingga mereka ingin melihat secara langsung sesuai apa yang mereka bayangkan atau tidak. Sementara informan yang memiliki intensitas berkunjungan ke Pantai Biru lebih dari satu kali kunjungan sebagian besar aksesibiltas lebih dekat dan mereka melakukan kunjungan bersama keluarga. Faktor yang Mempengaruhi Wisatawan Melakukan Kunjungan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa indikator Pariwisata seperti daya Tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas, dan biaya perjalanan dapat memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi dan pengalaman berwisata mereka. Daya Tarik Berdasarkan hasil bservasi yang dilakukan di Pantai Biru, diperoleh mayoritas wisatawan mengatakan bahwa daya tarik wisata yang diberikan menjadi faktor utama dalam melakukan kunjungan ke Pantai Biru. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan hasil wawancara bersama beberapa informan yang mengatakan bahwa selain didukung oleh pemandangan yang indah, pantai ini juga dikelilingi dengan gazebo dan tempat duduk yang berwarna biru. Aksesibilitas Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa sebagian wisatawan mengatakan aksesibilitas sangat mempengaruhi keputusan untuk melakukan perjalanan wisata. Aksesibilitas menjadi penting karena destinasi yang dapat dijangkau dengan mudah dan menawarkan berbagai atraksi wisata yang mudah diakses cenderung lebih disukai oleh wisatawan daripada destinasi yang sulit Seperti pernyataan dari beberapa informan yang mengatakan bahwa, mereka tidak memiliki kendala untuk jarak yang dilalui dan lokasinya mudah diakses. Beberapa pantai di Makassar pun lokasinya berada di daerah deretan yang sama dengan Pantai Biru. Fasilitas Berdasarkan hasil observasi peneliti. Pantai Biru menawarkan keindahan pantai yang memukau dengan fasilitas lengkap seperti tempat duduk, meja, gazebo, masjid dan toilet. Namun, beberapa informan menyoroti kebutuhan peningkatan dalam hal kebersihan pantai. Mereka mengemukakan bahwa kebersihan pantai masih perlu ditingkatkan untuk menghindari pencemaran lingkungan dan mempertahankan keindahan pemandangan pantai. Selain itu, beberapa informan juga mengatakan bahwa gazebo yang tersedia masih kurang banyak, sehingga pengunjung kadang tidak mendapatkan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Biaya Perjalanan Berdasarkan hasil observasi, data diperoleh dari beberapa informan yang mengungkapkan pandangan mereka mengenai biaya tiket masuk, biaya parkir, dan biaya perjalanan. Informan menyatakan bahwa harga tiket masuk sebesar Rp. 000 per orang serta biaya parkir sebesar Rp. 000 untuk kendaraan bermotor dan Rp. 000 untuk kendaraan bermobil dianggap terjangkau, sebanding dengan yang disediakan di tempat wisata tersebut. Secara keseluruhan, informan menilai biaya yang dikeluarkan untuk mengunjungi Pantai Biru relatif murah, meskipun ada variasi dalam biaya perjalanan tergantung pada jarak tempuh dari tempat tinggal wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa biaya perjalanan dan fasilitas di Pantai Biru dinilai sesuai dengan apa yang diterima wisatawan, sehingga memberikan nilai yang sepadan bagi mereka. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti diperoleh bahwa harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau bagi para wisatawan, mereka juga mengatakan bahwa harga yang mereka bayarkan sepadan dengan kualitas dan pengalaman yang mereka dapatkan. Namun yang dikeluhkan oleh wisatawan adalah harga gazebo yang tidak menentu. Sehingga, hampir semua datang hanya untuk menghabiskan waktu bersama rekan atau kerabat untuk bermain di pantai dan menikmati matahari terbenam pada sore hari. KESIMPULAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan bahwa beberapa aspek yang berperan penting dalam minat wisatawan untuk mengunjungi Pantai Biru di Kota Makassar. Daya Tarik wisata, kemudahan akses, fasilitas yang memadai, dan biaya perjalanan yang terjangkau menjadi elemen penting dalam menciptakan pengalaman positif bagi wisatawan. Karakteristik wisatawan, seperti usia, status perkawinan, dan asal geografis, juga berperan penting dalam minat mereka untuk Wisatawan muda lebih tertarik pada daya tarik visual yang dipromosikan di media sosial, sementara wisatawan yang lebih tua mencari pengalaman relaksasi. Selain itu, tujuan kunjungan yang bervariasi menunjukkan bahwa Pantai Biru berfungsi sebagai destinasi Pull factors dari Pantai Biru adalah keindahan alam, dan harga yang terjangkau, yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. DAFTAR PUSTAKA