Hoax dan Nilai Toleransi Beragama di Kota Pontianak : Effect dan Urgency Rezkie Zulkarnain. Exnasia Retno Palupi Handayani STAKat Negeri Pontianak Email : rerekirey89@gmail. STAKat Negeri Pontianak email :exnasiapalupi@gmail. Abstrak Di Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak, memiliki keanekaragaman suku, budaya, dan agama, sehingga hubungan sosial antar masyarakat terjalin sangat tinggi. Namun potensi untuk perselisihan antar umat juga sebanding dengan jalinan yang terjadi, apalagi ditambah pula dengan adanya berita bohong yang menyudutkan salah satu kelompok. Penelitian ini membahas pentingnya nilai toleransi beragama terhadap penyebaran hoax yang marak terjadi saat ini. Adapun tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh dan kepentingan hoax terhadap nilai toleransi beragama di Kota Pontianak. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan desain Sequential Explanatory Design. Sampel yang dipilih yaitu anggota komunitas Tepelima yang mewakili agama Islam. Protestan. Katolik. Konghucu. Hindu, dan Budha. Alat Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini kuisioner yang telah divalidasi oleh ahli dan diikuti dengan wawancara mendalam. Hasil Penelitian menunjukkan bukti bahwa ada pengaruh yang positif antara hoax dan nilai toleransi beragama. Pengaruh hoax terhadap nilai toleransi beragama ditandai dengan adanya kesadaran masyarakat untuk segera menangkal hoax, memupuk kebersamaan, dan semakin mempererat persaudaraan antar sesama organisasi termasuk di dalam komunitas itu sendiri. Terlebih anggota komunitas sangat peduli terhadap keberagaman di Kota Pontianak sebagai perwujudan nilai-nilai toleransi umat beriman khususnya bagi kaum muda. Bentuk kepedulian yang ditunjukkan oleh masyarakat yakni dengan sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Dengan demikian wujud toleransi beragama menjadi suatu urgency yang diharapkan agar hoax tidak menimbulkan perpecahan antar umat beragama. Kata kunci: Hoax. Nilai Toleransi Beragama. Effect. Urgency Abstract West Kalimantan, especially in Pontianak, has tribes, cultures, and religions diversity so that social relations between people who have different backgrounds are very high. Therefore, the potential for conflict is high even if added by hoax and push one of the groups. This research discussed the importance of religious tolerance value towards the spread of hoax these days. The aims of this research were to know the effect and the urgency of hoax toward the religious tolerance value in Pontianak. The method used in this study was mixed method with sequential explanatory design. The chosen sample was Tepelima community which represents Islamic. Christian. Catholic. Confucius. Hinduism, and Buddhism. The instrument to collect the data were questionnaires which were validated by the expert and depth interview. The result of the research showed the proof that there was a positive effect between hoax and religious tolerance value. The effect of hoax toward religious tolerance value was marked by the society's awareness to counteract hoaxes, keep togetherness, and strengthen fraternity between the organizations, including in the community itself. Moreover, the members of the community really cared about the diversity in Pontianak as the realization of religious tolerance value, especially for youth. The concern showed by the community was the attitude to appreciate and respect others. Therefore, the religious tolerance became an urgency that was expected so that hoax didnAt cause conflict between religious community Key words: Hoax. Religious Tolerance Value. Effect. Urgency PENDAHULUAN Akhir Ae akhir ini masyarakat telah diresahkan dengan adanya berita bohong . yang marak bertebaran, terutama informasi dari media sosial. Hoax merupakan usaha untuk memanipulasi kabar dan atau berita yang disampaikan kepada objek sasaran meskipun pembawa berita tahu betul bahwa berita yang disampaikan merupakan berita yang tidak benar (Rahadi, 2017:. Dampak dari beredarnya hoax ini yaitu terbentuknya opini publik yang mengarah kepada terjadinya kehebohan di masyarakat, ketidakpastian informasi, dan menciptakan ketakutan massa (Budiman, 2017:. Begitupun jika tidak ditangani dengan serius. Hoax akan berakibat buruk dan merugikan banyak pihak, menimbulkan kerugian dari berbagai aspek baik waktu maupun ekonomi, kepanikan masyarakat, serta hubungan sosial yang memburuk (Putri, et al, 2019: . Permasalahan yang timbul saat ini adalah banyaknya hoax yang menyebar luas, bahkan orang terpelajar pun tidak bisa bedakan mana berita yang benar, advertorial dan hoax (Rahadi, 2017:. Walaupun nilai-nilai mengenai anti disinformasi telah dimiliki para individu, ternyata tidak selalu merespon stimulus hoax dengan cara yang sama. Hal ini bukan disebabkan oleh manipulasi yang dibuat hoax, melainkan karena kabar tersebut juga disebarkan oleh pihak-pihak lain yang belum memiliki nilai-nilai serupa, yang tidak mungkin bisa ditahan lajunya media social (Herawati. , et al, 2019: . Permasalahan ini harus diwaspadai dengan ada kesadaran untuk mencari kebenaran dalam sebuah informasi. Jangan sampai adanya hoax dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Mengingat Indonesia terdiri dari beraneka ragam, suku, bahasa, dan agama yang harus dijaga, penanaman ilmu agama dan pengamalan agama sesuai dengan agama yang dipeluk oleh warga negara sangatlah membantu masyarakat agar tidak dengan mudah terpengaruhi oleh berita bohong. Setiap warga harus tetap menjaga toleransi antar umat beragama sehingga bisa menepis berita bohong yang dapat memecah kerukunan antar umat beragama. Hoax dapat menimbulkan permusuhan dan tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang mengutamakan toleransi (Juliswara, 2017: . Toleransi merupakan bentuk akomodasi dalam interaksi sosial (Kinloch, 2005: . Manusia beragama secara sosial tidak bisa menghindari bahwa mereka harus bergaul bukan hanya dengan kelompoknya sendiri, tetapi juga dengan kelompok berbeda agama. Konsep toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adat istiadat, budaya, serta agama (Devi, 2009: . Ekspresi pengalaman keagamaan dalam bentuk kelompok ini merupakan tanggapan manusia beragama terhadap realitas mutlak yang diwujudkan dalam bentuk dialog harmonis antar umat seagama ataupun berbeda agama, guna membuktikan bahwa bagi mereka merupakan alat vital keberagamaan manusia dalam pergaulan sosial, dan ini terdapat dalam setiap agama, baik yang masih hidup bahkan yang sudah punah. Ada beberapa tahapan dalam hubungan antar agama yang akhirnya memunculkan dialog harmonis antar umat beragama. Tahapan-tahapan ini dianalogkan dalam bentuk: I. You dan We. AuIAy menunjukkan eksklusif. AuYouAy, menunjukkan inklusif, dan AuweAy menunjukkan keterbukaan (Casram, 2. Para penganut agama memberikan tanggapan atau respon terhadap doktrin Dalam memberikan respon ini, para penganut agama setidaknya memiliki tiga kecenderungan yang bisa teramati. Menurut Komarudin Hidayat . alam Casram, 2. ketiga kecenderungan itu, yang menurutnya bukan sebagai suatu pemisahan, adalah kecenderungan AumistisAy . Auprofetik-ideologisAy . , dan Auhumanis-fungsionalAy. Dari ketiga kecenderungan tersebut, humanis fungsional adalah kecenderungan beragama dengan titik tekan pada penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang dianjurkan oleh agama. Pada tipe ini, apa yang disebut kebijakan hidup beragama adalah bila seseorang telah beriman pada Tuhan dan lalu berbuat baik terhadap sesamanya. Sikap toleran dan eklektisisme pemikiran beragama merupakan salah satu ciri tipe ini. Diperkuat oleh penelitian oleh Juliswara . menyatakan bahwa kebhinnekaan sebagai pengikat sosial diuji karena kecenderungan praktik ujaran kebencian yang dipromosikan melalui media sosial. Kondisi itu diperparah oleh penyalahgunaan media sosial seperti persebaran berita bohong atau informasi palsu . yang dampaknya menimbulkan permusuhan dan tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang mengutamakan toleransi. Selain itu berdasarkan penelitian Casram . , toleransi agama yang ideal mustinya dibangun melalui partisipasi aktif semua anggota masyakarat beragama yang beragam guna mencapai tujuan-tujuan yang sama atas dasar kebersamaan, sikap inklusif, rasa hormat dan saling-paham terkait pelaksanaan ritual dan doktrindoktrin tertentu dari masing-masing agama. Di Provinsi Kalimantan Barat, keanekaragaman suku dan agama sangatlah mencolok. Khususnya Kota Pontianak yang merupakan kota yang dinamis dalam hal kerukunan umat beragama sesuai dengan latar belakang masyarakatnya yang sangat beragam, baik dari segi suku bangsa, agama, adat istiadat, dan khazanah budaya (Rachmadhani, 2018: . Ada berbagai macam suku dan agama yang menyebar diseluruh area Kota Pontianak. Sehingga jalinan sosial antar masyarakat yang mempunyai latar belakang yang berbeda ini sangatlah tinggi. Oleh karena itu, potensi untuk perselisihan sangatlah tinggi apalagi jika ditambah dengan adanya berita bohong yang menyudutkan salah satu kelompok. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kelompok Ae kelompok agama di Kalimantan Barat, khususnya yang berada di Kota Pontianak membentuk suatu perkumpulan antar agama yang disebut sebagai TEPELIMA yang berarti Temu Pemuda Lintas Agama. Kelompok ini diharapkan dapat membantu meminimalisir perselisihan antar umat beragama dan memupuk persatuan dan kesatuan di wilayah Kalimantan Barat. Dalam rangka untuk mempererat persatuan dan kesatuan dari segi agama di Kota Pontianak, komunitas ini sangat perhatian terhadap isu-isu yang berkembang terutama hoax. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh hoax terhadap nilai toleransi beragama di Kota Pontianak yang ditujukan kepada subyek komunitas TEPELIMA. Selain itu untuk melihat seberapa penting pengamalan nilai toleransi beragama untuk menangkal hoax tersebut khususnya yang terjadi di Kota Pontianak. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan desain penelitian Sequential Explanatory Design. Penelitian mixed method merupakan ragam penelitian yang mengolaborasikan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Cresswell, 2014: . Sugiyono . 8: . mengemukakan bahwa penelitian kuantitatif bertujuan untuk melihat hubungan variabel terhadap obyek yang diteliti menggunakan instrumen-instrumen formal, standar dan bersifat mengukur. Sementara penelitian kualitatif lebih menekankan proses. Sehingga dalam penelitian ini digunakan menggunakan kombinasi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif agar dapat menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan teori dan fakta lapangan dari berbagai narasumber. Gambar 1 Model Sequential Explanatory Design Sumber : Creswell . 4 :. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah individu yang tercatat dalam keanggotaan komunitas Tepelima di Pontianak. Pemilihan komunitas ini karena terdiri dari individu berbagai kalangan usia dan agama yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini menggunakan Teknik Purposive Sampling. Sampel yang digunakan adalah anggota komunitas Tepelima sebanyak 30 orang yang mewakili agama Islam. Protestan. Katolik. Konghucu, dan Budha. Pemilihan komunitas ini karena terdiri dari individu berbagai kalangan usia dan agama yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini ada dua variable yang digunakan, yaitu variable independent dan variable dependent. Variable independent adalah berita bohong . , sedangkan variable dependent adalah nilai toleransi Sedangkan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitan ini adalah teknik komunikasi tidak langsung. Teknik pengumpulan data dalam penelitan ini didahului dengan memberikan kuisioner/angket diikuti dengan wawancara mendalam. Kuisioner ini sebelum digunakan di validasi terlebih dahulu dengan validator ahli, kemudian divalidasi konstruk dengan mengujicobakan angket kepada kelompok masyarakat beraneka ragam Sundayana . 4: . menyatakan bahwa maksud dari validitas suatu instrument penelitian adalah untuk menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrument dengan cara mengungkapkan data dari variabel yang diteliti dengan tepat. Instrumen yang digunakan yaitu angket dengan terlebih dahulu dikonsultasikan atau divalidasi oleh dua orang ahli. Hasilnya kuisioner sudah sesuai dengan kisi-kisi indikator yang telah dibuat. Setelah itu soal tes di uji cobakan untuk mendapatkan instrumen penelitian yang memenuhi alat ukur baku. Kemudian setelah mendapatkan data hasil jawaban uji coba soal tes maka selanjutnya akan dilakukan validitas konstruk menggunakan rumus korelasi product moment melalui aplikasi SPSS versi 21. Kuisioner ini digunakan untuk mengetahui pandangan anggota komunitas TEPELIMA tentang berita hoax dan pengamalan nilai-nilai toleransi beragama. Sedangkan wawancara dilakukan untuk mengetahui informasi secara mendalam terhadap pribadi anggota komunitas yang diwakili oleh 5 orang dalam komunitas tersebut serta upaya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi akibat berita HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan dideskripsikan hasil analisis data beserta pembahasan setelah dilakukan penelitian mengenai hoax dan nilai toleransi beragama terhadap di Kota Pontianak untuk menguji pengaruh dan melihat pentingnya kedua variabel tersebut. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kuantitatif, data dianalisis menggunakan analisis regresi linier sederhana dimana proses perhitungan menggunakan SPSS versi 21. Namun sebelum itu harus dipenuhi syarat normalitas, linieritas, dan heteroskedastisitas Sedangkan secara kualitatif, data diperoleh dengan cara mendeskripsikan data angket dan hasil wawancara mendalam. Hasil Uji Normalitas Dengan bantuan SPSS versi 21 hasil skor data angket berita bohong . terhadap nilai toleransi beragama diuji kenormalitasannya. Berikut output lahan uji normalitas terhadap data skor Tabel 1 Output Hasil Uji Normalitas Unstandardized Residual Mean Normal Parameters Std. Deviation 6. Absolute Most Extreme Positive Differences Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Pada kolom Kolmogorov-Smirnova nilai Sig. untuk data skor angket adalah 0. Karena Sig. 05, maka berdasarkan pengambilan keputusan dalam uji Kolmogorov-Smirnovdi atas, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Dengan demikian persyaratan normalitas dalam model regresi sudah terpenuhi. Uji Linearitas Setelah uji normalitas terpenuhi, dilanjutkan dengan uji linearitas dengan bantuan SPSS versi 21 hasil skor data angket berita bohong . terhadap pengamalan nilai-nilai toleransi diuji Berikut output olahan uji linearitas terhadap data skor tersebut. Tabel 2 Output Olahan Uji Linearitas Sum of Squares df Mean Square Deviation from 873. Linearity Within Groups Total (Combine. Y*X Between Groups Linearity Sig. Dari output di atas, diperoleh nilai Deviation from Linearity 0,09 > 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan linear secara signifikan antara variable hoax dan nilai toleransi Dengan demikian persyaratan linearitas dalam model regresi sudah terpenuhi. Uji Heteroskedastisitas Uji ini merupakan salah satu dari uji asumsi klasik yang harus dilakukan pada regresi linear. Apabila asumsi heteroskedastisitas tidak terpenuhi, maka model regresi dinyatakan tidak valid sebagai alat peramalan. Pengujian dapat dilakukan pada program SPSS (Statistical Product and Service Solutio. versi 21 dengan metode Rank Spearman berikut output olahan uji heteroskedastisitas terhadap data skor tersebut. Tabel 3 Output olahan uji heteroskedastisitas Model Unstandardized Coefficients (Constan. Dependent Variable: toleransi Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Dari output di atas, diperoleh nilai Sig. -taile. sebesar 0,882 > 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa ada tidak terdapat masalah atau gejala heteroskedastisitas antara variable hoax dan nilai toleransi beragama. Dengan demikian persyaratan model regresi layak dipakai dalam penelitian ini. Jika syarat normalitas, linearitas, dan heteroskedastisitas terpenuhi maka uji hipotesis dapat dilanjutkan dengan menganalisa data angket dalam penelitian menggunakan rumusan alisis regresi linier sederhana. Berikut output olahan uji hipotesis dengan model regresi linier sederhana terhadap data skor tersebut. Uji hipotesis Tabel 4 Output Olahan Uji Hipotesis Dengan Regresi Linier Sederhana Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Std. Error Beta (Constan. Sig. Dari output di atas, diperoleh nilai Sig. -taile. sebesar 0,002 < 0. 05, bersadarkan nilai tersebut dapat dikatakan bahwa ada pengaruh hoax terhadap nilai toleransi beragama. Kemudian dilihat dari angka koefisien regresi bernilai positif sebesar 1,048 sehingga dapat dikatakan bahwa hoax berpengaruh positif terhadap nilai toleransi beragama. Maka terbukti hipotesis yang diajukan bahwa hoax berpengaruh positif terhadap nilai toleransi beragama di Kota Pontianak. Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapatnya pengaruh hoax terhadap nilai toleransi pemuda-pemudi lintas iman. Hal ini tentunya bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dalam pembahasan ini akan dijelaskan dari beberapa sudut pandang sebagai berikut. Dalam penelitian ini, responden adalah pemuda-pemudi dari lima agama di Indonesia yang termasuk ke dalam organisasi keagamaan. Artinya, pemuda-pemudi ini merupakan aktivis dari masing-masing agamanya. Sangat besarnya jumlah responden yang masuk dalam kategori kaum millennial memberikan implikasi yang besar pada penelitian ini. Karena data menunjukkan bahwa pengalaman berorganisasi mampu menjadi faktor penangkalan hoax yang dimulai dari masing-masing organisasi tersebut. Faktor latar belakang responden juga dianggap menyumbang andil dalam hasil penelitian ini. Latar belakang responden kebanyakan mahasiswa dan sisanya adalah pemuda-pemudi yang sudah bekerja. Hal ini membuat terbatasnya pilihan media pemenuhan kebutuhan responden. Terakhir, faktor prioritas untuk aktif dalam media sosial dan mendapatkan kedekatan virtual dengan komunitasnya juga dianggap berperan dalam mempengaruhi hasil penelitian ini. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa sumber hoax mayoritas didapatkan dari media sosial. Hasil ini didukung oleh data yang menujukkan bahwa 73. persen orang akan membuka situs jejaring sosial ketika mengakses internet, dan 53,7 persen di antaranya menggunakannya untuk saing berkirim pesan (Kominfo, 2017:. Tujuan untuk bisa mendapatkan kesenangan ketika mengakses media sosial membuat sebagian orang merasa tidak perlu untuk memenuhi kebutuhanya akan informasi dari media lain. Pembahasan Pengaruh Hoax Terhadap Nilai Toleransi Beragama Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap sumber data perwakilan tiap agama dalam komunitas TEPELIMA bahwa komunitas ini merupakan perkumpulan pemuda-pemudi yang sadar dan peduli terhadap keberagaman di Kalimantan Barat guna menjaga toleransi beragama. Pengaruh hoax terhadap pengamalan nilai-nilai toleransi ialah bahwa adanya kesadaran dari Masyarakat untuk dengan segera menangkal hoax, memupuk kebersamaan dan semakin menjalin mempererat persaudaraan antar sesama organisasi yang termasuk di dalam komunitas. Kesadaran masyarakat dalam mangkal hoax sudah dirasa sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai upaya dan sosialisasi terkait hoax di Kalimantan barat maupun Indonesia pada umumnya. Komunitas melihat bahwa munculnya narasi sarat distorsi fakta, dengan tujuan politik tertentu, bukanlah soal baru. Betapa mudah orang terbakar oleh isu terlebih isu tersebut mengenari SARA (Suku. Agama. Ras, dan Antargolonga. Selanjutnya penyebaran hoax bukan saja bertanggungjawab atas kebenaran fakta, tapi juga menarik orang untuk bertindak sesuai yang dianjurkan dalam konten hoax tersebut. Oleh karena itu komunitas ini menjadikan dirinya sebagai agen perdamaian bagi umatumat beragama yang tinggal dalam suatu daerah yang sama. Mereka aktif melakukan diskusi dalam forum agar komunitas selalu menjaga erat persaudaraan dan toleransi beragama. Pentingnya Pengamalan Nilai Toleransi Beragama untuk Menangkal Hoax Melihat bahwa peran hoax dalam menimbulkan perpecahan di Kalimantan Barat sangat besar, dengan sigap TEPELIMA yang dikoordinasi oleh SADAP (Satu dalam Perbedaa. Indonesia mulai melakukan pergerakan. Gerakan pertama yang mereka lakukan ialah dengan capacity building. Capacity building dilaksanakan dengan tujuan untuk peningkatan kapasitas dalam penangkalan hoax, mengidentifikasi masalah-masalah organisasi maupun hoax, mencari kebutuhan-kebutuhan pengembangan diri dan organisasi, isu-isu dan peluang-peluang yang dapat diperankan organisasi dan isu-isu yang rentan dipergunakan untuk penyebaran hoax, membuat formulasi strategi dalam proses mengatasi masalah-masalah, dan tentunya merancang sebuah rencana aksi agar bisa terkumpul data penataan sistem organisasi secara baik. Strategi yang digunakan oleh anggota komunitas adalah kontra narasi terkait isu tersebut. Gerakan kedua terkait sosialisasi tentang hoax dan pelatihan penangkalan hoax di organisasi. Komunitas ini sudah melaksanakan sosialisasi dan pelatihan terkait hoax. Mereka dibekali untuk mengenal lebih jauh bagaimana mengidentifikasi informasi adalah suatu fakta atau hoax. Adapun cara mengetahui berita atau informasi tersebut bukan hoax ialah sebagai berikut: Melakukan pengecekan di media mainstream tentang ada tidaknya berita tersebut dimuat. Menelaah bentuk berita atau informasi tersebut, seperti screenshoot atau bukan. Jika berita atau informasi tersebut berbentuk web maka dilakukan pengecekan di Who Is guna mendapatkan informasi lengkap terkait web memuat berita atau informasi tersebut. Tindakan alternatif ialah dengan mendownload Hoax Buster Tool di Playstore. Gerakan ketiga adalah melakukan verifikasi langsung terhadap informasi yang tersebar. Pemverifikasian informasi ini dilakukan dengan kerjasama yang erat antara komunitas dengan Hoax City Center Pontianak. Artinya komunitas melihat bahwa suatu informasi perlu ditelaah lebih dalam kebenarannya agar tidak menimbulkan perpecahan di Kalimantan Barat dan di Indonesia secara Dari pembahasan tersebut, bahwa komunitas sudah melakukan berbagai upaya untuk penangkalan hoax dalam pengamalan nilai-nilai toleransi. Contohnya dengan senantiasa menjaga keberagaman melalui koordinasi antar sesama organisasi guna tidak timbulnya perpecahan di Kalimantan Barat ini. Sangat perlu diapresiasi bahwa komunitas begitu peduli terhadap nilai-nilai toleransi di Kalimantan Barat dan penangkalan hoax yang beredar. KESIMPULAN Dari hasil penelitian dan pembahasan penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif hoax terhadap nilai toleransi beragama. Hal ini dibuktikan dengan adanya kesadaran pemuda Ae pemudi untuk memupuk kebersamaan dan semakin mempererat persaudaraan antar sesaa di Kota Pontianak. Pentingnya pengamalan nilai toleransi beragama ini berguna agar tidak timbulnya perpecahan antar umat beragama di Kota Pontianak ini. Sangat perlu diapresiasi bahwa komunitas Tepelima begitu peduli terhadap nilai Ae nilai toleransi beragama dan penangkalan hoax yang beredar. DAFTAR PUSTAKA