AoITyCB (TEGURAN) KEPADA RASULULLAH SAW DALAM AL-QURAoAN (TELAAH KITAB TAFSyaR AL-QURAoyCN AL-AoAZHyaM) AoITyCB (REPRIMAND) TO THE MESSENGER OF ALLAH IN THE QURAoAN (REVIEW OF THE AL-QURAoyCN AL-AoAZHyaM INTERPRETATION BOOK) Tsalitsa Noor Kamila Prodi Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Sekolah Tinggi Ilmu Al-QurAoan (STIQ) Isy Karima. Karanganyar. Jawa Tengah kamila@gmail. ABSTRACT The focus of this research is the interpretation of AoItyb . to the Messenger of Allah in the Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym. The theme of AoItyb . To the Prophet Muhammad was chosen because of this library research is descriptive-analytical. The primary source is the book of Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym. The secondary sources include writings that are relevant with this study. This research concludes: first, what is meant by AoItyb . is AllahAos rebuke to the Messenger of Allah not because the Messenger of Allah was guilty or sinful, but ijtihad . is choic. violates what should be taken, even though ijtihad in Islam is permitted, but he is Prophet. Apostle, and as uswatun hasanah which is a good example for all As for the verse AoItyb . to the Prophet Muhammad there were 12 places in the QurAoan according to the event. QS. An-Nisa Ao. : 105-113. QS. Al-AnAoam . : 52-54. QS. Al-Anfal . : 67-69. QS. At-Taubah . : 43-45. QS. At-Taubah . : 84. QS. Al-Isra Ao. : 7377. QS. Al-Kahfi . : 23-24. QS. Al-Hajj . : 52-54. QS. Al-Ahzab . : 28. QS. Al-Ahzab . : 36-40. QS. At-Tahrim . : 1-5, and QS. Abasa . : 1-16. Second, the interpretation of AoItyb . to the Messenger of Allah in the Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym is based on mutawatir religious arguments that can be accounted for. Keywords: Interpretation. AoItyb . to the Messenger of Allah, and Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym ABSTRAK Fokus penelitian adalah penafsiran tentang AoItyb . kepada Rasulullah saw. Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym. Tema AoItyb . kepada Rasulullah saw. dipilih karena penelitian pustaka ini bersifat deskriptif-analitis. Sumber primernya adalah kitab Tafsyr AlQurAoyn Al-AoAzhym. Adapun sumber sekundernya meliputi tulisan-tulisan yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan: pertama, yang dimaksud dengan AoItyb . adalah teguran Allah kepada Rasulullah saw. bukan karena sebab Rasulullah saw. bersalah atau berdosa, namun ijtihad . menyalahi apa yang sepatutnya di ambil, sekalipun ijtihad dalam Islam diperbolehkan, namun beliau adalah Nabi. Rasul, serta sebagai uswatun hasanah, yakni contoh teladan yang baik bagi umatnya. Adapun ayat AoItyb . kepada Rasulullah saw. ada 12 tempat dalam Al-QurAoan menurut peristiwanya. QS. An-NisaAo . : 105-113. QS. Al-AnAoam . : 52-54. QS. Al-Anfal . : 67-69. QS. At-Taubah . : 43-45. QS. At-Taubah . : 84. QS. Al-IsraAo . : 73-77. QS. Al-Kahfi . : 23-24. QS. Al-Hajj . QS. Al-Ahzab . : 28. QS. Al-Ahzab . : 36-40. QS. At-Tahrim . : 1-5, dan QS. Abasa . : 1-16. Kedua, penafsiran tentang AoItyb . Kepada Rasulullah saw. Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym dilandasi dengan dalil agama yang mutawatir yang dapat dipertanggungjawabkan. Kata Kunci: Penafsiran. AoItyb . Kepada Rasulullah saw. , dan Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. PENDAHULUAN Al-QurAoan adalah kalamullah, yang turun kepada Rasulullah saw. melalui Malaikat Jibril, demi membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya illahi, serta menjadi petunjuk bagi manusia. Rasulullah saw. dengan Nabi utusan Allah yang lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul diutus untuk masyarakat dan dalam waktu tertentu, tetapi Rasulullah saw. diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat. Rasulullah saw. bukan hanya sekadar sholeh dan sempurna, tetapi juga maAoshum . ang terjaga dari dosa dan yang dijaga oleh Alla. Hakikatnya setiap orang tidak luput dari kesalahan, kesalahan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya, karena Nabi pun demikian. AlQurAoan dan hadits mengisahkan bagaimana para Nabi juga pernah berbuat salah. Kesalahan ijtihad inilah yang mengakibatkan Rasulullah saw. mendapat teguran dari Allah, hal tersebut bukan untuk mempermalukan, namun merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap Nabinya. Karena Rasulullah saw. adalah Rasul Allah dan beliau merupakan uswah . bagi umatnya. Istilah Aoityb . merupakan istilah dalam bahasa Arab, yang artinya mencela, menyalahkan perbuatannya, ataupun teguran. Sedangkan ayat-ayat dalam Al-QurAoan yang merupakan ayat Aoityb . Shallah Abdul - RasuFattah Al-Khalidiy dalam kitabnya Itabu lillah fil QurAoanil Karim menyebutkan bahwa terdapat 12 peristiwa Rasulullah saw. Peneliti memilih Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym karya Abul FidaAo Imaduddin Ismail yang lebih dikenal dengan Ibnu Katsir, karena didalamnya memiliki beberapa kelebihan. Menurut Rasyid Ridho yang dikutip dari karya Manna Al-Qaththan, kitab Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym ini terkenal dengan banyak memberikan perhatian besar terhadap riwayat-riwayat dari para mufassir salaf, menjelaskan makna-makna ayat dan hukumnya, menjauhi pembahasan masalah iAorab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufasir, menghindar dari pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak diperlukan dalam memahami Al1 Munawwir. Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Progressif. cet - . Shallah Abdul Fattah Al-Khalidiy. Itbu Rasulillah fil QurAoanil Karim. Damaskus: Dar Al-Qalam. cet - . QurAoan secara umum atau hukum dan nasihatnasihatnya secara khusus. Pemahaman ayat-ayat Aoityb . dalam Al-QurAoan dapat dilakukan melalui penulusuran riwayat-riwayat dalam Tafsyr AlQurAoyn Al-AoAzhym yang dikemukakan berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat tersebut untuk mengetahui asbabun nuzulnya, meskipun tidak menutup kemungkinan membuka kitabkitab asbabun nuzul lainnya. Dengan Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym menjadi sebuah petunjuk atas dalam mengetahui penafsiran dan sebab turunnya ayat teguran. KAJIAN PUSTAKA Sejauh pengetahuan dan penelusuran penulis, kajian Aoityb . yang ada hanya mengulas secara singkat tentang topik ayatayat Aoityb . dalam Al-QurAoan. Pengetahuan dan pemahaman tentang ayat-ayat Aoityb . dalam Al-QurAoan hanya dapat diketahui melalui kitab-kitab tafsir ataupun kitab yang mengkaji Al-QurAoan dan kitab-kitab asbabun nuzul ayat yang menginformasikan bahwa suatu ayat adalah ayat Aoityb . Adapun mengenai tentang karya ilmiah satu tema yang baru kami temukan, yakni: . Teguran Al-QurAoan (Al-AoIta. Kepada Nabi Muhammad dalam Tafsir Al-Tabari dan Tafsir Fi Zilalil Al-QurAoan. Skripsi ini ditulis oleh M. Nuryasin AsyafiAoI, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fakultas Ushuluddin dalam rangka untuk meraih gelar sarjana, tahun 2003. Dan sejauh ini pula penulis belum menemukan penelitian tema tentang ayat-ayat Aoityb Manna Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu AlQurAoan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. untuk Rasulullah saw. dalam prespektif Ibnu Katsir. Akan tetapi, penulis menemukan adanya penelitian yang berkaitan dengan kajian pokok kitab Tafsir Ibnu katsir, yakni: Studi Analisa Terhadap Metode Sistematika dan Ittijah Tafsir Ibnu Katsir. Skripsi ini ditulis oleh Muhammad SaAoadul Afan, mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dalam rangka untuk meraih gelar Sarjana, tahun 1995. Analisis Penerapan Metode bi al-MaAosur dalam Tafsir Ibnu Katsir terhadap penafsiran Ayat-ayat Hukum. Jurnal ini ditulis oleh Nurdin. Fakultas SyariAoah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Judul-judul dan tema yang dikaji dalam karya-karya Ilmiyah di atas, belum didapatkan adanya kajian-kajian ilmiyah terkhusus membahas tentang penafsiran dan hikmah ayat-ayat AoItyb . Kepada Rasulullah saw. Dalam Al-QurAoan dalam kitab Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. METODE PENELITIAN Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian pustaka . ibrary researc. , yaitu penelitian yang dilakukan melalui riset kepustakaan melalui buku-buku kepustakaan. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsyr Al-QurAoyn Al-AoAzhym karya Abul FidaAo Imaduddin Ismail yang lebih dikenal oleh Ibnu Katsir. Sedangkan sumber data sekunder diambil dari beberapa karya orang tentang penafsiran mengenai pembahasan yang sedang dikaji dan terkait mengenai Ibnu Katsir. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi, yaitu mendokumentasikan berbagai sumber data yang terkait dengan tema kajian, baik yang berupa sumber data primer maupun sekunder. Kemudian analisis isi digunakan untuk menganalisis makna yang ada dalam pernyataanpernyataan Ibnu Katsir. seorang Yahudi yang bernama Zaid bin Samin, ada juga yang mengatakan Labid bin Sahl dan Rasulullah saw. belum mengetahui hal tersebut. ThuAomah tidak mengakui perbuatannya itu, justru menuduh bahwa yang mencuri barang itu Zaid. Hal ini diajukan oleh kerabatkerabat ThuAomah kepada Nabi saw. mereka meminta agar Nabi membela ThuAomah, jika tidak akan celaka serta menghukum orang-orang Yahudi. Padahal mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah ThuAomah. Nabi sendiri hampirhampir membenarkan tuduhan ThuAomah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi, sebab beliau bangkit dan membebaskannya dari tuduhan. Padahal orang tersebut tidak bersalah, sebaliknya merekalah yang Sebagaimana Allah membuka hal tersebut kepada Rasulullah saw. Kemudian ancaman dan peringatan ini berlaku bagi mereka dan juga orang lain yang memiliki sifat yang sama dengan mereka. 5 Maka Allah menurunkan ayat ini. PEMBAHASAN 1 Penafsiran Ayat-Ayat Ityb (Tegura. Kepada Rasulullah saw. dalam Tafsyr AlQurAoyn Al-AoAzhym QS. An-NisaAo . : 105-113 Melihat konteks ayatnya, diturunkan berkenaan dengan peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang munafiq bernama ThuAomah bin Ubairiq. Sebagian ulama ushul menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk menetapkan bahwa Nabi berhak menetapkan hukum dengan ijtihad. Mereka juga berdalil dengan hadits yang terdapat dalam Ash-Shahihain dari riwayat Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Umu Salamah, dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw. mendengar suara gaduh orang bertikai di depan kamar pintu beliau, beliau keluar kepada mereka dan bersabda. AuKetahuilah, bahwasannya aku ini hanya manusia biasa, aku memutuskan sesuai dengan apa yang aku dengar. Bisa jadi salah seorang dari kalian lebih pandai menyampaikan hujjahnya daripada sebagian yang lain maka aku memenangkannya. Barangsiapa aku menangkan atas hak seorang muslim maka itu sejatinya potongan api neraka. Maka, silakan ia ambil atau ia tinggalkan. Ay4 Rasulullah saw. menuruti keinginan orang-orang apa yang ingin berpisah diri dari kaum yang lemah. Dengan jaminan jika melakukan hal tersebut akan masuk Islam. Ibnu Jarir meriwayatkan, bahwasannya ada sekelompok kaum Quraisy lewat di hadapan Rasulullah saw. Saat itu di dekat beliau ada Shuhaib. Bilal. AoAmmar. Khabbab, dan orang-orang lemah lainnya dari kalangan kaum mukminin. Karena di masa awal Rasulullah saw. diutus, kebanyakan yang mengikuti beliau adalah orang-orang lemah dari kalangan kaum lelaki, wanita, budak, dan lainnya, hanya ada segelintir orang terhormat. Kemudian kaum Quraisy marah dan Adapun riwayat lain disebutkan Bani Ubairiq dan di sebutkan ThuAomah bin Ubairiq. Suatu saat ia mencuri dan menyembunyikan barang curian di rumah Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. Saudi Arabia: Dar Thoyyibah. Jilid 2. QS. Al-AnAoam . : 52-54 Ibid. hal 404-407. gusar, sebab pengikut beliau bukan malah sedikit, justru semakin banyak. Mereka hendak bermaksud untuk menghalangi dan membendung upaya dakwah. Nabi Muhammad saw. dengan berbagai strategi yang telah dirancangnya. Yakni dengan mempengaruhi dan membujuk Nabi saw. agar mau meninggalkan dakwah kepada kaum lemah serta menyuruh beliau untuk mengusir mereka. Dengan jaminan jika beliau mengabulkan permintaan mereka, mereka berjanji akan memeluk Islam, menjadi kaum pengikut beliau. Kemudian Utbah bin RabiAoah. Syaibah bin RabiAoah. MuthAoim bin AoAdi. Al-Harits bin Naufal, dan Qarazhah bin Abd AoAmr bin Naufal bersama para pemuka bani Abdi Manaf yang kafir datang menemui Abu Thalib. Mereka mengatakan kepada Abu Thalib bahwa keponakannya, yaitu Muhammad mengusir mantan budak (Bilal. AoAmmar bin Yasir. Salim mantan budak Hudzaifah. Shabih mantan budak Usai. dan sekutu (Ibnu MasAoud. Al-Miqdad bin AoAmru. MasAoud bin Al-Qari. Waqid bin Abdillah Al-Hanzhali. AoAmru bin Abd AoAmru. Dzu Asy-Syamalain. Martsad bin Abi Martsa. kita dari sisinya. Mereka itu adalah budak dan buruh kita. Kemudian Abu Thalib mendatangi Rasulullah saw. lalu menyampaikan hal yang diadukan Maka Umar bin Khathab mengatakan kepada beliau jika beliau melakukan hal tersebut . dan bertanya kepada beliau apakah beliau ingin melihat apa yang mereka mau dari perkataan mereka sendiri? Dan hampir saja Rasulullah saw. dan hendak mengabulkan persyaratan para kafir Quraisy untuk memisahkan antar majelis tokoh kafir Quraisy dan kaum budak hamba sahay serta kaum dhuafa. Kemudian turunlah ayat ini. Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 256-262 QS. Al-Anfal . : 67-69 Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bermusyawarah dengan para sahabat mengenai tawanan perang badar dengan berbagai versi cerita. Namun. Rasulullah saw. memilih pendapat Abu Bakar, yakni mengambil tebusan. Dan Ibnu MasAoud berkata bahwa di dalam tawanan perang Badar ada Suhail bin BaidhaAo karena dia pernah mengucapkan kalimat Islam. Ada juga yang bernama Al-Abbas, karena beliau paman Rasulullah saw. dan beliau mengira bahwa kaum Anshar telah membunuhnya. Kemudian Umar mendatangi kaum Anshar dan menyuruh untuk melepaskan AlAbbas. Dan mereka menolak, namun ini atas ridho Rasulullah untuk melepaskan akhirnya mereka melepaskan Al-Abbas. Ketika Al-Abbas sudah berada di tangan Umar. Umar menyuruhnya untuk masuk Islam, dan Rasulullah mendambakan akan keislamannya. Maka Rasulullah mengambil tebusan dari mereka. Dan disini tertera bahwa Rasulullah saw. mengambil pendapat Abu Bakar, yakni dengan cara mengambil tebusan dari para Seharusnya pendapat Umar lah yang beliau ambil. 8 lalu Allah menurunkan ayat ini. QS. At-Taubah . : 43-45 Dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu Katsir tidak menyebutkan bahwa Rasulullah saw. Hanya menjelaskan rangkaian kisah sebab turunnya, bahwasannya orang-orang yang izin untuk tidak ikut Perang Tabuk itu karena mereka bimbang. Bimbang dalam melangkahkan kaki, serta tidak mempunyai langkah yang pasti dalam melakukan sesuatu. Hakikatnya Ibid. hal 88-90. Ibid. mereka telah Allah sesatkan, sehingga tidak menemukan jalan. Tidak mungkin Rasulullah saw. salah, karena jika dilihat awal ayat terdapat seruan pemberian maaf sebelumnya. Jika melihat ayat sebelumnya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Allahlah yang mencela orang-orang yang tidak ikut perang bersama Rasulullah dalam Perang Tabuk, mereka tinggal di tempatnya setelah mereka meminta izin kepada Nabi saw. dengan menampakkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang berhak mendapatkan keringanan padahal mereka tidak demikian. bin Ubay. Dan Abdullah bin Ubay bersedia memberikan bajunya untuk paman Nabi saw. Dengan demikian, apa yang dilakukan Rasulullah saw. memberikan bajunya kepada Ibnu Ubay hanya semata-mata bermaksud untuk membalas jasa Abdullah bin Ubay atas paman beliau. Namun, setelah turun ayat tersebut tidak pernah lagi menshalatkan orang munafiq ataupun mendoakannya di atas kuburan. Dan ketika Rasulullah saw. diundang untuk menshalatkan jenazah beliau selalu bertanya terlebih dahulu mengenai keadaan sang mayit, jika orangorang memuji kebaikannya, maka beliau Jika diizinkan, maka tinggallah dan jika tidak diizinkan maka tinggallah begitu sabda Rasul. Allah memberi kabar bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah meminta izin untuk tidak ikut berperang, karena mereka memandang bahwa jihad adalah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Maka ketika ada seruan untuk berjihad, mereka langsung bergegas dan melaksanakan seruan itu. Namun ada sebagian yang tidak ikut berperang padahal tidak berhalangan, tidak mengharapkan pahala Allah di akhirat nanti serta meragukan dan bimbang dalam segala Turunlah teguran yang mana ada seruan pemberian maaf sebelumnya10 Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari orang-orang munafik dan tidak menshalatkan seorang pun yang meninggal dunia dari mereka, serta tidak berdiri di atas kuburnya guna memohonkan ampunan baginya atau mendoakannya, karena mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka meninggal dunia dalam keadaan Hukuman itu berlaku bagi siapa saja yang telah diketahui kemunafikkannya, meskipun sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dari Ibnu Umar, ia menceritakan, ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, putranya yang bernama Abdullah bin Abdullah datang kepada Rasulullah saw. lalu ia meminta beliau supaya memberikan kepadanya baju beliau untuk mengkafani ayahnya. Maka beliau pun memberikannya. Lalu meminta beliau untuk menshalatkan jenazahnya, maka Rasulullah saw. pun berangkat untuk Kemudian Umar menarik QS. At-Taubah . : 84 Ibnu Katsir menyebutkan alasan mengapa Nabi saw. memakaikan baju Abdullah bin Ubay, karena ketika Perang Badar, paman Rasulullah yakni Abbas termasuk menjadi tawanan perang. Karena postur tubuh paman Nabi. Abbas berbadan gemuk, hingga tidak menemukan baju seukuran pamannya kecuali baju Abdullah Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. Ibid. Ibid. baju beliau dan berkata. AuYa Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, padahal Rabb-mu telah melarangmu untuk menshalatkannya? Maka Rasulullah saw. pun bersabda. AuSesungguhnya Allah hanya memberikan pilihan kepadaku . idak Di mana Allah berfirman. AoEngkau memohonkan ampun bagi mereka, atau tidak engkau mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja. Engkau mohonkan ampun bagi mereka 70 kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Ay Umar menimpali. AuSesungguhnya ia adalah seorang munafik. Ay Maka Rasulullah saw. pun menshalatkannya, kemudian Allah turunkan ayat ini. pemimpin dan tokoh mereka yang terbunuh dan anak keturunan mereka pun Seandainya Rasulullah itu bukan seorang Rasul yang membawa rahmat, niscaya mereka akan ditimpa berbagai siksaan di dunia yang lebih dahsyat dari Turunnya ayat ini berkenaan dengan kaum kafir Quraisy. Mereka berkeinginan untuk mengusir Rasulullah saw. tengah-tengah mereka. Maka Allah mengancam mereka melalui ayat ini. Seandainya mereka mengusir beliau, niscaya mereka tidak akan lama setelah meninggalkan Makkah melainkan hanya sebentar saja. Dan demikianlah yang terjadi, di mana Allah akan mempertemukan mereka dengan Rasulullah dan para sahabatnya dalam perang tanpa adanya penetapan waktu sebelumnya, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan dan mengunggulkan Rasulullah saw. atas mereka, sehingga banyak dari para pemimpin dan tokoh mereka yang terbunuh dan anak keturunan mereka pun Seandainya Rasulullah itu bukan seorang Rasul yang membawa rahmat, niscaya mereka akan ditimpa berbagai siksaan di dunia yang lebih dahsyat dari Ada juga yang berpendapat bahwasannya orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah saw. pada suatu hari, mereka berkata. AuWahai Abu Qasim, jika engkau memang benar seorang Nabi, maka tinggallah di Syam, sesungguhnya Syam adalah tanah tempat berkumpul dan tanah para Nabi. Ay Kemudian beliau pun membenarkan apa yang mereka katakan. Lalu terjadi Perang Tabuk yang tidak terjadi kecuali di Syam, ketika Perang Tabuk tersebut. Allah menurunkan kepada beliau beberapa ayat dari surat Bani Israil. QS. Al-IsraAo . : 73-77 Dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu Katsir tidak banyak bagaimana sikap Rasulullah saw. dalam menghadapi orang kafir Quraisy. Namun dari cerita sebab turunnya ayat ini dapat diketahui. Bukan Rasulullah saw. yang bersalah ataupun berdosa sehingga turun teguran Allah melalui ayat ini. Orang kafir Quraisylah yang salah. Mereka berkeinginan untuk mengusir Rasulullah saw. dari tengahtengah mereka. Maka Allah mengancam mereka melalui ayat ini. Seandainya mereka mengusir beliau, niscaya mereka tidak akan lama setelah meninggalkan Makkah melainkan hanya sebentar saja. Dan demikianlah yang terjadi, di mana Allah akan mempertemukan mereka dengan Rasulullah dan para sahabatnya dalam perang tanpa adanya penetapan waktu sebelumnya, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan dan mengunggulkan Rasulullah saw. mereka, sehingga banyak dari para Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 192-195 Ibid. hal 182-183 Kemudian Allah memerintahkan kepada beliau untuk kembali ke Madinah dan berfirman. AuDi sanalah kamu hidup, kamu meninggal, dan darinya kamu di utus. Ay Dengan ini Allah memberitahukan tentang dukungan, peneguhan, penjagaan, dan perlindungan-Nya terhadap Rasul-Nya dari kejahatan dan tipu daya orang-orang Selain itu. Allah adalah Rabb yang mengendalikan urusan Nabi-Nya dan Dia tidak menyerahkan urusannya kepada seorang pun dari makhluk-Nya, melainkan justru Dia adalah pelindungnya, pemeliharanya, penolongnya, pendukungnya, dan yang meninggikan serta memenangkan agamaNya atas orang-orang yang memusuhi dan menentang agama-Nya di berbagai belahan bumi, timur maupun barat. Semoga Allah memberikan shalawat dan salam yang melimpah kepada Rasulullah saw. hari kiamat. 14 Sehingga turunlah ayat ini Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. QS. Al-Hajj . : 52-54 Jika dilihat dari sebab turunnya. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa setanlah yang membisikkan ke lisan Rasulullah saw. bahwa syafaat mereka sangat di harapkan. Mereka di sini yakni Al Lata dan Al Uzza, dan Manah. Karena ketika itu Rasulullah sedang shalat di maqam Ibrahim di Makkah, kemudian mengantuk dan seketika membaca surat An-Najm yang artinya: AuMaka Apakah patut kamu . ai orang-orang musyri. menganggap, yaitu ghanariq al-Aoulya. Inilah fitnah dari setan, dan dua kalimat tadi sudah tersimpan dalam hati kaum musyrik sampai mulutmulut mereka membicarakannya dan tersebarlah berita ini, dan mereka berkata bahwasannya Muhammad sudah kembali ke agamanya yang dulu. QS. Al-kahfi . : 23-24 Ibnu Katsir menyebutkan pada awal surat telah dikemukakan sebab turunnya ayat ini, yakni dalam sabda Nabi ketika beliau ditanya mengenai kisah Ashabul Kahfi. AuAku akan berikan jawaban kepada kalian besok hari. Ay Lalu wahyu tak kunjung turun sampai lima belas hari. Adapun ucapan dari Ibnu Abbas. AuHendaklah ia memberikan pengecualian meskipun setelah berlalu satu tahun. Ay, berarti jika ia lupa dalam sumpahnya atau ucapannya untuk mengucapkan insya Allah, lalu ia mengingatnya setelah satu tahun berlalu, maka disunnahkan baginya mengucapkan hal itu, supaya ia datang dengan mengucapkan pengecualian meskipun setelah ia melakukan kesalahan. Namun ada yang mengatakan bahwa jika kamu marah ingatlah kepada Rabb-mu. Dan jika kamu ditanya tentang sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya, maka memohonlah kepada Allah dan menghadaplah kepadaNya dengan memohon agar Dia memberimu taufiq untuk memperoleh kebenaran dan juga petunjuk mengenai hal tersebut. Yang demikian ini merupakan bimbingan dari Allah kepada Rasulullah saw. tentang adab jika beliau hendak melakukan sesuatu pada masa yang akan datang, yakni hendaklah beliau mengembalikan hal itu kepada kehendak Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, yang mengetahui apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, yang tidak terjadi, dan bagaimana akan terjadinya. Sehingga turunlah ayat ini. Dalam ayat ini para ahli tafsir banyak yang menceritakan kisah ghanariq dan peristiwa kembalinya orang-orang yang Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 148-149 Ibid. hal 441-445 berhijrah ke negeri Habasyah karena mengira bahwa kaum musyrik Quraisy telah memeluk Islam. Imam Qatadah berkata. AuNabi saw. sedang shalat di maqam Ibrahim di Makkah, kemudian mengantuk dan seketika membaca surat An-Najm yang artinya: AuMaka Apakah patut kamu . ai orang-orang musyri. menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian . ebagai anak perempuan Alla. ? Apakah . untuk kamu . laki-laki dan untuk Allah . perempuan?17 Setan membisikkan ke lisannya bahwa syafaat mereka sangat diharapkan, yaitu ghanariq al-Aoulya. Inilah fitnah dari setan, dan dua kalimat tadi sudah tersimpan dalam hati kaum musyrik sampai mulut-mulut mereka membicarakannya dan tersebarlah berita ini, dan mereka berkata bahwasannya Muhammad sudah kembali ke agamanya yang dulu. Maka ketika bacaan Rasul sampai ada akhir surat An-Najm bersujud, kemudian orang-orang yang hadir di sana termasuk di dalamnya kaum muslimin dan musyrikim ikut bersujud, kecuali Al-Walid bin Al-Mughirah karena berpostur besar, sehingga cukup dengan mengambil tanah dengan tanganya lalu kepalanya disujudkan di atas tanah yang ada dalam telapak Maka ketika Rasul bersujud, kedua kaum itu, yaitu kaum musyrikin dan kaum muslimin begitu terkejut. Dan mereka membicarakan bahwa penduduk Makkah telah beriman semuanya dengan sangat cepat. Adapun kaum muslimin kaget dengan sujudnya kaum musyrikin padahal mereka tidak beriman dan tidak yakin, dan ketika itu kaum muslimin belum mendengar tentang ayat yang dibisikkan setan ke telinga-telinga kaum musyrik, maka dengan ini kaum muslimin tenang Ibid. dari fitnah setan atas Rasul Muhammad 18 Kemudian Allah berfirman ayat ini. Dan ketika Allah menerangkan bahwa ayatNya terbebas dari fitnah dan dari apa yang dibisikkan setan, maka kaum musyrik pun kembali pada kesesatannya dan memusuhi kaum muslim dengan lebih kejam. Ayat ini juga mengandung hiburan dari Allah untuk Nabi Muhammad saw. , yaitu Allah tidak menakuti dirinya. Sesungguhnya hal demikian itu telah menimpa pula kepada para Rasul dan Nabi sebelumnya. QS. Al-Ahzab . : 28 Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat diatas merupakan perintah dari Allah kepada Rasul-Nya untuk memberikan pilihan kepada istri-istrinya, antara di ceraikan lalu mereka memilih orang lain yang memiliki kehidupan dunia serta perhiasannya. Atau tetap sabar atas kesempitan hidup yang beliau miliki, akan tetapi di sisi Allah mereka akan mendapatkan pahala. Maka istri-istri beliau tetap memilih keridhaan Allah. Rasul-Nya dan negri akhirat. Dalam kehidupan berumah tangga, urusan nafkah sering menjadi pemicu munculnya berabagai goncangan dalam Adapun sebab turunnya ayat ini adalah peristiwa ketika Rasulullah saw. menyendiri dari para istrinya. Di saat para istri Nabi saw melihat Rasulullah saw. dilapangkan rezeki dan para sahabatnya oleh Allah, maka di saat itu pula, para istri Rasulullah menutut nafkah lebih. Peristiwa bermula dari keberhasilan umat Islam dalam beberapa peperangan yang terjadi pada tahun ke-5 H, diantaranya Perang Ahzab. Perang Bani Nadhir, dan Perang bani Quraidzah. Peperangan tersebutlah Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 441-445 Ibid. Ibid. yang menyebabkan umat Muslim mendapatkan harta rampasan perang . yang sangat banyak. Seluruh para sahabat Nabi dari kalangan kaum Muhajirin mendapatkan bagian masingmasing dari harta rampasan tersebut, sementara Nabi saw. langsung dierikan untuk kepentingan pembiayaan jihad, sehingga beliau sendiri tidak menyisakan harta sedikit pun dari bagiannya untuk keluarga beliau. Ketika para istri menuntut soal pertambahan nafkah. Rasulullah saw. tidak menyambut baik upaya negoisasi penambahan nafkah tersebut. Merasa kecewa dengan sikap para istri karena memikirkan kenikmatan duniawi dan merasa tidak rela istri-istri beliau bersikap demikian kepadanya sehingga beliau memilih menyendiri dan bersembunyi dari para istri beliau hingga sebulan Hal tersebut dilakukan Rasulullah agar kehidupan beliau bersama istriistri beliau tetap berada dalam tingkat yang tinggi dan mulia serta terlepas dari bayangan gemerlapnya kehidupan dunia yang menipu. Dan ketika Umar bin Khatab mengetahui kabar ini, maka ia bergegas untuk menemui putrinya sekaligus istri dari Rasulullah saw. Hafsah. Di tanyakan lah mengenai berita yang Umar dengar tersebut, namun Hafshoh pun tidak tahu apakah Rasulullah benar-benar menalak istri-istrinya. Akan tetapi beliau sedang menyendiri di tempat minum. Umar pun menyusul dan ingin menanyakan benar tidaknya berita yang ia dapat. Dua kali Umar izin untuk menemui Rasulullah saw. melalui perantara pelayan beliau dan yang ketiga kalinya diizinkan untuk menemui. Ketika Umar masuk untuk menemui beliau. Rasulullah sedang bersandar di atas tikar sulaman. Kemudian Umar pun bertanya apakah beliau menceraikan istri- istri beliau? Beliau mengangkat kepala dan berkata kepada Umar AuTidakAy. Seketika itu Umar pun langsung takbir. Kemudian Umar pun melanjutkan ceritanya, bahwa orang-orang Quraisy setelah datang ke Madinah mereka mendapatkan suatu kaum yang istri-itsri mereka berkuasa terhadap suami mereka dan hampir istri-istri orang Quraisy meniru mereka. Suatu hari ada seorang istri yang melawan suaminya lalu menagadukan kepada Umar bahwa istrinya berani melawannya karena istri-istri Rasulullah saw. demikian pula. Kemudian Rasulullah saw. meluruskan duduknya dan bersabda. AuApakah ada keraguan pada dirimu wahai Ibnul Khatab. Mereka itu adalah kaum yang disegerakan kesenangan mereka dalam kehidupan dunia. Ay Umar pun meminta maaf dan beliau telah bersumpah untuk tidak mendatangi istrinya selama sebulan karena beliau sangat marah kepada mereka sehingga Allah menegurnya dengan menurukan ayat ini21. QS. Al-Ahzab . : 36-40 Ibnu Katsir hanya menyebutkan peristiwa sebab turunnya ayat ini tanpa mengungkapkan bahwa Rasulullah saw. bersalah sehingga di tegur. Di awal cerita dikatakan bahwa Zainab dilamar oleh Rasulullah saw. untuk anak angkatnya, yakni Zaid bin Haritsah. Namun. Zainab merasa tidak sebanding dengan Zaid, awalnya menolak kemudian dia menerimanya karena Rasulullah saw. merestui dan Zainab tidak ingin menentang Rasulullah saw. namun, tak butuh waktu lama pernikahan itu berakhir. Tatkala Zaid telah selesai dengan istrinya dan menceraikannya. Allah menikahkan beliau dengan Zainab dengan wali pernikahannya adalah Allah sendiri. Hal tersebut dilakukan Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 158-166 supaya tidak ada lagi yang keberatan untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka yang telah dicerai. Karena Rasulullah saw. sebelum masa kenabian telah mengangkat Zaid sebagai anak kandungnya. Peristiwa ini tentang Rasulullah saw. yang menikahi Zainab binti Jahsy. Awal cerita ketika itu Rasulullah saw. untuk melamarkan pemudanya, yaitu Zaid bin Haritsah, mantan budak beliau yang dimerdekakan menjadi pembesar yang memiliki kedudukan serta jabatan yang tinggi dan menjadi orang yang dicintai Rasulullah, dikenal sebagai AlHubb . ecintaan Rasulullah saw. Beliau menikahkannya dengan putri bibinya, yaitu Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah, ibunya bernama Umaimah binti AoAbdul Muthalib, sedangkan mas kawinnya adalah 10 dinar 60 dirham, seekor keledai, sehelai selimut tebal, dan sebuah baju besi serta 50 mud makanan, dan 10 mud kurma. Dia pun tinggal bersamanya kurang lebih 1 tahun, kemudian terjadilah sesuatu di antara mereka berdua. Kemudian Zaid menemui Rasulullah saw. untuk mengeluhkan tentang Zainab binti Jahsy. Di awal cerita dikatakan bahwa Zainab merasa tidak sebanding dengan Zaid, awalnya menolak kemudian dia menerimanya karena Rasulullah saw. merestui dan Zainab tidak ingin menentang Rasulullah saw. Namun riwayat lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ummu Kultsum. Ummu Kultsum merupakan orang pertama yang ikut hijrah dari kaum wanita, setelah Perjanjian Hudaibiyyah. Dia menghadiahkan dirinya kepada Rasulullah saw, kemudian diterima. Namun, penerimaan tersebut untuk menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah setelah Zaid berpisah dengan Zainab. Ibid. hal 421- 423 Ummu Kultsum dan saudara laki-lakinya marah sebab mereka menginginkan Rasulullah saw. tetapi justru dinikahkan dengan Zaid. Tatkala Zaid telah selesai dengan istrinya dan menceraikannya. Allah menikahkan beliau dengan Zainab dengan wali pernikahannya adalah Allah sendiri. Hal tersebut dilakukan supaya tidak ada lagi yang keberatan untuk menikahi istri-istri anak angkat mereka yang telah Karena Rasulullah saw. masa kenabian telah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak kandungnya. Setelah turun ayat tersebut, dilarang untuk menyebutkan Zaid bin Muhammad. Muhammad bukanlah ayahnya sekalipun beliau telah mengangkatnya sebagai anak. Karena tidak ada seorang pun anak lakilaki Rasulullah saw. yang hidup hingga Dan ayat setelahnya menetapkan bahwa tidak ada Nabi atau Rasul sesudah QS. At-Tahrim . : 1-5 Dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu Katsir menyebutkan kisah sebab turunnya. Yakni Rasulullah saw. pernah menggauli budak perempuannya padahal beliau masih memiliki istri, yaitu Aisyah dan Hafshah. Kemudian beliau bersumpah untuk menjauhi dan mengharamkannya. Sehingga beliau ditegur atas tindakan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan padanya, lalu diperintahkan untuk membayar kafarah atas sumpahnya. Dan ada cerita lain yang serupa, bahwa Rasulullah saw. menggauli Ummu Ibrahim, yaitu Mariyah Al-Qibtiyah di rumah Hafshah. Kemudian hal tersebut diketahui oleh Hafshah. Dan Hafshah menyinggung janji Rasulullah saw. Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 421- 423 Ibid. kepada Hafshah bahwa Rasulullah saw. tidak akan menggauli salah seorang dari istri-istrinya ketika telah tiba hari, giliran, dan rumah Hafshah. Maka ketika itu pula Rasulullah saw. menjawab sekaligus bertanya bahwa beliau mengharamkannya dan tidak akan mendekatinya lagi. Sindiran Al-QurAoan terhadap Nabi Muhammad saw. kali ini sebenarnya berawal dari peristiwa yang terjadi di dalam rumah tangga atau keluarga Nabi Nabi saw. , memiliki beberapa istri, sebagai suami yang bijaksana beliau memberikan jatah kunjungan ke rumah . istri-istri beliau. Ada dua versi mengenai sebab turunnya awal surat ini. Pertama, ada yang mengatakan bahwa surat ini turun berkenaan dengan Mariyah. Bahwasannya Rasulullah saw. menggauli budak perempuannya padahal beliau masih memiliki istri, yaitu Aisyah dan Hafshah. Kemudian beliau bersumpah untuk menjauhi dan mengharamkannya. Sehingga beliau ditegur atas tindakan mengharamkan sesuatu yang dihalalkan padanya, lalu diperintahkan untuk membayar kafarah atas sumpahnya. Dan ada cerita lain yang serupa, bahwa Rasulullah saw. menggauli Ummu Ibrahim yaitu Mariyah Al-Qibtiyah di rumah Hafshah. Kemudian hal tersebut diketahui oleh Hafshah. Dan Hafshah menyinggung janji Rasulullah saw. dulu kepada Hafshah bahwa Rasulullah saw. tidak akan menggauli salah seorang dari istri-istrinya ketika telah tiba hari, giliran, dan rumah Hafshah. Maka ketika itu pula Rasulullah menjawab sekaligus bertanya bahwa beliau mengharamkannya dan tidak akan mendekatinya lagi. Kemudian Hafshah menjawab iya. Ibid. hal 158-166 Dari sinilah muncul pendapat dari kalangan para fuqahaAo atas wajibnya membayar kafarat bagi orang yang mengharamkan atas dirinya sendiri budak perempuan, istrinya, makanan, minuman, pakaian, atau sesuatu yang lain bersifat mubah. Versi kedua yakni, ada yang mengatakan bahwa sebab turunnya berkenaan dengan pengharaman madu oleh beliau, ketika itu Rasulullah saw. madu di kediaman Zainab binti Jahsy dan bermalam di tempatnya. Lalu Aisyah dan Hafshah pun berencana untuk menjauhkan Nabi dari minum madu tersebut, dengan cara menuduh aroma bau mulut Nabi saw. yang tidak sedap, permisalannya seperti buah Maghafir . eusuatu yang mirip getah yang ada di pohon ramats dan rasanya mani. karena telah memakan makanan dari Zainab binti Jahsy. Ketika pertanyaan menghadang beliau, seketika itu beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan kembali lagi padanya. Rasulullah saw. bersumpah, dan beliau berharap jangan menyampaikan hal itu kepada seorang Ay Pendapat yang lain mengatakan. Aisyah dan Hafshahlah yang menjadi faktornya, sehingga mereka menjadi sebab diturunkannya ayat ini. QS. Abasa . : 1-16. Dalam menafsirkan ayat ini. Ibnu Katsir menyebutkan peristiwa sebab Tatkala beliau sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy, tibatiba datang Ibnu Ummi Maktum. menyela pembicaraan dengan bertanya kepada beliau tentang sesuatu dan terus mendesak beliau, sehingga Rasulullah merasa terganggu dan tidak nyaman, karena memotong pembicaraan beliau yang serius mendakwahi pemuka Quraisy. Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 158-166 Nabi pun bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan berpaling darinya lalu menghadap yang lain. Tatkala surat ini diturunkan mengenai diri Ibnu Ummi Maktum, maka Rasulullah saw. memuliakannya dan mengajaknya bicara. Ibnu Ummi Maktum adalah orang yang biasa mengumandangkan azan bersama Bilal. Sementara yang masyhur namanya adalah Abdullah, ada pula yang mengatakan Amru. 29 Maka Allah menurunkan ayat ini. Abdullah bin Ummi Maktum adalah sahabat Nabi saw. yang mengalami tunanetra sejak kecil. Dia adalah putra dari bibi Khadijah binti Khuwailid. Sejak Rasulullah saw. masih di Makkah dia telah memeluk Islam. Penduduk kota Makkah mengenalnya sebagai seorang yang rajin dalam mencari rezeki dan belajar ilmu pengetahuan, meskipun ia seorang 28 Banyak dari kalangan ahli tafsir yang menyebutkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. sedang berbicara dengan sebagian pembesar Quraisy, di mana beliau sangat mengharapkan ke-Islamannya dan terlihat sangat serius. Disebutkan dalam riwayat lain ketika itu Rasulullah saw. sedang berbicara dengan Ubay bin Khalaf. Utbah in RabiAoah. Abu Jahal bin Hisyam, dan Al Abbas bin Abdul Munthalib. Tatkala beliau sedang berbicara dengannya, tiba-tiba datang Ibnu Ummi Maktum. menyela pembicaraan dengan bertanya kepada beliau tentang sesuatu dan terus mendesak beliau, sehingga Rasulullah merasa terganggu dan tidak nyaman, karena memotong pembicaraan beliau yang serius mendakwahi pemuka Quraisy. Nabi pun bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan berpaling darinya lalu menghadap yang lain. Tatkala surat ini diturunkan mengenai diri Ibnu Ummi Maktum, maka Rasulullah saw. memuliakannya dan mengajaknya bicara. Sebab ia yang membuat Rasulullah saw. 2 HIKMAH AoITyCB (TEGURAN) KEPADA RASULULLAH SAW DALAM ALQURAoyCN Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir. Tafsyr Al-QurAoyn AlAoAzhym. hal 319-320 Ibid. Setelah dipaparkan analisis penafsiran Ibnu Katsir tersebut di atas, maka penulis mencoba membuat tabel ringkasan untuk memudahkan dalam memahaminya. Surat Peristiwa Hikmah An-NisaAo : Pencurian yang dilakukan oleh seorang munafik ThuAomah bin Ubairiq Dilarang membela seorang pencuri yang berkhianat, sekalipun itu kerabat Al-AnAoam: Rasulullah saw. bersama kaum muslimin yang lemah Ukuran kualitas seseorang dilihat dari iman dan taqwa kepada Allah Al-Anfal: Tawanan Perang Badar Solusi keputusan terbaik hanya dari Allah At-Taubah: Orang-orang yang izin tidak ikut Perang Tabuk Jihad adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah At-Taubah: Rasulullah saw. pemimpin orang munafik Orang mukmin tidak boleh memintakan ampunan untuk orang kafir Al-IsraAo: Teguhnya hati Rasulullah dalam tawaran orang Bersikap teguh dalam Al-Kahfi: Lupanya Rasulullah saw. mengucapkan Insya Allah Mengucapkan insyallah jika hendak melakukan sesuatu Al-Hajj: Syaithon menggoda Rasulullah saw. Rasul saja bisa digoda dengan syaithon, terlebih manusia Al-Ahzab: Diamnya Rasulullah saw. kepada istri-istrinya Zuhud dalam urusan dunia Rasulullah saw. Zainab binti Jahsy Menghapus satu tradisi Jahiliyah, bolehnya menikahi mantan istri anak angkat 10 Al-Ahzab: 11 At-Tahrim: Rasulullah saw. mengharam- Bolehnya melarang suatu hal kan sesuatu yang halal untuk mubah untuk diri sendiri 12 Abasa: Berpalingnya Rasulullah saw. Mendahulukan orang yang kepada Abdullah bin Umi mempunyai derajat tinggi di Maktum sisi Allah DAFTAR PUSTAKA