At-Thufuly: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini | | e-ISSN: 2774-3268 Vol. No. 2 Mei 2024 | Hal 60-66 ANALISIS PERSPEKTIF GENDER DALAM STRATEGI COPING ANAK USIA DINI Dessy Farantika1. Laela Lutfiana Rachmah2. Devia Purwaningrum3. Maulinda Sulistyani Sanjaya4 1,2,3,4,Universitas Nahdltul Ulama Blitar. Indonesia Abstract:. Children's interactions are often faced with various problems, and the ability to cope with these problems is fundamental for children to have. Coping strategies become a tool that can be applied for children to deal with various situations, both external and internal problems. In this study, the subjects consisted of one teacher, two parents, and two students. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation, using a qualitative research method Qualitative research was chosen because researchers wanted to explore differences in coping strategies used by boys and girls when facing social and emotional problems. Data analysis was conducted using Miles and Huberman's interactive data analysis model, which involves several stages such as data collection, data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. The results showed that children have been able to report various coping strategies, including seeking support, problem solving, distraction, and escape. Girls tended to be more dominant in seeking support than boys. In addition, coping responses with aggressive and destructive behaviors were more often found in boys than girls. Keywords: Gender. coping strategies. early childhood. social-emotional Abstrak: Interaksi anak sering kali dihadapkan berbagai masalah, dan kemampuan untuk mengatasi masalah tersebut merupakan hal yang mendasar dimiliki oleh Strategi coping menjadi alat yang dapat diterapkan bagi anak untuk menghadapi beragam situasi, baik itu permasalahan eksternal maupun internal. Dalam penelitian ini, subjek terdiri dari satu orang guru, dua orang tua, dan dua orang siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif. penelitian kualitatif dipilih karena peneliti ingin menggali perbedaan dalam strategi coping yang digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan ketika menghadapi masalah sosial dan emosional. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman, yang melibatkan beberapa tahap seperti pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak telah mampu melaporkan berbagai strategi coping, termasuk mencari dukungan, pemecahan masalah, distraksi, dan melarikan diri. Anak perempuan cenderung lebih dominan dalam mencari dukungan daripada anak laki-laki. Selain itu, respon coping dengan perilaku agresif dan destruktif lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Kata Kunci: Gende. strategi coping. anak usia dini. sosial emosional 1Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Email: farantika. dressy@gmail. Desy Farantika et al : [Analisis Perspektif Gender. ] 60 PENDAHULUAN Perkembangan emosi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan Hal ini dikarenakan perkembangan emosi berdampak pada penyesuaian diri dan interaksi sosial seseorang. (Hurlock, 1. menjelaskan bahwa emosi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap interaksi sosial. Segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, menjadi pendorong bagi individu untuk berinteraksi sosial. Melalui pengalaman emosi, seorang anak belajar bagaimana mengadaptasi perilaku mereka untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan norma-norma sosial. Selanjutnya. Howes (Santrock, 2. menekankan bahwa emosi memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan hubungan interpersonal anak dengan teman sebaya. Secara khusus. Thompson. Meyer & Jochem (Santrock, 2. menyatakan bahwa kemampuan untuk mengatur emosi merupakan keterampilan kunci yang sangat berguna bagi anak dalam menjalin hubungan dengan teman sebayanya. Perkembangan sosial dan emosional pada anak seringkali tidak berjalan dengan mulus. Anak yang mengalami masalah biasanya merasa tidak nyaman dengan diri mereka sendiri. Pada saat-saat seperti ini, anak akan berusaha untuk mengatasi atau setidaknya meredam perasaan tidak nyaman tersebut melalui berbagai cara coping. Kemampuan untuk mengatasi masalah . menjadi salah satu keterampilan yang penting bagi seorang anak. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka, berbagai masalah akan muncul secara teratur. Menurut pandangan Lois Murphy (Skinner & Zimmer, 2. , coping adalah cara bagi anak untuk mengatasi situasi masalah, baik itu masalah yang berasal dari luar . maupun dari dalam diri mereka . , berdasarkan pada tingkat perkembangan mereka sendiri dan prosedur-prosedur yang mereka Dalam kehidupan anak, penuh dengan berbagai permasalahan dan Ketika menghadapi tantangan tersebut, kemampuan coping sangatlah penting bagi anak. Menurut Lois Murphy , coping dapat dijelaskan sebagai "cara anak menangkap" cara mereka berinteraksi - menggunakan alat-alat yang tersedia pada tahap perkembangan mereka - saat menghadapi masalah baik yang bersumber dari luar maupun dalam situasi mereka. Dengan kata lain, coping merupakan cara anak menggunakan seluruh kemampuan mereka sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik individual mereka ketika menghadapi berbagai masalah eksternal maupun internal. Menurut Lazarus (Safira & Saputra, 2. coping merupakan suatu strategi untuk mengelola perilaku dengan tujuan memecahkan masalah secara sederhana dan realistis, serta berfungsi untuk melepaskan diri dari berbagai masalah yang dihadapi. Coping melibatkan upaya kognitif dan perilaku untuk mengatasi, mengurangi, dan melawan tekanan yang dialami seseorang, baik itu bersifat internal maupun eksternal. Coping memiliki dua tujuan utama. Pertama, individu berupaya untuk mengubah hubungan antara dirinya dan lingkungannya agar dapat menghasilkan dampak yang lebih positif. Kedua, individu biasanya berusaha untuk meringankan atau menghilangkan beban emosional yang dirasakannya Desy Farantika et al : [Analisis Perspektif Gender. ] 61 Dari hasil observasi awal di TK Al Muhajirin Kota Malang, terlihat bahwa sekolah ini menerapkan metode pembelajaran sentra. Terdapat 4 guru yang harus mengajar, sehingga total siswa mencapai 96 orang. Keterbatasan ini menyebabkan setiap guru harus menghadapi kelas dengan jumlah siswa antara 18 hingga 32 anak. Ketidakseimbangan antara jumlah guru dan siswa ini menimbulkan beberapa masalah bagi siswa. Salah satunya adalah kesulitan yang dialami beberapa anak dalam berbaur dan berinteraksi di kelompok sosial di dalam kelas. Dalam pengamatan peneliti, kesulitan ini dialami oleh dua siswa, yaitu MS dan AA. Masalah interaksi yang dialami oleh MS . dan AA . aki-lak. muncul karena adanya emosi negatif yang mengganggu hubungan sosial mereka dengan individu lain di dalam kelas. Emosi negatif yang dirasakan oleh MS dan AA, seperti rasa malu dan kemarahan berlebihan, menyebabkan gangguan dalam interaksi sosial mereka. Kedua siswa ini mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman sekelasnya. Guru, yang harus menghadapi banyak siswa dengan keterbatasan jumlahnya, tidak mampu memberikan perhatian khusus kepada setiap anak, termasuk AP dan AL. Kondisi ini menyebabkan permasalahan yang dialami MS dan AA diabaikan atau tidak mendapat penanganan yang memadai. Observasi yang diperoleh membuat peneliti tertarik untuk mengamati strategi coping yang dilakukan oleh MS dan AA sebagai upaya mengatasi atau setidaknya mengurangi stres yang ditimbulkan oleh permasalahan yang mereka hadapi. Selain itu, peneliti ingin mengkaji apakah ada perbedaan dalam penerapan strategi coping antara MS yang berjenis kelamin perempuan dan AA yang berjenis kelamin laki-laki. Masih sedikit ulasan mengenai strategi coping yang dilakukan oleh anak usia dini. Kemampuan terbatas dan tahap perkembangan yang sedang berlangsung dalam proses tumbuh kembang anak usia dini menjadikan keterampilan coping sebagai hal yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji permasalahan: . strategi coping terhadap masalah sosial dan emosional dalam berinteraksi pada anak usia dini, dan . Perbedaan dalam penerapan strategi coping terhadap masalah interaksi sosial dan emosional pada anak usia dini, baik laki-laki maupun perempuan. METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti bermaksud mengungkap keunikan kasus yang menjadi latar belakang subjek penelitian. Sisi keunikan disajikan dengan kata-kata, laporan rinci dan informasi mendalam dari sudut pandang subjek Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari di TK AL Muhajirin Kota Malang. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 2 orang siswa yaitu MS yang perempuan dan AA yang laki-laki, kemudian satu orang guru dan dua orang tua. Pengumpulan data dilakukan dengan: observasi, wawancara, dan Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi, triangulasi teori, dan triangulasi metode. Teknik analisis data interaktif yang digunakan adalah 62 At-Thufuly: Vol. 4 No. Mei 2024 menggunakan model Miles dan Huberman dimana kegiatan dalam analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Strategi coping dapat dijelaskan sebagai cara atau perilaku individu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketika seseorang menghadapi masalah, biasanya terdapat perasaan tidak nyaman yang muncul di dalam dirinya. Pada saat seperti itu, individu akan menggunakan strategi coping untuk meredam atau bahkan menghilangkan perasaan tidak nyaman tersebut. Berdasarkan pengamatan peneliti, dalam menghadapi tekanan yang dihadapi. MS dan AA telah mampu menggunakan beberapa strategi coping untuk menyelesaikan atau bahkan mengatasi masalah Ketika dihadapkan pada masalah interaksi dengan teman sebaya. MS dan AA menunjukkan strategi coping yang berbeda. MS, seorang perempuan, menunjukkan dukungan terhadap pencarian strategi coping untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Hal ini disebabkan oleh kesulitan MS dalam menyelesaikan permasalahan interaksi dengan teman. Dengan mendapatkan dukungan dalam mencari strategi coping. MS mencoba mencari dukungan sosial dari orang-orang terdekatnya. Salah satu bentuk dukungan yang diminta MS adalah dari orang tua MS sendiri. Meminta bantuan orang lain untuk memecahkan suatu masalah merupakan salah satu strategi coping yang sering digunakan oleh subjek MS. Contohnya, ketika MS mengalami masalah dengan temannya. MS meminta bantuan orang lain, dalam hal ini ibunya, untuk membantunya. Meskipun diam di sekolah, namun ketika berada di rumah. MS membawa masalah ini kepada ibunya untuk Meminta bantuan kepada orang lain merupakan salah satu cara yang digunakan oleh MS untuk menyelesaikan permasalahannya. Selain itu. MS juga kadang-kadang mengalihkan perhatiannya dari masalah yang terjadi dengan melakukan kegiatan Contohnya, ketika merasa sedih, ibu MS, yang disebut sebagai WM 2, mengungkapkan bahwa MS sering merasa sedih ketika adiknya . erumur kurang dari 3 tahu. mendapat perhatian lebih dari dirinya. Setelah mengungkapkan perasaannya. MS biasanya tidur atau bermain sendiri untuk mengalihkan Kemudian. WM 2 menjelaskan bahwa setelah waktu tertentu. MS akan melupakan kejadian tersebut dan kembali ke keadaan yang normal. Mengalihkan perhatian dengan melakukan kegiatan lain merupakan upaya untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan ketika seseorang menghadapi kesulitan. Strategi mencari dukungan, seperti meminta bantuan orang lain, tidak diterapkan oleh AA ketika menghadapi permasalahan interaksi dengan teman Meskipun terlibat dalam kontak fisik atau menerima serangan verbal dari teman-temannya di sekolah. AA tidak pernah mengungkapkan atau meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya kepada orang-orang terdekatnya. Ketika dihadapkan pada permasalahan interaksi dengan teman-temannya di kelas. AA menunjukkan respons coping yang agresif dengan melampiaskan kekesalannya melalui tindakan fisik seperti memukul atau menendang. Di lain waktu, strategi coping yang digunakan oleh AA saat menghadapi penolakan dari teman sebaya Desy Farantika et al : [Analisis Perspektif Gender. ] 63 adalah dengan melakukan distraksi atau diversion. Ketika tidak ada teman yang mau bermain. AA lebih memilih mengalihkannya dengan aktivitas lain seperti menggambar, mengerjakan puzzle, atau bermain dengan robot. Terkadang. AA juga pergi ke kantin untuk membeli makanan sebagai bentuk mengalihkan perhatian dari permasalahan yang dihadapinya. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa belum terlihat adanya perbedaan yang signifikan dalam penerapan strategi coping antara anak perempuan dan laki-laki. Namun, jika diperhatikan dengan lebih seksama, terlihat bahwa MS, seorang perempuan, lebih dominan dalam mencari dukungan. Hal ini terlihat dari kecenderungan MS untuk menceritakan segala permasalahan yang dihadapinya kepada ibunya dan meminta bantuan dari ibunya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam penelitian, ditemukan berbagai bentuk strategi coping yang akan digunakan seseorang ketika menghadapi berbagai masalah. Beberapa bentuk strategi coping tersebut antara lain dengan mencari dukungan atau bantuan dari orang lain, menyelesaikan masalah secara langsung, mengalihkan perhatian dari masalah, serta menghindari atau lari dari masalah yang dihadapi. Strategi coping dengan meminta bantuan dilakukan oleh individu ketika mereka menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebaya. Mereka meminta bantuan dari orang dewasa, dalam hal ini ibu mereka, untuk membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. (Skinner & Zimmer, 2. , bentuk strategi coping untuk mencari dukungan dilakukan ketika anak berada dalam situasi yang tidak terkendali, dan mereka akan mencari dukungan dari orang dewasa. Hal ini disebabkan karena orang dewasa dianggap memiliki kematangan usia yang lebih Beberapa anak, berdasarkan hasil penelitian, juga telah mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi. Sebagai contoh, ketika AA bersikap buruk terhadap temannya dan sebagai akibatnya dijauhi oleh teman-temannya. Merasa bertanggung jawab atas masalah yang timbul akibat perilakunya sendiri. AA mencoba menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menghadapinya secara langsung. AA, yang menyadari kesalahannya, meminta maaf kepada temannya agar konflik tersebut dapat diselesaikan. Cara berpikir AA dalam menyelesaikan masalah ini mencerminkan kemampuannya dalam pemecahan masalah. Kemampuan ini sejalan dengan pandangan yang diungkapkan oleh (Skinner & Zimmer, 2. bahwa keterampilan dalam memecahkan masalah merupakan tindakan yang berguna untuk mengubah situasi yang menjadi sumber stres bagi anak. Hal serupa diungkapkan (Moreland & Dumas, 2. bahwa anak akan berusaha memecahkan masalah atau menyelesaikan kesulitan dengan cara yang konstruktif. Kemampuan pemecahan masalah juga erat kaitannya dengan upaya anak dalam mencari dukungan . upport Strategi coping lain yang digunakan oleh anak saat menghadapi masalah adalah dengan mengalihkan perhatian mereka dan melakukan aktivitas lain yang dianggap dapat mengurangi masalah yang sedang dialami. Strategi distraksi ini dilakukan baik oleh AA maupun MS. Anak-anak melakukan pengalihan perhatian sebagai upaya coping dengan tetap sibuk melakukan kegiatan lain seperti tidur atau Masalah pengalihan perhatian merupakan salah satu bentuk strategi coping yang disorot dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh(Skinner & Zimmer, 2. Mereka menyebutnya sebagai gangguan atau Distraction problem, di mana anak-anak tetap sibuk dengan kegiatan seperti bermain game untuk mengalihkan perhatian dari 64 At-Thufuly: Vol. 4 No. Mei 2024 masalah yang dihadapi. Distraksi merupakan salah satu bentuk strategi coping yang ditemukan pada anak usia dini, baik pada anak perempuan maupun laki-laki. Berdasarkan temuan penelitian, ditemukan bahwa selain mengalihkan perhatian dari suatu masalah, anak-anak seringkali menggunakan strategi coping dengan menghindar atau melarikan diri dari masalah yang dihadapi. Berbagai contoh strategi coping seperti menjauh, mengabaikan masalah, atau menjauh dari sumber masalah berhasil dikumpulkan oleh peneliti. Strategi coping untuk menghindari masalah, menurut(Skinner & Zimmer, 2. , dikenal dengan istilah escape. (Skinner & Zimmer, 2. menjelaskan bahwa escape, atau lari dari masalah, merupakan usaha untuk meninggalkan lingkungan yang penuh tekanan atau menghindari terlibat secara langsung dengan masalah tersebut. Anak yang merasa tidak mampu menyelesaikan masalah seringkali memilih strategi penghindaran ini untuk mengurangi tekanan yang ditimbulkan oleh masalah yang dihadapi. Subjek AA, seorang laki-laki, dan MS, seorang perempuan, menunjukkan beberapa hasil dari strategi coping seperti menyelesaikan masalah . , mengalihkan perhatian dari masalah . , dan menghindari masalah . Namun, dalam hal mencari bantuan . upport searchin. , hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara keduanya. MS, yang merupakan seorang perempuan, lebih sering menggunakan strategi ini dibandingkan dengan AA, yang merupakan seorang laki-laki. MS cenderung untuk bercerita kepada orang tuanya tentang masalah yang dia hadapi. Dia lebih terbuka dan aktif meminta bantuan dari orang Respon yang berbeda diberikan oleh AA, seorang laki-laki. AA jarang bercerita tentang permasalahan yang dia hadapi saat mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebayanya. Mungkin hal ini mencerminkan salah satu isu gender yang mulai terbentuk ketika anak-anak memasuki usia sekolah. Secara umum, anak perempuan sering dianggap lebih mampu dalam mengekspresikan emosi dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian yang dilakukan oleh Compas dan rekan-rekannya (Moreland & Dumas, 2. , yang menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki tingkat kompetensi coping yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Khususnya pada usia dini, anak perempuan cenderung menunjukkan kemampuan afektif dan sosial yang lebih baik. Pendapat ini juga didukung oleh (Hampel & Petermann, 2. , yang menjelaskan bahwa anak perempuan umumnya cenderung menggunakan dukungan sosial sebagai strategi coping yang lebih dominan. Hasil penelitian juga menunjukkan munculnya perilaku agresif yang ditunjukkan oleh AA yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan MS yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini terbukti dari hasil penelitian dimana AA lebih mudah mengungkapkan kemarahannya dibandingkan dengan MS. AA juga menunjukkan respon coping agresif dimana anak merespon suatu masalah dengan memukul atau menendang ketika mempunyai masalah dengan temantemannya. Hal ini diungkapkan oleh (Moreland & Dumas, 2. , yang menyebutkan bahwa perilaku anak usia dini yang bersifat antisosial disebut sebagai respons coping Respons antisosial terjadi ketika anak berusaha mengatasi tantangan dengan perilaku agresif dan destruktif, atau dengan menolak tanggung jawab dalam mencari solusi, yang sering kali menyebabkan cedera baik pada diri sendiri maupun orang lain dalam prosesnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jerome Kagan dan Howard (K. 2001: . , yang melibatkan 89 anak dari masa anak-anak hingga awal masa remaja, sejumlah perilaku agresif pada anak laki-laki cenderung stabil Desy Farantika et al : [Analisis Perspektif Gender. ] 65 pada setiap periode perkembangan anak dibandingkan dengan anak Perempuan. Pendapat beberapa ahli tersebut sesuai dengan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, yang menunjukkan bahwa ketika dihadapkan pada permasalahan dalam berinteraksi terutama dengan teman sebaya. AA sebagai seorang laki-laki cenderung lebih sering mengekspresikan perasaannya dengan sikap agresif secara fisik seperti menendang dan meninju KESIMPULAN Laki-laki dan perempuan telah mampu melaporkan beberapa jenis strategi Strategi coping yang digunakan oleh anak tidak hanya terfokus pada aspek emosional, namun juga melibatkan kemampuan dalam memecahkan masalah secara efektif. Bentuk strategi coping yang diterapkan oleh anak-anak meliputi pencarian dukungan . eminta bantua. , penyelesaian masalah . roblem solve. , pengalihan perhatian . , dan penghindaran . sebagai upaya dalam menangani masalah. Strategi coping dengan mencari bantuan . upport see. , berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa anak perempuan lebih dominan menggunakan strategi ini dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan cenderung lebih sering membicarakan atau mengungkapkan permasalahannya daripada anak laki-laki. Sementara itu, anak laki-laki cenderung menunjukkan respons coping yang bersifat agresif, seperti menyelesaikan masalah dengan cara memukul atau menendang ketika menghadapi konflik dengan teman-temannya. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang mengindikasikan bahwa perilaku agresif dan impulsif lebih sering terjadi pada anak laki-laki, bahkan sejak usia 2 tahun DAFTAR PUSTAKA