Atmosfer: Jurnal Pendidikan. Bahasa. Sastra. Seni. Budaya, dan Sosial Humaniora Vol. No. 2 Mei 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 DOI : https://doi. org/10. 59024/atmosfer. Diglosia dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus Rifky Afriazi Universitas Siliwangi Email: afriaziafriazirifky@gmail. Amalia Fauziah Universitas Siliwangi Email: amaliafauziah886@gmail. Ichsan Fauzi Rachman Universitas Siliwangi Email: Ichsanfauzirachman@unsil. Korespondensi penulis: afrriaziafriazirifky@gmail. Abstract. This research aims to describe the language used by students in the campus environment, both the spoken language used by students outside of learning hours and the spoken language used when students present in front of their class. The sample for this research was all class A students of the Indonesian Language Education Department. Semester IV. Siliwangi University. The research method used is descriptive qualitative. Where researchers carry out studies first, so that they can provide relevant images. This research uses three stages, namely data collection, data analysis, and data presentation. Data collection was carried out by observing students who were chatting with their friends during break time, and comparing it with the spoken language used by students when they were presenting. Then researchers can analyze this phenomenon by finding out the factors that cause diglossia, the characteristics of diglossia situations, and the influence of diglossia on learning. In this study, researchers can describe the results of the discussion regarding the influence of diglossia on education, whether it has a positive effect or a negative effect. Keywords : Sociolinguistics,Diglossia. Variety of Speech Language. Bilingualism Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bahasa yang digunakan oleh mahasiswa di lingkungan kampus, baik itu bahasa tutur yang digunakan mahasiswa pada saat diluar jam pembelajaran dan penggunaan bahasa tutur ketika siswa berpresentasi di depan kelasnya. Sampel Penelitian ini adalah semua mahasiswa kelas A Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Semester IV Universitas Siliwangi. Metode penelitian yang digunakan merupakan deskriptif kualitatif. Dimana peneliti melakukan kajian-kajian terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan gambaran-gambaran relevan. Penelitian ini menggunakan tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati mahasiswa yang sedang berkomunikasi dengan dosen di dalam kelas saat dalam jam kuliah dan melakukan riset dengan cara memberikan link google form yang dapat diisi mahasiswa untuk menganalisis dan mengumpulkan data. Lalu peneliti dapat menganalisis fenomena tersebut dengan mencari tahu faktor penyebab terjadinya diglosia, ciri situasi diglosia, dan pengaruh diglosia terhadap pembelajaran. Di dalam penelitian ini peneliti dapat menguraikan hasil pembahasan mengenai pengaruh diglosia terhadap pendidikan, apakah berpengaruh positif ataukah berpengaruh Kata kunci: Sosiolinguistik,Diglosia. Ragam Bahasa Tutur. Bilingualisme Received April 30, 2024. Accepted Mei 27 2024. Published Mei 31,2024 * Rifky Afriazi, afriaziafriazirifky@gmail. Diglosia Dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus LATAR BELAKANG Dalam era digital yang terus berkembang, teknologi telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam konteks pemerolehan bahasa. Perkembangan teknologi telah membuka pintu bagi berbagai inovasi dalam pendekatan pembelajaran bahasa, mempengaruhi cara kita memahami, belajar, dan menggunakan bahasa. Pengaruh teknologi dalam pemerolehan bahasa tidak hanya memengaruhi individu secara pribadi, tetapi juga telah mengubah lanskap pendidikan bahasa secara keseluruhan. Sebagai mahkluk sosial, manusia selalu berhubungan dan berkomunikasi dengan manusia lain. Media komunikasi yang paling efektif dipakainya adalah bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan secara lisan yang disebut bahasa lisan maupun secara tertulis yang disebut bahasa tulis. Dasarnya, bahasa tulis merupakan transfer dari bahasa lisan, maka bahasa lisan lebih dulu dari bahasa tulis. Dalam bahasa lisan yang terlibat dalam kegiatan berbahasa adalah pembicara dan pendengar, sedangkan dalam bahasa tulis yang terlibat adalah penulis dan pembaca. Manusia sebagai makhliuk sosial tidak luput dari bahasa. Bahasa merupakan salah satu pembeda antara manusia dengan makhluk lain. Belajar bahasa merupakan hal penting. Bahasa pada saat ini telah menjadi suatu budaya yang patut dilestarikan keberadaannya. Dengan belajar bahasa juga berarti belajar membudidayakan diri sendiri, mengembangkan diri, dan membentuk diri menjadi manusia yang luhur. Maka kita perlu mengetahui terlebh dahulu arti dari belajar dan bahasa karena keduanya mempunyai pengertian yang sangat luas. Belajar merrupakan perubahan relatifpermanen dalam perilaku dan potensi perilaku sebagai hasil pengalaman atau Latihan yang diperkuat. Sedangkan bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi yang sangat lengkap serta efektif yang berguna untuk menyampaikan pesan, perasaan, maksud, ide, dan pendapat untuk orang lain. Indonesia merupakan negara multilingual, yang memiliki beragam bahasa, dan hanya memiliki satu ragam bahasa baku yang diakui secara nasional, yaitu bahasa Inonesia. Indonesia yang terdiri dari banyak daerah memungkinkan sebagian besar daerah mempunyai dan menggunakan lebih dari satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang samasama diakui dan dihargai, hanya saja fungsi dan pemakaiannya berbeda. Adanya perbedaan penggunaan fungsi ragam tinggi dan ragam rendah mengharuskan penutur menggunakan fungsi bahasa tersebut sesuai dengan tempat dan kondisinya. Oleh karena itu, situasi diglosia tidak dapat dihindari lagi oleh masyarakat Indonesia. Diglosia berkenaan dengan pemakaian ragam bahasa rendah dan ragam bahasa tinggi dalam satu kelompok masyarakat. Diglosia ditegaskan pada fungsi masing-masing ragam Ragam bahasa tinggi khusus digunakan untuk situasisituasi formal. Ragam dalam ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 situasi formal berbentuk bahasa formal. Ragam bahasa formal adalah ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan resmi, formal, dan kedinasan. Lingkungan kedinasan contohnya adalah lembaga-lembaga pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan, perusahaan-perusahaan, upacara kenegaraan, dan sebagainya. Ragam bahasa rendah digunakan dalam situasi Ragam bahasa nonformal digunakan dalam situasi yang tidak resmi, dalam situsi yang santai, sehingga menimbulkan keakraban antara para pemakai bahasa . omunikator dan Hal yang paling penting dalam komunikasi nonformal adalah komunikatif, saling memahami, dan tidak terjadi kesalahan komunikasi. Ragam bahasa nonformal lisan biasa dipakai untuk percakapan sehari-hari dalam keluarga, dengan teman, dan untuk ragam nonformal tulis dipakai untuk menulis surat kepada kerabat, kepada teman, kepada pacar, dan catatan harian. Tujuan peneliti mengkaji diglosia dalam bahasa tutur yang digunakan mahasiswa di lingkungan kampus, sehingga mengetahui perbedaan diglosia dengan bilingualisme dalam bahasa tutur yang digunakan mahasiswa di lingkungan kampus serta mengetahui dampaknya bagi pendidikan. Penelitian menggunakan penelitian kualitatif, yakni suatu pendekatan dalam melakukan riset yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami alami (Sutrisno, 2022:. Penelitian ini bersipat mendasar atau membumi dan bersipat naturalistik atau alami. Dengan istilah lain, riset ini sering disebut dengan Naturalistic Inquiry. Field Study, atau Studi Observasi. Pernyataan ini didukung dengan adanya penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu terkait dari fenomena bilinguasme dan diglosia di lingkungan kampus. Penelitian yang dimaksud ialah, penelitian yang dilakukan oleh Driaskoro Budi Shidarta dan Oktrianti Diani . dengan judul Fenomena Bilingualism dan Diglosia Taruna Program Studi Manajemen Transportasi Perairan Daratan Politeknik Transfortasi Sungai Danau dan Penyebrangan Palembang. Menunjukan bahwa terdapat terdapat fdaktor-faktor yang memengaruhi fenomena bilingualism dan diglosia diantaranya adalah faktor asal daerah yang Dengan Latar belakang asal mahasiswa yang berbeda-beda itulah yang menyebabkan terjadinya bilingualism di lingkungan kampus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh positif dan negatif fenomena bilingualisme dan diglosia terhadap pendidikan. Diglosia Dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus KAJIAN TEORITIS Hakikat Diglosia Diglosia berasal dari bahasa Perancis diglosisie, yang pernah digunakan oleh Marcais, seorang linguis Perancis, tetapi istilah itu menjadi lebih terkenal dalam studi linguistic setelah digunakan oleh seorang sarjana dari Standford University, yaitu C. A Ferguson tahun 1958 tentang AuUrbanisasi bahasa-bahasa standarAy diselenggarakan oleh American AntrophologicalAssociation di Wasington DC. Diglossia menurut Ferguson adalah sejenis pembakuan bahasa yang khusus dimana dua ragam bahasa berada berdampingan di dalam keseluruhan Masyarakat bahasa, dan dimana masing-masing ragam bahasa itu diberi fungsi sosial tertentu (Sumarsono, 2014:36-. Menurut Chaer dan Agustina . diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa . erutama fungsi T dan R). Chaer dan Agustina . , suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, bahwasannya selain sejumlah dialek-dialek utama . agam-ragam utam. dari satu bahasa, terdapat juga sebuah standar regional. Berdasarkan uraian mengenai diglosia dapat disimpulkan bahwa diglosia merupakan adanya variasi bahasa yang digunakan dalam masyarakat, artinya selain dialek utama yang digunakan, terdapat juga dialek regional. Variasi bahasa tersebut masing-masing diberi fungsi atas penggunaanya. Fungsi bahasa tersebut berkenaan dengan pemakain ragam tinggi (T) dan ragam rendah (R). Hakikat Bilingualisme Sedangkan Bilingualisme secara harfiah adalah penggunaan dua bahasa oleh penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Fishman dalam Chaer dan Agustina, 2000:. Secara sosiolinguistik bilingualism diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12. Fishman 1975:. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bilingualism merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan dua bahasa dengan lancer tanpa ada hambatan, ia dapat beralih dari bahasa satu ke bahasa yang lainnya dengan lancar tergantung kepada siapa lawan bicaranya. Misal seseorang tengah mengobrol dengan temannya menggunakan bahasa Indonesia, lalu datang seorang temannya lagi dan mengajaknya bicara dengan menggunakan bahasa Sunda, ia lancar untuk beralih ke bahasa Sunda dan lancar pula beralih ke bahasa Indonesia. Kemampuan inilah yang kemudian dapat membantu seseorang meningkatkan daya ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan riset yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami (Sutrisno, 2022:. Dimana peneliti dapat melakukan kajian-kajian terlebih dahulu, sehingga dapat memberikan gambaran-gambaran relevan. Subjek dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi yang berjumlah 43 orang, yang terdiri atas 37 perempuan dan 6 laki-laki. Penelitian ini menggunakan tiga tahap, yaitu pengumpulan berupa data, analisis data, dan penyajian data. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara mengamati mahasiswa yang sedang berkomunikasi dengan dosen di dalam kelas, dan membagikan link google form untuk mereka isi dalam rangka mengumpulkan informasi terkait penggunaan bilingualism dan diglosia oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Semester 4 ini. Lalu peneliti dapat menganalisis fenomena tersebut dengan cara mengklasifikasikan fenomena berbahasa tersebut ke dalam fenomena berbahasa diglosia dan bilingualisme. Di dalam penelitian ini peneliti dapat menguraikan hasil pembahasan mengenai pengaruh diglosia dan bilingualisme terhadap pendidikan, apakah berpengaruh positif ataukah berpengaruh negatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini peneliti melakukan wawancara dan pengamatan terhadap Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia terkait bahasa yang sering digunakan. Penggunaan Bilingualisme terhadap tindak tutur sehari-hari Mahasiswa Pendidikan Bahasaa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya. Berikut analisis Bilingualisme yang digunakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya Saat di dalam kelas. Kasus Pertama : A : AuKamu Kemarin tidak hadir karena sakit ya?Ay B : AuMuhun buAy / Auiya buAy Keterangan : A . B [Mahasisw. Pada kutipan percakapan diatas terdapat penggunaan bilingualisme, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda yang digunakan pada tuturan AuMuhun buAy artinya . ya b. AuMuhunAy dalam bahasa Sunda artinya adalah . Diglosia Dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus Kasus Kedua : A : AuSiapa yang belum mengumpulkan tugas Sosiolinguistik?Ay B : AuAbdi atos mengumpulkan pakAy / AuSaya sudah mengumpulkan pakAy Keterangan : A [Dose. B [Mahasisw. Pada kutipan percakapan diatas terdapat penggunaan bilingualism, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda yang digunakan pada tuturan AuAbdi atos mengumpulkan pakAy artinya . aya sudah mengumpulkan pa. AuAbdiAy dalam bahasa Sunda arinya adalah [Say. dan atos dalam bahasa Sunda artinya adalah . udah/tela. , dan Aumengumpulkan pakAy merupakan bahasa Indonesia. Kasus Ketiga : A : AuRekan-rekan tolong bantu isi absensinya ya!Ay B : AuSadayana bunda?Ay / AuSemuanya bunda?Ay A : AuHanya 8 pertemuanAy Keterangan : A [Dose. B [Mahasisw. Pada kutipan percakapan diatas terdapat penggunaan bilingualisme, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda yang digunakan pada tuturan AuSadayana bunda?Ay artinya [Semuanya bunda?]. AusadayanaAy dalam bahasa Sunda artinya . AubundaAy merupakan bahasa Indonesia. Tabel 1. Penggunaan Bilingualisme dan Non-Bilingualisme Jenis kelamin Perempuan Laki-Laki Menggunakan Bilingualisme Tidak Menggunakan Bilingualisme Total 5 Total 38 Dari table diatas diperoleh hasil mahasiswa yang menggunakan bilingualisme sebanyak 5 orang yang terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Sedangkan mahasiswa yang tidak menggunakan bilingualism sebanyak 38 orang yang terdiri dari 33 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. Penggunaan Diglosia terhadap tindak tutur sehari-hari Mahasiswa Pendidikan Bahasaa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya. Berikut analisis Bilingualisme yang digunakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 Kasus Pertama : Di dalam kelas (Baku/Forma. A : AuSelamat pagi, bagaimana kabarnya hari ini?Ay B : AuSelamat pagi pak. Kami baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana dengan Bapak?Ay A : AuSaya baik-baik juga, karena kemarin kita libur maka materinya kita ulang ya!, hari ini saya akan membahas mengenai pemerolehan bahasaAy B : AuOh, yasudah pak silahkanAy A : AuApa sebelumnya sudah ada yang membaca mengenai materi yang akan saya sampaikan?Ay B : AuBelum pakAy A : Au Baiklah, kita mulai saja pembelajaran hari ini, mohon didengarkan dan dicatat jika ada hal yang pentingAy Keterangan : A [Mahasiswa . B [Mahasiswa . Dalam percakapan diatas, bahasa baku/formal digunakan dalam konteks pembelajaran oleh dosen dan mahasiswa. Terlihat dari ujaran Auoh, ya sudah pakAy, ujaran tersebut termasuk ujaran baku dan formal dalam bahasa Indonesia, karena biasanya para Mahasiswa jika berbicara kepada temannya maka akan menggunakan bahasa non formal seperti AuyaudahAy yakni bentuk tidak baku dari Auya sudahAy. Kasus Kedua : Diluar kelas dan pada saat jam istirahat A : AuJam berapa nih Mata Kuliah selanjutnya?Ay AuPukul berapa Mata Kuliah selanjutnya?Ay B : AuKayaknya habis dzuhur dehAy AuSepertinya setelah dzuhurAy A : AuOh yaudah kalau begituAy AuOh yasudah kalau seperti ituAy B : AuSemangat banget keknyaAy AuSemangat sekali sepertinyaAy Keterangan : A [Mahasiswa . B [Mahasiswa . Pada hasil tuturan di atas terlihat bahwasannya ragam tutur bahasa yang digunakan lebih santai dari sebelumnya, dan terlihat bahwa banyak diksi yang tidak baku atau non formal. Kondisi seperti ini biasanya digunakan di situasi percakapan yang tidak memerlukan formalitas ketika menghadapinya. Situasi tersebut diantaranya ialah ketika berbicara dengan teman. Diglosia Dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus Selain itu dari tuturan di atas terlihat ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa rendah (R) yang berfungsi membangun suasana keakraban dengan lawan bicara. Selain itu, adanya bentuk penekanan pada kata nih, dan deh lebih membuat suasana percakapan terlihat santai dan tidak kaku. Tabel 2. Penggunan Diglosia Ragam Bahasa T dan Diglosia Ragam Bahasa R Jenis kelamin Perempuan Laki-Laki Diglosia Ragam T Total 38 Diglosia Ragam R Total 5 Dari tabel diatas diperoleh hasil mahasiswa yang menggunakan diglosia ragam T sebanyak 38 orang yang terdiri dari 33 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. Sedangkan mahasiswa yang diglosia ragam R sebanyak 5 orang yang terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan bilingualisme dan diglosia diantaranya: Tingkatan Usia Pemakai Bahasa Tingkat usia pemakai bahasa dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Orang yang lebih tua mungkin memiliki lebih banyak pengalaman menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka lebih mudah dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam Tingkat Ekonomi Tingkat ekonomi dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Mahasiswa dari keluarga yang lebih kaya mungkin memiliki lebih banyak akses ke sumber daya pendidikan yang lebih baik, sehingga mereka lebih mudah dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Mahasiswa yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi mungkin memiliki lebih banyak pengalaman menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka lebih mudah dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan Jenis Kelamin Jenis kelamin dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Mahasiswa laki-laki dan perempuan mungkin memiliki ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 perbedaan dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan, tergantung pada budaya dan tradisi masyarakat mereka Etnis Etnis dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Mahasiswa dari berbagai etnis mungkin memiliki perbedaan dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan, tergantung pada budaya dan tradisi masyarakat mereka. Lawan Bicara Lawan bicara dapat mempengaruhi bagaimana seseorang menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan. Mahasiswa mungkin menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam berkomunikasi dengan lawan bicara yang berbeda, seperti guru, teman, atau orang tua. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, menjadi penting bagi kita mengetahui hal apa saja yang menyebabkan fenomena berbagasa bilingualisme dan diglosia. Tentunya fenomena berbahasa bilingualism dan diglosia memiliki pengaruh positif dan negatif bagi dunia Untuk Pengaruh positifnya antara lain bilingualisme memungkinkan mahasiswa untuk berpikir secara lebih fleksibel dan adaptif dalam berbagai situasi, bilingualisme meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa, termasuk kemampuan berbicara, menulis, dan berpikir secara verbal, bilingualisme memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam berbagai situasi, bilingualisme dapat meningkatkan pemahaman materi mahasiswa, terutama dalam subjek-subjek yang memerlukan kemampuan berpikir kritis dan analisis. Hal ini karena bilingualisme memungkinkan mahasiswa untuk memahami konsep-konsep yang kompleks dengan lebih baik. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena bilingualisme dan diglosia salah satunya adalah faktor jenis kelamin. Mahasiswa laki-laki dan perempuan mungkin memiliki perbedaan dalam menggunakan bilingualisme dan diglosia dalam pendidikan, tergantung pada budaya dan tradisi masyarakat mereka. Dalam penelitian ini juga didapat hasil bahwa Mahasiswa Semester 4 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi yang berjumlah 43 orang, mahasiswa perempuan mejadi pelaku terbanyak atas fenomena berbahasa bilingualism, dan mahasiswa perempuan juga menjadi pelaku terendah atas fenomena berbahasa diglosia ragam bahasa R. Selain itu dapat disimpulkan juga bahwa Diglosia dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Diglosia Dan Bilingualisme Sebagai Fenomena Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa di Lingkungan Kampus Berbahasa Dalam Bahasa Tutur Yang Digunakan Mahasiswa Di Lingkungan Kampus mempunyai dampak positif dan negatif yang begitu signifikan bagi dunia pendidikan. Salah satu diantaranya dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa, termasuk kemampuan berbicara, menulis, dan berpikir secara verbal, bilingualisme memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam berbagai situasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disampaikan beberapa saran yaitu: kepada mahasiswa untuk dapatmengembangkan keterampilan bilingualism dan diglosianya dengan baik, dengan memperhatikan tempat dan situasi penggunaan kemampuan bilingualismenya. Dengan begitu dampak positif bagi pendidikan akan terasa dari penerapan penggunaan bilingualism dan diglosia yang baik dan benar. DAFTAR REFERENSI Aisyah. Panjaitan. Rambe. Ahadi. Nasution. Negeri. Utara. William. Ps. Estate. , & Serdang. Studi pustaka: Konsep bilingualisme dan pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa anak. Journal on Education, 5. , 3788-3795. Budi Sidharta. Diani. Kartika Sari. Abrian Nugraha. , & Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan Palembang. Fenomena bilingualisme dan diglosia taruna program studi manajemen transportasi perairan daratan politeknik transportasi sungai danau dan penyeberangan Palembang. Chaer. Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer. , & Agustina. Sosiolinguistik perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta. Desa. Pulih. Pedamaran. , & Oki. Bilingualisme dan diglosia dalam acara Njajah Deso Milang Kori Radio Ismoyo Palembang serta implementasinya di MTs Roudhotul Mubarokah OKI dengan menggunakan media internet. Djawa Sutrisno. Metodologi penelitian: Penulisan dan penyusunan skripsi, tesis, dan desertasi. Jakarta: IKAPI. Eka. , & Yusnia. Bilingualisme dan multilingualisme dalam masyarakat Kabupaten Subang. Diskursus, 5. , https://doi. org/10. 30998/diskursus. Endang. Diglosia antara Bahasa Jawa dan Sunda . tudi kasus masyarakat bahasa Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebo. Jurnal Inovasi Pendidikan M. Thamrin. Fitriyani. Pengaruh bilingualisme terhadap kemampuan berbahasa pada anak usia 7 Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1. , 231. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Iryani. Diglosia antara Bahasa Jawa dan Sunda . tudi kasus masyarakat Bahasa Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebo. ATMOSFER - VOLUME 2. NO. MEI 2024 e-ISSN: 2964-982X. p-ISSN: 2962-1232. Hal 307-317 Kartikasari. Penggunaan bilingualisme pada masyarakat yang berwirausaha. https://jurnal. id/index. php/penaliterasi Lubis. Metodologi penelitian. Sleman: DEEPUBLISH. Neang. Puang. Bunga. Kunci. , & Menulis. Pengaruh model project based learning terhadap keterampilan menulis iklan. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 8. Nurlia. Metodologi penelitian untuk penulisan dan penyusunan skripsi, tesis, dan Jakarta: Sketsa Media. Penelitian Pendidikan Bahasa. Budaya, dan. Moon. , & Selviani. Diglosia pada mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia STKIP Santu Paulus Ruteng. http://unikastpaulus. id/jurnal/index. php/jpro/index Rahayu. Bilingualisme pada masyarakat Desa Matanghaji. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sitti Aisya Kahaz. Pertuturan situasi diglosia Pondok Pesantren Modern Al-Syaikh Abdul Wahid Kota Baubau: Kajian sosiolinguistik. Jurnal Ilmu Budaya, 7. , 68. Tarigan. Psikolinguistik. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung. Warisman. Sosiolinguistik: Teori dan aplikasi dalam pembelajaran. Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Pres. Warsiman. Sosiolinguistik: Teori dan aplikasi dalam pembelajaran. Malang: Universitas Brawijaya Press (UB Pres. Yance. Situasi diglosia suku Bonai di Provinsi Riau. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 8. , 127. https://doi. org/10. 26499/madah.