ORIGINAL ARTICLE - AACENDIKIA: Journal of Nursing AACENDIKIA: Journal of Nursing. Volume 4 . Juli 2025, p. https://doi. org/10. 59183/aacendikiajon. Analysis of Factors Influencing the Socio-Emotional Development of Elementary School Children at the Advent Education Foundation in Palopo City, 2025 Asri Amiruddin1*. Fadli2. Erni Eka Sari2. Dewi Hastuty3 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo Program Studi Sarjana Kebidanan. Fakultas Kesehatan. Universitas Mega Buana Palopo *Correspondence: Asri Amiruddin. Address: Jalan Andi Ahmad. Kota Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia 91913. Email: asriamiruddin27062002@gmail. Received: 26 April 2025 U Revised: 12 Juni 2025 U Accepted: 3 Juli 2025 ABSTRACT Socio-emotional development is a critical aspect of growth during school-age years. It is characterized by the childAos ability to adapt to their environment, establish friendships, and manage emotions, thoughts, and behaviors. Developing these skills early is essential to ensure children grow and develop as expected. This study aimed to identify the factors influencing socioemotional development among elementary school children at the Advent Education Foundation in Palopo City in 2025. quantitative analytic descriptive design with a cross-sectional approach was used. The study employed total sampling, involving 32 respondents from grades V and VI. The instruments included the Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) to assess socio-emotional problems and a separate questionnaire to evaluate influencing factors. Data were analyzed using SPSS with the Chi-Square test. Statistical analysis revealed no significant relationship between socio-emotional development and internal factors such as child health, home atmosphere, or family economic status. However, external factors showed significant associations: family dynamics . = 0. , learning environment . = 0. , and peer interaction . = 0. These findings indicate that socio-emotional development in children is significantly influenced by external factors, particularly family support, the comfort of the learning environment, and peer relationships. Therefore, strengthening family involvement and fostering positive learning and peer environments are vital for enhancing children's socio-emotional ABSTRAK Perkembangan sosial-emosional merupakan salah satu bentuk perkembangan yang terjadi pada anak usia sekolah. Perkembangan sosiol-emosional anak usia sekolah ditandai dengan berkembangnya kemampuan anak dalam beradaptasi dengan lingkungannya, memiliki rasa persahabatan yang meliputi emosi, pikiran, dan perilakunya. Keterampilan sosial emosional anak harus dikembangkan sejak dini agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi sosial-emosional pada anak di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Advent Kota Palopo Tahun 2025. Metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional study. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah 32 responden yang merupakan seluruh murid kelas V dan Vl di sekolah dasar yayasan pendidikan advent Kota Palopo. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk mengukur tingkat masalah sosial emosional dan kuesioner faktor-faktor yang mempengaruhi sosial emosional anak. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dianalisis menggunakan program statistik SPSS dengan analisis uji Chi Square. Berdasarkan analisa uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor internal kondisi kesehatan anak. Suasana rumah, dan ekonomi keluarga. Sedangkan faktor eksternal menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara faktor keluarga . , kondisi lingkungan belajar . , dan interaksi teman sebaya . Sosial emosional pada anak di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Advent Kota Palopo dipengaruhi oleh faktor eksternal . aktor keluarga, kondisi lingkungan belajar dan interaksi dengan teman sebay. Oleh karna itu pentingnya dukungan keluarga dan kenyaman anak dalam lingkungan belajar serta interaksinya dengan teman sebayanya bagi perkembagan sosial emosianal anak. Keywords: socio-emotional development. elementary school children. family factors. peer interaction. SDQ Pendahuluan Perkembangan sosial-emosional merupakan salah satu bentuk perkembangan yang terjadi pada 1 | E-ISSN: 2963-6434 anak usia sekolah. Perkembangan sosiolemosional anak usia sekolah ditandai dengan A 2025 AACENDIAKIA: Journal of Nursing. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Asri Amiruddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing beradaptasi dengan lingkungannya, memiliki rasa persahabatan yang meliputi emosi, pikiran, dan perilakunya (Salsabina et al. , 2. Oleh karena itu, perkembangan sosial mempengaruhi masalah keterampilan anak. Keterampilan sosial emosional anak harus dikembangkan sejak dini agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan (Laily & Chandra, 2. Namun permasalahan sosial dan emosional yang timbul pada anak usia sekolah tidak hanya terjadi pada dirinya sendiri saja, melainkan semua memerlukan orang dewasa yang ada disekitarnya seperti guru dan orang tua pada masa anak sekolah dasar (Rahmi, 2. Perkembangan sosial anak sekolah dasar diwujudkan dengan perubahan sikap/tindakan dan perluasan korelasi teman sebaya, selain dukungan keluarga, anak mulai menjalin hubungan dengan teman sebaya atau teman sekelasnya, sehingga ruang pergaulannya semakin luas (Avandra et al. Dengan demikian, perkembangan sosialemosinal sangat penting bagi kehidupan anak, karena mencakup proses perkembangan, terkait cara bersosialisasi dengan orang lain serta mempengaruhi perkembangan anak. Menurut Brauner dan Stephens dalam Simanjuntak et al. menemukan bahwa sekitar 9,5%-14,2% anak mengalami keterlambat perkembangan sosial dan emosional, yang berdampak negatif terhadap perkembangan dan fungsi akademik mereka, sebuah studi oleh Klein Velderman. Crone. Wiefferink dan Reijneveld, menemukan bahwa sekitar 8,0%-9,0% siswa sekolah dasar mengalami masalah sosioemosional seperti kecemasan, dan ketidak patuhan serta kurangnya hubungan dengan teman sebaya dan kurangnya keterampilan. Menurut Supit & Gosal . Dari 5 orang anak, 1 anak dikategorikan mulai berkembang . %) dan 4 anak yang memperoleh kriteria berkembang sesuai harapan . %). Pada siklus II dilaksanakan penelitian dengan memperbaiki kesulitan yang di hadapi anak untuk memperoleh peningkatan yang maksimal. Pada siklus II terjadi peningkatan yang signifikan. Dari 5 anak kriteria berkembang sangat baik sebanyak 8 orang . ,33%), sedangkan kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak 7 orang anak . ,67%). Untuk dapat mengembangkan perkembangan sosial dan emosionalnya, anak memerlukan waktu yang disesuaikan dengan kematangan emosinya, persiapan fisik, mental dan psikisnya serta kesabaran yang luar biasa (Harianja et al. , 2. Data yang diperoleh dari wilayah kerja Puskesmas Wara Barat Pada Tahun 2024 dari 32 murid di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Advent Kota Palopo kelas V terdapat 24% murid yang mengalami masalah sosial-emosinal dengan kategori ambang/borderline dan terdapat 38% dari kelas VI murid yang mengalami masalah sosialemosinal dengan kategori ambang/borderline. Dengan emosional anak itu dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Menurut penelitian Muali & Fatmawati . faktor internal merupakan faktor dari dalam diri anak atau seseorang yang meliputi. Kesehatan anak merupakan salah satu faktor umum yang mempengaruhi apakah anak dalam keadaan sehat jasmani dan rohani yang baik dan sempurna mengalami tumbuh kembang yang memadai, termasuk perkembangan sosial dan emosional (Rahmi, 2. Perkembangan sosial emosional anak juga dapat diamati dari suasana rumah dalam situasi sosial, seperti membersihkan mainan bersama, mengambil mainan yang hilang senang di puji dan berbagi makanan, serta takut pada orang asing (Simanjuntak et al. , 2. Status sosial ekonomi seseorang tentunya mempunyai peranan terhadap perkembangan sosial-emosinal pada tumbuh kembang anaknya, termasuk pendidikannya (Supit & Gosal, 2. Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri anak Muali & Fatmawati . , meliputi faktor keluarga yang mempunyai pengaruh besar terhadap sosial- emosinal anak, dimana keluarga merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan juga keluarga merupakan pihak yang selalu https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 2 Asri Amiruddin et al. mendampingi anak. Keterlibatan orang tua berpengaruh signifikan terhadap perilaku sosial dan emosional anak yang artinya keterlibatan orang tua dapat memprediksi perilaku sosial dan emosional anak (Salsabina et al. , 2. Faktor mempengaruhi sosial-emosinal anak seperti . etode kurikulusm, hubungan guru-murid, hubungan sekolah-murid, disiplin sekolah, alat belajar, waktu sekolah, standar mata pelajaran yang ingin dicapai, kondisi bangunan, metode pembelajaran dan tugas ruma. (Vienlentia, 2. Serta interaksi dengan teman sebaya, selain dukungan keluarga, interaksi dengan teman sebaya juga mempegaruhi sosial-emosinal anak dengan mulai menjalin hubungan pada teman sebaya atau teman sekelasnya, sehingga ruang pergaulannya semakin luas (Avandra et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi sosialemosional pada anak di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Advent Kota Palopo Tahun 2025. Metode Jenis dan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober 2024 - Februari 2025. Variabel dalam penelitian ini terbagi menjadi dua variabel yaitu variabel independen dan dependen, variabel independen adalah faktor internal yaitu karaktersitik . ondisi kesehatan anak, suasana rumah, ekonomi keluarg. dan faktor eksternal . aktor keluarga, kondisi lingkungan belajar, interaksi teman sebay. variabel dependen adalah masalah mental emosional. Populasi dalam penelitian ini semua siswa kelas V dan VI di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Advent Kota Palopo yaitu sebanyak 32 orang. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik total sampling, yaitu mengambil seluruh jumlah populasi sebanyak 32 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan data primer yang diambil langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan editing, coding, entry data dan tabulasi. Penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariate untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan taraf Signifikansi . <0. Hasil Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa responden dari kelas V dan Vl masing-masing memiliki jumlah yang sama yaitu 16 murid . %) dari 32 responden. Responden yang memiliki jenis kelamin perempuan sebanyak 16 anak . %) dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 16 anak . %) dari 32 responden. Selain itu, responden yang berusia 9-10 tahun sebanyak 16 anak . %) dan 11-12 tahun juga sebanyak 16 anak . %) dari 32 responden. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa responden terbanyak anak ke 1-3 yaitu 26 orang murid . ,3%), dan responden dengan 3 | E-ISSN: 2963-6434 jumlah terendah anak ke 4-5 dengan jumlah 6 orang anak . ,8%) dari 32 responden. Responden terbanyak berdasarkan jumlah anggota keluarga <5 anggota keluarga 15 orang . ,9%), dan responden dengan jumlah terendah yaitu anggota keluarga Ou5 dengan jumlah anggota keluarga 17 orang . ,1%) dari 32 responden, dan responden terbanyak dengan jenis bangunan permanen 22 responden . ,8%) dan responden dengan jumlah terendah jenis bangunan semi permanen 10 responden . ,3%) dari 32 responden. Asri Amiruddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Tabel 1. Distrtibusi distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden . Karakteristik Kelas Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 9-10 Tahun 11-12 Tahun Anak Keberapa dalam keluarga Anak ke 1-3 Anak ke 4-5 Jumlah Anggota keluarga < 5 anggota keluarga Ou 5 anggota keluarga Jenis Bangunan Semi permanen Tabel 2. Distribusi frekuensi berdasarkan sosial emosional, kondisi kesehatan anak, suasana rumah ekonomi keluaraga, faktor keluarga, kondisi lingkungan belajar, interaksi teman sebaya . Variabel Sosial Emosional Baik Kurang Kondisi Kesehatan Anak Baik Kurang Suasana Rumah Tinggal dengan orang tua Tidak tinggal dengan orang tua Ekonomi Keluarga <3 juta Ou3 juta Faktor Keluarga Baik Kurang Lingkungan Belajar Baik Kurang Interaksi Teman Sebaya Baik Kurang Tabel 2 menunjukkan hasil analisis data, diketahui bahwa dari 32 responden, sebagian besar memiliki sosial emosional dalam kategori baik sebanyak 18 murid . ,3%), sementara 14 https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 4 Asri Amiruddin et al. ,8%) termasuk dalam kategori kurang. Kondisi kesehatan anak menunjukkan bahwa mayoritas responden berada dalam kategori baik sebanyak 26 murid . ,3%), dan hanya 6 murid . ,8%) dalam kategori kurang. Suasana rumah responden didominasi oleh anak yang tinggal bersama orang tua sebanyak 27 orang . ,4%), sedangkan yang tinggal dengan wali, nenek, atau kakek berjumlah 5 orang . ,6%). Dari segi ekonomi keluarga, 18 responden . ,3%) berasal dari keluarga dengan penghasilan Ou 3 juta, sedangkan 14 responden . ,8%) berasal dari keluarga dengan penghasilan < 3 juta. Faktor keluarga juga menunjukkan bahwa 23 murid . ,9%) berada dalam kondisi keluarga yang baik, dan 9 murid . ,1%) dalam kondisi kurang baik. Lingkungan belajar dinilai baik oleh 21 murid . ,6%) dan kurang oleh 11 murid . ,4%). Sementara itu, interaksi dengan teman sebaya juga tergolong baik pada 19 murid . ,4%) dan kurang pada 13 murid . ,6%). Tabel 3. Hasil uji person chi-square kondisi kesehatan anak, suasana rumah ekonomi keluaraga, faktor keluarga, kondisi lingkungan belajar, interaksi teman sebaya dengan masalah mental social emosional . Sosial Emosional Total Baik Kurang Variabel p-value Kondisi Kesehatan Anak Baik 0,196 Kurang Suasana Rumah Orang tua 1,000 Lainnya Ekonomi keluarga <3 juta 0,788 Ou3 juta Faktor keluarga Baik 0,022 Kurang Kondisi lingkungan Baik 0,003 Kurang Interaksi dengan Teman Sebaya Baik 0,041 Kurang Berdasarkan hasil analisis dari tabel 3 terhadap 32 responden, ditemukan bahwa sebagian besar anak dengan kondisi kesehatan baik sebanyak 26 orang . ,3%) terbagi rata antara yang memiliki sosial emosional baik . ,6%) dan kurang . ,6%), sementara anak dengan kondisi kesehatan kurang sebanyak 6 5 | E-ISSN: 2963-6434 orang terdiri dari 5 orang . ,6%) dengan sosial emosional baik dan 1 orang . ,1%) dengan sosial emosional kurang. Uji Chi-Square dengan pendekatan FisherAos Exact Test menunjukkan nilai p = 0,196, sehingga tidak terdapat hubungan antara kondisi kesehatan anak dengan sosial 0,. Selanjutnya. Asri Amiruddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing berdasarkan suasana tempat tinggal, anak yang tinggal bersama orang tua sebanyak 27 orang . ,4%) terdiri dari 15 orang . ,9%) dengan sosial emosional baik dan 12 orang . ,5%) dengan sosial emosional kurang, sedangkan anak yang tinggal dengan wali/kerabat sebanyak 5 orang . ,6%) terdiri dari 3 orang . ,4%) dengan sosial emosional baik dan 2 orang . ,3%) dengan sosial emosional kurang. Hasil uji menunjukkan p = 1,000, sehingga tidak terdapat hubungan antara suasana rumah dengan sosial emosional anak. Berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, dari 14 anak . ,8%) dengan penghasilan orang tua < 3 juta, masing-masing 7 orang . ,9%) memiliki sosial emosional baik dan kurang. Sementara dari 18 anak . ,3%) dengan penghasilan Ou 3 juta, terdapat 11 anak . ,4%) dengan sosial emosional baik dan 7 . ,9%) dengan sosial emosional Nilai p = 0,788 menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan sosial emosional anak. Sementara itu, faktor keluarga menunjukkan hubungan yang signifikan. dari 23 anak . ,9%) dengan faktor keluarga baik, 16 . %) memiliki sosial emosional baik dan 7 . ,9%) kurang, sedangkan dari 9 anak dengan faktor keluarga kurang, hanya 2 . ,3%) yang memiliki sosial emosional baik dan 7 . ,9%) kurang. Hasil uji menunjukkan p = 0,022 . < 0,. , menandakan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor keluarga dan sosial emosional anak. Selanjutnya, kondisi lingkungan belajar juga memiliki hubungan signifikan, dengan anak yang berada dalam lingkungan belajar baik sebanyak 21 orang . ,6%), terdiri dari 16 orang . %) dengan sosial emosional baik dan 5 orang . ,6%) Sementara dari 11 anak . ,4%) dengan lingkungan belajar kurang, hanya 2 . ,3%) yang memiliki sosial emosional baik, dan 9 . ,1%) Nilai p = 0,003 mendukung adanya hubungan yang signifikan. Terakhir, interaksi teman sebaya juga berpengaruh terhadap sosial emosional anak, di mana dari 19 anak . ,4%) dengan interaksi baik, 14 . ,8%) memiliki sosial emosional baik dan 5 . ,6%) kurang, sedangkan dari 13 anak dengan interaksi kurang, hanya 4 . ,5%) yang memiliki sosial emosional baik dan 9 . ,1%) kurang. Nilai p = 0,041 menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara interaksi teman sebaya dengan sosial emosional anak. Pembahasan Hubungan kondisi kesehatan anak dengan sosial emosional anak Kesehatan anak merupakan salah satu faktor umum yang mempengaruhi apakah anak dalam keadaan sehat jasmani dan rohani yang baik dan sempurna mengalami tumbuh kembang yang memadai, termasuk perkembangan sosial dan emosional (Rahmi, 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden yang memiliki kondisi kesehatan baik sebanyak 26 . orang di antaranya 13 . ,6%) orang yang sosial emosional baik dan 13 . ,6%) orang yang sosisal ekonomi Sedangkan kondisi kesehatan anak kurang sebanyak 6 orang diantaranya 5 . ,6%) orang yang sosial emosional baik dan 1 . ,1%) orang yang sosial emosional kurang. Berdasarkan hasil uji Chi square dengan pendekatan FisherAos Exact Test didapatkan nilai P value=0,196. Hal ini menunjukan P>0,05 maka dapat H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat hubungan antara kondisi kesehatan anak dengan sosial emosional anak. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ainun et al . , yang berjudul perkembangan sosial emosional peserta didik usia sekolah ditemukan bahwa terdapat hubungan antara sosial emosinal anak, dimana keadaan kesehatan anak mempengaruhi kemampuan Anak yang mengalami kekurangan diri seperti cacat badan /tubuh berdampak pada perkembangan sosial emosinal anak itu sendiri. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurdiantami et al. , yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya perkembangan sosial-emosinal pada anak. Anak yang mengalami kondisi kesehatan yang kurang akan mengalami https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 6 Asri Amiruddin et al. kesulitan dalam pertumbuhan dan perkembangan sosial emosionalnya. Peneliti mengasumsikan bahwa kondisi perkembangan sosial emosinal anak. Hal ini di karenakan masih banyak anak yang memiliki kondisi kesehatan kurang baik tetapi mampu menunjukkan perkembangan sosial-emosianal yang positif karna faktor dukungan keluarga yang membantu anak mengatasi hambatan kesehatan tanpa berdampak negatif pada emosinya. Hubungan suasana rumah dengan sosial emosional anak Perkembangan sosial emosional anak juga dapat diamati dari suasana rumah dalam situasi sosial, seperti membersihkan mainan bersama, mengambil mainan yang hilang senang di puji dan berbagi makanan, serta takut pada orang asing (Simanjuntak et al. , 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden, suasana rumah dengan responden yang tinggal dengan orang tua sebanyak 27 . orang di antaranya 15 . ,9%) orang yang sosial emosional baik dan 12 . ,5%) orang yang sosisal emosinal anak kurang. Sedangkan suasana rumah dengan responden yang tidak tinggal dengan orang tua . sebanyak 5 . ,6%) orang diantaranya 3 orang . ,4%) yang sosial emosional baik dan 2 . ,3%) orang yang sosial emosional kurang. Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan pendekatan FisherAos Exact Test ditemukan bahwa P=1,000. sehingga P>0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara anak tinggal dengan siapa dengan sosial emosional anak. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinta Zakiyah et al . , yang berjudul perkembangan anak pada masa sekolah Anak yang di besarkan dalam suasana atau kondisi rumah yang nyaman serta penuh dukungan emosinal cenderung lebih percaya diri mudah beradaptasi dan mengontrol emosinya 7 | E-ISSN: 2963-6434 dengan baik, mempengaruhi perkembangan sosial emosinal anak itu sendiri dalam kestabilan emosi dan berkembang. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurdiantami et al . , yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya perkembangan sosial-emosinal pada anak. Anak yang tinggal dalam rumah yang penuh tekanan seperti perselisihan orang tua atau perceraian akan cenderung mengalami masalah perkembangan sosial emosinal, hal ini di sebabkan anak yang berada di rumah yang penuh dengan tekanan akan cenderung memiliki perasaan cemas, gelisah, menarik diri dari interaksi sosial dan tidka percaya Peneliti mengasumsikan bahwa suasana tidak mempengaruhi perkembangan sosial emosinal anak. Hal ini di karenakan masih banyak anak yang tumbuh dalam suasana rumah yang sama bisa memiliki perkembangan sosial emsional yang berbeda. Hubungan kondisi ekonomi dengan sosial emosional anak Status sosial ekonomi seseorang tentunya mempunyai peranan terhadap perkembangan sosial-emosinal pada tumbuh kembang anaknya, termasuk pendidikannya (Supit & Gosal, 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden, ekonomi keluarga dengan penghasilan orang tua < 3 juta sebanyak 14 . ,8%) diantaranya 7 . ,9%) orang yang sosial emosional baik dan 7 . ,9%) orang yang sosisal emosinal anak kurang. ekonomi keluarga dengan penghasilan orang tua Ou 3 juta sebanyak 18 . %) orang diantaranya 11 orang . ,4%) yang sosial emosional baik dan 7 . ,9%) orang yang sosial emosional kurang. Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan pendekatan Continuity Correction didapatkan P=0,788. Sehingga P>0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada Asri Amiruddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing hubungan antara penghasilan orang tua dengan sosial emosional anak. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dhani et al. , . , yang berjudul pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosial emosinal anak usia dini. Anak dari keluarga atau latar belakang dengan ekonomi stabil cenderung merasa lebih aman dan nyaman karena kebutuhan dasar mereka terpenuhi dengan baik. Hal ini menyebabkan kondisi sosial emosinal anak yang memiliki ekonomi yang terpenuhi akan cendering lebih baik. Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurwati & Listari, . , yang berjudul kondisi status ekonomi pendidikan anak. Anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi memungkinkan mengalami kesulitan dalan kegiatan, pertumbuhan dan keterbatasan peningkatan keterampilan sosial emosianal mereka. Peneliti mengasumsikan ekonomi keluarga tidak mempengaruhi perkembangan sosial emosinal anak. Hal ini di karenakan anak yang tumbuh dalam keluarga sederhana tetapi penuh kasih sayang dan perhatian bisa memiliki perkembangan sosial-emosinal yang lebih baik di bandingkan anak dari keluarga yang kaya tetapi kurang perhatian emosional. Hubungan faktor keluarga dengan sosial emosional anak Faktor keluarga yang mempunyai pengaruh besar terhadap sosial- emosinal anak, dimana keluarga merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan juga keluarga merupakan pihak yang selalu mendampingi anak. Keterlibatan orang tua berpengaruh signifikan terhadap perilaku sosial dan emosional anak yang artinya keterlibatan orang tua dapat memprediksi perilaku sosial dan emosional anak (Salsabina et al. , 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden, faktor keluarga baik sebanyak 23 . ,9%) diantaranya 16 . %) orang yang sosial emosional baik dan 7 . ,9%) orang yang sosisal emosinal anak kurang. faktor keluarga kurang sebanyak 9 . ,1%) orang diantaranya 2 orang . ,3%) yang sosial emosional baik dan 7 . ,9%) orang yang sosial emosional kurang. Berdasarkan hasil uji Chi square dengan pendekatan FisherAos Exact Test didapatkan nilai P value=0,022. Hal ini menunjukan P<0,05 maka dapat H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan antara faktor keluarga dengan sosial emosional anak. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Hanifah & Farida, . ,yang berjudul peran keluarga dalam megoptimalkan perkembangan anak, dimana lingkungan keluarga merupakan pendewasaan seorang anak. Oleh karena itu kedudukan keluarga merupakan kedudukan tertinggi dalam perkembangan anak yang sangat penting, dalam proses perkembangan masa kanakkanak yang tidak dapat dipisahkan, perkembangan mencapai suatu tahapan, diharapkan akan meningkat lebih dari sebelumnya. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwistia et al. , . , yang berjudul peran lingkungan keluarga dalam perkembangan emosinal anak. Lingkungan keluarga berperan penting dalam perkembangan emosional anak, karena keluarga tempat pertama anak belajar mengenali dan mengelola emosi. Interaksi dua arah antara anggota keluarga, serta pola asuh yang positif, dapat mendukung perkembangan emosional anak yang sehat. Peneliti mengasumsikan faktor keluarga mempengaruhi perkembangan sosial emosinal Hal ini di karenakan keterikatan yang kuat antara orang tua dan anak akan meningkatkan rasa aman esmosianl anak yang pada akhirnya mendukung perkembangan keterampilan sosial emosinal anak. Hubungan kondisi lingkungan belajar dengan sosial emosional anak Faktor mempengaruhi sosial emosinal anak seperti lingkungan sekolah . etode pembelajaran, https://aacendikiajournal. com/ojs/index. php/Journal-of-Nursing | 8 Asri Amiruddin et al. kurikulum,hubungan guru murid, hubungan sekolah-murid, disiplin sekolah, alat belajar, waktu sekolah, standar mata pelajaran dan tugas rumah ) ( Vienlentia, 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden, kondisi lingkungan belajar baik sebanyak 21 . ,6%) diantaranya 16 . %) orang yang sosial emosional baik dan 5 . ,6%) orang yang sosisal emosinal anak kurang. Kondisi lingkungan belajar kurang sebanyak 11 . ,4%) orang diantaranya 2 orang . ,3%) yang sosial emosional baik dan 9 . ,1%) orang yang sosial emosional kurang. Ini menunjukan P<0,05 maka dapat H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti berdasarkan hasil uji Chi square dengan pendekatan FisherAos Exact Test didapatkan nilai P value=0,003. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara kondisi lingkungan belajar dengan sosial emosional anak. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Avandra et al. , . , yang berjudul pembelajaran sosial emosinal terhadap motivasi belajar peserta didik di sekolah dasar. Kondisi lingkungan belajar memiliki peran penting dalam perkembangan sosial-emosional anak. Lingkungan belajar yang positif dapat membantu anak merasa aman, percaya diri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik, sementara lingkungan yang kecemasan, stres, dan kesulitan dalam berinteraksi Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nadia et al. , . , yang perkembangan emosinal anak sekolah dasar. Kondisi lingkungan belajar yang mendukung secara sosial dan emosional membantu anak berkembang menjadi individu yang percaya diri, mampu berinteraksi dengan baik, dan memiliki kemampuan mengelola emosi secara efektif. Maka di harapkan sekolah dan guru harus menciptakan suasana yang positif, aman, dan inklusif bagi anak-anak. 9 | E-ISSN: 2963-6434 Peneliti berasumsi bahwa lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung akan menciptakan kesejahteraan emosional anak, sedangkan lingkungan yang penuh tekanan atau perundungan dapat menghambat perkembangan sosial-emosional mereka. Hubungan kondisi interaksi teman sebaya dengan sosial emosional anak Interaksi dengan teman sebaya juga mempegaruhi sosial-emosinal anak dengan mulai menjalin hubungan pada teman sebaya atau teman sekelasnya, sehingga ruang pergaulannya semakin luas (Avandra et al. , 2. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 32 responden, interaksi teman sebaya baik sebanyak 19 . ,4%) diantaranya 14 . ,8%) orang yang sosial emosional baik dan 5 . ,6%) orang yang sosial emosinal anak kurang. Interaksi teman sebaya kurang sebanyak 13 . ,6%) orang diantaranya 4 orang . ,5%) yang sosial emosional baik dan 9 . ,1%) orang yang sosial emosional kurang. Berdasarkan hasil uji Chi square dengan pendekatan Continuity Correctionb didapatkan nilai P value=0,041. Hal ini menunjukan P<0,05 maka dapat H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan sosial emosional Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nadia et al. , . , yang perkembangan emosinal anak sekolah dasar. Interaksi dengan teman sebaya sangat penting dalam perkembangan sosial-emosional anak karena membantu mereka memahami aturan sosial, mengelola emosi, membangun identitas sosial, serta mengembangkan keterampilan komunikasi dan empati. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayuningsih et al. , . Interaksi dengan teman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial-emosional Asri Amiruddin et al. AACENDIKIA: Journal of Nursing Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak belajar beradaptasi dengan lingkungan sosial, mengembangkan keterampilan komunikasi, dan memahami serta mengatur emosinya. Peneliti berasumsi bahwa interaksi teman sebaya dalam mendukung perkembangan sosial emosianl anak sangat mempengaruhi tingkah laku dan meningkatkan rasa aman dan percaya diri pada anak. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di Sekolah Dasar Yayasan Advent Kota Palopo tahun 2025, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara kondisi kesehatan anak, suasana rumah, dan ekonomi keluarga dengan sosial emosional anak. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara faktor keluarga, kondisi lingkungan belajar, dan interaksi teman sebaya dengan sosial emosional anak. Referensi