JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. June 2025 Page 512-519 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah DIMENSI ONTOLOGIS. EPISTEMOLOGIS. DAN AKSIOLOGIS ILMU DALAM MERESPONS KRISIS NILAI PADA DUNIA PENDIDIKAN MODERN Hazimah Dzikra Hayati1. Riza Restu2. Nellitawati3. Jasrial4. Sulastri5 1,2,3,4,5Universitas Negeri Padang. Indonesia Email: 0042. hazimahdzikrahayati@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 13 March 2025 Final Revised: 11 April 2025 Accepted: 16 May 2025 Published: 17 June 2025 Keywords: Philosophy Of Science Value Crisis Ontology Epistemology ABSTRAK Modern education is currently facing a severe value crisis that affects all components of the educational system. This article aims to critically examine how the ontological, epistemological, and axiological dimensions of knowledge can serve as a philosophical foundation in responding to this crisis. Using a library research approach, this study analyzes academic and philosophical literature from both general and Islamic education perspectives. The findings reveal that the reduction of knowledge to a mere technical tool has resulted in the neglect of education's humanistic dimension. The ontological dimension emphasizes education as a space for meaning-making and existential development. The epistemological dimension highlights the importance of reflective and transdisciplinary thinking in constructing knowledge. Meanwhile, the axiological dimension affirms that education must uphold moral, ethical, and spiritual This study concludes that reorienting education based on the philosophy of science is crucial to building an education system that excels not only academically but also in moral and civilizational values. ABSTRAK Pendidikan modern saat ini menghadapi tantangan serius berupa krisis nilai yang memengaruhi seluruh elemen sistem pendidikan. Artikel ini bertujuan mengkaji secara mendalam bagaimana dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu dapat menjadi fondasi filosofis dalam merespons krisis nilai tersebut. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, artikel ini menganalisis literatur akademik dan filosofis yang relevan, baik dari perspektif umum maupun berbasis nilai-nilai pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa reduksi makna ilmu menjadi sekadar alat teknis telah mengabaikan dimensi kemanusiaan pendidikan. Dimensi ontologis menekankan pentingnya pendidikan sebagai ruang pembentukan makna dan eksistensi manusia. Dimensi epistemologis menggarisbawahi perlunya cara berpikir reflektif dan transdisipliner dalam membangun pengetahuan. Sementara itu, dimensi aksiologis mengingatkan bahwa pendidikan harus menjunjung tinggi nilai moral, etika, dan spiritualitas. Kajian ini menyimpulkan bahwa reorientasi pendidikan berbasis filsafat ilmu sangat diperlukan untuk membangun tata kelola pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga beradab secara nilai. Kata kunci: Filsafat Ilmu. Krisis Nilai. Ontologi. Epistemologi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern PENDAHULUAN Dunia pendidikan modern tengah menghadapi transformasi besar, ditandai oleh kemajuan teknologi, globalisasi, dan liberalisasi informasi. Namun, bersamaan dengan perkembangan ini, muncul pula gejala krisis nilai yang semakin mengkhawatirkan. Indikatornya dapat dilihat dari menurunnya integritas akademik, lemahnya empati sosial, dan degradasi etika di berbagai level pendidikan. UNESCO . melaporkan bahwa hampir 62% lembaga pendidikan di negara-negara maju mengalami tantangan serius dalam membina karakter siswa secara holistik di tengah tekanan performa akademik. Tren meningkatnya kasus kecurangan akademik, perundungan, hingga kekerasan simbolik di institusi pendidikan menunjukkan bahwa sistem pendidikan saat ini lebih fokus pada aspek kognitif dan pencapaian nilai angka semata, alih-alih membangun manusia yang utuh secara moral dan spiritual. Laporan Kementerian Pendidikan Indonesia . mencatat 37% siswa sekolah menengah mengaku pernah melakukan plagiarisme, sebuah cerminan lemahnya fondasi nilai kejujuran dalam pembelajaran. Paradigma pendidikan kontemporer cenderung positivistik dan mekanistik, menempatkan ilmu hanya sebagai akumulasi pengetahuan yang bersifat objektif dan terpisah dari nilai. Dalam pandangan ini, dimensi ontologis . akikat realita. , epistemologis . umber dan cara memperoleh pengetahua. , dan aksiologis . ilai dan etika dalam ilm. menjadi tersisih. Hal ini menyebabkan ilmu kehilangan dimensi kemanusiaannya. Pendidikan yang menekankan pada pengetahuan teknis semata seringkali tidak mempersiapkan siswa untuk menjadi insan yang beretika. Ketimpangan ini diperparah oleh sistem evaluasi berbasis angka yang tidak mempertimbangkan dimensi afektif dan spiritual peserta didik. Akibatnya, lulusan pendidikan tinggi seringkali mengalami disorientasi nilai saat menghadapi realitas sosial. Situasi ini menuntut reorientasi ilmu yang tidak hanya menjawab persoalan teknis dan pragmatis, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai hakiki ilmu. Ilmu perlu dipandang sebagai bagian dari sistem nilai, bukan entitas netral yang bebas dari implikasi Perspektif ini hanya mungkin dibangun jika dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu diintegrasikan kembali dalam kerangka pendidikan. Pendekatan filsafat ilmu memberikan alat analisis mendalam untuk menggali krisis nilai dalam pendidikan. Dengan mendalami dimensi ontologis, kita menelaah hakikat realitas yang ingin dicapai pendidikan. Melalui epistemologi, kita mengkritisi cara dan validitas pengetahuan yang diajarkan. Dan lewat aksiologi, kita menyelidiki nilai-nilai apa yang melekat dalam proses pendidikan tersebut. Rahman dkk. dalam bukunya Pendidikan Agama Islam dalam Lensa Filsafat Ilmu mengemukakan bahwa pendidikan modern telah kehilangan arah ontologisnya, menyisakan kekosongan eksistensial bagi peserta didik. Krisis ini bukan hanya menyangkut metode pembelajaran, tetapi menyentuh pada level makna dan tujuan keberadaan pendidikan itu sendiri. Ilmu tidak boleh hanya diposisikan sebagai sarana penaklukan alam atau pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sebaliknya, ilmu seharusnya menjadi instrumen pembentukan manusia yang bijak, sadar akan posisinya sebagai makhluk etis dan spiritual. Oleh karena itu, pemisahan ilmu dari nilai akan merusak fondasi peradaban. Hingga saat ini, kajian filsafat ilmu yang terintegrasi dalam sistem pendidikan masih Penelitian yang memetakan bagaimana ilmu dapat difungsikan secara holistik dalam menjawab krisis nilai masih sangat minim, terutama dalam konteks pendidikan di Indonesia. Ini menunjukkan adanya celah yang harus segera diisi oleh studi-studi mendalam berbasis kepustakaan dan kritik filosofis. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu dalam merespons krisis nilai pada dunia pendidikan modern. Melalui studi kepustakaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan fondasi teoritis dan praktis bagi reorientasi pendidikan berbasis nilai yang integratif dan transformatif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka . ibrary researc. yang merupakan pendekatan kualitatif untuk mengkaji secara sistematis literatur-literatur yang relevan dengan topik dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu dalam merespons krisis nilai pada pendidikan modern. Pendekatan ini digunakan karena objek kajian bersifat konseptual dan filosofis, yang tidak memerlukan pengumpulan data empiris melalui observasi atau eksperimen, melainkan melalui analisis mendalam terhadap sumber-sumber tertulis. Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mensintesis berbagai teori serta pemikiran filosofis dari buku, jurnal ilmiah, dan laporan institusi resmi seperti UNESCO dan Kemendikbudristek. Studi pustaka ini mengikuti prosedur sistematis berupa: . menentukan fokus kajian berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian. mengumpulkan sumber literatur primer dan sekunder yang relevan, termasuk literatur filsafat ilmu dan pendidikan nilai. melakukan analisis isi terhadap pandangan-pandangan ilmuwan mengenai tiga dimensi filsafat ilmu. menyusun simpulan konseptual dari temuan literatur. Metode ini dianggap paling relevan untuk menjawab tujuan penelitian, karena mampu menghasilkan pemahaman yang mendalam terhadap fondasi teoritis dari krisis nilai pendidikan, sekaligus menawarkan kerangka reflektif untuk pembaruan praksis pendidikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Halim. Anwar, dan Luneto . , metode studi pustaka memiliki potensi kuat dalam menganalisis hubungan antara prinsip filsafat ilmu dan strategi manajemen pendidikan berbasis nilai. HASIL DAN PEMBAHASAN Krisis Nilai dalam Pendidikan Modern Pendidikan di era modern menghadapi tantangan serius berupa krisis nilai yang kian Tekanan terhadap hasil akhir seperti nilai ujian, akreditasi institusi, dan peringkat nasional atau internasional menyebabkan lembaga pendidikan cenderung mengabaikan nilai-nilai dasar pendidikan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap proses belajar. Pendidikan dijalankan layaknya industri, yang mengukur keberhasilan hanya dari aspek produktivitas. Kompetisi akademik yang tidak sehat juga menciptakan ruang bagi praktik-praktik tidak etis seperti plagiarisme, manipulasi data, dan rekayasa nilai. Guru, dosen, dan peserta didik kerap kali terjebak dalam budaya instan dan budaya pencitraan akademik. Akibatnya, karakter sebagai salah satu tujuan pendidikan menjadi semakin terpinggirkan. Selain itu, komersialisasi pendidikan memperparah situasi. Lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal, lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi daripada misi pendidikan itu sendiri. Hal ini tampak dari maraknya penyelenggaraan program yang hanya bersifat seremonial atau formalitas administratif tanpa refleksi nilai. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan modern telah bergeser dari proses pemanusiaan menjadi alat produksi. Krisis nilai ini tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan administratif atau teknis, tetapi memerlukan pendekatan filosofis yang menyentuh akar persoalan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern Dimensi Ontologis Ilmu: Hakikat Pendidikan sebagai Proses Kemanusiaan Dimensi ontologis ilmu dalam konteks pendidikan mengacu pada pemahaman tentang hakikat realitas dan keberadaan dalam proses pendidikan. Ontologi tidak hanya berbicara tentang entitas fisik, tetapi juga menyentuh makna, nilai, dan esensi terdalam dari keberadaan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Purnomo dan Mansur . menyatakan bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang transformasi yang menyeluruh, yang mencakup kesadaran spiritual, akal budi, serta budaya manusia. Namun, dalam praktik pendidikan modern, dimensi ini kerap Pendidikan direduksi menjadi aktivitas teknis yang terfokus pada capaian administratif dan standar prosedural. Filsafat pendidikan Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Luthfiyah dan Khobir . , menempatkan nilai tauhid sebagai dasar ontologis utama. Dalam kerangka ini, peserta didik bukan hanya objek pembelajaran, tetapi pribadi dengan fitrah yang harus dikembangkan secara utuh. Konsep ini menuntut pendidikan yang tidak hanya mengarahkan peserta didik menjadi tenaga kerja siap pakai, melainkan juga manusia berkarakter dan berkesadaran eksistensial. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan yang mengakar pada fondasi ontologis akan menghasilkan generasi yang memiliki pemahaman jati diri dan nilai kemanusiaan yang kuat. Sayangnya, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya pergeseran makna Fitri et al. menemukan bahwa pendidikan modern telah mengalami desubstansialisasi, yakni perubahan dari fungsi eksistensial menjadi instrumen teknis Dalam kondisi ini, peserta didik tidak lagi diposisikan sebagai subjek aktif pencari makna, tetapi lebih sebagai objek kebijakan sistem yang diarahkan pada capaian Proses pendidikan pun kehilangan ruh kemanusiaannya. Krisis nilai dalam pendidikan yang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan refleksi dari krisis pemahaman ontologis terhadap ilmu itu sendiri. Ketika ilmu hanya dipandang sebagai kumpulan materi ajar dan tidak lagi sebagai sarana pembentukan manusia yang utuh, maka pendidikan menjadi mekanistik, kering dari makna, dan jauh dari tujuan Rahmadani et al. menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter yang berakar pada pemahaman ontologis mengenai manusia, yaitu bahwa setiap individu memiliki nilai, makna, dan potensi yang harus diaktualisasikan secara utuh. Dengan demikian, pendidikan modern harus kembali meneguhkan dimensi Paradigma pendidikan perlu diarahkan pada penghargaan terhadap eksistensi manusia secara holistik. Pendidikan seharusnya menjadi ruang perjumpaan antara guru dan peserta didik sebagai subjek-subjek yang saling mencari, menemukan, dan membangun makna serta kebenaran bersama. Dimensi ontologis inilah yang harus menjadi fondasi bagi pembaruan pendidikan ke arah yang lebih beradab dan bermakna. Dimensi Epistemologis Ilmu: Cara Kita Membangun dan Menilai Pengetahuan Dimensi epistemologis dalam pendidikan berfokus pada bagaimana pengetahuan diperoleh, dibangun, dan divalidasi dalam proses belajar-mengajar. Epistemologi menjawab pertanyaan tentang sumber pengetahuan, metode pencarian kebenaran, dan legitimasi dari informasi yang diterima. Dalam pendidikan modern, pendekatan epistemologis seringkali dikerdilkan menjadi proses linear, di mana pengetahuan hanya ditransmisikan dari guru ke siswa tanpa proses reflektif yang bermakna. Purnomo dan Mansur . menyatakan bahwa epistemologi pendidikan saat ini terlalu bergantung pada pendekatan logis-rasional dan metode kuantitatif, sementara dimensi hermeneutik dan reflektif yang esensial untuk pemaknaan sering diabaikan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern Lebih lanjut. Luthfiyah dan Khobir . menekankan bahwa pendidikan yang sehat membutuhkan integrasi antara akal, wahyu, dan pengalaman sebagai dasar epistemologi. Dalam pendidikan Islam, sumber kebenaran tidak hanya berasal dari observasi empiris, tetapi juga dari nilai-nilai transendental yang berakar pada keimanan. Mereka menegaskan bahwa model pendidikan ideal adalah yang menjadikan peserta didik sebagai subjek aktif pencari ilmu, bukan sekadar penerima informasi. Pendekatan epistemologis seperti ini mendorong kolaborasi antara metode deduktif, induktif, dan hermeneutik agar realitas pendidikan dapat dipahami secara lebih utuh dan menyeluruh. Krisis epistemologi dalam pendidikan modern semakin nyata ketika pengetahuan dipersempit hanya pada hal-hal yang terukur dan terstandar. Fitri et al. mengungkapkan bahwa dominasi data dan metode teknis menyebabkan pengabaian terhadap pendekatan kontekstual dan reflektif. Proses pembelajaran menjadi mekanistik, di mana interaksi sosial dan pertukaran makna dikesampingkan. Padahal, seperti dikemukakan Rahmadani et al. , epistemologi pendidikan karakter justru harus mendukung pencarian makna melalui pendekatan aktif, kritis, dan partisipatif. Ketika ruang untuk berpikir mendalam dan diskusi filosofis ditiadakan, peserta didik kehilangan kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran dan kebijaksanaan. Kondisi tersebut menciptakan jarak antara pengetahuan yang diajarkan dengan realitas kehidupan peserta didik. Dominasi metode ceramah dan pengujian berbasis hafalan menjadi bukti bahwa sistem pendidikan lebih berorientasi pada penguasaan informasi dibandingkan pemahaman bermakna. Hal ini diperburuk oleh pandangan sempit bahwa pengetahuan yang sah adalah yang dapat diukur secara kuantitatif, padahal banyak bentuk pengetahuan yang bersifat naratif, intuitif, dan spiritual tidak kalah penting dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik. Akibat dari penyempitan makna epistemologi ini, peserta didik cenderung menjadi penerima pasif daripada pencari pengetahuan yang aktif. Rasa ingin tahu, daya kritis, dan semangat eksplorasi yang seharusnya tumbuh dalam proses pendidikan menjadi tumpul. Proses belajar yang sejatinya bersifat dinamis dan membebaskan malah menjadi kaku dan terpusat pada hasil. Dalam jangka panjang, hal ini memperdalam krisis nilai karena pendidikan gagal mentransformasikan peserta didik menjadi insan pembelajar yang reflektif dan bertanggung jawab secara moral. Oleh karena itu, pendidikan yang sehat harus merevitalisasi pendekatan Sistem pengetahuan perlu dirancang secara pluralistik dan terbuka terhadap berbagai perspektif. Pendekatan transdisipliner, dialogis, dan partisipatif menjadi kunci untuk membangun ekosistem pembelajaran yang kontekstual dan Pendidikan tidak hanya harus memberi informasi, tetapi juga harus memberi ruang bagi kontemplasi, pertanyaan filosofis, dan pembentukan kesadaran eksistensial. Dimensi epistemologi yang demikian akan membawa pendidikan kembali pada tujuan sejatinya: membentuk manusia yang berpikir, bernilai, dan bijak dalam menghadapi kompleksitas hidup. Dimensi Aksiologis Ilmu: Tujuan. Etika, dan Nilai dalam Pendidikan Dimensi aksiologis ilmu menyoroti nilai-nilai dan tujuan dari pengetahuan yang diterapkan dalam pendidikan. Aksiologi bukan hanya menjadi pelengkap dalam praktik keilmuan, tetapi merupakan fondasi moral yang membimbing arah pendidikan. Purnomo dan Mansur . menyatakan bahwa tanpa kerangka aksiologis, pendidikan akan kehilangan orientasi moral dan hanya menjadi alat produksi demi kebutuhan pasar. Ketika nilai-nilai transendental tidak dijadikan pijakan, proses pendidikan kehilangan makna kemanusiaannya dan cenderung berjalan secara teknokratik dan prosedural Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern Pentingnya dimensi aksiologis juga ditegaskan oleh Luthfiyah dan Khobir . dalam konteks pendidikan Islam, yang menempatkan tujuan utama pendidikan pada pembentukan pribadi muslim yang berakhlak mulia. Mereka menjelaskan bahwa pendidikan harus mengintegrasikan tiga ranah nilai utama, yakni nilai etika . oral conduc. , nilai estetika . sthetic expressio. , dan nilai sosial-politik . ocio-political lif. Ketika pendidikan gagal menjalankan ketiga fungsi ini secara seimbang, maka lahirlah peserta didik yang mungkin unggul secara akademik tetapi lemah secara moral, sosial, dan spiritual. Inilah akar dari berbagai gejala krisis nilai seperti pragmatisme akademik, etika yang melemah, serta tujuan pendidikan yang bias ekonomi. Krisis nilai dalam pendidikan dewasa ini merupakan cerminan dari pengabaian terhadap aksiologi ilmu. Fitri et al. dalam temuannya menunjukkan bahwa absennya nilai dalam proses pembelajaran telah menyebabkan degradasi etika akademik, integritas kelembagaan, dan kepekaan sosial. Pendidikan saat ini terlalu fokus pada pencapaian akademik dan prestasi kuantitatif, tanpa mempertimbangkan pembentukan karakter secara mendalam. Hal ini sejalan dengan Rahmadani et al. yang menyatakan bahwa pendidikan karakter sejatinya harus dibangun di atas nilai-nilai moral, spiritualitas, dan etika sosial, bukan sekadar menjadi retorika dalam dokumen kurikulum. Secara aksiologis, pertanyaan mendasar dalam pendidikan bukan hanya tentang Aubagaimana cara mengajarkan?Ay, melainkan Auuntuk siapa dan untuk apa pendidikan dilakukan?Ay. Pendidikan yang hanya bertujuan mencetak lulusan berprestasi akan kehilangan arah bila tidak disertai dengan tujuan membentuk manusia yang bermartabat. Krisis identitas pendidikan saat ini banyak disebabkan oleh disorientasi nilai: institusi pendidikan lebih menekankan pada efisiensi, akreditasi, dan ranking, daripada keadilan, empati, dan tanggung jawab sosial. Ini menyebabkan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan tersisih dari ruang kelas. Dampak dari absennya nilai dalam pendidikan tampak jelas dalam praktik tidak etis yang semakin marak: mulai dari plagiarisme, jual beli ijazah, hingga manipulasi nilai. Pendidikan yang ideal seharusnya bersifat transformatif mampu membentuk karakter dan kesadaran moral peserta didik bukan sekadar transaksional yang hanya mengedepankan hasil akhir. Nilai-nilai sosial dan spiritual yang seharusnya menjadi fondasi pembelajaran semakin tersingkir oleh tuntutan efisiensi dan kompetisi global. Akibatnya, sistem pendidikan hanya melahirkan kecerdasan teknis yang kering dari kebijaksanaan etis. Untuk itu, dimensi aksiologis perlu dihidupkan kembali dalam seluruh elemen sistem Kurikulum, metode pengajaran, dan sistem evaluasi perlu dirancang secara sadar dan konsisten berdasarkan prinsip-prinsip etika, kemanusiaan, dan keadaban. Pendidikan harus menjadi ruang pembentukan karakter dan peradaban, bukan sekadar tempat produksi lulusan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai aksiologis secara eksplisit dan sistematis ke dalam setiap lini kebijakan dan praktik pendidikan, maka tujuan hakiki dari pendidikan sebagai pembentuk manusia bermoral dan berintegritas akan dapat KESIMPULAN Kajian ini menunjukkan bahwa krisis nilai dalam pendidikan modern tidak bisa diatasi hanya dengan reformasi struktural atau administratif, tetapi menuntut pergeseran paradigma yang lebih mendalam melalui pendekatan filsafat ilmu. Dimensi ontologis mengungkap bahwa pendidikan kehilangan orientasinya sebagai wahana pemanusiaan dan telah tergeser menjadi sekadar sarana pencapaian administratif. Dimensi epistemologis Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Dimensi Ontologis. Epistemologis. Dan Aksiologis Ilmu Dalam Merespons Krisis Nilai Pada Dunia Pendidikan Modern mengkritisi proses belajar yang cenderung teknis dan terputus dari refleksi makna, serta menekankan pentingnya pendekatan transdisipliner dan kontekstual. Sedangkan dimensi aksiologis memperlihatkan bahwa pengabaian terhadap nilai, etika, dan spiritualitas dalam sistem pendidikan telah menyebabkan keretakan karakter peserta didik dan disorientasi moral dalam lembaga pendidikan. Pendidikan masa kini terlalu menekankan capaian kuantitatif, ranking, dan akreditasi, sementara dimensi afektif dan spiritual peserta didik terabaikan. Padahal, pendidikan yang sejati harus mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan memiliki kesadaran eksistensial. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi pendidikan berbasis pada nilai-nilai fundamental ilmu pengetahuan. Integrasi antara filsafat ilmu dan praktik pendidikan perlu dirancang secara sistematis melalui kurikulum, metode pembelajaran, evaluasi, dan gaya kepemimpinan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Dengan menghidupkan kembali dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam pendidikan, maka kita dapat membangun sistem pendidikan yang bukan hanya kompetitif, tetapi juga etis, adil, dan bermakna secara spiritual dan sosial. REFERENSI