PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Mei - Juli e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Transformasi Green Mindset sebagai Strategi Pengembangan SDM untuk Mendukung Keberlanjutan Bisnis Berbasis Triple Bottom Line: Studi Kasus pada iWood Fariz Rizza Falevi1*. Mochammad Eric Suryakencana Wibowo2. Almira Santi Samasta3. Adilla Kustya Ulfa4 e-mail Correspondence : 211202207949@mhs. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Dian Nuswantoro. Indonesia1*,2,3,4 Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi Green Mindset sebagai strategi pengembangan sumber daya manusia pada iWood dalam mendukung keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model InputAeProcessAeOutput (IPO) pada 7 pengrajin iWood di Jepara. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Green Mindset dilakukan melalui pemilahan limbah kayu, pelatihan dan pendampingan kerja, efisiensi bahan baku, dan kebiasaan berkelanjutan. Penelitian juga menemukan adanya Idiosinkrasi Peran dalam pemanfaatan limbah kayu. Implementasi Green Mindset berkontribusi terhadap pencapaian aspek Triple Bottom Line, yaitu meningkatkan kesadaran, keterampilan, dan partisipasi pengrajin dalam praktik kerja berkelanjutan . , mengurangi limbah kayu melalui pemilahan dan pemanfaatan kembali bahan sisa produksi . , serta menciptakan nilai ekonomi melalui pengembangan produk berbahan limbah kayu . Implikasi penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan kerja berbasis keberlanjutan mampu membentuk budaya kerja hijau yang mendukung keberlanjutan Kata kunci: Green Mindset. Kesadaran Lingkungan. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Keberlanjutan Bisnis. Triple Bottom Line Abstract This study aims to analyze the transformation of the Green Mindset as a human resource development strategy at iWood in supporting business sustainability based on the Triple Bottom Line This research employed a descriptive qualitative approach using the InputAeProcessAe Output (IPO) model, involving seven iWood craftsmen in Jepara. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the implementation of the Green Mindset is carried out through wood waste sorting, training and work assistance, raw material efficiency, and the development of sustainable work habits. The study also identifies the existence of role idiosyncrasy in the utilization of wood waste. The implementation of the Green Mindset contributes to the achievement of the Triple Bottom Line dimensions by increasing craftsmenAos awareness, skills, and participation in sustainable work practices . , reducing wood waste through sorting and reusing production leftovers . , and creating economic value through the development of products made from wood waste . The implications of this study indicate that sustainability-based work habituation can shape a green work culture that supports business Keyword: Green Mindset. Environmental Awareness. Human Resource Development. Business Sustainability. Triple Bottom Line This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 292 Pendahuluan Isu keberlanjutan menjadi perhatian utama di berbagai sektor industri global akibat tingginya penggunaan sumber daya alam secara tidak berkelanjutan yang mencapai sekitar 60% dan berdampak pada peningkatan limbah serta emisi karbon yang signifikan (UNEP, 2. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah Green Human Resource Management (GHRM) yang berperan dalam meningkatkan kinerja keberlanjutan melalui penguatan perilaku hijau dan komitmen karyawan terhadap tujuan lingkungan (Le & Tham, 2. Selain itu, pelatihan dan pengembangan SDM dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mempertahankan karyawan dalam organisasi (Wibowo et al. , 2. Sejalan dengan hal tersebut. Sustainable HRM menempatkan lingkungan kerja dan sumber daya manusia sebagai pusat transformasi keberlanjutan guna meningkatkan ketahanan organisasi (Mushtaq & Akhtar, 2. , sementara lingkungan kerja yang kondusif mampu meningkatkan loyalitas dan perilaku kerja positif karyawan (Ulfa et al. , 2. Pendekatan tersebut selaras dengan konsep Triple Bottom Line yang diperkenalkan oleh Elkington . , yang menekankan keseimbangan antara profit, people, dan planet. Konsep ini telah diterapkan oleh berbagai perusahaan global seperti Patagonia dan Unilever sebagai strategi bisnis utama. Pendekatan Triple Bottom Line juga terbukti mampu meningkatkan kepercayaan dan loyalitas karyawan karena perusahaan dipandang memiliki nilai keberlanjutan yang kuat (Hygevold et al. , 2. Namun, keberhasilan praktik keberlanjutan tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan organisasi, melainkan juga pola pikir individu dalam organisasi. Menurut Faezah et al. , implementasi praktik hijau sangat dipengaruhi oleh kesadaran ekologis dan perilaku karyawan, sehingga Green Mindset menjadi fondasi penting dalam membangun budaya kerja berkelanjutan dan inovasi ramah lingkungan (Chen & Chang, 2. Fenomena tersebut tercermin secara nyata pada iWood sebagai usaha berbasis kayu daur ulang di Kabupaten Jepara. Berdasarkan observasi awal, iWood mengolah limbah kayu jati berupa potongan sisa . , kayu gelondong . , serpihan . , dan serbuk gergaji . dari industri mebel lokal, namun sekitar 30Ae40% material belum termanfaatkan dan dibiarkan menumpuk di area workshop. Pengelolaan limbah masih bergantung pada satu pemasok utama sehingga ketersediaan bahan baku tidak stabil. Kondisi awal menunjukkan bahwa pemilahan limbah dilakukan secara situasional dan bergantung pada inisiatif masing-masing pengrajin tanpa prosedur yang baku, mengindikasikan kesadaran lingkungan yang belum terinternalisasi sebagai budaya kerja. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan mendesak akan transformasi SDM berbasis Green Mindset agar pengelolaan limbah kayu dapat berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, pengembangan SDM berbasis Green Mindset memiliki peran strategis dalam membangun budaya kerja yang berorientasi pada keberlanjutan. Transformasi menuju keberlanjutan memerlukan strategi pengembangan SDM yang terarah, kepemimpinan yang inspiratif, serta budaya organisasi yang mendukung perubahan agar nilai keberlanjutan tidak hanya menjadi konsep, tetapi terimplementasi dalam perilaku kerja sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada strategi transformasi Green Mindset dalam pengembangan sumber daya manusia pada iWood guna mewujudkan praktik bisnis berkelanjutan yang selaras dengan prinsip Triple Bottom Line serta memperkuat keseimbangan aspek ekonomi . , sosial . , dan lingkungan . Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 293 Deskripsi Usaha iWood merupakan usaha kerajinan kayu yang berfokus pada pemanfaatan limbah kayu jati sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya. Limbah kayu berasal dari sisa industri mebel dan pengrajin lokal yang sebelumnya kurang dimanfaatkan, kemudian diolah menjadi produk bernilai guna dan estetika seperti tumbler, cangkir, gantungan kunci, serta peralatan dapur. Melalui pendekatan produksi berkelanjutan, iWood tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana guna mengurangi limbah industri kayu dan meminimalkan penebangan pohon baru. Gambar 1 Logo iWood Melalui pendekatan produksi berkelanjutan, iWood tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana guna mengurangi limbah industri kayu dan meminimalkan penebangan pohon baru. Pendekatan ini menjadikan iWood sebagai representasi nyata usaha kreatif berbasis keberlanjutan yang relevan untuk dikaji dalam konteks transformasi Green Mindset dan pengembangan SDM menuju keberlanjutan bisnis yang selaras dengan aspek Triple Bottom Line. Kajian Teori Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi komponen penting dalam menciptakan bisnis berkelanjutan karena tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pembentukan nilai dan perilaku peduli lingkungan. Peningkatan kompetensi Peng dapat dilakukan melalui pembelajaran, pengalaman, dan pengembangan pola pikir inovatif (Samasta et al. , 2. Dalam konteks keberlanjutan. Sustainable Human Resource Management (SHRM) dipahami sebagai praktik SDM yang dirancang untuk mencapai tujuan finansial, sosial, dan ekologis secara bersamaan sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat (Kumar et , 2. Dengan demikian, pengembangan SDM yang efektif tidak hanya meningkatkan keterampilan kerja, tetapi juga menanamkan nilai keberlanjutan dalam aktivitas organisasi. Green Mindset menggambarkan kesadaran, sikap, dan perilaku individu yang mempertimbangkan dampak lingkungan dalam setiap pengambilan keputusan. Organisasi dengan SDM yang memiliki Green Mindset cenderung lebih mudah menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Pembentukan Green Mindset dipengaruhi oleh budaya belajar organisasi yang memungkinkan nilai-nilai hijau terserap secara alami oleh karyawan melalui mekanisme Green Organizational Learning, yakni transfer pengetahuan hijau yang mendorong perilaku prolingkungan (Usman et al. , 2. Selain itu, pertumbuhan pribadi dan pengembangan potensi individu turut mendorong terbentuknya perilaku kerja yang mendukung keberlanjutan lingkungan (Wibowo & Djastuti, 2. Konsep keberlanjutan dalam penelitian ini mengacu pada Triple Bottom Line yang menekankan keseimbangan antara profit, people, dan planet Elkington . Pendekatan ini menilai keberhasilan organisasi tidak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga kontribusi sosial dan dampak lingkungan. Zafar & Khan . menyatakan bahwa praktik Green HRM mendukung pencapaian Triple Bottom Line melalui peningkatan efisiensi operasional dan tanggung jawab ekologis. Dalam konteks iWood, konsep tersebut tercermin pada pengelolaan limbah kayu menjadi produk bernilai tambah yang mampu menciptakan keuntungan ekonomi, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 294 Kerangka Konseptual Kerangka konseptual penelitian ini menggunakan pendekatan InputAeProcessAeOutput (IPO) untuk menjelaskan transformasi Green Mindset dalam pengembangan SDM iWood menuju keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line. Setiap tahap kerangka ini dikaitkan langsung dengan kondisi lapangan, indikator penelitian, dan temuan yang diperoleh melalui observasi serta wawancara semi-terstruktur. Pada tahap Input, terdapat dua elemen utama yaitu SDM lokal berupa 7 pengrajin iWood dan limbah kayu jati sebagai bahan baku utama. Data pada tahap ini diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi internal. Pada tahap Process, transformasi Green Mindset dilakukan melalui pendampingan dan pembiasaan kerja secara langsung, meliputi pemilahan limbah kayu, efisiensi bahan baku, penerapan kerapian area kerja, dan pengembangan produk berbahan limbah. Perubahan pada tahap ini diamati melalui observasi dan wawancara menggunakan 5 indikator yang menunjukkan pergeseran bertahap pada pola kerja dan cara pandang pengrajin terhadap pengelolaan limbah. Pada tahap Output, hasil transformasi Green Mindset tercermin pada tiga dimensi Triple Bottom Line: peningkatan kesadaran dan keterlibatan pengrajin dalam produksi berkelanjutan (Peopl. , berkurangnya limbah kayu yang terbuang melalui pemilahan dan pemanfaatan ulang (Plane. , serta munculnya peluang produk baru berbahan limbah kayu yang meningkatkan nilai ekonomi usaha (Profi. Gambar 2 Kerangka Konseptual Setiap tahap kerangka IPO dikuatkan oleh temuan lapangan, di mana data observasi dan wawancara membuktikan perubahan nyata dari kondisi awal pengrajin . , melalui pembiasaan Green Mindset . , hingga tercapainya keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line . Indikator Penelitian Penelitian ini menggunakan beberapa indikator untuk memahami persepsi dan perilaku pengrajin terhadap pemanfaatan limbah kayu, meliputi definisi limbah kayu, sikap bekerja, kebiasaan kerja, persepsi lingkungan, dan tanggung jawab pengelolaan limbah. Indikator environmental awareness digunakan untuk memahami cara pengrajin memaknai limbah kayu dalam aktivitas produksi (Saraswati et al. , 2. Environmental attitude digunakan untuk mengetahui sikap dan perlakuan pengrajin terhadap limbah kayu dalam proses kerja (Supartha & Sukaatmadja, 2. Sementara itu, konsep pro-environmental behavior digunakan untuk memahami kebiasaan kerja pengrajin dalam memilah dan memanfaatkan limbah kayu secara efisien (Frosini et al. , 2. Selain itu, indikator environmental concern digunakan untuk mengetahui persepsi pengrajin terhadap keberadaan limbah kayu di lingkungan sekitar (Lampah R. D, 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 295 sedangkan indikator tanggung jawab lingkungan digunakan untuk menggali pandangan mengenai pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah kayu secara berkelanjutan (Residents et al. , 2. Melalui indikator tersebut, penelitian ini berupaya memperoleh gambaran menyeluruh mengenai transformasi Green Mindset dalam praktik kerja pengrajin iWood. Penelitian Terdahulu Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan Green Mindset dan Green Human Resource Management (GHRM) berperan penting dalam mendorong keberlanjutan organisasi. Penelitian Ulfah et al. menunjukkan bahwa pola pikir keberlanjutan menjadi kunci transformasi bisnis UMKM. Selanjutnya. Sanjaya dan Edastama . menemukan bahwa keberhasilan GHRM dipengaruhi motivasi hijau dan identitas Penelitian Alfadel et al. dan Arifin et al. juga menegaskan bahwa keterlibatan kerja hijau dan inovasi karyawan memperkuat hubungan GHRM dengan keberlanjutan bisnis. Selain itu, penelitian terkait daur ulang limbah menunjukkan bahwa pengelolaan limbah mampu mengurangi sampah sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan (Ramadan. , 2. Penelitian lain menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan, sikap, dan perilaku prolingkungan dalam mendukung keberlanjutan. Kesadaran lingkungan berpengaruh terhadap perilaku berkelanjutan (Saraswati et al. , 2. , sementara sikap lingkungan menjadi faktor penting dalam mendorong perilaku ramah lingkungan (Supartha & Sukaatmadja, 2. Selain itu, perilaku kerja hijau dipengaruhi oleh sikap, norma, dan kontrol perilaku dalam aktivitas sehari-hari (Frosini et al. , 2. Penelitian mengenai pengelolaan limbah kayu juga menunjukkan bahwa kreativitas, fasilitas, dan pelatihan diperlukan agar limbah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai jual (Lampah R. , sedangkan tanggung jawab lingkungan menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku konsumsi hijau masyarakat (Residents et al. , 2. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendampingan berbasis praktik kerja . ork-based mentorin. dan model InputAeProcessAeOutput (IPO) untuk menganalisis penerapan Green Mindset dalam pengembangan SDM iWood menuju keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line. Pendampingan dilaksanakan selama tiga minggu, yakni 20 Maret hingga 10 April 2026, di iWood Office. Desa Karanggondang. Jepara, dengan melibatkan 7 pengrajin yang terlibat langsung dalam proses produksi. Tabel 1 Profil Informan Wawancara Kode Nama Usia Peran Kusriyanto 55 Tahun Supplier Limbah Kayu Jati (UD. Aneka Putr. Nur Solik 53 Tahun Pengrajin Bubut Fathurrahman 37 Tahun Pengrajin Gergaji Bobok Sumono 48 Tahun Pengrajin Tumbler Kayu Roqib 52 Tahun Pengrajin Sendok dan Garpu Kayu Al - Amin 43 Tahun Pengrajin Bubut Alif Mufasir 36 Tahun Jasa CNC dan Router Sumber: Data diolah peneliti . Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 296 Selama pendampingan, peneliti turun langsung memberikan arahan mengenai pemilahan limbah kayu, efisiensi bahan baku, dan kebiasaan kerja berkelanjutan, serta mengamati perubahan pola kerja dan cara pandang pengrajin secara bertahap. Data penelitian dikumpulkan melalui tiga teknik. Pertama, wawancara semi-terstruktur dilakukan sebanyak satu sesi per informan dengan durasi kurang lebih 5 menit, mencakup lima pertanyaan utama seputar definisi limbah kayu, sikap bekerja, kebiasaan kerja, persepsi lingkungan, dan tanggung jawab pengelolaan limbah. Kedua, observasi partisipatif dilakukan langsung di workspace masing-masing pengrajin selama proses produksi berlangsung untuk mengamati perubahan pola kerja secara nyata. Ketiga, dokumentasi dilakukan melalui pengumpulan foto, rekaman video, dan catatan lapangan sebagai bukti empiris perubahan yang terjadi selama pendampingan. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk memahami perubahan perilaku, pola kerja, dan implementasi Green Mindset pada pengrajin iWood. Validasi data dilakukan menggunakan Triangulasi Sumber, yaitu dengan membandingkan dan menggabungkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi secara bersamaan. Indikator keberhasilan penelitian ditunjukkan melalui meningkatnya kesadaran lingkungan pengrajin, berkurangnya limbah kayu, dan penguatan identitas iWood sebagai bisnis berkelanjutan. Hasil Penelitian Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap 7 pengrajin iWood, ditemukan bahwa limbah kayu pada umumnya dipandang sebagai sisa produksi yang masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi. Mayoritas partisipan menilai bahwa limbah kayu masih layak digunakan apabila kondisi material masih baik dan sesuai kebutuhan produksi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh (P. AuJadinya jadiin tutup gelas atau apa kan kayunya sama. Nahh sisanya gak kepakai difungsikan yang ukuran kecil lah intinya kayak gituAy. Temuan ini menunjukkan adanya kesadaran awal pengrajin terhadap potensi pemanfaatan limbah kayu dalam aktivitas kerja sehari-hari. Temuan ini sejalan dengan penelitian Gherhe et al. yang menyatakan bahwa persepsi individu terhadap limbah berperan dalam menentukan bagaimana limbah tersebut dikelola. Dalam praktik kerja, pengrajin cenderung melakukan proses pemilahan limbah kayu sebelum digunakan kembali. Pemilahan dilakukan berdasarkan ukuran, bentuk, dan kualitas material agar sesuai dengan kebutuhan produk yang akan dibuat. Sebagian pengrajin memperlakukan limbah kayu sama seperti bahan utama, sedangkan sebagian lainnya memberikan perlakuan khusus karena kondisi limbah yang lebih terbatas dan rentan rusak. Sebagaimana diungkapkan oleh (P. AuYa ada khusus sih soalnya gini kalau limbah, kalau mengolah yang limbah itu banyak yang rusakAy. Temuan ini sejalan dengan penelitian Costa et al. yang menyatakan bahwa perilaku pengelolaan limbah dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap karakteristik material yang digunakan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 297 Gambar 3 Data Triangulasi Untuk meningkatkan validitas temuan, data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dianalisis melalui proses triangulasi serta tahapan coding yang meliputi penyusunan kode awal, kategori, dan tema. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi pengrajin terhadap nilai limbah kayu, cara pemilahan material, dan tanggung jawab dalam pengelolaan limbah membentuk tema utama Idiosinkrasi Peran. Dalam penelitian ini. Idiosinkrasi Peran merujuk pada variasi cara pengrajin memahami, menilai, dan memanfaatkan limbah kayu berdasarkan pengalaman kerja dan pertimbangan praktis masing-masing. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah kayu di iWood tidak dilakukan secara seragam, tetapi dipengaruhi oleh pendekatan kerja yang berbeda pada setiap pengrajin. Temuan tersebut didukung oleh hasil wawancara partisipan. Salah satu pengrajin menyatakan bahwa Aulimbah kayu itu sebenarnya banyak yang masih bisa dipakai lagi, masih ada nilai gunanyaAy (P. Sementara itu, pengrajin lain menjelaskan. Ausaya pilih yang masih bisa untuk pola sendok garpuAy (P. Kedua pernyataan tersebut menunjukkan adanya perbedaan cara pandang dan praktik dalam memanfaatkan limbah kayu, yang kemudian membentuk tema Idiosinkrasi Peran sebagai temuan empiris penelitian ini. Gambar 4 Pemilahan dan Penataan Limbah Kayu Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 298 Selama proses implementasi Green Mindset berlangsung, terdapat beberapa perubahan yang mulai terlihat pada pola kerja dan cara pandang pengrajin di iWood. Melalui proses pendampingan dan pembiasaan selama penelitian berlangsung. Green Mindset membantu meningkatkan kesadaran pengrajin terhadap pentingnya efisiensi bahan baku dan pengelolaan limbah produksi secara lebih terarah. Tabel 2 Hasil Temuan Penelitian Kategori Temuan Indikator Temuan Bukti Lapangan Implikasi Triple Bottom Line Pemanfaatan Limbah Kayu Limbah dipilah dan kembali sesuai ukuran dan potensi. Pengrajin memilah limbah kayu sebelum digunakan kembali dalam proses Planet: mengurangi limbah kayu yang Efisiensi Bahan Baku Penggunaan bahan baku lebih terukur dan minim salah Pengrajin lebih teliti dalam proses pemotongan dan pemanfaatan material. Planet: mengurangi pemborosan bahan Profit: meningkatkan efisiensi produksi Area Kerja Area kerja lebih terorganisir dan limbah lebih mudah Limbah kayu dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukuran untuk memudahkan proses produksi Muncul gagasan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai jual Pengrajin mulai mengembangkan ide produk kecil berbahan limbah kayu Kreativitas Produk Kebiasaan Berkelanjutan Kesadaran pengelolaan limbah diterapkan secara lebih Pengrajin mulai membiasakan pemilahan dan pemanfaatan limbah dalam aktivitas kerja sehari-hari. People: menciptakan lingkungan kerja yang lebih tertata. Planet: mendukung pengelolaan limbah. Profit: membuka peluang nilai tambah dan sumber pendapatan baru People: meningkatkan kesadaran dan partisipasi pengrajin. Planet: mendukung praktik produksi Sumber: Data diolah peneliti . Pembahasan Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi Green Mindset memiliki keterkaitan dengan prinsip Triple Bottom Line melalui aspek People. Planet, dan Profit. Pada aspek People, perubahan terlihat dari meningkatnya kesadaran, keterampilan, dan partisipasi pengrajin dalam pengelolaan limbah kayu. Pengrajin tidak lagi memandang limbah sebagai sisa produksi yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali dalam proses produksi. Selain itu, pengrajin mulai menerapkan kebiasaan kerja yang lebih teratur melalui pemilahan material dan penggunaan bahan baku secara lebih efisien. Pada aspek Planet, implementasi Green Mindset mendorong perubahan dalam proses pengelolaan limbah kayu. Limbah yang sebelumnya cenderung menumpuk di area kerja mulai dipilah berdasarkan ukuran, kualitas, dan potensi penggunaannya. Praktik tersebut membantu mengurangi limbah yang terbuang sekaligus mendukung penggunaan kembali bahan sisa produksi. Penataan area kerja yang lebih terorganisir juga menunjukkan adanya perubahan perilaku yang mendukung praktik produksi berkelanjutan. Sementara itu, pada aspek Profit, pemanfaatan limbah kayu menunjukkan potensi penciptaan nilai ekonomi melalui pengembangan produk berbahan limbah. Beberapa pengrajin mulai mengemukakan ide pemanfaatan potongan kayu berukuran kecil untuk produk sederhana yang memiliki nilai jual. Meskipun masih berada pada tahap pengembangan gagasan dan belum menghasilkan tambahan pendapatan secara langsung, temuan ini menunjukkan adanya peluang diversifikasi produk yang dapat Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 299 mendukung keberlanjutan ekonomi usaha di masa mendatang. Temuan ini sejalan dengan konsep circular economy yang menempatkan limbah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem produksi (Kirchherr et al. , 2. , serta penelitian Begum et al. terkait tanggung jawab pelaku usaha dalam praktik keberlanjutan. Simpulan dan Saran Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi Green Mindset sebagai strategi pengembangan SDM pada iWood dilakukan melalui pendampingan, pembiasaan kerja, pemilahan limbah kayu, dan efisiensi bahan baku. Proses tersebut mendorong perubahan cara pandang dan perilaku pengrajin terhadap pengelolaan limbah serta membentuk praktik kerja yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini juga menemukan tema Idiosinkrasi Peran yang menunjukkan adanya variasi cara pengrajin memahami dan memanfaatkan limbah kayu sesuai pengalaman dan pendekatan kerja masing-masing, sehingga pengembangan SDM perlu mempertimbangkan karakteristik individu agar perubahan perilaku lebih efektif. Kontribusi Green Mindset terhadap Triple Bottom Line terlihat pada meningkatnya kesadaran dan partisipasi pengrajin . , pemanfaatan kembali limbah kayu dan pengurangan limbah produksi . , serta munculnya peluang pengembangan produk berbahan limbah kayu yang berpotensi menciptakan nilai ekonomi . Dengan demikian. Green Mindset berperan dalam mendukung keberlanjutan bisnis pada iWood. Penelitian ini terbatas pada satu usaha kerajinan kayu dengan waktu penelitian yang relatif singkat sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan secara luas. Potensi subjektivitas akibat posisi peneliti sebagai pemilik iWood diminimalkan melalui triangulasi sumber, konfirmasi temuan kepada partisipan, dan dokumentasi lapangan. iWood disarankan untuk menerapkan Green Mindset secara konsisten melalui pengelolaan limbah yang lebih terstruktur. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan cakupan yang lebih luas, pendekatan kuantitatif atau mixed method, serta menambahkan variabel seperti green innovation, perilaku kerja hijau, dan strategi pemasaran berkelanjutan untuk memperkaya kajian keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line. Dengan demikian, penerapan Green Mindset diharapkan mampu berkembang menjadi budaya kerja berkelanjutan yang mendukung keseimbangan aspek People. Planet, dan Profit sebagaimana konsep Triple Bottom Line (Resty et al. , 2. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh stakeholder iWood di Jepara yang telah bersedia menjadi partisipan penelitian, memberikan akses informasi, serta mendukung proses observasi, wawancara, dan pengumpulan data di lapangan. Apresiasi turut disampaikan kepada para reviewer dan seluruh pihak yang telah memberikan masukan, saran, serta motivasi sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukungan dan kerja sama yang diberikan sangat membantu penulis dalam memahami implementasi Green Mindset dalam pengembangan sumber daya manusia menuju keberlanjutan bisnis berbasis Triple Bottom Line. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang manajemen sumber daya manusia dan keberlanjutan bisnis. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 300 Daftar Pustaka