JPAP 10 . ISSN (Ceta. : 2548-6233. ISSN (Onlin. : 2548-6241 Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan https://jurnalpasca. id/index. php/jpap/index Upaya Penguatan Perilaku Positif dalam Melatih Kemandirian Siswa Berkebutuhan Khusus Terutama pada Siswa Autisme di SLB Manunggal Slawi Nabila Puti Andini1. Nadiatul Millah1. Ulil Albab1*. Ali Nurhasan1. Efvelin BS1 Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Tegal. Indonesia. DOI: 10. 29303/jpap. Sitasi: Andini. Millah. Albab. Nurhasan. , & BS. Upaya Penguatan Perilaku Positif dalam Melatih Kemandirian Siswa Berkebutuhan Khusus Terutama pada Siswa Autisme di SLB Manunggal Slawi. (JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan, 10. , 194Ae197. https://doi. org/10. 29303/jpap. *Corresponding Author: Ulil Albab. Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Institut Agama Islam Bakti Negara Tegal. Tegal. Indonesia. masphaul231025@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggambarkan berbagai upaya penguatan perilaku positif yang digunakan untuk melatih kemandirian siswa berkebutuhan khusus, terutama anak dengan autisme di Sekolah Luar Biasa (SLB) Manunggal Slawi. Anak autisme kerap menghadapi hambatan dalam mengelola emosi, memahami aturan sosial, dan menyelesaikan aktivitas secara mandiri, sehingga dibutuhkan strategi reinforcement yang tepat guna membantu perkembangan kemandirian mereka dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan penguatan positif berupa pujian, token reward, serta pendekatan individual mampu meningkatkan perilaku adaptif dan mendukung tumbuhnya kemandirian siswa. Guru memiliki peran sentral dalam memberikan stimulus, menjaga konsistensi, serta memberikan dukungan emosional selama proses pembelajaran berlangsung. Kata Kunci: Ecopedagogy. Project Based L Perilaku Positif. Kemandirian. Siswa Autisme. SLB. Pendahuluan Anak berkebutuhan khusus, khususnya yang berada pada spektrum autisme, menunjukkan pola perkembangan sosial, komunikasi, dan perilaku yang berbeda dari anak pada umumnya. Perbedaan ini berdampak pada kemampuan mereka dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan, sehingga memunculkan hambatan dalam membangun kemandirian baik dalam kegiatan sekolah maupun aktivitas harian (Odom. Horner, & Snell, 2. Kemandirian menjadi komponen penting dalam pendidikan anak autisme karena berhubungan langsung dengan keberhasilan intervensi dan kesiapan mereka menghadapi kehidupan sosial. Observasi awal di Sekolah Luar Biasa (SLB) Manunggal Slawi menunjukkan masih adanya siswa autisme yang bergantung pada guru untuk menyelesaikan aktivitas sederhana seperti makan, berpakaian, dan menyiapkan alat belajar. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan strategi yang mendorong perilaku positif serta meningkatkan kemandirian sesuai dengan kebutuhan masing-masing Dalam teori penguatan yang dikembangkan B. Skinner, perilaku seseorang dapat ditingkatkan melalui konsekuensi positif yang diberikan ketika perilaku yang diharapkan muncul. Penguatan positif, termasuk pujian meningkatkan frekuensi perilaku adaptif (Fernandez & Brown, 2. Prinsip ini sangat relevan diterapkan pada pembelajaran yang konsisten dan terstruktur. Penelitian efektivitas penguatan positif dalam meningkatkan perilaku adaptif dan kemandirian siswa autisme. Du. Li, dan Chen . menemukan bahwa intervensi sekolah dengan kombinasi teknik penguatan dan pelatihan keterampilan mandiri berpengaruh signifikan terhadap kemampuan anak dalam melakukan aktivitas seharihari. Selain itu, sistem token economy juga terbukti mendorong siswa membentuk kebiasaan perilaku yang adaptif (Mancil & Haydon, 2. A 2026 Published by Posgraduate University of Mataram. This open access article is distributed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional. Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Perspektif Bimbingan dan Konseling Islam juga mendukung penguatan perilaku positif karena sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kemandirian, tanggung jawab, dan usaha. Integrasi nilai-nilai ini dapat memperkuat proses pembelajaran dan pembentukan karakter siswa berkebutuhan khusus. Dengan mempertimbangkan berbagai temuan tersebut, jelas bahwa penguatan perilaku positif merupakan pendekatan penting dalam meningkatkan kemandirian siswa autisme di SLB. Namun penelitian yang secara khusus mengkaji praktik ini di sekolah luar biasa wilayah Slawi masih terbatas. Karena itu, penelitian ini berupaya menguraikan bagaimana strategi penguatan tersebut diterapkan di SLB Manunggal Slawi serta dampaknya terhadap kemandirian siswa autisme. Adapun tujuan penelitian ini adalah: Mengidentifikasi dan mendeskripsikan praktik penguatan perilaku positif yang diterapkan guru di SLB Manunggal Slawi dalam membimbing siswa autisme menjadi lebih mandiri. Mengevaluasi efektivitas strategi penguatan tersebut terhadap perkembangan kemandirian dan perilaku adaptif siswa. Merumuskan rekomendasi implementatif bagi pendidik dan pihak sekolah agar strategi penguatan perilaku positif dapat diterapkan secara lebih optimal sesuai nilai psikologi pendidikan dan prinsip konseling Islam. Metode Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara menyeluruh strategi penguatan perilaku positif serta kontribusinya terhadap kemandirian siswa autisme di SLB Manunggal Slawi. Menurut Creswell . , penelitian kualitatif deskriptif bertujuan memahami makna pengalaman individu dalam konteks yang natural, sehingga cocok digunakan untuk mengkaji dinamika pembelajaran di sekolah luar biasa. Partisipan penelitian mencakup guru kelas, guru pendamping khusus, dan siswa autisme. Pemilihan partisipan menggunakan teknik purposive sampling, yakni memilih individu yang dianggap mampu memberikan data relevan sesuai kebutuhan penelitian (Sugiyono, 2. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan teknik dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat aplikasi penguatan positif dalam kegiatan belajar, wawancara dipakai mengembangkan pemahaman mengenai strategi dan melengkapi temuan melalui foto kegiatan dan catatan Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 194-197 perkembangan siswa. Validitas diperkuat melalui triangulasi sumber serta metode (Miles et al. , 2. Analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi memfokuskan data pada aspek-aspek penting, penyajian membantu mempermudah penafsiran, sedangkan kesimpulan merupakan interpretasi akhir mengenai hubungan penguatan perilaku positif dengan kemandirian siswa. Dalam pelaksanaannya, penelitian mematuhi etika penelitian dengan menjaga kerahasiaan identitas partisipan, memperoleh izin dari pihak sekolah, dan meminta persetujuan dari orang tua sebelum melakukan pengumpulan data (Creswell & Poth, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil Pada proses penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terutama peserta didik dengan autismeAipenguatan kemandirian merupakan salah satu fokus utama yang harus ditanamkan melalui berbagai pendekatan pembelajaran. Kemandirian bagi anak autisme memiliki cakupan yang luas, tidak sebatas kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, tetapi juga meliputi kemampuan mengikuti rutinitas, mengelola perilaku, memahami instruksi, dan beradaptasi dengan lingkungan belajar. Berdasarkan wawancara mendalam dengan Bu Aeni Lutfiyah. Pd selaku guru kelas C1 di SLB Manunggal Slawi, diperoleh pemahaman pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan perilaku mandiri, strategi apa saja yang digunakan, indikator kemandirian yang diamati, serta berbagai hambatan Strategi yang Digunakan untuk Mengembangkan Kemandirian Anak Autis di Sekolah Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Aeni Lutfiyah. Pd selaku guru kelas C1 di SLB Manunggal Slawi, diperoleh pemahaman bahwa pengembangan kemandirian anak autisme dilakukan melalui pendekatan yang terstruktur dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Guru memulai penerapan kemandirian dengan membangun rutinitas harian yang konsisten, seperti pembiasaan masuk kelas tepat waktu, membaca doa, mengikuti rangkaian pembelajaran, hingga menutup aktivitas dengan merapikan ruang kelas. Rutinitas ini bertujuan memberikan rasa aman dan membantu siswa memahami urutan kegiatan. Selain itu, guru memecah suatu aktivitas menjadi langkah-langkah kecil melalui metode task analysis agar siswa lebih mudah mengikuti Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Dukungan visual berupa gambar, simbol, atau stiker juga digunakan untuk memperjelas perintah yang diberikan, mengingat banyak anak autis lebih responsif terhadap informasi visual daripada verbal. Guru selalu memberikan penguatan positif seperti pujian atau stiker ketika siswa menunjukkan perilaku mandiri, serta menggunakan modeling dengan memberikan contoh terlebih dahulu sebelum siswa menirukan. Ketika siswa mulai menunjukkan kemampuan, bantuan secara bertahap dikurangi melalui teknik fading agar mereka tidak bergantung pada guru dan dapat menyelesaikan aktivitas secara mandiri. Cara Mengetahui Tingkat Kemandirian Anak Autis Penilaian terhadap tingkat kemandirian siswa dilakukan melalui observasi langsung dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Guru memperhatikan apakah siswa mampu menyiapkan perlengkapan belajar, mengikuti rutinitas kelas, serta menjalankan tugas sederhana tanpa perlu terus-menerus diingatkan. Kemampuan melakukan kegiatan dasar seperti membuka tutup botol minuman atau merapikan barang pribadi menjadi indikator penting yang menunjukkan perkembangan kemandirian. Selain observasi, guru menggunakan daftar cek aktivitas kehidupan seharihari (ADL) untuk mencatat kemampuan siswa dalam makan mandiri, menggunakan toilet, mencuci tangan, atau merapikan tempat duduk. Catatan harian juga digunakan untuk merekam perubahan perilaku siswa dari waktu ke waktu, sehingga perkembangan mereka dapat dipantau secara lebih sistematis. Selain itu, guru berkomunikasi dengan orang tua untuk memastikan apakah perilaku mandiri yang tampak di sekolah juga muncul di rumah, karena konsistensi di berbagai lingkungan menunjukkan bahwa kemandirian siswa telah berkembang secara signifikan. Tantangan dan Upaya Guru dalam Mengatasi Kendala Peningkatan Kemandirian Anak Autis Dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa kendala yang sering dihadapi guru ketika Salah satu tantangan utama adalah kesulitan siswa memahami instruksi verbal, sehingga guru perlu memberikan perintah yang lebih sederhana. Ketergantungan siswa terhadap guru juga menjadi hambatan, terutama ketika siswa terbiasa selalu dibantu dalam menyelesaikan kegiatan. Untuk mengatasi hal tersebut, guru secara perlahan mengurangi bantuan dengan teknik fading sehingga siswa terdorong untuk mencoba sendiri. Selain itu, siswa autis sering mengalami kesulitan mempertahankan fokus dan mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar. Guru Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 194-197 menyiasatinya dengan menata ruang belajar agar lebih kondusif dan memberikan kegiatan dalam durasi singkat namun berulang. Transisi antar kegiatan juga kerap menimbulkan kecemasan, sehingga guru menggunakan isyarat seperti timer atau lagu untuk menandai perubahan aktivitas. Tidak jarang siswa menunjukkan perilaku tantrum karena kebingungan atau kelelahan, dan dalam situasi ini guru berusaha tetap tenang, memahami penyebab perilaku, serta mengendalikan diri. Meskipun banyak tantangan, guru terus berupaya menyesuaikan strategi agar dapat membantu siswa mencapai kemandirian secara Pembahasan Hasil wawancara dengan Bu Aeni menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan di SLB Manunggal Slawi dalam meningkatkan kemandirian anak autisme bersifat sistematis, terstruktur, serta disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap siswa. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas, tetapi juga menekankan pentingnya kemampuan siswa dalam menggeneralisasi keterampilan mandiri ke berbagai situasi, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Penggunaan media visual seperti jadwal bergambar, kartu aktivitas, dan simbol-simbol pendukung menjadi alat bantu penting karena anak autisme lebih responsif terhadap informasi visual dibanding instruksi verbal. Visual schedule tersebut tidak hanya membantu siswa memahami langkah kegiatan, tetapi juga meminimalkan kecemasan pada saat menghadapi perubahan aktivitas. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan efektivitas struktur visual dalam mengembangkan kemandirian dan mengurangi resistensi siswa pada masa transisi. Selain itu, penerapan task analysis menjadi strategi utama dalam penyusunan aktivitas pembelajaran. Setiap keterampilan dipecah menjadi unit tindakan yang lebih kecil sehingga siswa dapat memahami urutan dan tujuan dari setiap tahap. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip TEACCH yang menekankan pentingnya struktur dan kejelasan visual bagi anak dengan autisme. Guru juga memberikan contoh atau modeling sebelum siswa diminta melakukan tugas Proses meniru tindakan guru ini memudahkan siswa memahami perilaku yang diharapkan, terutama bagi mereka yang lebih mudah belajar melalui observasi dibanding penjelasan verbal. Penguatan positif berupa pujian, tepuk tangan, atau pemberian stiker juga menjadi penggerak utama munculnya perilaku adaptif. Penguatan diberikan segera setelah siswa menunjukkan Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan perilaku yang tepat agar mereka memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi positif yang diterima. Pelaksanaan pembelajaran juga didukung dengan teknik fading, yaitu pengurangan bantuan secara bertahap untuk mencegah ketergantungan berlebih pada guru atau pendamping. Guru memberikan bantuan penuh pada tahap awal, kemudian mengurangi intensitasnya seiring meningkatnya kemampuan siswa. Langkah ini bertujuan agar menyelesaikan aktivitas tanpa bantuan. Temuan penelitian menegaskan bahwa tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa dapat melakukan suatu aktivitas, tetapi mampu melakukannya secara mandiri. Selain itu, guru harus menghadapi berbagai tantangan, seperti kesulitan siswa memahami instruksi verbal, rendahnya fokus, hambatan dalam menghadapi transisi, serta munculnya tantrum. Dalam situasi tersebut, guru menerapkan instruksi sederhana, menyediakan lingkungan yang minim gangguan, menggunakan tanda transisi, dan memberikan penguatan ketika siswa mampu menenangkan diri atau menyelesaikan tugas meski mengalami tekanan. Secara keseluruhan, pembelajaran di SLB Manunggal Slawi mencerminkan praktik pendidikan berbasis bukti yang telah terbukti efektif bagi anak Strategi menargetkan penguasaan keterampilan praktis, tetapi juga memperhatikan perkembangan emosional, sosial, dan kemandirian siswa. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip psikologi pendidikan dan nilai-nilai konseling Islam yang mendorong pembentukan karakter positif, kemandirian, ketekunan, dan tanggung Dengan demikian, strategi penguatan perilaku positif yang diterapkan guru terbukti relevan, adaptif, dan mampu mendukung perkembangan kemandirian siswa secara bertahap dan berkelanjutan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dengan guru kelas di SLB Manunggal Slawi, dapat disimpulkan bahwa strategi penguatan perilaku positif memiliki peranan yang sangat signifikan dalam membangun kemandirian siswa autisme. Upaya ini diwujudkan melalui rangkaian strategi yang dilakukan secara terstruktur, bertahap, dan konsisten, seperti penggunaan visual schedule, analisis tugas, pemberian penguatan positif, modeling, serta penerapan fading untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap bantuan guru. Berbagai strategi tersebut terbukti membantu siswa memahami langkah-langkah kegiatan, kemampuan mereka dalam menyelesaikan aktivitas Januari 2026. Volume 10. Nomor 1, 194-197 secara mandiri. Penilaian terhadap kemandirian dilakukan secara menyeluruh melalui observasi harian, checklist ADL, catatan perkembangan individual, dan kolaborasi dengan orang tua, sehingga perkembangan setiap siswa dapat dipantau dengan lebih akurat. Meski kemandirian tidak terlepas dari sejumlah hambatan seperti kesulitan siswa memahami instruksi verbal, tingkat ketergantungan yang tinggi, mudah terdistraksi, kesulitan menghadapi transisi, serta kecenderungan munculnya tantrum. Guru berhasil mengatasi hambatan penggunaan instruksi sederhana dan visual, penataan lingkungan belajar yang kondusif, serta pemberian tanda transisi yang jelas. Secara keseluruhan, penerapan strategi penguatan positif terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan adaptif dan kemandirian siswa autisme serta selaras dengan prinsip psikologi pendidikan maupun pendekatan bimbingan dan konseling Islam. Pendekatan ini bukan hanya berfokus pada keterampilan praktis, tetapi juga mendukung pembentukan sikap, karakter, dan kepercayaan diri siswa untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri. Daftar Pustaka