Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Peran Sanggar Belajar dan Keluarga dalam Pembentukan Akhlak Anak Pekerja Migran Malaysia Kenny Agusto Arie Wibowo1. Surono ZR2. Frizki Nurul Pasa3. Yeni Lubis4 1,2,3,4 Institut Agama Islam Daar Uluum Asahan. Indonesia Corresponding Author : kennyagusto@gmail. ABSTRACT Pendidikan akhlak merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak, terutama dalam perspektif pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual. Namun, pendidikan akhlak anak-anak pekerja migran di Malaysia menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan akses pendidikan formal, minimnya tenaga pendidik tetap, serta rendahnya keterlibatan orang tua yang sibuk bekerja di perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sekolah melalui sanggar belajar serta peran orang tua dalam pendidikan akhlak anak pekerja migran, sekaligus mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus yang dilakukan di sanggar belajar Ladang Kosma. Malaysia. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi Hasil penelitian menunjukkan bahwa sanggar belajar memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan akhlak bagi anak migran, terutama melalui keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan afektif guru. Namun, keterbatasan guru tetap menyebabkan pendidikan akhlak belum berjalan secara berkesinambungan. Anak-anak kelas rendah menunjukkan perkembangan emosional yang lebih baik, sementara anak-anak kelas sedang menghadapi masalah kedisiplinan dan sikap moral akibat minimnya pembinaan yang konsisten. Peran orang tua dalam pendidikan akhlak cenderung lemah karena faktor ekonomi dan lingkungan kerja. Penelitian ini menegaskan urgensi keberadaan guru tetap serta sinergi antara sekolah dan orang tua untuk memperkuat pendidikan akhlak anak pekerja migran agar selaras dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Keywords Pendidikan Akhlak. Sanggar Belajar. Peran Guru PENDAHULUAN Pendidikan akhlak merupakan salah satu aspek fundamental dalam pembentukan karakter anak. Dalam perspektif Islam, akhlak yang mulia tidak hanya menjadi tujuan individual, melainkan juga fondasi penting bagi terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai moral sejak dini. Selain itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal juga berfungsi sebagai agen penting dalam melanjutkan proses pembinaan akhlak anak (Musbani, 2. Sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci dalam Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 membentuk pribadi anak yang berkarakter kuat, beriman, serta berakhlakul Namun, dalam konteks anak-anak pekerja migran di Malaysia, realitas pendidikan akhlak menghadapi tantangan yang cukup serius. Anak-anak migran, sebagian besar berasal dari Indonesia, tumbuh dalam lingkungan perkebunan kelapa sawit yang penuh keterbatasan. Sekolah hanya beroperasi ketika mahasiswa KKN atau relawan hadir untuk mengajar, meskipun kini sudah ada seorang guru tetap. Keterbatasan akses pendidikan, kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja di perkebunan, serta minimnya fasilitas pembelajaran menjadikan perkembangan akhlak dan akademik anak-anak tertinggal dibandingkan anak-anak seusianya di sekolah formal di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak belum berlangsung secara berkesinambungan dan sistematis. Kondisi sosial budaya masyarakat sekitar juga memberikan pengaruh yang signifikan. Di lingkungan perkebunan, masyarakat didominasi oleh pekerja migran asal Indonesia dan Bangladesh. Sementara itu, di wilayah lain, masyarakatnya lebih plural dengan dominasi etnis Tionghoa dan kondisi geografis yang dikelilingi pegunungan serta bukit-bukit tinggi. Perbedaan kondisi ini berdampak pada interaksi sosial, pola pergaulan anak, serta tantangan dalam penanaman nilai akhlak. Anak-anak di lingkungan perkebunan lebih terikat pada kultur komunitas migran, sedangkan anak-anak di wilayah plural menghadapi realitas keberagaman etnis serta lingkungan sosial yang berbeda. Penelitian-penelitian sebelumnya menegaskan bahwa sekolah memiliki peran vital dalam membentuk akhlak siswa melalui visi, misi, program, serta fasilitas yang mendukung. Sementara itu, orang tua sebagai pendidik pertama berfungsi menanamkan nilai-nilai seperti amanah, sabar, dan jujur melalui keteladanan, pembiasaan, serta komunikasi intensif. Akan tetapi, pada konteks keluarga migran, peran orang tua dalam pendidikan akhlak sering kali terhambat oleh kesibukan kerja, keterbatasan waktu, serta pengaruh lingkungan sosial dan media digital (Hizbullah & Haidir, 2. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian mengenai peran sekolah dan orang tua dalam pendidikan akhlak anak pekerja migran menjadi sangat Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mengidentifikasi kontribusi sekolah dan orang tua dalam membentuk akhlak anak-anak migran, tetapi juga untuk menggali faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pola pendidikan akhlak di komunitas Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 migran serta menawarkan rekomendasi strategis bagi penguatan pendidikan akhlak anak di lingkungan tersebut. METODE PENELITIAN Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena sosial dengan lebih mendalam melalui penggambaran realitas yang alami, tanpa adanya manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Menurut Nursapia Harahap (Harahap, 2. , penelitian kualitatif menekankan pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial melalui proses pengamatan, wawancara, dan interpretasi makna yang terkandung di balik gejala yang tampak. Pendekatan ini bersifat induktif, artinya peneliti menarik kesimpulan dari data lapangan menuju teori atau pemahaman baru yang relevan dengan konteks penelitian. Lebih lanjut, penelitian kualitatif deskriptif berfungsi untuk memberikan gambaran yang rinci mengenai fenomena yang terjadi sesuai dengan kenyataan lapangan. Peneliti berperan sebagai instrumen utama, sementara teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk membuat generalisasi yang luas, tetapi lebih kepada memaknai secara mendalam konteks yang diteliti(Rachman Arif. Dr. Yochanan, 2. Dalam konteks ini, penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus yang terfokus pada peran orang tua dalam mendidik akhlak anak di sekolah dasar. Melalui pendekatan studi kasus, penelitian ini menggali informasi yang lebih mendalam mengenai kondisi nyata di lapangan, sehingga mampu mendeskripsikan secara autentik fenomena pendidikan akhlak anak di lingkungan sekolah maupun keluarga. HASIL DAN PEMBAHASAN Konteks Empiris Anak Migran di Sanggar Belajar Gambar 1. Anak Tingkat Rendah Belajar Calistung Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 Pendidikan anak-anak migran di kawasan perkebunan kelapa sawit Ladang Kosma menghadirkan dinamika yang sangat kompleks. Dari pengalaman lapangan, terlihat bahwa kondisi pembelajaran di sanggar belajar sangat jauh berbeda dengan lembaga formal di Indonesia. Hal ini dapat dipahami mengingat sanggar belajar hanya berjalan apabila ada kehadiran guru dari mahasiswa KKN/KKNI yang ditugaskan secara sementara. Artinya, keberlangsungan pendidikan di sana belum sepenuhnya berkesinambungan, melainkan sangat bergantung pada kehadiran pengajar yang sifatnya Anak-anak migran di Ladang Kosma baru dapat belajar apabila ada guru KKN, dan ketika masa pengabdian selesai, maka pembelajaran kembali vakum hingga ada pengajar baru yang datang. Kondisi ini berbeda jauh dengan prinsip dasar pendidikan Islam yang menekankan kesinambungan proses belajar sepanjang hayat. Pendidikan seharusnya hadir secara konsisten agar anak memperoleh perkembangan akal, jiwa, dan akhlak yang seimbang. Hal ini menunjukkan adanya gap serius antara cita-cita pendidikan Islam dengan realitas lapangan anak-anak migran. Dalam praktik sehari-hari, sanggar belajar di Ladang Kosma dibagi ke dalam dua sesi, yaitu kelas rendah . elas 1Ae. dan kelas sedang . elas 3Ae. Pada hari pertama mengajar, siswa kelas rendah berjumlah sepuluh orang harus digabung dalam satu ruang belajar. Meskipun dalam satu ruangan, pembelajaran tetap diupayakan berjalan dengan pembagian kelompok sesuai tingkatan kelas. Model ini sejalan dengan praktik sekolah multigrade di pedalaman, di mana satu guru menangani beberapa tingkatan kelas sekaligus. Namun, dalam praktiknya tantangan ini tidak mudah, sebab setiap kelompok memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Pengalaman mengajar menunjukkan bahwa anak-anak migran di Ladang Kosma mengalami ketertinggalan yang cukup signifikan dibandingkan anakanak di Indonesia. Misalnya, siswa kelas 1 dan 2 masih kesulitan dalam membaca dan menulis dasar, padahal anak seusia mereka di sekolah Indonesia sudah mampu menguasai kompetensi yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian Tommy Effendi . yang menegaskan bahwa anak-anak pekerja migran di Malaysia menghadapi hambatan serius dalam mengakses pendidikan yang setara dengan anak-anak di Indonesia. Hambatan tersebut dipengaruhi status hukum, keterbatasan tenaga pengajar, serta minimnya fasilitas pendidikan (Effendi, 2. Hari-hari berikutnya memperlihatkan dinamika lain. Pada hari ketiga, ketika peneliti mengajar kembali, muncul persoalan akhlak siswa terutama pada kelas sedang . elas 3 dan . Mereka menunjukkan perilaku kurang sopan, sulit diatur, dan tidak menghargai guru. Dalam konteks anak migran. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 masalah akhlak ini semakin kompleks karena tidak adanya pembinaan yang berkesinambungan baik dari orang tua yang sibuk bekerja maupun dari sanggar belajar yang tidak memiliki guru tetap. Seiring waktu, anak-anak kelas rendah mulai menunjukkan perkembangan emosional yang baik. Mereka mulai akrab dengan guru, merasa nyaman dalam proses pembelajaran, bahkan menunjukkan ekspresi kasih sayang, seperti memeluk dan menggambar wajah guru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keterbatasan pendidikan formal cukup besar, pendekatan afektif guru mampu memberikan dampak signifikan bagi perkembangan sosial-emosional anak. Sementara itu, pada tingkat sedang, meskipun perubahan tidak secepat kelas rendah, keberadaan guru tetap yang baru mulai memberi sedikit Guru tetap mampu menghadirkan stabilitas, sehingga anak-anak mulai sedikit terkendali. Hal ini menunjukkan pentingnya konsistensi tenaga pengajar dalam membentuk perilaku dan akhlak siswa. Namun, ada juga sisi positif yang dapat dicatat. Seiring waktu, anak-anak kelas rendah mulai menunjukkan perkembangan emosional yang baik. Mereka mulai akrab dengan guru, merasa nyaman dalam proses pembelajaran, bahkan menunjukkan ekspresi kasih sayang, seperti memeluk dan menggambar wajah Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keterbatasan pendidikan formal cukup besar, pendekatan afektif guru mampu memberikan dampak signifikan bagi perkembangan sosial-emosional anak. Dalam perspektif pendidikan Islam, hal ini sangat penting karena kasih sayang, perhatian, dan teladan guru merupakan salah satu strategi efektif dalam membentuk akhlak anak. Sementara itu, pada tingkat sedang, meskipun perubahan tidak secepat kelas rendah, keberadaan guru tetap yang baru mulai memberi sedikit Guru tetap mampu menghadirkan stabilitas, sehingga anak-anak mulai sedikit terkendali. Hal ini menunjukkan pentingnya konsistensi tenaga pengajar dalam membentuk perilaku dan akhlak siswa. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, melainkan juga menjadi lembaga yang menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual. Seperti ditegaskan oleh Mukhtar . , terbinanya akhlak siswa merupakan keberhasilan sekolah dalam mendidik, karena akhlak yang mulia berpengaruh langsung pada ketentraman belajar mengajar (Dertha Mukhtar & Defri Mukhtar, 2. Pada hari-hari terakhir, peneliti juga mencatat bagaimana anak-anak migran sangat menghargai kehadiran guru. Ketika guru tidak hadir karena sakit, mereka menunjukkan rasa kehilangan dengan bertanya berulang-ulang. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran guru bagi anak migran bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga sebagai figur pengganti orang tua yang Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 memberi kasih sayang, perhatian, dan arahan. Fenomena ini memperkuat tesis bahwa guru di komunitas migran tidak hanya berfungsi sebagai pendidik formal, melainkan juga sebagai pengasuh yang membentuk karakter anak secara langsung. Dengan demikian, konteks empiris di Ladang Kosma memberikan gambaran bahwa pendidikan anak migran masih menghadapi tiga persoalan Pertama, keterbatasan guru tetap yang menyebabkan pendidikan tidak Kedua, lemahnya pola asuh orang tua karena kesibukan bekerja di perkebunan, sehingga akhlak anak kurang terbina. Ketiga, rendahnya motivasi belajar anak akibat keterbatasan lingkungan dan kurangnya perhatian akademik. Ketiga faktor ini menjadikan anak-anak migran sangat rentan tertinggal baik dari aspek akademik maupun akhlak dibandingkan anak-anak di Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan menekankan pada analisis peran sekolah dalam pendidikan akhlak anak migran serta pola asuh keluarga pekerja migran, dengan menautkan antara temuan empiris di lapangan dan teori yang telah ada. Analisis Peran Sanggar Belajar dalam Pendidikan Akhlak Anak Migran Gambar 2. Peran Sanggar Belajar dalam Pendidikan Akhlak Anak Migran Dalam perspektif pendidikan Islam, sekolah merupakan salah satu dari tiga pusat pendidikan selain keluarga dan masyarakat. Ahmad Lahmi . menegaskan bahwa sekolah memiliki peranan strategis dalam membentuk akhlak peserta didik. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijazah, tetapi juga sebagai Aupabrik nilaiAy yang menginternalisasikan adab, kedisiplinan, rasa hormat, serta akhlak mulia. Bagi anak-anak migran di Ladang Kosma, keberadaan sanggar belajar menjadi semakin penting. Hidup di lingkungan perkebunan yang jauh dari akses pendidikan formal menjadikan sekolah satu-satunya ruang belajar yang Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 mereka miliki. Dengan kondisi orang tua yang sibuk bekerja, sekolah secara otomatis mengambil peran ganda, yakni sebagai lembaga pengajaran sekaligus pembinaan akhlak. Kehadiran guru, meskipun hanya dari program KKN, sangat menentukan ada tidaknya pegangan nilai Islami dalam kehidupan anakanak tersebut. Lahmi menekankan bahwa guru berperan sebagai bapak ruhani . piritual fathe. bagi peserta didik. Tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga memberi santapan jiwa berupa pembinaan akhlak, meluruskan perilaku yang salah, serta menjadi teladan hidup bagi murid-muridnya. Fenomena ini terlihat jelas di Ladang Kosma. Anak-anak kelas rendah menunjukkan kedekatan emosional dengan guru KKN karena merasa diperhatikan, disayangi, dan dibimbing. Bahkan, ada seorang siswa yang menggambar wajah gurunya sebagai ungkapan kasih sayang. Hal tersebut menandakan bahwa anak-anak memandang guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga sebagai figur pengganti orang tua yang membimbing dan melindungi mereka. Sebaliknya, anak-anak pada jenjang kelas menengah yang cenderung sulit diarahkan menunjukkan akibat dari tidak adanya figur otoritatif sebelumnya. Mereka memerlukan sosok guru yang tegas sekaligus penuh kasih sayang agar dapat dibimbing kembali menuju perilaku yang benar. Dengan demikian, keberadaan guru tetap yang konsisten menjalankan peran sebagai pembimbing ruhani sangat diperlukan. Durkheim, sebagaimana dikaji Lahmi, menegaskan bahwa sekolah berfungsi menjaga nilai moral yang menjadi dasar berkembangnya masyarakat. Pendidikan ditujukan untuk membentuk kekuatan fisik, intelektual, dan moral yang diperlukan anak dalam menghadapi lingkungannya. Konteks Ladang Kosma memperlihatkan bahwa peran ini amat Anak-anak migran yang tumbuh di perkebunan rentan terjerumus dalam perilaku negatif akibat minimnya kontrol sosial. Sekolah harus berperan sebagai agen perubahan moral yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, serta sikap hormat kepada guru dan sesama. Misalnya, ketika siswa kelas sedang memperlihatkan sikap menentang, guru perlu menegakkan kewibawaan sekaligus memberikan pemahaman bahwa akhlak Islami menuntut sikap hormat kepada pendidik. Lebih lanjut. Lahmi (Lahmi, 2. menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan keluarga melalui berbagai bentuk kerja sama, seperti kunjungan guru ke rumah, pertemuan orang tua di sekolah, maupun pembentukan komite sanggar belajar. Tujuannya agar pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sanggar belajar, tetapi juga berlanjut di rumah. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 Namun, di Ladang Kosma, kerja sama ini masih sulit diwujudkan karena orang tua sibuk bekerja di perkebunan. Akibatnya, pendidikan anak lebih banyak diserahkan kepada sekolah. Meski demikian, upaya untuk melibatkan orang tua dalam kegiatan sekolah atau menjalin komunikasi sederhana tetap perlu dilakukan agar nilai-nilai akhlak yang diajarkan di sekolah selaras dengan kehidupan di rumah. Tanpa sekolah yang berfungsi sebagai pabrik nilai, anak-anak kelas sedang cenderung kehilangan arah, bersikap kasar, dan sulit diatur. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan sekolah dengan guru yang berkomitmen merupakan faktor kunci dalam menjaga akhlak anak migran agar tidak Implementasi Pendidikan Akhlak Anak Migran Gambar 3. Pendidikan Akhlak Anak Migran Kelas Rendah dan Kelas Sedang Dalam praktiknya, sanggar belajar bagi anak-anak migran memiliki dua sesi kelas: kelas rendah . elas 1Ae. dan kelas sedang . elas 3-. Pada hari pertama pengajaran, anak-anak kelas rendah berjumlah sepuluh orang belajar dalam satu ruangan yang digabung, kemudian dibagi ke dalam kelompok sesuai tingkatan kelasnya. Kondisi ini menunjukkan keterbatasan sarana dan tenaga pendidik, sehingga peran guru meskipun berasal dari program KKN sangat krusial. Menurut Anita Oktaviana dkk. , pendidik berperan tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga sebagai pembentuk akhlak anak melalui metode pembiasaan. Anak-anak lebih banyak meniru teladan gurunya, sehingga guru harus menghadirkan keteladanan, konsistensi, serta sikap kasih sayang (Oktaviana et al. , 2. Hal ini tampak pada kedekatan emosional anak-anak kelas rendah dengan guru, hingga ada yang mengekspresikan kasihnya dengan menggambar wajah gurunya. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 Hari-hari berikutnya menunjukkan tantangan berbeda. Pada kelas sedang, akhlak anak-anak terlihat kurang, bahkan sering menunjukkan sikap Guru KKN merasakan bahwa pelajaran agama sangat diperlukan, khususnya mata pelajaran Al-QurAoan Hadis. Akidah Akhlak. SKI, dan Fikih. Dalam proses pembelajaran, anak-anak kelas rendah semakin mudah diarahkan, sedangkan anak-anak kelas sedang membutuhkan pendekatan Informasi dari guru tetap menunjukkan adanya sedikit perubahan positif setelah ada guru yang konsisten hadir. Hal ini sesuai dengan penelitian Sundus . yang menekankan pentingnya konsistensi guru dalam pembinaan akhlak, karena keberlanjutan peran guru sangat memengaruhi pembentukan karakter anak (Firdausi et al. , 2. Metode pembiasaan seperti berdoa sebelum belajar, salam, berjabat tangan, membaca Al-QurAoan, dan shalat dhuha berjamaah (Oktaviana et al. sangat relevan untuk diterapkan. Tanpa pembiasaan tersebut, anak-anak cenderung sulit diatur. Pengalaman para guru KKN menunjukkan bahwa kesabaran, keteladanan, dan konsistensi menjadi kunci dalam mendekatkan diri kepada siswa dan menanamkan akhlak mulia. Refleksi dan Urgensi Guru Tetap Gambar 4. Guru. Siswa, dan Pengelola Ladang Kosma Pahang Fenomena ini menegaskan bahwa anak-anak migran memerlukan keberadaan guru tetap yang berkomitmen, bukan sekadar guru sementara yang silih berganti. Kehadiran guru tetap memungkinkan terwujudnya kesinambungan dalam pendidikan akhlak. Dalam konteks ini, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai Aubapak ruhaniAy yang menjadi teladan, pembimbing, sekaligus pelindung bagi anak-anak migran. Tanpa keberadaan sekolah dan guru tetap, anak-anak migran berisiko kehilangan arah, terjerumus dalam perilaku negatif, dan jauh dari nilai akhlak Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 465-475 Islami. Oleh karena itu, sekolah harus diperkuat perannya sebagai agen perubahan moral melalui kolaborasi guru tetap, guru KKN, dan masyarakat KESIMPULAN Pendidikan akhlak anak pekerja migran di Ladang Kosma Malaysia masih menghadapi tantangan struktural dan kultural yang serius. Keterbatasan guru tetap, tidak berkesinambungannya proses pembelajaran, serta lemahnya peran orang tua akibat tuntutan ekonomi menjadikan pendidikan akhlak belum terkelola secara sistematis. Sanggar belajar memiliki peran yang sangat vital sebagai satu-satunya ruang pendidikan bagi anak-anak migran, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi terutama sebagai wahana pembinaan akhlak melalui keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan afektif guru. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberadaan guru yang konsisten dan berkomitmen mampu memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan emosional dan perilaku anak, khususnya pada kelas rendah, sementara anak kelas sedang memerlukan pembinaan yang lebih intensif dan Hal ini menegaskan bahwa guru dalam konteks komunitas migran tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur pembimbing ruhani yang menggantikan peran orang tua dalam batas tertentu. Oleh karena itu, penguatan peran sekolah melalui penyediaan guru tetap serta upaya membangun sinergi sederhana namun berkelanjutan dengan orang tua menjadi kebutuhan mendesak. Temuan ini penting untuk dicatat karena memperkaya kajian pendidikan Islam dalam konteks migrasi dan menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan akhlak sangat bergantung pada kesinambungan pendidik, keteladanan, serta dukungan lingkungan sosial yang DAFTAR PUSTAKA