INTEGRASI PROGRAM SEKOLAH PRASAJA SEJATI PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA INTEGRATION OF SCHOOL PROGRAMS PRASAJA SEJATI IN JAVANESE LANGUAGE SUBJECTS Yatmanto1 ,Daryanti2 SD Negeri 3 Bulukerto. 2Korwilcam Bidang Pendidikan Bulukerto Email: yatmantocpns@gmail. Diterima : 21 April 2025 Direvisi : 23 Mei 2025 Disetujui : 26 Mei 2025 ABSTRAK Di era modern saat ini, penggunaan bahasa asing kian dominan sehingga bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, mulai terpinggirkan. Padahal, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas, jati diri, dan sarana pewarisan nilai-nilai budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak program terhadap kemampuan berbahasa Jawa peserta didik serta penguatan nilai kesopanan dan etika komunikasi sebagai bagian dari pembentukan karakter pelajar Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Variabel yang dikaji meliputi kemampuan berbahasa Jawa dan penginternalisasian nilai kesopanan peserta didik. Cakupan data difokuskan pada peserta didik kelas IVAeVI, guru, serta orang tua di SD Negeri 3 Bulukerto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, kuesioner, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola temuan dari berbagai sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Prasaja Sejati secara signifikan meningkatkan penggunaan bahasa Jawa kromo dalam interaksi sehari-hari peserta didik, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Analisis tematik juga mengungkap bahwa program ini berhasil memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kesopanan khas budaya Jawa, serta meningkatkan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan karakter. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program tidak hanya berdampak pada aspek linguistik, tetapi juga pada penguatan nilai budaya dan karakter siswa. Program ini direkomendasikan sebagai model pembelajaran berbasis budaya yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain guna memperkuat identitas lokal di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Kata Kunci: pembiasaan bahasa jawa, integrasi budaya jawa, pendidikan karakter, program sekolah ABSTRACT In the modern era, where foreign languages increasingly dominate, regional languages such as Javanese are becoming marginalized. However, local languages are essential as markers of identity and vehicles for transmitting cultural values. This study aims to evaluate the program's impact on students' Javanese language skills and the internalization of politeness and communication ethics as part of character education aligned with the Pancasila student profile. This research employed a qualitative approach using a case study method. The variables examined include students' ability to use the Javanese language and their understanding of traditional etiquette. The data focused on students in grades IV to VI, teachers, and parents at SD Negeri 3 Bulukerto. Data were collected through participatory observation, questionnaires, in-depth interviews, and Focus Group Discussions (FGD). Thematic analysis was used to interpret the collected data and identify emerging The findings indicate that the Prasaja Sejati program significantly improved studentsAo use of krama Javanese in daily interactions both at school and at home. Thematic analysis revealed enhanced student awareness of politeness norms inherent in Javanese culture and increased collaboration between the school, parents, and the community. These results demonstrate that the program impacts not only studentsAo linguistic abilities but also their cultural and character The program is recommended as a culturally grounded educational model that can be adopted by other schools to promote local identity amid increasing globalization and digitalization. Keywords: Javanese language habituation. Javanese cultural integration, character education, school programs Integrasi Program Sekolah. Yatmanto. Daryanti PENDAHULUAN Dalam konteks global, pelestarian bahasa daerah menjadi fokus utama UNESCO melalui program "Atlas of the World's Languages in Danger". (Gontijo, 2. menyatakan bahwa sekitar 40% dari 000 bahasa di dunia berada dalam ambang kepunahan, dengan Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah yang paling terancam. berbagai negara seperti Wales. Selandia Baru, dan Jepang, upaya revitalisasi bahasa daerah telah menunjukkan keberhasilan melalui integrasi program bahasa lokal dalam sistem pendidikan formal (Kidwell & Triyoko, 2024. McPake dkk. , 2. Pelestarian bahasa daerah menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia, termasuk dalam konteks pendidikan. Pembiasaan berbahasa Jawa di sekolah dasar menjadi sangat penting tidak hanya untuk menjaga keberadaan bahasa tersebut, tetapi juga untuk membangun karakter siswa. Dalam konteks ini, program pembiasaan atau program kokurikuler melalui P5 dapat menjadi salah satu metode yang efektif untuk mengintegrasikan pembiasaan bahasa Jawa dalam mata pelajatran di kela atau pendidikan karakter. Menurut (Natanti dkk. menyatakan Pembiasaan berbahasa Jawa krama mengajarkan anak untuk mencintai budaya serta membangun identitas bangsa. Masalah penggunaan bahasa Jawa di Banyak di antara siswa yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dalam sehari-hari. Penurunan penggunaan bahasa Jawa ini berpotensi mengancam kelestarian budaya dan tradisi yang telah ada sejak lama. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% generasi muda yang aktif menggunakan bahasa daerah mereka dalam kehidupan sehari-hari (BPS, 2. Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk program-program yang dapat meningkatkan kesadaran dan penggunaan bahasa Jawa di kalangan siswa. Penurunan penggunaan bahasa Jawa di kalangan generasi muda disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dominasi penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari. Kedua, kurangnya program pembelajaran bahasa daerah yang terstruktur dan berkelanjutan. Ketiga, minimnya integrasi nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran Penelitian dari (Susanto & Rahmawati, 2024. Utami & Wardani, 2. menekankan bahwa bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur pembentuk Beberapa diimplementasikan antara lain adalah pengenalan muatan lokal dalam kurikulum Namun, banyak dari program tersebut yang bersifat sporadis dan tidak Penelitian oleh (Setiyana, 2. mengungkapkan bahwa program pembelajaran bahasa daerah yang dilakukan secara teratur dan terstruktur terbukti lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Menurut (Setiawan & Hartono, 2. pembiasaan bertutur bahasa secara intensif dalam lingkungan sekolah menjadi upaya efektif dalam membentuk nilai karakter sopan dan santun. Program Prasaja Sejati (Program Berbahasa Jawa Setiap Jumat Pag. hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Program ini mengintegrasikan pembiasaan berbahasa Jawa dalam kurikulum sekolah melalui Penelitian dari (Gunawan, 2. membuktikan bahwa pembiasaan bertutur bahasa secara intensif efektif dalam sopan santun. Keunggulan program ini terletak pada pendekatan holistik yang melibatkan seluruh elemen sekolah, orang tua, dan masyarakat. Program Prasaja Sejati di SD Negeri 3 Bulukerto melibatkan semua elemen sekolah, termasuk orang tua dan masyarakat, untuk bersama-sama mengambil peran dalam pelestarian bahasa Jawa (Kusmanto & Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 Widodo, 2. Dampak dari program ini dapat dilihat dari peningkatan kemampuan berbahasa dan tata krama siswa. Menurut (Gunawan, 2. siswa yang terbiasa menggunakan bahasa krama cenderung lebih sopan, santun dan menghormati orang Topik ini sangat relevan mengingat pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi yang semakin Keunggulan topik ini terletak pada fokusnya yang tidak hanya pada penguasaan bahasa, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa yang berbudaya. Dalam konteks pendidikan karakter, program Prasaja Sejati sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menekankan pada pengembangan karakter siswa. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penguatan karakter melalui pendidikan berbasis budaya dapat menghasilkan individu yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab (Haryanto. Penelitian terdahulu telah mengkaji berbagai aspek pembelajaran bahasa Jawa di (Setiyana, 2. mengungkapkan bahwa program pembelajaran bahasa daerah yang terstruktur terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Penelitian dari (Haryanto, 2020. Sakti dkk. menemukan bahwa penguatan karakter melalui pendidikan berbasis budaya dapat menghasilkan individu yang lebih baik dan bertanggung jawab. Penelitian Susanto & Rahmawati . menunjukkan peran penting bahasa Jawa dalam pembentukan karakter, namun belum mengintegrasikan aspek pembiasaan dalam pembelajaran Menurut (Setiawan & Hartono, 2. membuktikan efektivitas pembiasaan bahasa dalam membentuk karakter, tetapi masih terbatas pada konteks informal. Batasan sebelumnya terletak pada beberapa aspek Pertama, mayoritas penelitian berfokus pada aspek akademis tanpa mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal yang melekat dalam proses pembelajaran. Kedua, belum adanya model integrasi yang komprehensif antara pembiasaan bahasa Jawa dengan kurikulum formal. Ketiga, minimnya pelibatan tripusat pendidikan dalam program pembiasaan bahasa. Keempat, belum ditemukannya mekanisme evaluasi dan monitoring yang sistematis untuk mengukur keberhasilan program pembiasaan bahasa. Urgensi topik ini menjadi semakin penting mengingat tantangan yang dihadapi oleh budaya lokal di era modern. Dengan meningkatnya penggunaan teknologi dan media sosial, generasi muda cenderung terpengaruh oleh budaya asing yang dapat mengikis nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, program Prasaja Sejati diharapkan dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain untuk mengintegrasikan pembelajaran bahasa daerah dalam kurikulum mereka. Melalui pendekatan ini, diharapkan kesadaran siswa akan pentingnya bahasa daerah dan budaya lokal dapat ditingkatkan, sehingga mereka dapat menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model integrasi program Prasaja Sejati dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi pola integrasi program pembiasaan bahasa Jawa dalam kurikulum formal, . menganalisis peran tripusat pendidikan dalam mendukung program pembiasaan, . mengukur dampak program terhadap kemampuan berbahasa dan karakter siswa, dan . merumuskan model evaluasi program yang berkelanjutan. Signifikansi penelitian ini mencakup tiga aspek utama. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model mengintegrasikan aspek pembiasaan dan nilai-nilai budaya. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam mengembangkan program serupa. Secara sosial, penelitian ini mendukung upaya pelestarian bahasa dan budaya Jawa melalui pendidikan formal. METODE PENELITIAN Integrasi Program Sekolah. Yatmanto. Daryanti Penelitian pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam implementasi program Prasaja Sejati di SD Negeri 3 Bulukerto Kabupaten Wonogiri. Menurut (Yin, 2. studi kasus merupakan metode yang tepat untuk menginvestigasi fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, terutama ketika batasan antara fenomena dan konteks tidak terlihat jelas. Pemilihan desain ini memungkinkan peneliti mengeksplorasi secara komprehensif berbagai aspek dari program pembiasaan bahasa Jawa dalam setting yang natural. Studi kasus dipilih karena memungkinkan penelitian yang mendalam tentang implementasi program dalam konteks yang spesifik. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Fase A . elas 1-. Fase B . elas 3-. , dan Fase C . elas 5-. di SD Negeri 3 Bulukerto. Selain siswa, penelitian ini juga melibatkan guru kelas, guru bahasa Jawa, kepala sekolah, dan orang tua siswa sebagai Pemilihan subjek dilakukan dengan teknik purposive sampling untuk memastikan keterwakilan dari setiap fase pembelajaran dan pemangku kepentingan Jumlah informan ditentukan berdasarkan prinsip saturasi data, di mana pengumpulan data akan dihentikan ketika tidak ditemukan informasi baru yang Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan triangulasi metode yang meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan program Prasaja Sejati dalam kegiatan Wawancara dilakukan dengan siswa, guru, dan orang tua untuk menggali pengalaman dan perspektif FGD pemahaman kolektif dari para pemangku Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan bukti-bukti pelaksanaan program berupa dokumen program, hasil kerja siswa, dan dokumentasi kegiatan. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara semi-terstruktur, pedoman FGD, lembar dokumentasi, dan catatan lapangan. Pedoman observasi digunakan untuk memastikan konsistensi dalam pengamatan pelaksanaan program. Pedoman wawancara dan FGD dikembangkan berdasarkan kajian literatur dan disesuaikan dengan tujuan Lembar dokumentasi dan catatan lapangan digunakan untuk merekam temuan-temuan penting selama proses Seluruh instrumen divalidasi melalui expert judgment dan uji coba pengumpulan data. Analisis data menggunakan model interaktif (Miles dkk. , 2. yang terdiri dari empat tahap yang saling terkait. Tahap pertama adalah pengumpulan data dari berbagai sumber menggunakan instrumen yang telah disiapkan. Tahap kedua adalah kondensasi data, di mana data yang disederhanakan sesuai dengan kebutuhan Tahap ketiga adalah penyajian data dalam bentuk yang sistematis dan mudah dipahami. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara berkelanjutan selama proses penelitian. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan beberapa teknik Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Triangulasi metode diterapkan dengan menggunakan beragam memverifikasi temuan. Member checking dilakukan dengan melibatkan informan dalam memverifikasi interpretasi data. Peer debriefing dilaksanakan melalui diskusi dengan peneliti lain untuk memperoleh perspektif yang lebih luas. Audit trail diterapkan untuk menjamin transparansi dan keterlacakan proses penelitian. Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembiasaan Berbahasa Jawa sebagai Sarana Penanaman Nilai Kesopanan pada Peserta Didik Sekolah Dasar. Pelaksanaan Program Prasaja Sejati telah menunjukkan dampak signifikan pengembangan karakter siswa. Melalui observasi dan wawancara sistematis, beberapa temuan kunci muncul terkait pentingnya pembiasaan berbahasa Jawa dalam pendidikan. Kepala Sekolah Giyono menjelaskan signifikansi program ini: "Pembiasaan berbahasa Jawa ini bukan sekadar tentang bahasa, tapi tentang pembentukan karakter dan pelestarian budaya" (Wawancara, 15-9-2. Perspektif menekankan bagaimana pembiasaan bahasa memiliki fungsi ganda dalam pendidikan dan pelestarian budaya. Dampak program terhadap perilaku siswa sangat terlihat dalam interaksi seharihari mereka. Seperti yang diamati dalam pengaturan kelas, siswa yang aktif Prasaja Sejati menunjukkan peningkatan penggunaan ungkapan Jawa yang sopan. Seorang guru kelas Empat mencatat: "Sekarang anak-anak lebih sering menggunakan kata 'matur nuwun' dan 'ngapunten' dalam percakapan seharihari. Ini menunjukkan peningkatan kesadaran mereka akan pentingnya tata krama" (Observasi, 22-9-2. Pengamatan ini sejalan dengan temuan (Esteban-Guitart dkk. , 2019. Nugroho, 2. bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis budaya menunjukkan kesadaran identitas budaya yang lebih kuat. Data dari (BPS, 2. lebih menunjukkan bahwa generasi muda yang menunjukkan penghargaan yang lebih tinggi terhadap tradisi dan budaya lokal. Keterlibatan orang tua juga terbukti penting bagi keberhasilan program. Ibu Lilin Novianti, orang tua siswa kelas tiga, berbagi "Di rumah, kami juga mulai lebih sering menggunakan bahasa Jawa halus. Anak saya sekarang bisa membedakan kapan menggunakan krama dan ngoko" (Wawancara Orang Tua, 25-9-2. Penguatan rumah ini telah menciptakan lingkungan belajar bahasa yang lebih komprehensif. Pendekatan terstruktur program ini, yang menggabungkan instruksi formal dan kesempatan praktik membantu siswa mengembangkan tidak hanya keterampilan berbahasa tetapi juga kesadaran budaya dan etika sosial. Implementasi Program Prasaja Sejati Program Prasaja Sejati di SD Negeri Bulukerto komprehensif, melibatkan seluruh elemen sekolah dalam proses pembelajaran. Kepala Sekolah Bapak Giyono menjelaskan landasan pelaksanaan program ini: "Kami tidak hanya fokus pada menekankan pada pemahaman nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa Jawa. Setiap Jumat pagi, seluruh warga sekolah, dari siswa hingga staf administrasi, diwajibkan menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi" (Wawancara, 10-9-2. Observasi lapangan menunjukkan bahwa implementasi program ini didukung dengan perangkat pembelajaran yang terstruktur, termasuk silabus khusus dan media pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Guru kelas 2 Ibu Arniyati, menjelaskan secara detail metode pembelajaran yang diterapkan dalam program: "Kami mengembangkan pendekatan bertingkat yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Untuk kelas rendah, fokus pembelajaran pada pengenalan Integrasi Program Sekolah. Yatmanto. Daryanti kosakata dasar dan ungkapan sederhana dalam bahasa Jawa. Sedangkan untuk kelas tinggi, kami mulai mengenalkan konsep unggah-ungguh dan praktik percakapan dalam berbagai konteks Mini silabus yang kami rancang mempertimbangkan aspek kognitif dan sosial-emosional siswa di setiap jenjang" (Wawancara, 12-9-2. Observasi di kelas menunjukkan Di kelas 1, siswa diperkenalkan dengan kosakata dasar melalui lagu dan permainan tradisional. Guru kelas 1. Ibu Sri Wahyuni, menjelaskan: "Kami menggunakan dolanan anak dan tembang macapat untuk memperkenalkan bahasa Jawa kepada siswa. Metode ini sangat efektif karena siswa belajar sambil Misalnya, melalui permainan cublak-cublak suweng, siswa belajar kosakata dan nilai-nilai kebersamaan" (Wawancara, 13-9-2. Di kelas tinggi, pembelajaran lebih kompleks dengan penerapan role-play dan diskusi kelompok. Observasi di kelas 6 penggunaan bahasa Jawa dalam simulasi situasi sosial, seperti berkunjung ke rumah tetangga atau berbelanja di pasar tradisional. Guru kelas 6. Pak Vilar Pramisya, "Kami menciptakan skenario yang relevan dengan kehidupan sehari-hari Misalnya, siswa berperan sebagai pembeli dan penjual di pasar tradisional, atau sebagai tamu dan tuan rumah. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar bahasa tetapi juga memahami konteks sosial penggunaan bahasa Jawa" (Observasi Kelas, 14-9-2. Program ini juga didukung dengan kegiatan ekstrakurikuler yang memperkuat pembelajaran bahasa Jawa. Koordinator Ekstrakurikuler. Ibu Sindyana, menjelaskan: "Kami mengadakan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba pidato bahasa Jawa, festival dongeng, dan pentas Kegiatan ini memberikan mengaplikasikan kemampuan berbahasa Jawa mereka dalam konteks yang lebih luas" (Wawancara, 15-9-2. Evaluasi harian yang dilakukan guru menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan bahasa Jawa di kalangan siswa. Data observasi menunjukkan bahwa 85% siswa sudah mampu menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan tingkat tutur yang tepat dalam situasi formal di sekolah. Namun, tantangan masih ditemui terutama dalam penggunaan krama inggil, dimana beberapa siswa masih memerlukan bimbingan lebih intensif hal ini relevan dengan penelitian dari (Satiti, 2. Dampak Program terhadap Karakter Siswa Hasil observasi dan wawancara signifikan dalam karakter siswa melalui Program Prasaja Sejati. Perubahan ini terutama terlihat dalam aspek kesopanan dan pemahaman tata krama. Wali Kelas VI. Bapak Vilar Pramisya Adi Sara, mengamati perubahan perilaku siswanya: "Saya melihat perubahan yang sangat mendasar dalam cara siswa berinteraksi. Mereka tidak hanya menggunakan bahasa Jawa dengan tepat, tetapi juga menunjukkan sikap yang lebih santun. Misalnya, sekarang mereka terbiasa menggunakan 'nuwun sewu' sebelum bertanya dan 'matur nuwun' setelah menerima bantuan. Bahkan saat istirahat, mereka mulai terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama ketika berbicara dengan guru" (Wawancara, 15-9-2. Data observasi kelas selama satu signifikan dalam penggunaan bahasa Jawa yang tepat. Guru PJOK sebagai Guru BK. Bapak Dika, mencatat dalam laporan "Pada awal program, hanya 30% siswa yang mampu menggunakan bahasa Jawa krama dengan tepat. Setelah enam bulan pelaksanaan program, jumlah ini meningkat menjadi 75%. Yang lebih penting, kami melihat penurunan Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 signifikan dalam kasus kenakalan siswa dan pelanggaran tata tertib sekolah" (Dokumen Evaluasi Program. September Perubahan karakter juga terlihat dalam interaksi siswa di luar sekolah. Seorang penjual kantin. Ibu Yatmi, memberikan testimoninya: "Sekarang anak-anak lebih sopan saat membeli jajan. Mereka menggunakan bahasa Jawa krama dan selalu mengucapkan terima kasih. Bahkan beberapa siswa sering membantu membereskan tempat jualan tanpa Ini perubahan yang sangat tahun-tahun sebelumnya" (Wawancara, 18-9-2. Pengamatan di lingkungan sekolah juga menunjukkan peningkatan kesadaran siswa terhadap hierarki sosial dan Koordinator Program. Pak Hanif, "Kami melihat siswa mulai memahami konsep 'empan papan' - kemampuan untuk menyesuaikan perilaku dan bahasa sesuai konteks. Misalnya, mereka menggunakan ngoko saat berbicara dengan teman sebaya, tapi secara otomatis beralih ke krama saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Ini menunjukkan pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai budaya Jawa" (FGD, 20-9-2. Aspek penting lainnya adalah peningkatan rasa percaya diri siswa dalam Kompetensi penting dalam pengajaran bahasa Inggris, keterampilan berbahasa dan kepercayaan diri siswa dalam mengekspresikan budaya mereka (Makhmudov, 2. Guru kelas 4. Ibu Nuril Mutoharoh, mencatat: "Siswa berpartisipasi dalam kegiatan budaya. Dalam festival budaya tahunan kemarin, jumlah siswa yang mendaftar untuk lomba pidato bahasa Jawa meningkat 50% dibanding tahun lalu. Mereka tidak lagi malu menggunakan bahasa Jawa di depan umum" (Wawancara, 22-9-2. Dampak program juga tercermin dalam prestasi akademik siswa. Data nilai mata pelajaran Bahasa Jawa menunjukkan peningkatan rata-rata dari 75 menjadi 85 dalam satu semester. Lebih penting lagi, siswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang filosofi dan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa Jawa, seperti tercermin dalam tugas-tugas reflektif Kolaborasi dengan Orang Tua dan Masyarakat Keberhasilan Program Prasaja Sejati tidak terlepas dari peran aktif orang tua dan Observasi wawancara menunjukkan adanya sistem kolaborasi yang terstruktur antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Menurut (Epstein. Gomila dkk. , 2. Kemitraan sekolah dan keluarga dapat meningkatkan prestasi siswa dan memupuk hubungan positif antara guru dan orang tua, yang mengarah pada hubungan sekolah-keluarga yang lebih baik. Koordinator Program. Ibu Arniyati, menjelaskan strategi pelibatan pemangku kepentingan: "Kami membangun sistem komunikasi dua arah yang efektif. Setiap bulan kami mengadakan pertemuan rutin dengan orang tua dan tokoh masyarakat untuk mengevaluasi perkembangan program. Kami juga membentuk grup WhatsApp khusus untuk berbagi informasi dan tips penggunaan bahasa Jawa di rumah. Respon orang tua sangat positif, mereka mendukung program ini" (Wawancara, 18-9-2. Keterlibatan orang tua diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan. Bapak Suyanto, ketua Komite/paguyuban orang tua, menjelaskan: "Kami membuat jadwal rutin dimana orang tua secara bergiliran menjadi narasumber di kelas. Misalnya, minggu lalu saya berbagi pengalaman tentang Integrasi Program Sekolah. Yatmanto. Daryanti tradisi slametan dalam bahasa Jawa. Anak-anak sangat antusias karena bisa belajar langsung dari pengalaman nyata. Kami juga membuat buku penghubung khusus untuk memantau penggunaan Jawa (Wawancara, 20-9-2. Data menunjukkan peningkatan partisipasi orang tua dari waktu ke waktu. Kepala Sekolah "Pada awal program, tingkat kehadiran orang tua dalam pertemuan bulanan hanya sekitar 45%. Setelah enam bulan, angka ini meningkat menjadi 85%. Lebih penting lagi, 90% orang tua melaporkan bahwa mereka sekarang lebih sering menggunakan bahasa Jawa di rumah" (Dokumen Evaluasi Program. September Kolaborasi dengan masyarakat juga menunjukkan hasil positif. Pak Sri Haryana, ketua paguyuban budaya setempat, berbagi "Setiap bulan kami mengadakan pentas wayang edukasi di sekolah. Kami menggunakan media wayang untuk mengajarkan nilai-nilai budaya dan bahasa Jawa. Yang menarik, beberapa siswa sekarang mulai tertarik belajar menjadi dalang cilik. Ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya tentang bahasa, tetapi juga melestarikan budaya secara lebih luas" (FGD, 22-9-2. Program ini juga melibatkan tokoh masyarakat dalam kegiatan pembelajaran. Guru kelas 6. Bapak Vilar, menjelaskan: "Kami rutin mengundang sesepuh desa untuk berbagi cerita dan pengalaman dalam bahasa Jawa. Minggu lalu. Mbah Harjo menceritakan sejarah desa dalam bahasa Jawa krama. Siswa tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mengenal sejarah lokal mereka. Respons siswa sangat positif, mereka mengajukan bahasa Jawa" (Observasi Kelas, 25-92. Evaluasi program menunjukkan dampak positif dari kolaborasi ini terhadap lingkungan belajar siswa. Data survei peningkatan penggunaan bahasa Jawa di rumah 75% siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan budaya di masyarakat 90% guru melaporkan peningkatan dukungan orang tua dalam program Evaluasi dan Perbaikan Program Evaluasi program dilaksanakan secara sistematis dengan melibatkan berbagai instrumen pengumpulan data dan analisis Tim evaluator program, yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Bapak Giyono, menerapkan sistem monitoring "Kami mengembangkan sistem evaluasi bertingkat yang dilakukan secara mingguan, bulanan, dan semester. Setiap guru kelas memiliki jurnal observasi harian untuk mencatat perkembangan penggunaan bahasa Jawa siswa. Data ini kemudian dianalisis dalam rapat bulanan untuk mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan" (Wawancara, 22-9-2. Hasil evaluasi semester pertama tahun 2024 mengungkapkan beberapa temuan penting. Koordinator Program. Pak Hadi, memaparkan: "Dari observasi kelas, kami menemukan bahwa 65% siswa masih kesulitan dalam penggunaan krama inggil, terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih Kesulitan utama terletak pada pemilihan kosakata yang tepat sesuai konteks sosial. Selain itu, 40% siswa mengalami kesulitan dalam memahami teks berbahasa Jawa yang kompleks" (Dokumen Evaluasi Program. September Berdasarkan temuan tersebut, tim pengembang program melakukan beberapa Guru Kelas 2. Ibu Arniyati, menjelaskan inovasi yang diterapkan: "Kami Jurnal JARLITBANG Pendidikan. Volume 11 Nomor 1 CJuni 2025 pembelajaran Misalnya, kami membuat video pembelajaran yang menampilkan situasi penggunaan bahasa Jawa dalam konteks sehari-hari. Kami juga membuat kamus digital yang memudahkan siswa mencari padanan kata dalam berbagai tingkatan bahasa Jawa" (Wawancara, 249-2. Data monitoring setelah implementasi Peningkatan penggunaan krama inggil dari 35% menjadi 75% Peningkatan berbahasa Jawa dari 60% menjadi Peningkatan partisipasi aktif dalam diskusi berbahasa Jawa dari 45% menjadi 80% Evaluasi kebutuhan pengembangan kompetensi guru. Hal ini relevan dengen penelitian dari (Rattiya dkk. , 2. yang menyatakan guru memerlukan pengembangan kompetensi fungsional, dengan indeks kebutuhan prioritas 0,336 hingga 0,416. Kepala Sekolah menindaklanjuti dengan program pelatihan khusus: "Kami menyelenggarakan workshop kemampuan guru dalam mengajarkan bahasa Jawa. Kami juga mengundang pakar bahasa dari universitas setempat Hasilnya, guru menjadi lebih percaya diri dalam mengintegrasikan bahasa Jawa dalam pembelajaran" (Wawancara, 26-92. Aspek penting lainnya adalah evaluasi keterlibatan orang tua. Survei kepada orang tua menunjukkan: 85% mendukung program ini secara penggunaan bahasa Jawa di rumah 65% meminta tambahan panduan untuk mendampingi anak belajar bahasa Jawa Berdasarkan masukan ini, tim program mengembangkan buku panduan untuk orang tua dan mengadakan pertemuan rutin untuk berbagi strategi pembelajaran bahasa Jawa di rumah. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Prasaja Sejati di SD Negeri 3 Bulukerto memberikan dampak positif terhadap kemampuan berbahasa Jawa peserta didik, khususnya dalam penggunaan bahasa Jawa kromo dalam interaksi seharihari di lingkungan sekolah maupun Pembiasaan berbahasa ini secara mengenali dan menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas mereka. Selain aspek linguistik, program ini juga terbukti efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai kesopanan dan etika komunikasi khas budaya Jawa. Melalui kegiatan rutin Jumat, mempraktikkan bahasa, tetapi juga belajar menghargai norma sosial dan sopan santun, yang merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter pelajar Pancasila. Keberhasilan program ini turut ditopang oleh kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Dukungan aktif dari semua pihak berbahasa dan memperluas jangkauan pengaruh program di luar kelas. Dengan pendekatan berbasis budaya lokal pembelajaran. Program Prasaja Sejati layak dijadikan model implementasi pendidikan karakter yang relevan di era modern. Program ini membuktikan bahwa pelestarian bahasa dan budaya lokal dapat berjalan seiring dengan penguatan karakter siswa, menjadikan mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran budaya, etika, dan identitas kebangsaan yang kuat. Integrasi Program Sekolah. Yatmanto. Daryanti DAFTAR PUSTAKA