Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Memaknai Gereja Diaklesial menurut Joas Adiprasetya sebagai Upaya Mencegah Kasus Bunuh Diri Nusli Sikia. Imanuel Omeb. Abraham Ataloc. Yosti Banid a,b,c,d Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Indonesia Timur di Makassar email: sikinusli@gmail. com, imanuelome4@gmail. com, abrahamatalo21@gmail. com, yostibani23@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 10 Maret 2024 Direvisi 21 Oktober 2024 Diterima 23 Oktober 2024 Terbit 30 Desember 2024 Kata kunci: Bunuh Diri Gereja Diaklesial Joas Adiprasetya Keywords: Suicide Diaclesial Church Joas Adiprasetya ABSTRAK Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri, hal ini terjadi karena berbagai faktor, faktor-faktor tersebut disebabkan oleh stres dengan lingkungan, putus cinta, masalah ekonomi, masalah keluarga. Dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan bunuh diri. Penulis juga menggunakan metode kualitatif deskriptif, salah satu metode memanfaatkan data kualitatif dan menggunakan literatur jurnal, buku, berita sebagai penguatan data. Penulisan artikel juga menggunakan teori Joas Adipraetya, gereja diaklesial sebagai upaya untuk menawarkan pencegahan bunuh diri. Hasil dari penelitian ini, penulis menemukan bahwa gereja diaklesial adalah pendekatan baru yang sangat relevan dalam upaya pencegahan bunuh diri dalam konteks dunia saat ini. Gereja diaklesial menawarkan gereja yang harus melampaui batas-batas, gereja yang ramah dan gereja yang seperti orang Samaria yang membantu orang tanpa memandang orang lain. ABSTRACT Suicide is an act that someone does to themselves, this happens due to various factors, these factors are caused by stress with the environment, broken love, economic problems, family problems. From the factors that can cause suicide. The author also uses a descriptive qualitative method, one method of utilizing qualitative data and using journal literature, books, news as data reinforcement. Writing the article also uses Joas Adipraetya's theory, the diaclesial church as an effort to offer suicide prevention. The results of this study, the author found that the diaclesial church is a new approach that is very relevant in efforts to prevent suicide in the context of today's world. The diaclesial church offers a church that must go beyond boundaries, a friendly church and a church like the Samaritan who helps people without looking at others. PENDAHULUAN Bunuh diri merupakan kasus yang sering kali kita dengar dan kita lihat bahkan bukan saja itu tetapi keluarga dekat kita yang melakukan hal tersebut, sehingga berita ini bukan saja kita dengar dari radio atau menonton berita di media televisi melainkan dari apa yang kita lihat secara langsung. Menurut data WHO (World Health Organizatio. memperkirakan bahwa Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 117 hampir setiap tahun angka kematian di dunia mencapai 800 ribu orang meninggal akibat tindakan dari bunuh diri, angka kematian tertinggi berkisar dari umur 15 tahun- 29 tahun. Sejak tahun 2000-2021 kematian yang dilakukan dengan bunuh diri menjadi mencapai 183 ribu kematian di seluruh dunia. Kasus ini juga merupakan suatu kondisi yang disayangkan karena usia kehidupannya yang seharusnya memiliki perkembangan yang meningkat, namun diakhirinya dengan yang tidak layak secara manusiawi. Jumlah angka bunuh diri menurut data kepolisian Negara RI pada bulan Januari-Agustus 2023 dikatakan meningkat dari tahun 2022 sebanyak 866 kasus bunuh diri. 2 Berdasarkan data pusat informasi kriminal nasional . kepolisian RI (Polr. , sampai pada bulan Oktober 2023 angka kasus bunuh diri mencapai 971 orang. 3 Belum lama ini pada pertengahan September dan Oktober 2024 kota Surabaya digegerkan dengan kasus bunuh diri dari 2 mahasiswa/i. Bunuh diri pertama seorang mahasiswi melompat dari lantai 22 gedung kampus sebuah universitas di Surabaya, dalam penyelidikan kepolisian bunuh diri tersebut di duga karena asmara cinta, kasus yang ke dua juga terjadi di salah satu kampus di Surabaya di mana seorang mahasiswa melompat dari lantai 12 sebuah kampus di Surabaya, dalam penyelidikan kepolisian belum mendapatkan kejelasan mengenai motif dari pada bunuh diri tersebut. 4 Dari beberapa data yang dicatat oleh penulis dapat dimengerti bahwa setiap tahun angka kasus bunuh diri terus meningkat dari tahun ke tahun. Perilaku bunuh diri sering terjadi pada anak yang menginjak usia remaja sampai pada Hal ini dikatakan karena pada saat menginjak usia remaja, masa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa setiap orang akan memiliki tanggung jawab yang lebih besar atas diri Sehingga bunuh diri disebabkan karena ketidakmampuan dalam menyelesaikan tugas perkembangan sesuai dengan tahapan usianya. 5 Menurut ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KMPAI) Seto Mulyadi mengatakan bahwa kasus bunuh diri yang terbanyak terjadi adalah karena stres. Kemudian Suditha yang mengutip Gading memandang kasus stres individu yang disebabkan oleh beberapa kasus yang meliputi: gejala psikologis, fisiologis dan gejala perilaku. 6 Akibat dari kasus stres adalah ketidaksanggupan dalam mengatasi persoalan hidup yang dialami oleh individu karena tidak ada dukungan dari lingkungan setempat atau masyarakat. Menurut American Educational Research Association 2013, intothelightid. AuTentang-Bunuh-Diri/Apa-Itu-Bunuh-Diri-Yang-Orang-Sering-TanyakanTentang-Bunuh-Diri/. , di akses 29 February 2024, https://w. org/tentang-bunuhdiri/apa-itu-bunuh-diri-yang-orang-sering-tanyakan-tentang-bunuh-diri/. 2 Deonisia Arlinta. AuCegah Bunuh Diri Dengan Kenali Tanda-Tandanya,Ay Kompas. Id. 3 Sasmito Madrim. AuKPAI: 12 Anak Bunuh Diri Sepanjang 2023,Ay di akses February 1, 2024, https://w. com/a/kpai-12-anak-bunuh-diri-sepanjang-2023/7373466. 4 Detik Jatim. AuSurabaya Digegerkan 2 Kasus Mahasiswa Bunuh Diri Dalam Sebulan. Ay 5 Laila Meiliyandrie Indah Wardani Gavina Tamara. Nanda Ayu Putri. Nabila Febriannisa. AuBunuh Diri Pada Usia Remaja Terus Meningkat. Mengapa Bisa Terjadi?,Ay https://buletin. org/index. php/arsip-artikel/857-bunuh-diri-pada-usia-remaja-terus-meningkat-mengapa-bisa-terjadi 7, no. 6 I Wayan Romi Suditha. AuPERILAKU BUNUH DIRI DI KALANGAN PELAJAR (Analisis Deskriptif Pemberitaan Bali Post Tahun 2006 Ae 2. ,Ay Jurnal IKA 8, no. , 29. 118 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. mengatakan bahwa salah satu masalah kesehatan terbesar pada kaum remaja adalah bullying yang dampaknya secara langsung dan memiliki jangka panjang dan memengaruhi perkembangan fungsi individu di seluruh rentang kehidupan. Berdasarkan penjelasan dan data yang dibahas di atas, maka bunuh diri sangat memiliki dampak negatif yang serius bagi kehidupan sekitar. Menurut Safari yang dikutip dari skripsi Johan bahwa dampak dari bunuh diri di kalangan masyarakat dapat memberikan sebuah trauma tersendiri bagi orang-orang sekitarnya, terlebihnya orang-orang terdekatnya yang dapat menimbulkan pemicu fitnah terhadap lingkungan sekitar, jika bunuh diri dilakukan di properti bangunan maka pelanggan akan cenderung menghindari dalam pembelian atau memberikan pinjaman karena akan merugikan pihak pemilik, memberikan sebuah pemahaman berbahaya atau pandangan yang negatif dan juga karena ingin lepas dari tanggung jawab hidupnya. 8 Selain itu dampak dari bunuh diri juga bisa menyebabkan sebuah pengalaman traumatis sendiri bagi orang lain apalagi keluarga yang mengalami hal tersebut, dari pengalaman traumatis tersebut dapat muncul stres, depresi dan dapat menghancurkan hubungan sebuah keluarga karena perselisihan dari memori ingatan tentang bunuh diri karena pertengkaran. Dalam kasus bunuh diri, ada beberapa daerah yang berpotensi angka bunuh diri tertinggi, berdasarkan data Pusiknas dan kepolisian RI tercatat 10 Provinsi tertinggi angka bunuh diri di Indonesia sampai pada tanggal 18 Oktober 2023. Provinsi Jawa Tengah berjumlah . Provinsi Jawa Timur . Bali . Provinsi Jawa Barat . Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta . Provinsi Sumatera Utara . Provinsi Lampung . Provinsi Sumatera barat . Provinsi Bengkulu . Provinsi Sulawesi Utara . Dari data ini menjadi urgensi bahwa Indonesia mengalami kenaikan dalam angka bunuh diri per tahun. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengambil sebuah contoh kasus yang menjadi sebuah analisis. Contoh kasus tersebut diambil dari kasus di Kupang NTT terjadi kasus bunuh diri yang di sebabkan karena Korban bunuh diri adalah seorang remaja yang berinisial YSS yang gantung diri di rumahnya sendiri. Dari sumber tersebut diberitakan bahwa akibat dari korban melakukan tindakan bunuh diri adalah karena korban tidak dapat membalas dendam kepada ayahnya yang telah membunuh ibunya. Sementara menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan bahwa akibat dari bunuh diri adalah mendapat bullying atau olok-olokan dari temannya karena korban sebagai anak pembunuh. 7 Desnawi dan Sri Ramdaniati Enie Novieastari. Kusman Ibrahim. AuDasar-Dasar Keperawatan: Edisi 9,Ay in Potter I Perry STOKERT I Hall (Singapore: Elsevier, 2. , 118. 8 Amelia Araminta Johan. AuFAKTOR PENYEBAB DAN DAMPAK PERILAKU BUNUH DIRI DI PEDESAAN (Studi Kasus Bunuh Diri Di Kecamatan Simpang Pematan. Ay (Universitas Bandar Lampung, 2. , 16-17 http://digilib. id/71682/3/3. SKRIPSI TANPA PEMBAHASAN. 9 Madrim. AuKPAI: 12 Anak Bunuh Diri Sepanjang 2023. Ay 10 Ibid. 11 Wahyu Nugroho. AuKasus Bunuh Diri Remaja Berinisial YSS Di Kupang. KPAI : Diduga Alami Bullying Teman Sekolah,Ay Tribunjogja. Com, 2019. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 119 Berdasarkan pada tulisan ini, penulis memberikan penawaran teori menggunakan teori Joas Adiprasetya tentang gereja Diaklesial. Gereja Diaklesial yang dimaksudkan Joas adalah gereja merupakan sebuah komunitas yang berjalan melampaui batas, berjalan melintasi rintangan, berjalan melewati sebuah batas-batas tertentu, gereja juga menjumpai orang miskin, tanpa harus memedulikan hal-hal yang bersifat religius di mana gereja diaklesial menyambut dan mengundang orang-orang yang rentan dan berdosa untuk melewati situasi traumatis mereka, itu artinya bahwa gereja harus melampaui orang-orang yang mengalami masa trauma. Dari pembahasan tersebut teori diaklesial digunakan untuk menjadi sebuah penawaran teori dalam mencegah kasus bunuh diri. Dalam penulisan tulisan ini, sudah ada tulisan yang lebih dulu mengkaji tentang bunuh diri di antaranya Rerung yang menjelaskan bahwa bunuh diri bukanlah kehendak bebas dan merupakan sebuah upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa tindakan bunuh diri merupakan sebuah urutan peristiwa yang mengantarnya untuk mengerti secara 13 Kemudian tulisan dari Biroli yang menjalankan tentang bunuh diri dalam perspektif sosiologi. Dalam tulisan ini. Biroli berusaha menjelaskan bagaimana terjadi bunuh diri dari perspektif sosiologi dan kaitannya bagi gereja saat ini. 14 Dari studi terdahulu tersebut, kemudian penulis menuliskan sebuah kebaruan dari tulisan ini yakni melihat bunuh dari sudut pandang Joas Adiprasetya dengan teori gereja diaklesial sebagai upaya untuk pencegahan bunuh diri yang marak terjadi. METODE Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu salah satu jenis metode yang memanfaatkan data kualitatif sejarah deskriptif. 15 Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan melihat teori dari pada Joas Adiprasetya sebagai upaya dalam pencegahan bunuh diri. Penelitian ini juga penulis melakukan penelitian secara pustaka dengan mengumpulkan data melalui sumber tertulis dari buku-buku online, ofline, jurnal, artikel yang berkaitan. 16 Gereja diaklesial yang dimaksudkan Joas Adiprasetia terkait pencegahan angka bunuh diri. Langkah-langkah yang dilakukan adalah fokus pada topik penelitian dengan mencari informasi dengan membaca tulisan-tulisan yang berkaitan dengan gereja diaklesial dan yang berkaitan dengan bunuh diri. Pembahasan dimulai dengan 12 Meitha Sartika. ECCLESIA IN VIA: Pengantara Eklesiologi Konstruktif (Jakarta: BPk Gunung Mulia, 2. 13 Alvary Exan Rerung. AuBunuh Diri Bukan Kehendak Bebas Perspektif Neurosains Dan Psikoanalisis Sigmund Freud,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja 2. No. https://ejournal. id/index. php/pambelum/article/view/76/62. 14 Alvin Bioli. AuBunuh Diri Dalam Perspektif Sosiologi,Ay Simularca 4, no. : 213Ae223. 15 Anugrah Ayu Sendari. AuMengenal Jenis Penelitian Deskriptif Kualitatif Pada Sebuah Tulisan Ilmiah,Ay Liputan 6. Com. 16 Iwan Setiawana, dkk AuPeranan Roh Kudus dalam Perspektif Tulisan Paulus,Ay Skenoo : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 1, no. : 37Ae50. 120 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. konsep bunuh diri, kemudian gereja diaklesial menurut Joas Adiprasetya, lalu melihat refleksi gereja diaklesial terhadap bunuh diri. HASIL DAN PEMBAHASAN Bunuh Diri Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bunuh diri mempunyai definisi tersendiri yakni bunuh diri adalah tindakan mematikan diri sendiri. Bunuh diri atau disebut suicide yang berarti tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup sendiri. Menurut pandangan Gamayanti tindakan bunuh diri adalah sebuah tindakan yang menyebabkan kematian, yang disengaja, dilakukan oleh si pelaku yang menganggap tindakannya sebagai jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalahnya. 17 Pemahaman senada juga tidak dijelaskan secara jelas dalam kitab suci tentang arti kata bunuh diri melainkan hanya ada dijelaskan dalam Keluaran 20:13, dan Ulangan 5:17 tentang hukum Taurat, penjelasan tersebut terkait arti jangan membunuh. Jika kita melihat dari tindakan bunuh diri sesuai dengan definisi di atas maka dapat kita pahami bahwa itu merupakan sebuah tindakan yang sadar. Oleh karena itu jika dikaji dalam perspektif biblika maka hal ini memang salah dan melanggar dan menyangkal otoritas Allah tentang sebuah eksistensi kepemilikan Allah. Bunuh diri adalah suatu tindakan kematian yang dilakukan secara sengaja dengan keadaan sadar oleh seseorang atau kelompok pada dirinya sendiri maupun kelompok yang menganggap tindakan ini dapat menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Bunuh diri juga merupakan tindakan oleh seseorang atau sekelompok tertentu untuk mengakhiri kehidupannya hal ini karena mendapat pengaruh dalam diri individu ketika adanya interaksi dengan kehidupan sosial yang ada dalam lingkungannya. Pandangan dari Durkem tentang analisis sosial di bagi dalam empat poin penting. Egoistik Suicide Merupakan bunuh diri yang terjadi karena kurangnya interaksi sosial. Ketika kurangnya komunikasi antara seseorang dengan keluarga atau masyarakat dapat menimbulkan tingkatan individualis sehingga jiwanya bersifat apatis. Bunuh diri egoistik terjadi karena setiap individu-individu tidak bisa berbaur dengan lingkungan sekitarnya, hal ini mengakibatkan lemahnya solidaritas karena kurangnya adaptasi dengan lingkungannya dan juga individu-individu berjalan dengan sendirinya tanpa kebersamaan dengan orang lain. 17 Witrin Gamayantib. AuUsaha Bunuh Diri Berdasarkan Teori Ekologi Bronfenbrenner,Ay jurnal ilmu pisikologi. Volume 1. No. : 204Ae230. 18 Dapot Nainggolan. AuKajian Teologis Terhadap Tindakan Bunuh Diri,Ay Sokolah Tinggi Pelita Dunia Volume 7. No. : 20Ae35. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 121 Altruism Suicide Merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya integrasi yang terlalu kuat. Dalam tipe ini ketika kuatnya jiwa solidaritas maka keinginan-keinginan dari lingkungannya akan Hal ini karena tingginya tingkat persaudaraan antara sesama menjadi hal yang penting, individu-individu merasa terlampaui akan integrasi sosial atau lingkungan yang lebih tinggi menguasai setiap diri individu. Sebagai contoh pada bom bunuh diri di mana ideologi dalam dirinya sudah terdoktrin untuk ikut dalam melakukan ajaran yang harus dijalankan dan juga contoh dalam kebudayaan-kebudayaan kuno di mana ketika suaminya meninggal, istrinya akan dibunuh juga kemudian berdua akan di kuburkan bersama-sama. Tipe ini merujuk kepada ketaatan individu kepada kelompoknya. Anomie Suicide Merupakan pandangan sosiologi di mana muncul dari pada adanya pengaturan dan aspirasi individu di mana. Tipe bunuh diri ini mencerminkan kebingungan setiap individu dalam menjalankan tujuan hidupnya karena kurangnya arah sosial yang berkaitan dengan pergolakan sosial ekonomi yang dramatis. Fatalistic Suicide Tipe bunuh diri terjadi karena meningkatnya aturan-aturan yang meningkat pada kehidupan sosial. Sehingga hal ini membatasi gerak masyarakat, yang tidak berbuat apa-apa demikian hanya memiliki caesarean dalam masyarakat karena dibatasi oleh norma-norma yang berlaku. 19 Maka dari itu bunuh diri yang dikemukakan berdasarkan beberapa analisis yang disampaikan oleh Durkhem sangat menolong penulis untuk memahami apa itu bunuh diri serta penyebab dari terjadinya bunuh diri, dalam penjelasan tersebut bahwa pengertian bunuh diri terjadi karena kurang dan lebihnya integrasi sosial serta kurang dan lebihnya norma atau aturan yang berlaku dalam kehidupan individu di sekitar lingkungannya, sehingga terjadi ketidak-kontrolan individu pada dirinya. Upaya yang dilakukan adalah ketika adanya keseimbangan antara integrasi dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Gereja Diaklesial menurut Joas Adiprasetya Gereja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti rumah tempat beribadah kepada Tuhan. Kemudian jika kita melihat arti kata gereja sebenarnya berasal dari bahasa Portugis AuigrejaAy, dalam Bahasa Latin di sebut AuEcclesiaAy kemudian dalam bahasa Yunani AuEkklesiaAy yang berarti merujuk kepada satu perkumpulan, pertemuan, rapat, sehingga jika kita melihat secara dalam gereja dapat dimengerti bukan tempat pertemuan sembarangan melainkan gereja adalah kelompok orang-orang kudus yang dipanggil Tuhan 19 Riski fitryasari dan Dian Tristian p Jatmiko Ipung. AuAnalisis Faktor Peyebab Ide Bunuh Diri Pada Remaja: Literatur Review,Ay jurnal ilmu keperawatan jiwa volume 4. No. : 368Ae371. 122 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. untuk bersekutu. 21 Abineno juga menjelaskan bahwa gereja identik dengan gedung atau tempat peribadatan. Gereja juga mengandung makna kehadiran Allah. 22 Pandagan yang sama juga dari Rachman bahwa gereja memang bukan gedungnya tetapi gereja ada hal terpenting dalam umat beribadah. 23 Jika demikian gereja bisa kita pahami sebagai tempat beribadah kemudian bisa juga kita pahami sebagai orangnya. Gereja juga hadir untuk mewartakan tentang sebuah kebenaran, tentang Kristus. 24 Sugianto juga menyatakan bahwa Gereja yang merupakan Bait Allah memiliki keharusan untuk senantiasa memproklamasikan berita baik dari Allah tentang keselamatan di dalam Kristus Yesus. Joas Adiprasetya adalah seorang dosen Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta (STFT Jakart. , selain dosen ia juga merupakan seorang pendeta jemaat GKI Pondok Indah Jakarta,26 selain itu juga aktif dalam penulisan buku-buku dan ada beberapa karya-karyanya yang sampai hari ini dapat dibaca semua orang terutama kepada yang bergelut dalam dunia Menurutnya, diaklesial adalah teori yang melihat gereja harus melampaui batas-batas. Kehidupan bergereja saat ini kita sulit menemukan sebuah gerakan misi yang melampaui gereja di dalam dunia. Kemudian dijelaskan lagi bahwa gereja itu bersih dan dunia itu kotor. Gereja identik dengan keselamatan, dunia identik dengan kebinasaan. Ketika asumsi ini muncul Joas Adiprasetya mencoba untuk melihat apa yang menjadi latar belakang asumsi tersebut bisa. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa asumsi terkait gereja dan dunia muncul dari kata Ekklesia yang berarti dipanggil keluar, hal ini inilah yang memunculkan asumsi konsep yang ada bahwa orang di dalam gereja adalah baik dan tidak berdosa sedangkan dunia adalah kumpulan orang-orang berdosa. Dalam pandangan ini gereja itu harus melampaui batas dimana gereja bukan hanya ada di dunia dan melihat dunia itu kotor tetapi gereja harus melampaui batas tersebut. Gereja yang Melampaui Batas-batas Gereja yang dimaksud melampaui batas-batas adalah identitas gereja yang lebih luas dan mencetuskan neologisme baru, yaitu diaklesial. Gagasan ini digagas dengan didampingi oleh kata ekklesia dan diakonia, yang keduanya memungkinkan agar gereja tetap bersikap 21 iman katolik Konferensi waligereja Indonesia. Buku Informasi Dan Referensi (Kanisius: BPk Gunung Mulia, 2. 22 J. Ch. Abineno. Ibadah Jemaat Dalam Abad- Abad Pertama (Jakarta: BPk Gunung Mulia, 23 Rasid Rahman. AuMengisahkan Sejarah Ziarah Exodus Melalui Eksterior Bangunan Gereja,Ay jurnal teologi dan pendidikan Kristen kontekstual Volume 4. No. : 183Ae209. 24 Areyne Christia. AuPrinsip Scola Scriptura Dalam Berpikir Sebagai Leader,Ay Skenoo : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 4, no. : 103Ae116. 25 Edi Sugianto. AuPerspektif Wawasan Dunia Kristen Terhadap Tabernakel ( Tempat Kudus Allah ) Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya,Ay Jurnal Teologi Injili 4, no. : 29Ae47, https://jurnal. id/index. php/jti/article/view/68. 26 Sartika. ECCLESIA IN VIA: Pengantara Eklesiologi Konstruktif. 27 Sartika. ECCLESIA IN VIA: PengantarEklesiologi Konstruktif. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 123 netral. Diaklesial yang dimaksudkan tidak untuk menggeser atau menggantikan kata ekklesia melainkan ke dua hal ini harus berjalan bersama sehingga digagas dalam sebuah teori yakni Augereja adalah diaklesial dalam artian bahwa gereja adalah satu komunitas yang melewati atau melampaui semua rintangan. Diaklesial yang dimaksud juga menawarkan sebuah keterbukaan yang beresiko dan mampu melewati batas-batas yang dijumpai oleh orang miskin, tanpa mempedulikan tradisi yang dimiliki. Selain itu diaklesial juga mendekati, menyambut dan mengundang orang-orang yang rentan dan berdosa untuk menyeberangi situasi traumatis merekaAy. Diaklesial yang dimaksud adalah agar kita dapat melihat orang lain yang rentan, berdosa sebagai objek untuk perlu dirangkul, gereja harus terbuka dan menjadi tempat untuk semua orang, gereja juga harus keluar dari lokusnya untuk menjangkau orang-orang dianggap kotor, rentan dan berdosa dari hal ini lah gereja dapat melewati batas-batas yang Selain itu, diaklesial juga adalah gereja yang melihat Kristus sebagai sahabat, hamba dan Hal ini kemudian memuat bahwa gereja harus melampaui batas dan harus bergaul dengan siapapun dan melampaui batas kultural. Gereja harus menghadirkan tanda-tanda kehadiran Allah. Gereja juga harus menjadi tamu yang berarti bahwa gereja juga harus mengunjungi sesama demi kesatuan jemaat. Gereja sebagai Pandocheion Pandocheion pada awalnya berasal dari kata pondok kemudian dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab funduq yang mengabarkan praktik keterbukaan. Penjelasan mengenai gereja sebagai pandocheion tersebut mengandung arti bahwa gereja digambarkan sebagai sebuah rumah penginapan hal ini diambil dari kisah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-. , kemudian Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) membaginya dalam tiga bagian penting yang pertama menekankan 3 sikap radikal untuk menyambut semua orang. Kemudian yang kedua bersifat keramahtamahan radikal melalui kehadiran rumah penginapan sebagai ruang terbuka yang ketiga adalah watak keterbukaan. 29 Oleh sebab itu gereja seharunya menunjukkan ruang terbuka sebagai keramahtamahan di mana gereja hadir di dunia bukan sebagai penyembuh melainkan gereja berjalan bersama dalam proses Gereja yang Ramah Gereja yang ramah adalah gereja yang menerima perbedaan, mengasihi orang lain seperti dirinya sendiri. Tetapi yang menjadi menarik dari gereja diaklesial atau gereja yang ramah menurut Joas Adiprasetya adalah gereja yang mengasihi melampaui batas -batas yakni sampai pada mengasihi orang asing, keramahtamahan juga disampaikan bahwa bukan saja pelayanan kepada orang asing melainkan pelayanan bersama mereka. 30 Hal inilah yang 28 Sartika. ECCLESIA IN VIA: Pengantara Eklesiologi Konstruktif. 29 Ibid. 30 Ibid. 124 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. dimaksudkan bahwa gereja melampaui batas termasuk batas dari keramahan gereja. Bintoen dan Sugianto menegaskan bahwa gereja perlu meneladani kenosis Kristus yang memperhatikan umat-Nya dengan hadir ke dalam dunia. Refleksi Gereja Diaklesial terhadap Pencegahan Bunuh Diri Dalam realitas kehidupan bergereja, gereja dapat kita pahami sebagai tempat beribadah dan juga dapat kita pahami sebagai umat, pemahaman ini senada seperti apa yang sudah disampaikan oleh Abineno dan Rachman bahwa memang gereja adalah umat tetapi identik dengan gedung sehingga seringkali umat memahami bahwa gereja adalah gedungnya dari pada memahami bahwa gereja adalah orang-orang yang berada dalam Gedung tersebut. Gereja yang disampaikan demikian berkaitan erat dengan tindakan dalam bergereja, kemudian dari tindakan itu maka dapat disampaikan bahwa gereja harus berdampak dan bergerak sehingga dapat melampaui batas itu. Gereja diaklesial yang dirumuskan oleh Joas Adiprasetya untuk melampaui apa yang dimaksud gereja bukan berarti menghilangkan makna gereja. Menarik dari gereja diaklesial adalah gereja yang melampaui batas-batas gereja yang mampu menyampaikan hal yang tidak dilihat oleh dunia dapat disampaikan oleh gereja, hal ini kemudian dirumuskan gereja yang dimaksud dari Joas Adiprasetya menolong kita untuk memahami dan mengerti bagaimana cara mencegah bunuh diri dari perspektif gereja Gereja harus Merangkul dan Terbuka Gereja yang merangkul dan terbuka merupakan sebuah tawaran gereja diaklesial untuk mencegah bunuh diri, hal ini dilakukan dengan melihat bahwa gereja harus melampaui batas-batas dan batas-batas tersebut yang dimaksud oleh gereja adalah gereja harus menunjukkan keberadaan Kristus dalam tiga konsep yakni gereja menjadi sahabat, hamba dan tamu. Gereja menjadi sahabat artinya bahwa dalam relasi manusia, gereja harus memandang semua itu sama rangkulan kasih sayang dari gereja harus benar-benar tercermin terhadap semua orang tanpa melihat dan memandang rendah orang yang berbeda suku, ras dan budaya serta agama. Hal kedua gereja sebagai hamba, konsep gereja sebagai hamba ini adalah bagaimana gereja selain melampaui batas kultural gereja juga harus menunjukkan tanda rahmat Allah dan membagikannya kepada semua orang agar setiap orang dapat terangkul dan merasakan kehadiran gereja itu sendiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Sugianto bahwa gereja baik secara individu ataupun komunal perlu memberitakan karya Allah yang dahsyat melalui perkataan maupun tindakan kepada orang lain, sehingga nama 31 Meriani Bintoen. AuKajian Teologis Konsep Kenosis Dan Implikasinya Terhadap Penempatan Pendeta Di Gereja Toraja Mamasa,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 3, no. 1Ae12, https://journal. id/skenoo/article/view/42/33. Edi Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang PercayaAy (STT Tabernakel Indonesia. Surabaya, 2. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 125 Allah semakin dimuliakan. 32 Kemudian ketiga gereja menjadi tamu mengandung sebuah pengertian bahwa gereja bukan menjadi tuan rumah melainkan dalam realitas kehidupan gereja harus menjadi orang asing yang mengunjungi sesama di dunia yang rapuh dan berbeban berat untuk melewati perjalanan kehidupan ini. Gereja sebagai Penyembuh yang Terluka Gereja harus menjadi penyembuh yang terluka, hal ini dikisahkan dari kisah orang Samaria yang baik hati. Dalam kisah tersebut ada dua inti pokok penting yakni rumah tempat penginapan dan orang Samaria yang baik hati, kedua ini saling berkaitan erat, oleh karena itu Gereja diaklesial hendak mengajak kita semua bahwa dalam pencegahan kasus bunuh diri yang marak terjadi gereja harus mampu menjadi penyembuh yang terluka di mana gereja harus mempunyai sikap keterbukaan yang radikal terhadap semua orang dan mempunyai sikap keramahtamahan terhadap semua orang. Selain itu gereja juga perlu melihat orangorang yang terluka dan dapat menyembuhkan mereka sebagaimana dalam kisah perumpamaan tentang orang Samaria yang membawa sesamanya ke penginapan tanpa mengenal siapa yang membawa dan siapa yang menolong. Sebab itu gereja perlu untuk memiliki watak yang terbuka serta merangkul yang terluka, mengobati serta memberikan Hal tersebut dilakukan agar orang-orang yang terluka berjalan bersama gereja dalam penyembuhan. Keramahtamahan Gereja Diaklesial hendak mengajak kita semua untuk masuk dalam suatu zona yakni gereja yang ramah terhadap semua orang. Gereja yang ramah terhadap semua orang mempunyai konotasi bahwa gereja yang harus melampaui batas-batas yang ada. Dalam artian bahwa gereja harus bisa menerima orang asing. Orang asing yang dimaksudkan adalah orang-orang yang rentan berdosa yang baginya tidak pantas berada dalam gereja. Dalam tataran inilah gereja menjadi ramah dan merangkul mereka-mereka yang jauh dari gereja termasuk orangorang yang mengalami traumatis. Gereja yang ramah juga berarti gereja yang merangkul dan menjemput serta memberikan sebuah kenyamanan kepada orang yang terluka, sehingga dari pada itu gereja bukan saja bercerita tentang sebuah pelayanan melainkan gereja yang berpelayanan bersama orang-orang. KESIMPULAN Bunuh diri menjadi masalah yang serius, sebab bukan dilakukan oleh orang lain melainkan diri sendiri. Tindakan tersebut disebabkan oleh berbagai aspek dari tekanan psikologis masalah internal ataupun eksternal. Penelitian ini menunjukkan bahwa makna dari teori gereja diaklesial menurut Joas Adiprasetia dapat dijadikan upaya dalam mencegah praktik bunuh diri. Gereja diaklesial adalah gereja yang melampaui batas-batas, pandocheion 32 Edi Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMemberitakanAo Dalam Surat 1 Petrus 2:9-10 Dan Implikasinya Bagi Kaum Muda & Remaja Gereja Pantekosta Tabernakel AoKristus AjaibAo SurabayaAy (Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia, 2. , 133Ae134. 126 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. , dan ramah. Sehingga pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah praktik bunuh diri berdasarkan teori gereja diaklesial adalah gereja harus merangkul dan terbuka dengan jemaat atau umat yang membutuhkan. Selanjutnya, gereja dapat berperan sebagai penyembuh yang terluka, serta gereja memiliki keramahtamahan kepada umat atau mereka yang membutuhkan. Pencegahan tersebut adalah sebuah pendekatan gereja diaklesial sebagai upaya yang baru. Dengan kata lain, gereja diaklesial bukan saja sebagai tempat berkumpul orang-orang percaya untuk melakukan ritual ibadah, melainkan pendekatan terhadap orang-orang yang mengalami masa-masa traumatis dan yang mengalami masalah dalam hidupnya. Pendekatan ini dilakukan agar dapat mencegah angka kasus bunuh diri yang marak terjadi di kalangan masyarakat. Daftar Pustaka