FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA YANG BERKUNJUNG DI PUSKESMAS BATUA MAKASSAR Rachmat Ramli Prodi Pendidikan Profesi Ners, rachmatpawelloi@gmail. STIKES Amanah Makassar ABSTRACT Acute Respiratory Infections (ARI) are upper and lower respiratory infections caused by infection or According to WHO . , 40%-60% of the world's under-five population experience ARI. ARI occurs due to many factors, including LBW. Nutritional Status. Immunization Status, and Residential Density. This study aimed to determine whether there was a relationship between these factors and the incidence of ARI at the Batua Makassar Health Center. The design of this study used an analytical survey with a crosectional design. The research sample consisted of 90 children under five with a simple random sampling technique, and the measuring instruments used were questionnaires and KMS. Data analysis using chisquare test. The results of the study using the chi-square test obtained a value of P = 0. 049 (LBW). P = 0. utritional statu. P = 0. esearch statu. P = 0. ensity of residenc. because the -value = <0. then Ha is accepted, it means that there is a relationship of several factors to the incidence of ARI in toddlers at the Batua Makassar Health Center. From the results of this study, it can be said that the condition of LBW, nutritional status, immunization status, and density of residence has a significant relationship. Families are expected to add information by actively participating in activities carried out by health workers on reducing factors that can cause ARI in toddlers. Keywords: Age Influencing factors. ARI. Toddler. Cross-Sectional. Chi-Square ABSTRAK Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi atau bakteri. Menurut WHO . 40%-60% dari penduduk balita di dunia mengalami ISPA. ISPA sendiri terjadi karena banyak faktor antara lain faktor BBLR. Status Gizi. Status Imunisasi, dan Kepadatan Tempat Tinggal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor tersebut dengan kejadian ISPA di Puskesmas Batua Makassar. Desain penelitian ini menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 90 balita dengan teknik sampling simple random sampling dan alat ukur yang digunakan adalah kuisioner dan KMS. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian dengan uji chi square diperoleh nilai P=0,049 (BBLR). P=0,013 . tatus giz. P=0,000 . tatus imunisas. P=0,001 . epadatan tempat tingga. , karena niai A-value = <0,05 maka Ha diterima, berarti ada hubungan dari beberapa faktor terhadap kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi BBLR, status gizi, status imunisasi, kepadatan tempat tinggal mempunyai hubungan yang bermakna. Diharapkan keluarga menambah informasi dengan berparisipasi aktif dengan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tentang cara mengurangi faktor-faktor yang dapat menyebabkan ISPA pada balita. Kata Kunci: Faktor yang mempengaruhi. ISPA. Balita. Cross Sectional. Chi Square PENDAHULUAN Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri ,virus ,maupun riketsia, tanpa atau disertai radang parenkim paru. Terjadinya infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dipengaruhi oleh tiga hal yaitu adanya kuman . erdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus, dan riketsi. , keadaan daya tahan tubuh . tatus nutrisi, imunisas. dan keadaan lingkungan . umah yang kurang ventilasi , lembab, basah, dan kepadatan penghuni. Received Februari 13, 2022. Revised maret 2, 2022. Accepted april 22, 2022 JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 Balita merupakan individu atau sekelompok individu dari suatu penduduk yang berada dalam rentan usia tertentu. Usia balita dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu golongan usia bayi . -2 tahu. , golongan balita . -3 tahu. , golongan prasekolah (>3-5 tahu. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2019. Penyakit ISPA adalah penyakit yang paling sering menyebabkan kematian pada anak balita, sehingga ISPA masih merupakan penyakit yang mengakibatakan kematian cukup tinggi, kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh pneumonia. Sebagai kelompok penyakit . ISPA juga merupakan penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan yakni sebanyak 1,9 juta balita diseluruh dunia meninggal karena ISPA, 70 % terjadi pada balita umur 1-4 tahun di Negara Afrika dan Asia Tenggara. Dari kunjungan berobat di puskesmas maupun rumah sakit dan 15%-30% kunjungan berobat di rumah sakit. Gejala yang sering dijumpai adalah batuk, pilek, dan kesukaran bernafas yang dapat menimbulkan akibat kematian. ISPA dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu ISPA atas dan ISPA bawah. ISPA terdiri beberapa faktor antara lain faktor lingkungan faktor individu anak serta faktor perilaku. The National Centre for Health Statistic memperkirakan bahwa dengan jumlah kasus ISPA pada balita pada tahun 2018 di Indonesia sejumlah 86. Penderita ISPA pada balita umur 1-4 tahun di Indonesia pada akhir tahun 2018 terdapat sebanyak 89 diantara 1000 balita, setiap tahun sebanyak 150. 000 balita meninggal 500 korban perbulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak perjam atau seorang balita tiap lima menit. Sedangkan data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan RI pada tahun 2019 dilihat dari data 10 besar penyakit pada balita yang rawat jalan di Rumah Sakit maupun Puskesmas di indonesia, menempatkan Infeksi Saluran Pernapasan bagian atas pada urutan pertama dengan total kasus sebanyak 488. 786 balita umur 1-4 tahun, sedangkan pada balita yang dirawat inap di Rumah Sakit maupun Puskesmas di Indonesia menempati urutan ke-7 dengan total kasus 36. 048 balita yang menderita ISPA. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Daerah (RESIKDES) Pada tahun 2019, presentase kasus ISPA pada balita meningkat dimana pada tahun 2017 prevalensinya 13,3% naik menjadi 24,7% pada tahun 2019. Kateristik penduduk dengan ISPA tertinggi pada balita dan anak usia 14 tahun dengan prevalensi 23,8% dari seluruh kasus ISPA di Indonesia pada rentang waktu tersebut. Dan berdasarkan studi pendahuluan di peroleh data pada periode September 2020 angka kejadian ISPA terdapat di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa Kota Makassar menempati posisi teratas dengan jumlah 15367 kasus. ISPA dapat disebabkan oleh kuman dan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh sendiri terdiri dari beberapa faktor antara lain keadaan gizi, keadaan kekebalan, keadaan lingkungan dan pengetahuan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya ISPA salah satunya ialah ventilasi ISPA sendiri dapat menyebabkan radang paru . yang bisa mengakibatkan kematian. Menurut pengambilan data awal pada Bulan Mei 2022 yang dilakukan peneliti di Puskesmas Batua Makassar yang terletak di Batua Raya VII Makassar. Berdasarkan data yang didapatkan bahwa penyakit ISPA dalam jumlah kunjungan selalu meningkat dan masih merupakan penyakit yang menjadi peringkat pertama kunjungan ke Puskesmas Batua Makassar, berdasarkan laporan tahunan program ISPA, pada tahun 2020 didapatkan 480 kasus ISPA pada balita umur 2-5 tahun, dengan rata-rata kunjungan 50 balita setiap bulan, pada tahun 2021 didapatkan kasus 625 kasus ISPA pada balita umur 2-5 tahun, dengan rata-rata kunjungan 52 balita setiap bulan, sedangkan kunjungan dari bulan Januari Ae April 2022 mencapai 60 orang balita dengan kasus ISPA yang berkunjung ke Puskesmas Batua Makassar. Faktor individu untuk balita terdiri dari umur balita, berat badan lahir rendah (BBLR), status gizi, pemberian vitamin A, dan status Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA dikeluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun keluarga lainnya (Profil Puskesmas Batua Makassar Tahun 2022 ). Hasil penelitian sebelumnya hanya untuk membandingkan yang dilakukan oleh . pada tahun 2021 yang berjudul AuHubungan antara status gizi balita 1-5 tahun dengan kejadian ISPA Ay diperoleh 80% dari 30 sampel yaitu yang mengalami ISPA pada balita 1-5 tahun di RSU Bhayangkara makassar. Hal ini sesuai dengan hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan sewaktu menjalankan tugas praktek praklinik di RSU Bhayangkara Makassar, dalam rangka memenuhi tugas akademik selama empat hari di ruang rawat anak lantai 2 selatan pada 6 balita yang dirawat dengan rencana tindakan memberi asi 80%, memberikan makanan yang banyak mengandung vitamin, mengompres bila demam, dan memberikan obat yang diberikan oleh pihak puskesmas. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Aku. di Puskesmas Batua Makassar. ISPA pada balita memerlukan penanganan dengan melibatkan banyak pihak antara lain keluarga, dinas kesehatan, puskesmas untuk mengetahui tingkat terjadiya ISPA pada balita dan segera dilakukan intervensi, contohnya pembentukan posyandu balita untuk pembinaan ibu balita ataupun keluarga balita dalam pencegahan JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 terjadiya ISPA. Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita wilayah kerja yang berkunjung di Puskesmas Batua Makassar. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian ISPA Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah sebagai penyakit saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari aluran pernafasan mulai dari hidung . aluran ata. hingga alveoli . auran bawa. termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga, telinga tengah dan pleura. ISPA suatu penyakit saluran pernafasan akut yang berlangsung selama 14 hari yang dapat ditularkan melalui air liur, darah, bersin, maupun udara yang terhirup. Etiologi ISPA Kuman ISPA disebabkan oleh lebih dari 300 kuman, baik berupa bakteri, virus maupun jamur. Bakteri penyebab ISPA tersering adalah Haemophilus influenza . %) dan Steptococcus pneumonia . %). Bakteri penyebab lain adalah Staphylococcuus aureaus dan Klebsiella pneumonia, sedangkan virus yang sering menjadi penyebab ISPA adalah respiratory syncitial virus (RSV) dan influenza. Umur Bayi umur dibawah bulan mempunyai angka infeksi yang rendah, karena fungsi pelindung dari antibody. Infeksi meningkat pada umur 3-6 bulan, pada waktu ini antara hilangnya antibody dan produksi antibody bayi itu sendiri. Sisa infeksi dari virus berkelanjutan pada waktu balita dan prasekolah. Pada waktu anak-anak berumur 5 tahun, infeksi pernafasan yang disebabkan virus yang akan berkurang frekuensinya tetapi pengaruh infeksi Mycoplasma Pneumonia dan group A B-Hermoltic streptococcus akan meningkat. Klasifikasi penyebab ISPA berdasarkan umur. Klasifikasi ISPA Klasifikasi ISPA berdasarkan anatomis Secara anatomis ISPA dibagi menjadi 2 bagian yaitu. ISPA Atas (Acute Upper Respiratory Infection. Ispa atas yang perlu diwaspadai adalah radang saluran tenggorokan atau pharingitis dan radang telinga tengah atau otitis. Pharingitisyang disebabkan kuman tertentu (Streptococcus Hemolyticu. dapat berkomplikasi dengan penyakit jantung . Sedangkan radang telinga tengah yang tidak diobati berakibat terjadinya ketulian. ISPA berdasarkan golongan umur kurang 2 bulan yaitu: Pneumonnia Berat Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Bukan Pneumonia . atuk pilek bias. Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat. AyTanda BahayaAy untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu: kurang bisa minum . emampuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasa diminu. , kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, . ISPA Bawah (Acute Lower Respiratory Infection. ISPA bagian bawah adalah infeksi yang terutama mengenai struktur- struktur saluran nafas bagian bawah mulai dari laring sampai alveoli. Penyakit-penyakit yang tergolong infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian bawah: Laringitis. Asma Bronchial. Bronchitis akut maupun kronik. Bronco Pneumonia atau Pneumonia . uatu peradangan tidak saja pada jaringan paru tapi juga pada Bronchioli. ISPA berdasarkan golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun: Pneumonia Berat Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik napas . ada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang,tidak menangis atau meront. Pneumonia Sedang Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat untuk usia lebih dari bulan sampai 12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih, untu usia 1-4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih. Bukan Pneumonia JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat. AuTanda BahayaAy untuk golongan umur 2 bulan -5 tahun yaitu: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, gizi buruk. Pengertian Balita Balita merupakan individu atau sekelompok individu dari suatu penduduk yang berada dalam rentan usia tertentu. Usia balita dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu golongan usia bayi . -2 tahu. , golongan balita . -3 tahu. , golongan prasekolah (>3-5 tahu. Adapun menurut WHO, kelompok balita adalah 0-60 bulan. Karakteristik Balita Menurut . dalam buku Gizi Seimbang dalam Kesehatan Reproduksi (Balanced Nutrition in Reproductive Healt. , berdasarkan karekteristiknya, balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua yaitu anak dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan AybalitaAy dan anak usia lebih dari tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia AuprasekolahAy. Pengertian Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempuyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit, terutama penyakit pneumonia dan penyakit saluran nafas lainnya. Balita yang mengalami BBLR lebih besar resikonya untuk terdiagnosa ISPA. Di karenakan pada balita BBLR organ-organ pernafasannya belum matang yang menyebabkan pengembangan paru kurang adekuat, otot-otot prnafasan masih lemah dan pusat pernafasan belum berkembang. Kurangnya zat surfaktan dapat mengurangi tegangan pada permukaan paru. Anatomi dari organ pernafasan yang belum matang menyebabkan ritme dari pernafasan tidak teratur sering kali ditemukan apneu dan sianosis. Kecepatan pernafasan bervariasi mencapai 60-80 kali per menit . Pada balita BBLR tidak mempunyai nutrisi dan protein yang cakup untuk pembentukan sistem imun, maka apabila balita menghirup udara yang tidak sehat akan mudah terkena infeksi. METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Desain atau rancangan penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian survey analitik, penelitian dilakukan untuk menggali bagaimana fenomena kesehatan tersebut terjadi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross Sectional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada balita di tempat penelitian yaitu Puskesmas Batua Makassar. Populasi dan Sampel Populasi Populasi penelitian ini adalah seluruh balita yang terkena ISPA yang berkunjung ke Puskesmas Batua Makassar, pada bulan Januari Ae Maret 2022 dengan jumlah penderita 110 balita. Sampel Besar sampel Dalam penelitian ini peneliti mengambil total sampling yang berjumlah 90 responden. Teknik sampling Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling yaitu pengambilan anggota sampel dan populasi dilakukan secara acak sederhana atau tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan Data Dalam penelitian ini akan dilakukan pengukuran riwayat BBLR, status gizi, status imunisasi, dan kepadatan tempat tinggal. Riwayat BBLR di ukur menggunakan alat ukur berupa kuesioner dan KMS. Selanjutnya berdasarkan penilaian Z score ditentukan kategori riwayat BBLR dari balita tersebut yaitu skore 1 jika BB Ou2500 gr, dan skore 0 jika BB < 2500 gr. Status gizi balita diukur menggunakan alat ukur berupa kuesioner dan KMS untuk selanjutnya memasukkan data Berat Badan (BB) dan Umur (U) dalam perhitungan Z score. Teknik Pengumpulan Data Tahap pengumpulan data dilakukan melalui: Peneliti datang langsung ke tempat penelitian dihari yang telah tertera dalam surat yang dikeluarkan oleh bagian pelatihan dan pengembangan Puskesmas Batua Makassar. Peneliti terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dari kedatangan peneliti JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 kepada responden . Meminta kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan menjadi responden yang telah disediakan. Peneliti mengobservasi tindakan kateterisasi yang dilakukan oleh responden. Dihari kelima, peneliti melakukan urinalisa pada pasien yang dipasangi kateter oleh responden. Analisa Data Teknik analisa yang digunakan pada penelitian ini yaitu: Analisa univariat Dalam penelitian ini untuk data kategorik sebagai berikut: umur,pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan,hubungan dengan balita,rutinitas minum obat,jumlah kekambuhan ISPA dan jumlah dirawat Analisa bivariat Mennggunakan analisa chi-square yaitu perhitungan statistik untuk analisa variabel penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan program komputer yang diinterpretasikan dalam nilai probabilitas . -valu. Pengolahan data diinterpretasikan menggunakan nilai probabilitas dengan kriteria bila pada tabel 2x2, dan tidak ada nilai E . <5, maka uji yang di pakai sebaiknya Continuity Correction. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Karakteristik Responden Penelitian Balita Pengumpulan data dilakukan selama 26 hari dimulai tanggal 15 Februari Ae 12 Maret 2022 di ruang rawat inap Puskesmas Batua Makassar dengan jumlah responden 90 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang faktor kejadian ispa sebanyak 18 item pernyataan dan tabel tersebut. Berdasarkan hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut: Pada bagian ini akan dijelaskan deskripsi data hasil penelitian dari masing-masing variabel dari 90 responden yaitu variabel karakteristik responden. Distribusi Responden pada Puskesmas Batua Makassar dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Balita di Puskesmas Batua Makassar Umur Frekuensi (%) Prosentase (%) 1-2 tahun 2-3 tahun 3-4 tahun 4-5 tahun Total Sumber: Data Primer . Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas Batua Makassar Umur Frekuensi (%) Prosentase (%) Laki-laki 2 Perempuan Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi pada kelompok umur balita yaitu ber umur 1 - 2 tahun dengan 32 . ,2%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah kelompok umur 4 Ae 5 tahun dengan 15 . ,5%) responden. Tabel 2 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi pada kelompok jenis kelamin balita Laki-laki yaitu dengan 46 . ,1%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah kelompok jenis kelamin perempuan yaitu dengan 44 . ,9%) responden. Analisa Univariat Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Kejadian ISPATabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian ISPA di Puskesmas Batua Makassar Kejadian ISPA Frekuensi (%) Berat Sedang Ringan Total Sumber: Data Primer . Prosentase (%) JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi berdasarkan kejadian ISPA berat yaitu dengan 66 . ,3%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah kejadian ISPA ringan yaitu dengan 2 . ,2%) responden. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Riwayat BBLR Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat BBLR Riwayat BBLR Frekuensi (%) Prosentase (%) < 2500 Ou 2500 Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi berdasarkan riwayat BBLR Ou 2500 yaitu dengan 70 . ,8%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah < 2500 yaitu dengan 20 . ,2%) responden. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Status Gizi Balita Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi Balita Status Gizi Frekuensi (%) Prosentase (%) Kurang Baik Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi berdasarkan status gizi balita kurang baik yaitu dengan 54 . %) responden, sedangkan yang paling rendah adalah status gizi balita baik yaitu dengan 36 . %) responden Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Status Imunisasi Balita Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Status Imunisasi Balita Imunisasi Gizi Frekuensi (%) Prosentase (%) Tidak Lengkap Lengkap Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi berdasarkan status imunisasi balita Lengkap yaitu dengan 77 . ,6%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah status imunisasi balita Tidak Lengkap yaitu dengan 13 . ,4%) responden Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Kepadatan Tempat Tinggal Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Kepadatan Tempat Tinggal Kepadatan Tempat Tinggal Frekuensi (%) Prosentase (%) Padat Tidak Padat Total Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan distribusi responden yang tertinggi berdasarkan kepadatan tempat tinggal Tidak Padat yaitu dengan 52 . ,8%) responden, sedangkan yang paling rendah adalah kepadatan tempat tinggal Padat yaitu dengan 38 . ,2%) responden. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 2 Analisis Bivariat Hubungan Riwayat BBLR dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Tabel 7. Hubungan Riwayat BBLR dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Kejadian ISPA pada Balita Total Riwayat BBLR Berat <2500 Ou2500 Total Sumber: Data Primer . Sedang Ringan Value 0,627 Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan hasil penelitian bahwa proporsi responden dengan kategori BBL <2500 yang mengalami ISPA berat sejumlah 14 % . ,5%) responden, sedangkan responden dengan kategori BBL Ou2500 yang mengalami ISPA berat sejumlah 52 . ,8 %) responden. Berdasarkan hasil pengujian data diatas menunjukkan nilai signifikan A- value = 0,627>0,05, maka H0 diterima H1 ditolak berarti tidak hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,101 yang dikategorikan sangat rendah . ,00 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah sangat rendah. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Tabel 8. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Kejadian ISPA pada Balita Total Status Gizi Berat Kurang Baik Baik Total Sumber: Data Primer . Sedang Ringan P Value 0,046 Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan hasil penelitian bahwa proporsi responden dengan kategori status gizi kurang baik yang mengalami ISPA berat 44 . ,0%) responden. Sedangkan responden dengan kategori status gizi baik yang mengalami ISPA berat sejumlah 22 . ,4%) responden. Berdasarkan hasil pengujian data diatas menunjukkan nilai signifikan A Ae value =0,046<0,05,maka H0 ditolak H1 diterima berarti ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,253 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah rendah. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA pda Balita di Puskesmas Batua Makassar Tabel 9. Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA pda Balita di Puskesmas Batua Makassar Kejadian ISPA pada Balita Total Status Imunisasi Berat Tidak Lengkap Lengkap Total Sumber: Data Primer . Sedang Ringan P Value 0,132 Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan hasil penelitian bahwa proporsi responden dengan kategori status imunisasi tidak lengkap yang mengalami ISPA berat sejumlah 7 . ,8 %) responden. Sedangkan dengan kategori status imunisasi lengkap sejumlah 59 . ,6 %) responden. Berdasarkan hasil pengujian data diatas menunjukkan nilai signifikan A Aevalue =0,132>0,05 maka H0 diterima H1 ditolak berarti tidak ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,208 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah rendah. Hubungan Kepadatan Tempat Tinggal dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Tabel 10. Hubungan Kepadatan Tempat Tinggal dengan Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Batua Makassar Kejadian ISPA pada Balita Total P Value Kepadatan Berat Sedang Ringan Tempat Tinggal Padat 0,038 Tidak Padat 17 18,8 57,58 Total 22 24,4 Sumber: Data Primer . Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan hasil penelitian bahwa proporsi responden dengan kategori rumah dengan kepadatan tempat tinggal padat yang mengalami ISPA berat sejumlah 33 . ,7%) responden. Sedangkan kategori tidak padat yang mengalami ISPA berat 33 . ,7%) responden. Berdasarkan hasil pengujian data diatas menunjukkan nilai signifikan A Ae value =0,038<0,05 maka H0 ditolak H1 diterima berarti ada hubungan antara kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,260 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah rendah. 3 Pembahasan Berdasarkan analisis dan interpretasi data penelitian diperoleh hasil bahwa dari 90 respoden yang diteliti paling banyak terjadi ISPA berat sebanyak 66 balita . ,3 %). Mayoritas ISPA menyerang balita usia 1-2 Infeksi saluran pernafasan akaut (ISPA) didefefnisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. ISPA adalah penyakit saluran pernafasan akut yang berlangsung selama 14 hari yang dapat ditularkan melalui air liur, darah, bersin, maupun udara yang terhirup (DepKes RI. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 Dari hasil penelitian ini di Puskesmas Batua Makassar sendiri paling banyak balitanya menderita ISPA berat, hal ini dikarenakan ada pengaruh dari faktor lingkungan, faktor cuaca yang dapat meningkatkan kejadian ISPA karena adanya perubahan suhu udara, hal ini juga dapat terpengaruh dari faktor lain seperti faktor BBLR, status gizi, status imunisasi, dan kepadatan tempat tinggal. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan ada 5 faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita, yang pertama adalah faktor BBLR. Pada penelitian ini sebagian besar respoden . ,8%) sejumlah 70 balita tidak mengalami BBLR. Tetapi masih ada responden . ,2%) sejumlah 20 balita yang mengalami riwayat BBLR. Untuk faktor yang kedua adalah faktor status gizi pada balita, pada penelitian ini terdapat sebanyak . ,0%) sejumlah 54 balita dengan gizi baik, . ,0%) sejumlah 36 balita mengalami gizi kurang. Gizi baik adalah keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrisi sehingga berpengaruh terhadap daya tahan tubuh dan respon imunologik terhadap penyakit, sedangkan gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi atau nutrisi dibawah standar rata-rata. Faktor yang ketiga adalah faktor status imunisasi pada balita, pada penelitian ini terdapat sebanyak . ,4%) sejumlah 13 balita dengan imunisasi tidak lengkap, . ,6 %) sejumlah 77 balita dengan imunisasi Pemberian imunisasi dapat mencegah berbagai jenis penyakit infeksi termasuk ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap terutama DPT dan Campak. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi berat. Faktor yang ke empat adalah faktor kepadatan tempat tinggal, hasil dari penelitian kepadatan tempat tinggal kelurahan Batua di dapatkan dengan prosentase . ,2%) sejumlah 38 rumah mempunya kepadatan tempat tinggal yang padat, dan . ,8%) sejumlah 52 rumah yang memiliki penghuni tidak padat. Hal ini sesuai keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK. VII. 1999 tentang persyaratan kesehatan rumah satu orang minimal menempati luas rumah 8m. Dengan kriteia tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas. Keadaan tempat tinggal yang padat menngkatkan faktor populasi dalam rumah yang telah ada. Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan menberikan pengaruh bagi penghuninya. Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kuranya oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama ISPA akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lainya. 4 Hubungan Riwayat BBLR dengan Kejadian ISPA pada Balita Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan riwayat BBLR dengan kejadian ISPA pada balita maka didapatkan hasil uji chi suare diperoleh A value 0,6 7(A-value>0,. maka H0 diterima H1 ditolak berarti tidak ada hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,101 yang dikategorikan sangat rendah . ,00 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah sangat rendah. 5 Hubungan Status Gizi dengan Kejadian ISPA pada Balita Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita maka didapatkan hasil Berdasarkan uji chi square diperoleh A value 0,046 (A-value<0,. maka H0 ditolak H1 diterima berarti ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Batua Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,253 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di di puskesmas Batua Makassar adalah rendah. 6 Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA pada Balita Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan status Imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita maka didapatkan hasil berdasarkan hasil uji chi square diperoleh nilai A value 0,0 3 (A- value>0,. maka H0 diterima H1 ditolak berarti tidak ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Batua Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,208 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah rendah. JURNAL JURRIKES Vol 1 No. 1 April 2. p ISSN: 2828-9366, eISSN: 2828-9374. Hal 38-48 7 Hubungan Status Kepadatan Tempat Tinggal dengan Kejadian ISPA pada Balita Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan status Imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita maka didapatkan hasil Berdasarkan hasil uji chi squarediperoleh nilai A value 0,038 (A- value<0,. 05 maka H0 ditolak H1 diterima berarti ada hubungan antara kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Batua Puskesmas Batua Makassar. Keeratan hubungan dapat dilihat dari nilai r hitung = 0,260 yang dikategorikan rendah . ,20 Ae 0,. yang artinya keeratan hubungan kepadatan tempat tinggal dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar adalah rendah. 9 Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari banyak terdapat kekurangan dalam penelitian ini, hal ini disebabkan karena adanya beberapa keterbatasan dalam pelaksanan penelitian ini, diantaranya adalah sebagai berikut : Instrumen pengumpulan data berkurang setelah dilakukan uji validitas dan reliabilitas karena dalam keadaan iklim tidak menentu. Kuesioner yang digunakan belum terstandarisasi sehingga dapat berpengaruh terhadap validasi data yang diperoleh oleh karena itu dilakukan uji validitas terhadap responden yang karasteristiknya hampir sama dengan responden sebelum melakukan penelitian. Waktu penelitian yang sempit dan masalah Keuangan gak menentu sehingga si peneliti Cuma dapat mengambil sampel melalui media sosial dan saudara yang ada di Puskesmas Batua Makassar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian yaitu tidak ada hubungan antara BBLR dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Ada hubungan antara status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Tidak ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Ada hubungan antara kepadatan tempat tinnggal dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Batua Makassar. Di harapkan mahasiswa selanjutnya dapat menjadikan ini sebagai rujukan dan sumber informasi serta dapat membandingkan efektifitas berbagai bentuk kejadian ISPA pada balita seperti status gizi balita lainnya dalam mengurangi gizi buruk pada balita yang dapat menyebabkan rentan terkena ISPA balita agar didapatkan tingkat pengetahuan yang efektif dan dapat dikembangkan pada penulisan karya ilmiah selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA