Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. No. 2 Januari 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62017/jkmi PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA DI SMA NEGERI 7 MANADO Lady Galatia Lapian *1 Srianugrita Debora Tarek 2 1Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sam Ratulangi. Indonesia 2Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Universitas Pembangunan Indonesia. Indonesia *e-mail: ladygalatia@unsrat. id1, gritatarek@gmail. Abstrak Hasil survey data kesehatan Indonesia menyatakan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai hanya 33% remaja perempuan dan 37% remaja laki-laki mengetahui kemungkinan lebih besar untuk hamil apabila berhubungan seksual. Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi relatif masih rendah. Remaja perempuan yang tidak tahu tentang perubahan fisiknya sebanyak 13,3%. hampir separuh 47,9% remaja perempuan tidak mengetahui kapan memiliki hari atau masa subur. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Jenis penelitian ini adalah pre-experimental dalam bentuk one group pre posttest design. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas X yang berada di SMA Negeri 7 Manado berjumlah 45 responden sampel menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian tingkat pengetahuan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi kategori baik adalah 7 responden . ,5%), kategori cukup 23 responden . ,1%), dan kategori kurang 15 responden ( 33,3%). Dan hasil penelitian sesudah dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi adalah kategori baik 25 responden . ,6%), kategori cukup 17 responden . ,8%), dan kategori kurang hanya 3 responden . ,7%). Hasil penelitian tingkat pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah . ,11%) dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi adalah . ,00%). Hasil uji paired t-test nilai p adalah 0,000 lebih kecil dari nilai signifikan . Kesimpulan ada pengaruh yang signifikan antara Pendidikan Kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja di SMA Negeri 7 Manado. Saran untuk instansi sekolah untuk lebih memfasilitasi informasi untuk para siswa tentang kesehatan reproduksi. Dan saran untuk remaja lebih aktif lagi dalam mencari informasi tentang kesehatan reproduksi dan aktif dalam kegiatan penyuluhan Kesehatan reproduksi remaja. Kata kunci: Kesehatan Reproduksi. Pendidikan Kesehatan. Pengetahuan Remaja Abstract The results of a survey of Indonesian health data stated that adolescent knowledge about reproductive health was not sufficient, only 33% of female adolescents and 37% of male adolescents knew that they were more likely to become pregnant if they had sexual intercourse. Adolescent knowledge about reproductive health is still relatively low. Adolescent girls who do not know about their physical changes are 13. almost half of 9% of adolescent girls do not know when to have fertile days or periods. The purpose of this study was to determine whether there was an influence on the level of knowledge before and after being given reproductive health education. This type of research is pre-experimental in the form of one group pre-post test design. The population in this study were the students of class X who were at the State Senior High School 7 Manado totaling 45 sample respondents using purposive sampling. The results of the study on the level of knowledge before reproductive health education was carried out in the good category were 7 respondents . 5%), the sufficient category was 23 respondents . 1%), and the less category was 15 respondents . 3%). And the results of the research after the reproductive health education was carried out were in the good category of 25 respondents . 6%), sufficient category 17 respondents . 8%), and the poor category only 3 respondents . 7%). The results of the study showed that the level of knowledge before being given health education was . 11%) and after being given reproductive health education was . 00%). The result of the paired t-test test, the p value is 0. 000, which is smaller than the significant value of . The conclusion is that there is a significant effect of reproductive health education on adolescent knowledge at the State 7 Manado Senior High School. Suggestions for school agencies to further facilitate information for JPMI P-ISSN 3026-717X | E-ISSN 3026-4855 Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. No. 2 Januari 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62017/jkmi students about reproductive health. And suggestions for teenagers to be more active in seeking information about reproductive health and active in adolescent reproductive health counseling activities. Keywords: Health Education. Reproductive Health. Youth Knowledge PENDAHULUAN Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja meliputi tiga aspek yaitu secara kronologis, secara fisik, secara psikologis (Rosyida, 2. Banyak remaja yang sudah aktif secara seksual sehingga permasalahan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Sehingga banyak kasus yang dialami oleh remaja diantaranya, hamil diluar nikah, pasangan yang tak mau bertanggung jawab, konsumsi obat-obat terlarang, penggunaan alat kontrasepsi. HIV/ AIDS dan infeksi menular seksual (Ernawati,2. Pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, remaja perlu mendapat informasi yang cukup, sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan yang seharusnya dihindari. Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja secara benar, kita dapat menghindari hal-hal negatif yang mungkin akan dialami oleh remaja. Dan hal ini rentan terjadi pada usia remaja karena setiap kegiatan seksual dapat risiko negatif tentang kesehatan reproduksi. Hubungan seksual atau kontak seksual pada remaja di bawah 17 tahun juga berisiko terhadap tumbuhnya sel kanker pada mulut rahim, penyakit menular seksual. HIV/AIDS, melakukan aborsi, dan lebih jauh dapat menyebabkan komplikasi berupa gangguan mental dan kepribadian pada remaja (Ernawati, 2. World Health Organization (WHO) menyebutkan 1 dari 20 remaja tertular IMS setiap tahunnya dikarenakan kehidupan seksual dan reproduksi remaja yang beresiko serta kurangnya pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai resiko yang ditimbulkan. Menurut laporan Sistem Informasi HIV/AIDS dan IMS oleh Ditjen pengendalian penyakit dan pengendalian lingkungan Kemenkes RI, diketahui bahwa jumlah kumulatif penderita HIV AIDS dan IMS semakin meningkat pada tahun 2016. Diketahui bahwa penderita HIV sebesar 1. 510 kasus pada kelompok umur 15-19 tahun dan mengalami peningkatan pada tahun 2017 300 kasus (Kementerian Kesehatan RI,2. Hasil survey data kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menyatakan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai hanya 33 persen remaja perempuan dan 37 persen remaja laki-laki dengan usia 15-24 tahun mengetahui kemungkinan lebih besar untuk hamil apabila berhubungan Tingkat pengetahuan remaja berupa pemahaman mengenai gejalah IMS menunjukan bahwa sebesar 61 persen remaja laki-laki dan 65 persen remaja perempuan telah mengetahui gejalah IMS (BKKBN,2. Dan hasil survey menunjukan menunjukan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi relatif masih rendah. Remaja perempuan yang tidak tahu tentang perubahan fisiknya sebanyak 13,3%. hampir separuh 47,9% remaja perempuan tidak mengetahui kapan memiliki hari atau masa subur (BKKBN,2. Sedangkan data di Sulawesi Utara penderita HIV/AIDS pada usia 15-19 tahun berjumlah 97 penderita (Dinkes Sulut,2. Berdasarkan data awal yang didapatkan di SMA Negeri 7 Manado, sekolah tersebut pernah dilakukan penyuluhan kesehatan reproduksi akan tetapi masih ada siswi yang berhenti sekolah karena hamil diluar Tentunya itu sangat disayangkan karena kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi membuat para remaja harus berhenti bersekolah. Dan data awal yang didapat dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yaitu bagaimana menjaga kebersihan organ genetalia, dampak dari seks pranikah, dampak dari kehamilan usia dini, dari 15 remaja putri terdapat 8 remaja putri yang kurang mengerti tentang pentingnya kesehatan reproduksi, sedangkan pada remaja putra dari 15 remaja putra terdapat 10 remaja putra yang kurang mengerti tentang kesehatan reproduksi. Keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi membawa perilaku remaja kearah yang beresiko. Untuk itu maka perlu dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan reproduksi. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja di SMA Negeri 7 Manado. METODE Jenis penelitian ini adalah pre experimental dalam bentuk one group pre-post test design penelitian ini telah dilaksanakan di sekolah SMA N 7 Manado pada bulan oktober 2021. Sampel berjumlah 45 variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengetahuan remaja tentang Kesehatan Instrumen penelitian ini menggunakan satuan acara penyuluhan (SAP) untuk pendidikan kesehatan reproduksi remaja dan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan remaja Analisis data dilakukan secara univariat yaitu tentang karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, sumber informasi tentang kesehatan reproduksi, keikutsertaan dalam seminar tentang kesehatan reproduksi dan JPMI P-ISSN 3026-717X | E-ISSN 3026-4855 Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. No. 2 Januari 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62017/jkmi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan Dan bivariat menngunakan uji paired sample t-test, yang berpatokan pada nilai signifikannya O 0,05 artinya ada pengaruh dengan demikian hipotesis diterima. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, sumber informasi, keikutsertaan mengikuti seminar yang dapat dilihat dalam tabel berikut Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan Usia remaja Usia 14 Tahun 15 Tahun Jumlah Responden yang berusia 14 tahun sebanyak 38 orang . 4%), dan responden berusia 15 sebanyak 7 orang . 6%). Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Responden dengan jenis kelamin perempuan berjumlah 66,7%, sedangkan untuk jenis kelamin laki-laki 33,3%. Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan Sumber Informasi Sumber Informasi Media formal Media elektronik Orang tua Jumlah Sumber informasi yang didapatkan responden tentang Kesehatan reproduksi dari media formal 28,9%, media elektronik 53,3%, dan sumber informasi dari orang tua yaitu 17,8%. JPMI P-ISSN 3026-717X | E-ISSN 3026-4855 Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. No. 2 Januari 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62017/jkmi Tabel 4. Karakteristik responden berdasarkan keikutsertaan dalam mengikuti seminar kesehatan Keikutsertaan Pernah Tidak pernah Jumlah Keikutsertaan responden dalam mengikuti seminar Kesehatan reproduksi tidak pernah mengikuti seminar kesehatan reproduksi yaitu 71,1%, sedangkan yang pernah mengikuti seminar hanya 28,9%. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi Pengetahuan kesehatan reproduksi. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Tabel 5 distribusi pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja sebelum . re tes. dan detelah diberikan penuluhan . ost tes. Pengetahua pre-test Post-test n remaja Baik Cukup Kurang Hasil pre test menunjukan 15 . ,3%) siswa yang paling banyak berpengetahuan kurang namun setelah diberikan penyuluhanm terdapat peningkatan pengetahuan pada hasil post test sebanyak 25 . ,6%) siswa berpengetahuan baik. Sejalan dengan penelitian Setyawan . dalam penelitian tersebut didapatkan hasil penelitian sebelum diberikan intervensi pengetahuan remaja sebagian besar responden masih kurang . ,6%) sedangkan setelah dilakukan intervensi pengetahuan remaja membaik . ,9%). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi TerhadapPengetahuan Remaja Di Sma Negeri 7 Manado Tabel 6 distribusi hasil uji pairet t test Variabel Pre test Post test JPMI P-ISSN 3026-717X | E-ISSN 3026-4855 Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol. No. 2 Januari 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62017/jkmi Hasil uji paired t-test pada tabel diatas menunjukan angka yang signifikan. Dasar pengambilan keputusan terhadap hipotesis yang diajukan adalah jika nilai p-value < 0. 05 maka Ho ditolak begitu sebaliknya. Dapat dilihat dari tabel nilai signifikan p-value = 0. 000 dimana nilai ini lebih kecil dari 0. 05 Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh Pendidikan Kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja. Hal ini sejalan dengan penelitian Afridah . , dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah pendidikan. Untuk itu penting sekali untuk diberikan edukasi atau informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja sehingga remaja tersebut dapat bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Untuk meningkatkan pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja dapat dilakukan dengan penyampaian informasi, dalam Notoatmodjo . , penyampaian informasi dipengaruhi oleh metode dan media yang memberi efek yang signifikan. Pengetahuan responden meningkat dengan adanya pendidikan kesehatan. Perubahan yang terjadi karena danya perubahan pengetahuan dari tidak baik menjadi baik. Didukung hasil penelitian oleh Setiawati,dkk . bahwa ada perubahan yang signifikan rata-rata nilai pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan yaitu 53,51 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan yaitu 84,28. Penelitian lain juga dilakukan oleh Putri . , ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan dengan metode ceramah terhadap engetahuan remaja tentang seks pranikah dengan hasil p value = 0,000 < . Penelitian yang dilakukan oleh Fidora dan Utami . yang berjudul pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap tingkat pengetahuan remaja di SMP N Bukittinggi didapatkan nilai p value 0,0001 yang menunjukkan hasil bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terhadap tingkat pengetahuan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden mengenai kesehatan reproduksi sebelum diberikan pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar berada pada tingkat yang kurang. Namun, setelah responden menerima pendidikan kesehatan reproduksi, terjadi peningkatan yang signifikan, di mana sebagian besar responden menunjukkan tingkat pengetahuan yang baik. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dari pendidikan kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan remaja, yang tercermin dari perbandingan pengetahuan mereka sebelum dan sesudah mengikuti program pendidikan tersebut. Dengan demikian, pendidikan kesehatan reproduksi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai isu-isu kesehatan reproduksi. DAFTAR PUSTAKA