PENGEMBANGAN VARIAN MOTIF BATIK GIRILAYU SEBAGAI DIVERSIFIKASI PRODUK FESYEN DAN HOME DyOCOR BAGI KELOMPOK BATIK GIRIARUM Yayan Suherlan1. Desy Nurcahyanti2. Nooryan Bahari3. Setyo Budi4. Lulut Amboro5. Novita Wahyuingsih6 1,2,3,4,5,6 Program Studi Seni Rupa Murni. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Universitas Sebelas Maret yayansuherlan@staff. ABSTRAK Batik Girilayu sebagai salahsatu industri kreatif unggulan Kabupaten Karanganyar saat ini telah banyak mengalami kemajuan cukup pesat. Motif dan fungsi dari produk batik di Girilayu dipandang perlu pengembangan agar dapat meraih pasar dari sisi yang berbeda. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini sebagai upaya membuka peluang pasar batik yang lebih luas. Tujuan dari kegiatan ini agar pelaku industri kreatif batik pada Kelompok Batik Giriarum. Desa Girilayu, mampu menciptakan motif-motif batik untuk fesyen dan home dycor yang saat ini mulai banyak digemari. Metode yang digunakan guna mencapai tujuan tersebut yakni berupa pelatihan dan pendampingan penggalian ide kreatif dan penciptaan motif batik yang sesuai dengan kecenderungan selera calon konsumen. Pelatihan dan pendampingan diversifikasi produk batik yang akan dilaksanakan dengan didukung oleh kemampuan teknis yang sudah dimiliki para perajin batik di kelompok Batik Giriarum akan mampu menciptakan produk-produk yang diminati oleh konsumen. Produk-produk fesyen selain baju dan kain serta produk home dycor akan menjadi pembeda dari kompetitor batik, sehingga peluang pasar terbuka lebar . Kata Kunci: batik, diversifikasi produk, fesyen, home dycor ABSTRACT Girilayu Batik as one of the leading creative industries in Karanganyar Regency has currently experienced quite rapid progress. Several studies and community service activities in an effort to increase product capacity and quality have been carried out, but along with the increasingly tight competition in the fashion market, product diversification is still needed to be adjusted to the functions and trends that are currently developing. The motifs and functions of batik products in Girilayu are considered to need development in order to reach the market from a different side. This community service activity is an effort to open up wider batik market opportunities. The purpose of this activity is so that creative batik industry players in the Giriarum Batik Group. Girilayu Village, are able to create batik motifs for fashion and home dycor which are currently starting to be popular. The method used to achieve this goal is in the form of training and mentoring in exploring Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. creative ideas and creating batik motifs that are in accordance with the tastes of potential Training and mentoring for batik product diversification which will be carried out supported by the technical skills already possessed by batik craftsmen in the Giriarum Batik Group will be able to create products that are in demand by consumers. Fashion products other than clothes and fabrics as well as home dycor products will differentiate batik competitors, so that market opportunities are wide open. Keywords: batik, product diversification, fashion, home dycor PENDAHULUAN Analisis Situasi Paguyuban batik Giriarum didirikan untuk mewadahi 12 UMKM Batik, yaitu: Batik Sido Mukti. Batik Vokasi. Batik Tresno Dharma. Batik Wahyu Sari. Batik Trumtum Kuncoro. Batik Mekar Sari. Batik Mekar Jaya. Batik Wahyu Asih. Batik Giri Wastra Pura. Batik Kirani. Batik Sekar, dan Batik Putra Kembar. Kelompok batik Giriarum berlokasi di Desa Girilayu Karanganyar, tepat di bawah Bukit Mangadeg tempat pemakaman Pangeran Samber Nyawa. Mangkunegaran. Di sisi Barat berbatasan dengan Desa Karangbangun, di sisi Timur dengan Desa Plumbon Kecamatan Tawangmangu, di sisi Selatan dengan Desa Karanglodan, dan di sisi Utara dengan Desa Gerdu Kecamatan Karangpandan . Desa Girilayu berada pada ketinggian A 750 mdpl. Kondisi tanahnya relatif subur, pada musim tertentu banyak menghasilkan buah-buahan, antara lain: manggis, durian, dan duku. Tanaman cengkeh juga tumbuh baik, sehingga memberikan pendapatan bagi masyarakatnya . Sekitar 10% dari 3. 772 orang penduduk Girilayu adalah perajin batik tradisional. Sebanyak 46 perajin di Dusun Merakan dan lebih dari 200 perajin di Dusun Seberan . Dari data tersebut, berdasarkan kajian penelitian yang dilaksanakan oleh Setyawan et al. dan Suherlan . Desa Girilayu berpotensi untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata Batik Girilayu. Hasil penelitian tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah kanupaten Karanganyar dan Bank Indonesia dalam upaya percepatan Desa Wisata Batik Girilayu. Sehingga keluar Surat Keputusan penetapan desa wisata batik melalui Keputusan Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Bupati Karanganyar Nomor 556/378 Tahun 2020 Tentang Desa Wisata Di Kabupaten Karanganyar. SK Dinas Nomor 556/04. 15/2021 . Februari 2. Permasalahan penting dalam batik adalah keberlanjutan batik sampai ke generasi mendatang yang perlu dipikirkan dan dipecahkan jalan keluarnya secara bersama-sama. Harapan dan optimisme seluruh pihak yang terlibat dalam tradisi, usaha, serta konservasi adalah masih dapat melihat batik tidak hanya konsep dan teknik, tetapi wujud fisik sebagai identitas kultural dan ideologi visual. Prinsip dasar dalam menjaga batik tradisi dengan cara menginterpretasikannya pada motif batik yang terbukti mampu menjaga eksistensi makna filosofis dan bernilai komersial tinggi. Batik Girilayu yang dihasilkan tidak menggunakan teknik modern seperti sablon . , malam dingin, dan digAital. tetapi masih mempertahankan proses tulis . Permasalahan Mitra Permasalahan utama pada kelompok batik Giriarum seperti yang disampaikan pada latar belakang masalah adala krisis keberlanjutan dalam menciptakan motif. Krisis keberlanjutan dalam menciptakan desain motif baru disebabkan oleh beberapa hal, antara Terbatasnya kemampuan estetik para perajin, sehingga masih perlu pendampingan secara berkelanjutan. Terbatasnya kemampuan menggali ide-ide dalam penciptaan motif baru Belum ada ahli yang secara khusus yang menangani desain motif, selama ini desain langsung dilakukan oleh pembatik . Produksi batik selama ini hanya berfokus pada produk kain . Berdasarkan rumusan masalah yang dihadapi Desa Wisata Batik Girilayu, permasalahan Mitra yang akan menjadi prioritas adalah: pelatihan dan pendampingan dasar-dasar penciptaan motif batik. pendampingan untuk melatih kepekaan estetis melalui eksplorasi potensi alam sebagai sumber ide penciptaan motif batik. menata manajemen produksi serta melatih anak-anak muda menjadi desainer motif Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. Diversifikasi produk batik yang berorientasi pada pasar global. Tabel 1. Solusi Permasalahan PERMASALAHAN Kemampuan estetik para perajin paguyuban Batik Giriarum. Girilayu masih sangat terbatas. Selama ini mereka hanya mampu meniru motif-motif yang sudah ada sebelumnya. Mitra belum memiliki kepekaan estetis melalui eksplorasi poten-si alam sebagai sumber ide penciptaan motif batik Belum ada ahli yang secara khusus yang menangani desain motif secara khusus, selama ini motif batik langsung dilakukan oleh pembatik . dengan cara Produksi batik selama ini produk kain . roduk SOLUSI Pelatihan dan pendampingan dasardasar penciptaan motif batik melalui pemahaman tata rupa yang langsung diimplementasikan pada bentuk motif batik Dilakukan pelatihan dan pendampingan teknis menggali ide dari hal-hal yang ditemui dalam kehidupan sehari-harinya . lam dan kearifan C Dilakukan pendampingan penataan manajemen produksi C melatih anak-anak muda menjadi desainer motif batik Diversifikasi produk. dengan alih fungsi produk dengan motif menyesuaikan fungsinya, antara lain: C Pengembangan fesyen C Home dycor, yaitu pengembangan motif dan bahan batik untuk fungsi elemen estetis Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 HASIL KEGIATAN Mitra mampu membuat motif sendiri sesuai dengan kaidah tata rupa . omposisi, warna, bentuk stilas. Mitra mampu membuat motif batik dari alam dan kearifan lokal dengan stilasi bentuk yang baik dan berkarakter. Minimal dua motif batik dalam periode kegiatan C Pembagian pekerjaan di paguyuban batik menjadi jelas, bagian desain, produksi, pemasaran, dll. C Mitra memiliki desainer khusus motif batik, target satu orang C Mitra mampu membuat motif batik untuk pola C Tercipta produk batik pelengkap interior berbahan kanvas Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Kegiatan pengabdian ini diarahkan pada Sustainable Development Goals (SDG. SDG merupakan kesepakatan dunia atas tujuan pembangunan berkelanjutan untuk mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan. SDG yang relevan dengan kegiatan pengabdian ini adalah SDG-12, yaitu AuKonsumsi dan Produksi yang BertanggungjawabAy (Responsible Consumption and Productio. dengan tujuan untuk mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dan efisien melalui perubahan perilaku individu, perusahaan, dan pemerintah. Capah . SDGs penting untuk mencapai kesejahteraan manusia. Untuk mencapai SDGs dibutuhkan perubahan transformatif dalam semua dimensi pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil . METODE Pelaksanaan kegiatan workshop pengabdian kepada masyarakat ini, terimplementasi dalam tiga tahap aktivitas. Tiga tahapan tersebut antara lain: . Persiapan, . Pelaksanaan, dan . Evaluasi & Pelaporan. Rumusan tahapan tersebut efektif untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian dan telah teruji pada kegiatan-kegiatan terdahulu. Tahap persiapan dipergunakan oleh Tim Pelaksana untuk menggali informasi dari masyarakat Desa Pereng tentang permasalahan yang mengemuka dan memerlukan solusi penyelesaian efektif serta tepat guna. Selanjutnya, penetapan materi dan peserta workshop dengan diskusi serta kesepakatan dengan masyarakat . Kelompok potensial peserta workshop adalah masing-masing ketua kelompok UMKM yang tergabung pada Paguyuban Batik Giriarum. Ketua kelompok UMKM ini diharapkan menjadi agen transfer pengetahuan untuk seluruh anggota UMKM dan Karang Taruna sebagai generasi muda yang pemegang kunci penting regenerasi sosial. Penyiapan materi dan alat peraga oleh Tim Pelaksana menyesuaikan dengan rencana bentuk workshop diversifikasi produk desain motif batik untuk fesyen dan home dycor. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. Tahap pelaksanaan terbagi menjadi tiga bagian, yakni pendahuluan, inti, dan akhir/penyajian. Pendahuluan kegiatan berupa tahap awal pelaksanaan dengan sosialisasi, informasi, dan edukasi tentang pengetahuan umum tentang prinsip dasar tata rupa serta penataan manajemen produksi. Inti kegiatan merupakan praktek diversifikasi produk motif batik dengan langkah-langkah yang mudah diikuti serta jelas. Tim Pelaksana mempertimbangkan untuk mengemas penyajian yang memudahkan peserta. Aktivitas akhir berupa evaluasi untuk mengukur keberhasilan dan rencana keberlanjutan program. Evaluasi dan pelaporan adalah tahap final rangkaian kegiatan keseluruhan. Akhir dari kegiatan bukan berarti usai, tetapi evaluasi diperlukan untuk perbaikan pelaksanaan Peran penting evaluasi adalah sifat pengendalian, sehingga kekurangan dan kesalahan yang dilakukan oleh Tim Pelaksana selama kegiatan selanjutnya dapat dihindari. Strategi diperlukan agar kegiatan dapat berjalan optimal, sehingga dapat tercapai zero mistake sebagai indikator ketepatan prosedur/langkah pelaksanaan. Pelaporan merupakan konsekuensi administratif untuk pertanggungjawaban kepada institusi, sekaligus sebagai rekaman data/arsip/dokumentasi kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian menggunakan pedoman jadwal kegiatan untuk mempermudah proses pelaksanaan kegiatan, sebagai berikut: Observasi Lapangan Observasi lapangan dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2024, pada kegiatan tersebut dilakukan diskusi dengan mitra. Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengamati dan mencatat kondisi riil permasalahan mitra. Untuk lebih memperkuat data, selain observasi dilakukan pula interview langsung dengan bebrapa perajin yang tergabung dalam paguyuban Batik Giriarum di Girilayu. Matesih. Karanganyar. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Dari hasil observasi diketahui beberapa temuan sebagai dasar pelatihan yang akan dilaksanakan pada kegiatan pelatihan dan pendampingan berikutnya, yaitu: Tabel 2. Hasil Observasi dan Rekomendasi HASIL OBSERVASI REKOMENDASI Perajin batik Paguyuban Giriarum telah membuat varian produk home dycor berupa sarung batal kursi dari bahan kain perca Varian produk masih terbatas, penciptaan motif dan model sebagai diversifikasi produk Bahan batik masih terbatas pada kain mori, belum berani mencoba bahan kain lain yang sesuai dengan produk batik home decor Masih terbatasnya pengetahuan perajin akan prinsip dasar desain, dan hanya berdasarkan kebiasaan atau contoh produk sebelumnya. Akan menjadi lemah ketika mereka membuat motif-motif kontemporer Perlu dibuat desain khusus untuk produk sarung bantal kursi dengan motif menyesuaikan bentuk Perlu dilakukan pelatihan penciptaan motif dan model produk fashion dan home decor Perlu pelatihan pembuatan produk berbahan blacu dan kanvas Perlu dilakukan pelatihan dasar-dasar seni rupa/prinsip dasar desain, antara deformasi bentuk, komposisi warna, keseimbangan, dan harmoni Hasil-hasil temuan yang didapatkan pada observasi kemudian didiskusikan di tim lalu disusun rekomendasi dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada kegiatan observasi tersebut dilakukan pula kesepakatan waktu kegiatan antara tim pengabdian dengan mitra. Berdasarkan pertimbangan kesibukan masing-masing antara mitra dan tim maka disepakati kegiatan pelatihan dan pendampingan dilaksanakan dua kali yaitu pada tanggal 8 Juni dan tanggal 13 Juli 2024. Pelaksanaan Program Sesuai hasil kesepakatan, kegiatan dilakukan dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal 8 Juni 2024 dan tanggal 13 Juli 2024. Pada tanggal 8 Juni 2024, fokus pelatihan pada dua materi utama, yaitu . materi dasar-dasar perancangan motif dengan mengacu pada prinsip dasar desain, . Diversifikasi produk sebagai alternatif pengembangan pasar. Pelatihan diikuti oleh 15 orang perajin dari paguyuban Batik Giriarum. Materi disampaikan dengan Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. cara paling mudah dengan secara langsung membedah motif-motif hasil karya perajin. Mereka ditunjukkan mana yang baik serta kekurangan-kekurangannya dengan memberikan solusi, seharusnya bagaimana menurut teori. Gambar 1. Kegiatan pelatihan dan pendampingan penerapan prinsip dasar desain pada produk batik (Dokumentasi Mahasiswa MBKM 2024 Girilay. Kegiatan berikutnya dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2024 dengan melibatkan peserta pelatihan yang sama, ditekankan pada peserta yang hadir dari tiap kelompok perajin tidak berganti personil, tujuannya agar ada kesinambungan antara pelatihan yang pertama dengan yang kedua. Sesuai dengan target capaian kegiatan, maka dalam pengabdian ini menerapkan teknologi pengembangan produk batik untuk fesyen dan home dycor. Adapun hasilnya sebagai berikut: Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Rancangan Desain Produk Fesyen Rancangan diarahkan pada penerapan motif batik pada pakaian jadi (T-Shir. TShirt atau kaos merupakan alternatif pengembangan varian produk batik yang diajarkan pada kelompok perajin batik Giriarum. Selama ini produk fesyen yang diproduksi oleh paguyuban berupa pakaian wanita yang segmentasi pasarnya terbatas dan menengah ke atas, karena berupa batik tulis yang harganya tinggi. Produk kaos batik diharapkan akan menjadi alternatif produk yang dapat laku cepat, karena peluang pasar lebih luas, yaitu lakilaki perempuan, anak-anak dan dewasa serta orang tua. Gambar 2. Produk pakaian jadi kelompok batik Giriarum. Girilayu (Dokumentasi Mahasiswa MBKM 2024 Girilay. Gambar 3. Produk T-Shirt sebagai diversifikasi produk fesyen kelompok batik Giriarum. Girilayu (Dokumentasi Mahasiswa MBKM 2024 Girilay. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. Pengembangan Batik Home Dycor Pengembangan motif batik home dycor yang diterapkan pada mitra adalah teknik pathwork dan teknik trapunto. Teknik Patchwork Patchwork adalah kerajinan yang menggabungkan potongan kain perca yang memiliki motif dan warna berbeda menjadi bentuk baru. Biasanya, potongan-potongan perca yang digunakan berbentuk geometris. Pengembangan produk melalui teknik patchwork bertujuan untuk memanfaatkan limbah kain batik sisa-sisa potongan yang dibuat Pada dasarnya teknik seperti ini bukan hal yang baru bagi para perajin di Girilayu, namun kain perca yang dimanfaatkan baru sebatas disambung-sambungkan tanpa memperhatikan komposisi warna dan motif yang dipadukan, sehingga produk kurang Pelatihan yang dilakukan merupakan upaya membuka wawasan peluang usaha serta dasar-dasar visual melalui komposisi, keseimbangan, serta fungsi produk. Gambar 4. Pelatihan pembuatan patchwork, quilting, dan trapunto Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 5. Hasil karya Pachwork pelapis bantal kursi sebagai diversifikasi produk fesyen kelompok batik Giriarum. Girilayu (Dokumentasi Mahasiswa MBKM 2024 Girilay. Teknik Quilting dan Trapunto Trapunto merupakan salah satu seni menjahit dengan cara mengisi kain dengan isian seperti dakron, kapas maupun kapuk, sehingga kain akan timbul dan meggembung sesuai dengan pola yang dibuat. Pada pelatihan diversifikasi produk home dycor batik, disampaikan beberapa hal mendasar yaitu . Aspek Estetis, yaitu penjelasan tentang bagaimana mengolah motif untuk produk elemen interior. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah adalah dari segi teknik dan pewarnaan yang disesuaikan dengan aspek psikologi ruangan, misalnya warnawarna dan motif yang menimbulkan suasana ceria, tenang, anggun, dan lain-lain. Hasil pembatikan lalu digabungkan dengan teknik trapunto quilting sehingga menghasilkan desain dari dua dimensional menjadi tiga dimensional. Aspek Teknik. Teknik trapunto quilting ditekankan pada tiga aspek, yakni teknik menjahit dengan mesin, tekni sulam . enjahit dengan tanga. , pelapisan kain, teknik pengisian dakron pada motif, dan finishing. Pada teknik ini ketelitian perajin menjadi kunci keberhasilan produk yang maksimal. Aspek Material. Pemilihan bahan yang sesuai dengan fungsinya terkait erat dengan aspek teknik. Kain yang digunakan adalah kain mori dan blacu. Kedua jenis Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. bahan ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Dalam hal ini perajin diajarkan mengenali karakteristik bahan kaitannya dengan ukuran canting dan tingkat kekentalan malam panas. Tujuan dari penggunaan material berbeda berdasarkan pertimbangan fungsi produk sebagai elemen estetis interior . ome dyco. Aspek fungsi batik untuk home decor. Selain nilai artistik produk, harus memenuhi nilai fungsi. Misalnya untuk produk elemen partisi/penyekat ruang bahan harus kuat dan tahan terhadap cuaca serta tidak menyimpan debu. Demikian pula untuk pelapis bantal kursi bahan harus lembut, serta motif tiga dimensional hasil quilting trapunto tidak mengganggu kenyamanan pengguna. Aspek-aspek dasar tersebut disampaikan pada pelatihan tahap awal. Setelah para perajin memahami dasar-dasar tersebut, pada pertemuan berikutnya dilakukan workshop dan pendampingan dari mulai proses pembuatan gambar, penyantingan, pewarnaan, sampai pada pembuatan produk dengan teknik quilting trapunto. Evaluasi dan Program Keberlanjutan Kegiatan pelatihan pengembangan produk turunan batik dapat dikatakan tidak ada kendala atau hambatan yang berarti. Hal ini dikarenakan. jarak lokasi pengabdian tidak terlalu jauh dari kampus UNS, sehingga tidak terlalu banyak waktu terbuang di perjalanan, . belanja bahan relatif mudah, . alat-alat produksi batik dan menjahit sudah tersedia di mitra, . mitra sudah memiliki kemampuan teknis membatik yang baik. Produk yang dihasilkan dari pelatihan cukup baik, hanya ada sedikit kekurangan, antara lain masih ada warna yang bocor, disebabkan karena lilin batik . sebagian tidak tembus. Selain itu motif terlalu kecil-kecil . sehingga sedikit kesulitan pada proses jahit, sulam, dan pengisian dakron ke dalam motif. Hal ini menjadikan evaluasi bagi perajin untuk pembuatan motif berikutnya. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 6. Proses pencantingan motif . Hasil cantingan . Gambar 7. Pengarahan untuk proses selanjutnya Gambar 8. Proses Quilting Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. Gambar 9. Proses sulam, trapunto, dan hasil jadi Proram ini tidak hanya berhenti pada kegiatan pengabdian saja, tetapi keberlanjutan program menjadi bagian dari rancangan kegiatan pengabdian ini. Keberlanjutan program dirancang secara jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek, pada kegiatan ini tim pengabdian melibatkan mahasiswa KKN MBKM kemitraan Grup Riset Pengkajian Seni Prodi Seni Rupa Murni FSRD. Sedangkan jangka panjang, pada pelatihan ini tim melibatkan BUMDes Girilayu. Program KKN MBKM difokuskan pada program pendampingan pengembangan produk dan strategi pemasaran, sedangkan BUMDes berperan sebagai sarana yang membantu penyediaan bahan dan pemasaran. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENUTUP Pelatihan pengembangan produk batik yang diadakan oleh Tim RG Pengkajian Seni. Prodi Seni Rupa dan Desain. Universitas Sebelas maret dilakukan dalam dua tahap pada 8 Juni 2024 dan 13 Juli 2024, melibatkan 15 perajin dari Paguyuban Batik Giriarum. Pada pertemuan pertama, peserta belajar mengenai dasar-dasar perancangan motif batik dengan pendekatan prinsip desain serta diversifikasi produk. Pelatihan ini bertujuan untuk memperluas pasar dengan menghadirkan alternatif produk baru. Materi disampaikan secara praktis, dengan memeriksa motif karya perajin dan memberikan evaluasi serta saran untuk perbaikan sesuai teori desain. Tujuan dari pertemuan pertama ini adalah memperkenalkan teknik-teknik baru dalam desain serta memperluas wawasan perajin terhadap pentingnya inovasi agar produk lebih kompetitif dan relevan di pasar. Pada pertemuan selanjutnya, 13 Juli 2024, peserta yang sama dilibatkan dalam proses kesinambungan dari pelatihan sebelumnya, untuk mengembangkan produk-produk fesyen dan home dycor yang lebih estetis dan fungsional. Dalam pengembangan fesyen, pelatihan mengarahkan perajin untuk menerapkan motif batik pada T-Shirt sebagai alternatif produk selain pakaian wanita yang selama ini menjadi fokus. Diharapkan T-Shirt batik ini dapat menjangkau pasar yang lebih luas, seperti anak-anak hingga dewasa. Selain fesyen, pengembangan home dycor diperkenalkan dengan teknik seperti patchwork dan trapunto, yang bertujuan memanfaatkan kain perca batik menjadi produk dekorasi menarik, misalnya pelapis bantal kursi. Teknik patchwork menggabungkan kain perca yang berbeda warna dan motif, sedangkan teknik trapunto menghasilkan motif tiga dimensi melalui pengisian bahan seperti dakron. Pelatihan ini juga mendatangkan praktisi yang sudah sukses dalam usaha batik, sehingga peserta mendapatkan wawasan praktis tentang kesuksesan di pasar. Dalam pengembangan home dycor, pelatihan memfokuskan beberapa aspek utama, yakni estetika, teknik, material, dan fungsi produk. Dalam aspek estetika, peserta diajarkan memilih warna dan motif yang sesuai untuk menciptakan suasana tertentu dalam interior. Dari aspek teknik, peserta diajarkan proses menjahit, melapisi, dan mengisi motif dengan ketelitian yang tinggi. Aspek material juga diperhatikan dengan memilih kain yang sesuai, seperti mori dan blacu, yang karakteristiknya berbeda dan membutuhkan penanganan khusus. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Yayan Suherlan dkk Pengembangan Varian Motif Batik Girilayu Sebagai Diversifikasi A. DAFTAR PUSTAKA