E-ISSN : 2722-3612 Hal: 152-160 Vol. 6 No. 2, 2025 This article is licensed under https://doi. org/10. 46838/jbic. Article Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Kristen: Transformasi Dan Adaptasi Untuk Era Modern Mutiara Meylan Simorangkir1A. Monika Gultom2. Damayanti Nababan3 1,2,3 Pendidikan Agama Kristen. Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen. Institut Agama Kristen Negeri. Indonesia 1 mutiarasimorangkir1t@gmail. com 2 monikagultom31@gmail. com 3 nababanyanty02@gmail. Coresponding Author: mutiarasimorangkir1t@gmail. ABSTRACT The development of a Christian Religious Education (PAK) curriculum is crucial in ensuring the relevance and effectiveness of learning in the contemporary era. This study examines various aspects of PAK curriculum development using a qualitative approach through literature review. The results indicate that PAK curriculum development must consider biblical, theological, philosophical, historical, educational, psychological, and sociological foundations. Transforming the PAK curriculum requires technology integration, 21st-century skills development, and a holistic approach to prepare students for future challenges. An effective PAK curriculum must be able to bridge Christian values with the demands of modern education, while maintaining Christian identity and characteristics. Keywords: PAK Curriculum. Curriculum Development. Christian Religious Education. Educational Transformation Artikel Info Masuk Oktober 21, 2025 Revisi November 29, 2025 Diterima Desember 30, 2025 Terbit Januari 14, 2026 PENDAHULUAN Pendidikan Agama Kristen (PAK) memainkan peran strategis dalam pembentukan karakter dan spiritual peserta didik di Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika pendidikan global, kurikulum PAK menghadapi tantangan untuk tetap relevan dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Era digitalisasi dan globalisasi menuntut adanya transformasi kurikulum yang tidak hanya mempertahankan nilai-nilai kekristenan, tetapi juga mampu mengintegrasikan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di abad 21. Pengembangan kurikulum PAK menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa pembelajaran agama Kristen dapat menjawab tantangan kontemporer. Kurikulum sebagai rancangan pembelajaran memiliki fungsi vital dalam mengarahkan proses pendidikan menuju pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks PAK, kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai panduan pembelajaran, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan iman dan karakter Kompleksitas pengembangan kurikulum PAK terletak pada kebutuhan untuk menyeimbangkan antara tradisi keagamaan dengan inovasi pendidikan Hal ini memerlukan pendekatan yang komprehensif dan sistematis dalam merancang kurikulum yang tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. A 2025 The Authors Published by MAN Insan Cendekia Jambi Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article Tantangan utama dalam pengembangan kurikulum PAK adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai kekristenan dengan kebutuhan pembelajaran di era Peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dinamis, dengan akses informasi yang tidak terbatas dan tantangan sosial yang kompleks. Kurikulum PAK harus mampu mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang beriman, berilmu, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum PAK memerlukan landasan yang kuat dan pendekatan yang holistik. Landasan Pengembangan Kurikulum PAK Landasan Biblika dan Teologis Landasan biblika merupakan fondasi utama dalam pengembangan kurikulum PAK, dimana Alkitab berfungsi sebagai sumber primer pengetahuan dan kebenaran Setiap materi pembelajaran dalam kurikulum PAK harus dapat dipertanggungjawabkan secara biblika dan selaras dengan ajaran-ajaran fundamental Alkitab tidak hanya menyediakan konten pembelajaran, tetapi juga memberikan kerangka epistemologis bagi seluruh proses pendidikan Kristen. Pendekatan hermeneutik yang tepat menjadi kunci dalam menginterpretasikan dan mengaplikasikan teks-teks biblika dalam konteks pembelajaran modern (Pazmino. Landasan teologis berfungsi sebagai filter dan pengarah bagi pengembangan kurikulum PAK, memastikan bahwa setiap aspek pembelajaran memiliki koherensi teologis yang jelas. Teologi tidak hanya berperan sebagai konten yang harus diajarkan, tetapi juga sebagai metodologi dalam menganalisis dan mengevaluasi berbagai aspek pendidikan Kristen. Integrasi antara teologi dan pendidikan menciptakan kerangka pembelajaran yang tidak hanya informatif tetapi juga formatif bagi pembentukan iman peserta didik. Pendekatan teologis yang komprehensif memungkinkan kurikulum PAK untuk merespons berbagai tantangan kontemporer dengan tetap mempertahankan kesetiaan terhadap tradisi keagamaan (Colson & Rigdon, 1. Landasan Filosofis dan Historis Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum PAK memberikan kerangka pemikiran yang sistematis dalam memahami hakikat manusia, pengetahuan, dan proses pembelajaran dari perspektif kristiani. Filsafat pendidikan Kristen mengakui bahwa pengetahuan sejati bersumber dari Allah yang menyatakan diri melalui wahyu umum dan khusus. Epistemologi kristiani menekankan bahwa proses pembelajaran tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga spiritual dan Pendekatan filosofis yang holistik memungkinkan kurikulum PAK untuk mengintegrasikan berbagai dimensi pembelajaran dalam satu kesatuan yang koheren (Edlin, 2. Landasan historis memberikan perspektif diachronic dalam memahami perkembangan pendidikan Kristen dari masa ke masa, sekaligus memberikan pembelajaran berharga tentang praktik-praktik terbaik dalam pengembangan kurikulum PAK. Sejarah gereja menunjukkan bagaimana pendidikan Kristen telah beradaptasi dengan berbagai konteks sosial, budaya, dan politik tanpa kehilangan identitas fundamentalnya. Pemahaman historis membantu pengembang kurikulum untuk menghindari kesalahan-kesalahan masa lalu dan mengadopsi strategi-strategi Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article yang terbukti efektif. Kontinuitas historis juga memastikan bahwa kurikulum PAK tetap terhubung dengan tradisi keagamaan yang panjang sambil tetap responsif terhadap kebutuhan kontemporer (Homrighausen & Enklaar, 1. Landasan Psikologis dan Sosiologis Landasan PAK mempertimbangkan karakteristik perkembangan kognitif, emosional, dan spiritual peserta didik pada berbagai tahap kehidupan. Pemahaman tentang psikologi perkembangan memungkinkan pengembang kurikulum untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan peserta didik. Teori-teori pembelajaran seperti konstruktivisme dan pembelajaran bermakna dapat diintegrasikan dengan prinsip-prinsip pendidikan Kristen untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif. Aspek psikologis juga mencakup pemahaman tentang motivasi, gaya belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan iman pada peserta didik (Arifin, 2. Landasan sosiologis mengakui bahwa pendidikan tidak terjadi dalam ruang vakum, tetapi dalam konteks sosial dan budaya yang kompleks. Kurikulum PAK harus mampu merespons dinamika sosial kontemporer, termasuk pluralisme agama, sekularisasi, dan globalisasi. Pendekatan sosiologis membantu kurikulum PAK untuk menjadi relevan dengan konteks kehidupan peserta didik dan mempersiapkan mereka untuk berinteraksi secara konstruktif dengan masyarakat yang beragam. Integrasi nilai-nilai kekristenan dengan kesadaran sosial memungkinkan PAK untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya beriman tetapi juga berkontribusi positif bagi transformasi sosial (Sairin, 2. Komponen Kurikulum PAK Tujuan dan Visi Pembelajaran Komponen tujuan dalam kurikulum PAK harus dirumuskan secara hierarkis mulai dari tujuan pendidikan nasional hingga tujuan instruksional yang spesifik. Tujuan utama PAK adalah memfasilitasi pertumbuhan iman peserta didik menuju kedewasaan kristiani yang holistik, mencakup aspek spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Perumusan tujuan harus mengintegrasikan dimensi kognitif . engetahuan tentang iman Kriste. , afektif . embentukan sikap dan nilai kristian. , dan psikomotorik . enerapan iman dalam tindakan nyat. Tujuan pembelajaran PAK juga harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional sambil tetap mempertahankan keunikan dan ciri khas kristiani (Sukmadinata, 2. Visi pembelajaran PAK harus memberikan arah yang jelas tentang sosok ideal lulusan yang diharapkan, yaitu individu yang memiliki iman yang matang, karakter yang kuat, dan kompetensi yang memadai untuk berkontribusi bagi masyarakat. Visi ini harus realistis namun menantang, memberikan inspirasi bagi seluruh stakeholder pendidikan untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama. Implementasi visi memerlukan komitmen dari semua pihak dan strategi yang terencana dengan baik. Evaluasi berkala terhadap pencapaian visi menjadi penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran tetap pada jalur yang tepat menuju pencapaian tujuan yang telah Konten dan Materi Pembelajaran Konten kurikulum PAK harus mencakup pengetahuan fundamental tentang iman Kristen, termasuk pemahaman tentang Allah Tritunggal, karya keselamatan Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article Kristus, peran Roh Kudus, dan ajaran-ajaran etis kristiani. Materi pembelajaran harus disusun secara sistematis dan progresif, mempertimbangkan tingkat perkembangan peserta didik pada setiap jenjang pendidikan. Integrasi antara teori dan praktik menjadi penting untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Konten juga harus relevan dengan konteks kehidupan peserta didik dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi di era modern (Franklin & Bilo, 2. Diversifikasi materi pembelajaran melalui penggunaan berbagai sumber dan media pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas kurikulum PAK. Selain Alkitab sebagai sumber primer, kurikulum dapat mengintegrasikan literatur kristiani, sejarah gereja, biografi tokoh-tokoh iman, dan studi kasus kontemporer. Penggunaan teknologi dan media digital dapat memperkaya pengalaman belajar dan membuat materi lebih menarik bagi generasi digital. Namun, pemilihan dan penggunaan materi tambahan harus tetap sejalan dengan prinsip-prinsip biblika dan teologis yang mendasari kurikulum PAK (Sitorus et al. , 2. METODE PENELITIAN Metode dan Strategi Pembelajaran Metode pembelajaran dalam kurikulum PAK harus beragam dan disesuaikan dengan karakteristik materi, kebutuhan peserta didik, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Pendekatan pedagogis yang holistik mencakup metode ceramah, diskusi, studi kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran experiential yang melibatkan peserta didik secara aktif. Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik . tudent-centered learnin. dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar. Integrasi antara pembelajaran formal di dalam kelas dengan kegiatan informal di luar kelas dapat memperkaya pengalaman belajar peserta didik (Sumiyatiningsih, 2. Penggunaan teknologi dalam strategi pembelajaran PAK harus dilakukan secara bijaksana dan purposeful, mendukung pencapaian tujuan pembelajaran tanpa menggantikan esensi relasi personal dalam pendidikan Kristen. Platform digital dapat digunakan untuk menyediakan akses kepada sumber-sumber pembelajaran, memfasilitasi diskusi online, dan memungkinkan pembelajaran yang fleksibel. Namun, teknologi harus tetap menjadi alat bantu dan bukan tujuan dalam dirinya Pelatihan bagi pendidik PAK dalam penggunaan teknologi pembelajaran menjadi penting untuk memastikan implementasi yang efektif dan bermakna. Evaluasi dan Penilaian Sistem evaluasi dalam kurikulum PAK harus komprehensif dan multidimensional, tidak hanya mengukur pencapaian kognitif tetapi juga perkembangan spiritual, moral, dan karakter peserta didik. Penilaian formatif yang berkelanjutan memungkinkan pendidik untuk memantau progress pembelajaran dan memberikan feedback yang konstruktif. Penilaian sumatif dapat menggunakan berbagai instrumen seperti tes tertulis, portofolio, proyek, dan observasi perilaku. Penilaian autentik yang mengukur aplikasi iman dalam kehidupan nyata menjadi lebih bermakna daripada sekadar hafalan konsep-konsep teologis (Hamalik, 2. Evaluasi kurikulum secara keseluruhan harus dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitas dan relevansi kurikulum PAK. Feedback dari berbagai Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article stakeholder termasuk peserta didik, pendidik, orang tua, dan masyarakat dapat memberikan masukan berharga untuk perbaikan kurikulum. Evaluasi juga harus mempertimbangkan dampak jangka panjang kurikulum PAK terhadap pembentukan karakter dan komitmen iman peserta didik. Hasil evaluasi harus dijadikan dasar untuk revisi dan pengembangan kurikulum berkelanjutan, memastikan bahwa kurikulum PAK tetap dinamis dan responsif terhadap kebutuhan yang berkembang. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi Kurikulum PAK di Era Modern Integrasi Teknologi dan Digitalisasi Transformasi digital dalam pendidikan telah membawa perubahan paradigma yang signifikan dalam pengembangan kurikulum PAK, mengharuskan integrasi teknologi yang thoughtful dan purposeful. Penggunaan platform pembelajaran digital, aplikasi mobile, dan media interaktif dapat meningkatkan engagement peserta didik dan memberikan akses yang lebih luas kepada sumber-sumber Teknologi juga memungkinkan personalisasi pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar dan kecepatan pemahaman masing-masing peserta Namun, integrasi teknologi harus tetap mempertahankan esensi relational dari pendidikan Kristen yang menekankan pentingnya hubungan personal antara pendidik dan peserta didik (Franklin & Bilo, 2. Pengembangan konten digital untuk kurikulum PAK memerlukan pendekatan yang kreatif dan inovatif tanpa mengkompromikan kualitas teologis dan pedagogis. Multimedia pembelajaran seperti video, animasi, simulasi, dan virtual reality dapat membuat konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Platform e-learning dapat memfasilitasi pembelajaran yang fleksibel dan dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Digitalisasi juga memungkinkan kolaborasi antar lembaga pendidikan Kristen untuk berbagi sumber daya dan best practices dalam pengembangan kurikulum PAK. Pengembangan Keterampilan Abad 21 Kurikulum PAK harus mengintegrasikan keterampilan abad 21 seperti critical thinking, creativity, communication, dan collaboration . C) dalam setiap aspek Keterampilan berpikir kritis memungkinkan peserta didik untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi dari perspektif kristiani, membedakan antara kebenaran dan error, serta membuat keputusan yang bijaksana berdasarkan prinsip-prinsip biblika. Kreativitas dalam konteks PAK dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk ekspresi iman seperti seni, musik, drama, dan storytelling yang memperkaya pengalaman spiritual. Keterampilan komunikasi yang efektif memampukan peserta didik untuk menyampaikan iman mereka dengan jelas dan persuasif kepada berbagai audiens (Tobing, 2. Kolaborasi dalam pembelajaran PAK tidak hanya terjadi antar peserta didik, tetapi juga melibatkan kerjasama dengan keluarga, gereja, dan masyarakat dalam pembentukan iman. Pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan pelayanan sosial dapat mengembangkan empati dan kesadaran sosial peserta didik. Digital literacy menjadi keterampilan penting yang memungkinkan peserta didik untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan etis sesuai dengan nilai-nilai Global awareness mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga dunia Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article yang memahami keberagaman budaya sambil tetap berpegang teguh pada identitas kristiani mereka. Pendekatan Kontekstual dan Inklusif Pengembangan kurikulum PAK harus mempertimbangkan konteks lokal dan kebutuhan spesifik masyarakat dimana pendidikan tersebut dilaksanakan. Pendekatan kontekstual memungkinkan kurikulum untuk menjadi relevan dengan pengalaman hidup peserta didik dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi dalam lingkungan sosial mereka. Kontekstualisasi tidak berarti relativisme, tetapi aplikasi prinsip-prinsip universal kristiani dalam situasi-situasi khusus. Kurikulum harus mampu berbicara kepada generasi digital dengan bahasa dan metode yang mereka pahami tanpa mengkompromikan substansi teologis (Sitorus et al. , 2. Inklusivitas dalam kurikulum PAK mencakup perhatian terhadap keberagaman latar belakang peserta didik, termasuk perbedaan denominasi, tingkat ekonomi, kemampuan akademik, dan kebutuhan khusus. Kurikulum yang inklusif tidak hanya mengakomodasi perbedaan tetapi juga melihatnya sebagai kekayaan yang dapat memperkaya pengalaman pembelajaran bersama. Pendekatan inklusif juga berarti mempersiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat yang pluralistik dengan tetap mempertahankan identitas kristiani mereka. Dialog antariman yang konstruktif dapat diintegrasikan dalam kurikulum untuk mengembangkan sikap toleransi dan pengertian tanpa kompromi terhadap kebenaran kristiani. Implementasi dan Tantangan Persiapan Sumber Daya Manusia Implementasi kurikulum PAK yang efektif memerlukan persiapan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya pendidik yang memiliki kualifikasi teologis yang solid dan kemampuan pedagogis yang memadai. Pendidik PAK harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Alkitab dan teologi, serta kemampuan untuk mengkomunikasikan kebenaran kristiani dengan cara yang relevan dan menarik. Pelatihan berkelanjutan bagi pendidik PAK menjadi penting untuk mengikuti perkembangan metodologi pembelajaran dan teknologi pendidikan. Pengembangan profesional harus mencakup aspek spiritual, intelektual, dan pedagogis untuk memastikan kualitas pembelajaran yang holistik (Homrighausen & Enklaar, 1. Selain pendidik, implementasi kurikulum PAK juga memerlukan dukungan dari tenaga administrasi, konselor, dan staf pendukung lainnya yang memahami visi dan misi pendidikan Kristen. Kerjasama dengan gereja lokal dan organisasi kristiani dapat memperkaya sumber daya manusia yang tersedia untuk mendukung implementasi kurikulum. Program mentoring dan coaching dapat membantu pendidik baru untuk mengembangkan kompetensi mereka dengan lebih cepat. Evaluasi kinerja yang regular dan constructive feedback menjadi penting untuk memastikan standar kualitas yang tinggi dalam implementasi kurikulum PAK. Infrastruktur dan Sumber Daya Implementasi kurikulum PAK yang modern memerlukan infrastruktur yang memadai, termasuk fasilitas pembelajaran yang kondusif, perpustakaan yang lengkap, dan akses teknologi yang reliable. Ruang kelas harus dirancang untuk mendukung berbagai metode pembelajaran, dari pembelajaran tradisional hingga pembelajaran berbasis teknologi. Laboratorium komputer dan akses internet yang stabil menjadi kebutuhan dasar untuk mengimplementasikan pembelajaran digital. Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article Fasilitas untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti ruang musik, seni, dan olahraga juga penting untuk pengembangan holistik peserta didik (Hamalik, 2. Sumber daya pembelajaran yang berkualitas, termasuk buku teks, bahan ajar digital, dan media pembelajaran interaktif, harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan selalu diperbarui. Investasi dalam teknologi pembelajaran seperti smart board, proyektor, dan perangkat mobile dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Namun, pengadaan sumber daya harus diimbangi dengan pelatihan penggunaan yang memadai agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Kerjasama dengan penerbit kristiani dan lembaga teknologi pendidikan dapat membantu dalam pengadaan sumber daya yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Dukungan Stakeholder dan Kebijakan Dukungan dari berbagai stakeholder, termasuk pemerintah, yayasan, orang tua, dan masyarakat, menjadi kunci keberhasilan implementasi kurikulum PAK. Kebijakan pemerintah yang mendukung kebebasan beragama dan pendidikan karakter memberikan ruang yang lebih luas bagi pengembangan kurikulum PAK. Advokasi yang tepat kepada pembuat kebijakan dapat membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan Kristen. Transparansi dalam pengelolaan dan akuntabilitas dalam pencapaian hasil menjadi penting untuk mempertahankan dukungan stakeholder (Lase, 2. Kerjasama dengan orang tua dan keluarga menjadi sangat penting karena mereka adalah mitra utama dalam pendidikan iman anak-anak. Program parenting dan komunikasi regular dengan orang tua dapat memastikan konsistensi antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Dukungan finansial dari berbagai pihak, termasuk donatur dan sponsor, dapat membantu dalam penyediaan fasilitas dan program-program pengembangan kurikulum. Networking dengan lembaga pendidikan Kristen lainnya dapat memfasilitasi sharing best practices dan kolaborasi dalam pengembangan kurikulum. KESIMPULAN Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Kristen merupakan proses yang kompleks dan multidimensional yang memerlukan pendekatan holistik dan Landasan biblika, teologis, filosofis, historis, edukatif, psikologis, dan sosiologis harus diintegrasikan secara harmonis untuk menciptakan kurikulum yang tidak hanya informatif tetapi juga transformatif. Komponen-komponen kurikulum yang meliputi tujuan, konten, metode, dan evaluasi harus dirancang dengan cermat untuk memastikan pencapaian tujuan pembelajaran yang optimal. Transformasi kurikulum PAK di era modern memerlukan integrasi teknologi yang bijaksana, pengembangan keterampilan abad 21, dan pendekatan kontekstual yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Implementasi kurikulum PAK menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan solusi kreatif dan komitmen dari semua stakeholder. Persiapan sumber daya manusia yang kompeten, penyediaan infrastruktur yang memadai, dan dukungan kebijakan yang kondusif menjadi faktor-faktor kritis dalam keberhasilan Evaluasi berkelanjutan dan perbaikan yang konsisten diperlukan untuk memastikan bahwa kurikulum PAK tetap relevan dan efektif dalam mencapai Masa depan pengembangan kurikulum PAK terletak pada kemampuan Jurnal Bina Ilmu Cendekia https://jurnal. id/index. php/jbic/index Article untuk menyeimbangkan antara faithfulness terhadap tradisi kristiani dan flexibility dalam menghadapi perubahan zaman, menciptakan pembelajaran yang tidak hanya membentuk intelektual tetapi juga karakter dan iman peserta didik. REFERENSI