ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Perancangan Alat Sortir Ikan Lele untuk Mengurangi Tingkat Kematian dan Beban Kerja Pekerja Menggunakan Pendekatan Seven Tools Quality Control Design of Catfish Sorting Tool to Reduce Mortality Rate and Worker Workload Using Seven Quality Control Tools Approach Safwanizhan1. Ade Putra Biyantoro2. Nur Saumi Indana Zulfah3. Rahmat Giant Nanda4. Aprilia Tri Purwandari5. Sopian Maulana6 1,2,3,4,5,6Teknik Industri. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Al Azhar Indonesia 2003@gmail. Abstract Catfish farming is one of the freshwater aquaculture sectors that plays an important role in meeting food demand and supporting community economic growth. However, in practice, several technical problems still affect operational efficiency, particularly in the catfish sorting process. Manual sorting requires a long processing time, involves repetitive work activities, and increases physical workload, which can lead to fish stress and higher mortality rates. This study aims to identify the main causes of catfish mortality and to design an improvement solution in the form of a more efficient and ergonomic catfish sorting tool. The research method applies the Seven Quality Control Tools approach, including check sheets. Pareto diagrams, and cause-and-effect . diagrams, followed by Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to determine risk priorities. The results indicate that fish mortality is the dominant factor causing discrepancies between the number of purchased fingerlings and the number of sold Manual sorting was identified as the main cause with the highest Risk Priority Number (RPN) compared to other factors, such as overfeeding and improper use of pH measurement tools. Based on these findings, a catfish sorting tool was designed to accelerate the sorting process, reduce workersAo physical workload, and minimize fish stress and mortality. This study is expected to contribute to improving operational efficiency and production quality in small- to medium-scale catfish farming Keywords: catfish farming. seven quality tools. fish sorting process. operational efficiency Abstrak Budidaya ikan lele merupakan salah satu sektor perikanan air tawar yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mendukung perekonomian masyarakat. Namun, pada praktiknya masih ditemukan berbagai permasalahan teknis yang memengaruhi efisiensi operasional, salah satunya pada proses penyortiran ikan lele. Proses penyortiran yang masih dilakukan secara manual menyebabkan waktu kerja yang lama, beban kerja fisik yang tinggi, serta meningkatkan risiko stres dan kematian ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama tingginya tingkat kematian ikan lele serta merancang solusi perbaikan berupa alat sortir lele yang lebih efisien dan ergonomis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini Seven Tools Quality Control, yang meliputi check sheet, diagram Pareto, dan diagram sebab-akibat . , serta dilanjutkan dengan analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menentukan prioritas risiko. Hasil analisis menunjukkan bahwa kematian ikan lele merupakan faktor dominan penyebab selisih antara jumlah bibit yang dibeli dan jumlah ikan yang terjual. Proses penyortiran lele secara manual teridentifikasi sebagai penyebab utama dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi dibandingkan faktor lainnya, seperti overfeeding dan kesalahan penggunaan alat ukur pH. Berdasarkan hasil tersebut, dilakukan perancangan alat sortir lele yang diharapkan mampu mempercepat proses penyortiran, mengurangi beban kerja pekerja, serta menurunkan tingkat kematian ikan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan efisiensi operasional dan kualitas produksi pada usaha budidaya ikan lele skala kecil hingga menengah. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Kata kunci:budidaya ikan lele, seven tools, fmea, penyortiran ikan, efisiensi operasional. Pendahuluan Budidaya ikan lele adalah salah satu bidang perikanan air tawar yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Meskipun proses budidayanya relatif sederhana, masih terdapat permasalahan teknis yang memengaruhi efisiensi operasional, khususnya pada tahap penyortiran ikan lele. Pada banyak usaha budidaya lele skala kecil hingga menengah, proses penyortiran masih dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga kerja dan alat sederhana. Proses ini membutuhkan waktu yang lama, bersifat repetitif, serta melibatkan kontak langsung dengan ikan, sehingga meningkatkan beban kerja fisik pekerja dan berpotensi menimbulkan stres pada ikan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas ikan dan meningkatnya tingkat kematian, yang berdampak langsung pada kerugian produksi. Berdasarkan data operasional di Saung Bamboe Fish Farm, terdapat selisih yang signifikan antara jumlah bibit lele yang dibeli dan jumlah lele yang berhasil dijual. Analisis menggunakan metode Seven Tools Quality Control menunjukkan bahwa penyebab utama kehilangan berasal dari tingginya tingkat kematian ikan, dengan faktor risiko terbesar berasal dari proses penyortiran yang tidak efisien. Permasalahan ini menunjukkan perlunya perbaikan sistem kerja pada tahap penyortiran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang alat sortir ikan lele yang lebih efisien dan ergonomis guna mengurangi tingkat kematian ikan serta menurunkan beban kerja pekerja. Metode Seven Tools Quality Control digunakan sebagai pendekatan utama untuk mengidentifikasi permasalahan, menentukan prioritas risiko, dan menjadi dasar dalam perancangan alat sortir yang sesuai dengan kondisi operasional tambak lele. Metode Penelitian Pada penelitian ini, penulis menerapkan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai metode utama untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi kegagalan yang terjadi dalam proses penyortiran ikan lele. FMEA merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk menentukan mode kegagalan potensial, menganalisis dampaknya, serta memberikan prioritas perbaikan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN), sehingga dapat mencegah permasalahan berulang dan meningkatkan kualitas proses operasional . , . Metode ini dipadukan dengan Seven Tools Quality Control, termasuk check sheet, diagram Pareto, dan diagram fishbone, untuk mengukur dan menguraikan penyebab utama masalah dalam proses sortir secara kuantitatif dan kualitatif sebelum dilakukan evaluasi risiko melalui FMEA . , . , . , . Pendekatan integratif ini telah digunakan efektif dalam pengendalian kualitas dan perbaikan proses produksi dalam berbagai studi kasus industri, dengan tujuan mengurangi cacat produk dan meningkatkan efisiensi proses . , . Melalui penerapan metode ini, penelitian diharapkan mampu menyusun prioritas tindakan perbaikan yang terukur berdasarkan tingkat risiko kegagalan yang paling tinggi, khususnya dalam konteks proses penyortiran lele pada usaha budidaya dan restoran, sehingga efektivitas pengendalian kualitas dan produktivitas operasional dapat ditingkatkan. Hasil dan Pembahasan Pengumpulan Data (Check Shee. Tahap awal penelitian dilakukan dengan pengumpulan data menggunakan check sheet untuk mencatat perbedaan antara jumlah bibit ikan lele yang masuk dengan jumlah ikan lele yang berhasil dijual selama periode pengamatan. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Tabel 1. Check Sheet Sebaran Selisih lele sebaran selisih bibit dibeli jumlah lele Maret April Mei TOTAL karena mati karena cacat karena hilang Data menunjukkan adanya selisih yang konsisten setiap bulan, yang mengindikasikan terjadinya kehilangan ikan selama proses budidaya. Selisih tersebut menjadi dasar identifikasi awal adanya permasalahan pada proses operasional tambak lele, khususnya yang berhubungan dengan kematian ikan. Analisis Diagram Pareto Berdasarkan data pada check sheet, dilakukan pengolahan menggunakan diagram Pareto untuk mengetahui faktor dominan penyebab selisih jumlah ikan. Tabel 2. Persentase Penyebab Kehilangan Penyebab Kehilangan Total Frekuensi Persentase Individu (% In. Persentase Kumulatif (% Ku. Karena Mati 60,05% 60,05% Karena Cacat 30,90% 90,94% Karena Hilang 9,06% 100,00% Gambar 1. Hasil Diagram Pareto Hasil Pareto menunjukkan bahwa kematian ikan lele merupakan penyumbang terbesar terhadap selisih total, dengan persentase kumulatif melebihi 60%. Temuan ini mengindikasikan bahwa upaya perbaikan sebaiknya difokuskan pada faktor-faktor yang menyebabkan tingginya tingkat kematian ikan, karena akan memberikan dampak perbaikan paling signifikan terhadap efisiensi usaha. Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Analisis Diagram Sebab-Akibat (Fishbon. Gambar 2. Hasil Diagram Pareto Untuk mengidentifikasi penyebab utama tingginya tingkat kematian ikan lele, dilakukan analisis menggunakan diagram sebab-akibat . Berdasarkan hasil fishbone, penyebab kematian ikan dikelompokkan ke dalam beberapa aspek, yaitu metode kerja, manusia, peralatan, dan lingkungan. Dari hasil analisis tersebut, diketahui bahwa proses penyortiran lele secara manual menjadi faktor yang paling dominan, disebabkan oleh tingginya intensitas kontak fisik, waktu penyortiran yang lama, serta perlakuan ikan yang kurang terkontrol. Selain itu, faktor overfeeding dan ketidaktepatan penggunaan alat ukur pH juga turut berkontribusi terhadap kondisi stres ikan yang berujung pada kematian. Analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Tahap lanjutan dilakukan dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Tabel 3. Hasil Perhitungan RPN. Dampak Potensi Kegagalan Faktor Potensial Yang Menyebabkan Kegagalan RPN Proses lele tidak Proses penyortiran masih dilakukan secara manual, memerlukan waktu lama, bersifat repetitif, dan menyebabkan stres pada ikan akibat penanganan langsung serta keterbatasan wadah Overfeeding Memberi pakan tidak memiliki takaran Penggunaan alat ukur pH tidak benar Pengukuran pH tidak dilakukan secara rutin Jenis Kegagalan Tingginya Berdasarkan hasil perhitungan FMEA, diperoleh bahwa kegagalan pada proses penyortiran lele memiliki nilai RPN tertinggi dibandingkan faktor lainnya, sehingga ditetapkan sebagai prioritas utama perbaikan. Nilai RPN yang tinggi disebabkan oleh tingginya tingkat keparahan dampak terhadap ikan, frekuensi kejadian yang sering, serta rendahnya tingkat pendeteksian dini terhadap risiko yang terjadi. Sementara itu, kegagalan Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 akibat overfeeding dan kesalahan penggunaan alat ukur pH memiliki nilai RPN lebih rendah dibandingkan proses penyortiran, namun tetap memerlukan pengendalian sebagai faktor pendukung dalam menurunkan tingkat kematian ikan. Tabel 4. Hasil Perhitungan RPN Baru. Jenis Kegagalan Tingginya Faktor Potensial Yang Menyebabkan Kegagalan Rekomendasi