Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Peran Mediasi Motivasi Berprestasi Pada Kemandirian Belajar Dengan Kemampuan Literasi Membaca Siswa Madrasah Ibtidaiyah Author: Laylatul Mubarok1 Zuhrotul Khoiroh2 Siti Mafridatul3 Mahbubah Amin4 Afiliation: Universitas Sunan Giri Surabaya1,2,3,4,5 Corresponding email Imlaylatul03@gmail. zuhco123@gmail. fridafridem@gmail. mamin@gmail. Histori Naskah: Submit: 06-05-2026 Accepted: 09-05-2026 Published: 10-05-2026 How To cite: This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. 0 International License Abstrak: Latar belakang: Literasi membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar yang penting bagi siswa sekolah dasar karena berpengaruh terhadap keberhasilan akademik. Kemampuan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kognitif, tetapi juga faktor internal seperti kemandirian belajar dan motivasi berprestasi. Kemandirian belajar membantu siswa mengelola proses belajarnya secara mandiri, sedangkan motivasi berprestasi mendorong siswa mencapai hasil belajar yang Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran motivasi berprestasi sebagai mediator dalam hubungan antara kemandirian belajar dan kemampuan literasi membaca pemahaman. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional dan desain mediasi. Subjek penelitian adalah 28 siswa kelas IV MINU Waru 1 Sidoarjo. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert untuk mengukur kemandirian belajar dan motivasi berprestasi, serta tes untuk mengukur kemampuan literasi membaca. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson dan regresi linier dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian: Penelitian ini menunjukkan bahwa kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap literasi membaca dan motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi juga berpengaruh signifikan terhadap literasi serta berperan sebagai mediator Dapat disimpulkan bahwa Kemandirian belajar meningkatkan literasi membaca secara langsung maupun tidak langsung melalui motivasi berprestasi. Kata kunci: Kemandirian Belajar. Literasi Membaca Pemahaman. Motivasi Berprestasi. Mediasi. Pendahuluan Latar Belakang Tuntutan pendidikan abad ke-21 mengharuskan siswa menguasai kompetensi kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas . C). Fondasi utama dalam mencapai kecakapan tersebut adalah literasi membaca pemahaman, yang tidak sekadar dimaknai sebagai kemampuan mengeja kata, namun mencakup proses interpretasi, penarikan simpulan, evaluasi data, serta integrasi informasi dengan wawasan yang sudah ada. Lebih lanjut. Syahruddin dan Haslinda . menekankan bahwa kompetensi membaca pemahaman yang kuat pada siswa sekolah dasar berkorelasi positif dengan keberhasilan akademik di berbagai disiplin ilmu, sehingga menjadikannya keterampilan fundamental di level pendidikan dasar. Kemampuan literasi membaca pemahaman siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor internal yang berperan penting adalah Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. kemandirian belajar. Kemandirian belajar menggambarkan kemampuan siswa untuk mengelola proses belajarnya sendiri, mulai dari perencanaan, pemantauan, hingga evaluasi terhadap tugas-tugas Hidayati dan Listyani . membuktikan bahwa siswa yang mandiri mampu mengatasi hambatan secara proaktif, yang pada akhirnya meningkatkan performa literasi mereka. Siswa dengan kemandirian belajar tinggi cenderung lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mencari sumber belajar secara mandiri. Kondisi ini memungkinkan mereka memiliki kesiapan yang lebih baik dalam memahami materi bacaan sehingga literasi membaca pemahaman meningkat. Kemandirian belajar tidak selalu berdampak langsung terhadap kemampuan literasi membaca. Terdapat faktor lain yang menjembatani hubungan tersebut, salah satunya adalah motivasi Motivasi berprestasi adalah dorongan internal yang membuat siswa berusaha keras untuk mencapai tujuan akademik, menyelesaikan tugas dengan baik, dan ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya . ari & Herlina, 2. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi biasanya lebih gigih dalam membaca, lebih teliti dalam memahami isi teks, serta lebih aktif mencari informasi tambahan untuk memperkuat pemahamannya. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemandirian belajar tetapi motivasi berprestasinya rendah cenderung kurang optimal dalam proses memahami bacaan. Artinya, meskipun siswa memiliki kemampuan untuk belajar secara mandiri, tanpa adanya dorongan kuat untuk mencapai prestasi, hasil yang diperoleh belum tentu maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berprestasi dapat menjadi variabel penting yang memediasi hubungan antara kemandirian belajar dan kemampuan literasi membaca pemahaman. Dengan demikian, penelitian tentang peran mediasi motivasi berprestasi perlu dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel ini memengaruhi kualitas literasi membaca siswa. Pada konteks pembelajaran di MINU Waru 1 Sidoarjo, kondisi di lapangan menunjukkan adanya variasi kemampuan literasi membaca pemahaman siswa kelas IV. Beberapa siswa mampu memahami teks secara literal, tetapi belum mampu menjawab pertanyaan inferensial atau evaluatif. Selain itu, pengamatan guru menunjukkan adanya perbedaan tingkat kemandirian belajar antar siswa. Ada siswa yang mampu menyelesaikan tugas secara mandiri, namun ada pula yang masih sangat bergantung pada arahan guru atau orang tua. Motivasi berprestasi juga terlihat beragam. beberapa siswa memiliki dorongan belajar yang tinggi, sementara yang lain membutuhkan motivasi tambahan untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca pemahaman tidak dapat dilihat sebagai hasil dari satu faktor saja, melainkan dipengaruhi oleh gabungan faktor psikologis dan kemampuan belajar siswa. Guru kelas IV MINU Waru 1 Sidoarjo juga menegaskan bahwa siswa dengan motivasi berprestasi tinggi umumnya menunjukkan kegigihan untuk membaca dan memahami materi pelajaran. Hal ini memperkuat dugaan bahwa motivasi berprestasi memiliki peran mediasi dalam hubungan antara kemandirian belajar dan literasi membaca pemahaman. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif terkait dinamika faktor-faktor tersebut. Berdasarkan tinjauan tersebut, kajian mendalam mengenai peran mediasi motivasi berprestasi dalam kaitannya dengan kemandirian belajar dan kemampuan membaca pemahaman sangat relevan untuk dilakukan pada siswa kelas IV MINU Waru 1 Sidoarjo. Selain memberikan sumbangsih secara teoretis bagi perkembangan ilmu pendidikan, penelitian ini juga menawarkan manfaat aplikatif bagi para pemangku kepentingan. Harapannya, hasil studi ini dapat membantu guru dan orang tua dalam merancang pola instruksional yang mampu memperkuat kemandirian serta motivasi siswa, yang merupakan faktor kunci dalam meningkatkan pemahaman bacaan mereka. Rumusan Masalah Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kemandirian belajar terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman siswa kelas IV di MINU Waru 1 Sidoarjo? Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kemandirian belajar terhadap motivasi berprestasi siswa kelas IV di MINU Waru 1 Sidoarjo? Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi berprestasi terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman siswa kelas IV di MINU Waru 1 Sidoarjo? Apakah motivasi berprestasi memediasi secara signifikan hubungan antara kemandirian belajar dengan kemampuan literasi membaca pemahaman siswa kelas IV di MINU Waru 1 Sidoarjo? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam dampak kemandirian belajar serta pengaruh motivasi berprestasi terhadap tingkat literasi membaca pemahaman pada siswa kelas IV di MINU Waru 1 Sidoarjo. Selain itu, studi ini menginvestigasi peran motivasi berprestasi sebagai variabel mediasi yang menjembatani hubungan antara kemandirian belajar dengan kemampuan literasi membaca pemahaman siswa secara komprehensif. Manfaat Penelitian Dapat Memberikan gambaran empiris bagi guru dan sekolah tentang peran motivasi dan kemandirian dalam literasi siswa. Menjadi dasar pengembangan program peningkatan literasi dan motivasi belajar di sekolah Studi Literatur Kemandirian Belajar Kemandirian belajar atau Self-regulated learning (SRL) pada siswa MI merupakan kemampuan mengatur kegiatan belajar secara mandiri melalui strategi metakognitif sederhana, motivasi internal, serta perilaku yang terarah. Dalam ekosistem pembelajaran digital. SRL menjadi faktor sehingga lebih mudah beradaptasi dengan berbagai media pembelajaran. Penerapan strategi seperti planning, monitoring, dan evaluation terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kemampuan membaca pemahaman, di mana siswa menjadi lebih terampil dalam mengorganisasi informasi dan memeriksa tingkat pemahaman mereka terhadap teks (Anim et al. , 2. Strategi regulasi diri ini juga berkorelasi erat dengan peningkatan motivasi dan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar. Melalui teknik seperti pemantauan teks . ext monitorin. dan refleksi diri sederhana, siswa cenderung lebih fokus, percaya diri, dan memiliki dorongan kuat untuk terus Pengaruh SRL tidak hanya terbatas pada kemampuan literasi, tetapi juga meluas pada mata pelajaran berbasis konsep seperti matematika, karena membantu siswa dalam mengatur waktu serta memecahkan masalah secara sistematis dan tekun (Maulida & Surawan, 2. Motivasi Berprestasi Motivasi belajar merupakan penggerak psikologis vital yang mendorong siswa untuk bertindak, mengarahkan kegiatan belajar, dan mempertahankan intensitas usaha demi mencapai tujuan akademik, terutama pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Secara teoretis, motivasi ini terbagi menjadi bentuk intrinsik yang berasal dari rasa ingin tahu internal, serta ekstrinsik yang dipicu oleh faktor luar seperti nilai atau apresiasi guru. Meskipun keduanya berkontribusi pada aktivitas belajar, motivasi intrinsik dinilai lebih efektif untuk pembelajaran jangka panjang karena memenuhi kebutuhan dasar akan kompetensi dan otonomi siswa (Sari & Herlina, 2. Tingkat motivasi siswa sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti minat dan tujuan belajar, serta faktor eksternal seperti lingkungan dan strategi pembelajaran. Guru di lingkungan MI memegang peranan besar melalui penggunaan metode mengajar yang variatif, interaksi positif, dan pemberian penguatan berupa pujian atau umpan balik konstruktif. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media interaktif dan rancangan pembelajaran bermakna yang relevan dengan fase Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. perkembangan anak terbukti lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi aktif dan keterlibatan siswa dibandingkan metode tradisional (Rahmawati & Yusuf, 2. Kemampuan Literasi Membaca Pemahaman Kemampuan literasi membaca pemahaman pada siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) mencakup keterampilan memahami makna, pesan, dan interpretasi teks secara mendalam, melainkan bukan sekadar pengenalan kata. Siswa yang memiliki kemampuan ini akan lebih efektif dalam menyerap informasi, menghubungkan bacaan dengan pengalaman nyata, serta menjawab pertanyaan kritis terkait isi teks (Yuliana. Syahruddin, & Haslinda, 2. Keterampilan ini sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti penguasaan kosakata, konsentrasi, dan motivasi intrinsik, di mana siswa yang memiliki strategi belajar terarah cenderung menunjukkan performa membaca yang lebih unggul (Febrianti. Mirnawati, & Faradita, 2. Faktor eksternal, seperti dukungan guru dan lingkungan belajar yang kondusif melalui program pembiasaan membaca, juga berperan signifikan dalam meningkatkan literasi siswa (Rahmawati & Yusuf, 2. Implementasi strategi pembelajaran aktif yang menggabungkan kegiatan diskusi dan penulisan tanggapan terhadap teks membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam dan komprehensif (RifaAoi. Ayumi, & Adrias, 2. Secara keseluruhan, integrasi antara motivasi, regulasi diri, dan metode instruksional yang tepat menjadi kunci optimalisasi kemampuan literasi membaca pada tingkat pendidikan dasar. Hubungan Kemandirian Belajar. Motivasi dan Literasi Membaca Pemahaman Kemandirian belajar atau self-regulated learning (SRL) merupakan kemampuan siswa MI dalam mengatur proses belajarnya melalui strategi metakognitif dan motivasi internal yang terarah (Maulida Sari & Surawan, 2. Siswa dengan SRL yang baik mampu merencanakan dan mengevaluasi hasil belajarnya, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan media pembelajaran Kemandirian ini berkaitan erat dengan motivasi belajar yang berfungsi sebagai penggerak siswa yang mandiri cenderung memiliki motivasi lebih tinggi, yang pada gilirannya meningkatkan fokus dan upaya mereka dalam memahami isi bacaan secara menyeluruh (Leites. Seferian, & Martynez, 2024. Rahmawati & Yusuf, 2. Kemampuan literasi membaca pemahaman sangat dipengaruhi oleh sinergi antara kemandirian dan motivasi tersebut. Siswa yang mampu memantau pemahamannya secara mandiri terbukti memiliki keterampilan membaca yang lebih baik dalam mengorganisasi informasi dan menyimpulkan teks (RifAoattullah & Putra, 2023. Yuliana. Syahruddin, & Haslinda, 2. Secara integratif, penerapan strategi SRL tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi tetapi juga memperkuat ketekunan akademik siswa pada berbagai mata pelajaran (Wang, 2023. Anim dkk. Oleh karena itu, perancangan pembelajaran yang menumbuhkan kedua aspek psikologis ini menjadi kunci optimalisasi literasi membaca pada tingkat pendidikan dasar. Metode Penelitian Penelitian ini dirancang menggunakan metode kuantitatif korelasional guna mengevaluasi hubungan antarvariabel yang diteliti. Data yang dikumpulkan bersifat numerik, bersumber dari hasil pengisian angket oleh responden. Fokus utama penelitian adalah mengidentifikasi pengaruh kemandirian belajar terhadap kemampuan literasi membaca melalui peran motivasi berprestasi. Model penelitian yang diterapkan adalah desain mediasi. Di sini, kemandirian belajar bertindak sebagai variabel bebas (X), literasi membaca pemahaman sebagai variabel terikat (Y), sedangkan motivasi berprestasi berfungsi sebagai variabel mediasi (M) yang menjembatani keduanya. Untuk keperluan analisis Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. data, digunakan teknik statistik berbasis SPSS. Kekuatan hubungan antara dua variabel diuji menggunakan teknik korelasi Pearson, yang secara matematis dirumuskan sebagai berikut: nOc XYOe(OcX)(OcY) Oo . OcXA Oe (OcX)A O. OcYA Oe(OcY)A] Selanjutnya. Untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, penelitian ini menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan model persamaan berikut: Y = c bX Dalam analisis regresi digunakan untuk menguji pengaruh kemandirian belajar terhadap motivasi berprestasi dan literasi membaca pemahaman. Selain itu, untuk menganalisis fungsi motivasi berprestasi sebagai mediator, penelitian ini menggunakan model analisis mediasi melalui tiga tahapan persamaan , yaitu: Y = c bCAX M = c bCCX Y = c bCEX bCEM Pengujian signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi (Sig. ) hasil analisis dengan taraf signifikansi yang ditetapkan, yaitu = 0,05. Apabila nilai Sig. < 0,05, maka pengaruh antarvariabel dinyatakan signifikan dan hipotesis penelitian diterima. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner yang dirancang untuk mengukur variabel Kemampuan Literasi Membaca Pemahaman dan Motivasi Belajar. Kuesioner ini terdiri dari 8 pernyataan yang menggunakan skala Likert . Indikator yang diukur meliputi kemampuan menemukan informasi tersurat, membuat inferensi sederhana, serta integrasi isi teks dengan pengetahuan awal siswa (Yuliana et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini melibatkan 28 siswa kelas IV MINU Waru 1 Sidoarjo sebagai responden. Instrumen penelitian terdiri atas 9 item pernyataan yang terbagi ke dalam tiga variabel, yaitu kemandirian belajar (X), motivasi berprestasi (M), dan kemampuan literasi membaca pemahaman (Y). Ketiga variabel tersebut diukur menggunakan skala Likert empat poin. Skor setiap item dijumlahkan untuk memperoleh skor total masing-masing variabel yang selanjutnya digunakan dalam analisis statistik. Statistik Deskriptif Variabel Data yang diperoleh dalam penelitian ini dijabarkan melalui analisi statistik deskriptif dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Rincian hasil analisis statistik tersebut disajikan pada tabel di bawah ini: Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. Variabel Deviation Tabel 1. Statistik Deskriptif Data Penelitian Minimum Maximum Mean Std. Kemandirian Belajar Motivasi Berprestasi Literasi Membaca Berdasarkan hasil statistik deskriptif, nilai rata-rata . ketiga variabel menunjukkan kecenderungan berada pada kategori sedang hingga tinggi. Variabel kemandirian belajar memperoleh nilai rata-rata sebesar 10,25 dengan standar deviasi 1,12, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa telah memiliki kemampuan mengatur proses belajarnya secara cukup baik, meskipun masih terdapat variasi Variasi ini mencerminkan perbedaan tingkat tanggung jawab belajar, inisiatif, serta kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas secara mandiri. Variabel motivasi berprestasi menunjukkan nilai rata-rata tertinggi, yaitu 10,68 dengan standar deviasi 0,98. Nilai standar deviasi yang relatif kecil mengindikasikan bahwa tingkat motivasi berprestasi siswa cenderung merata. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki dorongan internal yang cukup kuat untuk mencapai hasil belajar yang baik, seperti keinginan memperoleh nilai tinggi, pengakuan, atau kepuasan pribadi dalam belajar. Sementara itu, kemampuan literasi membaca pemahaman memiliki nilai rata-rata sebesar 10,43 dengan standar deviasi 1,05. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum siswa mampu memahami isi bacaan dengan cukup baik, meskipun masih terdapat perbedaan kemampuan antar siswa. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti minat membaca dan motivasi, maupun faktor eksternal seperti lingkungan belajar dan dukungan Secara keseluruhan, hasil statistik deskriptif memberikan gambaran awal bahwa kondisi responden mendukung untuk dilakukan analisis hubungan dan pengaruh antarvariabel. Uji Korelasi Pearson Tabel 2. Uji Korelasi Pearson Variabel X (Kemandirian Belaja. M (Motivasi Berprestas. Y (Literasi Membac. Berdasarkan uji korelasi Pearson, ditemukan hubungan positif dan signifikan pada seluruh variabel Secara spesifik, korelasi antara kemandirian belajar dan motivasi berprestasi mencapai angka 0,820, yang mengindikasikan hubungan pada kategori sangat kuat. Hal ini bermakna bahwa peningkatan kemandirian belajar berbanding lurus dengan motivasi berprestasi siswa. di mana kemandirian dalam Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. belajar memupuk rasa percaya diri serta tanggung jawab yang lebih besar terhadap capaian akademik. Hubungan antara kemandirian belajar dan kemampuan literasi membaca pemahaman juga menunjukkan korelasi yang kuat dengan koefisien sebesar 0,780. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemandirian belajar berperan penting dalam meningkatkan kemampuan memahami bacaan. Siswa yang terbiasa belajar mandiri umumnya lebih aktif dalam membaca, mengulang materi, serta mencari informasi tambahan, sehingga pemahaman terhadap bacaan menjadi lebih optimal. Selain itu. Hubungan paling kuat dalam penelitian ini ditunjukkan oleh variabel motivasi berprestasi terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman dengan nilai korelasi 0,850. Angka tersebut menegaskan bahwa motivasi berprestasi adalah kunci utama dalam meningkatkan literasi membaca. Hal ini dikarenakan siswa dengan motivasi tinggi cenderung menunjukkan ketekunan dan konsentrasi yang lebih baik saat memahami isi teks. Dengan demikian, data ini memperkuat tesis mengenai keterkaitan mendalam antara seluruh variabel yang diteliti. Uji Regresi Linier Tabel 3. Hasil Uji Regresi Linier Kemandirian Belajar terhadap Literasi Membaca Model Sig Constant Kemandirian Belajar Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linier Kemandirian Belajar terhadap Motivasi Berprestasi Model Constant Kemandirian Belajar Sig Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linier Motivasi Berprestasi terhadap Literasi Membaca Model Constant Motivasi Berprestasi Sig Berdasarkan hasil uji regresi linier mengonfirmasi bahwa kemandirian belajar memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman siswa ($p < 0,05$). Koefisien regresi yang positif menunjukkan hubungan berbanding lurus, di mana peningkatan kemandirian belajar akan diikuti oleh penguatan kemampuan literasi. Selain itu, ditemukan pula dampak signifikan kemandirian belajar terhadap motivasi berprestasi. mengindikasikan bahwa kemampuan manajemen belajar mandiri memicu dorongan yang lebih besar untuk meraih hasil optimal. Terakhir, motivasi berprestasi terbukti menjadi katalisator penting yang secara signifikan meningkatkan ketekunan dan fokus Volume: 4 | Nomor :1 | Bulan: Mei Tahun: 2026 | E-ISSN: 2987-9264 | DOI: 10. 47709/geci. V 4i1. siswa dalam memahami teks bacaan. Uji Mediasi Temuan dari analisis regresi menunjukkan bahwa setiap jalur dalam model mediasi memiliki pengaruh yang signifikan, ditandai dengan nilai p-value di bawah 0,05. Secara spesifik, kemandirian belajar memberikan dampak langsung yang nyata terhadap kecakapan literasi membaca pemahaman sekaligus terhadap motivasi berprestasi siswa. Selain itu, motivasi berprestasi ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan pemahaman bacaan. Karena seluruh jalur pengujian terbukti signifikan, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi berfungsi sebagai mediator parsial. Hal ini mengindikasikan bahwa kemandirian belajar memengaruhi literasi membaca melalui dua jalur: secara langsung dan secara tidak langsung melalui penguatan motivasi berprestasi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman siswa kelas IV MINU Waru 1 Sidoarjo. Selain itu, kemandirian belajar juga berpengaruh signifikan terhadap motivasi berprestasi siswa. Motivasi berprestasi terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan literasi membaca pemahaman. Hasil uji mediasi menunjukkan bahwa motivasi berprestasi berperan sebagai variabel mediasi parsial dalam hubungan antara kemandirian belajar dan kemampuan literasi membaca pemahaman. Artinya, peningkatan kemandirian belajar siswa tidak hanya berdampak langsung pada kemampuan membaca pemahaman, tetapi juga secara tidak langsung melalui peningkatan motivasi berprestasi. Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian terdahulu yang menegaskan pentingnya pengembangan kemandirian belajar dan motivasi berprestasi sebagai strategi untuk meningkatkan literasi membaca siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, guru dan sekolah disarankan untuk merancang pembelajaran yang mampu menumbuhkan kemandirian belajar serta memotivasi siswa agar kemampuan literasi membaca pemahaman dapat berkembang secara optimal. Referensi