Jayapangus Press Metta: Jurnal Ilmu Multidisiplin Volume 3 Nomor 4 . ISSN : 2798-7329 (Media Onlin. Implementasi Ajaran Tri Kaya Parisudha Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta I Made Rai Budayasa1. Kadek Agus Dharmawan2 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia SLB Negeri 1 Klungkung. Bali. Indonesia raibudayasa99@gmail. Abstract Education is one very important aspect in educational life as a human effort to develop their personality in accordance with the values that exist in society and culture in order to improve one's quality and be able to develop one's potential. As a reference for prospective teachers to conduct direct research in real situations, both in teaching activities and other teacher duties in accordance with national/institutional education standards, and to form children who are suputra . ood, wis. , sadha . eligious/faithfu. , and gunawan . ntelligent, skille. in accordance with the teachings of Tri Kaya Parisudha. This research aims to: . Find out how the teaching of Hindu Religion and Moral Character is taught at Taman Tirta Elementary School, . Find out what the obstacles are in implementing the Tri Kaya Parisudha teachings in learning Hindu Religion and Character Education at Taman Tirta Elementary School, . Find out how Efforts made to face obstacles in implementing the Tri Kaya Parisudha teachings in teaching Hindu Religion and Character education at Taman Tirta Elementary School. Data collection techniques are observation, interviews, documentation and literature The data that has been collected is analyzed using the Qualitative Descriptive analysis method with reduction steps, data presentation, drawing conclusions. The results of the research show that: . Learning the Tri Kaya Parisudha and Good Character at Taman Tirta Elementary School is divided into: Planning. Implementation and Evaluation . Obstacles to Learning the Tri Kaya Parisudha and Good Character at Taman Tirta Elementary School, namely: Environmental constraints. Constraints from parties teachers and obstacles on the part of students, . Efforts in dealing with obstacles in learning Tri Kaya Parisudha and Characteristics at Taman Tirta Elementary School are divided into three, namely: Providing relief in learning, preventing levels of frustration from arising, instilling the teachings of Tri Kaya Parisudha. Keywords: Tri Kaya Parisudha. Hindu Religious Education. Characteristics Abstrak Pendidikan yakni suatu aspek begitu penting dalam kehidupan. Perannya yakni kegiatan individu guna melakukan pembinaan pada pribadinya dengan dasar nilai yang terkandung pada masyarakat dan budaya guna meningkatkan kualitas diri serta mampu mengembangkan potensi diri. Sebagai acuan bagi calon guru untuk meneliti langsung, baik pada usaha mengajar atau tugas keguruan lainnya berdasarkan standar pendidikan nasional/lembaga, dan membentuk anak yang suputra . aik, bija. , sadha . aat beragama/berima. , dan gunawan . erdas, terampi. sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha. Adapun yang hendak dituju pada studi ini yakni: . Mengetahui bagaimana pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta, . Mengetahui bagaimana kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta, . Mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala implementasi ajaran Tri Kaya https://jayapanguspress. org/index. php/metta Parisudha dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta. Teknik pengumpulan data adalah Observasi. Wawancara. Dokumentasi dan Studi Kepustakaan. Data yang sudah dikumpulkan selanjutnya dilakukan analisis mempergunakan metode analisis Deskriptif Kualitatif dengan langkah reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan. Ada pula yang dihasilkan pada studi ini yakni: . Pembelajaran Tri Kaya Parisudha dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta dibagi menjadi: Perencanaan. Pelaksanaan dan Evaluasi . Kendala Pembelajaran Tri Kaya Parisudha dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta yaitu: Kendala lingkungan. Kendala dari pihak guru dan Kendala dari pihak siswa,. Upaya dalam menghadapi kendala Pembelajaran Tri Kaya Parisudha dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta dibagi menjadi tiga yaitu: Memberikan keringanan dalam pembelajaran. Mencegah timbulnya tingkat frustasi, menanamkan ajaran Tri Kaya Parisudha. Kata Kunci: Tri Kaya Parisudha. Pendidikan Agama Hindu. Budi Pekerti Pendahuluan Pendidikan yakni suatu aspek begitu penting dalam kehidupan. Perannya yakni kegiatan individu guna melakukan pembinaan pada pribadinya dengan dasar nilai yang terkandung pada masyarakat dan budaya guna meningkatkan kualitas diri serta mampu mengembangkan potensi diri. Dimana disebutkan ada faktor yang memengaruhi peningkatan kualitas diri dalam bidang pendidikan yaitu terutama dalam penyampaian ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh pendidik. Pendidik yakni pelaku yang bertanggungjawab melaksanakan pendidikan itu sendiri, guru sebagai tenaga pendidik dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting, terutama dalam membentuk karakter anak didik (Subagiasta, 2. Seorang guru harus memiliki pegangan yang kuat sebagai landasan dalam mendidik. Landasan itu dapat berupa etika dalam profesi pedidikan karena dalam pendidikan tidak diperkenankan untuk melakukan kekerasan pada anak didik dikarenakan hal itu tertera pada undang-undang. Ini bisa menjadikan sebuah tantangan untuk para guru untuk menunjukan profesionalitasnya sebagai pendidik dalam dunia pendidikan yang menuntut agar mampu melahirkan generasi muda yang memiliki prestasi serta berkarakter diri guna mewujudkan tujuan dari pendidikan (Cahyono, 2. Pendidikan bertujuan guna memberikan pengembangan warga negara yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Pada pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwasanya pendidikan nasional bertujuan guna mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka mencapai tujuan bangsa sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 tersebut harus dilakukan berbagai cara dengan melibatkan berbagai komponen. Salah satu komponen yang tidak dapat dihilangkan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan bangsa adalah tenaga pendidik. Selain dalam segi pekerjaan pendidikan juga mampu mengangkat pandangan orang tentang kehidupan sehari- hari. Karena pada zaman sekarang ini banyak orang beranggapan bahwa suksesnya kehidupan seseorang dapat diukir dari seberapa tinggi orang tersebut mengikuti proses pendidikan. Manusia dalam berprilaku, baik itu melalui perkataan maupun perbuatan secara langsung maupun tidak langsung, biasanya tidak dilandasi atas etika dan moral yang baik. Dalam lingkungan sekolah misalnya sering terjadi pertengkaran diantara siswa karena masalah kecil, sopan santun siswa dalam berkomunikasi baik itu sesama temannya maupun bersama guru yang seharusnya dihormati masih sangat kurang, selain itu dalam berpakaian pun siswa mulai tidak mengindahkan peraturan sekolah dengan mengikuti model baru. Misalnya siswa yang mengenakan baju ketat,celana yang agak melorot dan https://jayapanguspress. org/index. php/metta sejenisnya. Sura . menyatakan bahwa setiap tindakan itu didasarkan oleh kehendak atau budhi. Maka apapun yang dilaksanakan seseorang itu berasal daripada kehendak oleh karena itu seorang inidividu dihadapkan pada dua opsi yakni pilihan yang baik dan buruk. Namun kebebasan manusia memilih menurut kehendaknya itu ada yang membatasinya yaitu norma-norma yang berlaku. Agar masyarakat tidak didominasi oleh kecenderungan yang lebih rendah, mereka harus melindungi diri dari serangan indriya yang parah. Guncangan ini awalnya ada dalam pikiran dalam bentuk keinginan. Setiap keinginan memerlukan kepuasan terhadap Indra adalah alat untuk memuaskan keinginan tersebut. Perasaan menghubungkan orang. Karena sifatnya ini, menyentuh indra tentu saja menimbulkan guncangan pribadi. Bahkan tidak jarang orang tersakiti karena terlalu memuaskan nafsu Oleh karena itu, untuk memantapkan diri, seseorang harus mampu mengendalikan inderanya. Ajaran filsafat emperisme yang dipelopori oleh Jhon Locke . mengajarkan bahwasanya Pertumbuhan pribadi ditentukan oleh faktor lingkungan, khususnya pendidikan. John Locke menyimpulkan bahwa setiap individu dilahirkan dengan kertas putih, dan lingkunganlah yang menulis kertas putih tersebut. Bagi John Locke, faktor pengalaman yang diperoleh dari lingkunganlah yang menentukan karakter seseorang, karena lingkungan relatif dapat diatur dan dikendalikan oleh manusia. Oleh karena itu, teori ini optimis terhadap pertumbuhan pribadi (Tarsan. Berdasarkan hal tersebut, lingkungan terutama pendidikan merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi perkembangan pribadi seseorang dalam penelitian ini ajaran Tri Kaya Parisudha merupakan faktor pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku peserta didik. Ajaran Tri Kaya Parisudha terdapat dalam kitab suci weda. Tri Kaya Parisudha terdiri dari berfikir . , berkata . dan berbuat . yang benar (Sukarlinawati, 2. Ketiga perbuatan tersebut . anahcika, wacika, kayik. merupakan bagian Tri Kaya Parisudha dapat mengarah kan kita kepada perilaku yang berdasarkan Weda yaitu perilaku yang berdasarkan pertimbangan wiweka. Dengan pertimbangan wiweka kita dapat mengetahui perbuatan mana yang patut dan tidak patut untuk dilakukan. Apabila pikiran, perkataan dan perbuatan didasari dengan kebaikan, mana perilaku yang baik pulalah yang akan di Pengaruh ajaran Tri Kaya Parisudha tidak hanya terjadi pada masyarakat luas tetapi juga dapat mempengaruhi perilaku peserta didik yang telah mendapatkan pengetahuan dari seorang peserta didik tentang ajaran Tri Kaya Parisudha, namun yang lebih ditekankan dalam hal ini adalah aplikasi ajaran Tri Kaya Parisudha tersebut dalam suatu sekolah. Pendidikan di sekolah tampaknya berpengaruh terhadap proses pembentukan karakter seorang anak (Parmajaya, 2. Perkembangan ilmu dan teknologi membawa perubahan yang sangat cepat dan berakibat menimbulkan dampak terhadap pola hidup manusia. Dampak positifnya adalah hidup manusia dipermudah dengan, semakin pendeknya ruang dan waktu yang digunakan dalam suatu kegiatan serta semakin mudah dan ringannya pekerjaan kita. Kemudahan yang dihasilkan tidak ada gunanya jika penggunaannya tidak didasari oleh nilai etika dan moral yang kuat, serta dapat menjadi bumerang bagi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan agama merupakan upaya nyata yang dapat digunakan baik secara formal maupun informal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pendidikan agama dirancang agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, budi pekerti, kecerdasan, akhlak mulia, dan kemampuan yang bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, dan bangsa. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Metode Penelitian ini mempergunakan studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang mana mempergunakan kajian tertulis yang menghasilkan data deskriptif yakni data tertulis guna menggambarkan sistematis tentang sebuah situasi, sistem atau inovasi. Penelitian ini mengunakan teknik penetuan informan yakni purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam studi ini merupakan studi kepustakaan. Sumber data yang dipilih pada studi ini yakni data primer dan sekunder. Menggunakan analisis data yakni reduksi data, penyajian data, verivikasi data. Hasil Dan Pembahasan Pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta SD Taman Tirta sebagai tempat belajar para peserta didik dan tempat memberikan pelajaran seorang pendidik . uru, jadi guru memegang yang sangat penting dalam memberikan pengetahuan . , tingkah laku . , keterampilan . Pelajar adalah orang yang datang ke suatu lembaga pendidikan untuk menerima atau Mahasiswa merupakan individu unik yang mempunyai potensi dan sedang mengalami proses pertumbuhan (Mardiana et al. , 2. Maka oleh karena itu pembelajaran harus berkualitas dengan melalui beberapa proses tahapan seperti perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, guna menciptakan pembelajaran yang baik dan benar untuk kebaikan peserta didik sebelum memaparkannya, adapun proses tersebut adalah sebagai berikut: Proses Pembelajaran Di Kelas . Perencanaan Guru adalah suatu jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus dengan tugas pokok sebagai berikut: Pendidikan. dan evaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, formal, dasar, dan menengah (Sanjani: 2. Jika guru benar-benar menghayati asensi dari seluruh proses mengajar maka tidak akan muncul stigma-stigma atau kalimat- kalimat yang miris dengan tugas-tugas seorang guru yang terkadang menyimpang dari tugas sebenarnya, bahkan mengajar sebenarnya bisa menjadi suatu yang sangat menyenangkan, mengasikan, dan bisa menjadi cikal bakal lahirnya sebuah proses yang bernama kreativitas, serta memunculkan hal-hal baru lainnya yang tentu saja inovatif sesuai dengan kebutuhan zaman. Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi pada tahap perencanaan pembelajaran yang pada saat pembelajaran, guru harus memiliki perencanaan, adapun beberapa langkah yang dilakukan oleh guru di SD Taman Tirta sebelum memulai pembelajaran yaitu : Langkah pertama yaitu guru perlu memastikan materi yang dibahas tentunya yang mudah dipahami oleh peserta didik. Langkah kedua yaitu guru akan terlebih dahulu membaca dan memahami mengenai materi yang akan menjadi bahan pembelajaran. Langkah ketiga guru mulai membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajara. atau modul dan power point materi yang akan dibaca oleh peserta didik. Langkah keempat yaitu, ketika selesai merancang hal-hal yang diperlukan maka guru memulai pembelajaran dan menjawab pertanyaan siswa bagi yang belum Perencanaan pembelajaran di SD Taman Tirta yang paling pertama mengacu pada silabus. ATP. RPP atau modul. Perencanaan pembelajaran ini dimulai dari proses analisis kebutuhan dan tujuan pembelajaran serta pengembangan sistem penyampaian untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan belajar terkait pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Berdasarkan hasil rangkuman mengenai perencanaan pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta dapat disimpulkan bahwa pembelajaran harus berkualitas dengan melalui beberapa proses tahapan guna menciptakan pembelajaran yang baik dan benar untuk kebaikan peserta didik sebelum memaparkannya, sehingga tetap melaksanakan pembelajaran dengan maksimal. Pelaksanaan Menanamkan nilai-nilai Budi Pekerti setiap tindakan harus mencerminkan perbuatan yang mulia, karena melalui perbuatan seseorang dapat menilai tingkah laku kita apakah sudah mencerminkan pelaksaan etika atau sudah sesuai dengan aturan yang Nilai-nilai moral dan etika yang didasarkan pada ajaran Agama Hindu perlu di tumbuh kembangkan terus menerus untuk menuju terciptanya anak yang suputra dan bisa menjadi generasi hindu yang berguna seperti apa yang menjadi harapan semua orang khususnya orang tua (Suhardana, 2. Pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta menerapkan kurikulum K13, dan Kurikulum Merdeka yang meliputi: struktur kurikulum, proses pembelajaran, penilaian hasil belajar. Selain itu pembelajaran pendidikan Agama Hindu ini dilakukan dengan mengembangkan keaktifan siswa serta mencari materi yang dapat didiskusikan dan dalam hal ini di harapkan melalui diskusi yang dilaksanakan peserta didik dapat menggali potensi dirinya dan dalam menerapkan kurikulum 2013, dan kurikulum merdeka ini dapat menyelaraskan atau menyeimbangkan antara sikap, pengetahuan maupun ketrampilan peserta didik. Pembelajaran pendidikan Agama hindu dan Budi Pekerti menekankan pada perilaku dengan penyadaran ke dalam yakni peserta didik dituntun untuk bersikap spiritual dengan berdoa sebelum memulai pembelajaran baik ketika belajar secara online maupun offline, peserta didik melaksanakan persembahyangan ke padmasana dan Tri Sandya sebelum pembelajaran dimulai jika pembelajaran sebagaimana mestinya pelaksanaan persembahyangan purnama rutin dilakukan bersama dan tilem rutin untuk dilakukan oleh tiap peserta didik. Pembelajaran pendidikan Budi Pekerti ini juga mewajibkan peserta didik mengikuti proses pembelajaran dengan disesuaikan oleh model pembelajaran yang digunakan setelah pembelajaran berakhir seperti biasa dilakukan evaluasi atau diberikan tugas. Pembukaan dan penutup pembelajaran selalu diawali dengan panganjali dan paramasanti termasuk melantunkan puja saraswati. Guru pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dalam awal maupun akhir pembelajaran selalu menekankan berfikir, berkata maupun berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan menunjukkan contoh-contoh proses pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari-hari. Selain daripada itu juga ajaran Tri Kaya Parisudha ini dilakukan oleh siswa di kelas dalam menerapkan pembelajaran di kelas misalnya bertanya dengan sopan kepada guru dan juga menjawab pertanyaan teman-temannya, bersikap tenang ketika berdiskusi bersama dan secara nonverbal terjalainnya sikap saling menghormati dan mengahargai. Tingginya suatu keberhasilan dalam implementasi pembelajaran pendidikan Budi Pekerti yang mengarah juga pada ajaran Tri Kaya Parisudha, merupakan harapan bagi seorang guru yang berusaha keras dengan sekuat tenaga dan pikiran mempersiapkan program pelajaran dengan baik dan sistematis. Namun dengan keterbatasan waktu tersebut diharapkan, kerja sama berbagai pihak dalam menerapkan nilai-nilai pendidikan Budi Pekerti, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Guru SD Taman Tirta juga sangat bersahaja, interaksi guru dan peserta didik dan seluruh warga sekolah pun terjaga dan terjalin dengan baik. Guru membina dan memelihara kultur kehidupan sekolah yang kondusif melalui mengadakan pertemuan dengan masyarakat dan orang tua peserta didik dan komite. Siswa adalah setiap orang yang resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di dunia pendidikan (Sutriyanti, 2. Dalam kiatannya https://jayapanguspress. org/index. php/metta dengan pendalaman dan pelaksanaan sradha para siswa dalam pendidikan formal guna terciptanya kesadaran terhadap ajaran Tri Kaya Parisudha, maka perlu di kembangkan metode pembelajaran Agama Hindu supaya peserta didik mendapat gambaran dan bayangan dalam mengimplementasikan ajaran Tri Kaya Parisudha. Strategi pembelajaran yakni metode yang diperunakan guru untuk menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Nasution, 2. Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi pembelajaran yang disampaikan adalah merupakan faktor yang amat penting dan sangat menentukan berlangsungnya proses pembelajaran secara efektif, serta merupakan alat untuk dapat dipakai sebagai sarana dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan. Proses pembelajaran Agama Hindu di sekolah, pada umumnya menggunakan metode pembelajaran secara Namun dalam kiatannya dengan pendalaman sradha para siswa dalam pendidikan formal, perlu di kembangkan metode pembelajaran Agama Hindu, yakni metode sad dharma (Erlia, 2. Kaitannya dengan pelaksanaan pembelajaran Tri Kaya Parisudha dalam pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta, adalah sebagai . Manacika Parisudha Metode Agama Hindu yang digunakan dalam manacika parisudha meliputi: Metode Dharma Tula Dharma Tula adalah cara pendalaman agama adalah dengan mencapai kesamaan pemahaman melalui diskusi keagamaan dan meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama Hindu (Putri, 2. tujuan dari dharma tula adalah untuk mendapatakan pertimbangan dan pandangan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dari pandangan-pandangan peserta dharma tula. Metode Dharma Tula juga merupakan salah satu metode yang digunakan guru Agama SD Taman Tirta. Guru agama SD Taman Tirta melalui metode dharma tula ini menekankan pada pikiran, dimana seorang peserta didik itu diajak berdiskusi dalam memecahkan suatu permasalahan Agama Hindu dan menggali nilai-nilai yang terdapat dalam permasalahan tersebut, dan di dalam berdiskusi peserta didik dapat menyampaikan argumennya. Dengan kebiasaan tersebut peserta didik akan berlatih untuk membiasakan diri berfikir yang baik. Metode Dharma Sadhana Metode Dharma Sadhana artinya suatu upaya spiritual untuk menjadikan diri sendiri sebagai akat dari dharma atau kebenaran yang bersumber dari Weda (Putri. Dharma Sadhana yang dilakukan melalui Catur Marga Yoga yakni, bhakti, jnana, dan raja yoga yang lebih intensif untuk umat semakin kuat secara menyeluruh (Swana et al, 2. Kedua metode pembelajaran Agama Hindu di atas dapat disimpulkan bahwa dharma tula dan dharma sadhana merupakan pembelajaran yang digunakan dalam manacika parisudha karena kedua pembelajaran ini menekankan pada pendalaman agama melalui diskusi, dimana siswa dapat melatih pikirannya dalam menggali nilai-nilai agama. Wacika Parisudha Metode Agama Hindu yang digunakan dalam wacika parisudha meliputi : Metode Dharma Wacana Wacana berarti ucapan. Dharma Wacana adalah pidato atau ceramah tentang dharma atau ajaran agama Hindu (Putri, 2. Metode tersebut memuat ceramah keagamaan yang bertujuan untuk memperluas dan memperdalam wawasan spiritual agama Hindu itu sendiri. https://jayapanguspress. org/index. php/metta . Metode Dharma Gita Dharma Gita artinya nyanyian keagamaan, kegiatan ini di Bali disebut mekidung, mekakawin, megeguritan. Dharma Gita adalah metode Agama Hindu dengan cara mengemas ajaran Agama Hindu dalam bentuk nyanyian keagamaan, sehingga yang menyanyikan dan yang mendengarkan sama dapat belajar, menghayati serta memperdalam ajaran Agama Hindu, (Putra, 2. Pembelajaran Dharma Gita juga merupakan salah satu metode yang digunakan oleh guru Agama Hindu SD Taman Tirta korelasi Dharma Gita dengan proses pembelajaran yaitu memberikan ketenangan bathin dan pikiran yang disebabkan oleh lantunan lagu suci pada Dharma Gita. Penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha yang diterapkan oleh guru Agama Hindu SD Taman Tirta ini melalui metode Dharma Gita ini menekankan pada perbuatan melalui perkataan, dimana seorang peserta didik itu di bimbing untuk terbiasa melantunkan puja tri sandhya dan beberapa kidung pada saat pelaksanaan persembahyangan bersama di sekolah, dengan kebiasaan tersebut itu anak akan terlatih untuk membiasakan diri berkata-kata dan berbuat yang baik. Kedua metode pembelajaran Agama Hindu di atas dapat disimpulkan bahwa metode dharma wacana dan dharma gita merupakan metode pembelajaran yang digunakan dalam wacika parisudha karena kedua pembelajaran ini menekankan pada pendalaman agama melalui perkataan yang baik seperti berceramah dan menyanyikan lagu keagamaan yang sering disebut mekidung. Kayika Parisudha Pembelajaran Agama Hindu digunakan dalam kayika parisudha meliputi . Metode Dharma Santi Dharma Santi yakni sebuah cara berupa pertemuan untuk saling maafmemamaafkan atas segala noda, dosa dan kehilafan diantara sesama. Masingmasing pihak secara sadar menghapuskan kehilafan dan kealpaan diantara sesama umat manusia (Julianingsih, 2. Metode Dharma Yatra Dharma Yatra hampir mirip dengan tirta yatra, yaitu kegiatan untuk memberikan peningkatan pemahaman dan pengalaman ajaran agama Hindu melalui ziarah atau persembahyangan ke tempat-tempat suci atau pertirtaan (Julianingsih: 2. Dharma Yatra juga merupakan salah satu pembelajaran yang digunakan oleh guru Agama Hindu SD Taman Tirta dalam penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha yang diterapkan oleh guru Agama Hindu SD Taman Tirta melalui pembelajaran dharma yatra ini, siswa diajak melakukan tirta yatra ke pura terdekat, untuk melaksanakan persembahyangan. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dharma santhi dan dharma yatra merupakan metode pembelajaran yang digunakan dalam kayika parisudha karena kedua pembelajaran ini menekankan pada pendalaman agama melalui perbuatan yang baik dimana siswa diperkenalkan secara langsung. Evaluasi Tahap evaluasi merupakan tahap akhir pada suatu pembelajaran tahap ini akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah proses pembelajaran dalam menggapai tujuannya (Magdalena et al. , 2. Pada tahap penilaian guru akan meminta siswa untuk menjawab pertanyaan guru yang dicantumkan power point, guru akan memberikan waktu dan target waktu sekitar tiga hari supaya siswa dapat memahami materi. Antusias peserta didik dalam pembelajaran sangat jelas terlihat dari beberapa peserta didik yang rajin pada saat proses pembelajaran sehingga sekolah memberikan kebijakan bagi para siswa, dan para guru yang dijadikan acuan dalam memberikan penilaian siswa yakni: https://jayapanguspress. org/index. php/metta . Pengetahuan Pengetahuan yakni sebuah aspek penting dalam dicapainya tujuan pendidikan, dimana penyampaian materi pada pembelajaran ditujukan guna meningkatkan pengetahuan peserta didik guru melakukan evaluasi terhadap pengetahuan siswa dengan cara mengamati bagaimana pelafalan dan sampai manakan siswa memahami materi yang telah diberikan guru. Sikap Sikap merupakan respon tindakan suatu objek dimana sikap dari setiap murid berbeda satu sama lain, perbedaan itu dikarenakan terdapat perbedan pemahaman, pengalaman, dan pertimbangan yang sudah pernah dialami oleh seorang dalam menanggapi suatu objek maupun kejadian, guru melakukan penilaian sikap dengan cara mengamati prilaku siswa dalam aktivitas pembelajaran dalam hal ini guru mengamati siswa yang aktif baik itu dalam merespon pesan guru, bertanya dan siswa yang tepat waktu dalam mengumpulkan setiap tugas yang diberikan. Keterampilan Keterampilan merupakan kemampuan individu dalam melakukan suatu hal, keterampilan dapat berkembang jika individu mau untuk mengasah, dan melatih secara terus menerus, dalam penilaian oleh guru mengamati tugas video yang telah dikirimkan oleh siswa, mengamati mengenai bagaimana pelafalan siswa, dan juga bagaimana cara siswa dalam mendemontrasikannya. Kejujuran Kejujuran merupakan hak yang paling penting dalam sebuah pendidikan, kejujuran siswa merupakan suatu hal yang sulit ditemukan dalam proses pembelajaran daring seperti yang diketahui bahwa pendidikan dinyatakan gagal jika aspek kejujuran siswa tidak diperhatikan, pembelajaran dengan penggunaan metode demontrasi atau presentasi mampu menutupi celah siswa untuk melakukan kecurangan dalam proses pembuatan tugas, karena para siswa diwajibkan untuk membuat video masing-masing, oleh karena itu setiap proses pembelajaran daring penggunaan metode demonstrasi tidak menjadi semu. Keluarga sangat berpengaruh dalam perkembangan dari seseorang anak baik dari lingkungan, alam, sosial, maupun budaya dalam kaitannya dengan keagamaan merupakan faktor eksternal yang berpengaruh kuat terhadap sikap keagamaan. Hubungan tersebut jelaslah merupakan hubungan proses dan interaksi belajar yang berlangsung dalam waktu yang lama, pembentukan sikap melalui hasil belajar yang lama, pembentukan sikap melalui hasil dari interaksi sosial keagamaan. Ini berarti pembentukan sikap keagamaan tidak sepenuhnya bergantung pada faktor internal . ondisi psikolog. , tetapi juga faktor eksternal . Teori konstruktivisme merupakan gagasan bahwasanya peserta didik wajib menemukan dan mentransformasikan sebuah informasi konpleks kesituasi lain dan jika dikehendaki informasi tersebut menjadi miliknya (Sagala, 2. Menurut teori ini prinsip yang menjadi dasar yakni guru, tak hanya memberi ilmu, tetapi murid juga memiliki peran aktif mengembangkan sendiri ilmu tersebut. Jadi keberhasilan merupakan tujuan dari pada seorang guru dan peserta didik yang tidak bisa dilepaskan didalam menerapkan pendidikan sehingga guru dengan sekuat tenaga menyiapkan program ajar dengan baik dan sistematis guna memberikan motivasi dorongan semangat kepada peserta didik. Begitu pula pada peserta didik harus menumbuhkan semangat dan memberikan dorongan motivasi dalam diri untuk melaksanakan pembelajaran dan menerima dengan antusias program- program pembelajaran dari guru. https://jayapanguspress. org/index. php/metta b. Ekstrakulikuler Kegiatan ekstrakurikuler yakni pelaksaan pembelajaran informal yang dilaksanakan murid diluar jam belajar. Pelaksanaan ini memiliki tujuan guna memberi pengembangan kepribadian, bakat, dan keterampilannya diberbagai bidang selain Pelaksanaan ini diprakarsai dan dilaksanakan oleh pihak sekolah dan siswa sendiri di luar jam pelajaran. Pelaksaan tersebut sendiri dapat berupa seni, olah raga, pengembangan diri, dan kegiatan yang bertujuan positif untuk pertumbuhan peserta didik. Adapun ekstrakulikuler yang terdapat di SD Taman Tirta dalam penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha yaitu : Manacika Parisudha Adapun esktrakulikuler yang terdapat di SD Taman Tirta dalam penerapan ajaran manacika parisudha. Dalam setiap pembelajaran maupun melaksanakan ekstra anakanak biasanya diajak untuk dapat mengheningkan diri dan melakukan persembahyangan terlebih dahulu bertujuan agar segala ilmu pengetahuan dapat disimak dengan baik. Ekstrakurikuler yang berkaitan dengan manacika ini adalah Di dalam hal ini kegiatan ekstra tersebut melalui kegiatan berpikir yang baik diharapkan siswa/siswi koding dapat melahirkan cara berpikir sistematis, metodis, koheren dalam membuat karya-karya yang berguna bagi pengembangan sekolah. Wacika Parisudha Adapun esktrakulikuler yang terdapat di SD Taman Tirta dalam penerapan ajaran wacika parisudha adalah Egglish club, japanese. Di dalam ekstra tersebut anak-anak diajarkan cara berbicara yang baik dan benar pada saat latihan berpidato maupun story telling termasuk dalam hal memilah kalimat yang baik agar enak didengar oleh . Kayika Parisudha Adapun esktrakulikuler yang terdapat di SD Taman Tirta dalam penerapan ajaran kayika parisudha adalah tari Bali. Pada ekstrakurikuler ini siswa diajarkan untuk belajar tari Bali yang nantinya akan dipentaskan saat piodalan. Perelaku tersebut diajarkan sebagai bentuk dari ngayah siswa. Pembiasaan (Habituas. di Sekolah . Manacika Parisudha Kegiatan rutin pembiasaan yang dilakukan di SD Taman Tirta menurut penerapan manacika parisudha yaitu melakukan persembahyangan di SD Taman Tirta dilaksanakan rutin, yang terdiri dari persembahyangan yang dilaksanakan setiap hari. Terkait dengan persembahyangan setiap hari di SD Taman Tirta di lakukan dengan melaksanakan Tri Sandhya. Pelaksanaan Tri Sandhya yang pertama di lakukan pada 15 Wita, yaitu setelah bel peringatan untuk melaksanakan Tri Sandhya berbunyi tepatnya sebelum pembelajaran jam pertama di mulai di dalam kelas pada 30 Wita, sedangkan untuk melaksanakan Tri Sandhya yang kedua dilaksanakan pada pukul 12. 00 Wita, yang dilaksanakan didalam kelas. Wacika Parisudha Kegiatan rutin pembiasaan yang dilakukan di SD Taman Tirta menurut penerapan wacika parisudha yaitu siswa dibiasakan untuk selalu melakukan tegur, sapa, dan salam dengan sesama siswa, dengan para guru, serta para tamu yang berkunjung ke SD Taman Tirta. Adapun dalam memberi salam, siswa dibiasakan untuk melakukannya dengan mengucapkan Om Swastyastu atau selamat pagi atau siang, selain itu untuk mengajarkan siswa berbicara atau berkata yang baik dengan teman atau gurunya. SD Taman Tirta mewajibakan para siswa untuk mengucapkan salam Om Swastyastu pada saat guru memasuki kelas untuk mengajar atau untuk keperluan pendidikan yang lainnya. Selain itu dilakukan juga dengan membiasakan siswa https://jayapanguspress. org/index. php/metta menghormati guru dengan mencium tangan guru ketika berpapasan, dan setelah pulang berbunyi, siswa dibiasakan untuk mencium tangan guru yang pada saat mengajar sebelum meninggalkan kelas. Kayika Parisudha Kegiatan rutin pembiasaan yang dilakukan di SD Taman Tirta menurut menurut penerapan kayika parisudha yaitu siswa SD Taman Tirta diwajibkan untuk selalu merawat lingkungan alam sekolah agar tetap asri. Kegiatan pembersihan merupakan kewajiban yang harus dilakukan siswa di SD Taman Tirta setiap hari dalam merawat lingkungan alam sekolah. Budaya Sekolah Pengembangan budaya sekolah terdiri dari nilai-nilai yang didukung sekolah yang menjadi pedoman kebijakan sekolah yang berkaitan dengan seluruh elemen sekolah, termasuk pembentukan sikap siswa seperti bagaimana sekolah beroperasi dan keyakinan mendasar para anggotanya. Pengembangan budaya sekolah mengacu pada suatu sistem nilai, keyakinan, dan norma yang diterima bersama sebagai perilaku alamiah dan diamalkan dengan penuh kesadaran, serta seluruh elemen, termasuk pimpinan sekolah dan pendidik, mempunyai kesamaan. Dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan Membentuk opini publik yang sama dengan tenaga kependidikan, siswa, dan bila perlu pihak sekolah. Bagaimanapun juga, pengembangan budaya sekolah juga sangat erat kaitannya dengan pembentukan sikap siswa dan terciptanya suasana sekolah yang bermanfaat bagi seluruh siswa di lingkungan sekolah. Adapun pengembangan budaya sekolah melalui Tri Kaya Parisudha yang diterapkan di SD Taman Tirta yaitu : Manacika Parisudha Adapun pengembangan budaya sekolah melalui manacika parisudha yang diterapkan di SD Taman Tirta dengan melaksanakan persembahyangan yang biasanya rutin dilakukan setiap hari suci purnama, hari raya saraswati. Persembahyangan ini dilakukan secara bersama-sama. Pada hari suci tilem persembahyangan dilakukan secara mandiri oleh siswa/siswi maupun guru-guru masing-masing di sekolah. Pada saat persembahyangan bersama saat hari suci purnama maupun saat saraswati biasanya kami para guru bekerja sama bersama dengan para siswa dalam mempersiapkan peralatan persembahyangan. Kayika Parisudha Adapun pengembangan budaya sekolah melalui kayika parisudha yang diterapkan di SD Taman Tirta dalam kebudayaan sekolah ini dilakukan dengan sikap keselarasan pada lingkungan sekolah secara nonverbal seperti bersikap ramah-tamah ketika berpapasan dengan teman sejawat maupun antara peserta didik dengan gurunya, melaksanakan kebersamaan dalam menjaga dan membersihkan lingkungan sekolah, menjaga kerukunan antar umat beragama disekolah termasuk dalam hal membiasakan untuk membuang sampah sesuai lokasi yang telah tersedia di sekolah baik dalam bentuk organik dan nonorganik. Wacika Parisudha Adapun pengembangan budaya sekolah melalui kayika parisudha yang diterapkan di SD Taman Tirta dalam budaya di lingkungan sekolah ini dilaksanakan dengan sikap menyapa oleh Siswa/siswi SD Taman Tirta dengan mengucapkan salam panganjali umat baik sebelum memulai pembelajaran maupun dilingkungan sekolah ketika berpapasan termasuk pada saat penyampaian pertanyaan maupun pendapat terhadap guru maupun teman dilakukan dengan bersikap yang baik dan sopan. Sebagai lembaga pendidilkan yang hampir keseluruhannya Agama Hindu. SD Taman Tirta dalam kesehariannya selalu melaksanakan pembelajaran dimulai pada pagi hari sampai siang hari sesuai dengan jadwal untuk agama dan Budi Pekerti dan sebelum https://jayapanguspress. org/index. php/metta memulai pembelajaran peserta didik diminta oleh guru untuk doa sebelum belajar. Sembahyang adalah contoh nitya karma yaitu upacara suci yang dilakukan setiap hari dan membantu orang tua adalah contoh ajaran susila yaitu AusuAy artinya baik dan AusilaAy artinya perbuatan jadi susila adalah perbuatan yang baik sedangkan naimitika karma juga dilaksanakan setiap purnama dan hari-hari terntentu lainnya dan juga pada hari itu dilaksanakan sembahyang bersama (Widana, 2. Kehidupan sosial keagamaan di SD Taman Tirta selama ini sangat harmonis dan toleransi walau berbagai agama seperti Budha, artinya selama ini SD Taman Tirta sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama guna keharmonisan sekolah layaknya ajaran Tri Kaya Parisudha berbuat, berkata dan berfikir yang baik. Kehidupan sosial keagamaan haruslah harmonis guna membawa dampak positif ke peserta didik. Karena peserta didik adalah benih benih yang akan tumbuh dikemudian hari dengan harapan mampu memberikan dampak positif kepada bangsa dan negara nantinya tentunya sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha. Kendala Implementasi Ajaran Tri Kaya Parisudha dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta Pengimplementasi ajaran Tri Kaya Parisudha pada pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta tidak lepas dari kendala. Adapun kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa yang kurang menunjang pelaksanaannya dengan baik pengimplementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam membentuk karakter siswa SD Taman Tirta. Adapun penjelasan mengenai kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam membentuk karakter siswa yang disebabkan oleh tak mendukungnya faktor yang memberi pengaruh pada tumbuh kembang siswa, seperti pembawaan, faktor fase perkembangan dan faktor lingkungan seperti lingkungan keluarga dan sekolah, sehingga menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku dari ajaran Tri Kaya Parisudha oleh siswa yaitu sebagai berikut: Sekolah adalah lingkungan yang setiap harinya memberikan pendidikan kepada siswa setelah lingkungan keluarga, sehingga sekolah menjadi lingkungan pendidikan kedua bagi seorang siswa. Adapun sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis menjalankan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu peserta didik guna mampu melakukan pengembangan potensi, baik itu menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Siswa yang masuk pada tingkat Sekolah Dasar umumnya menghabiskan sepertiga dari waktu siswa setiap hari dilewatkan di sekolah, sehingga tidak mengherankan bila pengaruh sekolah terhadap jiwa siswa cukup besar. Untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya pintar namun juga berkarakter mulia SD Taman Tirta menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha di lingkungan sekolah dan menjadikan penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai kegiatan sehari-hari siswa di lingkungan sekolah. Namun pada penerapannya kondisi lingkungan sekolah dapat pula menyebabkan timbulnnya kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti siswa di SD Taman Tirta. Guru Belum Konsisten Guru sangat erat kaitannya dengan siswa disekolah karena guru sudah dianggap sebagai panutan bagi siswa maka apapun perilaku guru akan diikuti oleh siswa walau pada nyatanya perlu menanamkan perbedaan baik maupun buruk pada siswa, siswa tetaplah siswa sebagai anak yang masih labil jiwa maupun pikirannya. Secara umum pelaksanaan Tri Kaya Parisudha di lingkungan sekolah berjalan dengan normal sesuai dengan tuntunan bapak dan ibu guru tentunya, tapi kendala dalam perjalanan pasti ada https://jayapanguspress. org/index. php/metta seperti masih ada sebagian siswa yang kurang paham akan makna Tri Kaya Parisudha, masih ada siswa yang belum sepenuhya melaksanakan Tri Kaya Parisudha, masih ada sebagian guru yang belum konsisten menjadi contoh dalam melaksanakan Tri Kaya Parisudha. Sekolah adalah lingkungan yang setiap harinya memberikan pendidikan kepada siswa setelah lingkungan keluarga, sehingga sekolah menjadi lingkungan pendidikan kedua bagi seorang siswa. SD Taman Tirta menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha di lingkungan sekolah dan menjadikan penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai kegiatan sehari-hari siswa di lingkungan sekolah namun masih ada beberapa guru yang belum bisa menjadi contoh dalam penerapan Tri Kaya Parisudha begitu pula guru belum bisa membuat siswa paham dalam pembelajaran Tri Kaya Parisudha. Kendala Dari Pihak Guru Seseorang guru yang memiliki tugas yang mulia yaitu mendidik seorang yang tidak tahu menjadi tahu, dan guru adalah seorang yang ikut ambil dalam masa depan anak didik, sukses tidaknya anak didik juga berpengaruh dengan cara guru mendidik pada saat dibangku sekolah, namun guru tetaplah manusia yang pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna. Dalam pembelajaran di kelas guru akan dihadapi oleh beberapa kendala,yang akan menghambat jalannya pembelajaran, tidak bisa dipungkiri guru pasti akan menghadapi kendala, adapun kendala yang dialami guru dalam melaksanakan pembelajaran ajaran Tri Kaya Parisudha di SD Taman Tirta antara lain : Materi dan Kurikulum Materi sangatlah penting dalam pelaksanaan pembelajaran dan disiapkan sebelum pembelajaran dimulai, materi harus disiapkan secara matang sebelum disampaikan ke siswa maka guru terlebih dahulu membacanya sebelum memaparkannya di kelas nanti, tampa materi guru tidak akan bisa menjelaskan ke siswa terkait pembelajaran yang sudah terjadwal, sekolah juga harus menyiapkan kurikulum pendidikan mengenai ajaran Tri Kaya Parisudha karena ajaran ini adalah ajaran yang sangat cocok diajarkan bagi siswa guna pengendalian ucapan, tindakan dan pikiran. Kendala dari penerapan ini pada materi bahan ajar, dan juga kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah belum seluruhnya memuat materi Tri Kaya Parisudha, karena lebih banyak memuat kognitif pengetahuan. Disamping masalah bidang kurikulum juga kendala dari guru yang belum optimal mentransfermasi ajaran Tri Kaya Parisudha. Kendala guru dalam implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha di SD Taman Tirta adalah kurikulum pendidikan di sekolah yang diterapakan belum seluruhnya memuat materi Tri Kaya Parisudha dan juga guru yang belum optimal mentransformasi ajaran Tri Kaya Parisudha. Kendala Dari Pihak Siswa Siswa yakni seseorang yang mengkhusus diberikan oleh orang tua untuk melaksanakan pembelajaran yang di sekolah, dengan harapan guna menjadi manusia yang berpengetahuan, berakhlak mulia dan mandiri. Untuk mencapai hal tersebut siswa harus meningkatkan potensinya dengan cara melalui proses pembelajaran yang cukup panjang, sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Namun tidak bisa dipungkiri juga siswa tetaplah seorang anak yang jiwanya masih labil dan pemikirannya belumlah berkembang sempurna, apalagi dihadapi dengan situasi pandemic covid-19 ini maka pembelajaran dilaksanakan dengan cara daring, siswa pun harus menyesuaikan diri lagi dengan situasi baru, tidak menutup kemungkinan siswa pasti memiliki yang namanya kendala, adapun kendala yang dialami siswa dalam melaksanakan pembelajaran ajaran Tri Kaya Parisudha di SD Taman Tirta salah satunya ekonomi siswa. Situasi yang sering berubah ini mengakibatkan gejolak ekonomi masing-masing orang berbeda-beda, ada yang mampu dan kurang mampu disinilah penyebab beberapa siswa susah dalam menyesuaikan diri dengan situasi https://jayapanguspress. org/index. php/metta sekarang, apalagi masih ada beberapa orang tua yang masih pemulihan ekonomi setelah pandemi. Kendala siswa dalam implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha yaitu kurangnya pemahaman siswa dalam memahami materi pembelajaran dan ekonomi siswa yang masing-masing berbeda-beda. Namun disatu sisi ada juga kendala yang lain seperti daya tangkap peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran merupakan gejala psikis yang terjadi pada peserta didik dan dilaksanakan dengan senang hati, melahirkan perhatian yang khusus kepada sasaran maka para murid mengusakan tercapainya sasaran tersebut. Maka guna melihat reaksi dan gejala psikis itu bisa dilihat melalui sikap, prilaku, motivasi yang dipunyai oleh peserta didik dalam Faktor internal merupakan faktor yang datang dari peserta didik. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, faktor internal tersebut sangat dominan mempengaruhi keberhasilan seorang, karena faktor internal tersebut berasal dari kesadaran diri kemauan sendiri dan kehendak dalam hati. Faktor internal yang menyebabkan kurang tanggap peserta didik mengikuti proses pembelajaran disebebakan karena rasa bosan, cuek, semangat belajar turun, sulit memasukkan pelajaran, sulit mengatur waktu belajar, sukar konsentrasi, tidak cakap menganalisis soal, sulit memahami buku teks, sulit memahami tugas-tugas, dan tidak memiliki keterampilan cukup untuk belajar. Disamping itu faktor internal yang lainnya yang ikut mempengaruhi anak belajar disekolah yakni rendahnya potensi dasar peserta didik, kurangnnya rasa bakat, motivasi, keadaan pribadi, keadaan tubuh, faktor-faktor pembawaan . tapi yang paling banyak di pengaruhi oleh keadaan pribadi yaitu perekonomian atau keadaan ekonomi faktor internal yang menyebabkan kurang tanggap peserta diidk mengikut proses pembelajaran disebabkan karena rasa bosan dan semangat belajar turun, disamping itu faktor internal yang lainnya yang ikut mempengaruhi anak belajar online yakni keadaan pribadi yaitu perekonomian atau keadaan ekonomi. Anak didik adalah pihak yang datang ke sekolah guna mengemban Pendidikan kelak menjadi pribadi yang berilmu pengetahuan, maka guru yakni penanggungjawab yang diserahkan disekolah (Suparno, 1. Upaya Dalam Menghadapi Kendala Implementasi Ajaran Tri Kaya Parisudha Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti Di SD Taman Tirta Ajaran Tri Kaya Parisudha di SD Taman Tirta bukanlah sebuah mata pelajaran yang asing lagi terutama untuk siswa beragama Hindu yang berada dalam pendidikan Agama Hindu. Sebagai wahana untuk pendidikan Budi Pekerti dinilai sangat tepat sekali karena di dalam pendidikan agama juga mengandung nilai-nilai atau tingkah laku yang baik yang tercermin dalam nilai-nilai pendidikan Budi Pekerti. Namun tidak bisa dipungkiri dalam memberikan pembelajaran akan ditemukan kendala-kendala yang akan menghambat pembelajaran tersebut maka oleh karena itu guru berinisiatif untuk mengatasi kendala-kendala yang dialami guru dan peserta didik, guru memilik upaya yang dilakukan, dalam mengajar ajaran Tri Kaya Parisudha di SD Taman Tirta antara lain Mencegah Timbulnya Tingkat Frustasi Peserta didik yang tak melaksanakan tugas umumnya berperilaku yang kurang Tingkat frustasi peserta didik yang tinggi memengaruhi timbulnya sikap negatif pada peserta didik. Maka sebagai guru harus bisa mengembangkan potensi dan pemahaman maupun mengoptimalan media pembelajaran dalam memperhitungkan tingkat kesulitan materi yang diberi ke peserta didik. Tugas yang diberi cenderung tidak berat, jika terdapat kendala materi tidak diturunkan guru wajib memerhatikan peserta didik bahwasanya mereka menuntaskan materi tersebut. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Guru berupaya untuk dapat mengembangkan potensi diri meningkatkan pemahaman dan mengoptimalan media pembelajaran demi para siswa guna mencegah beban yang ditanggung siswa. Guru harus mampu menempatkan dirinya disituasi apapun guna kebaikan anak didiknya, karena guru adalah orang tua kedua bagi siswa disekolah setelah orang tua mereka dirumah, oleh sebab itu pentingnya bagi guru untuk menjaga suasana tetap kondusif dalam pembelajaran guna menjaga mental para peserta didik. Memberikan Pelatihan terhadap Guru Pemberian pelatihan terhadap guru yang belum konsisten tentang bagaimana cara menerapkan perilaku Tri Kaya Parisudha. Pelatihan tersebut dapat berupa IHT, ataupun Workshop mengenai pendidikan karakter. Sehingga guru-guru tersebut dapat menerapkan hal tersebut dalam lingkungan sekolah terlebih lagi pada pembelajaran. Selain hal tersebut pelatihan tersebut juga dilakukan untuk meningkatkan pemahaman guru, terkait materi pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas ataupun diluar kelas. Sehingga dengan memahami materi pembelajaran, guru juga secara tidak langsung nantinya akan memahami tujua kurikulum tersebut. Memberikan Konselling Serta Jam Tambahan Pemberian konseling tersebut diberikan kepada siswa yang mempunyai catatan Pemberian konseling ini melalui tindakan mengobrol dengan siswa serta menanyakan beberapa pertanyaan terkait apa yang dilakukan. Setelah itu, diberikan solusi terhadap permasalahan tersebut, jika siswa mengulangi hal yang sama maka akan diberikan kosekuensi yang mendidik. Ketika siswa mengulangi ketiga kalinya maka orang tua akan di panggil untuk diajak memecahkan masalah yang dilakukan siswa. Selain memberikan konselling, siswa juga diberikan jam tambahan. Jam tambahan tersebut diberikan kepada siswa yang dirasa belum memahami dari pembelajaran tersebut atau pembelajaran masih tertinggal jauh yang disebabkan berbagai hal. Jam tambahan ini diberikan pada sepulang sekolah dengan durasi 30-45 menit, yang dilakukan setiap hari sampai siswa tersebut dirasa bisa. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan penelitian, maka dapat disimpulkan beberapa hal. Pembelajaran Tri Kaya Parisudha dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta akan sukses jika guru dan peserta didik bisa saling memahami. Penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta yaitu . Proses pembelajaran Tri Kaya Parisudha dalam Pembelajaran di kelas yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi . Penerapan Tri Kaya Parisudha dalam ekstrakulikuler yang masing- masing dihubungkan dengan bagian Tri Kaya Parisudha yang terdiri dari Manacika ada koding. Wacika ada engglish club dan japanese dan Kayika ada tari bali . penerapan Tri Kaya Parisudha dalam pembiasaan . disekolah yaitu melakukan kegiatan persembahayangan Tri Sandya . Penerapan Tri Kaya Parisudha dalam pembudaya sekolah yang dibagai sesuai bagian dari Tri Kaya Parisudha sebagai berikut: Manacika melaksanakan persembahyangan. Kayika dengan sikap keselarasan pada lingkungan sekolah. Wacika dengan sikap menyapa oleh siswa/siswi SD Taman Tirta. Kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta yaitu . Guru belum . Kendala dari guru kurangnya kurikulum pendidikan yang diterapkan disekolah belum seluruhnya memuat ajaran Tri Kaya Parisudha. Kendala dari siswa yaitu kurang mampu memahami pembelajaran. Upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha dan Budi Pekerti di SD Taman Tirta yaitu dengan . Mencegah timbulnya tingkat frustasi, guru harus mampu menempatkan dirinya disituasi apapun guna kebaikan anak didiknya. Memberikan pelatihan terhadap guru . Memberikan konseling dan jam tambahan terhadap siswa yang membutuhkan. https://jayapanguspress. org/index. php/metta Daftar Pustaka