Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Motivasi Petani dalam Usahatani Kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Muhammad Amir Biky1. Irene Kartika Eka Wijayanti2. Yusmi Nur Wakhidati3 Mahasiswa Pascasarjana Magister Agribisnis. Fakultas Pertanian Program Pascasarjana Magister Agribisnis. Fakultas Peternakan Program Pascasarjana Magister Agribisnis. Universitas Jendral Soedirman ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Motivasi Petani. Kentang. Skala Likert. Rating Scale ABSTRACT Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga termasuk daerah sentra kentang yang dapat mendukung dan memiliki peran penting dalam meningkatkan pembangunan pertanian untuk dapat meningkatkan devisa Beberapa kendala petani dalam melakukan kegiatan usahatani kentang adalah motivasi petani yang masih rendah, petani beranggapan bahwa usahatani kentang yang dilakukan selama ini memiliki prospek yang menjanjikan dengan memanfaatkan kondisi alam dan iklim yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman kentang. Namun, data menunjukan setiap tahun Kecamatan Karangreja Kabupaten purbalingga mengalami penurunan luas panen dan jumlah produksi. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui karakteristik petani dalam usahatani kentang dan mengidentifikasi tingkat motivasi petani yaitu motivasi ekonomi dan motivasi sosiologi. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penentuan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan menggunakan metode simple random sampling diperoleh 100 petani kentang mitra dan non mitra dan pembagian sampling dilakukan menggunakan metode stratified random sampling diperoleh 17 petani mitra dan 83 petani non mitra. Metode analisis data menggunakan analaisis deskriptif, metode likertAos summated ratings, dan rating scale. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik petani dipengaruhi oleh faktor internal yaitu pengalaman bertani dalam kategori sedang . , pendidikan formal dalam kategori sedang . , luas lahan dalam kategori sedang . , pendapatan petani dalam kategori tinggi . , dan faktor eksternal yaitu sarana produksi berada dalam kategori sangat tinggi . , ketersediaan modal dalam kategori tinggi . , jaminan harga pada kategori tinggi . dan kehadiran penyuluh pada kategori sedang . Tingkat motivasi dari segi ekonomi dalam usahatani kentang berada dalam kategori tinggi sebesar . dan tingkat motivasi sosiologi dalam usahatani kentang berada pada kategori sedang sebesar . This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Irene Kartika Eka Wijayanti Universitas Jendral Soedirman Jl. Prof. Dr. HR. Boenjamin 708 Kotak Pos 115 - Grendeng Purwokerto 53122 Email: - Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 PENDAHULUAN Kentang (Solanum tuberosum L. ) termasuk komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, segmen usaha adaptif, pasar yang jelas dan memiliki sifat daya simpan lebih lama dibandingkan dengan tanaman hortikultura lainnya (Pratiwi, 2. Produksi kentang di Indonesia mengalami fluktuatif didalam hasil Selama lima tahun terakhir dari tahun 2017-2021, hasil produksi tahun 2017 mencapai 1. on/h. sedangkan tahun 2018 produksi kentang mengalami kenaikan 1. on/h. dan tahun 2019 657 . on/h. Pada tahun 2020 terjadi pandemic covid-19 yang menyebabkan krisis pangan global, hal tersebut mengakibatkan penurunan produksi kentang mencapai 1. on/h. dan kembali mengalami kenaikan di tahun 2021 sebesar 1. on/h. (Badan Pusat Statistik, 2. Pada waktu yang sama, permintaan kentang di Indonesia pada tahun 2017-2021 mengalami penurunan volume ekspor kentang, namun pada tahun 2020 pada saat hasil produksi turun, permintaan kentang justru meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sedangkan volume impor menunjukan kecenderungan yang tinggi karena kentang impor termasuk kentang jenis atlantik yang merupakan kebutuhan industri makanan. Hal tersebut menunjukan produksi kentang di Indonesia tinggi, namun hanya jenis kentang sayur. Oleh sebab itu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangta. mempersiapkan 2 varietas unggulan kentang industri (Badan Pusat Statistik, 2. Tabel 1. Perkembangan Volume Ekspor-Impor Kentang Indonesia 2017-2021 di Dunia Tahun Volume ekspor Volume Impor Pertumbuhan Ekspor Pertumbuhan (To. (To. (%) Impor (%) Sumber: (United Nations Commodity Trade Statistics, 2. Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu penghasil produksi kentang dan termasuk penyumbang devisa sebesar 20,4% dengan hasil produksi kentang mencapai 2. 365 (Kw/tahu. dengan luas panen sebesar 16. (H. Kabupaten yang turut mengembangkan usahatani kentang di Jawa Tengah yaitu Kabupaten Purbalingga. Banjarnegara. Wonosobo. Magelang. Boyolali. Wonogiri. Karanganyar. Semarang. Temanggung. Batang. Pekalongan. Pemalang. Tegal, dan Brebes (Badan Pusat Statistik, 2. Diantara 14 Kabupaten produsen kentang di Jawa Tengah. Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu daerah penghasil kentang ke enam sebagai daerah produksi kentang di Jawa Tengah. Pada tahun 2020-2021. Kabupaten Purbalingga mengalami penurunan luas panen dan jumlah produksi. Penurunan luas panen pada tahun 2020 mencapai 2,1 persen dan tahun 2021 mencapai 1,8 persen. Hal tersebut tentu mempengaruhi jumlah produksi kentang yang ada di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga yakni pada tahun 2020 mengalami penurunan produksi 2,4 persen dan tahun 2021 turun mencapai 2,2 persen. Sebagai kawasan sentra kentang. Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga memiliki luas daerah 47,84 kmA, dengan luas wilayah 71 persen digunakan untuk lahan pertanian yang memiliki 7 desa/kelurahan yaitu Serang. Kutabawa. Siwarak. Tlahab Lor. Tlahab Kidul. Karangreja, dan Gondang. Diantara 7 desa tersebut, daerah yang membudidayakan kentang yaitu Desa serang dan kutabawa dengan luas panen tahun 2021 mencapai 308 (H. luasan panen tersebut termasuk luas panen yang cukup besar ke lima setelah bawang daun dengan luas panen 653 (H. , kubis 534 (H. , petsai/sawi 457 (H. , wortel 399 (H. , dan sisanya komoditas hortikultura lainnya seperti jamur, cabai besar, kangkung, cabai rawit, kacang panjang, ketimun, tomat, terung, bayam, buncis, labu siam, bawang merah, dan strawberry. Banyaknya komoditas hortikultura yang dibudidayakan di Kabupaten Purbalingga, kentang merupakan komoditas yang berkontribusi besar dan terdapat dua desa yang membudidayakan kentang yaitu Desa Serang dan Kutabawa karena memiliki topografi yang layak untuk ditanami kentang dengan masing-masing ketinggian wilayah Desa Serang 1. 150 mdpl dan Desa Kutabawa 1. 211 mdpl dengan menyumbang 2,21% atau sebanyak 61,55 . (BPS Kecamatan Karangreja dalam angka 2. Secara umum, produk hortikultura masih dihasilkan melalui proses konvensional dan bergantung pada iklim dan cuaca yang sangat tinggi, hal tersebut menyebabkan fluktuasi terhadap mutu dan pasokan yang Berdasarkan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian . , proses produksi saat ini sangat menitikberatkan pada penggunaan sumberdaya manusia yaitu petani, sehingga memberi beban dan biaya produksi yang cukup tinggi, hal tersebut mengakibatkan nilai daya saing produk belum kompetitif karena pengelolaan produksi bergantung pada fungsi dan peran sumberdaya manusia. Bahkan di era digital ini, peran sumberdaya manusia perlu di-redesign untuk dapat meningkatkan daya saing serta dapat menyesuaikan terhadap kebutuhan yang semakin kompleks. Penyuluhan dan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia menjadi strategi yang komprehensif untuk dapat mensejajarkan peranan teknologi dan manusia secara komersial dan proporsional sehingga meningkatkan kesejahteraan keluarga petani yang lebih baik. Menurut Selvia et al. , . Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 keterbatasan sumberdaya manusia dan modal menjadi penyebab petani cenderung menggunakan teknologi sederhana untuk melakukan proses produksi, sehingga menyebabkan belum optimalnya kualitas kentang yang dihasilkan petani, selain itu keterbatasan pemenuhan benih varietas unggul dan mutu yang digunakan juga mempengaruhi kualitas yang dihasilkan oleh petani sehingga mempengaruhi pendapatan petani. Faktor penting sebagai pendukung petani memilki kesempatan untuk mendukung dalam usahatani kentang. Faktor pendukung itu adanya potensi lahan dan iklim yang sesuai untuk budidaya tanaman kentang, sedangkan produksi kentang yang berfluktuasi dapat disebabkan karena kurang baiknya alokasi input produksi dalam usahatani kentang (Agatha et al. , 2. Usahatani kentang yang ada di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga masih mengalami beberapa kendala, salah satunya adalah motivasi petani yang masih rendah. Menurut Qonita . motivasi petani merupakan kondisi yang menyebabkan petani melakukan suatu tindakan atau kegiatan secara sadar, faktor tersebut menyebabkan petani termotivasi dalam memilih bibit unggul dengan melihat faktor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi didalam diri petani seperti pengalaman petani, pendidikan, umur, luas lahan yang diusahakan, pendapatan dan jumlah tanggungan keluarga sedangkan faktor eksternal terjadi di luar diri petani meliputi harga, kelompok tani, modal dan pasar. Selain itu pentingnya motivasi didalam usahatani dapat dilihat dari segi yang lain, seperti harga dan permintaan kentang yang tinggi (Prabowo et , 2. Dengan memanfaatan kondisi alam dan iklim yang sesuai, petani beranggapan bahwa usahatani kentang yang dijalankan selama ini memiliki prospek yang menjanjikan. Hal tersebut menjadikan sebuah landasan petani untuk mengembangkan usahatani kentang sebagai penopang penghasilan utama petani di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik petani baik internal maupun eksternal dalam usahatani kentang dan mengidentifikasi tingkat motivasi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. METODE PENELITIAN Pelaksanaan penelitian menggunakan metode deskriptif yang berusaha menggambarkan suatu fenomena atau peristiwa di lokasi penelitian. Jenis metode deskriptif yang digunakan adalah survei, yaitu penelitian yang dilakukan dengan menyusun daftar pertanyaan atau pernyataan yang diajukan kepada petani responden untuk meneliti gejala-gejala perilaku kelompok atau individu dengan pengumpulan data melalui kuesioner dan Alat dan bahan yang digunakan berupa angket, buku catatan, literatur budidaya kentang dan lain-lain yang dapat mendukung kegiatan penelitian. Penelitian dilaksanakan bulan januari-februari 2023 di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, lokasi penelitian dipilih secara sengaja . yaitu Desa Serang dan Desa Kutabawa Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga karena lokasi ini merupakan daerah sentra produksi kentang di Kabupaten Purbalingga. Populasi dalam penelitian ini adalah petani kentang sebanyak 500 Penentuan sampel menggunakan teknik probability sampling menggunakan metode simple random sampling dengan rumus slovin dan diperoleh sampel sebanyak 100 orang dan penentuan sampel dari status petani mitra dan non mitra dilakukan penarikan contoh menggunakan stratified sampling. Menurut Dwiastuti . , rancangan penarikan contoh stratifikasi diterapkan pada keadaan populasi berukuran besar serta terjadi keragaman karakteristik, namun penyebaran karakteristik relatif kecil. Penarikan contoh menggunakan stratified sampling menggunakan proportional allocation method diperoleh sampel petani mitra 17 orang dan non mitra sebanyak 83 Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan selanjutnya dilakukan uji validitas dan realibilitas terlebih dahulu. Validitas dimaksudkan untuk mengetahui suatu ukuran yang menunjukan tingkat keandalan atau keabsahan suatu alat ukur (Riduwan, 2. Sedangkan uji realibilitas menunjukan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan sehingga memberikan hasil pengukuran relatif konsisten dari waktu ke waktu (Sunjoyo, 2. Untuk mengkaji karakteristik petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga baik internal maupun eksternal menggunakan metode LikertAos Summated Ratings dengan ketentuan sebagai berikut: Tabel 2. Skoring Metode LikertAos Summated Ratings Karakteristik Petani Jawaban Skor Favourable ( ) Skor Unfavourable (-) Skoring Karakteristik Petani: Sangat Tinggi (ST) Tinggi (T) Sedang (S) Rendah(R) Sangat Rendah (SR) Sumber: Riduwan, 2014 Selanjutnya pengukuran menggunakan rating scale. Menurut Riduwan . , rating scale merupakan data mentah yang didapat berupa data kuantitatif . kemudian diinterprestasikan secara kualitatif. Dalam Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 model rating scale, responden tidak akan menjawab dari data kualitatif yang sudah tersedia tersebut, tetapi menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang sudah tersedia, sehingga bentuk rating scale lebih fleksibel, tidak terbatas pada pengukuran sikap saja, tetapi pada pengukuran persepsi responden terhadap gejala atau fenomena lainnya. Penyusunan instrument dengan skala penilaian harus mampu menginterprestasikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Rating scale merupakan variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Pada penelitian ini, penilaian rating scale yang digunakan adalah sebagai berikut: yce yaycaycoycycuyc ycAycuycycnycycaycycn . cE) = ycu100% ycA Dimana: P = Angka persentase f = Jumlah skor yang diperoleh N = Skor maksimum Keterangan: Kriteria interpretasi skor (Riduwan, 2. 0-20% = Sangat rendah 21-40% = Rendah 41-60% = Sedang 61-80% = Tinggi 81-100% = Sangat tinggi Pengkajian tingkat motivasi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga dilakukan dengan tabulasi data yang diperoleh dalam pengumpulan data menggunakan kuesioner kemudian dilakukan metode Likert's Summated Ratings untuk menganalisis dan mendeskripsikan data penelitian yang ada, serta dikaitkan dengan teori-teori yang ada hubungannya dengan masalah guna menarik kesimpulan yang disajikan. Sedangkan skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang peristiwa atau fenomena social (Riduwan, 2. dengan ketentuan sebagai berikut: Tabel 3. Skoring Metode LikertAos Summated Ratings Tingkat Motivasi Petani Jawaban Skor Favourable ( ) Skor Unfavourable (-) Skoring Tingkat Motivasi: Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Ragu-ragu (RG) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Sumber: (Riduwan, 2. Selanjutnya pengukuran menggunakan rating scale. penilaian rating scale yang digunakan adalah sebagai berikut: yce ycNycnycuyciycoycayc ycAycuycycnycycaycycn ycEyceycycaycuycn . cE) = ycu100% ycA Dimana: P = Angka persentase f = Jumlah skor yang diperoleh N = Skor maksimum Keterangan: Kriteria interpretasi skor (Riduwan, 2. 0-20% = Sangat rendah 21-40% = Rendah 41-60% = Sedang 61-80% = Tinggi 81-100% = Sangat tinggi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani Dalam Usahatani Kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Faktor Internal Karakteristik petani dalam penelitian terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor dari dalam diri pribadi petani yang mempengaruhi ciri-ciri pribadi petani di dalam usahatani kentang. Faktor internal meliputi pengalaman bertani, pendidikan formal, luas lahan, dan pendapatan petani. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Faktor Internal Pengalaman Bertani Pendidikan Formal Luas Lahan Pendapatan Petani Gambar 1. Garis Kontinum Faktor Internal Petani Kentang Pengalaman bertani sebagai waktu berapa lama menjadi petani kentang menunjukan bahwa pengalaman yang sedang yaitu berkisar antara 12-22 tahun dengan jumlah 33 orang . Petani dengan rentang pengalaman antara 12-22 tahun memiliki pemikiran untuk mengembangkan usahatani kentangnya, mengingat usahatani kentang ditempat penelitian termasuk usahatani turun temurun dari keluarga. Semakin lama petani berusahatani maka semakin cenderung mempunyai sikap yang lebih berani dalam menanggung resiko, menerapkan teknologi baru maupun mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dibidang pertanian. Hariyani . mengatakan bahwa lamanya pengalaman bertani akan berpengaruh terhadap motivasi yang ada dalam diri petani melalui cara berpikir, menyelesaikan masalah, menerima teknologi baru, serta kemampuan fisik Pendidikan formal dijelaskan sebagai tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh petani responden. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan mayoritas petani responden memiliki tingkat pendidikan yang sedang dengan jumlah 67 orang . dengan pencapaian pendidikan formal mayoritas di bangku SD atau tidak tamat SMP. Mayoritas petani melakukan usahatani karena faktor keluarga . saha turun temuru. , sehingga pada zaman dahulu petani responden lebih mementingkan membantu orang tuanya di lahan daripada melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini mempengaruhi motivasi petani mengenai keterampilan petani dalam mengembangkan dan mengelola usaha taninya. Menurut Nisa . dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Tingkat pendidikan formal dalam kategori sedang mempengaruhi kehidupan petani terutama masalah lapangan pekerjaan yang ditekuni, dari petani kecil terdidik menganut pola sosial tradisional dan cenderung mengikuti orang tua yang memanfaatkan lahan sekitar untuk bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama. Luas lahan petani dijelaskan berapa luasan lahan yang petani kelola pada saat musim tanam pada waktu Luas lahan petani dalam usahatani kentang masuk dalam kategori sedang yaitu berkisar antara 0,160,38 (H. 800 m2 sebanyak 48 orang . Kecamatan Karangreja merupakan daerah sentra kentang karena terletak di kaki Gunung Slamet dan memiliki topografi 630-1. 300 mdpl dengan suhu 20AC, dan jenis tanah andosol sebagai syarat tumbuh tanaman kentang (Safitri, 2. Hal tersebut mengakibatkan motivasi yang tinggi terhadap diri petani karena petani beranggapan usahatani kentang yang dilakukan selama ini memiliki prospek yang menjanjikan dan pemanfaatan lokasi alam dan iklim yang sesuai menjadikan sebuah landasan petani untuk mengembangkan usahatani kentang sebagai penopang penghasilan utama petani maka dari itu semakin luas lahan yang digarap petani untuk usahatani kentang maka semakin besar motivasi petani untuk meningkatkan produksi yang dihasilkan. Pendapatan Petani dinyatakan dalam perhitungan analisis pendapatan yang petani peroleh dari usahatani kentang selama dua kali musim tanam terakhir dengan rata-rata total penerimaan sebesar Rp32. 800 dengan jumlah produksi rata-rata 4,2 ton dengan harga jual Rp7. Total biaya variabel Rp22. 469 dan total biaya tetap Rp2. 651 yang menunjukan besar pendapatan yang petani peroleh rata-rata sebesar Rp7. Dari hasil wawancara, petani beranggapan bahwa pendapatan yang mereka peroleh berada pada kategori tinggi . atau bekisar antara Rp. 000-Rp23. 000, namun dari perhitungan analisis pendapatan menunjukan bahwa pendapatan petani berada pada kategori sedang yaitu berkisar antara Rp3. 000Rp13. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah pendorong atau penghambat petani dalam membudidayakan usahatani kentang melalui kekuatan-kekuatan ekonomi yang ada dalam masyarakat. Faktor eksternal meliputi sarana produksi, ketersediaan modal, jaminan harga dan kehadiran penyuluh. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Faktor Eksternal Sarana Produksi Ketersediaan Modal Jaminan Harga Kehadiran Penyuluh Gambar 2. Garis Kontinum Faktor Eksternal Petani Kentang Sarana produksi dijelaskan sebagai faktor eksternal mengenai toko atau tempat yang menyediakan kebutuhan petani seperti benih, pupuk dan obat-obatan menunjukan bahwa sarana produksi berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 68 petani . yang artinya sarana produksi dalam usahatani kentang sangat mendukung dan selalu tersedia baik pada saat jadwal tanam maupun sebelum jadwal tanam. Hal tersebut sesuai dengan kondisi yang ada ditempat penelitian karena petani mitra yang bekerjasama dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk selalu disediakan benih dari perusahaan mitra untuk dapat melakukan kerjasama sedangkan petani non mitra dapat membeli benih terhadap petani lain. Ketersediaan modal diartikan sebagai banyaknya sumber modal yang petani miliki, besarnya pinjaman yang petani lakukan dan kemudahan petani dalam melakukan peminjaman berada pada kategori tinggi sebanyak 41 petani . Ketersediaan modal yang tinggi akan meningkatkan proses usahatani kentang mengingat biaya variabel yang dibutuhkan untuk usahatani kentang sangat tinggi ditambah dengan dukungan saran produksi yang memadai. Menurut Mariati . , adanya modal yang dimiliki petani akan lebih mudah untuk mengembangkan usahataninya dengan melalui sumber modal yang tersedia baik besarnya peminjaman maupun syarat peminjaman yang mudah. Jaminan harga dalam usahatani kentang sangat menentukan petani dari segi ekonomi dan sosiologi untuk dapat memotivasi petani dalam meningkatkan usahatani kentang yang petani jalani. Variabel jaminan harga berada pada kategori tinggi sebanyak 29 petani . , berdasarkan data yang diambil dari 100 responden menunjukan bahwa jaminan harga relatif tinggi berkisar antara Rp7. 300 Ae Rp8. 500/Kg. Menurut Andilan et al. menyatakan bahwa setiap penjualan yang dilakukan petani akan memberikan nilai tambah sehingga harga jual yang tinggi akan meningkatkan pendapatan petani. Kehadiran penyuluh dijelaskan sebagai kegiatan untuk dapat membantu petani dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan didalam usahatani yang petani jalani, dengan banyaknya petani mendapatkan penyuluhan maka informasi dan pengetahun yang didapatkan akan membantu petani mengembangkan produksi Kehadiran penyuluh berada pada kategori sedang sebanyak 26 petani . , rata-rata petani mengikuti penyuluhan lebih dari 2 kali selama satu musim tanam. Menurut Marbun et al. , . menyatakan bahwa penyuluh dapat memberikan kegiatan atau mengadakan sosialisasi kepada setiap kelompok tani tentang bagaimana cara berusatani yang baik dan pengaplikasian penggunaan teknologi baru sehingga dapat memberikan gambaran dan membantu merubah pola pikir petani dengan adanya inovasi baru yang bertujuan untuk meningkatkan hasil kualitas maupun kuantitas produksi serta meringankan pekerjaan petani dalam kegiatan usahatani yang petani jalani. Tingkat Motivasi Petani Dalam Usahatani Kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Tingkat Motivasi Ekonomi Motivasi ekonomi yaitu kondisi yang mendorong petani untuk mememuhi kebutuhan ekonomi. Pengukuran tingkat motivasi ekonomi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga diukur dengan lima indikator melalui pembagian kuesioner terhadap 100 responden dan diinterprestasikan dengan menggunakan skala likert disajikan pada tabel 5 sebagai berikut: Motivasi Ekonomi Keinginan untuk memiliki dan Tabel 4. Tabel Tingkat Motivasi Ekonomi Kategori Jawaban Nilai Jumlah Responden Sangat setuju Setuju Ragu-ragu % Kategori Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 Total Skor ISSN: 2808-7046 Motivasi Ekonomi Keinginan untuk membeli barangbarang mewah Kategori Jawaban Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Keinginan untuk pendapatan yang Keinginan untuk hidup yang lebih sejahtera atau hidup lebih baik Keinginan untuk kebutuhan hidup Nilai Jumlah Skor diperoleh Skor maksimum % Tingkat Motivasi Ekonomi Sumber: Analisis Data Primer, 2023 Jumlah Responden % Kategori Total Skor Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa tingkat motivasi ekonomi mayoritas petani responden berada pada kategori tinggi . artinya bahwa motivasi ekonomi petani dengan harapan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya termasuk keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, hidup yang lebih sejahtera atau hidup lebih baik, dan memperoleh pendapatan yang tinggi sudah terpenuhi dan tingkat motivasi ekonomi petani sudah ketahap berkeinginan untuk membeli barang-barang mewah. Keinginan untuk membeli barang-barang mewah disini dimaksudkan sebagai kebutuhan yang berkaitan dengan kehormatan seseorang dan reputasinya seperti kebutuhan untuk sukses, memperoleh pengetahuan lebih banyak dan pengakuan lebih besar sebagai kebutuhan akan penghargaan petani untuk dapat meningkatkan usahatani kentangnya. Hal tersebut menunjukan mayoritas petani responden di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga termasuk petani modern atau maju. Hasil nilai persentase yang diperoleh jika diplot melalui garis kontinum dapat digambarkan pada Gambar sebagai berikut: Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Gambar 3. Garis Kontinum Tingkat Motivasi Ekonomi Sangat Tinggi Berdasarkan Gambar 3 bahwa jumlah skor yang diperoleh 1. 635 dan skor ideal 2. 500 dan persentase tingkat motivasi ekonomi responden dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga yaitu 74 persen atau pada kategori tinggi. Dari hasil pengkajian di lokasi penelitian petani mempunyai harapan yang besar terhadap usahatani kentang yang dijalani. Dimana pendapatan yang diperoleh pada saat ini, petani mempunyai keinginan untuk membeli barang-barang mewah sebagai bentuk penghargaan atas pekerjaan yang sudah mereka jalani, akan tetapi petani akan kembali ke tahap sebelumnya seperti kebutuhan hidup keluarga, kebutuhan hidup yang lebih sejahtera atau hidup lebih baik, serta memperoleh pendapatan yang tinggi jika kebutuhan dasar belum terpenuhi sesuai kebutuhannya karena motivasi yang diterapakan tidak bersifat hierarki. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Tingkat Motivasi Sosiologi Motivasi Sosiologi yaitu kondisi yang mendorong petani untuk memenuhi kebutuhan sosial dan berinteraksi atau kerjasama dengan orang lain karaena petani hidup bermasyarakat. Pengukuran motivasi sosiologi dilakukan dengan lima indikator melalui pembagian kuesioner terhadap 100 orang petani responden dan diinterprestasikan dengan menggunakan skala likert tersaji pada Tabel 7 sebagai berikut: Motivasi Sosiologi Keinginan untuk menambah relasi atau teman Keinginan untuk kerjasama dengan orang lain Keinginan untuk Keinginan untuk bertukar pendapat Keinginan untuk bantuan dari pihak Tabel 5. Tabel Tingkat Motivasi Sosiologi Kategori Jawaban Nilai Jumlah Responden Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Jumlah Skor diperoleh Skor maksimum % Tingkat Motivasi Sosiologi Sumber: Analisis Data Primer, 2023 % Kategori Total Skor Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa tingkat motivasi sosiologi mayoritas petani responden berada pada kategori sedang . Artinya bahwa motivasi sosiologi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga membawa dampak positif secara sosial termasuk keinginan untuk memperoleh bantuan dari pihak lain, keinginan untuk bertukar pendapat sudah terpenuhi dan tingkat motivasi sosiologi petani sudah ketahap berkeinginan untuk mempererat kerukunan. Hal tersebut tentu membawa dampak positif secara sosial untuk dapat mendorong petani ketahap yang lebih tinggi dengan harapan sesama petani mulai terbuka untuk dapat berkolaborasi atau bekerjasama dengan sesama petani ataupun orang lain. Hasil nilai presentase yang diperoleh jika diplot melalui garis kontinum dapat digambarkan pada gambar 4 sebagai berikut: Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Gambar 4. Garis Kontinum Tingkat Motivasi Sosiologi Sangat Tinggi Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa jawaban responden yang telah dilakukan perhitungan didapatkan jumlah skor yang diperoleh 1. 202 sedangkan skor ideal 2. 500 dan persentase tingkat motivasi sosiologi Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 responden dalam usahatani kentang yaitu berada pada kategori sedang. Dari hasil pengkajian di lokasi penelitian mayoritas petani sudah bergabung kedalam kelompok tani dan sebagian petani telah bekerjasama dengan perusahaan yaitu PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. hal tersbut menunjukan bahwa petani dapat bergabung dengan orang lain, dapat bekerjasama, serta bertukar informasi. Hasil pengidentifikasian tingkat motivasi ekonomi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga berada pada kategori tinggi yaitu 74 persen lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat motivasi sosiologi yang berada pada kategori sedang yaitu 48 persen. Hal ini sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian ini, bahwa motivasi didasari oleh kebutuhan seseorang. Teori ini beranggapan bahwa tindakan manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan diklarifikasikan pada lima hierarki kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan dan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Selanjutnya Maslow menegaskan bahwa kebutuhan yang diinginkan seseorang tersebut adalah berjenjang, artinya jika kebutuhan yang pertama terpenuhi, kebutuhan tingkat kedua telah terpenuhi, muncul kebutuhan tingkat ketiga dan seterusnya sampai kebutuhan tingkat kelima (Maslow, 2. Dimana didalam penelitian ini tingkat motivasi ekonomi berada pada ketagori tinggi yang artinya kebutuhan tingkat dasar seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan sosial sudah terpenuhi sehingga petani melakukan usahatani kentang untuk kebutuhan penghargaan atau kebutuhan yang berkaitan dengan kehormatan seseorang dan reputasinya. Sedangkan tingkat motivasi sosiologi berada di kategori sedang yaitu keinginan untuk mempererat kerukunan yang artinya keinginan untuk memperoleh bantuan dari pihak lain, dan keinginan untuk bertukar pendapat sudah terpenuhi oleh petani responden. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari tingkat motivasi ekonomi petani melaksanakan kegiatan usahatani kentang untuk dapat membeli barangbarang mewah dari hasil usahatani kentang yang mereka jalani sebagai kebutuhan akan penghargaan terhadap Sedangkan dilihat dari tingkat motivasi sosiologi bahwa petani melaksanakan kegiatan usahatani kentang untuk dapat mempererat kerukunan yang harapannya kedepan dapat bekerjasama dengan petani lainnya. Kerjasama adalah kebutuhan sosial manusia dalam menjalani kehidupannya. Apalagi biasanya di pedasaan masyarakat hidup lebih bersifat kebersamaan. Dari hasil analisis mengenai tingkat motivasi petani, dari segi motivasi ekonomi petani mempunyai keinginan untuk membeli barang-barang mewah sebagai bentuk penghargaan atas usahatani yang sudah mereka jalani. Sedangkan dari segi motivasi sosiologi harapannya didalam usahatani kentang dapat mempererat kerukunannya. Petani akan kembali ke tahap sebelumnya jika kebutuhan dasar petani belum terpenuhi sesuai kebutuhannya. Maka dari itu petani akan kembali meningkatkan kepuasan dari kebutuhan tingkat rendah. Seseorang tidak harus selalu merasa puas terhadap satu tingkatan kebutuhan saja, dan juga perbedaan kebutuhan memungkinkan urutan tingkatan yang berbeda dari setiap individu (Ball, 2. Motivasi ekonomi petani dikategorikan tinggi karena petani beranggapan bahwa kebutuhan dasar sudah terpenuhi sehingga motivasi yang dimiliki petani berubah ke tingkat yang lebih tinggi dengan jaminan bahwa petani mampu malakukan atau memiliki kemampuan mencapai target yang berujung pada pengakuan juga sangat Hal inilah yang membuat petani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga termotivasi untuk melakukan pekerjaannya. Sedangkan motivasi sosiologis dikategorikan sedang. Menurut Nugraheni et al. bahwa manusia makhluk sosial yang hidup bermasyarakat dan tidak mungkin dapat memisahkan hidupnya dengan manusia lain, adanya tatanan hidup dan sistem kemasyarakatan berbentuk karena interaksi dan hubungan kepentingan manusia yang satu dengan yang lainnya. Pengaplikasian teori motivasi didasari oleh tingkatan kebutuhan dari Abraham Maslow serta di dukung oleh teori motivasi menurut Clayton Aldefer yang menjelaskan bahwa pemenuhan tingkatan kebutuhan dapat dilakukan secara simultan yang artinya bahwa hubungan dari teori motivasi tidak bersifat hierarki, jika dilihat berdasarkan hasil analisis, diketahui cocok untuk diaplikasikan pada penelitian ini karena motivasi ekonomi lebih didahulukan dari pada motivasi sosiologi. Menurut Uno . menyatakan bahwa tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, antara lain ekspektasi . , instrumentalis . eberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertent. dan Valensi yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan positif, netral, atau negatif. Motivasi petani dikategorikan tinggi apabila usaha yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan, motivasi dikategorikan rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan. SIMPULAN Berdasarkan analisis dan pembahasan yang mengkaji tentang motivasi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik petani dilihat dari segi internal maupun eksternal terlihat bahwa, variabel pengalaman bertani, pendidikan formal, luas lahan dan kehadiran penyuluh berada pada kategori sedang, variabel pendapatan petani, ketersediaan modal, dan jaminan harga berada pada kategori tinggi, dan variabel sarana produksi berada pada kategori sangat tinggi. Dari hasil penelitian serta pembahasan tentang tingkat motivasi petani dalam usahatani kentang di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, motivasi ekonomi berada pada kategori tinggi menunjukan petani berusahatani kentang termotivasi oleh kebutuhan akan penghargaan sedangkan tingkat motivasi sosiologi petani berada pada kategori sedang menunjukan motivasi dari pihak luar yang timbul belum sepenuhnya optimal terhadap dorongan atau Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 pengaruh yang merupakan ketidakseimbangan dalam diri petani karena pengaruh dari dalam maupun dari luar yang terbentuk secara personal, sosial maupun kelompok. DAFTAR PUSTAKA