Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma Laki-laki dalam cengkeraman patriarki pada novel Ronggeng Dukuh Paruk . karya Ahmad Tohari Miftahul Auliya Safitri1. Nashiratunnisa2. Sri Khairu Rahma3. Sri Wahyuni4 Universitas Matarama Email corespondence : safitriauliya195@email. [Naskah Masuk : 10 Oktober 2025, diterima untuk diterbitkan : 24 Desember 2. Abstrak: Studi ini menganalisis hubungan kekuasaan dalam novel *Ronggeng Dukuh Paruk* karya Ahmad Tohari dengan perhatian khusus pada pengalaman ketidakadilan yang dialami oleh tokoh lakilaki. Penelitian yang ada selama ini cenderung menggambarkan perempuan sebagai pihak yang paling dirugikan oleh sistem patriarki, sementara laki-laki seringkali dianggap sebagai pihak yang berkuasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana diskursus adat, moral, dan ekonomi justru menjadikan laki-laki sebagai individu yang turut mengalami penindasan, manipulasi, dan kerugian martabat di dalam struktur sosial Dukuh Paruk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui analisis mendalam terhadap teks Proses analisis data menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang dipadukan dengan perspektif sosiologi sastra untuk memahami hubungan kekuasaan dalam konteks sosial dan budaya. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa laki-laki dalam novel mengalami kerugian ekonomi, ketidakmampuan emosional, manipulasi simbolik, penghilangan kemanusiaan, dan kekecewaan disebabkan oleh hubungan sosial yang bersifat transaksional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa hubungan kekuasaan dalam novel tidak statis, di mana laki-laki tidak selalu berada pada posisi yang lebih tinggi, tetapi juga bisa menjadi korban kekuasaan dalam sistem patriarki dan tradisi sosial yang ada. Kata Kunci: Ketimpangan. Relasi Kuasa. Budaya. Representasi. Rasus Abstract: This study analyzes the power relations in Ahmad Tohari's novel Ronggeng Dukuh Paruk, with a particular focus on the experiences of injustice suffered by male characters. Existing research tends to portray women as the most disadvantaged by the patriarchal system, while men are often considered the powerful party. The purpose of this study is to show how traditional, moral, and economic discourses actually make men individuals who experience oppression, manipulation, and loss of dignity within the social structure of Dukuh Paruk. The method used in this study is descriptive qualitative, with data collection techniques through in-depth analysis of the novel text. The data analysis process used a critical discourse analysis approach combined with a sociological perspective on literature to understand power relations in a social and cultural context. The findings of this study reveal that the men in the novel experience economic loss, emotional incapacity, symbolic manipulation, dehumanization, and disappointment due to transactional social relationships. The conclusion of this study is that power relations in the novel are not static, where men are not always in a higher position, but can also be victims of power in the existing patriarchal system and social traditions. Keywords: Inequality. Power Relations. Culture. Representation. Rasus Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma PENDAHULUAN Karya Sastra merupakan bentuk praktik sosial yang mempresentasikan hubungan antara individu, masyarakat, dan kekuasaan yang mengelilinginya. Melalui penggunaan bahasa dan narasi, karya sastra tidak hanya mencerminkan realitas sosial sosial, tetapi juga berperan dalam membentuk, mempertahankan, serta mengkritik hubungan kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menggambarkan kehidupan desa dengan tradisi yang kental, di mana dinamika kekuasaan terwujud melalui adat, nilai moral, ekonomi, dan kontrol simbolik atas tubuh serta peranan individu. Analisis wacana kritis memandang bahasa sebagai praktik sosial yang sarat dengan kepentingan ideologis dan hubungannya dengan kekuasaan. Fairclough . menyatakan bahwa tujuan analisis wacana kritis adalah untuk mengungkap hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan ideologi yang bekerja dalam teks serta konteks sosialnya. Selaras dengan pendapat tersebut. Foucault . menyatakan bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat menindas, melainkan juga produktif dan tersebar melalui wacana yang membentuk pandangan tentang apa yang dianggap normal, benar, dan pantas dalam masyarakat. Dalam studi sastra, analisis wacana kritis memungkinkan pemahaman terhadap makna yang tersembunyi yang ada dalam narasi dan dialog tokoh. Sementara itu, sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai hasil sosial yang tidak bisa terpisahkan dari konteks masyarakat yang menghasilkannya. Menurut Wellek dan Warren . , karya sastra terhubung erat dengan struktur sosial, nilai-nilai budaya, dan konflik sosial yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, sosiologi sastra digunakan untuk menginterpretasi karya sastra sebagai cerminan sekaligus kritik terhadap realitas sosial tertentu. Pemilihan novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai fokus penelitian didasari oleh kompleksitas hubungan kekuasaan yang disajikan dalam teks. Tradisi ronggeng berfungsi tidak hanya sebagai seni, tetapi juga sebagai alat sosial yang mengesahkan kekuasaan atas tubuh dan batasan pilihan hidup individu. Dinamika kekuasaan dalam novel ini tidak hanya menjadikan perempuan sebagai pihak yang dirugikan, tetapi juga menunjukkan bahwa laki-laki, seperti karakter Rasus, juga dibentuk dan dibatasi oleh struktur sosial, ekonomi, dan simbolik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ketidaksetaraan sosial dalam novel bersifat struktural dan dialami oleh berbagai kelompok sosial. Penelitian terdahulu tentang Ronggeng Dukuh Paruk umumnya menyoroti masalah perempuan dan patriarki. Fitriani dkk. menggambarkan tokoh Srintil sebagai perempuan yang kehilangan kontrol atas tubuh dan masa depannya akibat dominasi sosial dan budaya di masyarakat Dukuh Paruk. Wahyuni dkk. menjelaskan bahwa posisi perempuan dalam novel ini berada dalam spektrum eksistensi, pemberontakan, dan penindasan yang dipengaruhi oleh Sari . menyoroti tradisi ronggeng sebagai tanda eksploitasi perempuan dalam struktur sosial pedesaan, sedangkan Prasetyo . memfokuskan pada kritik sosial Ahmad Tohari terhadap kemiskinan dan keterbelakangan yang dialami masyarakat Dukuh Paruk. Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada pendekatan yang diambil. Penelitian ini tidak hanya menyoroti perempuan sebagai korban ketidaksetaraan, tetapi juga menganalisis dinamika kekuasaan secara komprehensif menggunakan pendekatan analisis wacana kritis dan sosiologi Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana wacana adat, moralitas, dan ekonomi membentuk posisi sosial karakter-karakter dalam novel, serta menunjukkan bahwa hubungan kekuasaan bersifat dinamis dan dapat membuat individu berstatus baik sebagai subjek maupun objek kekuasaan secara silih berganti. II. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif. Menurut Suangiyono . , penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode membaca krtitis. Menurut Agustina . mengemukakan bahwa membaca kritis adalah membaca yang bertujuan untuk mengetahui fakta-fakta yang terdapat dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta itu. Pembaca tidak sekedar menyerap yang ada, tetapi ia bersama-sama penulis berpikit tentang masalah yang dibahas. Ia membaca dengan suasana dan hati. Membaca secara kritis berarti harus membaca secara analisis dengan penilaian. Sedangkan metode yang digunakan dalam menganalisis data yaitu metode analisis relasi kuasa wacana kritis. Relasi kuasa . ower relatio. adalah hubungan antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya berdasarkan ideologi tertentu. Kekuasaan . adalah konsep yang kompleks dan abstrak, yang secara nyata mempengaruhi kehidupan mereka. Selain itu, kekuasaan juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan pemangku kepentingan, untuk menentang atau mendukung individu atau kelompok lainnya (Thomas, 2004:. Penelitian ini berpijak pada teori analisis wacana kritis. Teori Analisis wacana kritis merupakan teori untuk melakukan kajian empiris tentang hubunganhubungan antara wacana dan perkembangan sosial budaya, memiliki wawasan dan berfungsi membentuk pengetahuan dalam konteks yang spesifik, juga menghasilkan interpretasi dengan memandang efek kekuasaan dari wacanawacana kritis tanpa menggeneralisasikan pada konteks lain. Menurut Darma . analisis wacana kritis adalah studi linguistik yang membahas wacana bukan dari unsur kebahasaan, melainkan mengaitkannya dengan konteks. Konteks di sini maksudnya adalah bahasa digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu agar tujuan yang diinginkan tercapai. Dalam (Dijk, 1. Fokus utama dari analisis wacana kritis adalah pada kekuatan dan ketidaksetaraan yang timbul dari fenomena sosial. Oleh karena itu, disiplin ilmu ini digunakan untuk menganalisis wacana dalam konteks politik, ras, gender, hegemoni, budaya, dan kelas sosial. Pendekatan dan teori tersebut dipilih karena peneliti ingin medeskripsikan fenomena relasi kuasa patriarki terhadap laki-laki dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan lebih spesifik dan mendalam. Selain itu, peneliti juga ingin Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma menggambarkan bagaimana struktur mekanisme serta dampak dari cengkeraman tradisi partiarki tersebut terrealisasi dalam wacana teks sastra secara alami, sehingga data yang terkumpul bersifat deskriptif dalam mengindentifikasi bentukbentuk kekuasaan, ketidaksetaraan, dan resistensi berdasarkan konteks sosiokultural novel. Dengan menggunakan metode membaca kritis, peneliti tidak hanya sekedar menyerap narasi, tetapi juga terlibat dalam menilai kebenaran yang terdapat dalam teks. Sementara itu, penerapan analisis relasi kuasa wacana kritis dapat membantu peneliti untuk mengungkap bagaimana kekuasaan partiarki berjalan, dihasilkan, atau mungkin digugat melalui bahasa, dialog, dan narasi yang terdapat dalam novel, serta menganalisis efeknya terhadap konstruksi maskulinitas dan posisi laki-laki dalam sistem sosial yang digambarkan. Dengan demikian, peneliti dapat mengetahui karakteristik dan dinamika relasi kuasa, serta dampaknya terhadap tokoh laki-laki dalam novel yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah membaca secara mendalam novel AuRonggeng Dukuh ParukAy, didapatkan data yang menggambarkan kondisi laki-laki di desa Dukuh Paruk mengalami ketimpangan. Berikut ini kutipan nnarasi serta dialog yang menggambarkan kondisi ketimpangan laki-laki: A Ketimpangan Kuasa Ekonomi: Laki-laki Dihargai Sebatas Kemampuan Membayar Kutipan ini menunjukkan bagaimana para lelaki di Dukuh Paruk secara kolektif dinistakan oleh kemiskinan yang membelenggu mereka, menjadikan mereka tidak berharga di mata sang dukun ronggeng. Hal ini terlihat pada kalimat AuOh, saya tak pernah bermimpi seorang laki-laki Dukuh Paruk akan memenangkan Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Aku tidak berharap mereka mengikuti sayembara. Ay . al 50-. Dalam kalimat tersebut terdapat penistakan kolektif, pernyataan Kartareja secara langsung dan frontal menista seluruh populasi laki-laki Dukuh Paruk. Mereka dinyatakan tidak memiliki nilai apa pun untuk bersaing memperebutkan Srintil. Selanjutnya menilai kuasa berdasarkan uang, dalam sayembara bukak-klambu, harga diri, kekuatan fisik, atau bahkan cinta seorang laki-laki tidak ada artinya. Satu-satunya ukuran nilai adalah "sekeping ringgit Para lelaki Dukuh Paruk dinistakan karena kemiskinan mereka, yang menjadikan mereka tidak layak secara ekonomi. Kalimat tersebut juga menunjukkan bawa laki-laki sebagai objek pasif, mereka tidak lagi menjadi aktor dalam narasi percintaan atau perjuangan, melainkan menjadi penonton yang sudah dipastikan kalah sebelum kompetisi dimulai. A Ketidakberdayaan Emosional: Cinta yang direndahkan dan ditolak Kutipan ini memperlihatkan bagaimana Rasus, sebagai pria, merasa diabaikan dan menyalahkan dirinya karena kedudukan sosialnya yang rendah. Hal ini terlihat dari kalimat AuPulanglah! Ay yang terus berulang di benakku. Karena diusir dengan cara yang halus, aku pun pulang. Dalam hatiku, aku mengutuk. Namun, sesaat kemudian, aku menyadari bahwa sebenarnya aku tidak Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma A A A menyalahkan Srintil, melainkan diriku sendiri. Sebab, aku lahir sebagai orang yang pantas diusir oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Dalam kalimat ini terkandung penolakan dan pengusiran, di mana Rasus, yang mencintai Srintil, dengan mudahnya disuruh pergi. Keberadaannya dianggap tak berharga dan bahkan mengganggu. Selanjutnya, terdapat internalisasi penghinaan yang paling menyakitkan, yaitu Rasus tidak menyalahkan Srintil, tetapi menyalahkan takdir dan dirinya sendiri. Terakhir, frasa pantas diusir menunjukkan bahwa ia telah menerima posisinya yang rendah. Ia merasa sebagai pria, ia tidak berhak berada di dekat Srintil yang kini menjadi simbol dan komoditas desa. Ini adalah bentuk penghinaan diri yang muncul akibat ketidaksetaraan kekuasaan. Pengurangan diri menjadi sosok yang lemah muncul pada kalimat terakhir. Humiliasi dan manipulasi: laki-laki dipermainkan seperti anak-anak Kutipan ini menggambarkan bagaimana pria yang berambisi hanya dilihat sebagai alat oleh mereka yang lebih dominan (Nyai Kartarej. dan yang lebih licik (Dowe. Ini tampak jelas dalam kalimat Auoh tenanglah. Bocah baik. Lihat, anak Pecikalan itu masih terlelap. Engkau jadi sang juara. Srintil menantimu Ay Auoh ya. Benar. Tapi tunggu sebentar. Nek. Aku perlu buang air. Ay . al Dalam kalimat ini terdapat penipuan dan manipulasi yang dilakukan oleh Sulam, yang telah berjuang . engan bantuan ci. , dan tertipu oleh Nyai Kartareja. Ia diberikan harapan yang tidak nyata sebagai "juara". Kemudian ada penghinaan di mana ia diperlakukan seperti "Bocah baik" yang gampang Kemenangannya hanyalah sebuah kebohongan, dan ia akan mendapatkan Srintil yang sudah kehilangan kesuciannya. Selanjutnya, di akhir kalimat ada Reduksi yang menggambarkan dirinya sebagai sosok lemah "Aku perlu buang air", yang merupakan puncak dari penghinaan. Di saat yang seharusnya menjadi saat kemenangan, ia justru memperlihatkan statusnya yang sangat lemah, mabuk, dan tidak berdaya. Ia direduksi dari seorang pemenang menjadi pria yang hanya bisa berpikir untuk buang air kecil. Laki-laki dibandingkan dengan hewan: kehilangan martabat Kutipan ini secara simbolis menggambarkan bagaimana seorang pria yang dikuasai nafsu dapat dengan mudah dijatuhkan dan dihancurkan harga dirinya, bahkan lebih rendah dari binatang. Hal ini tercermin dalam kalimat Seekor kambing jantan telah dikalahkan oleh ciu dan tipu daya, . Di dalam kalimat ini terdapat Dehumanisasi: Sulam, yang dipenuhi hasrat seksual, tidak lagi dianggap sebagai manusia. Ia diperlakukan seperti "seekor kambing jantan". Dalam kalimat tersebut juga terdapat Kekalahan tanpa martabat: Ia tidak mengalami kekalahan dalam pertempuran yang berat, tetapi "dikalahkan oleh kebohongan dan tipu daya". Ini menunjukkan betapa gampangnya seorang lelaki diinjak-injak dan direndahkan harga dirinya oleh situasi dan kebohongan orang lain. Nafsunya sendiri dipakai untuk menjatuhkannya. Laki-laki yang kecewa karena harapan transaksionalnya pupus Kutipan ini mengungkapkan bahwa keinginan pria dalam konteks tersebut sering kali bersifat bisnis dan fisik, dan saat harapan tersebut hancur, mereka merasakan kekecewaan yang mendalam. Ini terlihat dalam ungkapan. AuDower Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma tidak menduga Kartareja akan menolak dengan cara yang begitu tegas. Perjaka Pecikalan tertegun. Hatinya merasa sangat kecewa. Dower berpikir sudah melakukan segalanya untuk bisa memenangkan sayembara bukak-klambu, tidur semalam di atas ranjang yang nyaman bersama ronggeng Dukuh Paruk yang masih suci . Ay. Dalam kalimat tersebut terdapat motif yang diperkecil: Fokus utama Dower adalah "tidur semalam. dengan ronggeng. yang masih suci". Hal ini memperlihatkan bagaimana pandangan terhadap Srintil . an hubungan antara pria dan wanit. telah disederhanakan menjadi transaksi seksual. Pada kalimat terakhir pun terdapat ketidakberdayaan di hadapan kekuatan: Meskipun Dower cerdik dan memiliki "tipu daya", ia tetap tak berdaya di hadapan Kartareja yang memiliki kekuasaan total atas Srintil. Harapannya yang telah dibangun dengan usaha keras ditolak dengan kasar, membuatnya sebagai seorang pria merasa "tertegun" dan sangat kecewa. Sumber : https://share. google/FZFyLapXWaWWLgUMm IV. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis wacana kritis terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dapat dipahami bahwa hubungan kekuasaan dalam cerita ini tidak hanya menjadikan perempuan sebagai objek ketidakadilan, tetapi juga membentuk laki-laki sebagai subjek yang menghadapi ketimpangan dalam sosial, ekonomi, serta simbolik. Lewat wacana adat, nilai-nilai moral, dan ekonomi, laki-laki di Dukuh Paruk dinilai berdasarkan status finansial dan posisi mereka dalam tatanan sosial, yang Jurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran (JUNDIKMA) Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 59584/jundikma berujung pada hilangnya kebebasan, harga diri, dan tawar-menawar dalam interaksi sosial dan emosional. Gambaran karakter Rasus. Sulam, dan Dower memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja dengan cara yang halus dan produktif, menciptakan kesadaran untuk menerima posisi subordinasi sebagai hal yang normal. Dengan demikian, ketidakadilan yang terpapar dalam novel bersifat sistemik dan dinamis, lahir dari mekanisme sosial yang berdasarkan pada tradisi, serta memposisikan individu sebagai subjek dan objek kekuasaan secara silih berganti. SARAN Diharapkan penelitian ini bisa menjadi acuan bagi kajian sastra di masa depan yang ingin menyelidiki hubungan kuasa dan pembentukan maskulinitas dalam karya sastra Indonesia, terutama dengan menerapkan pendekatan analisis wacana kritis serta sosiologi sastra secara komprehensif. Peneliti masa depan disarankan untuk memperluas ruang lingkup penelitian atau membandingkan berbagai karya dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai cara kerja wacana patriarki, baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Di samping itu, hasil studi ini bisa dimanfaatkan oleh pendidik dan pembaca sebagai alat untuk melakukan refleksi kritis dalam memahami teks sastra dengan konteks yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kesadaran mengenai praktik ketidaksetaraan dan mekanisme kekuasaan yang tersembunyi dalam narasi sastra. DAFTAR PUSTAKA