MADIUN Vol. Tahun ke-7. April 2015 ISSN. FILOSOFI PENDIDIKAN YANG INTEGRAL DAN HUMANIS DALAM PERSPEKTIF MANGUNWIJAYA Agustinus Wisnu Dewantara PERAN KAUM DEWASA DALAM MENINGKATKAN KERASULAN DI BIDANG POLITIK BAGI KAUM MUDA DALAM TERANG DEKRIT APOSTOLICAM ACTUOSITATEM 12 Ola Rongan Wilhelmus dan Yuvinus Sujiman PEMBINAAN ROHANI KATOLIK TERHADAP NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MADIUN Agustinus Supriyadi dan Vinansius Fentius Lase DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA BERDASARKAN DOKUMEN MARIALIS CULTUS DAN PELAKSANAANNYA DI PAROKI MATER DEI MADIUN Don Bosco Karnan Ardijanto dan Ignatius Damar Putra KOMUNITAS BASIS GEREJANI SEBAGAI BASIS PEMBERDAYAAN IMAN UMAT DI PAROKI MATER DEI MADIUN Aloysius Suhardi dan Elisabet Sababak PERSEPSI MAHASISWA STKIP WIDYA YUWANA MADIUN TENTANG HUBUNGAN ANTARA PEMBINAAN SPIRITUALITAS DAN PEMBINAAN KARYA PASTORAL Yuventius Fusi Nusantoro dan Antonia Bamban Puspitasari ISSN Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan AyWidya YuwanaAy MADIUN 7 72 08 5 07435 1 JPAK JURNAL PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) adalah media komunikasi ilmiah yang dimaksudkan untuk mewadahi hasil penelitian, hasil studi, atau kajian ilmiah yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Katolik sebagai salah satu bentuk sumbangan STKIP Widya Yuwana Madiun bagi pengembangan Pendidikan Agama Katolik pada umumnya. Penasihat Ketua Yayasan Widya Yuwana Madiun Pelindung Ketua STKIP Widya Yuwana Madiun Penyelenggara Lembaga Penelitian STKIP Widya Yuwana Madiun Ketua Penyunting Agustinus Wisnu Dewantara Penyunting Pelaksana DB. Karnan Ardijanto Agustinus Supriyadi Penyunting Ahli John Tondowidjojo Ola Rongan Wilhemus Armada Riyanto Sekretaris Aloysius Suhardi Alamat Redaksi STKIP Widya Yuwana Jln. Mayjend Panjaitan. Tromolpos: 13. Telp. Fax. Madiun 63137 Ae Jawa Timur Ae Indonesia Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) diterbitkan oleh Lembaga Penelitian. STKIP Widya Yuwana Madiun. Terbit 2 kali setahun (April dan Oktobe. PERSYARATAN PENULISAN ILMIAH DI JURNAL JPAK WIDYA YUWANA MADIUN Jurnal Ilmiah JPAK Widya Yuwana memuat hasil-hasil Penelitian. Hasil Refleksi, atau Hasil Kajian Kritis tentang Pendidikan Agama Katolik yang belum pernah dimuat atau dipublikasikan di Majalah/Jurnal Ilmiah lainnya. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris sepanjang 7500-10. kata dilengkapi dengan Abstrak sepanjang 50-70 kata dan 3-5 kata kunci. Artikel Hasil Refleksi atau Kajian Kritis memuat: Judul Tulisan. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Pendahuluan . anpa anak judu. Isi . ubjudul-subjudul sesuai kebutuha. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka. Artikel Hasil Penelitian memuat: Judul Penelitian. Nama Penulis. Instansi tempat bernaung Penulis. Abstrak (Indonesia/Inggri. Kata-kata Kunci. Latar Belakang Penelitian. Tinjauan Pustaka. Metode Penelitian. Hasil Penelitian. Penutup . esimpulan dan sara. Daftar Pustaka Catatan-catatan berupa referensi disajikan dalam model catatan lambung. Contoh: Menurut Caputo, makna religius kehidupan harus berpangkal pada pergulatan diri yang terus menerus dengan ketidakpastian yang radikal yang disuguhkan oleh masa depan absolut (Caputo, 2001: . Kutipan lebih dari empat baris diketik dengan spasi tunggal dan diberi baris baru. Contoh: Religions claim that they know man an the world as these really are, yet they they differ in their views of reality. Question therefore arises as to how the claims to truth by various religions are related. Are they complementary? Do they contradict or overlap one another? What Aeaccording to the religious traditions themselvesAiis the nature of religious knowledge? (Vroom, 1989: . Kutipan kurang dari empat baris ditulis sebagai sambungan kalimat dan dimasukkan dalam teks dengan memakai tanda petik. Contoh: Dalam kedalaman mistiknya. Agustinus pernah mengatakan Ausaya tidak tahu apakah yang saya percayai itu adalah Tuhan atau bukan. Ay (Agustinus, 1997: . Daftar Pustaka diurutkan secara alfabetis dan hanya memuat literature yang dirujuk dalam artikel. Contoh. Tylor. , 1903. Primitive Culture: Researches Into the Development of Mythology. Philosophy. Religion. Language. Ert, and Custom. John Murray: London Aswinarno. Hardi, 2008. AuTheology of Liberation As a Constitute of Consciousness,Ay dalam Jurnal RELIGIO No. April 2008, hal. Borgelt. , 2003. Finding Association Rules with the Apriori Algorthm, http://w. uni-magdeburg. de/-borgelt/apriori/. Juni 20, 2007 Derivaties Research Unicorporated. http//fbox. 10021/business/finance/ dmc/RU/content. Accesed May 13, 2003 PEMBINAAN ROHANI KATOLIK TERHADAP NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MADIUN Agustinus Supriyadi dan Vinansius Fentius Lase STKIP Widya Yuwana Madiun Abstract Indonesian state is a state of law. Basic constitutional state is the Pancasila and the 1945 constitutional the law is one of the institutions that are needed to anticipate that the rapid developments in the human life. In combating criminal acts that appear in people's live we need a legal product that can uphold justice and can be a means of public protector. The purpose of criminal law is to prevent people committed a crime in order to create a rule of law, as the public protector . reventive purpose. and resuscitate the criminals from committing or repeating a criminal In this regart, this paper was written in order to determine the extent to which the catholic spiritual guidance to inmates in prisons class 1 Madiun can develop cognitive, affective, and psychomotor and spiritual as well as the growth and development of a strong faith in Christ. Research shows that all respondents said that the spiritual guidance of the chatolic agains chatolic inmates in prisons clas 1 madiun already paying attention and very benevical to inmates. Based on research data, all or ten . of respondents revealed that spiritual guidance in prisons has been done. Howere, from10 . of the respondent there were 8 . respondents revealed already understand and follow the activities of the chatolic spiritual formation has led to repentance, maturing faith, build churches and true salvation. Therefore, the spiritual guidance of the chatolic against chatolic inmates to keep more inmates could be implemented in order to live and to discover the identity and increasingly responsible. Pendahuluan Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasar Pancasila. Hukum merupakan salah satu pranata yang dibutuhkan untuk mengantisipasi perkembangan yang pesat dalam kehidupan Hukum juga diperlukan untuk mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat misalnya munculnya suatu tindak pidana yang menyebabkan terganggunya kenyamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat pada khususnya dan kehidupan bernegara pada umumnya. Masyarakat membutuhkan suatu produk hukum yang dapat menegakkan keadilan dan dapat menjadi sarana pengayoman Hukum pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang menentukan perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. (Moeljatno, 1993:. Tujuan hukum pidana ialah mencegah masyarakat melakukan suatu tindak pidana sehingga tercipta suatu penegakan hukum, sebagai sarana pengayoman masyarakat . serta menyadarkan si pelaku tindak pidana agar tidak melakukan atau mengulangi tindak pidana . ujuan represi. Lembaga Pemasyarakatan, meskipun tidak terkait langsung dalam penegakan hukum, tetapi berperan besar dalam menciptakan ketertiban masyarakat dalam kehidupan hukum. Lembaga ini bertugas untuk mendidik para pelanggar hukum yang sering juga disebut dengan Gunakarya . 8: . , berpendapat bahwa narapidana adalah Auorang yang telah terbukti melakukan tindak pidana dan kemudian oleh pengadilan dijatuhi hukuman dan pidana. Ay UU No. 12 Tahun 1995 Pasal 1 Ayat . menjelaskan bahwa terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Narapidana adalah orang sedang menjalani sanksi kurungan atau sanksi lainnya, menurut perundang-undangan hukum pidana serta ditempatkan dalam rangka menumbuhkembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta spiritual yang tinggi. UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal 1 Ayat . Lembaga Pemasyarakatan (LP) merupakan tempat untuk melaksanakan pembinaan narapidana dan anak didik pemasyarakatan. Lembaga pemasyarakatan diartikan sebagai tempat hidup para narapidana dan memiliki fungsi sebagai tempat pembinaan Upaya-upaya penyadaran tersebut dapat dilakukan melalui pembinaan narapidana yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat ? sik/material, dan non ? sik/imaterial . Pemenuhan kebutuhan yang bersifat non-? sik yang dilakukan baik oleh petugas lembaga pemasyarakatan itu sendiri maupun yang dilakukan atas kerjasama dengan pihak-pihak yang peduli terhadap pembinaan narapidana. Narapidana diharapkan memiliki mental yang baik sehingga timbul kesadaran untuk melakukan kebaikan melalui pembinaan rohani. Tujuan dari pembinaan rohani yang dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan adalah agar narapidana tidak mengulangi lagi perbuatannya dan bisa menemukan kembali kepercayaan dirinya serta dapat diterima menjadi bagian dari anggota masyarakat. Pembinaan rohani mempunyai pengaruh tidak hanya yang dikenai pidana tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap masyarakat pada Pengaruh secara langsung ini baru akan dirasakan sungguh-sungguh jika sudah dilaksanakan secara efektif. Lembaga Pemasyarakatan kelas 1 Madiun merupakan salah satu lembaga pemasyarakatan yang melaksanakan program pembinaan rohani dan mental menurut sistem pemasyarakatan. Pembinaan rohani katolik yang dilaksanakan dalam sistem pemasyarakatan berpengaruh besar terhadap narapidana yang menjalani masa pidananya di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun. Proses pemasyarakatan yang berjalan diharapkan memunculkan perubahan menuju kepada kematangan yang lebih Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan melakukan penelitian naturalistik. Model analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah model analisis data interaktif. Analisis data model ini memerlukan tiga komponen, yaitu: reduksi data, sajian data, serta penarikan data atau verifikasi. Data diambil langsung dari lapangan penelitian, melalui interaksi langsung dengan responden yang diteliti. Penelitian dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan Kelas 1 Madiun yang diberada di wilayah Paroki St. Cornelius Madiun. II. Pembinaan Rohani Katolik terhadap Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Pembinaan Rohani Katolik Hardawiryana . 6:42-. mengatakan bahwa membina penghayatan kristen berarti: membantu sesama untuk meresapkan sabda Tuhan menjadi pedoman hidup, dalam cahaya iman menggali arti sedalam-dalamnya dari hidupnya dari kenyataan konkrit. membantu menyadari, bahwa Allah memanggilnya, dan sedang melaksanakan karya penyelamatan-Nya padanya membantunya menjawab panggilan Tuhan itu dalam melalui kenyataan hidupnya. Pembinaan rohani dengan demikian membantu pribadi manusia untuk menyadari hubungannya dengan Allah dan sesama manusia. Hagen . mengatakan bahwa pembinaan rohani adalah pembinaan hati, yakni pembinaan yang bersifat menyeluruh, yang dapat berlangsung hanya jika dilaksanakan terus-menerus oleh semua pihak dengan mengembangkan sekaligus daya-daya kemampuan jasmani dan rohani. Tujuan pembinaan rohani katolik antara lain adalah untuk mewujudkan pertobatan, pendewasaan iman, membangun Gereja, dan keselamatan sejati. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru para penginjil bercerita tentang pertobatan dalam bentuk perumpamaan. Perumpamaan Yesus yang paling indah adalah perumpamaan tentang anak yang hilang, . Luk 15:11-. Perumpamaan ini melukiskan bagaimana keadaan manusia yang jauh dari Allah seperti anak yang Dalam Injil Yohanes, bertobat berarti lahir kembali (Yoh 3:. Kedewasaan rohani tidak terjadi secara langsung atau otomatis. Orang yang mengikuti pembinaan, tetapi tidak melakukan apa-apa, tidak akan pernah mengalami pertumbuhan (Ibr 5:12-. Pembinaan rohani merupakan proses hidup, proses belajar yang dirancang oleh Allah untuk pertumbuhan rohani (Efferin, 2007:. Arti keselamatan tidak terbatas kepada segi rohani dari kehidupan. Orang yang selamat diartikan mempunyai hubungan baik dengan Allah, sesama, dan diri sendiri. Selamat juga berarti sehat, sejahtera, bebas dari penindasan dan penaklukan. Dalam Alkitab istilah AukeselamatanAyatau AumenyelamatkanAy sering berhubungan dengan pelepasan dari bahaya, bencana atau maut. Allah menyelamatkan bangsa Israel dari bangsa-bangsa yang memusuhinya. menyelamatkan orang-orang yang tertindas dan sakit (Malcolm, 2004:. Bentuk pembinaan rohani sudah kita kenal dalam kehidupan Gereja perdana. Hidup jemaat perdana berdasarkan sabda yaitu merenungkan Sabda Allah berintikan pada penangkapan pesan atau warta yang disampaikan oleh bacaan Kitab Suci. Tuhan ingin bersabda dan berpesan pada semua umat-Nya. Tuhan bersabda tentang sesuatu yang tentu kita butuhkan, sesuatu yang sesuai situasi dan kondisi umat-Nya. Sabda Allah selalu konkrit, mengena pada situasi dan kondisi aktual sebab Tuhan bukan Allah yang selalu bekerja dan bersabda lalu diam dan duduk tenang disurga. Allah kita adalah Tuhan yang Auturut bekerja dan meneguhkan Firman itu dengan tanda-tanda yang menyertai-NyaAy . Mrk 16:. Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Madiun Lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun merupakan tempat orang-orang yang melakukan pelanggaran hukum dibina. Lembaga pemasyarakatan sebagai ujung tombak pelaksana asas pengayoman yang merupakan tempat untuk mencapai tujuan sistem pemasyarakatan melalui pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi. Pemasyarakatan adalah suatu proses therapeutic, di mana narapidana pada waktu masuk lembaga pemasyarakatan merasa dalam keadaan tidak harmonis dengan masyarakatnya. Sistem pemasyarakatan juga beranggapan bahwa hakekat perbuatan melanggar hukum oleh warga binaan pemasyarakatan, (Adi Sujatno, 2004 hal. Sisi kemanusiaan dari warga binaan lebih diperhatikan, karena tujuan utama dari lembaga pemasyarakatan adalah mengayomi warga binaan sebagai bagian dari anggota masyarakat yang baik dan berguna (Sudarto, 1986:. Lembaga pemasyarakatan merupakan bagian dari sistem peradilan dengan sistem pemasyarakatan sebagai metode pembinaan yang mempunyai tanggungjawab merealisasikan salah satu tujuan dari sistem peradilan pidana yaitu resosialisasi dan rehabilitasi pelanggaran hukum (Simorangkir 1995:. Sistem yang dipakai oleh lembaga pemasyarakatan sebelumnya sebagai tempat pembalasan berganti sebagai tempat pembinaan (Simorangkir 1995:. Jadi sistem lembaga pemasyarakatan berfungsi menyiapkan warga binaan atau anak didik untuk kembali bertugas dan berperan sebagai anggota masyarakat yang bebas dan Perkembangan pembinan bagi narapidana berkaitan erat dengan tujuan pemidanaan. Pembinaan narapidana yang sekarang dilakukan pada awalnya berangkat dari ketentuan bahwa tujuan pemidanaan tidak sesuai lagi dengan perkembangan nilai dan hakekat hidup yang tumbuh dimasyarakat. Lembaga pemasyarakatan sebagai tujuan pidana diartikan sebagai pemulihan kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan yang hakiki, yang terjadi antara individu pelanggar hukum dengan masyarakat serta lingkungannya, (Farhan Hidayat, 2005:. Sistem pemasyarakatan merupakan suatu proses pembinaan warga binaan sebagai makhluk Tuhan, individu dan sebagai masyarakat. Sistem pemasyarakatan dalam hal ini, untuk mengembalikan warga binaan sebagai warga yang baik kemudian untuk melindungi masyarakat terhadap kemungkinan diulanginya tindak pidana oleh warga binaan pemasyarakatan, serta merupakan penerapan dan bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila (Undang-undang No, 12 Tahun1. Menyadari hal itu telah sejak lama sistem pemasyarakatan Indonesia lebih ditekankan pada aspek pembinaan narapida, anak didik pemasyarakatan, atau klien pemasyarakatan yang mempunyai ciri-ciri preventif, kuratif, rehabilitative, dan edukatif. Pembinaan Rohani Katolik terhadap Narapidana dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Paroki merupakan komunitas kaum beriman yang dibentuk secara tetap dengan batas-batas kewilayahan tertentu dalam keuskupan (Gereja Partikula. yang bersifat rohani, oleh karena itu terarah pada tujuan rohani pula. Dibutuhkan seorang pastor . yang melayani kebutuhan rohani umat. Pastor paroki bertanggungjawab atas kehidupan rohani jemaat yang diserahkan kepadanya, namun dengan demikian tidak berarti bahwa pembinaan rohani hanya menjadi urusan pastor paroki seorang diri atau hak monopoli pastor paroki. Rumusan tentang tanggungjawab tertinggi dalam reksa pastoral diparoki, tetapi dalam konteks peran serta umat dalam parokinya. Penyerahan reksa pastoral kepada pastor paroki harus ditafsirkan sebagai ungkapan yuridis preferensi Gereja. Pembinaan rohani yang dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun menjadi tanggungjawab paroki setempat. Narapidana Katolik dalam konteks ini termasuk umat yang percaya akan Kristus namun hanya saja karena melakukan pelanggaran hukum sehingga mereka diasingkan dan kehilangan Maka melalui pembinaan rohani, narapidana menjadi bertobat dan membuahkan perubahan batin dan menjadi pengikut Kristus seutuhnya. Pewartaan atau pembinaan ini bermaksud untuk mengundang semua umat beriman, termasuk narapidana, kepada iman dan pengakuan iman, serta membebaskan mereka dari perbudakan kesesatan ke dalam Kristus, supaya karena cinta kasih bertumbuh ke arah Dia hingga kepenuhannya (LG art. Usaha mewujudkan dan mengembangkan hal tersebut, merupakan tugas dan tanggungjawab seluruh warga Gereja . , terutama dari pelayannya. Kerjasama antara pastor atau imam dan awam bagaikan tubuh yang tak terpisahkan. Gereja mempunyai sel, organ, atau bagian-bagian yang beranekaragam. Semuanya mempunyai kedudukan mereka masing-masing. Dengan fungsi khasnya sendiri-sendiri. IV. Hasil Penelitian Tentang Pembinaan Rohani Katolik Terhadap Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Madiun Responden yang dipilih dalam penelitian ini ialah narapidana yang beragama katolik di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun yang berjumlah 7 . , petugas di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun yang beragama katolik yang berjumlah 1 . , pastor Paroki Santo Cornelius Madiun . , dan petugas pembina rohani katolik awam yang bertempat tinggal di wilayah paroki Santo Cornelius Madiun . Pemilihan responden ini ditentukan oleh petugas lembaga pemasyarakatan yang bertugas sebagai pendamping dalam pembinaan rohani katolik. Secara keseluruhan, hasil analisa data mengungkapkan bahwa narapidana katolik yang berada di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun sudah mendengar dan pernah mengikuti pembinaan rohani sebagai bentuk atau usaha untuk membina dan mendidik narapidana untuk semakin dewasa, membuahkan pertobatan dan beriman kepada Kristus sang juru selamat. Para tahanan katolik dalam lembaga pemasyarakatan tetap mengikuti kegiatan pembinaan rohani katolik. Pada umumnya responden mengerti bahwa pembinaan rohani katolik sangat penting, bermanfaat serta berpengaruh terhadap pembentukan mental dan spiritual narapidana untuk menjadi umat beriman dan semakin baik. Responden secara keseluruhan mengungkapkan bahwa narapidana sudah mendapatkan dan mengikuti pembinaan rohani katolik yang diselenggarakan di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun. Pembinaan yang dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun dilaksanakan baik secara formal, maupun non-formal. Pembinaan narapidana yang diselenggarakan oleh lembaga pemasyarakatan terdiri dari pembengkalan diri narapidana, misalnya kerajinan tangan dalam membuat perabot rumah tangga yaitu lemari, meja, kursi, dll. Kemudian bidang kesenian antara lain musik, band, dan bernyanyi. Hampir semua responden menanggapi secara positif semua kegiatan pembinaan yang dilakasanakan oleh lembaga, baik pembinaan jasmani maupun pembinaan rohani. Semua responden mengungkapkan bahwa pembinaan rohani katolik terhadap narapidana katolik di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun sangat bermanfaat karena pembinaan rohani membuahkan pertobatan, kedewasaan iman, membangun gereja, dan keselamatan Responden berpendapat bahwa pembinaan rohani katolik di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun, memiliki dampak yang positif terhadap narapidana yang mengalami masalah dan pergolakan hidup yang sangat berat. Oleh karena itu, responden juga menyampaikan usulan-usulan dan saran agar pembinaan rohani katolik lebih efektif dan efisien. Penutup Pembinaan rohani katolik terhadap narapidana katolik di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun merupakan suatu upaya untuk mengembangkan iman, ikut berpartisipasi membangun Gereja dan membuahkan pertobatan. Pembinaan ini sangat menentukan dan berpengaruh dalam kematangan kepribadian narapidana untuk semakin mengenal jati diri yang sebenarnya. Pembinaan rohani katolik terhadap narapidana memiliki dasar, tujuan, bentuk, dan manfaat yang positif dalam kehidupan narapidana. Dalam penelitian narapidana mengungkapkan bahwa mereka memahami dan mengikuti pembinaan rohani katolik. Pada dasarnya pembinaan rohani sudah sering mereka dengar ketika mereka masih sekolah hingga sampai saat ini. Narapidana sudah cukup mengerti tentang pembinaan rohani katolik, tetapi pemahaman dan defenisi tentang pembinaan rohani masih tidak sempurna atau masih kurang Para narapidana katolik mengatakan bahwa pembinaan rohani katolik sangat bermanfaat dalam mendidik dan membina kepribadian narapidana untuk menjadi insan beriman. Pelaksanaan pembinaan rohani katolik dilaksanakan dengan berbagai bentuk pembinaan, baik bersifat formal, maupun non-formal. Kegiatan formal yaitu. pengembangan kepribadian yang dilaksanakan oleh lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun antara lain, pembengkalanpembengkalan hidup seperti kerajinan tangan, kesenian, dll. Sedangkan kegiatan formal yaitu pembinaan rohani yang dilaksanakan sebanyak satu kali seminggu pembinaan rohani dilaksanakan dalam bentuk. Ibadat Sabda. Doa. Ekaristi dan pengakuan dosa atau tobat, dan pelayanan. Pembinaan rohani katolik terhadap narapidana, dilaksanakan dan dilakukan oleh petugas pembina rohani baik awam, suster, maupun imam . yang sekaligus sebagai penanggungjawab dalam pelaksanaan pembinaan rohani katolik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa semua narapidana sangat membutuhkan atau memerlukan pembinaan rohani katolik. Meskipun dalam pelaksanaan pembinaan rohani, beberapa narapidana tidak mengikuti pembinaan rohani karena alasan bahwa pada jam yang sama narapidana memiliki tugas dan tanggungjawab yang harus dikerjakan dalam membantu petugas demi kepentingan lembaga pemasyarakatan. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa pembinaan rohani katolik membuahkan pertobatan, pendewasaan iman, membangun Gereja dan memperoleh keselamatan sejati. Dari hasil wawancara responden mengungkapkan bahwa pembinaan rohani katolik sangat memberikan manfaat atau dampak positif kepada narapidana dalam menjalani masa-masa sulit di dalam lembaga Dengan pembinaan rohani katolik, narapidana semakin mampu berperan aktif dan kreatif membangun bangsa dan negara serta Gereja, menjadi manusia yang berguna, dan bisa mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Esa dan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dalam melaksanakan pembinaan rohani katolik di lembaga pemasyarakatan narapidana diharapkan dengan secara sadar mengikuti pengarahan, bimbingan dan secara sukarela mau melaksanakan semua yang sudah diperintahkan oleh Tuhan, sehingga sikap dan perilaku narapidana mencerminkan nilai-nilai religius. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa semua narapidana sangat mengharapkan pembinaan rohani katolik di lembaga pemasyarakatan kelas 1 Madiun. Pembinaan rohani katolik seperti diungkapkan oleh narapidana sangat bermakna dalam arti untuk membina dan mendidik narapidana menjadi lebih baik. Kedepannya, narapidana memberikan usul dan saran yang sangat bagus yakni semoga pembinaan rohani yang slalu ada dan tetap di laksanakan di lembaga pemasyarakatan dilanjutkan. Kemudian narapidana juga berharap untuk setiap hari minggu gereja dibuka, karena sebagai seorang kristiani hari minggu adalah hari Tuhan. DAFTAR PUSTAKA Andi Hamzah. Sistem Pidana dan pemidanaan Indonesia. Jakarta: Pradaya Paramita Ardhi. FX. Wibowo. Sakramen Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius Brownlee. Malcolm. Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan. Jakarta: Gunung Mulia C. Greonen. OFM. Mariologi Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius Darminta. Praksis Bimbingan Rohani. Yogyakarta: Kanisius Dwidja Priyatno. Pidana Penjara di Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Efferin Lily. Menjadi Murid Kristus. Metanoia Publising. Jakarta Alexander Jebadu. SVD, 1990. Arti dan tempat devosi Kepada Maria dalam Gereja. Dalam Rohani. Tahun xVII. No. Freeman. Drue. Dasar-dasar membangun iman. Village Ministries International. Inc, (VMI) Githrie. Donald. Teologi Perjanjian Baru 2. Jakarta: Gunung Mulia Hadiwardoyo. Al Purwa. Pertobatan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta: Kanisius Harsono. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan Hidayat. Farhan. Pemasyarakatan Sebagai Upaya Perlindungan terhadap Masyarakat. Jakarta: Warta Pemasyarakatan No. Tahun VI. September 2005. Jacobs. Gereja Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius _________1986. AuParokiAy dalam Rohani. Tahun xi No. Desember Kirchberger. George. Allah Menggugat. Sebuah Tinjauan Dogmatik. Maumere: Ledalero KWI. Pedoman Gereja Katolik Indonesia. Bogor: SMK Grafika Mardi Yuana Martasudjita. Emanuel. Kompendium Tentang Prodiakon. Yogyakarta. Kanisius Moeljanto. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Jakarta. Bumi Aksara Nusantoro. Fusi. Jemaat Membangun Iman. Dioma. Malang Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. Prasetiyo. Mardi F. Unsur-Unsur Hakiki dalam Pembinaan. Yogyakarta: Kanisius Prasetya L. Panduan Menjadi Katolik. Yogyakarta. Kanisius Priyatno. Dwidja, 2006. Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia. Bandung: PT. Rafika Aditama Ramelan. Rahardi. Cipinang Desa Tertinggal. Jakarta. Republika. Sudarto. Kapita Selekta Hukum Pidana. Bandung Sujatno. Adi. Sistem Pemasyarakatan Indonesia Membangun Manusia Mandiri. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM RI, 2004. Supriyadi. Agustinus, 2013. Reksa Pastoral Paroki Dalam Gereja Sebagai Sakramen. Malang: Widya Sasana Susanto Amin. Seri Pastoral No. Passtoral pendampingan dan latihan-latihan kerjasama Imam-Awam. Pusat Pastoral. Yogyakarta. Kanisius Thomas H. Green. Bimbingan Doa, hati terbuka bagi Allah. Yogyakarta: Kanisius Ujan. Bernardus Boli & Georg Kirchberger (E. Liturgi Autentik dan Relevan. Maumere. Ledalero Undang-Undang No 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA BERDASARKAN DOKUMEN MARIALIS CULTUS DAN PELAKSANAANNYA DI PAROKI MATER DEI MADIUN Don Bosco Karnan Ardijanto dan Ignatius Damar Putra STKIP Widya Yuwana Madiun Abstract Devotion to Mary is the Church's tradition lived a practiced until today. There are various kinds of devotions to Mary such as: Rosary. Hail Mary, and litany. Besides, there are also many challenges to practice the devotion such as: deification of Mary's figure and magic. In order to guide her people, the Church published Marialis Cultus encyclic. How about opinions of Marialis Cultus encyclic on devotion to Mary? How about understanding of parishioners on content of the Marialis Cultus encyclic? How about practices of devotion to Mary in Mater Dei parish? This study uses qualitative methods. The aim of the study: firstly is to know opinions of Marialis Cultus encyclic on devotion to Mary. Secondly is to grasp understanding of parishioners of Mater Dei Parish on content of the Marialis Cultus and thirdly is to explain their practices of devotion to Mary in Mater Dei Parish. The conclusion of the research shows that most of parishioners never read the Marialis Cultus, but their understanding on devotion to Mary is related to or in line with Marialis Cultus teachings. Just few of their understanding of devotion to Mary is not in line with Marialis Cultus teaching. The research reveals that most of parishioners in Mater Dei Parish devote to Mary personally and in In the communities, they devote in various manners such as: Rosary recitation, litany, praying AuangelusAy especially in Mary Month and Rosary Month. In parochial level, most of parishioners say that devotion to Mary is done well but participation of parishioners should be increased. The parishioners also consider that the parish should build a grotto of Mary to increase participation of parishioners in devotion to Mary. Keywords: Devotion. Mary. Marialis Cultus. Practices. Pendahuluan Gereja Katolik mempraktikkan devosi kepada orang-orang kudus, salah satunya adalah devosi kepada Maria. Maria menduduki tempat istimewa di antara orang-orang kudus yang lain, karena Bunda Maria begitu dekat dengan Kristus Puteranya sendiri. Selain itu karena kesucian dan keluhurannya (Handoko, 2006: . Gereja memberikan penghormatan kepada Maria dengan memberikan gelar sebagai Bunda Allah (Theotoko. Malaikat datang kepada Maria menawarkan untuk menjadi Bunda Allah. Maria menjawab iya dengan kehendak bebasnya (Handoko, 2006: . Hal tersebut dipertegas oleh Gereja dalam Lumen Gentium art 61 AuDengan demikian atas cara yang sangat istimewa ia bekerja sama dalam Karya Juru Selamat, untuk memugar kehidupan adikodrati jiwa-jiwa, dengan ketaatan, iman, harapan dan cinta kasih yang berapi-api, oleh sebab itu ia menjadi Bunda Allah dalam tata rahmat. Ay Banyak paroki yang mengabdikan diri kepada Bunda Maria dengan menggunakan nama Maria. Di keuskupan Surabaya, sebagian kecil parokinya menggunakan nama pelindung Maria yakni: Paroki St Maria Blitar. Paroki St Maria Jombang. Paroki Mater Dei Madiun. Paroki St Maria Ponorogo. Paroki St Maria Annunciata Sidoarjo. Paroki Kelahiran St Perawan Maria Kepanjen Surabaya. Paroki St Maria Tak Bercela Ngagel Surabaya. Paroki St Maria Medali Wasiat Tulungagung, dan lain sebagainya. Gereja mengeluarkan berbagai dokumen tentang Maria. Dokumen tersebut antara lain adalah Christi Matri. Signum Magnum. Marialis Cultus. Rosarium Virginis Mariae, dan Maria Bunda Penebus. Gereja mengulas secara mendalam mengenai Bunda Maria dalam aneka dokumen tersebut. Gereja bermaksud agar umat tidak masuk dalam praktik penghormatan secara ekstremisme maksimalis dan minimalis. Maksimalis berarti ada kecenderungan untuk melebih-lebihkan atau membesar-besarkan, dan menambah sebanyak mungkin devosi dan kegiatan kepada Maria. Minimalis berarti ada kecenderungan untuk mengurangi sedikit mungkin penghormatan kepada Maria atau bahkan menghapuskan ungkapan devosi kepada Maria (Handoko, 2006: . Muncul berbagai pertanyaan yakni bagaimana pandangan dari dokumen Marialis Cultus yang dikeluarkan oleh Gereja tentang devosi kepada Bunda Maria. Apakah umat mengetahui dan memahami dokumen tersebut? Apakah ajaran iman yang benar tetap terjaga di dalam pelaksanaan devosi? Dengan menggunakan gelar Maria di paroki Mater Dei, bagaimana pelaksanaan devosi kepada Maria di paroki tersebut? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang berupa kalimat verbal. Penelitian kualitaif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitaif (Saryono, 2. II. Devosi Kepada Bunda Maria Berdasarkan Dokumen Marialis Cultus Dan Pelaksanaannya Di Paroki Mater Dei Madiun 1 Devosi kepada Maria Devosi merupakan penyerahan diri, penghormatan, pengabdian. Devosi berbicara soal batin, soal hati yang mau menyerahkan diri kepada Tuhan, bersedia menghormati-Nya melalui para kudus-Nya (Wellem, 2006: . Devosi juga merupakan bentuk kebaktian, yang ciri khasnya adalah objeknya sebagian terbatas dari keseluruhan iman Kristiani, misalnya pada sengsara Yesus Kristus. Objek biasanya dilambangkan dalam suatu bentuk konkret, misalnya salib dan patung Maria. Pada umumnya dalam penghayatan perasaan memainkan peranan yang penting (Jacobs, 2002: . Maria terlibat dalam Karya Keselamatan Allah. Maria memiliki peranan yang istimewa dalam setiap Misteri Kristus di dunia (LG . Gereja juga menunjukkan pentingnya persetujuan bebas Maria dan peneguhan atas Maria sebagai Hawa yang baru, serta penegasan tentang keibuan ilahi Maria. Jadi di sini tampak bahwa peranan yang menentukan dari pihak Maria dalam sejarah keselamatan, bukan hanya melalui keibuan biologisnya, tetapi juga melalui keibuan manusiawi dan keibuan teologis (Stanislaus, 2007: . Kesucian dan keluhuran Maria merupakan anugerah dari Allah. Kesucian dan keluhuran Maria berada di atas semua malaikat dan manusia (LG . Kesucian Maria meliputi suci secara ritual . erlawanan dengan naji. , suci secara seksual . adis yang masih perawa. , dan secara moral . idak berdos. Secara teologis kesucian Maria diartikan sebagai penyerahan diri Maria kepada Allah selama hidupnya dengan menyerap tawaran Allah, kemudian masuk dalam kekudusan Allah (Groenen, 1992: . Kesucian dan keluhuran Maria bukan berasal dari prestasi Maria, melainkan karena di dalam dia Allah sudah berkarya. Rahmat Allah yang diterimanya menjadi miliknya dan membentuk kepribadiannya (Stanislaus, 2007: . sehingga sudah sewajarnya Gereja menghormati Maria. Bulan Mei secara istimewa dikhususkan untuk menghormati Maria, maka disebut sebagai bulan Maria. Peringatan bulan Maria dimulai di Spanyol pada abad ke-13. Bulan Rosario adalah bulan yang secara khusus ditetapkan untuk menghormati Maria Ratu Rosari yang diperingati pada bulan Oktober. Gereja menetapkan indulgensi yang dikaitkan dengan doa Rosario (Maryanto, 2004:. Gereja menghormati Maria secara khusus, karena Maria satusatunya ciptaan yang memiliki keintiman terdalam dengan Yesus, kesucian dan pemuliaan. Penghormatan kepada Maria ini hanya mungkin karena Maria membawa umat kepada Tuhan dan karena dalam dia Allah menggapai umat manusia, yaitu Allah yang telah menyerahkan seluruh diri dan hidupnya kepada Maria (Patrisius, 2006: . Devosi yang Sehat dan Benar kepada Maria Penghormatan kepada Maria adalah sangat khusus . , tetapi kategorinya sangat berbeda dengan penghormatan kepada Allah . Devosi kepada Maria bukan karena Maria sendiri, tetapi karena Allah telah berkarya dalam Maria. Keutamaan tetap pada iman kepada Allah. Allah yang menjadi pusat dalam devosi. Sehingga devosi akan berhasil jika sampai pada perjumpaan kepada Allah (Sabato, 2006: . Devosi harus sesuai dengan iman Gereja yang benar (Martasudjita, 1999: . Apabila praktik devosi begitu mengagungkan Maria hingga menggeser Allah Bapa. Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus maka menjadi praktik devosi yang sesat. Ada umat yang begitu serius berdoa kepada Bunda Maria sehingga sama sekali tidak menyebut nama Tuhan atau Allah menunjukkan Maria sudah setara dengan Tuhan. Sejatinya bahwa orang-orang yang berdevosi seharusnya semakin mencintai Tuhan dan Gereja-Nya (Martasudjita, 2002: . Tujuan utama devosi kepada Maria hanya mengarahkan umat kepada Karya Keselamatan Allah dalam Yesus. Devosi harus membawa manusia lebih dekat kepada Yesus (Kokoh, 2009: . Secara umum tujuan devosi adalah: Menggairahkan iman dan kasih kepada Allah. menghantar umat pada penghayatan iman yang benar akan misteri karya keselamatan Allah. mengungkapkan dan meneguhkan iman terhadap salah satu kebenaran misteri iman. memperoleh buah-buah rohani. Kemudian secara khusus penghormatan kepada Maria bertujuan memuji Maria. Maria. dan memohon pengantaraan doa Maria. Devosi Kepada Bunda Maria Berdasarkan Dokumen Marialis Cultus Konsili Vatikan II telah menciptakan dasar dalam pembaruan liturgi, termasuk juga cultus kepada Bunda Maria. Peringatanperingatan Bunda Maria disusun sedemikian rupa agar tetap berpusat pada Yesus Kristus sebagai pusat iman, sementara perayaan marialis sebagai sinar dari cultus kepada Yesus (Sabato, 2006: . Setelah Konsili Vatikan II, devosi kepada Maria mengalami pasang surut. Fenomena tersebut disebabkan karena mental profan yang dimiliki manusia zaman modern. Paus Paulus VI, saksi zaman tersebut, gelisah dan memulai mencari penyebab dan membangkitkan semangat-semangat dan motivasi dalam berdevosi kepada Maria. Langkah pertama adalah meneguhkan pembaruan devosi yang benar. Hal tersebut yang mendasari munculnya Surat Apostolik Marialis Cultus pada tanggal 2 Februari 1974. Tujuan Surat Apostolik Marialis Cultus adalah agar devosi kepada Maria dapat berkembang dengan seiring perkembangan zaman dan dilaksanakan dalam semangat Kristus. Marialis Cultus menjawab pertanyaan yang menunjukkan hubungan antara liturgi suci dan penghormatan kepada Maria, memajukan pertimbangan dan pedoman yang sesuai untuk memajukan perkembangan legitim penghormatan kepada Maria, serta memberikan saran untuk memulihkan doa rosario suci secara lebih hidup. Surat Apostolik Marialis Cultus dibagi menjadi tiga bagian yakni sebagai berikut: Devosi kepada Santa Perawan Tersuci dalam Liturgi. Pembaruan Devosi kepada Maria. dan Pengamatan terhadap dua contoh penghormatan kepada Maria AuMalaikat TuhanAy dan Doa Rosario. Bagian Pertama: Devosi Kepada Santa Perawan Tersuci Dalam Liturgi Kedudukan Santa Perawan Maria dalam ibadat kristiani, yang pertama harus diperhatikan adalah liturgi. Karena liturgi memiliki kekayaan ajaran dan daya pastoral yang bernilai sebagai contoh untuk bentuk-bentuk ibadat lainnya. Sebagai acuan untuk melihat kedudukan Maria digunakan liturgi ritus Romawi, karena sesuai dengan praktis yang dikeluarkan Konsili Vatikan II dan juga berlaku untuk penghormatan kepada Maria (MC . Pada bagian ini terdapat dua aspek yang disoroti. Perawan tersuci dalam Liturgi Romawi yang dibarui dan Santa Perawan sebagai model Gereja dalam ibadat Ilahi. Bagian Kedua: Pembaruan Devosi Kepada Maria Konsili Vatikan II menganjurkan untuk memajukan bentukbentuk kesalehan kepada Maria terutama yang dianjurkan Namun demikian pula diketahui diketahui bahwa bentuk-bentuk kesalehan dipengaruhi oleh keadaan zaman dan tempat umat beriman, sesuai dengan mentalitas bangsa dan tradisi kultural mereka, sehingga perubahan zaman setidaknya akan mempengaruhi ungkapan devosi. Karena itu devosi harus mengedepankan unsur-unsur yang abadi, dan mengangkat hasil ilmu yang dihasilkan oleh refleksi teologis dari magisterium (MC . Unsur-unsur devosi yang harus dikedepankan adalah aspek trinitaris, kristologis, eklesial, biblis, liturgis, ekumenis dan antropologis. Bagian Ketiga: Pengamatan Terhadap Dua Contoh Penghormatan Pada bagian ketiga ini Paus Paulus VI memberi pengamatan khusus terhadap dua devosi kepada Maria, yakni doa Malaikat Tuhan dan Rosario. Pada sub bagian pertama, perbincangan tentang Malaikat Tuhan lebih dimaksudkan sebagai ajakan mendesak untuk terus didoakan. Sementara itu, pada sub bagian kedua, doa rosario dilihat dalam ciri-ciri alkitabiah dan unsur-unsurnya yang konstitutif. Doa Malaikat Tuhan adalah doa yang sederhana. Meskipun demikian, doa ini memiliki sifat alkitabiah, asal-usul historis, doa mohon perdamaian, irama yang hampir liturgis, bersifat menguduskan berbagai saat hari, dan mengingatkan pada Misteri Paskah. Maka dari itu, selama berabad-abad doa ini tetap dipertahankan (MC . Menurut Paus Paulus VI doa ini juga tidak memerlukan banyak Corona atau Rosario Santa Perawan Maria dapat disebut sebagai ringkasan seluruh Injil. Doa ini bersifat doa kontemplatif pujian dan permohonan. Proses doa ini teratur dan bertingkat yang mencerminkan Sabda Allah dalam memasuki dunia manusia dan membawa dalam penebusan. Urutannya harmonis karena merenungkan peristiwa-peristiwa pokok keselamatan yang dilaksanakan oleh Kristus. Sejak pengandungan-Nya dalam diri Santa Perawan dan misteri-misteri masa kanak-kanak-Nya sampai saat puncak pengorbanan-Nya di kayu salib, penderitaan-Nya yang membawa pada kebangkitan, hingga sampai pada buahnya bagi Gereja pada hari pentakosta (MC . Doa Rosario bersifat pujian dan permohonan (MC . Pujian berpangkal pada pujian yang diberikan Elisabet "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai Ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?. anak di dalam rahimku melonjak Dan berbahagialah ia yang telah percaya" (Luk 1:42-. Pujian tersebut mengarah pada keistimewaan Maria yang terpilih menjadi Ibu Sang Putera dalam misteri Karya Keselamatan Allah (Boland, 2008: . Doa Rosario bersifat permohonan, yakni permohonan pada kebaikan Maria untuk mendoakan umat yang melaksanakan doa Rosario. Ini merupakan bentuk penghormatan dan menjunjung tinggi kemurahan hati Allah yang tercermin pada Maria (MC . Nilai Teologis dan Pastoral Penghormatan kepada Maria Pada bagian penutup. Paus Paulus VI berusaha untuk menyimpulkan dan menggaris bawahi nilai teologi dalam penghormatan kepada Maria, serta meringkas makna pastoral untuk mengingatkan pembaharuan ibadat Kristian dalam semangat Konsili Vatikan II (MC . Secara teologis devosi ini menghantar orang pada misteri keselamatan di mana kehadiran Maria sebagai Ibu ditempatkan dalam kerangka teologis penyelamatan Allah yang terungkap dalam peristiwa konkrit penyelamatan oleh Yesus Kristus Putera-Nya. Ia adalah ibu Tuhan dan dirinya menjadi kesaksian hidup yang menghadirkan Allah. Ia bahkan menjadi kenisah Roh Kudus, ibu perantara. Kepadanya Allah melakukan hal-hal besar dan memberikannya pada semua orang (MC . Dalam kaitan dengan Gereja dapat dikatakan bahwa keberadaan Maria yang dibawa pastoral yang besar dan merupakan kekuatan yang dapat membarui kehidupan kristiani. Maria sebagai ibu membimbing umat Allah untuk berpaling penuh kepercayaan kepadanya yang selalu siap mendengarkan dengan kasih keibuan dan bantuannya yang efektif. Umat memiliki kesempatan untuk tumbuh dalam rahmat ilahi. Karena di dalam Maria terdapat rahmat ilahi, yakni persahabatan dengan Allah, persekutuan dengan-Nya, kediaman Roh Kudus. Maka Gereja mengakui dalam penghormatan kepada Maria menjadi bantuan dahsyat bagi manusia di jalan menuju Juga sebagai jaminan dan kepastian bahwa dalam diri Maria, rencana Allah dalam Kristus untuk keselamatan manusia seutuhnya telah tercapai (MC . IV. Hasil Penelitian Tentang Devosi Kepada Bunda Maria Berdasarkan Dokumen Marialis Cultus Dan Pelaksanaannya Di Paroki Mater Dei Madiun Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang berupa kalimat verbal. Penelitian kualitaif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitaif (Saryono, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam 4 tahap yaitu persiapan, penelitian, analisis data, dan interpretasi data. Peneliti memilih tempat penelitian di wilayah Paroki Mater Dei Madiun. Peneliti mengambil tempat tersebut karena Paroki tersebut menggunakan gelar Maria sebagai nama pelindung, juga praktis karena jarak yang dekat dengan tempat tinggal peneliti. Terkait dengan waktu penelitian, penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2014. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan metode Wawancara yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif dilakukan untuk memperoleh informasi dari responden secara mendalam. Maksud dilakukan wawancara ini ialah untuk mengkonstruksikan pikiran atau pandangan seseorang mengenai kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, dan kepedulian terhadap apa yang sedang dibicarakan dan dikerjakan (Moleong, 2. Peneliti menggunakan analisis data kualitatif dengan model induktif. Data demografi hasil wawancara dengan 10 . responden di Paroki Mater Dei Madiun, menyatakan 5 . responden dan berjenis kelamin laki-laki dan 5 . responden berjenis kelamin perempuan. Data tentang usia, 1 . responden berusia 70 tahun ke atas, 4 . responden berusia 50-70 tahun, 3 . responden berusia 30-50 tahun, 2 . responden berusia 30 tahun ke bawah. Data tentang lingkungan, menyatakan terdapat sembilan lingkungan yakni. St. Sebastiano. Giles Asisi. St. Petrus. St. Albertus. St. Maria Goreti. St. Yusuf. Salib Suci. St. Gregorius, dan St. Monica. Data tentang peran responden dalam paroki menunjukkan 2 . responden sebagai anggota DPP, 2 . responden sebagai ketua lingkungan, 2 . responden sebagai anggota Legio Maria, 4 . responden sebagai umat biasa. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua responden pernah mendengar dokumen yang dikeluarkan Gereja. Beberapa responden pernah mendengar satu dokumen dan beberapa mendengar lebih dari satu dokumen. Berdasarkan hasil data lapangan dapat disimpulkan bahwa dokumen Marialis Cultus masih asing di telinga sebagian besar responden. 30% responden pernah mendengar dokumen Marialis Cultus. Sebagian besar responden belum pernah mendengar tetapi beberapa responden mengerti bahwa dokumen Marialis Cultus berisikan tentang Maria, serta memiliki pengetahuan tentang Maria. Penelitian ini menunjukkan bahwa tiga responden yang pernah mendengar dokumen Marialis Cultus belum pernah membacanya. Oleh karena itu dapat dimengerti apabila mereka tidak tahu tentang isi dan manfaat dari dokumen Marialis Cultus. Berdasarkan jawaban dari responden dapat disimpulkan bahwa 50% responden memahami arti devosi dengan baik, 40% responden mengerti devosi sebagai doa, dan 10% responden kurang memahami kedudukan Maria. Beberapa jawaban responden hampir sama dengan pengertian devosi. 90% responden memiliki pemahaman yang baik dalam membedakan devosi dengan menyembah, dan 10% responden memiliki pemahaman bahwa devosi hampir sama dengan 60% responden mengerti bahwa devosi tidak hanya kepada Maria dan 40% responden hanya mengetahui jenis devosi kepada Maria. Beberapa jawaban responden menunjukkan bahwa devosi tidak hanya ditujukan kepada Maria, tetapi juga kepada hati Kudus Yesus dan kepada santo santa. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua responden berdevosi kepada Maria. Berdevosi kepada Maria merupakan tradisi suci yang terus dipertahankan dan dikembangkan oleh Gereja. Secara kesulurahan jawaban mengenai jenis devosi umat kepada Maria, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden sudah melaksanakan beberapa bentuk devosi kepada Maria, hanya saja peringatan Maria dalam Kalender Liturgi belum dilaksanakan secara khusus. Untuk pendalaman salah satu devosi kepada Maria yang sudah dilakukan responden, sebagian besar mengungkapkan bahwa di dalam doa Rosario memiliki keterkaitan dengan Karya Keselamatan Allah. Semua responden sudah melaksanakan devosi pada bulan khusus sebagai penghormatan kepada Maria yang ditetapkan oleh Gereja yakni pada bulan Mei sebagai bulan Maria dan bulan Oktober sebagi bulan Rosario. Sebagian besar responden sudah melaksanakan devosi kepada Maria setiap hari. Semua responden melaksanakan devosi kepada Maria tidak hanya secara pribadi tetapi juga secara Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki kesadaran akan pentingnya persekutuan umat beriman dan orang kudus dalam kesatuan Gereja. Secara keseluruhan jawaban responden dapat disimpulkan bahwa sebagian responden memiliki kepercayaan Maria menghantarkan doa kepada Yesus. Beberapa pandangan responden sesuai dengan isi dari beberapa dokumen Gereja tentang Maria yang salah satunya adalah Marialis Cultus. Akan tetapi ada juga yang menunjukkan pada sikap magis meskipun tidak secara frontal. Sebagian responden mengaku mendapat ketenangan dan penguasaan diri yakni salah satu buah rohani yang didapat jika berdevosi kepada Maria. Sebagian besar responden mengerti bahwa Maria memiliki keistimewaan dan hal tersebut juga menjadi alasan Gereja menghormati Maria. Sebagian kecil responden merasa bahwa berdevosi kepada Maria merupakan kewajiban umat beriman Katolik. Penutup Secara keseluruhan, berdasarkan jawaban responden tersebut dapat disimpulkan bahwa sedikit responden yang memahami bahwa batas ungkapan kepada Maria adalah penghormatan. Sebagian besar responden berdevosi kepada Maria dengan tujuan menumbuhkan iman kepada Allah. Sebagian responden bertujuan untuk meneladani Maria dan hal ini sesuai dengan harapan Gereja yang seperti terdapat dalam dokumen Marialis Cultus. Sebagian responden berdevosi kepada Maria dengan tujuan agar ujub dapat terkabul. Secara keseluruhan dari jawaban reponden dapat disimpulkan mengenai pelaksanaan devosi di tingkat lingkungan bahwa pelaksanaan di lingkungan sebagian sudah bagus, dan beberapa lingkungan belum maksimal. Kemudian untuk di tingkat paroki, lingkungan bisa juga menjadi cerminan pelaksanaan di tingkat paroki tetapi untuk pelaksanaan di gereja paroki sudah cukup, hanya saja sebagian besar responden menyatakan bahwa tempat devosi kurang khusus, dan keiuktsertaan umat di gereja sedikit. Ungkapan beberapa responden menunjukkan bahwa Paroki Mater Dei melaksanakan devosi minimal seminggu sekali pada hari Rabu, juga perayaan Maria Bunda Allah sebagai pelindungnya menunjukkan pada permenungan kepada Bunda Maria yang diperpanjang dalam masa Natal, yaitu pada tanggal 1 Januari sebagai Hari Raya Maria Bunda Allah. Selain untuk mengenangkan peran Maria dalam Karya Keselamatan, juga memberi kesempatan untuk mengenangkan Yesus Kristus yang baru lahir (Da Cunha, 1. Secara garis besar dokumen Marialis Cultus terdapat tiga pokok bahasan yakni devosi kepada Maria dalam liturgi, pembaruan devosi kepada Maria, dan pengamatan terhadap dua contoh penghormatan kepada Maria AuMalaikat TuhanAy dan Doa Rosario. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada responden yang pernah membaca dokumen Marialis Cultus, hanya sebagian kecil yang pernah mendengarnya. Berdasarkan pemahaman umat mengenai devosi kepada Maria, sebagian gagasan umat sesuai atau terdapat dalam dokumen Marialis Cultus salah satunya adalah doa Rosario dilaksanakan bersama keluarga. Sebagian juga terdapat beberapa ketidaksesuaian mengenai devosi kepada Maria salah satunya sebagian besar umat tidak mengetahui bahwa doa Malaikat Tuhan adalah salah satu bentuk devosi kepada Maria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden berdevosi kepada Maria secara pribadi maupun kelompok. Mengenai frekuensi berdevosi, sebagian besar responden dalam hidup doanya banyak yang dilakukan dengan berdevosi kepada Maria. Untuk pelaksanaan devosi di Paroki Mater Dei di tingkat lingkungan sudah berjalan dengan baik yakni menjalankan anjuran Gereja untuk giat berdevosi pada bulan Maria dan Rosario. Sebagian lingkungan umat sudah aktif dalam berdevosi. Untuk di tingkat paroki, semua responden mengakui bahwa kegiatan devosi sudah berjalan, sebagian responden mengakui untuk partisipasi umat dalam kegiatan devosi tersebut Sebagian besar responden berpendapat bahwa tempat devosi berpengaruh pada kegiatan devosi di gereja. DAFTAR PUSTAKA