Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 7, Juli 2025 ISSN: 27342488 KEBIJAKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK GENERASI BERINTEGRITAS Clarista Anindiya1, Maura Karisma Tiar2, Marhamah Salsabila3, Siti Zahrotus Sania4, Muhammad Akbar5, Suhardi6 Email: claristaanindiya@gmail.com1, maurakarism@gmail.com2, salsabilamarhamah1206@gmail.com3, zahrotus.sania@gmail.com4, mhmdakbar1271@gmail.com5, suhardi@uin.jkt.ac.id6 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran pendidikan karakter dalam membentuk generasi yang berintegritas di tengah tantangan . Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penulis menggali praktik pendidikan karakter yang diimplementasikan di lingkungan sekolah. Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur, dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, serta divalidasi melalui teknik triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin merupakan fondasi utama dalam pembentukan integritas peserta didik. Implementasi pendidikan karakter yang efektif memerlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Selain itu, pendidikan karakter terbukti berdampak signifikan terhadap perilaku siswa dalam kehidupan akademik maupun sosial. Namun, tantangan dalam pelaksanaannya masih ditemui, seperti keterbatasan waktu, kompetensi guru, dan lemahnya budaya karakter di beberapa sekolah. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam kurikulum dan didukung oleh kebijakan serta budaya sekolah yang konsisten agar mampu mencetak generasi berkarakter unggul dan berintergritas tinggi. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Integritas, Kejujuran, Tanggung Jawab. ABSTRACT This study aims to thoroughly examine the role of character education in shaping a generation of integrity amid contemporary challenges. Through a qualitative approach employing a case study method, the author explores character education practices implemented within the school environment. Data were collected from various literature sources, analyzed using the Miles and Huberman model, and validated through triangulation techniques and member checking. The results indicate that values such as honesty, responsibility, and discipline form the primary foundation for cultivating students’ integrity. Effective implementation of character education requires synergy among schools, families, and communities. Additionally, character education has been shown to significantly influence students’ behavior in both academic and social contexts. However, implementation challenges persist, including time constraints, teacher competence, and a weak culture of character in some schools. Therefore, character education must be thoroughly integrated into the curriculum and supported by consistent school policies and culture to successfully produce a generation that is both high-performing and possesses strong integrity. Keywords: Character Education, Integrity, Honesty, Responsibility, Discipline. 1 PENDAHULUAN Banyak fakta menunjukkan bahwa krisis karakter telah menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk di antara mereka yang terdidik. Fenomena meningkatnya kekerasan di sekolah, kasus bullying, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya menunjukkan bahwa aspek moral masih belum menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan nasional.(Kemendikbud 2017) Hal ini diperparah dengan maraknya kasus korupsi yang dilakukan oleh generasi muda, termasuk mahasiswa dan sarjana, yang seharusnya menjadi teladan integritas. Salah satu tujuan utama pendidikan karakter adalah membentuk manusia yang berintegritas. Integritas adalah kesatuan antara kata dan perbuatan, antara nilai yang diyakini dengan perilaku nyata. Individu yang berintegritas memiliki komitmen tinggi terhadap nilainilai kebenaran, tidak mudah tergoda untuk melakukan kecurangan, serta mampu menolak berbagai bentuk penyimpangan, bahkan dalam situasi yang menguntungkan dirinya sendiri(Bier and Ph 2005). Dengan demikian, pendidikan karakter menjadi instrumen penting dalam mencegah terjadinya praktik koruptif, pencurian, dan perilaku menyimpang lainnya. Dalam implementasinya, pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan secara instan. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah sebagai lembaga formal memiliki tanggung jawab besar dalam menempatkan nilai-nilai karakter melalui kurikulum, metode pembelajaran, keteladanan guru, dan budaya sekolah yang kondusif. Sedangkan keluarga berperan penting dalam menanamkan pendidikan karakter awal pada anak, sehingga karakter anak akan lebih dulu terbentuk dengan didikan yang ia dapatkan dari orang tuanya. Di Indonesia, program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) telah digagas pemerintah sebagai upaya sistematis untuk membumikan nilai-nilai karakter di lingkungan pendidikan. Program ini menekankan pada lima nilai utama, yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas, yang bersumber dari Pancasila (Kemendikbud 2017). Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi pedoman etika, tetapi juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah gempuran budaya asing. Meski demikian, tantangan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di lapangan masih cukup kompleks. Banyak guru yang belum memiliki kompetensi memadai dalam merancang pembelajaran berbasis karakter, ditambah lagi dengan beban administrasi yang tinggi sehingga perhatian terhadap pembentukan karakter menjadi terabaikan (Suyanto 2012). Di sisi lain, tidak semua sekolah memiliki budaya positif yang mendukung penguatan karakter siswa. Dalam konteks dunia kerja, integritas menjadi salah satu kompetensi utama yang dicari oleh banyak perusahaan. Banyak perusahaan lebih memilih pekerja yang jujur dan bertanggung jawab dibandingkan pekerja yang hanya unggul secara akademik namun tidak memiliki etika kerja. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter memiliki implikasi nyata terhadap kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat (Satria. D 2021). Oleh karena itu, urgensi pendidikan karakter sebagai fondasi pembentukan generasi berintegritas tidak dapat diabaikan. Generasi masa depan yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual tanpa didukung oleh integritas moral sangat rentan terhadap penyimpangan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengancam keberlanjutan bangsa dan negara. Pendidikan karakter harus dipahami sebagai tanggung jawab kolektif, bukan hanya tanggung jawab guru atau sekolah semata, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan negara. 2 ME TODE PE NE LITIA N Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi pustaka untuk menggali secara mendalam praktik pendidikan karakter di sekolah sebagai fondasi pembentukan generasi berintegritas. Studi pustaka dipilih karena memungkinkan penulis memperoleh pemahaman yang utuh dan kontekstual terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Moleong (2019), pendekatan kualitatif bertujuan memahami makna tindakan dan interaksi sosial berdasarkan perspektif subjek. Teknik studi pustaka juga mendukung eksplorasi terhadap berbagai aspek pendidikan karakter yang diterapkan oleh sekolah dalam lingkungan nyata (Nugroho, 2021). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji secara deskriptif bagaimana nilai- nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan diinternalisasikan melalui program sekolah, pembelajaran, dan budaya pendidikan. Data dikumpulkan menggunakan buku, jurnal, dan sumber-sumber lainnya yang relevan dan kredibel, baik dari publikasi nasional maupun hasil-hasil penelitian sebelumnya. Teknik analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Ketepatan teknik ini dijelaskan pula oleh Fitri (2017) dalam jurnal Uji keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teknik untuk meningkatkan kredibilitas serta validitas hasil temuan. Selain itu, dilakukan member check kepada informan agar data yang diperoleh sesuai dengan realitas dan persepsi mereka. Penulis juga menjaga aspek transferabilitas dan dependabilitas dengan menyusun laporan penelitian secara sistematis dan rinci. Dengan pendekatan studi kasus ini, diharapkan penelitian mampu memberikan kontribusi konseptual dan praktis bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Pendidikan Karakter Dalam Konteks Pembentukan Integritas Karakter peserta didik harus dibangun sejak dini sebagai bekal bagi generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa dan negara. Pendidikan karakter yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran adalah cara mengenalkan nilai-nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik dalam maupun di luar kelas, melalui semua mata pelajaran. Menurut Kusuma yang dikutip oleh Sauda (2023), pendidikan karakter merupakan kegiatan manusia yang mencakup tindakan yang berisi pendidikan untuk generasi berikutnya. Pendidikan karakter adalah proses menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan budaya yang bertujuan membentuk kepribadian peserta didik agar menjadi individu yang bermoral, bertanggung jawab, dan mampu hidup sebagai warga negara yang baik. Proses ini bukan hanya pelengkap dari aspek kognitif, tetapi menjadi dasar utama dalam pembentukan pribadi yang utuh, termasuk dalam hal integritas. Thomas Lickona (1991) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar untuk membantu seseorang memahami, merasakan, dan bertindak sesuai nilai-nilai etika yang baik. Nilai-nilai tersebut mencakup kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, kepedulian, dan keadilan yang seluruhnya membentuk dasar dari integritas pribadi. Dalam konteks pembentukan generasi berintegritas, pendidikan karakter harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang sistematis dan terstruktur. Integritas tidak hanya berarti berkata jujur, melainkan juga berani bertindak benar walau dalam situasi sulit, serta menjaga konsistensi antara nilai, perkataan, dan tindakan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, 2017) melalui penguatan pendidikan karakter (PPK) menegaskan bahwa pembentukan integritas adalah salah satu dari lima nilai utama karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik, bersama dengan religiusitas, nasionalisme, kemandirian, dan gotong royong. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar pelatihan perilaku, tetapi transformasi nilai yang menjadi dasar tindakan. 3 Lebih lanjut, Tilaar (2002) menyatakan bahwa pendidikan karakter harus menjadi inti dari sistem pendidikan nasional agar mampu menciptakan generasi yang memiliki kesadaran moral tinggi dan tangguh dalam menghadapi tantangan global. Tanpa karakter yang kuat, generasi muda rentan terhadap penyimpangan moral dan krisis identitas, bahkan di tengah pencapaian akademik yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan karakter memegang peran strategis dalam membangun integritas sebagai kualitas pribadi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun profesional. Ketika karakter telah terinternalisasi kuat, integritas akan tumbuh secara alami sebagai bagian dari identitas peserta didik. Nilai-Nilai Karakter Yang Berkontribusi Terhadap Integritas Karakter yang mencakup serangkaian perilaku, sikap, dan nilai-nilai yang diinternalisasi, membentuk fondasi bagi individu untuk berinteraksi dengan orang lain, membuat keputusan moral, dan menghadapi tantangan hidup. Pembentukan karakter yang kuat memungkinkan individu untuk mengembangkan empati, integritas, ketahanan, dan tanggung jawab sosial. Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, kemampuan ini tidak hanya menentukan kualitas kehidupan individu tetapi juga kesehatan dan kestabilan masyarakat secara keseluruhan. Termasuk perubahan dan masalah-masalah moral yang terjadi di Indonesia seperti ketamakan, ketidakjujuran, kekerasan, pengabaian diri, penyalahgunaan narkoba dan tindakan bunuh diri. Hal ini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan yang menekankan penguatan pendidikan karakter sejak usia dini. Mengingat tujuan dari sistem pendidikan nasional adalah menyiapkan generasi muda yang beriman, bertaqwa, cerdas dan berkarakter guna keberlangsungan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa (Kurniawan & Kusumawardana, 2020). Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Adapun nilai yang layak diajarkan kepada anak anak, dirangkum Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang digagas oleh Ratna Megawangi menjadi sembilan pilar karakter (Arismantono, 2008: 29) yaitu; 1) Cinta tuhan dan Segenap Ciptaan-Nya (love Allah, trust, reverence, loyalty) 2) Kemandirian dan Tanggung Jawab (responsibility, excellence, self reliance, Discipline, orderliness) 3) Kejujuran dan Amanah, Bijaksana (trustworthiness,reliability,honesty 4) Hormat dan Santun (respect, courtesy, obedience) 5) Dermawan, suka menolong dan Gotong Royong (love, compassion, caring, empathy, generousity,moderation, cooperation) 6) Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja keras (confidence, assertiveness, creativity, determination,and enthusiasm) 7) Kepemimpinan dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership) 8) Baik dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humality, modesty) 9) Toleransi dan Kedamaian dan kesatuan (tolerance, flexibility, peacefulness) Sekolah merupakan lembaga yang dipandang sebagai wadah mempersiapkan peserta didik secara baik sebagai agen moral dan intelegensi (Wuryandani, Maftuh, Sapriya, & Budimansyah, 2014). Nilai karakter tersebut seperti mandiri, religius, gotong-royong, integritas, dan nasionalis. Kelima nilai utama tersebut merupakan nilai fundamental dalam program penguatan pendidikan karakter (PPK). Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai upaya dalam menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. PPK menjadi butir Nawacita yang tertera pada Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) (PPK, 2017). 4 Dengan kata lain, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menumbukembangkan nilainilai karakter tersebut melalui olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga serta kerja sama dengan semua pihak terkait. Salah satu nilai karakter yang perlu dikembangkan yaitu karakter integritas. Nilai karakter integritas menjadi hal yang penting untuk dimiliki oleh seseorang manusia. Karena karakter integritas merupakan nilai utama yang mendasari cara berpikir, bersikap dan berperilaku amanah pada nilai sosial dan moral lainnya (Anshori, 2017). Adapun nilai-nilai karakter yang berkontribusi terhadap integritas diantaranya: a. Kejujuran Nilai utama integritas adalah kejujuran. Ini ditunjukkan dalam pendidikan karakter dengan cara tidak berbohong, tidak mencontek, dan mampu mengakui kesalahan. Kejujuran membangun kepercayaan dan menjadi pijakan utama untuk membangun sikap moral yang baik. Selain itu, kejujuran juga berfungsi sebagai parameter untuk menilai keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Dalam Modul Penguatan Pendidikan Karakter (Kemendikbud, 2018), kejujuran disebut sebagai nilai utama yang harus diajarkan melalui kegiatan keseharian seperti pelaporan tugas, evaluasi diri, dan interaksi sosial antar siswa. b. Tanggung Jawab Tanggung jawab adalah kesadaran untuk memenuhi kewajiban dan menerima konsekuensi atas tindakan Anda. Nilai-nilai ini sangat penting dalam kehidupan siswa, baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai individu. Siswa yang bertanggung jawab tidak hanya menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi mereka juga berkomitmen terhadap proses pembelajaran dan lingkungan sekolah. Menurut Wahab dan Sapriya (2011), tanggung jawab merupakan bagian penting dalam membangun kewarganegaraan aktif yang bertanggung jawab terhadap diri, keluarga, dan bangsa. c. Disiplin Disiplin adalah kepatuhan terhadap aturan dan kedisiplinan diri dalam menjalankan kewajiban. Dalam pendidikan karakter, disiplin menjadi indikator kedewasaan dan pengendalian diri. Disiplin juga erat terkait dengan keinginan intrinsik untuk melakukan sesuatu secara teratur. Zuchdi (2009) menegaskan bahwa disiplin harus ditanamkan melalui pembiasaan yang berkelanjutan dalam rutinitas sekolah seperti datang tepat waktu, berpakaian rapi, dan menyelesaikan tugas sekolah tanpa paksaan. Nilai-nilai karakter tersebut harus diintegrasikan dalam seluruh aspek kegiatan sekolah: mulai dari pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga budaya sekolah. Pembentukan integritas tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi melalui proses panjang yang mencakup penanaman nilai (internalisasi), pemberian contoh (keteladanan), serta pemberian ruang untuk praktik nilai. Menurut Megawangi (2003), strategi paling efektif dalam pendidikan karakter adalah keteladanan. Anak akan lebih mudah meniru daripada hanya mendengarkan nasihat moral. Salah satu cara strategis untuk membangun generasi berintegritas adalah dengan memberikan pendidikan karakter yang menekankan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin. Penerapan nilai-nilai ini harus dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan semua pihak, termasuk orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat. Jadi, integritas adalah sifat yang nyata dalam diri peserta didik, bukan sekadar slogan. Dampak Pendidikan Karakter Terhadap Perilaku Dan Integritas Siswa Pendidikan karakter telah menjadi pilar penting dalam sistem pendidikan modern yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral dan etika. Dalam konteks ini, pendidikan karakter berfungsi sebagai proses pembudayaan nilai yang sistematis, bertujuan untuk 5 membentuk peserta didik menjadi individu yang bermoral, beretika, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi. Peran pendidikan karakter sangat signifikan dalam membentuk perilaku dan integritas siswa, khususnya dalam menanggapi berbagai tantangan sosial dan moral di era modern. Secara teoritis, pendidikan karakter dipahami sebagai usaha sadar dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik. Menurut (Lickona 1992), pendidikan karakter melibatkan tiga aspek utama, yaitu pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Ketiga aspek ini saling berkaitan dan harus dikembangkan secara terpadu agar menghasilkan individu yang tidak hanya mengetahui nilai baik, tetapi juga memiliki dorongan emosional dan kemampuan bertindak berdasarkan nilai tersebut. Oleh karena itu, ketika pendidikan karakter diterapkan secara efektif, dampaknya akan terlihat pada perubahan perilaku siswa yang lebih positif, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sosial secara umum. a. Pengaruh Pendidikan Karakter terhadap Perilaku Siswa Pendidikan karakter mampu mempengaruhi perilaku siswa dalam berbagai bentuk. Siswa yang mengikuti program pendidikan karakter dengan baik cenderung menunjukkan perilaku yang sopan, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Dalam penelitian (Satria. D 2021), ditemukan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam sikap toleransi dan empati siswa setelah mengikuti program pembelajaran berbasis karakter. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter mampu meredam potensi perilaku negatif, seperti bullying, intoleransi, serta perilaku menyimpang lainnya. Sekolah-sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum dan aktivitas sehari-hari dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Siswa tidak hanya belajar tentang matematika atau sains, tetapi juga tentang nilai-nilai seperti kerja sama, kejujuran, dan tanggung jawab. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting sebagai fasilitator sekaligus teladan dalam membentuk perilaku siswa. Ketika guru menunjukkan keteladanan dalam hal disiplin, keadilan, dan kepedulian, maka siswa akan lebih mudah meniru dan menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupannya (Tilaar 2002). Selain itu, pendidikan karakter memberikan ruang bagi siswa untuk merefleksikan tindakan dan keputusan mereka. Melalui diskusi nilai, studi kasus, atau kegiatan kolaboratif, siswa diajak berpikir kritis tentang makna dari perilaku baik dan buruk. Proses ini penting dalam menumbuhkan kesadaran moral yang mendalam. b. Dampak Pendidikan Karakter terhadap Integritas Siswa Integritas merupakan kualitas karakter yang sangat penting dan menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan karakter. Individu yang berintegritas akan menunjukkan keselarasan antara ucapan dan tindakan, memegang teguh prinsip moral, serta menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Dalam lingkungan sekolah, integritas siswa tercermin dari sikap jujur saat mengerjakan tugas, tidak menyontek saat ujian, berani mengakui kesalahan, dan mampu menghargai hak orang lain. Pendidikan karakter yang efektif secara langsung berdampak pada pembentukan integritas siswa. Proses internalisasi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian moral akan membentuk fondasi kuat dalam diri siswa untuk bersikap konsisten terhadap prinsip yang diyakininya. Narvaez dan Lapsey (Narvaez and Lapsley 2009) menjelaskan bahwa pengembangan identitas moral sejak dini melalui pendidikan karakter akan membantu siswa membentuk komitmen pribadi terhadap nilai-nilai integritas, yang kemudian terwujud dalam perilaku nyata. Menurut hasil penelitian Berkowietz dan Bier (Bier and Ph 2005)menunjukkan bahwa program pendidikan karakter yang dijalankan secara berkelanjutan dan terstruktur memiliki dampak positif terhadap peningkatan integritas siswa. Mereka menemukan 6 bahwa siswa yang belajar dalam lingkungan yang mendukung nilai-nilai karakter cenderung lebih tahan terhadap tekanan sosial untuk berbuat curang dan lebih siap untuk membuat keputusan etis dalam situasi yang kompleks. Hal ini menegaskan pentingnya kontinuitas dan konsistensi dalam pelaksanaan pendidikan karakter. c. Konteks Sosial dan Budaya dalam Implementasi Pendidikan Karakter Dampak pendidikan karakter terhadap perilaku dan integritas siswa juga sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya tempat siswa berada. Nilai-nilai yang diajarkan dalam pendidikan karakter harus relevan dengan norma-norma sosial dan budaya setempat agar lebih mudah diinternalisasi. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan karakter harus bersifat kontekstual dan adaptif terhadap dinamika lingkungan sekitar (Zubaedi 2011). Sebagai contoh, di lingkungan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, pendidikan karakter dapat difokuskan pada penanaman nilai kebersamaan, empati, dan kerja sama. Siswa yang terlibat dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti, bakti sosial, atau kegiatan keagamaan cenderung memiliki empati dan solidaritas sosial yang lebih tinggi. Aktivitas ini sekaligus menjadi wahana praktik nyata dari nilai-nilai karakter yang dipelajari di kelas. Selain itu, peran orang tua dan masyarakat juga sangat penting dalam memperkuat pendidikan karakter yang telah ditanamkan di sekolah. Keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi acuan utama bagi siswa dalam membentuk perilaku dan integritas. Ketika nilai-nilai karakter didukung oleh seluruh ekosistem pendidikan, maka efek positifnya akan lebih kuat dan berkelanjutan (Kemendikbud 2017). Faktor Penguatan Dan Penghambat Dalaam Pembentukan Generasi Berintegritas Kendala dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah sering kali berkisar pada keterbatasan waktu dan sumber daya. Salah satu tantangan utama adalah kurikulum yang sudah padat, yang membuat sulit bagi guru untuk mengalokasikan waktu yang cukup untuk pendidikan karakter. Kurikulum dan kebijakan pendidikan yang berlaku belum sepenuhnya mendukung atau mengakomodasi pelaksanaan pendidikan karakter secara efektif. Sering kali, pendidikan karakter dipandang sebagai tambahan, bukan sebagai fokus utama dalam proses pembelajaran (Fikri, Panji, and Fitriyah 2023). Pada tahun 2010 kebijakan pendidikan karakter tersirat dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional disebutkan bahwa substansi inti program aksi bidang pendidikan antara lain adalah penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan (teaching to the test), namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial, watak , budi pekerti (Fikri et al. 2023) Pendidikan karakter perlu diintegrasikan sebagai elemen sentral dalam kurikulum, bukan sekadar tambahan. dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter di setiap mata pelajaran, siswa akan dapat belajar sekaligus membangun karakter positif. Selain itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan khusus, seperti proyek mingguan, yang menekankan pada penguatan karakter sehingga menjadi bagian yang alami dari pembelajaran sehari-hari (Fikri et al. 2023) Studi yang dilakukan oleh Hasanah (2022) terhadap implementasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di 45 sekolah di Indonesia menemukan bahwa sebanyak 78% sekolah telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Namun, hanya 54% di antaranya yang konsisten menerapkannya dalam praktik pembelajaran di kelas. Kesenjangan ini menunjukkan adanya tantangan dalam mengoperasionalkan konsep pendidikan karakter ke dalam praktik nyata di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah memiliki peranan penting dalam pembentukan perilaku sosial siswa, sehingga dari tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara maksimal. Lingkungan sekolah sendiri mempunyai faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan karakter siswa, diantaranya yang perlu diperhatikan adalah kematangan siswa, keadaan fisik siswa, kehidupan sekolah, guru, staf, 7 kurikulum dan metode yang digunakan dalam mengajar.(Hanif Muhammad 2019) Di lingkungan sekolah seorang guru memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter serta mengembangkan potensi peserta didik. Kehadiran seorang guru juga tidak tergantikan oleh unsur yang lainnya (Laeli 2023). Menurut (Wibowo 2017) bahwa keberhasilan atau kegagalan dari pendidikan karakter berada di tangan seorang guru. Keberhasilan dan ketidak berhasilan dalam pembentukan karakter peserta didik sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Jika keberadaan lingkungan sekitar mampu mencerminkan positif bagi proses pembentukan karakter peserta didik, maka ia mampu memberikan kontribusi yang baik bagi pembentukan karakter. Sebaliknya jika kontribusi lingkungan yang kurang baik, tidak relevan dengan proses pembentukan karakter peserat didik, maka jelas akan menghambat proses pembentukan karakter peserta didik. Hal ini menunjukan bahwa penguatan pendiidkan karakter tidak hanya bersumber dari pendidikan formal namun penguatan serta dukungan luar sangat berpengaharuh bagi hasil implementasi program pendidikan karakter. Lingkungan masyarakat juga berpotensi untuk menjadi ancaman bagi pendidkian karakter . Penguatan pendidikan karakter tidak dapat dilaksanakan secara optimal hanya oleh sekolah semata, melainkan memerlukan sinergi yang erat antara tiga pilar utama pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat (Muhammad Hilmi 2018). Sekolah berfungsi sebagai institusi formal yang menanamkan nilai-nilai karakter melalui proses pembelajaran, kurikulum, dan keteladanan guru. Namun, proses ini akan menjadi kurang efektif jika tidak diperkuat oleh peran keluarga sebagai pendidik utama di rumah, dan masyarakat sebagai lingkungan sosial tempat anak mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Dalam konteks kebijakan nasional, pemerintah Indonesia telah menginisiasi Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017, yang secara eksplisit menekankan pentingnya kolaborasi antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter peserta didik. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan karakter sangat ditentukan oleh sinergi antar elemen tersebut serta keberpihakan kebijakan pendidikan yang mendorong kolaborasi nyata di lapangan (Sari, Maulida, and Situmorang 2025) kebijakan pendidikan karakter dalam membentuk generasi berintegritas Kebijakan pendidikan karakter di Indonesia telah menjadi landasan penting dalam membentuk generasi berintegritas, terutama sejak dicanangkannya Grand Design Pendidikan Karakter oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010. Dokumen ini menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dilakukan melalui tiga jalur utama: pembelajaran terintegrasi di kelas, pengembangan budaya sekolah, dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Nilai-nilai utama yang ditekankan mencakup religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi kebijakan nasional yang menyeluruh dalam menjawab tantangan krisis moral dan sosial generasi muda. Dalam konteks implementasi di sekolah dasar, penguatan pendidikan karakter (PPK) yang terintegrasi dalam kurikulum 2013 terbukti mampu menumbuhkan nilai-nilai integritas seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin. Hal ini dibuktikan oleh berbagai hasil penelitian, termasuk jurnal nasional yang menelaah pelaksanaan PPK melalui pembelajaran tematik. Dalam pelaksanaannya, guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral melalui metode pembelajaran aktif, refleksi, dan keteladanan. Pendidikan karakter juga sejalan dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Kebijakan ini menjadi dasar hukum dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam 8 moralitas dan integritas. Pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari misi nasional untuk membangun generasi yang tangguh menghadapi tantangan global, namun tetap berakar pada nilai-nilai bangsa. Kedua sumber di atas memperkuat bahwa pendidikan karakter bukan hanya sekadar program tambahan di sekolah, melainkan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Kebijakan yang sistematis, berbasis nilai, dan terintegrasi dalam pembelajaran akan menciptakan generasi muda yang memiliki prinsip moral kuat, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi kejujuran. Generasi inilah yang dibutuhkan untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik dan berintegritas tinggi di tengah tantangan zaman yang kompleks 1. Implementasi kebijakan karakter dalam membentuk generasi berintegritas Implementasi kebijakan pendidikan karakter merupakan strategi penting dalam membentuk generasi yang memiliki integritas tinggi. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penanaman nilai-nilai moral dan etika, tetapi juga membentuk kebiasaan positif yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan kebijakan pendidikan karakter dengan mengintegrasikan nilai-nilai seperti religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas dalam kurikulum dan kegiatan sekolah 3. Implementasi ini dapat dilihat melalui penguatan budaya sekolah, keteladanan guru, pembiasaan nilai-nilai karakter dalam kegiatan rutin, serta pelibatan orang tua dan masyarakat. Misalnya, kegiatan seperti doa bersama sebelum belajar, kerja bakti, serta kegiatan sosial dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan empati siswa. Ketika karakter ditanamkan secara konsisten, siswa akan terbentuk menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran sosial tinggi. Hal ini penting karena integritas merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang adil dan beradab 4. Berdasarkan penelitian dari 5, tentang implementasi kebijakan pendidikan karakter dalam pembejalajaran drama di sekolah dasar, terdapat beberapa nilai pendidikan karakter yang telah tertanam dalam program tersebut, diantaranya adalah religius, berakhlak, mandiri, kreatif, sopan santun, gemar membaca, bertanggung jawab dan komunikatif. Adapun dari nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut: a. Implementasi nilai pendidikan religius dilakukan sebelum peserta didik memulai kegiatan belajar mengajar. Peserta didik dibimbing oleh pendidik untuk membaca do’a terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Nilai karakter ini juga diterapkan di luar jam pelajaran, yaitu ketika melaksanakan aktivitas rutin di sekolah setiap hari Jum’at.5 Pendidikan religius merupakan salah satu nilai utama dalam penguatan pendidikan karakter di Indonesia. Nilai ini mencakup sikap patuh terhadap ajaran agama, perilaku beribadah secara konsisten, serta penerapan nilainilai seperti kejujuran, toleransi, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Nilai religius tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan hubungan sosial siswa. b. Nilai karakter mandiri telah diterapkan oleh siswa kelas III SD Negeri 5 Merapi Barat. Dalam hal ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri. Guru membimbing siswa dalam membaca naskah drama yang terdapat dalam buku tema. Tanpa bantuan dari orang lain, setiap siswa membaca naskah drama tersebut secara individu. Setelah siswa memahami naskah drama itu, guru memberikan tugas praktik di mana siswa harus memerankan peran yang ada dalam naskah drama yang telah dibaca sebelumnya.5 Menerapkan nilai-nilai karakter mandiri dapat dicapai melalui berbagai strategi pendidikan, baik selama proses pembelajaran maupun melalui kegiatan non-akademik. Di kelas, siswa diberi tugas individu yang mengharuskan mereka menyelesaikan pekerjaan tanpa bergantung pada 9 bantuan teman sebaya atau guru. Pendidik juga mendorong siswa untuk membuat rencana studi mereka sendiri, menetapkan tujuan pembelajaran, dan menilai hasil mereka sendiri secara mandiri. Ini menumbuhkan rasa percaya diri dan akuntabilitas dalam perjalanan belajar mereka sendiri. c. Penerapan nilai pendidikan karakter yang berlandaskan tanggung jawab telah diterapkan dalam pembelajaran drama. Sesudah siswa mendapatkan bimbingan dan arahan tentang teknik bermain drama, mereka diberikan tugas untuk memerankan berbagai karakter berdasarkan naskah yang telah ditentukan oleh guru. Meskipun masih merasa canggung karena dihadapkan pada teman-teman sekelasnya, siswa melaksanakan tugasnya dengan penuh semangat. Namun, siswa yang berpartisipasi dalam drama dengan sikap bertanggung jawab berhasil menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Di sini, nilai karakter tanggung jawab telah direalisasikan dengan efektif oleh para siswa5. Karakter yang bertanggung jawab adalah salah satu nilai fundamental dalam pendidikan karakter yang berperan dalam membentuk siswa menjadi individu yang dapat mempertanggungjawabkan semua tindakan, keputusan, dan kewajiban mereka. Nilai ini mencakup kesadaran untuk melaksanakan tugas dengan serius, memegang janji, menjaga kepercayaan, serta bersedia menerima konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil. Pendidikan yang menanamkan nilai tanggung jawab mendorong siswa untuk tidak hanya mencapai keberhasilan akademik, tetapi juga memiliki kedewasaan moral dalam berinteraksi di lingkungan sosial. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan pendidikan karakter pastinya akan sangat membantu pembentukan generasi yang berintegritas, karena didalamnya telah tercantum nilai-nilai yang akan membantu pengembangan karakter peserta didik ke arah yang lebih positif. Selain dalam penelitian diatas, masih banyak contoh kasus penerapan kebijakan pendidikan karakter yang terlaksana di Indonesia, dengan konsistensi implementasi kebijakan pendidikan karakter tentunya akan mendorong generasi saat ini untuk membentuk integritas yang lebih unggul. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian dan diskusi, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang berintegritas. Nilainilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin adalah komponen utama yang berkontribusi terhadap pembentukan integritas dalam diri peserta didik. Pendidikan karakter diterapkan secara menyeluruh dan terintegrasi dalam kurikulum, kegiatan harian sekolah, dan di tempat lain. Pendidikan karakter tidak dapat diterapkan secara parsial atau instan. Semua orang, terutama sekolah, orang tua, dan masyarakat, harus bekerja sama secara sistematis dan kolaboratif dalam proses ini. Selain itu, peran guru sebagai teladan dan fasilitator pembelajaran karakter sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran moral dan perilaku etis siswa. Ketika nilai-nilai karakter diinternalisasi melalui teladan, pembiasaan, dan penguatan budaya sekolah, integritas sebagai karakter luhur akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan dalam diri siswa. Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan harus menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas utama ketika mereka membuat kurikulum dan kegiatan sekolah mereka. Pemerintah harus terus mengembangkan kebijakan yang mendukung pendidikan karakter secara konsisten dan berkelanjutan untuk menciptakan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara matematis tetapi juga unggul dalam moralitas dan integritas. Sekolah juga harus memperkuat budaya positif yang mendukung pembentukan karakter. 10 DAFTAR PUSTAKA Anshori, I. (2017). Penguatan Pendidikan Karakter Di Madarasah. Halaqa: Islamic Education Journal, 63-74. Belferik, M. (n.d.). Character education grand design of the 2045 golden generation. 1–14. https://media.neliti.com/media/publications/122070-ID-grand-desain-pendidikankarakter-generas.pdf Arismantono, 2008. Tinjauan Berbagai Aspek Charakter Building: Bagaimana Mendidik Anak Berkarakter, Yogyakarta: Tiara Wacana. Eryandi, E. (2023). Integrasi Nilai-Nilai Keislaman dalam Pendidikan Karakter di Era Digital. Kaipi: Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam, 1(1), 12–16. Fahira, N., & Ramadan, Z. H. (2021). Analisis penerapan 5 nilai karakter dalam pembelajaran di sekolah dasar. QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Agama, 13(2), 649– 660. Fikri, Sahlan Hafidzudin, Wahyu Raman Warnerin Rangga Panji, and Eka Laila Fitriyah. 2023. “Urgensi Pelaksanaan Pendidikan Karakter Yang Terintegrasi: Analisis Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter.” Indonesian Journal of Educational Management and Leadership 1(1):45–56. doi: 10.51214/ijemal.v1i1.485. Fitri, A. (2017). "Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam dan Implementasinya di Sekolah". Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 7, No. 1, hlm. 1–12. Hanif Muhammad, Mustafida Fita Nuranti. 2019. “Strategi Guru Dalam Membentuk Karakter Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Bustanul Ulum Kota Batu.” Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 1(3):78. Hidayatullah, M. F., & Rohmadi, M. (2010). Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Yuma Pustaka. Junari, Y., & Ichsan. (2021). Implementasi Penguatan Pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SD negeri 26 Dompu dan MI As –Salam Dompu. 2(2), 112–131. https://media.neliti.com/media/publications/356965-implementasi-penguatanpendidikan-karakt-fdc8bfaf.pdf Kemendikbud. (2017). Panduan Penguatan Karakter. Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik. Kemendikbud. (2017). Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Kemendikbud. (2018). Modul Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Kurniawan, W. M., & Kusumawardana , A. S. (2020). Strategi Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah Di Sma Negeri 7 Malang. Seminar Nasional Virtual Pendidikan Kewarganegaraan 2020 (Pp. 776-785). Surakarta: Laboratorium Program Studi Ppkn, Fkip, Universitas Sebelas Maret. Laeli, Nur. 2023. “Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Melalui Pembiasaan Kegiatan Keagamaan Di Madrasah Ibtidaiyah Bantarsari.” An-Nidzam : Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Studi Islam 10(2):171–80. doi: 10.33507/annidzam.v10i2.1792. Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books. Megawangi, R. (2003). Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Jakarta: Indonesia Heritage Foundation. Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muhammad Hilmi. 2018. “Implementasi Pendidikan Karakter Pada Kurikulum 2013 Di SDN Percobaan 2 Yogyakarta.” Prodi Teknologi Pendidikan 7:390–99. 11 Murniviyanti, L., Marini, A., & Nafiah, M. (2022). Implementasi Kebijakan Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Drama di Sekolah Dasar. Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Kependidikan, 20(2), 203–219. Nugroho, A. (2021). "Studi Kasus sebagai Strategi Penelitian Kualitatif dalam Kajian Pendidikan". Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Vol. 25, No. 2, hlm. 102–114. Ppk, T. (2017). Konsep Dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemendikbud. Sari, Cut Kumala, Tria Nur Maulida, and Yeliani Marlina Situmorang. 2025. “Membangun Generasi Berintegritas Melalui Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Nasional.” 3:208–17. Sauda Bukoting. (2023). INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR. Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik Dan Kependidikan, 3(2), 70–82. Tilaar, H. A. R. (2002). Perubahan Sosial dan Pendidikan: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo. Wahab, A., & Sapriya. (2011). Pendidikan Kewarganegaraan: Untuk Perguruan Tinggi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wibowo, Agus. 2017. Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Puataka Pelajar. Wiyani, N. A. (2012). Manajemen Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya di Sekolah. In Yogyakarta: Pedagogia. Wuryandani, W., Maftuh, B., Sapriya, & Budimansyah, D. (2014). Pendidikan Karakter Disiplin Di Sekolah Dasar. Cakrawala Pendidikan Jurnal Ilmiah Pendidikan, 286-295. Zuchdi, D. (2009). Humanisasi Pendidikan: Menumbuhkan Kemanusiaan Melalui Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan karakter Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. In Kencana Prenada Media Group. 12