Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Studi Kualitatif Naratif tentang Perilaku Bullying Siswa Kelas VII di SMPK St. Theresia Kupang Maria Egabriela Luan1 & Stefanus Lio2 Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Indonesia, 85225 E-mail: egaluan06@gmail. com, liostef@yahoo. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-10-30 Revised : 2025-11-11 Accepted : 2025-11-22 KEYWORDS bullying behavior, seventh-grade KATA KUNCI perilaku bullying, siswa kelas VII ABSTRACT Bullying among junior high school students remains a significant issue that disrupts adolescentsAo social and emotional development. This study employed a qualitative narrative design to explore the forms, causes, and impacts of bullying among seventh-grade students at SMPK St. Theresia Kupang. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis involving ten students and one guidance and counseling teacher. The findings reveal that verbal and social bullying are most prevalent, driven by peer pressure and the need for social recognition. while victims experience emotional stress, decreased learning motivation, and impaired social relationships. The study recommends empathy-based prevention strategies and the integration of religious character values into the curriculum. This research contributes to strengthening school intervention models to foster a safe and inclusive learning ABSTRAK Fenomena bullying di kalangan siswa SMP masih menjadi tantangan serius yang menghambat perkembangan sosial-emosional remaja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain naratif untuk menggali bentuk, faktor penyebab, dan dampak perilaku bullying pada siswa kelas VII di SMPK St. Theresia Kupang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi dengan lima siswa serta seorang guru BK. Hasil penelitian menunjukkan dominasi bullying verbal dan sosial yang dipengaruhi oleh teman sebaya dan kebutuhan akan pengakuan. korban mengalami stres emosional, penurunan motivasi belajar, dan gangguan relasi sosial. Rekomendasi penelitian menekankan perlunya strategi pencegahan berbasis empati serta integrasi nilai karakter religius dalam kurikulum. Penelitian ini memberikan kontribusi pada penguatan model intervensi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Pendahuluan Fenomena bullying di kalangan siswa SMP masih menjadi persoalan serius di berbagai daerah. Kota Kupang. Data UNESCO menunjukkan bahwa 32% siswa di dunia pernah mengalami perundungan, sementara survei KpA . mencatat 41% anak Indonesia usia 12Ae15 tahun pernah mengalami kekerasan fisik, verbal, atau siber. Di Kupang, peningkatan kasus bullying mulai menjadi perhatian Dinas Pendidikan karena berdampak pada kecemasan sosial, penurunan motivasi belajar, dan merosotnya performa akademik siswa. Kondisi ini menegaskan bahwa bullying tidak hanya mencerminkan perilaku menyimpang, tetapi juga menunjukkan lemahnya kontrol sosial serta penguatan karakter di lingkungan 107 | JPI. Vol. No. November 2025 Berbagai penelitian di Indonesia telah mengkaji faktor penyebab bullying, seperti pengaruh keluarga (Budiman & Asriyadi, 2. , komunikasi guruAe siswa (Nugroho dkk. , 2. , dan penggunaan media sosial (Hariguna & Waluyo, 2. Namun, masih terbatas studi yang menelaah fenomena bullying di sekolah berbasis keagamaan di wilayah timur Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur. Padahal penelitian Rahmatillah dkk. menunjukkan bahwa budaya lokal berperan penting dalam membentuk pola dan intensitas bullying. Selain itu, belum banyak penelitian yang berfokus pada siswa kelas VII yang sedang berada pada masa transisi dan pembentukan identitas sosial. Kesenjangan penelitian ini menjadi penting untuk dikaji pada sekolah berbasis nilai religius seperti SMPK St. Theresia Kupang. Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan tiga kerangka teori secara ringkas: Teori Perilaku Sosial Bandura yang menekankan proses meniru dari lingkungan. Teori Kontrol Sosial Hirschi yang memandang bullying muncul saat ikatan siswa dengan norma sekolah melemah. Teori Identitas Sosial Tajfel & Turner yang menjelaskan dorongan pelaku untuk memperoleh pengakuan kelompok melalui dominasi. Ketiga teori ini membantu menjelaskan kecenderungan siswa awal remaja menampilkan agresivitas dalam ruang pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai moral dan religius. Konteks lokal Kupang juga menunjukkan adanya paradoks: budaya kolektivitas dan solidaritas masih kuat, tetapi modernisasi dan penggunaan media digital (Mone & Yulianto, 2. mendorong pergeseran nilai di kalangan remaja. Hal ini berkontribusi pada meningkatnya agresivitas verbal maupun sosial. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana perilaku bullying dimaknai dan dimanifestasikan di lingkungan sekolah religius yang menjunjung nilai kasih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, penyebab, dan dampak perilaku bullying pada siswa kelas VII di SMPK St. Theresia Kupang, serta mengeksplorasi strategi yang digunakan guru BK dan pihak sekolah dalam menangani kasus bullying secara preventif dan rehabilitatif. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah memperkaya kajian perilaku sosial remaja dengan memasukkan perspektif budaya dan religius, serta memperluas penerapan teori kontrol sosial dan identitas sosial dalam konteks pendidikan di wilayah timur Indonesia. Penelitian ini juga memberikan dasar empiris bagi pengembangan model intervensi dan penelitian lanjutan di bidang pendidikan dan sosiologi sekolah. Tinjauan Literatur Konsep dan Bentuk Perilaku Bullying Bullying merupakan bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara berulang terhadap seseorang yang dianggap lebih lemah, baik secara fisik maupun psikologis (Sari & Azwar, 2. Sawaludin . Musakif . , dan Setiyanawati . menjelaskan bahwa perilaku bullying di sekolah menengah pertama dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti bullying verbal . jekan, hinaa. , bullying fisik . emukul, mendoron. , bullying sosial atau relasional . engucilan atau penyebaran gosi. , serta bullying digital atau siber . yberbullying melalui media sosia. Di Indonesia, bentuk bullying verbal dan relasional cenderung paling dominan karena sering kali dianggap sebagai bagian dari candaan antar teman sebaya (Vitorio, 2. Dalam konteks siswa kelas VII, fase transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama sering kali memperkuat dinamika Menurut Mutasiroh . dan Lating . , jenis-jenis bullying dapat dikategorikan sebagai berikut: Pertama. Bullying verbal: ejekan, hinaan, atau panggilan kasar. Kedua. Bullying fisik: memukul, mendorong, menjambak, dan tindakan kekerasan lainnya. Ketiga. Bullying relasional: mengucilkan, menyebarkan gosip, atau menghambat hubungan sosial seseorang. Keempat. Bullying mempermalukan, atau menyebarkan konten negatif melalui media digital. Faktor Penyebab Terjadinya Bullying Perilaku bullying merupakan hasil interaksi antara faktor pribadi, keluarga, sekolah, dan sosial (Febrianti dkk. , 2. Pringgodiqdo dan Kadafi . menemukan bahwa rendahnya empati, lemahnya kontrol diri, serta kebutuhan akan pengakuan sosial menjadi pemicu utama tindakan agresif di lingkungan sekolah. Selain itu, pola asuh keluarga yang otoriter serta lingkungan rumah yang penuh konflik turut memperkuat kecenderungan perilaku agresif (Ningrum, 2. Faktor lingkungan sekolah juga berperan besar. Kurangnya pengawasan guru, tidak aktifnya peran konselor, serta lemahnya penerapan nilai-nilai karakter menyebabkan perilaku bullying sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Fajriani dkk. menambahkan bahwa tekanan sosial, perbandingan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 108 prestasi akademik, dan paparan media digital turut memperluas bentuk perundungan hingga ke ranah Dengan demikian, bullying di sekolah bukan sekadar masalah individu, melainkan juga refleksi dari ketidakseimbangan nilai dan sistem sosial dalam lingkungan pendidikan (Wardhani & Alawiyah. Dampak Bullying terhadap Perkembangan Siswa Bullying memiliki konsekuensi serius terhadap perkembangan sosial dan emosional remaja (Romadhoni dkk. , 2. Cini et al. dalam The Lancet Regional Health Ae Southeast Asia menemukan bahwa korban bullying memiliki kemungkinan dua kali lipat mengalami gangguan kecemasan dan depresi dibandingkan siswa yang tidak menjadi korban. Dampak jangka panjang juga mencakup penurunan motivasi belajar, prestasi akademik yang rendah, serta gangguan dalam menjalin hubungan sosial. Tidak hanya korban, pelaku bullying pun berisiko mengalami kesulitan penyesuaian sosial di masa depan dan peningkatan perilaku antisosial (Putra dkk. , 2. Dalam konteks Kota Kupang, fenomena ini diperburuk oleh norma sosial yang masih menganggap kekerasan verbal sebagai sesuatu yang AuwajarAy. Strategi Pencegahan dan Intervensi Upaya pencegahan bullying perlu dilakukan secara sistematis melalui pendekatan pendidikan dan Mustikaningtyas et al. menekankan efektivitas intervensi psikoedukatif, seperti pelatihan empati, edukasi emosi, dan kegiatan reflektif di sekolah. Selain itu. Program Roots yang dikembangkan oleh UNICEF terbukti mampu menekan perilaku bullying hingga 50% dalam tiga bulan pelaksanaan di beberapa SMP di Indonesia (UNICEF, 2. Pendekatan yang melibatkan teman sebaya . eer grou. juga menunjukkan hasil yang signifikan karena memberikan ruang aman bagi siswa untuk saling berbagi pengalaman dan saling mengingatkan. Dalam konteks sekolah keagamaan, strategi intervensi sebaiknya diintegrasikan dengan nilainilai spiritual seperti kasih, pengampunan, dan solidaritas yang sejalan dengan karakter pendidikan di SMPK St. Theresia Kupang. Peran Guru dan Konselor Sekolah Guru dan konselor memiliki peran strategis dalam mengidentifikasi dan menangani perilaku Abdurrohim dan Rusdiyah . menyebutkan bahwa sekolah yang mengintegrasikan peran guru, konselor, dan orang tua menunjukkan penurunan signifikan kasus perundungan. Model pendidikan kolaboratif yang mereka kembangkan berlandaskan pada tiga prinsip utama. Deteksi dini terhadap perilaku menyimpang melalui observasi rutin. Pendekatan konseling humanistik untuk memahami latar belakang pelaku dan korban. Pendidikan karakter terpadu yang ditekankan dalam seluruh kegiatan pembelajaran. Model ini selaras dengan semangat pendidikan Katolik di Kupang yang menekankan nilai kasih, penghargaan terhadap sesama, serta disiplin yang Dengan pencegahan bullying harus dipandang sebagai bagian integral dari penguatan karakter siswa dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain naratif . arrative inquir. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pengalaman nyata siswa kelas VII SMPK St. Theresia Kupang dalam konteks perilaku bullying, baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi. Pendekatan naratif bertujuan memahami makna subjektif yang dialami partisipan melalui kisah dan pengalaman hidup mereka (Creswell & Poth, 2. Metode ini sangat relevan dengan konteks sekolah menengah pertama di Kupang, di mana fenomena bullying kerap muncul dalam bentuk verbal, sosial, maupun simbolik. Pendekatan naratif memungkinkan peneliti menggali bagaimana nilainilai religius, budaya lokal, dan struktur sosial sekolah Katolik membentuk perilaku dan persepsi siswa terhadap bullying. Sejalan dengan pandangan Moleong . , penelitian kualitatif menempatkan peneliti sebagai instrumen utama untuk memahami makna di balik perilaku sosial dalam konteks alami. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMPK St. Theresia Kupang, sebuah sekolah swasta Katolik yang berlokasi di pusat Kota Kupang. Nusa Tenggara Timur. Lokasi ini dipilih karena berdasarkan observasi awal, terdapat peningkatan kasus perundungan verbal dan sosial di kalangan siswa kelas VII selama tahun ajaran 2025/2026 Partisipasi Penelitian Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Kriteria partisipan meliputi: Pernah terlibat langsung dalam peristiwa bullying . elaku, korban, atau saks. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 109 | JPI. Vol. No. November 2025 . Bersedia menceritakan pengalaman pribadi secara jujur dan reflektif Guru BK (Bimbingan Konselin. dilibatkan sebagai informan pendukung untuk membantu memahami dinamika sosial siswa dan kebijakan sekolah terkait penanganan bullying. Jumlah partisipan disesuaikan agar narasi tetap mendalam tanpa kehilangan konteks sosial. Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan analisis naratif dengan tahapan pengkodean yang sistematis: Open Coding Mengidentifikasi potongan cerita, kata kunci, pengalaman emosional, dan peristiwa penting terkait bullying. Axial Coding Mengelompokkan kode ke dalam tema seperti: jenis bullying, pemicu konflik, peran sosial, dampak emosional, dan mekanisme penyelesaian. Selective/Narrative Coding . Menyusun pola cerita berdasarkan alur pengalaman setiap partisipan. Interpretasi Naratif Peneliti membangun pemaknaan mendalam berdasarkan keseluruhan pola cerita: bagaimana pengalaman bullying terjadi, faktor sosial yang menafsirkan peristiwa tersebut dalam kehidupan Langkah analisis ini mengikuti panduan analisis tematik-naratif dari Miles. Huberman, & Saldaya . Hasil Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan 5 siswa kelas VII, satu guru BK, dan observasi interaksi siswa di lingkungan sekolah. Hasil analisis naratif menghasilkan empat tema Bentuk Perilaku Bullying Hasil wawancara menunjukan bahwa bentuk perilaku bullying verbal dan sosial merupakan bullying yang paling banyak terjadi. tiga dari lima siswa menyatakan pernah mengalami atau menyaksikan ejekan, pemberian julukan dan memperolok nama orang tua. Bullying fisik ditemukan dalam bentuk tindakan ringan seperti dorongan atau cubitan yang sering dianggap sebagai Aucandaan. Ay Sementara itu, bullying digital mulai terlihat dalam grup WhatsApp kelas. Sebagian besar pelaku bullying menyatakan bahwa tindakan mereka muncul karena ingin mendapatkan perhatian atau dianggap lucu oleh teman-temannya. Berdasarkan hasil wawancara: Korban (S. Perempua. AuMereka suka panggil saya pakai nama orang tua. Awalnya saya diam saja, tapi lama-lama sakit hatiAy. Pelaku (B. Laki-lak. AuSaya tidak bermaksud jahat, hanya bercanda supaya teman-teman tertawa, tapi ternyata dia . marah dan menangis. Ay Tabel 1. Bentuk-Bentuk Perilaku Bullying di SMPK St. Theresia Kupang Jenis Bullying Verbal Sosial Frekuensi Terjadi Fisik Digital Bentuk Perilaku Dominan Ejekan, julukan, hinaan Pengucilan, isolasi teman Dorongan, cubitan Olokan di grup WA, komentar di media Sumber Data Olahan 2025 Observasi lapangan memperkuat temuan di atas. Pada jam istirahat, siswa cenderung berkumpul dalam kelompok kecil dan beberapa interaksi verbal bernada mengejek sering muncul. Faktor Penyebab Terjadinya Bullying Analisis naratif mengungkap tiga faktor pemicu utama penyebab terjadinya perilaku bullying di SMPK St. Theresia Kupang, yaitu: Pengaruh kelompok teman sebaya . eer group Sebagian besar pelaku bullying menyatakan bahwa tindakan mereka muncul karena ingin mengikuti teman sebaya. Kebutuhan akan pengakuan sosial Sebagian besar pelaku bullying menyatakan bahwa tindakan mereka muncul karena ingin mendapatkan perhatian atau dianggap lucu oleh teman-temannya. Penggunaan media sosial. Percakapan di grup kelas menjadi tempat munculnya olokan kolektif. Sementara itu, guru BK dan guru wali kelas menyatakan ada beberapa kasus muncul dari grup WA, biasanya dimulai dari bercanda lalu jadi serius. Dampak Bullying bagi Korban Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menjadi korban bullying mengalami penurunan motivasi belajar. Dari 3 korban utama yang diwawancarai, 1 di antaranya mengaku merasa malu dan enggan berinteraksi di kelas. Berdasarkan hasil wawancara bersama siswa Korban Bullying: Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 110 Korban (J. Perempua. AuSaya malas kalau hari itu ada pelajaran di mana mereka sering gangguAu. Observasi menunjukkan bahwa korban jarang terlibat dalam diskusi kelompok. Strategi Guru dan Sekolah dalam Menangani Bullying Berdasarkan wawancara dengan guru BK, sekolah biasanya menangani kasus bullying melalui pendekatan pembinaan moral dan mediasi antar siswa, bukan melalui sistem pelaporan formal. Tabel 2. Strategi Mengelola Perilaku Bullying di SMPK St. Theresia Kupang Strategi Pembinaa n moral Mediasi Kampanye antibullying Layanan Bimbingan Klasikal Bentuk Implementasi Konseling. Guru BK dan poster sekolah Kelemahan Layanan Informasi Bullying Kurang evaluasi Kurang Tidak Tidak Sumber: Data Olahan 2025 Tabel 2 menunjukkan bahwa strategi penanganan yang ada belum mampu mencegah terulangnya perilaku bullying secara efektif. Pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis sistem sekolah diperlukan, seperti program peer support group atau school-wide positive behavior support (SWPBS), sebagaimana diusulkan oleh Sugiharto et al. Hasil penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa perilaku bullying di kalangan siswa SMP bukan hanya persoalan moral individu, tetapi juga fenomena sosial-kultural yang berkaitan dengan dinamika kelompok, identitas remaja, dan sistem nilai sekolah. Secara teoretis, hasil ini mendukung teori kontrol sosial Hirschi . , yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang muncul ketika ikatan sosial antara individu dan lingkungan melemah. Dalam konteks SMPK St. Theresia, lemahnya kontrol sosial terlihat pada minimnya pengawasan guru dan tidak adanya sistem pelaporan bullying yang baku. Selain itu, temuan ini juga mengonfirmasi teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1. , di mana siswa yang berusaha mempertahankan status kelompok sering menunjukkan perilaku dominasi terhadap siswa lain yang dianggap berbeda. Identitas kelompok menjadi pendorong utama munculnya ejekan dan pengucilan. Temuan di SMPK St. Theresia Kupang sejalan dengan penelitian Wibowo . yang menemukan bahwa bentuk bullying di tingkat SMP di Indonesia didominasi oleh perilaku verbal yang dianggap Aucandaan. Ay Selain itu, penelitian Rahardjo & Putri . , menunjukkan bahwa dukungan guru BK memiliki peran penting dalam meminimalkan dampak psikologis korban, sebuah temuan yang juga muncul kuat dalam konteks sekolah ini. Namun, hasil penelitian ini memperluas temuan sebelumnya dengan menunjukkan adanya interaksi antara budaya religius sekolah dan dinamika kelompok sosial, yang membentuk persepsi siswa terhadap perilaku bullying. Nilai kasih dan empati yang diajarkan di sekolah Katolik ternyata belum sepenuhnya diinternalisasi dalam perilaku sosial Penelitian ini memberikan dua kontribusi Kontribusi Teoretis: Menunjukkan bahwa perilaku bullying di sekolah berkarakter religius tidak hanya dipengaruhi oleh kontrol sosial, tetapi juga oleh ketidaksesuaian antara nilai institusional dan praktik sosial siswa. Oleh karena itu, model teori kontrol sosial perlu diperluas dengan memperhitungkan dimensi nilai moral yang diinternalisasi siswa. Kontribusi Praktis: Memberikan dasar bagi pengembangan program intervensi berbasis naratif di sekolah, di mana siswa diajak menulis atau menceritakan pengalaman mereka sebagai sarana refleksi moral dan empati. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengurangi perilaku agresif di kalangan remaja Berdasarkan hasil penelitian, direkomendasikan agar SMPK St. Theresia Kupang: Membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Bullying yang terdiri dari guru, konselor, dan perwakilan siswa. Menerapkan program mentoring sebaya . eer mentorin. untuk memperkuat dukungan sosial antar siswa. Mengintegrasikan pendidikan karakter berbasis empati ke dalam kurikulum harian. Melakukan evaluasi periodik terhadap efektivitas program pencegahan bullying. Dengan demikian, sekolah dapat membangun lingkungan belajar yang lebih aman, mendukung. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 111 | JPI. Vol. No. November 2025 dan sesuai dengan nilai-nilai kasih yang menjadi dasar pendidikan Katolik. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah partisipan dan ruang lingkup yang hanya mencakup satu sekolah. Untuk memperluas generalisasi hasil, penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan melibatkan beberapa sekolah di wilayah NTT dan menggunakan pendekatan mixed-method untuk mengukur hubungan antara faktor sosial dan intensitas bullying secara kuantitatif. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh literasi digital terhadap munculnya cyberbullying di kalangan siswa SMP, yang mulai menjadi fenomena baru di lingkungan sekolah di Indonesia bagian timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying di SMPK St. Theresia Kupang terutama muncul dalam bentuk verbal dan sosial, didorong oleh pengaruh kelompok sebaya. Dampaknya mencakup gangguan psikologis, penurunan motivasi belajar, dan melemahnya solidaritas sosial di kelas. Meskipun sekolah telah menerapkan berbagai program pembinaan, efektivitasnya masih terbatas. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penanganan yang lebih sistematis dan berbasis empati untuk membangun budaya sekolah yang aman dan inklusif. Diskusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku bullying di lingkungan sekolah masih menjadi fenomena yang cukup memprihatinkan, terutama disebabkan oleh faktor lingkungan sosial dan media Temuan ini mengonfirmasi bahwa perilaku bullying bukan hanya dipengaruhi oleh karakter individu pelaku, tetapi juga oleh dinamika relasi sosial yang terbentuk di masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa faktor dominan penyebab munculnya perilaku bullying adalah pergaulan teman sebaya. Banyak siswa mengaku melakukan tindakan perundungan karena mengikuti kelompok teman sebaya. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Rahmawati et al. yang menunjukkan bahwa konformitas terhadap kelompok memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan siswa untuk melakukan bullying, terutama pada masa remaja awal ketika penerimaan sosial dianggap sangat Faktor media sosial juga ditemukan sebagai salah satu penyebab munculnya bentuk baru dari bullying, yaitu cyberbullying. Sebagian besar siswa yang menjadi korban mengaku menerima ejekan atau penghinaan melalui platform digital seperti WhatsApp dan Instagram. Fenomena ini sesuai dengan hasil riset oleh Nasution dan Dewi . yang menyebutkan bahwa peningkatan penggunaan media sosial di kalangan remaja memiliki korelasi positif terhadap meningkatnya kasus perundungan Penelitian oleh Fitria . juga mendukung temuan ini, di mana kemudahan akses internet tanpa kontrol yang memadai dari orang tua meningkatkan risiko perilaku agresif secara virtual. Dari sisi sekolah, penelitian ini menyoroti bahwa belum semua lembaga pendidikan memiliki kebijakan yang tegas dalam menanggulangi kasus Sebagian besar guru masih menganggap perundungan ringan sebagai hal biasa dalam proses pergaulan siswa. Hasil ini sesuai dengan temuan Wulandari . yang mengungkap bahwa kurangnya pelatihan guru dalam deteksi dini perilaku bullying menyebabkan kasus perundungan sering tidak terlaporkan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menguatkan pandangan bahwa perilaku bullying merupakan hasil interaksi kompleks antara individu, lingkungan sosial, dan sistem pendidikan. Upaya pencegahan tidak dapat hanya berfokus pada pelaku, tetapi juga perlu melibatkan keluarga, teman sebaya, dan sekolah. Hasil penelitian ini sejalan dengan meta-analisis yang dilakukan oleh Ortega-Ruiz dan Mora-Merchyn . yang menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dan program sekolah yang berorientasi pada nilai empati serta komunikasi positif antar siswa. Dengan demikian, penelitian ini pemahaman bahwa pengendalian perilaku bullying harus dilakukan secara holistik melalui kolaborasi antara guru, orang tua, dan lingkungan sosial siswa. Kesimpulan Penelitian ini mengungkap bahwa perilaku bullying di SMPK St. Theresia Kupang didominasi oleh bentuk verbal dan sosial yang muncul akibat pengaruh kelompok sebaya dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku bullying bukan sekadar tindakan individual, melainkan hasil interaksi sosial yang dipengaruhi budaya dan nilai religius yang belum sepenuhnya diinternalisasi oleh siswa. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis bullying dalam konteks sekolah Katolik di wilayah timur Indonesia, yang menyoroti paradoks antara nilai kasih dan praktik sosial siswa. Hasil ini menambahkan dimensi nilai moral dan religius sebagai faktor penguat pembentukan perilaku Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 112 Kontribusi praktis penelitian ini memberikan arah bagi pengembangan program pencegahan bullying berbasis nilai empati, refleksi moral, dan pendampingan sebaya. Secara lebih luas, implikasinya menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru BK, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, berkarakter, dan inklusif. Persembahan Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihakpihak yang telah memberikan dukungan profesional maupun finansial dalam pelaksanaan penelitian ini. Penulis menyampaikan apresiasi kepada pihak SMPK St. Theresia Kupang yang telah memberikan izin dan fasilitas penelitian, serta kepada guru Bimbingan dan Konseling dan para siswa kelas VII yang telah berpartisipasi secara aktif dalam proses wawancara dan observasi. Referensi