p-issn 2087 9296 e-issn 2685 6166 POLA TATA RUANG MASJID KANOMAN Krisna Yunarto. Mudhofar ________________________________________________ PENILAIAN LINGKUNGAN FISIK PERMUKIMAN KUMUH DI KANOMAN UTARA KOTA CIREBON Aji Amirul Bahaduri. Farhatul Mutiah ________________________________________ IDENTIFIKASI KENYAMANAN TERMAL DI RUANG STUDIO R. SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Rizko Nuzul Pasa Ramadhan. Eka Widiyananto ______________________________ PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN KOLONIAL DI SEPANJANG KORIDOR JL. YOS SUDARSO CIREBON Rafika Azhar Nurfadhilah. Iwan Purnama ____________________________________ ELEMEN PENDUKUNG TAMAN KOTA DI TAMAN KRUCUK DAN TAMAN BUNDARAN MUNJUL Ikin Rosikin. Farhatul Mutiah _____________________________________________ PENGARUH LANGGAM ARSITEKTUR JAWA DAN SUNDA PADA MASJID KERAMAT KI BUYUT TRUSMI CIREBON Indriyani. Mudhofar ____________________________________________________ VOLUME 11 NOMOR 2 Jl. Evakuasi No. 11 Cirebon. Oktober 2019 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 11 No. 2 Oktober 2019 KATA PENGANTAR Jurnal Arsitektur adalah jurnal yang diperuntukan bagi mahasiswa program studi arsitektur dan dosen arsitektur dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengabdian dengan ruang lingkup penelitian dan pengabdian mengenai ilmu arsitektur diantaranya bidang keilmuan kota, perumahan dan permukiman, bidang keilmuan ilmu sejarah,filsafat dan teoti arsitektur, bidang keilmuan teknologi bangunan, manajemen bangunan, building science, serta bidang keilmuan perancangan arsitektur. Hasil kajian dan penelitian dalam Jurnal Arsitektur ini adalah berupa diskursus, identifikasi, pemetaan, tipelogi, review, kriteria atau pembuktian atas sebuah teori pada fenomena arsitektur yang ada maupun laporan hasil pengabdian masyarakat. Semoga hasil kajian dan penelitian pada Jurnal Arsitektur Volume 11 No. 2 Bulan Oktober 2019 ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada keilmuan Hormat Saya. Manajer Editor Farhatul Mutiah Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 11 No. 2 Oktober 2019 TIM EDITOR Ketua Eka Widiyanant. Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Anggota Iwan Purnama | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Nurhidayah | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Mudhofar | Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Manager Editor Farhatul Mutiah | LPPM Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon. Indonesia Jurnal Arsitektur p-ISSN 2087-9296 e-ISSN 2685-6166 A Redaksi Jurnal Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Gd. Lt. 1 Jl. Evakuasi No. Cirebon 45135 Telp. 482196 - 482616 Fax. 482196 E-mail : Jar@sttc. website : Journal. id/Jar Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 JURNAL ARSITEKTUR | STTC Vol. 11 No. 2 Oktober 2019 DAFTAR ISI Kata Pengantar a. Daftar Isi a. POLA TATA RUANG MASJID KANOMAN Krisna Yunarto. Mudhofar a PENILAIAN LINGKUNGAN FISIK PERMUKIMAN KUMUH DI KANOMAN UTARA KOTA CIREBON Aji Amirul Bahaduri. Farhatul Mutiah a. IDENTIFIKASI KENYAMANAN TERMAL DI RUANG STUDIO R. SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI CIREBON Rizko Nuzul Pasa Ramadhan. Eka Widiyananto a. PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN KOLONIAL DI SEPANJANG KORIDOR JL. YOS SUDARSO CIREBON Rafika Azhar Nurfadhilah. Iwan Purnama a. ELEMEN PENDUKUNG TAMAN KOTA DI TAMAN KRUCUK DAN TAMAN BUNDARAN MUNJUL Ikin Rosikin. Farhatul Mutiah a PENGARUH LANGGAM ARSITEKTUR JAWA DAN SUNDA PADA MASJID KERAMAT KI BUYUT TRUSMI CIREBON Indriyani. Mudhofar a. a Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 PERUBAHAN FUNGSI. LAHAN. DAN BANGUNAN DI KORIDOR JALAN YOS SUDARSO Rafika Azhar Nurfadhilah 1. Iwan Purnama2 . Program Studi Arsitektur - Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon Email: rafikaazharn@gmail. com1 , purnama. ione@gmail. ABSTRAK Koridor Jalan Yos Sudarso merupakan wilayah yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi hingga dijuluki sebagai Kota Tua. Seiring berjalannya waktu, pada Koridor Jalan Yos Sudarso telah terjadi perubahan fungsi, perubahan lahan dan perubahan bangunan. Perubahan tersebut dapat dilihat dari adanya perubahan fungsi, rehabilitas bangunan, penambahan fungsi dan penambahan bangunan, serta munculnya bangunan Ae bangunan modern di sepanjang koridor. Untuk hasil yang didapat, terdapat 5 bangunan tua yang masih berdiri kokoh di sepajang koridor yang sudah mengalami perubahan fungsi seperti Kantor Residen Cirebon yang kini menjadi tanah yang kosong serta tanah kosong dibangun menjadi bangunan baru bergaya modern, perubahan lahan dengan adanya penambahan bangunan seperti Bank Indonesia dan Gereja Santo Yusuf dan rehabilitasi pada bangunan tua seperti pada bangunan Kantor Pos Indonesia. Kata kunci : Perubahan fungsi. Koridor Yos Sudharso. Kota Tua. PENDAHULUAN Cirebon merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang didalamnya terdapat peninggalan peninggalan kebudayaan dari jaman kepercayaan masuk ke Indonesia seperti Hindu. Budha. Islam dan lain sebagainya, hingga masuk Bangsa Eropa seperti Portugis. Spanyol. Inggris. Belanda sampai pada jaman kemerdekaan. Peninggalan yang masih dapat kita lihat hingga saat ini yaitu berupa masa Masa bangunan tersebut paling banyak terdapat di daerah Kecamatan Lemahwungkuk hingga di juluki sebagai kota tua. Hal ini dikarenakan daerah tersebut merupakan bagian dari daerah pesisir pantai Pulau Jawa. Pada masa Pemerintah Belanda menguasai daerah Cirebon. Lemahwungkuk perdagangan rempah Ae rempah dan tembakau. Maka dari itu pada daerah ini. Pemerintah Belanda banyak membangun masa bagunan dengan gaya arsitektur memproduksi bahan dan kepentingan mereka. Pada awalnya wilayah Lemahwungkuk merupakan hutan belantara yang belum dihuni oleh manusia, kemudian pada abad ke-18 pemerintah belanda mulai memasuki wilayah Cirebon dan membangun jalan yang membentang di daerah lemahwungkuk. Dari situlah mulai ada aktivitas dan pembangunan berupa fasilitas pendukung untuk kepentingan Pemerintah Belanda diantaranya Gedung Bank Indonesia (BI) yang merupakan kantor ke-5 De Djavasche Bank. Kantor Pos Indonesia sebagai tempat transaksi jarak jauh menuju Negara Belanda dan lain sebagainya di Koridor Jalan Yos Sudarso. Pada saat ini pada Koridor Jalan Yos Sudarso sudah banyak bangunan baru yang memiliki gaya arsitektur berbeda dengan arsitektur yang sebelumnya yakni arsitektur modern, bangunan tersebut antara lain Gedung Bank BCA. Bank Mega. Bank Permata dan lain sebagainya. Selain muncul bangunan baru, banyak kita jumpai bangunan yang terbelangkai begitu saja hingga mengalami Pada beberapa bangunan lama pun saat ini sudah ada yang mengalami penambahan diantaranya Bank Indonesia yang mengalami penambahan bangunan di area belakang. Gereja Santo Yusuf mengalami penambahan bangunan di area depan dan samping bangunan dan masih banyak Ada juga bangunan lama Kantor Residen yang kini sudah tidak ada dan berubah menjadi lahan kosong milik salah satu bank disana. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan perubahan lahan, bentuk dan fungsi bangunan. yang ada di koridor Jalan Yos Sudaso. KERANGKA TEORI Pengertian Kota Dalam memahami perkembangan kawasan kota, terutama kawasan kota tua diperlukan pengetahuan mengenai kota, kota tua, dan perkembangannya. Kota dalam Bahasa Inggris disebut AuCity atau TownAy. Sedangkan menurut Kampus Bahasa Indonesia kota adalah daerah permukiman dengan kepadatan yang tinggi yang terdiri atas kesatuan bangunan tempat tinggal disertai dengan berbagai Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 fasilitas modern dan sebagian penduduk bekerja diluar pertanian. Pengertian Kota Tua atau Kota Kolonial Menurut Ilham Daeng Makkelo . dalam jurnalnya mengatakan bahwa. AuKota tua atau kota kolonial merupakan wilayah yang didalamnya terdapat benteng dan barak, perkantoran, rumah, gedung societeit, rumah ibadah dengan konsep arsitektur kolonial itu sendiri. Sedangkan menurut Haris ( 2007:. mengatakan AuKota Kolonial merupakan percampuran antara bentuk sebuah kawasan Eropa dengan bentuk arsitektur dan kebudayaan setempat. Selain daripada itu, kota kolonial umumnya memiliki fungsi komersialAy. Perkembangan Kota Ekologi Perkotaan Ekologi perkotaan yang dimaksud yaitu interaksi manusia dan alam sekitar. Perubahan ekologi ini terjadi apabila dari salah satu komponen tersebut mengalami perubahan. Keadaan alamiah tanah kota telah berubah menjadi beberapa sektor karena kepentingan manusia. Kepentingan tersebut antara lain untuk pemukiman penduduk, perdagangan, industri, perkantoran, untuk keperluan rekreasi dan Perubahan ekologi manusiawi terjadi sesuai dengan perkembangan penduduk, secara etnis, secara status, secara kelas, secara kultural, kemajuan teknologi sehingga pola permukiman mengalami pemisahan. Pembuatan jalan, jembatan, bangunan, saluran air, dan pembangunan perumahan, pendirian industri - industri telah mengubah lingkungan kota. Ekologi juga berubah dengan adanya perubahan dalam organisasi Per-tumbuhan sistem produksi industri kecil di rumah ke sistem produksi industri besar di pabrik adalah contoh jelas dari perubahan organisasi, termasuk pasar, warung, department store, warung, dan shopping centre. 2 Politik dan Arsitektur Perkotaan Perubahan politik dan perubahan kota merupakan alur proses sebagai dua alur yang tak terpisahkan dan saling terkait satu sama lain. Pada awalnya arsitektur kota di Indonesia mengikuti desain kolonial Belanda, gerakan sosial semasa Soekarno, dan pembaruan kontrol terhadap masa pemerintahan Orde Baru. Produk arsitektur ini menjadi bagian dari tatanan sosial politik suatu negara di Indonesia. Arsitek dalam hal ini tidak menghasilkan karyanya tidak hanya dengan menerapkan teknik konstruksi dan fungsi bangunan tetapi sangat berperan penting terhadap pemecahan suatu masalah seperti masalah sosial dan politik di dalam suatu kota dan pada akhirnya ikut mendorong perubahan zaman dalam hal menyusun tatanan simbolik dan membentuk sistem sosial dan budaya serta terlibat dalam penataan jaringan kekuasaan yang sekaligus membentuk dirinya. Kota pun menjadi tempat kaum kelas menengah dan elit intelektual dengan menyalurkan aktifitas mereka pada politik. 3 Kota dan Perubahan Sosial Perubahan sosial ini terkait dengan transformasi sosial dan sistem sosial yang ada. Kota sebagai sebuah sistem sosial menunjukkan kekayaan yang tak pernah habis untuk dikaji. Kegiatan masyarakat kota seperti kegiatan domestik, agama, politik, dan hubungan antar warga secara struktural antara lembaga masyarakat, hubungan antara kelompo etnis, status dan kelas, bahkan hubungan personal antara sesama warga kota menjadi bahan kajian Secara metodologis bahan utamanya adalah banyaknya tulisan - tulisan di surat kabar, majalah, dan buku - buku sastra. Juga kemungkinan mengadakan penggalian sumber melalui sejarah lisan menjadi sangat membantu. Dalam kajian perkotaan, akan muncul golongan atau kelompok tertentu yang menjadi penggerak bagi kemajuan sosial dan ekonomi kota. Kota Dagang dan Ekonomi Adanya kota dagang ini ketika mundurnya peran kota - kota tradisional yang umumnya berada dipedalaman yang memiliki tradisi agraris. Kehadiran kota seperti ini seiring dengan maraknya aktifitas perdagangan antar wilayah di Nusantara di kisaran abad ke-14 atau ke-15, seiring dengan aktifnya pedagang-pedagang Arab dan Cina yang menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara. Kotakota dagang ini umumnya berada di pe-sisir dan juga sering disebut dengan kota pelabuhan. Salah satu sifat kota dagang adalah banyaknya pemukiman atau orang asing dalam ruang perkotaan. Ini juga menunjukkan berkembangnya budaya plural dalam berbagai bentuknya. Bidang ekonomi di kota sangat luas cangkupannya. Pada daerah Cirebon sendiri, usaha-usaha ekonomi orang Cina dan orang Arab, walaupun mereka terkadang mengalami hal yang sulit, akan tetapi bisa bertahan dari waktu ke waktu. Bagaimana dinamika dan keteguhan aktivitas orang Cina dan Arab inilah yang menjadi fokus Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 5 Budaya Perkotaan atau Kota Budaya Sebuah kota bisa juga dicap dengan kota budaya, ini karena kentalnya nuansa dan aktifitas kebudayaan di kota yang dimaksud. Pengembangan fisik kota pun telah diatur sedemikian rupa sejak berdirinya dengan latar belakang kekuatan budaya setempat. Namun dengan seiring perkembangan jaman kebudayaan lokal ini pengalami percampuran dengan budaya luar karena banyak pengaruh yang tidak bisa Contoh besarnya saja yaitu gaya hidup. Jaman sekarang berbeda sekali dengan jaman Semua orang fokus terhadap sesuatu yang tranding atau terkenal pada masanya kemudian masyarakat lokal pun mengikutinya tanpa memikirkan kebudayaan sendiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif atau menganalisis data sesuai dengan yang ada dilapangan agar lebih akurat. Pengumpulan Data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara melalui teknik interview dari berbagai narasumber yang mengetahui tentang perkembangan pada Koridor Jalan Yos Sudarso sedangkan observasi lapangan dilakukan untuk mengambil data gambar fisik di sekitar Koridor Jalan Yos Sudarso dan mengambil data dari Arsip Kota Cirebon. Pengolahan data atau analisis data ini dengan menulis kritik dari sumber yang telah penulis interview, mengolah data hasil observasi serta studi Jika semua data sudah ada, maka penulis pun dapat mengolah data menjadi satu kesatuan yang utuh untuk menjadi sebuah kesimpulan. Layout Keadaan Koridor Jalan Yos Sudarso pada Tahun 1924 Dalam Addendum tahun 1924 Jl. Yos Sudarso merupakan jalan yang berada di daerah pedalaman Lemahwungkuk yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Saat itu disepanjang jalan tersebut terlihat belum ada bangunan yang berdiri. Gambar 2. Layout Kawasan Kecamatan Lemahwungkuk Tahun 1924 Sumber : Addendum Tahun 1924 Layout Keadaan Koridor Jalan Yos Sudarso pada Tahun 1945 Pada tahun 1945 Pada tahun 1950an di Koridor Jalan Yos Sudarso sudah terdapat beberapa bangunan yang berdiri, diantaranya Kantor Telegram. Kantor Pos. Bank Indonesia. Kantor Residen Cirebon. Gereja Santo Yusuf. Gereja Katolik Pasundan, dan Vihara Dewi Welas Asih. PEMBAHASAN Lokasi Penelitian Koridor Jl. Yos Sudarso terletak di kawasan kota lama Cirebon. Gambar 1. Lokasi Penelitian Sumber : dokumentasi penulis, 2019 Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 Gambar 3. Layout koridor Jl. Yos Sudarso Tahun 1945 Sumber : radar cirebon Layout Keadaan Koridor Jalan Yos Sudarso pada Tahun 1950 Dari tahun 1945 sampai pada tahun 1950an perkembangan Koridor Jalan Yos Sudarso sebagian besar masih sama, barulah pada tahun 1970an Koridor Jalan Yos Sudarso sudah mulai ramai. dihitung dengan jari, banyak diantaranya lahan kosong tersebut sudah dibangun bangunan Ae bangunan baru. Keterangan : Bangunan lama Bangunan baru Tanah kosong Gambar 4. Layout koridor Jl. Yos sudarso Pada tahun 1950 Sumber : radar cirebon Layout Keadaan Koridor Jalan Yos Sudarso pada Tahun 1992-1993 Menurut RDTRW Kota Cirebon tahun 1992 Ae 1993. Jalan Yos Sudarso sudah dibangun, akan tetapi masih belum terdapat bangunan disepanjang Koridor Gambar 6. Layout Koridor Jalan Yos Sudarso Tahun 2019 Sumber : Dokumen Pribadi Perubahan Fungsi Gambar 5. Layout Koridor Jalan Yos Sudarso Tahun 1992 - 1993 Sumber : RDTRW Wilayah Kota Cirebon II dan i Tahun 1992 Ae 1993 Layout Keadaan Koridor Jalan Yos Sudarso pada Tahun 2019-2030 Pada tahun 2010 hingga saat ini . Jalan Yos Sudarso sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Disepanjang koridor lahan kosong hanya bisa Gambar 7. Fungsi bangunan di Jalan Yos Sudarso Tahun 2019 Sumber : Dokumen Pribadi Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 Perubahan fungsi dijalan Yos Sudarso dapat dilihat disepanjang koriodor pada saat ini banyak sekali lahan yang berubah fungsi yang dulu hanyalah tanah kosong kini menjadi bangunan baru dengan berbagai fungsi seperti perkantoran, pabrik, perbankan, toko, rumah tinggal dan lain sebagainya. Dari gambar 7. bisa disimpulkan bahwa total bangunan baru 46 unit, 2 unit tanah kosong, dan 5 bangunan tua. Maka dari itu terdapat 5 bangunan tua yang saat ini masih ada namun diantaranya sudah mengalami penambahan fungsi dan 47 unit yang mengalami perubahan fungsi saat ini di Koridor Jalan Yos Sudarso. 46 Unit bangunan baru ditambah satu unit tanah kosong yang dahulu merupakan Kantor Residen Cirebon. Kantor ini dibangun pada tahun 1891 dan saat ini, kantor tersebut sudah tidak ada lagi dan berubah fungsi menjadi tanah kosong yang dimiliki oleh salah satu bank dan di sepanjang trotoar depan lahan kosong ini pun terdapat banyak sekali pedagang kaki Perubahan Lahan dan Bangunan Perubahan lahan ini masih berkaitan dengan perubahan fungsi. Jika ada perubahan fungsi maka ada perubahan lahan. Perubahan lahan ini bisa dilihat dari penambahan fungsi bangunan atau penambahan bangunan yang ada pada bangunan Sedangkan perubahan bangunan yakni pada bangunan tersebut bisa dilihat dari perubahan bangunan total atau melihat dari bentuk dan fasade bangunan yang berubah atau ada yang diganti termasuk rehabilitasi bangunan. Berikut merupakan yang sudah mengalami perubahan lahan ataupun bangunan di Koridor Jalan Yos Sudarso, antara lain sebagai berikut : C Vihara Dewi Welas Asih ( Klenteng Kak Tio Sie ) pelebaran dan penambahan bangunan serta rehabilitas atau ada perbaikan Ae perbaikan pada bangunan tersebut. C Gedung Bank Indonesia Gedung Bank Indonesia didirikan pada tahun 1911 dengan fungsi sebagai perbankan. Bangunan ini awalnya seluas kurang lebih 450 M2 dan pada saat ini Bank Indonesia sudah mengalami tiga kali perubahan, diantaranya perubahan bangunan dan penambahan bangunan di area belakang Gambar 9. Bank Indonesia Sumber : gedung kearsipan kota Cirebon dan C Kantor Pos Indonesia Kantor Indonesia didirikan pada tahun 1906 dengan lahan seluas 5550 M2 serta luas bangunan mencapai 885 M2. Pada saat ini Kantor Pos Indonesia telah mengalami rehabilitas atau perbaikan Ae perbaikan pada bangunan Gambar 10. Kantor Pos Indonesia Sumber : cirebonan. com dan C Kantor residen Cirebon Kantor Residen Cirebon dibangun pada tahun 1891, saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi lahan kosong. Gambar 8. Vivara Dewi welas Asih Sumber : gedung kearsipan kota Cirebon dan Vihara Dewi Welas Asih ini didirikan pada tahun 1595 sebagai tempat beribadah bergaya arsitektur Arsitektur Tionghoa ini biasanya memiliki ciri banyak sekali ornamen dekoratif dan elemen struktur, kemudian warna yang sering digunakan umumnya menggunakan warna merah dan kuning keemasan serta memiliki ciri khas dari bentuk Pada saat ini vihara telah mengalami Gambar 11. Kantor residen cirebon Sumber : Gedung kearsipan kota Cirebon dan Jurnal Arsitektur Ae Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon / Vol 11 / No 2 / Oktober 2019 Sedangkan bangunan Gereja Katolik Pasundan dan Gereja Santo Yusuf masih dipertahankan dan berfungsi hingga saat ini. Gambar 11. Gereja Katolik Pasundan Sumber : dok pribadi,2019 Gambar 12. Gereja Santo Yusuf Sumber : dok pribadi,2019 PENUTUP Kesimpulan Koridor Jalan Yos Sudarso merupakan salah satu contoh dari perkembangan kota yang sangat pesat. Karena koridor ini memiliki potensi dari sejak dahulu yaitu sebagai pusat perdagangan wilayah Cirebon. Koridor ini juga dijuluki sebagai Kota Tua Cirebon . Perkembangan pada Koridor Jalan Yos Sudarso ini berdampingan dengan perubahan fungsi, perubahan lahan serta perubahan bangunan yang ada pada koridor tersebut. Tiga perubahan tersebut sangat berkaitan erat dan tidak bisa dipisahkan. Pembagian zona Ae zona tata ruang kota yang baik dan terarah dapat menghasilkan sebuah kota yang baik. Koridor jalan yang memiliki nilai sejarah yang kuat, pemerintah seharusnya menata serta merawat koridor tersebut supaya tetap terjaga dan menjadi potensi wisata yang bagus untuk Kota Cirebon serta tidak mencampurkan dengan banyak zona Ae zona yang berbeda hingga terlihat seperti tidak tertata dengan baik. Masyarakat setempat seharusnya ikut serta dalam memelihara bangunan tua tersebut agar tetap terjaga dengan baik. DAFTAR PUSTAKA