Penerapan Model Inkuiri untuk Meningkatkan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran IPA Johanes Paulus Trianggo Untoro1. Saparso2. Januar Heryanto3 SMP Kristen P3 Surabaya1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana2,3 untoro@gmail. com1, saparso@ukrida. id2, januar. heryanto@gmail3 ABSTRAK Pandemi COVID-19, menyebabkan metode pembelajaran di sekolah dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran jarak jauh . Pembelajaran daring yang masih berpusat pada guru dengan metode ceramah, menyebabkan persentase ketuntasan belajar siswa, masih dibawah tingkat ketuntasan sebesar 75%. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dengan tujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran model inquiri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA, melalui pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19. Penerapan model inkuiri agar siswa lebih aktif, dan berpusat pada siswa. Model inkuiri dilaksanakan dalam lima tahapan inkuiri yaitu Discovery Learning. Interactive Demonstration. Inquiry Lesson. Inquiry Laboratory dan Real-World Application. Diharapkan siswa mampu menemukan sendiri pengetahuannya sesuai pengalaman belajarnya. Hasil penelitian menunjukkan, persentase siswa yang mengalami peningkatan nilai hasil penilaian harian (HPH) dan persentase ketuntasan hasil belajar siswa meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini, pembelajaran model inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan ketuntasan belajar siswa. Kata kunci: Model Inkuiri. Prestasi. Ketuntasan Belajar. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 1 Model Pendahuluan Menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung Menurut Wisudawati dan Sulistyowati . , pembelajaran IPA pada anak-anak harus didasarkan pada penemuan pengetahuan siswa sendiri, hasil dari pengalaman belajar. Menurut Anam . , kelebihan model inkuiri adalah: Siswa didorong untuk belajar mengenai hal-hal yang penting dan mudah . Materi yang diberikan dapat bebas ti- dak terbatas pada sumber buku atau . Siswa menjadi pembelajar yang aktif, intuitif, kreatif, imajinatif dan inovatif. dibangun dan dikembangkan sesuai dengan . Siswa memiliki peluang untuk men- pengalaman belajarnya dan kemampuan emukan hal-hal yang baru Akan tetapi menurut Majid . , pembelajaran model inkuiri juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu: pendapatnya di depan kelas. Semenjak Indonesia pandemi COVID-19, maka pembelajaran dilaksanakan secara daring. Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor . Kesulitan pengontrolan kegiatan dan keberhasilan siswa . Sulit dilaksanakan karena terbentur pembelajaran daring adalah mengutamakan dengan kebiasaan siswa dalam belajar keselamatan dan kesehatan warga sekolah, . Guru kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya, karena dalam menyesuaikan perlu waktu yang panjang. Selanjutnya dalam pembelajaran . Guru sulit menerapkan, jika keber- daring guru perlu mengidentifikasi dan menggali potensi yang ada di sekitar siswa, baik sumber daya maupun sumber belajar, pembelajaran dan mengimplementasikan dalam pembelajaran daring. (Sulaeman, hasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi Beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa model inkuiri dapat berdampak bagi peningkatan prestasi belajar siswa, diantaranya : 2 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. Suseno bahwa penerapan model inquiry learning meningkatkan keterampilan abstrak dan dapat meningkatkan Prestasi Belajar siswa kelas X-9 MIPA SMA Negeri 2 Madiun Tahun Pelajaran 2015/2016. Penelitian Prasetyo dan Widjanarko . , juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada kompetensi pada pemeliharaan komponen sistem bahan bakar setelah menggunakan model pembelajaran inkuiri meningkat. Kemudian Handriani . , menyimpulkan bahwa, terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar fisika siswa kelas X SMAN 1 Gerung dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terstruktur dengan pendekatan saintifik dibandingkan dengan model pembelajaran Sumarni dan Verawati . , model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan simulasi virtual berpengaruh terhadap penguasaan konsep fisika peserta didik kelas XI MIA SMAN 1 Lembar. Berdasarkan menunjukkan dalam pembelajaran daring di SMP P3 Surabaya, guru masih menggunakan metode ceramah dan berdasarkan nilai hasil belajar harian (HPH) siswa pada materi atom, ion dan molekul, masih berada di bawah ketuntasan belajar . ,75%). Sehingga untuk meningkatkan ketuntasan belajar Berdasarkan uraian di atas, penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran model inkuiri dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA di kelas IX SMP P3 Surabaya tahun pelajaran 2021/2022. Menurut Parta, . , model pembelajaran merupakan inti dari suatu proses belajar mengajar untuk merangkaikan ketiga komponen pembelajaran yaitu bahan ajar, guru dan siswa, menjadi suatu kesatuan Menurut Sukma, et. penerapan model pembelajaran yang tepat dapat menjadikan proses pembelajaran di kelas berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sehingga menurut Rusman, . , ada empat hal yang harus dipertimbangkan guru sebelum menerapkan suatu model pembelajaran, yaitu: . tujuan pembelajaran, . materi pembelajaran, . kesiapan psikologi siswa, dan . hal-hal Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di dalam kelas hendaknya melibatkan siswa secara aktif dalam keterampilan menemukan konsep-konsep dasar dalam IPA, sehingga pembelajaran hendaknya berpusat pada siswa. (Sukma, et. Model pembelajaran inkuiri, menurut Nisa dan Astawa, . , adalah proses pembelajaran yang menjadikan siswa menjadi aktif dalam mengubah perilaku, sehingga siswa dapat menyampaikan gagasan sendiri berdasarkan pengetahuan dan keterampilan hasil dari siswa melakukan pengamatan, percobaan sesuai dengan pengalaman belajarnya baik secara langsung dan tak langsung Menurut Majid, . , strategi pembelajaran adalah suatu rencana tindakan KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 3 yang terdiri dari metode dan pemanfaatan kekuatan pembelajaran yang disusun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya Gulo, . mengungkapkan strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Untuk membuat strategi yang terarah, menurut Joyce, dalam Gulo . , perlu diciptakan kondisi-kondisi agar siswa dapat melaksanakan inkuiri secara maksimal, yaitu: . suasana kelas dalam kondisi bebas, . mengembangkan sikap kebenaran terhadap pengetahuan, . berbicara keakuratan dan kekonsistenan tentang fakta yang ada. Selanjutnya Gulo, menyatakan agar kondisi di atas dapat tercipta maka guru berperan sebagai: . motivator, . fasilitator, . penanya, . administrator, . pengarah, . manajer, dan . Menurut Anam . , ciri-ciri pembelajaran inkuiriadalah: . menempatkan siswa sebagai subyek pembelajaran, . Seluruh aktivitas pembelajaran dipergunakan siswa untuk menemukan sendiri jawaban, dan . mengembangkan kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis. Agar siswa berhasil memperoleh pengalaman belajarnya maka guru perlu menyusun tahapan-tahapan pembelajaran secara berurutan. Wenning, . , memperkenalkan tahapan inkuiri untuk pembelajaran IPA. Tahapan pembelajaran berbasis inkuiri tersebut, terdiri atas: . Discovery Learning, pada tahap ini siswa mengembangkan konsep berdasarkan pengalaman. Interactive Demonstration, siswa terlibat dalam menangani pengetahuan sebelumnya. Inquiry Lesson, siswa mengidentifikasi prinsip dan atau hubungan ilmiah. Inquiry Laboratory, siswa membuat hukum empiris berdasarkan pengukuran variabel. Realworld applications, siswa memecahkan masalah yang berkaitan dengan situasi . Hypothetical Inquiry, siswa menghasilkan hipotesis dan menguji Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan lima tahapan yaitu. Discovery Learning. Interactive Demonstration. Inquiry Lesson. Inquiry Laboratory dan Real-world Applications. Hal ini didasarkan pada: Tingkat kemampuan dan kematangan berpikir siswa serta disesuaikan dengan sifat materi pembelajaran. (Tim IBL P4TK IPA, . Keselamatan dan kesehatan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran daring, dimasa pandemi COVID-19, dan . Ketersediaan alat dan bahan yang ada di sekitar rumah siswa Dalam proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Penilaian harus memperhatikan prinsip-prinsip: . sahih, dapat diukur, . objektif, berdasarkan pedoman penilaian, . adil, . terpadu, tidak menyimpang dari kegiatan pembelajaran, . terbuka, siswa mengetahui sistem penilaian, 4 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. menyeluruh dan berkesinambungan, . sistematis, terencana dan bertahap sesuai indikator ketercapaian KD, . berdasar kriteria, dan . akuntabel, dapat (Direktorat Pembinaan SMP, 2. Bloom, dalam Daryanto, . , menggolongkan penilaian hasil belajar ke dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan Penilaian dalam model inkuiri dapat bertujuan untuk mengukur pemahaman dan fenomena-fenomena kejadian sehari-hari. Oleh karena itu bentuk tes dalam metode inkuiri dapat berupa tes (Nilakusmawati , 2. Prestasi belajar yaitu suatu hasil usaha individu yang diperoleh setelah ia melakukan aktivitas atau proses belajar yang diberikan oleh guru dan dinyatakan dalam Menurut Ahmadi dan Supriyono, . , faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu : . faktor dari dalam diri siswa, seperti jasmani dan intelektual serta unsur-unsur kepribadian, kematangan fisik maupun psikis. faktor dari luar diri siswa, seperti lingkungan keluarga, sekolah, 32 siswa, yang terdiri dari 17 siswi dan 15 siswa, dengan kemampuan akademik yang heterogen, serta berusia 14 Ae 15 tahun dan dilaksanakan dari bulan Juli Ae November Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam ranah pengetahuan maka, siswa akan diberikan tiga jenis penilaian harian yaitu, penugasan, quis d a n ulangan harian. Penilaian quis dan ulangan harian akan diberikan dalam bentuk Google form. Penugasan diberikan di setiap akhir tahapan inkuiri, quis diberikan di tengah kegiatan pembelajaran dan ulangan harian diberikan di akhir siklus. Untuk mendukung data utama, maka peneliti akan melakukan observasi keaktifan siswa, pengambilan angket dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dengan tujuan untuk menjawab masalah dari penelitian ini yaitu: Meningkatkan prestasi belajar siswa. Data hasil penilaian harian ditentukan dengan rumus: HPH = T Q UH Keterangan: HPH = Hasil penilaian harian T = Tugas METODE PENELITIAN Q = Quis Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK), model Kemmis & MCTaggart, dengan dua siklus dan untuk tiap siklusnya terdiri dari enam pertemuan. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX-7 SMP Kristen P3 Surabaya, tahun UH = Ulangan harian pelajaran 2021/2022, dengan jumlah siswa Prestasi belajar siswa baik, bila memiliki nilai HPH minimal sama dengan 75, yaitu nilai Kriteria Ketuntasan Mianimal (KKM). KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 5 Data prestasi belajar dinyatakan dengan persentase, menggunakan rumus: PK = SK x 100% Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah minimal 75% dari seluruh siswa di kelas mengalami ketuntasan belajar dengan memperoleh nilai hasil penilaian harian (HPH), minimal sama dengan nilai KKM. Keterangan: PK= Persentase jumlah siswa, yang memiliki nilai HPH minimal sama dengan KKM SK = Jumlah siswa yang memperoleh nilai Ou KKM TS = Total siswa Pembahasan Pada kegiatan prasiklus, diperoleh data persentase ketuntasan belajar siswa pada nilai HPH pada materi atom, ion dan molekul, seperti yang terlihat pada tabel 1. Tabel. 1 Ae Pengelompokan Hasil Penilaian Belajar pada Kegiatan Prasiklus. No. Kriteria Tugas 1 Quis 1 Tugas 2 Jumlah Siswa dengan Nilai < 75 Jumlah Siswa dengan Nilai C 75 Persentase Ketuntasan 53,13% 84,38% 78,13% 68,75% HPH Keterangan : HPH = Hasil Penilaian Harian pada kegiatan prasiklus. Dari tabel 1, terlihat bahwa dari hasil penilaian harian (HPH) pada prasiklus yang merupakan nilai rata-rata dari tiga penilaian harian yang dilakukan, ternyata masih ada 10 siswa yang memiliki nilai di bawah 75. Hal ini mengakibatkan ketuntasan hasil belajar harian yang diperoleh adalah sebesar 68,75%. Untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa, makapeneliti melakukan pembelajaran model inkuiri. Pada siklus pertama, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam lima tahapan inkuiri, seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2 Ae Tahapan Inkuiri dalam Pembelajaran Siklus Pertama. Pert. Tahapan Discovery Learning Materi Kegiatan siswa Cara memberikan muatan listrik pada suatu benda Melakukannya virtual lab AuStatic electricityAy Pengaruh medan listrik pada benda bermuatan Melakukan virtual lab Auchargesand-fieldsAy Interactive Demonstration Hukum Coulomb Kegiatan virtual lab AuCoulombslawAy dan quis Inquiry Lesson Menyusun rencana percobaan Membuat rancangan percobaan Inquiry Laboratory Percobaan mandiri Memberi muatan 6 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. Real-World Application Gejala alam dan penerapan listrik Ulangan Harian Menganalisa kinerja elektroskop, dan fenomena petir dan penangkal petir dihubungkan dengan gejala listrik statis serta tentang generator Van de Graff. Mengerjakan ulangan harian Dari kegiatan penilaian harian berupa penugasan, quis dan ulangan harian pada siklus pertama, diperoleh data persentase ketuntasan belajar siswa seperti pada tabel 3. Tabel. 5 Ae Pengelompokan Hasil Penilaian Belajar pada Siklus Pertama. No. Kriteria Tugas Quis Ulangan HPH Jumlah Siswa dengan Nilai < 75 Jumlah Siswa dengan Nilai C 75 Persentase Ketuntasan 78,13% 71,88% 75,00% 71,88% Keterangan : HPH = Hasil Penilaian Harian pada siklus pertama Bila kita bandingkan hasil pada tabel 1 . dengan tabel 5, terlihat Sehingga hal ini mengakibatkan persentase ketuntasan pada HPH walaupun ketuntasan belajar siswa pada penugasan, terjadi peningkatan mencapai 78,13%, tetapi dari hasil penilaian quis ketuntasan belajar siswa hanya 71,88%, dan ulangan harian ketuntasan mencapai 75,00%. meningkat menjadi 71,88%, akan tetapi masih di bawah ketuntasan yang diinginkan yaitu 75%. Penurunan nilai quis pada siklus satu, dibandingkan pada kegiatan prasiklus seperti terlihat pada grafik 1. Prosentase Grafik Perbandingan Prosentase Ketuntasan Quis antara Prasiklus dengan Siklus 1 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% Prasiklus Siklus 1 84,38% 71,88% Grafik 1 Ae Perbandingan Persentase Ketuntasan Quis antara Prasiklus dengan Siklus Pertama. Penyebab keenam siswa mengalami penurunan hasil quis pada siklus satu, yaitu : Ada perbedaan dalam pengerjaan quis. Siswa merasa kurang paham terhadap instruksi yang diberikan. Siswa merasa kurang mampu dalam operasi matematika. KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 7 Tahapan inkuiri pada siklus kedua juga dilaksanakan dalam lima tahap inkuiri, seperti terlihat pada tabel 4. Olah karena pada siklus pertama, tujuan penelitian belum terpenuhi maka, peneliti melanjutkan pada siklus kedua. Tabel 4 Ae Tahapan Inkuiri dalam Pembelajaran Siklus Kedua. Pert. Tahapan inkuiri Materi Kegiatan siswa Discovery Learning Prinsip dan sifat Melakukan virtual lab Aubar kemagnetanAy. Inquiry Lesson Cara membuat melakukan virtual lab, tentang perbedaan sifat kemagnetan Induksi elektromagnet Melakukan virtual lab AuElektromagnetAy dan AuPickup coilAy. Inquiry Laboratory Prinsip kerja Melakukan kegiatan virtual lab AuTransformerAy Interactive Demonstration Menghitung besaran pada transformator Mengerjakan quis Inquiry Laboratory Prinsip Generator Melakukan virtual lab AuGeneratorAy Real-World Application Penerapan Menganalisa pemanfaatan sifat kemagnetan bumi yang berhubungan dengan navigasi pada makhluk hidup Ulangan harian 2 Mengerjakan ulangan harian Dari hasil penilaian harian pada siklus kedua, persentase ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel 5. Tabel. 5 Ae Pengelompokan Hasil Penilaian Belajar pada Siklus Kedua. No. Kriteria Tugas Quis Ulangan HPH Jumlah Siswa dengan Nilai < 75 Jumlah Siswa dengan Nilai C 75 Persentase Ketuntasan 78,13% 81,25% 81,25% Keterangan : HPH = Hasil Penilaian Harian pada siklus kedua ketuntasan quis dari 71,88% menjadi 78,13% dan persentase ketuntasan ulangan harian dari 75,00% menjadi 81,25%. (HPH) siswa pada materi kemagnetan telah mencapai 81,25%. Pada penelitian ini persentase siswa bertanya kepada guru pada kegiatan zoom, pada siklus pertama sebesar 22,32% dan 23,21% pada siklus kedua, kecilnya persentase siswa bertanya, disebabkan karena siswa merasa Autidak nyaman/maluAy bila bertanya kepada guru secara langsung. persentase ketuntasan asil penilaian harian Hal ini sejalan dengan, hasil penelitian Dari tabel 5, di atas apabila dibandingkandengantabel3(Pengelompokan hasil penilaian belajar pada siklus pertam. terlihat bahwa ketuntasan belajar siswa pada nilai penugasan mengalami peningkatan dari 78,13% menjadi 100%, persentase 8 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. Kurniasari, et al . yang menyatakan, dalam pembelajaran tatap muka melalui zoom, siswa memiliki perasaan malu untuk mengajukan pendapat secara langsung. Dari hasil HPH siswa pada kegiatan prasiklus, siklus pertama dan siklus kedua, jika diubah dalam bentuk grafik batang, maka akan terlihat seperti pada grafik 2. Grafik 2 - Perbandingan peningkatan nilai HPH setiap siswa pada prasiklus, siklus pertama dan siklus kedua Dari grafik 2 di atas, terlihat bahwa secara menggunakan model inkuiri secara umum dapat meningkatkan nilai HPH siswa. Bila dibandingkan antara nilai HPH pada prasiklus dengan siklus pertama dan kedua, terlihat bahwa sebanyak 25 siswa atau sebesar 78,13% mengalami peningkatan nilai HPH. Besarnya peningkatan setiap siswa pasti berbeda-beda, hal ini bergantung pada pengalaman belajar para siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sukma, et al . , yang menyimpulkan bahwa model pembelajaran yang berpusat pada siswa akan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga membantu siswa dalam memahami materi, dengan memahami materi pembelajaran maka prestasi belajar siswa dapat meningkat. Setelah pelaksanaan siklus kedua peneliti membagi siswa kelas IX-7 berdasarkan perkembangan nilai hasil belajar harian (HPH) ke dalam empat kelompok, seperti yang terlihat pada tabel. 6, yaitu: Tabel. 6 Ae Pembagian Kelompok Siswa Berdasarkan Perkembangan Nilai HPH. Kelompok Jumlah Persentase Atas 62,5% Menengah atas 18,75% Menegah bawah Bawah 6,25% 12,5% Total KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 9 penyebab smartphone tersebut tidak dapat mendukung aplikasi pembelajaran sehingga menghambat siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran daring. Kelompok siswa atas, yaitu siswa yang memiliki nilai hasil penilaian harian (HPH) sudah di atas nilai KKM, sebelum pelaksanaan penelitian. Kelompok siswa menengah atas, yaitu siswa yang mengalami peningkatan nilai HPH- nya menjadi di atas nilai KKM, setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Pertiwi . , pembelajaran model inkuiri terbimbing, mampu meningkatkan hasil belajar siswa X MIA 5 SMA Negeri 3 Gowa. Kelompok siswa menengah bawah, yaitu siswa yang mengalami penurunan nilai HPH- nya menjadi di bawah nilai KKM, setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri. Penurunan persentase ketuntasan pada kelompok, disebabkan : Terkendala pada koneksi internet, sehingga sering mengalami disconnect atau keluar masuk dalam kegiatan pembelajaran daring . serta spesifikasi HP yang kurung mendukung, sehingga siswa mengalami kesulitan di dalam belajar. Hal ini didukung dengan hasil penelitian. Astuti dan Febrian . , menyatakan bahwa koneksi internet yang tidak stabil dapat menjadi kendala dalam proses pembelajaran Selanjutnya. Arum dan Susilaningsih, . menyatakan bahwa RAM Smartphone yang kecil menjadi Berdasarkan alasan yang diungkapkan, peneliti menilai penurunan nilai HPH, disebabkan siswa tidak memiliki minat pada pelajaran IPA, sehingga siswa tidak memiliki motivasi untuk berprestasi dalam belajar. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ahmadi dan Supriyono . , bahwa siswa yang tidak memiliki minat terhadap pembelajaran akan mengalami kesulitan dalam belajarnya. Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian Alam . , yang menyatakan bahwa minat belajar memberikan pengaruh yang linier terhadap hasil belajar siswa, dalam arti jika minat belajar meningkat akan meningkatkan prestasi belajar siswa dan Selanjutnya mengutip dari pernyataan. Sukma, et. AuMotivasi memegang peranan yang cukup besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Tanpa motivasi siswa tidak dapat belajar. Ay . Kelompok siswa bawah, yaitu siswa yang memiliki hasil penilaian harian (HPH) tetap berada di bawah nilai KKM, setalah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Pada kelompok bawah ini, tidak tuntasnya mereka dalam pem- 10 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. belajaran IPA dikarenakan kemampuan mereka di dalam memahami materi khususnya materi yang berhubungan dengan numerasi atau operasi perhitungan matematika tidak secepat teman-teman mereka serta tidak displin dalam mengumpulkan tugas sehingga sering telambat. Hal ini sesuai dengan apa yang nyatakan Afandi. , et. bahwasanya salah satu yang menjadi penyebab kelemahan model inkuiri, adalah siswa yang memiliki kemampuan kurang, akan mengalami kesulitan dalam mempelajari materi yang bersifat abstrak, sehingga siswa tidak dapat mengembangkan gagasan sebagai hasil belajarnya baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Keberhasilan pembelajaran di kelas dapat dilihat dari banyaknya siswa yang memiliki nilai HPH di atas KKM, maka dari 7 dan grafik. 2, menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model inkuiri dapat meningkatkan persentase ketuntasan belajar siswa. Pada penelitian ini, persentase ketuntasan belajar siswa yang sebesar 68,75% pada kegiatan pembelajaran pada prasiklus, meningkat menjadi 71,88% pada akhir kegiatan pembelajaran siklus Selanjutnya pada akhir kegiatan pembelajaran siklus kedua persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 81,25%. Besarnya persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 81,25% ini, melebihi dari standar persentase yang disepakati MGMP sekolah sebesar 75%. Perbandingan ketuntasan belajar siswa, dari kegiatan penilaian harian berupa, tugas, quis dan ulangan harian, pada antara prasiklus, siklus pertama dan siklus kedua, maka dapat dilihat bahwasanya ada peningkatan ketuntasan pada hasil penilaian harian (HPH) dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7 - Perbandingan Persentase Ketuntasan Belajar pada Prasiklus. Siklus Pertama dan Siklus Kedua. No. Jenis Penilaian Harian Persentase Ketuntasan Prasiklus Tugas 1 53,13% Siklus Pertama 78,13% Siklus Kedua Tugas 2 Quis 78,13% 84,38% 71,88% 78,13% Ulangan harian 75,00% 81,25% HPH 68,75% 71,88% 81,25% Keterangan : HPH = Hasil Penilaian Harian Sehingga berdasarkan uraian di atas maka, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa, baik secara individu, dengan meningkatnya nilai HPH siswa serta meningkatnya ketuntasan belajar KOMPETENSI - JURNAL MANAJEMEN BISNIS. VOL. NO. JANUARI - JUNI 2021 | 11 siswa secara klasikal. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Ulansari, et al . , menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan persentase ketuntasan belajar secara klasikal. Demikian juga, hasil penelitian Astutik, et al . , pembelajaran inkuiri, ketuntasan belajar individu dan ketuntasan belajar secara klasikal dalam pembelajaran IPA dapat secara individu sebesar 78,13 %, atau sebanyak 25 siswa. Kesimpulan dan Saran menyampaikan permasalahan kepada guru dan orangtua, akan kesulitan yang dihadapi saat pembelajaran, . orangtua, memberi fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran kepada siswa, khususnya berupa perangkat dan jaringan internet yang memadai, . guru, melaksanakan team teaching dalam pembelajaran di kelas, dan . Pihak sekolah, tetap memberikan fasilitas yang menunjang berlangsungnya pembelajaran khususnya pembelajaran daring. Serta untuk penelitian selanjutnya, peneliti menyarankan agar dalam melakukan penelitian, peneliti dapat melakukan penelitian ini secara team Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan prestasi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa bila pembelajaran dengan model inkuiri dilaksanakan dengan benar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dalam hal ini meningkatkan nilai HPH siswa secara individu dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil Pasa saat sebelum kegiatan siklus pertama dilakukan, terdapat 10 siswa yang memiliki nilai HPH belum tuntas, setelah siklus pertama dilakukan dari 10 siswa tersebut, dua siswa dapat menuntaskan nilai HPH, dan di akhir siklus kedua empat siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Sehingga hal ini menunjukkan pembelajaran dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 60%. Pembelajaran model inkuiri juga dapat meningkatkan persentase ketuntasan belajar siswa, hasil penelitian menunjukkan persentase ketuntasan belajar siswa pada prasiklus sebesar 68,75%, meningkat menjadi 71,88% pada akhir siklus pertama kemudian meningkat kembali menjadi 81,25% pada akhir siklus kedua. Berdasarkan hasil temuan yang diperolah peneliti selama melaksanakan penelitian ini, maka peneliti memberikan saran antara lain: . siswa, berani teaching, sehingga permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran daring dapat segera ditemukan solusinya. Selain dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, pembelajaran dengan model inkuiri dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan meningkatnya nilai HPH 12 | PENERAPAN MODEL INKUIRI UNTUK. (Johanes. Saparso. Januar. REFERENSI