Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Pathur Rahman UIN Raden Fatah Palembang Rahman111@gmail. ABSTRAK Tafsir al-Azhar karya Hamka di dalam penafsirannya jelas menampakkan adanya operasional-fungsional hermeneutika al QurAoan, meskipun secara metodologis tidak secara utuh dan sinergis dalam merepresentasikan hermeneutika al QurAoan sebagai metode penafsiran. AuTaslimAy yang dimaksud Hamka di dalam haluan tafsir al-Azhar terhadap akidah dan ibadah adalah persolan kaifiyat berakidah dan beribadah bukan pada pemahaman dan spirit ayat. Tidak digunakannya istilah sebutan hermeneutika di dalam tafsir al-Azhar tidak meniscakan ketiadaan gagasan hermeneutis atau operasional-fungsional di dalam studi al-QurAoan. Karena itu, upaya melakukan kontekstualisasi al-QurAoan, sebagaimana digagas oleh hermeneutika ketika berhadapan dengan teks dalam mengejawantahkan makna al-QurAoan sholihun likulli zaman wa makan sebagai solusi kekiniaan, untuk lebih membumikan al-QurAoan telah lama Kata Kunci: Hermeneutika. Tafsir al-Azhar. Opersional-fungsional. Abstract Hamka's interpretation of al-Azhar in his interpretation clearly reveals the operationalfunctional hermeneutics of the Qur'an, although methodologically it is not as a whole and synergistic in representing the Qur'an's hermeneutics as a method of interpretation. "Taslim" referred to by Hamka in the direction of al-Azhar's interpretation of aqidah and worship is the statement of faith and worship not on the understanding and spirit of the verse. The non-use of the term hermeneutics in al-Azhar's interpretation does not require the absence of hermeneutical or operational-functional ideas in the study of the Qur'an. Therefore, efforts to make contextualization of the Qur'an, as initiated by hermeneutics when dealing with text in embodying the meaning of the Qur'anic sholihun likulli era wa makan as a Christian solution, to further earth the al-Qur'an has long been done. Keywords: Hermeneutics. Interpretation of al-Azhar. Operational-functional. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Pendahuluan Al-QurAoan merupakan mukjizat utama sekaligus bukti kebenaran kenabian yang diutus oleh Allah (Aby Bakar Muhammad ibn al-ayyib al-Byqilyny, . Nabi Saw. sebagai sumber tasyri dan hukum yang menuntut kaum muslimin untuk mengetahui, mendalami dan mengamalkan segala isinya. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang halal-haram, perintah dan larangan, etika dan akhlak, dan lainnya, yang kesemuanya harus dipedomani oleh mereka yang mengaku menjadikan Al-QurAoan sebagai Kitab Sucinya. Sebagai wahyu, ia merupakan komunikasi . antara Tuhan dengan utusan-Nya (Muhammad Husain al-TabatabaAoi, 1991 : 73-. Dengan kata lain, wahyu merupakan sebuah relasi komunikasi antara dua pihak yang mengandung pemberian informasi pesan secara samar dan rahasia (Abd al-Qadir AoAta, . Oleh karena itu, pemberian informasi dalam proses komunikasi hanya dapat berlangsung dengan menggunakan metode bersama antara pengirim dan penerima. Autentisitas al-QurAoan menjadi hal yang mutlak harus diyakini oleh umat Islam. Tidak hanya berdasarkan dalil teologis bahwa al-QurAoan bebas dari kesalahan dan kekurangan melainkan juga didukung oleh fakta sejarah dan lain-lain. Al-QurAoan diriwayatkan secara mutawatiryang tidak mungkin mengandung unsur-unsur praduga, kebenarannya bisa dipastikan dan teruji bahkan dari berbagai aspek (Syekh Muhammad Ghazali, 1999 : 22-. Umat Islam meyakini bahwa al-QurAoan merupakan petunjuk final bagi hidup manusia tidak bisa dieliminasi. Upaya untuk memahami dan menafsirkan al-QurAoan telah berjalan sejak generasi pertama Islam, bahkan dapat dikatakan Nabi Muhammad sendiri sampai tahap tertentu juga melakukan upaya yang serupa, meskipun setiap muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad tidak mungkin salah dalam memahami atau menafsirkan al-QurAoan, karena Allah selalu mengontrol pikiran dan perkataannya. Dalam perkembangannya, cara untuk memahami dan menafsirkan al-QurAoan ini dibakukan dalam satu disiplin ilmu tertentu yang kemudian dikenal sebagai Au Ilmu TafsirAy. Dalam peta ilmu-ilmu keislaman, ilmu tafsir termasuk ilmu yang belum matang dan terbuka untuk diperbaharui dan dikembangkan (Hamim Ilyas, 2009 : . Salah satu tema yang berkembang dan sering manjadi bahan diskusi dalam dunia tafsir dan ilmu tafsir adalah bagaimana membumikan al-QurAoan atau lebih tepatnya bagaimana memahami al-QurAoan secara kontekstual. Di satu pihak pemahaman yang kontekstual itu merupakan kebutuhan umat Islam untuk merujuk kepada al-QurAoan dalam berbagai aspek kehidupan, di lain pihak, tafsir yang kontekstual itu tentunya akan menjadi bukti bahwasanya al-QurAoan memang merupakan yang final dan operasional dalam berbagai ruang dan waktu. hylihun li kulli zamyn wa maky. Oleh karena itu, setiap metode berhak untuk hidup dan berkembang, meskipun tentunya masing-masing metode merupakan hasil karya manusia yang tidak bersih dari kelemahan. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, tuntutan akan tafsir alQurAoan yang operasional dan dapat dijadikan pegangan dalam merespons tuntutan zaman ini merupakan satu tantangan sekaligus kebutuhan bagi umat Islam. Betapapun tidak mudah untuk melaksanakan ide kontekstualisasi al-QurAoan, upaya kearah ini telah berlangsung sejak lama. Hal itu telah terbukti dengan banyak munculnya kitab-kitab tafsir al-QurAoan dengan tokoh dan ciri khasnya masing-masing dalam khazanah kepustakaan muslim, yang berusaha untuk memahami al-QurAoan secara kontekstual dalam menjawab persoalan-persoalan yang muncul pada zaman ketika tafsir tesebut disusun secara operasional dan fungsional (Muhammad Husein Al-Zahabi, . Tafsir jenis ini pada dasarnya ingin agar petunjuk-petunjuk dari al-QurAoan dapat digali dan dimanfaatkan secara fungsional oleh umat Islam dalam kehidupan nyata di dunia ini. Menurut J. Baljon, tafsir semacam inilah yang disebut sebagai tafsir modern (J. Baljon, 1999 : . Dalam lintasan perkembangan sejarah pemikiran Islam di Indonesia selanjutnya. Hamka tercatat sebagai salah seorang pemikir Islam modern yang sangat produktif. Ini ditunjukkan dengan begitu banyak karyanya dalam bidang keislaman, dan yang paling fenomenal dari sejumlah karyanya itu adalah tafsir al-Azhar yang dicatat sebagai maha Kemampuan Hamka sungguh mengagumkan, mengingat beliau bukanlah seorang sarjana dengan pendidikan formal yang tinggi. Hamka hanya otodidak. Beliau merepresentasikan peralihan transmisi . ewarisan ilmu-ilmu keislama. dari corak tradisional, atau meminjam istilah Azyumardi Azra dari isnad dan silsilah . ata rantai pewarisa. tradisional menjadi isnad dan silsilah modern (Azumardi Azra, 1998 : . Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka yang memperlihatkan keluasan pengetahuan beliau, yang hampir mencakup semua disiplin ilmu penuh berinformasi. Hamka memposisikan penafsirannya di antara riwayah dan diroyah dengan cara memelihara hubungan di antara naql dan akal. Sumber penafsiran yang dipakai oleh Hamka antara lain, al-QurAoan, hadith nabi Saw. , pendapat tabiAoin, riwayat dari kitabkitab tafsir muAotabar seperti al Manyr, tafsir al Maryghi, tafsir al Qysimi dan tafsir Fy zilal al-QurAoyn karya Saiyid Quthub (Hamka, 1982 : 40-. Tafsir al-Azhar ditulis dalam bentuk pemikiran dengan gaya penulisannya yang bercorak sosial kemasyarakatan . dabi ijtimyAo. yang dapat disaksikan dengan begitu kentalnya warna setting sosial budaya Indonesia yang ditampilkan oleh Hamka dalam menafsirkan ayatayat al-QurAoan. Hasjimi meletakkan Hamka setingkat lebih tinggi dari seorang Hamzah Fansuri yang dikenal sebagai seorang ulama besar, ahli sufi ternama dan pujangga Islam Melayu terbesar di zamannya pada akhir abad XVI dan awal abad XVII (Hasjimy, . Berdasarkan penelitian Howard M. Federspiel terhadap kitab-kitab tafsir yang dihasilkan oleh para cendikiawan muslimIndonesia, hanya tafsir al-Azhar karya Hamka yang membicarakan konteks sejarah dari ayat-ayat al-QurAoan dan kaitannya dengan peristiwa-peristiwa kontemporer (Howard M. Federspiel, 1996 : . Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Sejalan dengan kebutuhan akan metode penafsiran yang bercorak kontekstual, dalam dunia filsafat berkembang satu metode panafsiran yang dipandang cukup representatif dan komprehensif untuk mengolah teks serta sangat intensif dalam menggarap kontekstualisasi. Metode penafsiran ini dianggap memiliki nilai akurasi dan validitas yang tinggi ketika mengolah teks. Metode ini dikenal sebagai Hermeneutika (Fakhruddin Faiz, 2002 : . Hermeneutika pada dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan symbol yang berupa teks atau sesuatu yang diberlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, dimana metode hermeneutika ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang (Sudarto, 1996 : . Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh hermeneutika di antaranya adalah bagaimana orang memahami teks atau sesuatu yang dianggap teks?Bagaimana orang yang berbeda, berbeda pula pemahamannya? Bagaimana orang yang sama dalam kondisi yang berbeda, berbeda puladalam memahami teks? (Sudarto, 1996 : . Belakangan, metodologi tafsir yang sudah dirumuskan dalam studi ulum alQurAoan atau Ushulat-Tafsir . etodologi tafsir klasi. mendapat kritikan dari intelektual modern seperti Nasr Hamid Abu Zayd. Bagi Abu Zaid, ulum al-QurAoan selama ini telah terbelenggu oleh Aukepentingan-kepentingan ideologisAy. Dengan menukil kalimat asSuyuthi, ia menilai kalangan yang tidak setuju terwujudnya Aukesadaran ilmiahAy tidak membaca perkataan as-Suyuthi (Perkataan yang dinukil Abu Zayd, 2008 : . Hermeneutika merupakan tawaran intelektual muslim modernis dalam mengejawentahkan makna al-QurAoan shylihun likulli zamyn wa hyl wa makyn. Hermeneutika al-QurAoan ditawarkan sebagai metodologi tafsir al-QurAoan, sebagai solusi untuk lebih membumikan al-QurAoan. Di Indonesia sendiri tidak sedikit intelektual muslim yang menggugat studi hermeneutika dalam ilmu al-QurAoan, namun juga banyak yang menuliskan dukungannya terhadap studi tersebut. Interpretasi Hamka terhadap teks ayat tidak meninggalkan sejarah konteks ayat itu diturunkan, namun ia juga memberikan wawasan pemahaman ayat dengan memperhatikan kajian-kajian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika tafsir al-Azhar ditulis. Maka akan melahirkan pemahaman yang rasional dan komprehensif, di samping itu tafsir al-Azhar dengan corak kontekstual adalah metode penafsiran yang paling dekat dengan metode hermeneutika dalam filsafat. Atas dasar inilah, maka tema pokok penelitian ini adalah Hermeneutika al-QurAoan Tafsir Al-Azhar (Analisis Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Kerangka Teori Pengertian Dan Ruang Lingkup Hermeneutika Secara etimologis, kata AuhermeneutikaAy berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti AumenafsirkanAy, dan dari kata hermeneuin ini dapat ditarik kata benda hermeneia yang berarti AupenafsiranAy atau AuinterpretasiAy dan kata hermeneutes yang berarti interpreter . , (E. Sumayono, 1999 : . Dari asal kata itu berarti ada dua perbuatan. menafsirkan dan hasilnya, penafsiran . , seperti halnya kata kerja AumemukulAy dan menghasilkan AupukulanAy. Kata tersebut layaknya kata-kata kerja dan kata bendanya dalam semua bahasa. Kata Yunani hermeios mengacu pada seorang pendeta bijak. Delphic. kata hermeios dan kata kerja yang lebih umum hermeneuein dan kata benda hermeneia diasosiasikan pada Dewa Hermes, dari sanalah kata itu berasal (Richard E. Palmer, 2005 : . Pada mitologi Yunani kuno, kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes, yaitu seorang dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan . dari sang dewa kepada manusia. Menurut versi mitos lain. Hermes adalah seorang utusan yang memiliki tugas menafsirkan kehendak dewata dengan bantuan kata-kata manusia. Pengertian dari mitologi ini kerapkali dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci, yaitu menafsirkan kehendak Tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab suci (Fakhruddin Faiz, 2003 : . Dengan demikian, hermeneutik pada dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, dimana metode hermeneutik ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang (Sudarto, 1996 : . Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa hermeneutika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana menafsirkan. Dapat juga dikatakan sebagai cara kerja yang harus ditempuh oleh siapapun yang hendak memahami suatu teks, baik yang terlihat nyata dari teksnya maupun kabur bahkan tersembunyi akibat perjalanan sejarah atau pengaruh ideologi dan kepercayaan. Interpretasi Hermenutis Ayat Akidah Ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 219 misalnya. AEaAC ECaEa aOEAEAOEAaEa EECACAoAEaA eaECAAoAACa ECaCsEaACA EnAaEAaEaA aOEaACOEaE EAAEAu A EaCaEICECaOEa EUCsEAOACCEa ENEIAE aeAEAACECACE A aECsCAAEAAIAA EAaEACAAEAA EaAsCACEAIa EAaEa Ca eaAEAAECE CoCAEaACACUAA A aEEAEEa EOAAEAu aEAEaEAoECE AACUaC CoCaeAEAACECACEa A aOEaAEaeCAe ENEUEOeO Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir Terlebih dahulu hamka menuliskan asbab al Nuzul ayat ini yang didasarkan dari riwayat Imam Ahmad dari Abi Hurairah, ketika Rasul Saw. Telah sampai di Madinah, beliau dapati orang suka sekali minum-minuman keras yang memabukkan dan suka pula berjudi dan makan dari hasil perjudian itu. Rupanya banyak yang pemabuk dan kalau ada yang berjudi, tentu kerap terjadi pertengkaran. Inilah yang menyebabkan ada yang datang kepada Rasulullah menanyakan bagaimana ketentuan agama tentang minuman keras dan perjudian itu (Hamka, 1982 : . Hamka menjelaskan bahwa pada ayat ini Rasulullah disuruh memberikan jawaban yang berisi mendidik yang mengajak berfikir: Aukatakanlah pada keduanya itu ada dosa besar dan ada pula manfaat bagi manusiaAy. Adapun dosa besarnya adalah orang yang minum sam. pai mabuk, tidak akan dapat lagi mengendalikan diri dan akal Nafsu buruk tidak dapat lagi ditekan dengan kesopanan, datang panggilan shalat karena mabuknya maka tidak perduli lagi, orang yang mabuk dengan tidak sadar memukul orang bahkan bisa sampai membunuh dan kelak kalau sudah sadar dia merasa Pendeknya amat besarlah dosa yang timbul dari mabuk itu, sebab menjatuhkan mertabat sebagai manusia. Merusak kepada pencernaan makanan, karena panas bekasnya, meskipun manfaatnya ada. Orang yang tadinya kurang berani, kalau sudah mabuk, menjadi berani dan gagah, tidak takut menghadapi musuh (Hamka, 1982 : Hamka juga menuliskan orang-orang yang insyaf di negara-negara Barat mengakui, seperti ahli sejarah bangsa Inggris. Arnol Toynbee mengatakan bahwasanya larangan minuman dan berjudi dari nabi Muhammad Saw. Itu berhasil dengan sangat baik dan berbekas sampai sekarang. Demikian pula Jef Last, pengarang Belanda yang lama tinggal di Indonesia yang mengakui kekagumnya, betapa meriah kaum muslimin Indonesia di waktu lebaran, namun yang mabuk karena minum tidak ada. Padahal katanya minuman keras itulah yang menjadi cacat besar bangsa barat ketika terjadi perayaan Chrismas. Dalam konteks historis keindonesian ketika dibawah kekuasaan pemerintah penjajah. Hamka ungkapkan betapa mereka berusaha merusak jiwa kaum muslimin, kaum penjajah berupaya bagaimana agar mereka mabuk dengan minuman dan sengsara karena berjudi. Menjadi rahasia umum di beberapa negeri di Indonesia di zaman jajahan bahwa pegawai-pegawai yang dinamai B. Amtenar, sebagai demang-demang di Sumatera Barat. Sultan-sultan di Sumatera Timur, bupati-bupati di Jawa banyak yang melarat karena mabuk, terutama karena judi. Bahkan beberapa Raja diajari minum Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. candu, dibawakan oleh kontelir ke istana, sebagai hadiah. Didirikan Pabrik-pabrik bir di Surabaya dan di tempat-tempat lain di Indoensia. Jika dipahami secara kontekstual terhadap pandangan Hamka tersebut, maka jika dikaji dari konteksnya, hal ini menjadi bagian yang melatar belakangi mengapa repotnya pekerjaan setelah kemerdekaan menyadarkan meraka kembali karena telah banyak yang suka minum dan judi (Hamka, 1982 : 261-. Rangkaian kerangka penafsiran Hamka di atas sangat mencerminkan betapa pendekatan penafsiran ayat dengan teori double movement yang ditawarkan Fazlurrahman dapat dijumpai di dalam tafsir al-Azhar. Uraian penafsirannya ia mulai dengan asbab al-Nuzul ayat sebagai konteks mikro teks atau ayat 219 surat al-Baqarah yang diperluas dengan historis bangsa Arab jahiliah pada masa itu yang menganggap suatu hal yang biasa dan tidak ada yang salah terhadap kegemaran atau kebiasaan mereka dengan budaya minum-minuman . dan perjudian, sebagai konteks secara makro. Penafsiran kontekstual Hamka pada ayat-ayat ini bisa dipahami bagaimana ia memunasabahkan orang yang berprilaku serupa yang banyak dijumpai di Indonesia pada saat itu. Ketika terjadi revolusi Indonesia menuntut kemerdekaan, di Medan terkenallah kalimat Aupak BadauAy!. Badau ialah sebangsa ikan yang senang sekali memakan anaknya sendiri, kaum pencari untung atau AuPPAAy, potongan dari Aupartai penengok anginAy berkeliaran dimana-mana. Mereka menegakkan kekuasaan sendiri, menjadi orang kaya baru, menjadi worlord, yaitu orang kaya karena perang. Orang lain mati-matian bersabung nyawa karena ingin merdeka. Maka partai pak Badau AumatimatianAy pula mencari kekayaan buat dirinya sendiri. Kalau rahasianya terasa akan terbuka, dengan tak segan-segan lari kepada musuh dan menggabungkan diri dengan musuh (Hamka, 1982 : . Secara umum dapatlah disimpulkan bahwa tafsir al-Azhar yang ditulis Hamka tidak hanya mengungkap maksud teks atau ayat, tetapi point yang terpenting ialah penafsiran teks sehingga memiliki arti dan makna yang dapat dikomunikasikan dengan konteks kekinian. Dengan kata lain, dalam hal ini Hamka telah memasuki horison masa lalu, dimana al-QurAoan itu turun, lalu ia mengartikulasikannya dengan horison masa Tafsir al-azhar, sebagai kitab tafsir yang diupayakan oleh penulisnya dapat dipakai sebagai pedoman praktis dalam kehidupan umat Islam Indonesia khususnya, aspek kontekstualisasi ini sangat menonjol dari perhatian penulisnya. Pengaplikasian teks, konteks dan kontekstualisasi idealnya diaplikasikan secara dialektis, dialogis, sinergis dan berkesinambungan. Secara intens mendialogkan ketiga aspek tersebut diharapkan mampu menangkap dari spirit teks yang tidak bertentangan dengan fakta sejarah, juga mampu mengaplikasikan pemahamannya sesuai dengan realitas`kekinian, dan mampu menjawab tantangan serta persoalan-persoalan yang ada sehingga tidak terasing dari ruang dan waktu. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Firman Allah pada ayat 255 surat al-Baqarah. A( oIAHamka, 1982 : . menafsirkan : Al-Hayyu: Yang hidup dan sumber segala kehidupan. Dialah Allah. Mengawali penjelasannya Hamka membuat pertanyaan. Apa arti Tuhan? Tuhan ialah yang menurut naluri manusia wajib dipuji, dipuja, disembah dan disanjung. Tuhan itu ialah kekuasaan tertinggi yang mutlak yang diakui adanya oleh akal manusia yang Dia tidak dapat ditangkap oleh pancaindra dan tidak kelihatan oleh mata, tetapi akal murni manusia mengakui adanya kekuasaan tertinggi itu. Tidak ada yang sebenarnya hidup melainkan Dia. Segala yang kelihatan hidupbersumber dari hidup itu dan kembali kepada hidup itu. Maka hidup yang sebenarnya hidup itu tidaklah merasa Dia terus hidup. AL-Qayyum: Artinya berdiri sendiri, tidak bersandar atau bergantung kepada yang lain, sebab yang lain seluruhnya adalah makhlukNya. Yang lain ada juga tetapi karena Dia yang menghidupkan. Yang lain hanya bisa berdiri, karena Dia yang mendirikan (Hamka, 1982 : 16-. Apa yang dijelaskan oleh Hamka sdebagai penulis tafsir al-Azhar ini pada hakikatnya adalah metode pemahaman dalam aspek tekstual yang dikenal dalam aspek disiplin kajian hermeneutika, dimana yang serupa ini menurut Josef Bleicher, sebagaimana yang dikutip oleh Fakhruddin Faiz dalam bukunya Contemprorary Hermenuticsts adalah satu bentuk teks ini adalah mencermati hubungan antar teks (Fakhruddin Faiz, 2002 : . Penafsiran Hamka di atas bersesuaian dengan konteks dan kontekstual, setidaknya ada dua hal. Pertama. Keyakinan bahwa tidak ada sesuatu kekuasaanpun di alam semesta ini yang mengharuskan jiwa manusia tunduk dan patuh berdasarkan bahwa ia begitu banyak melimpahkan kebaikan-kebaikan dan menghindarkan keburukan-keburukan dari manusia kecuali Allah saja. Maka penafsiran Hamka yang serupa ini dapat dipahami bahwa selain menekankan Allah sebagai sasaran ketundukan dan kepatuhan, juga menekankan bahwa Allah adalah zat yang berkuasa melimpahkan kebaikan-kebaikan kepada manusia dan sebaliknya menghindarkan keburukankeburukan. Tinjauhan historis-kontekstual gagasan Hamka dalam penafsiran ini bertujuan untuk meluruskan akidah umat Islam khususnya di Indonersia yang disaksikan oleh Hamka secara langsung, ketika ituia dapati banyak unsur-unsur yang bercampur-baur dengan keyakinan beragama, seperti meminta pertolongan kepada dukun-dukun, tempat-tempat yang dikeramatkan seperti gunung, kuburannya orangorang tertentu dan lain-lain. Kedua, ketika Hamka menjelaskan sifat al-hayat . kepada Tuhan, ia menegaskan bahwa tidaklah sama sifat al-hayat Tuhan dengan makhluknya seperti hewan, tumbuhan dan termasuk manusia. Hal ini sejalan dengan penegasan al-QurAoan bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta yang menjadikan manusia dan hewan berpasang-pasangan, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupainya. Segala Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. perumpamaan al-QurAoan yang membawa rahasia alam itu maksudnya ialah buat mendapat kesadaran iman kepada Allah di dalam jiwa. Berkaitan dengan kesadaran iman. Hamka memunasabahkan penjelasannya dengan pangkal ayat 44 surat as-Syura . a a a ea a ua a aOa cn caU a aNA AaOa A AuApabila sudah tersesat langkah, apa yang dikerjakan serba salah. Cahaya petunjuk tidak masuk lagi, meraba-raba dalam gelap, maka timbullah zalim, aniaya, baik kepada orang lain terutama kepada diri sendiriAAy. aOa aO Oa aa aa aO e aUaa aoaaIA Setelah hari kiamat. AuDan engkau lihat orang-orang yang zalim itu, tatkala mereka melihat azab, akan berkata dipenghujung ayat 44 surat tersebut: A a ua a a a cn A a n AaeA AuAdakah kiranya jalan buat kembali (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz XXV : . Karena itu, apapun yang dilakukan harus dengan kesabaran, agar tidak berakhir dengan Sabar memang berat dan sabar memang tidak terasa apa faedahnya jika bahaya dan kesulitan belum datang. Maka ketika menjelaskan ayat 153 surat alBaqorah. aAea A uaI a a aO AHamka menjelaskan bahwa bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah yang dihadapi. Kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan tidaklah maksud akan tercapai. Nabi-nabi yang dahulu semuanya telah menempuh jalan itu dan kesemuanya mengalami kesulitan (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz II : . Apabila langkah ini telah dimulai halangannya pasti banyak, jalannya pasti Bertambah mulia dan tinggi yang dituju bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak kenal lelah dan tidak perlu ada perasaan takut, karena Allah telah menjamin bahwa Dia menyertai orang yang sabar. Dengan mengungkap secara historis bahwa nabi-nabi yang diutus Allah juga tidak luput dari ujian-ujian Tuhan yang harus mereka menghadapi kesulitan-kesulitan dengan kesabaran. Penafsiran yang sedemikian itu tentu sangat kontekstual dengan kondisi umat Islam Indonesia ketika itu. Pengaruh suasana dan kondisibangsa dan negara yang belum sepenuhnya kondusif dari tekanan-tekanan yang mempengaruhi tatanan kesetabilan hidup dan kehidupan, baik tekanan-tekanan fisik berupa penyiksaan maupun psikis karena tidak adanya kebebasan dalam berekspresi. Hamka menggugah orang-orang yang mendengar untuk menerapkan makna sabar dalam arti yang benar pada suatu proses perjuangan untuk mencapai cita-cita. Suatu perjuangan yang tidak dilandasi dengan kesabaran, yang di dalamnya terkandung keteguhan hati dan kesungguhan perjuangan, tidak akan memberikan hasil sebagaimana yang dicitacitakan. Dari uraian tersebut dapat dilihat kesesuaian penafsiran Hamka dengan teknikmetodis hermeneutika Fazlur Rahman. Bagaimana horison teks, konteks secara makro dan mikro melahirkan pemahaman-pemahaman yang kontekstual. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Interpretasi Hermenutis Ayat Ibadah Berkenaan dengan ibadat salat atau sembahyang, sebagai kata yang dipakai di dalam tafsir al-Azhar, ketika Hamka menafsirkan ayat 4-5 dalam surat al-MaAoun. u aA aa a Ua a aIA a a A aA Aea Ayat 4. Maka kecelakaanlah akan didapati oleh orang-orang yang sembahyang. Ayat 5. Yang mereka itu dari salatnya adalah lalai. Surat ini diturunkan di Mekkah yang konteks mikronya untuk menghardik orang-orang munafik yang dalam istilah Hamka dikatakan Ausorak-sorainya keras padahal sakunya dijahitAy. Konteks makro dari ayat ini menurut Hamkaadalah cemeti bagi umat Muhammad yang secara kontekstualnya kian lama kian nampaklah orangorang seperti ini perangainya. Kalau dihadapan banyak orang sembahyanglah dia serupa sangat khusyuAo, tetapi kalau orang tidak ada lagi, sembahyang itupun tidak dikerjakannya lagi (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz x : . Dia telah melakukan sembahyang, tetapi sembahyangnya itu hanya membawa celakanya saja. karena tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Tidak timbul dari Lalai dalam bahasa ayatnya Syhyn. asal arti katanya adalah lupa. Artinya dilupakan apa maksud sembahyang itu, sehingga meskipun dia mengerjakan sembahyang, namun sembahyang itu tidaklah dari kesadaran akan maksud dan hikmahnya (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz x : . Mengerjakan sembahyang lima waktu sehari semalam, yaitu pada waktu-waktu yang sangat penting. fajar, zuhur, asar, magrib dan isyaAo, artinya selalu membentengi diri. Ibaratnya sembahyang itu mempunyai sirkel. Ibarat seorang yang memukul gong, gema suaranya memantul kepada masa yang sebelum dan sesudahnya menurut ukuran radius tertentu, sehingga tidak pernah lepas dari suasana sembahyang (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz XXI : . Hamka mengutip hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, bahwa seorang sahabat Nabi pernah mengadukan kepada beliau, bahwa ada seorang laki-laki, dia sembahyang pada malam hari, setelah hari pagi dia mencuri. Lalu nabi berkata. orang itu betul-betul sembahyang, maka sembahyangnya itulah kelak akan mencegahnya dari mencuri. Ia menambahkan bahwa AbuAoI AoAlyah mengatakan bahwa sembahyang itu hendaklah dilatih mendirikan tiga keistimewaan. yaitu ikhklas, khusyuAo dan dzikrullah. Kalau tiga keistimewaan itu tidak ada, tidaklah berarti sembahyangnya (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz XXI : . Menurut Hamka kalau mulut telah tegas mengatakan iman kepada Allah, malaikat, hari kemudian, rasul yang tidak pernah dilihat dengan mata, maka bila panggilan sembah yang datang, bila azan telah terdengar, diapun bangkit buat mendirikan sembahyang. Karena hubungan pengakuan hati dengan mulut tidak mungkin putus dengan perbuatan (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz I : . Ketika Hamka menjelaskan surat al-Baqarah Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. u aA a o a aOua a auea aU u a aUa a aUaA AaO oaUaa e cace a aO A Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuA(Q. Hamka juga menguatkan pendapatnya bahwa memohon pertolongan dari Allah itu dengan cara sabar dan salat dengan memunasabahkannya dengan Surat al-Baqarah aAea A a o a uaI a a aO A A eaEa a aa e oaUaa e cace a aO Abahwa memohon pertolongan kepada Allah itu dengan cara sabar dan sembahyang, tetapi dijelaskan lagi bahwa sembahyang itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuAo hatinya, untuk memperkuat kesabaran di dalam mengerjakannya surat Thaha ayat 132 menyuruh kita mendidik anak isteri bersembahyang (Hamka. Tafsir al-Azhar. Juz I : 190-. Ao aO aUoaeaia aoo a OA a aAo a na a a aA a aAEae a aUa a na a aiaA A a a aOA Ao cac A a aO a a A AuDan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat . ang bai. itu adalah bagi orang yang bertakwaAy. (Q. Dapat dipahami bahwa sesungguhnya bukan perbuatan salat itu yang mencegah seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, tetapi jiwa suci yang cenderung kepada kebaikan sebagai hasil dari bentukan salat yang dapat mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak baik. Apabila seseorang yang rajin melaksanakan salat tetapi jiwanya kotor dan cenderung kepada perbuatan jahat dan maksiat, maka ia belum mendapatkan kemanfaatan dari salat yang ia kerjakan. Salat yang sedemikian itu tentu tidak diterima Tuhan. Salat yang diterima oleh Tuhan adalah salat yang membuat pelakunya terhindar dari perbuatan-perbuatan maksiat dan tidak baik. Dengan kata lain. Salat yang diterima Tuhan ialah salat yang menjauhkan manusia dari perbuatan jahat dan mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang baik. Hal ini sejalan dengan hadis qudsi yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Ibnu Abbas (Imam al-Munziri, jilid I : . AuSalat yang aku terima hanyalah salat yang membuat pelakunya merendehkan diri terhadap kebesaran-Ku, tidak berlaku curang atas makhluk-Ku, tidak membuat kejahatan mendurhakai Aku, tetapi senantiasa ingat kepada-Ku dan menaruh kasih sayang kepada orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, wanita yang kematian suami dan mengasihi orang yang tertimpa bencanaAy. Muatan kontekstual Hamka menceritakan tentang pengalaman pribadinya ketika tahun 1952 menjadi tamu kehormatan pemerintah Amerika, ia tulis di dalam kitab tafsir al-Azhar, bahwa Pernah suatu malam ia di Amerika, pintu kamar hotel tempat ia istirahat diketuk pintunya oleh perempuan muda dengan senyum tersimpul sembari menawarkan untuk menemaninya tidur. Hamka mengisahkannya. Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Ketika itu, usiaku 44 tahun. Anak dan istri jauh di mata, murid-murid dan orang-orang yang mengasihi atau simpati tidak ada yang tahu, sedang daya tarik sex sebagai seorang lelaki yang sihat tentu tergetar karena tawaran itu, apatah lagi perjalanan ini sudah hampir dua bulan lamanya. Tetapi kata Hamka, apa yang terbayang ketika itu? Saya baru saja habis sembahyang jamaAo qashar di antara Maghrib dengan IsyaAo dan bersiap hendak tidur melepas lelah, bekas wudhuAo masih ada di wajah, yang teringat diwaktu menyaksikan senyum simpul tersungging dari wanita muda cantik nan rupawan lagi menggoda itu ialah sembahyang! Kalau aku telah tidur malam ini dengan perempuan lain, meskipun isteriku tidak melihat dan tidak akan tahu, bagaiman besok pagi saya akan sembahyang subuh? Padahal dalam doAoa iftitah saya selalu menyebut: AuSesungguhnya sembahyangku dan sekalian ibadatku, bahkan hidup dan matiku, semuanya adalah untuk Allah, rabbulAoylamyn. Tidak ada syerikat bagiNya, dan inilah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah salah seorang yang telah menyerahkan diri kepada TuhanAy. Bagaimana aku akan mengucapkan bacaan itu pagipagi? Tentu aku akan malu, malu mengerjakan sembahyang, tentu kesilapanku semalam akan membuat aku terus-menerus silap. aku akan malu meneruskan sembahyang karena telah berbuat dosa. AuNo. Thank YouAy. Jawabku kepada perempuan itu dengan pasti dan tidak ada perasaan ragusedikitpun, aku tutup pintu kamarku dan pergi tidur. Setelah bangun pagi sembahyang subuh, aku rasakan bahwa sembahyangku pagi itu terasa lebih khusyuAo dari biasanya, hal yang jarang aku rasakan pada sembahyang yang lain (Imam al-Munziri, jilid I : 15-. Kisah ini memberikan gambaran secara kontekstual, betapa salat itu memberikan efek yang menjadi perisai penyelamat dan penolong bagi yang mendirikannya dengan ikhlas dan khusuAo. Pangkal ayat 4 surat Luqman Auorang-orang yang mendirikan sembahyangAy. Hamka menafsirkan bahwa sembahyang adalah hubungan utama dengan Allah sebagai bukti keimanan kepada Tuhan. Meskipun orang yang mengaku percaya adanya Tuhan, padahal tidak mengerjakan sembahyang sebagai diajarkan oleh agama, belumlah lengkap orang itu mengerjakan kebaikan, sebab tidaklah cukup mengakui Allah hanya menurut akalnya saja, kalau tidak disertai dengan sembahyang, pengakuan adanya Allah hanya akan melayang-layang saja, tidak mendalam keurat jiwa (Hamka. Tafsir al-Azhar, jilid XXI, h. Uraian Hamka di atas, secara hermeneutis berupaya menggali dan melacak makna dari lafaz teks tentang salat. Hamka berupaya membongkar makna yang dalam dibalik makna yang disimbolkan dari konsep salat. Hermeneutika adalah menghilangkan misteri yang terdapat di balik teks, membuka makna yang sesungguhnya dalam sebuah simbol. Hamka menjelaskan konteks ayat tentang salat di atas secara mikro dengan analisis kenteks makro pada masyarakat Arab pada masa awal Islam yang mencampuradukkan nilai-nilai kebaikan dengan kebatilan dalam bentuk prilaku salat dan mencuri, mampu melahirkan makna yang kontekstual dari Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. nilai-nilai salat yang dikerjakan. Sebagaimana kisah perjalanan Hamka ketika menjadi tamu di negeri Amerika yang notabenenya AumenghalalkanAy hubungan sexsual dalam bentuk perzinahan atas dasar suka sama suka, tetapi Hamka dengan pasti tanpa sedikitpun ada rasa keraguan menolak ajakan perzinahan tersebut, meskipun ia meyakini tidak ada yang akan tahu atau akan bisa melihatnya apabila ia melakukannya. Dengan demikian maka unsur-unsur hermeneutika al-QurAoan Fazlur Rahman dalam pemabahasan ini cukup sempurna terpenuhi, baik dari segi hubungan teks dengan konteks secara mikro dan makro, serta demikian pula horison kentekstualisasinya. Kesimpulan Istilah hermeneutika dalam di dalam tafsir al-Azhar karya Hamka tidak Elemen-elemen di atas secara opersionalnya dapat dijumpai di dalam tafsir al-Azhar karya hamka dalam menafsirkan ayat-ayat tentang akidah dan ibadah. Pemikiran Hamka terhadap ayat-ayat tentang akidah dan ibadah, menggambarkan bahwa Hamka di dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan akidah dan ibadat, tidak banyak mengembangkan penafsirannya dengan pendekatan fiqh sebagaimana yang umum dilakukan oleh sebagian ahli tafsir. Yang menjadi perhatian utamanya, agaknya adalah pemurnian akidah dari unsur-unsur syrik dan hikmah-hikmah disyariatkannya ibadat di dalam Islam, yaitu sebagai sarana untuk membersihkan dan mendidik hati nurani dan memperbaiki moral manusia. Penafsiran Hamka terhadap ayat-ayat tentang akidah dan ibadah tidak terpaku kepada teks saja. SyariAoat bagi Hamka akan berubah-ubah . mengirirngi perubahan zaman dan tempat. Tafsir al-Azhar secara operasional jelas menggunakan hermeneutika modern dalam menafsirkan ayat-ayat tentang akidah dan ibadah, khususnya dalam kaitan sinergi atau keterkaitan antara teks, konteks dan kontekstualisasi di dalam operasional tafsirnya, sehingga memberikan pemahaman yang plural dan toleran di dalam membaca keragaman. Penafsiran ayat-ayat tentang akidah dan ibadah di dalam tafsir al-Azhar mengarah kepada sistem analisis sintesis logis yang menggunakan metode tematik sebagaimana yang diterapkan oleh Fazlur Rahman dengan tidak mengabaikan asbab al-Nuzul secara mikro dan makro di dalam memahami ayat-ayat akidah dan ibadah. DAFTAR KEPUSTAKAAN Al-Byqilyny. Muhammad. Aby Bakar ibn al-ayyib, t. IAojyz al-QurAoyn. Kairo: Dyr alMaAoyrif. Mesir Al-Dzahabi. Muhammad Huseyn, al-Tafsr wa al-Mufassirn, (Kairo: MuAoassasah at- Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate Medina-Te. Vol. 19 Nomor 2. Desember 2018 ISSN: 1858-3237 Pathur Rahman Hermeneutika Al Quran Tafsir Al-Azhar (Analisi Hermeneutis Ayat-ayat Akidah dan Ibada. Al Ghazali. Syekh Muhammad, 1999. Berdialog Dengan Al-QurAoan. Pesan Kitab Suci dalam Kehidupan Masa Kini, terj. Masykur Hakim dan Ubaidillah. Bandung: Mizan Al-Ghazali. Abu Hamid Imam, 1998. Kegelisahan al-Ghazali. Penerjemah Achmad Khudori Sholeh. Pustaka Hidayah: Bandung. Al Zahabi. Muhammad Husain,1976, al Tafsir wa al Mufassirun. Mesir: Dar al Kutub al Hadits Azra. Azumadi,1998. Jaringan Ulama Timur Tengan dan Kepulauan Nusantara abad XVII-X Vi. Melacak Akar-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. Baljon. , 1999. Tafsir Al-QurAoan Modern, terj. Niamullah Muis. Jakarta: Pustaka Firdaus. Sumayono, 1999. HERMENEUTIKA: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. Faiz. Fakhruddin, 2002. Hermeneutika QurAoani. Antara teks. Konteks dan Kontekstualisasi. Yogyakarta: Qalam. Federspiel. Howard M. Popular Indonesian Literature of the Al-QurAoan . Dr. Faudah. Mahmud Basuni, 1987. Tafsir-tafsir Al-quran Perkenalan dengan Metode Tafsir. Penerbit Pustaka. Bandung. Hamka, 1982. Tafsir Al-Azhar. Penerbit Pustaka Panjimas. Jakarta. Hasjimi. AuProf. Dr. Hamka yang Saya KenalAy, dalam Panitia, 70 Tahun. Ilyas. Hamim,2009. Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Al-QurAoan dan hadis, (Teori dan Aplikas. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga. Iyazi. Muhammad Ali, al-Mufassirn ayatuhum wa ManhAjuhum, (Teheran: MuAoassasah TibAAoiyah Nasyr WizArah Al-TsaqAfah Al-IslAmiyah, 1415 H). Mahmud. Abdul Qadir. al-Falsafah al-Sufiyah fi al-Islam. Dyr al-Fikr. Irak. Muhajirin,2016. PolitisasiUjaranNabi,Yogyakarta:MaghzaBooks. Muthahhari. Murtada,t. MaAorifah al-QurAoan,Beirut: Dar al-MaAoarif li al-MathbuAoat Tersedia Online di http://jurnal. id/index. php/medinate