Dialektika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia PISSN : 2407-506X E-ISSN : 2502-5201 https://journal. id/index. php/dialektika/index Vol. No 1. Desember 2025, pp 8492 https://doi. org/10. 15048/dialektika. Representasi Kritik Sosial pada Naskah Drama Mahkamah Karya Asrul Sani Nayla Autar1. Cahya Savitri Imania2. Rosida Erowati3 123 Universitas Islam Negeri Jakarta. Tangerang Selatan. Banten, 15412 E-mail: naylautar@gmail. com, cahyasav26@gmail. com, rosida. erowati@uinjkt. Dikirim: 27 Juli 2025. Direvisi: 10 Desember 2025. Diterima: 27 Januari 2025 Keyword: social criticism. Mahkamah. Asrul Sani, theory of representation, social justice. Abstract Literary works often reflect social dynamics and function as a medium for conveying social criticism. The play Mahkamah by Asrul Sani represents social criticism through moral values, injustice, and social conflict. This study aims to analyze the representation of social criticism in Mahkamah using Stuart HallAos theory of representation and the concept of social criticism by Solihat . This research employs a descriptive qualitative method with a text analysis approach. Data were collected through an in-depth reading of the drama script, focusing on dialogues, characters, and symbols that reflect social inequality. The results show that Mahkamah represents various social issues, including class inequality, patriarchy, abuse of power, media manipulation, and moral degradation. The play also highlights the tension between traditional values and modernity, as well as the conflict between individual interests and social norms. Through symbolic representation and complex characterization. Asrul Sani conveys moral messages and social criticism relevant to contemporary social conditions. In conclusion. Mahkamah not only serves as an artistic work but also functions as a medium for social reflection and awareness, encouraging audiences to critically respond to issues of justice, truth, and social inequality. Abstrak Kata Kunci. kritik sosial. Mahkamah. Asrul Sani, teori representasi, keadilan sosial. Karya sastra tidak hanya mencerminkan dinamika sosial, tetapi juga berfungsi sebagai media penyampaian kritik sosial. Drama Mahkamah karya Asrul Sani merepresentasikan kritik sosial melalui nilai moral, ketidakadilan, dan konflik dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kritik sosial dalam Mahkamah dengan menggunakan teori representasi Stuart Hall dan pendekatan kritik sosial Solihat . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Data diperoleh melalui pembacaan mendalam terhadap naskah drama, dengan fokus pada dialog, karakter, dan simbol yang merepresentasikan ketimpangan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahkamah merepresentasikan berbagai persoalan sosial, seperti ketimpangan kelas, patriarki, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi media, serta kemerosotan moral. Selain itu, drama ini juga menampilkan ketegangan antara nilai tradisional dan modernitas serta konflik antara kepentingan individu dan norma sosial. Simpulannya. Mahkamah tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai media refleksi sosial yang mampu membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keadilan, kebenaran, dan kesetaraan sosial. Penulis Korespondensi: naylautar@gmail. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license Representasi Kritik Sosial A PENDAHULUAN Karya sastra sering kali tidak hanya menjadi cerminan kehidupan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai media penyampaian kritik terhadap fenomena sosial yang terjadi di dalamnya. Dalam kajian mutakhir, karya sastra dipandang sebagai medium yang merepresentasikan sekaligus mengonstruksi realitas sosial masyarakat (Hafiizh & Nur, 2. Drama, sebagai salah satu bentuk karya sastra, memiliki keistimewaan dalam menggambarkan kehidupan melalui konflik, emosi, tindakan, dan dialog (Eleni Gemtou, 2. Dalam pementasan, drama menjadi representasi kehidupan masyarakat yang dituangkan secara langsung di atas panggung, memberikan ruang bagi kritik sosial untuk disampaikan dengan lebih nyata dan mendalam. Sederhananya, drama adalah hidup yang digambarkan dengan gerak, memungkinkan penonton menyaksikan ekspresi kehidupan manusia secara langsung (WS, 1. Hal ini sejalan dengan fungsi karya sastra sebagai refleksi realitas sosial yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengkritisi berbagai persoalan di masyarakat. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa karya sastra secara aktif merepresentasikan persoalan sosial seperti ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan dalam masyarakat (Oktaviani et , 2. Dengan memanfaatkan dialog sebagai elemen utama, drama memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan moral dan kritik sosial yang relevan dan mudah dipahami penonton (Budianta, 2. Selain itu, meskipun drama dan teater sering kali dianggap sama dalam praktik, secara teori dan sejarah, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Drama diciptakan untuk dipentaskan, sementara teater menjadi medium yang memungkinkan penyampaian pesan drama kepada masyarakat. Hal ini menjadikan drama tidak hanya sekadar karya sastra, tetapi juga alat untuk menampilkan sifat, sikap, dan kehendak manusia melalui tindakan dan perilaku. Drama juga memiliki potensi besar untuk menjadi media yang efektif dalam menyampaikan kritik terhadap fenomena sosial. Drama tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi, menginspirasi, dan mendorong masyarakat untuk merefleksikan berbagai persoalan yang dihadapinya (Dewojati, 2. Dalam ranah kesusastraan Indonesia, salah satu wujud kritik sosial yang kuat terlihat pada naskah drama Mahkamah karya Asrul Sani. Drama ini menjadi salah satu karya monumental yang memadukan nilai artistik dengan pesan moral yang relevan sepanjang zaman. Karya sastra modern juga sering digunakan sebagai media kritik terhadap realitas sosial dan ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat (Naqiyah et al. , 2. Melalui karyanya. Asrul Sani menyampaikan kritik terhadap ketimpangan sosial dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Hal ini sejalan dengan pandangan kritik sosial merupakan respons terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam masyarakat, yang bertujuan untuk memberikan edukasi, mengajak, atau bahkan mendorong anggota masyarakat agar mematuhi norma dan nilai sosial yang telah ditetapkan (Solihat, 2. Menurut teori representasi Stuart Hall, representasi adalah proses penciptaan makna melalui bahasa, simbol, atau tanda tertentu. Dalam penelitian sastra kontemporer, teori representasi digunakan untuk mengkaji bagaimana identitas sosial dan realitas dibentuk melalui teks (Purwanti et al. , 2. Representasi tidak hanya menjadi cerminan realitas, tetapi juga cara untuk membangun dan memahami realitas itu sendiri (Radja & Sunjaya. , 2. Dalam konteks Mahkamah. Asrul Sani menggunakan drama sebagai medium representasi untuk menggambarkan realitas sosial yang sarat dengan konflik dan dilema moral. Drama ini tidak hanya mencerminkan situasi sosial pada zamannya, tetapi juga berusaha membangun pemahaman baru tentang nilai-nilai keadilan, moralitas, dan etika. Dengan memadukan DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 85 - 92 Nayla Autar. Cahya Savitri Imania. Rosida Erowati pendekatan kritik sosial dan teori representasi. Asrul Sani berhasil menciptakan karya yang menggugah kesadaran masyarakat terhadap pentingnya norma dan nilai sosial. Sebagai naskah drama. Mahkamah merepresentasikan realitas sosial melalui dialog, karakter, dan alur cerita yang menggugah. Mahkamah dalam drama ini tidak hanya diartikan sebagai ruang pengadilan formal, tetapi juga menjadi simbol nilai-nilai moral dan etika yang dihadapkan pada konflik kepentingan. Dengan menggambarkan ketegangan antara individu dan masyarakat. Asrul Sani menyampaikan kritik sosial terhadap lemahnya sistem hukum yang sering kali tidak mampu menegakkan keadilan. Kritik ini juga sesuai dengan pandangan bahwa salah satu tujuan kritik sosial adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya norma dan nilai yang dapat menciptakan keadilan (Solihat, 2. Selain menjadi simbol keadilan, mahkamah dalam drama ini juga berfungsi sebagai ruang representasi ketegangan antara nilai-nilai tradisional dan modernitas. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang terus berubah. Mahkamah memperlihatkan bagaimana institusi formal seperti hukum sering kali gagal mengikuti kompleksitas dinamika sosial. Konflik yang terjadi di dalam drama ini tidak hanya menunjukkan permasalahan struktural dalam sistem hukum, tetapi juga bagaimana norma sosial dapat bertentangan dengan kepentingan individu atau kelompok tertentu. Asrul Sani menggunakan simbol mahkamah untuk mengajak masyarakat merefleksikan peran mereka dalam menjaga keadilan sosial. Melalui dialog-dialog dalam Mahkamah. Asrul Sani berhasil merepresentasikan pengalaman dan emosi masyarakat yang menghadapi Karakter-karakter dalam drama ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen alur cerita, tetapi juga sebagai perwujudan dari berbagai lapisan sosial. Dengan menggambarkan tokoh-tokoh yang kompleks, drama ini mengajak masyarakat untuk merenungkan posisi mereka dalam dinamika sosial yang penuh ketimpangan. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa kritik sosial dapat menjadi alat untuk mendorong masyarakat agar lebih sadar dan patuh pada norma serta nilai sosial yang mendukung keadilan (Solihat, 2. Tema utama Mahkamah adalah pencarian keadilan dan pengungkapan kebenaran. Tema ini, dalam konteks teori representasi, merupakan cara Asrul Sani untuk menciptakan makna tentang pentingnya keadilan sebagai salah satu fondasi moralitas Dalam konteks teori kritik sosial, tema ini dapat dilihat sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat bahwa sistem yang adil harus didasarkan pada nilainilai kebenaran. Dengan demikian. Mahkamah tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan moral dan kritik sosial yang mendalam. Selain itu. Mahkamah juga mengangkat isu-isu universal yang relevan hingga saat ini, seperti kesenjangan kekuasaan, penyalahgunaan wewenang, dan perjuangan kaum Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sastra memiliki fungsi sebagai media penyadaran sosial yang mampu mengangkat isu-isu marginal secara kritis (Laura & Hermawan, 2. Representasi isu-isu ini dalam drama menunjukkan bagaimana Asrul Sani menggunakan seni untuk menyampaikan kritik sosial yang bertujuan menciptakan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perubahan. Hal ini menguatkan pandangan Solihat . bahwa kritik sosial dapat mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan kehidupan yang lebih adil dan seimbang. Pengaruh Mahkamah sebagai karya sastra yang sarat kritik sosial tidak hanya terbatas pada zamannya, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Drama ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium yang efektif untuk menyuarakan kritik terhadap realitas sosial. 86 - 92 Representasi Kritik Sosial A Mahkamah menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi alat yang ampuh untuk menyampaikan gagasan besar yang mendorong perubahan sosial. Melalui Mahkamah. Asrul Sani membuktikan bahwa seni dapat menjadi alat untuk mengedukasi masyarakat dan menciptakan kesadaran kolektif. Kritik sosial yang disampaikan dalam drama ini merupakan refleksi tanggung jawab seorang seniman terhadap realitas yang dihadapinya. Dengan menyampaikan realitas sosial melalui bahasa, simbol, dan tanda. Asrul Sani tidak hanya menggambarkan ketimpangan yang ada, tetapi juga membangun pemahaman baru tentang pentingnya norma dan nilai Drama ini menjadi pengingat bahwa keadilan dan kebenaran adalah fondasi penting bagi kehidupan bermasyarakat. Secara keseluruhan. Mahkamah adalah contoh nyata bagaimana seni, melalui teori representasi dan kritik sosial, dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan pesan moral. Dengan menggambarkan konflik yang kompleks dan relevan dengan realitas sosial. Asrul Sani mengajak kita untuk terus merenungkan posisi kita dalam masyarakat. Drama ini menunjukkan bahwa kritik sosial bukan hanya tentang menunjukkan kelemahan, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan mendorong perubahan menuju kehidupan yang lebih baik (Musliandi & Harjono, 2. Pada naskah drama Mahkamah, terdapat beberapa penelitian yang menggunakan karya yang sama. Penelitian terkait apresiasi terhadap teks drama Mahkamah karya Asrul Sani mencakup beberapa studi yang menggali berbagai aspek dalam pemahaman dan penghargaan terhadap karya tersebut. Penelitian pertama menunjukkan bahwa siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 2 Dumai memperoleh rata-rata nilai 90,84 dalam memahami unsur-unsur intrinsik teks drama, yang menunjukkan hasil yang sangat baik dalam pembelajaran apresiasi (Shomary et al. , 2. Penelitian kedua mengungkapkan bahwa naskah Mahkamah menggambarkan pencarian kebenaran dan ketenangan batin oleh tokoh Saiful Bahri, dengan struktur peran yang menggunakan model aktan untuk menganalisis peran serta tema utama tentang pencarian kedamaian batin (Khairussibyan, 2. Sementara itu, penelitian terakhir menemukan bahwa siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pekanbaru juga menunjukkan kemampuan apresiasi yang sangat baik dengan nilai rata-rata 91,54, mencerminkan penghargaan yang mendalam terhadap elemen-elemen intrinsik seperti tema, plot, karakterisasi, dialog, dan latar yang menjadi dasar pembelajaran apresiasi drama yang efektif (Aini & Shomary, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang fokus pada pengumpulan dan analisis data non-numerik seperti kata-kata dan foto untuk memberikan gambaran mendalam dalam laporan penelitian (Fiantika et al. , 2. Menurut Sugiyono. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang dilakukan di lingkungan alami, di mana peneliti memainkan peran utama sebagai alat untuk mengumpulkan data (Sugiyono. , 2. Penelitian ini mendeskripsikan data yang diambil dari naskah drama Mahkamah karya Asrul Sani. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat. Langkah-langkah pengumpulan data meliputi: . membaca naskah secara menyeluruh, . memilih kata-kata yang relevan sebagai data yang diperlukan atau terkait dengan elemen yang diteliti, . menganalisis dan mencatat data tersebut sesuai dengan kebutuhan, dan . menarik kesimpulan. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 87 - 92 Nayla Autar. Cahya Savitri Imania. Rosida Erowati HASIL DAN PEMBAHASAN Kelas Sosial dan Kekuasaan Pada bagian ini, dialog antara Ahmad dan Bahri menyinggung permasalahan yang terjadi di kantor Bahri, yang menggambarkan ketegangan antara pegawai dan pimpinan, serta konflik internal dalam organisasi. Ahmad menyampaikan keluhan tentang cara kepemimpinan Bahri yang sudah dianggap tidak lagi relevan oleh sebagian orang di kantornya, dengan menyebut bahwa Bahri dianggap sebagai penghalang kemajuan. AHMAD Menurut Pak Majid kita harus menuju suatu pertumbuhan yang besar. Untuk itu diperlukan pemupukan modal. BAHRI Saya tidak keberatan, tapi tidak dengan mengorbankan segala yang bersifat manusiawi dalam usaha kita. AHMAD Menurut Pak Majid kita harus memilih salah satu. Di sini terlihat adanya tekanan dari pihak yang menginginkan perubahan besar-besaran, yakni pemupukan modal yang lebih agresif. Hal ini mencerminkan kecenderungan kapitalis yang ingin meraih keuntungan tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, sesuatu yang menjadi prinsip utama bagi Bahri. Kritik sosial yang tersirat adalah tentang perbedaan pandangan antara mereka yang ingin mempertahankan nilai-nilai lama yang dianggap lebih idealis dengan mereka yang lebih mengutamakan kemajuan materiil dan pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap Patriarki dan Konstruksi Gender Dialog Bahri mengkritik bagaimana perempuan sering kali "diajar" untuk berkata-kata berdasarkan norma yang ditentukan oleh masyarakat patriarkal, sehingga kehilangan suara autentik mereka. MURNI Kenapa kakak bertanya begitu? Kakak bagiku adalah suami yang baik, penuh pengertian dan kasih sayang. BAHRI Bukan itu yang ingin kudengar. Kata-kata itu kata kata yang diajarkan padamu. Dia sudah menjadi semacam cadar, lewat mana kami laki-laki harus melihat kaum wanita karena wanita tidak pernah membuka tutup mukanya dan belajar memiliki suara sendiri yang ingin kudengar adalah kebenaran yang lahir dari kehidupan kita bersuami isteri. Murni diam sebentar lalu melanjutkan MURNI Aku sudah katakan. Aku menerima keadaan. 88 - 92 Representasi Kritik Sosial A Frasa seperti "kata-kata itu diajarkan padamu" dan "belajar memiliki suara sendiri" menunjukkan bagaimana budaya patriarki menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi, di mana mereka hanya menyuarakan apa yang diharapkan, bukan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Bahri menyuarakan keinginan untuk mendengar kejujuran dari Murni sebagai individu, bukan hanya sebagai representasi norma gender yang dipaksakan. Tanggung Jawab dan Dedikasi dalam Keluarga Di dalam keluarga Bahri, hubungan antara Bahri dan istrinya. Murni, juga menjadi sorotan. Murni merasa bahwa Bahri terlalu fokus pada pekerjaan, dan merasa kehilangan perhatian serta saat-saat kebersamaan yang berharga dalam kehidupan mereka. Ini menunjukkan ketidakseimbangan antara kehidupan profesional dan keluarga, yang sering kali menjadi isu dalam kritik sosial terhadap budaya kerja yang terlalu menuntut. MURNI Semenjak kita menikah aku melihat bagaimana secara lambat laun tapi pasti, kakak makin menjauh dari aku. Akhirnya yang akrab dengan kakak adalah pekerjaan kakak, bukan lagi aku. BAHRI Tapi setiap orang harus bekerja . Ini mencerminkan kesenjangan emosional dalam kehidupan rumah tangga Bahri, yang menjadi semakin jelas karena prioritas Bahri yang lebih besar pada Murni merasa terabaikan, dan meskipun ia mengerti bahwa pekerjaan adalah kewajiban, ia tetap merasa kehilangan. Kritik sosial yang ada dalam bagian ini menunjukkan bagaimana struktur sosial dan pekerjaan sering kali mengabaikan peran penting keluarga dalam hidup seseorang. Kritik terhadap Masyarakat dan Media Masyarakat sering kali menerima apa yang disajikan oleh media tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lihat mungkin telah dimanipulasi untuk tujuan tertentu, sehingga memperkuat budaya pencitraan dan ketidakjujuran CITRA I Siapa itu? CITRA II Itu Majid, wakil Bahri di kantor. Seorang yang berambisi besar untuk mengambil alih kedudukan Bahri. Dan yang lainnya tukang potret. CITRA I Tukang potret ? Ada urusan apa tukang potret kemari? CITRA II . Itulah! Kau terlalu percaya pada kebaikan dan kemuliaan hati manusia, hingga kau buta pada kelicikankelicikannya. Buat apa tukang potret ? Tentu saja untuk memotret kawan. Nanti-dalam kamar itu akan diatur sebuah adegan yang menarik. Tuan Majid yang sudah merencanakan siasatnya dengan baik akan berdiri atau DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 89 - 92 Nayla Autar. Cahya Savitri Imania. Rosida Erowati membungkuk disamping tempat tidur sambil memegang tangan Bahri. Lalu ia memasang muka sedih yang tadi sudah sempat ia latih depan cermin. Ia akan memberi isyarat pada tukang potret. Lalu. Tukang potret mengabadikan peristiwa atau lebih tepat - adegan sandiwara tersebut. Kehadiran tukang potret dalam dialog tersebut menggambarkan bagaimana media atau dokumentasi sering kali digunakan sebagai alat propaganda untuk membangun narasi yang menguntungkan pihak tertentu. Dalam konteks ini, foto bukan lagi sekadar bukti autentik melainkan menjadi alat manipulasi untuk menciptakan citra atau kesan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kemiskinan Moral Dalam naskah Mahkamah menggambarkan ketidakjujuran individu, yang merefresentasikan kejadian realitas di masyarakat. Seperti yang tergambar dalam kutipan berikut: JAKSA 2 Yang mulia bisa lihat sendiri. Tertuduh tidak berani menghadapi tatapan mata saksi la merundukkan Mata adalah jendela yang langsung membuka ke hati, yang mulia. Tertuduh telah mengatupkan jendela hatinya karena ingin menyembunyikan kebusukan dan dosa yang tersembunyi di dalamnya. Kutipan ini mengandung kritik sosial yang dalam terhadap ketidakjujuran dan usaha untuk menyembunyikan kebusukan atau dosa. Melalui metafora "mata adalah jendela yang langsung membuka ke hati," jaksa menunjukkan bagaimana tatapan mata menjadi indikator dari ketulusan atau kebohongan Tindakan tertuduh yang menghindari tatapan mata dan menutupi "jendela hatinya" mengkritik perilaku masyarakat yang lebih memilih untuk menyembunyikan kesalahan daripada menghadapi kenyataan dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Kritik ini menyoroti bagaimana ketidakjujuran dapat merusak integritas dan keadilan dalam masyarakat. Konflik Perang Saudara Perang saudara dipandang sebagai bentuk kekejaman yang menyebabkan perpecahan dan hilangnya kemanusiaan. PEMBELA 3 Kenapa saudara Anwar? Apa karena saudara takut? ANWAR Tidak. Bukan karena takut tap karena sebab yang sama, seperti yang dimiliki oleh mayor Bahri karena prinsip. Perang yang paling kejam adalah perang saudara, perang, dimana medan pertempuran berubah menjadi medan pembantaian tanpa pilih bulu. Begitu banyak yang jadi korban, begitu banyak darah mengalir. 90 - 92 Representasi Kritik Sosial A Dalam dialog tersebut. Anwar menegaskan bahwa perang saudara adalah bentuk kekerasan yang paling kejam karena tidak ada batasan moral atau kejelasan antara pihak yang benar dan salah. Dialog ini mengungkapkan kritik tajam terhadap dampak destruktif perang saudara. Konflik ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. SIMPULAN Drama Mahkamah karya Asrul Sani menawarkan gambaran mendalam mengenai berbagai masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, termasuk ketegangan kelas sosial, patriarki, ketidakjujuran, dan ketidaksetaraan dalam hubungan sosial. Melalui dialog dan interaksi antar karakter, drama ini mengungkapkan kritik tajam terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari struktur kekuasaan yang menindas hingga budaya patriarki yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat. Selain itu, naskah ini juga mengeksplorasi ketimpangan dalam kehidupan pribadi, seperti konflik antara pekerjaan dan keluarga, serta dampak destruktif dari media dan ketidakjujuran dalam kehidupan sosial. Melalui karakter-karakternya. Asrul Sani menggambarkan bagaimana individu terjebak dalam dilema moral dan sosial yang mencerminkan kenyataan yang lebih besar tentang ketidakadilan dan kekuasaan. Konflik-konflik yang ada dalam drama ini, baik di tingkat pribadi maupun sosial, menunjukkan bagaimana ketimpangan kekuasaan, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas, dapat merusak integritas dan keharmonisan. Dengan analisis kritis terhadap berbagai tema ini. Mahkamah menjadi karya yang relevan untuk memahami masalah-masalah sosial dalam masyarakat, serta sebagai ajakan untuk refleksi dan perubahan. Drama ini mengajak penonton untuk berpikir kritis terhadap norma-norma sosial yang ada dan mendorong kesadaran akan pentingnya keadilan, kebenaran, dan keseimbangan dalam kehidupan bersama. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 91 - 92 Nayla Autar. Cahya Savitri Imania. Rosida Erowati DAFTAR PUSTAKA