RELEVANSI KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PERSPEKTIF IBNU JAMA'AH DAN IMAM AN-NAWAWI TERHADAP UU NOMOR 14 TAHUN Moh. Salman Alfarisi. UIN Sunan Ampel Surabaya. Indonesia E-mail: alfarisi341@gmail. Abstrak Kompetensi kepribadian guru merupakan aspek penting dalam profesionalisme pendidik dan pembentukan karakter peserta didik. Kajian ini menjadi relevan di tengah tantangan pendidikan kontemporer yang menuntut guru tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep kompetensi kepribadian guru menurut Ibnu JamaAoah dan Imam An-Nawawi serta mengkaji relevansinya dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh melalui dokumentasi terhadap kitab Tadzkirat as-SAmiAo wa alMutakallim f Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim dan At-TibyAn f AdAbi Hamalatil QurAoAn sebagai sumber primer, regulasi pendidikan, dan literatur terkait, kemudian dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh menekankan keikhlasan, akhlak mulia, tanggung jawab, dan keteladanan sebagai fondasi kompetensi kepribadian guru. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kompetensi kepribadian dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 serta berkontribusi pada penguatan karakter dan profesionalisme guru dalam pendidikan kontemporer. Kata Kunci: kompetensi kepribadian guru. Ibnu JamaAoah. Imam An-Nawawi. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Abstract Teacher personality competence is a crucial aspect of professional teaching and studentsAo character development. This topic has become increasingly relevant amid contemporary educational challenges that require teachers not only to possess academic competence but also to demonstrate moral and spiritual This study aims to analyze the concept of teacher personality competence from the perspectives of Ibn JamaAoah and Imam An-Nawawi and to examine its relevance to Law Number 14 of 2005 concerning Teachers and Lecturers in Indonesia. This research employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected through documentation of Tadzkirat as-SAmiAo wa al-Mutakallim f Adab al-AoAlim wa al-MutaAoallim and AtTibyAn f AdAbi amalatil QurAoAn as primary sources, educational regulations, and relevant literature, and were analyzed using a descriptive-comparative The findings reveal that both scholars emphasize sincerity . khlA). MODELING: Jurnal Program Studi PGMI Volume 13. Nomor 1. Maret 2026. p-ISSN: 2442-3661. e-ISSN: 2477-667X, 104-113 Moh. Salman Alfarisi noble character, responsibility, and exemplary conduct as the foundations of teacher personality competence. These values are highly relevant to the personality competence standards stipulated in Law Number 14 of 2005 and contribute to strengthening teachersAo character and professionalism in contemporary education. Keywords: teacher personality competence. Ibn JamaAoah. Imam An-Nawawi. Law Number 14 of 2005. Pendahuluan Pendidikan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul berkarakter dan berintegritas. tengah perkembangan globalisasi dan digitalisasi, pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama dalam membentuk karakter peserta didik. Fenomena krisis moral dan degradasi etika yang terjadi pada generasi muda menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik pembentukan kepribadian yang kuat. Dalam konteks ini, guru menempati posisi sentral karena berfungsi sebagai pendidik sekaligus teladan yang memengaruhi perkembangan sikap, nilai, dan perilaku peserta didik. Oleh sebab itu, kompetensi kepribadian guru menjadi salah satu aspek penting dalam (Adibah, 2. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan guru dalam menampilkan integritas moral, kedewasaan, kestabilan emosi, dan keteladanan dalam kehidupan sehari- Guru yang memiliki kepribadian yang baik mampu menciptakan suasana membangun hubungan edukatif yang positif, serta menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik secara Sebaliknya, berdampak pada menurunnya kualitas karakter siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepribadian guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektivitas pembelajaran dan (Fakhruddin. Annisa. Putri, & Sudirman, 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, kompetensi kepribadian guru memperoleh perhatian yang sangat Tokoh pendidikan Islam klasik seperti Ibnu JamaAoah dan Imam AnNawawi menempatkan aspek moral dan spiritual sebagai fondasi utama kepribadian pendidik. Ibnu JamaAoah keikhlasan, kesabaran, dan kerendahan hati sebagai karakter yang harus dimiliki guru dalam menjalankan tugas pendidikan(Maulana. Sementara itu. Imam An-Nawawi MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 | 105 Relevansi Kompetensi Kepribadian Guru Perspektif Ibnu Jama'ah dan Imam An-Nawawi terhadap UU Nomor 14 Tahun 2005 menegaskan bahwa aktivitas mengajar merupakan bagian dari ibadah yang harus dilandasi keikhlasan, akhlak mulia, tanggung jawab moral, serta (Fachrunnisa, 2. Konsepkonsep tersebut menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian tidak hanya berdimensi profesional, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan etis yang mendalam. Indonesia,kompetensi kepribadian guru telah diatur secara formal dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menegaskan bahwa guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan Meskipun berbagai fenomena di lapangan kesenjangan antara standar normatif yang ditetapkan regulasi dengan (UU NOMOR 14 TAHUN 2005 GURU DAN DOSEN, n. ) Selain itu, kajian-kajian sebelumnya umumnya hanya berfokus pada pemikiran Ibnu JamaAoah atau Imam An-Nawawi secara terpisah, serta belum banyak yang mengintegrasikan kedua perspektif tersebut dengan kerangka kompetensi guru dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun Keterbatasan menunjukkan adanya ruang penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut melalui pendekatan komparatif dan integratif. Berbagai penelitian terdahulu telah mengkaji kompetensi kepribadian guru dari beragam perspektif. Rahman dan Syamsudin (Rahman & Syamsudin, 2. menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis konsep kompetensi guru menurut Ibnu JamaAoah dan relevansinya dengan UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep etika, tanggung jawab moral, dan kesadaran diri yang dikemukakan Ibnu JamaAoah memiliki kesesuaian dengan kompetensi kepribadian guru dalam regulasi nasional. Namun, penelitian tersebut belum membandingkannya khususnya Imam An-Nawawi. Andro Prayogi (Prayogi. Lingga. Rabumas, & Nanda, 2. juga pustaka dan menemukan bahwa stabilitas emosi, kebijaksanaan, serta etika guru menjadi unsur utama perspektif Ibnu JamaAoah, tetapi kajian tersebut belum menghubungkannya secara komprehensif dengan kerangka regulasi pendidikan nasional. Penelitian Hidayat (Udin et al. mendeskripsikan kompetensi guru berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 melalui Temuannya menegaskan pentingnya standar kompetensi guru dalam pendidikan nasional, namun tidak mengaitkannya dengan perspektif pendidikan Islam klasik. Temuan 106 | MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 Moh. Salman Alfarisi serupa juga diperoleh Mulyani (Mulyani, 2. yang menekankan pentingnya kompetensi kepribadian bagi keberhasilan pendidikan, tetapi masih terbatas pada kajian normatif kebijakan tanpa elaborasi filosofis dari tradisi keilmuan Islam. Penelitian Zola dan Mujrimin (Mujrimin. Ali, & Tinggi Agama Islam Ibnu Sina Batam, 2. serta Permatasari dan Arianto (Siswa. Permatasari. Arianto, & Kediri, 2. signifikan terhadap pembentukan karakter peserta didik dan efektivitas Meskipun demikian, kedua penelitian tersebut tidak menggunakan perspektif tokoh pendidikan Islam sebagai kerangka analisis. Kajian kesenjangan penelitian baik secara teoretis maupun empiris. Secara teoretis, penelitian yang ada cenderung terfragmentasi antara kajian berbasis regulasi pendidikan nasional dan kajian berbasis pemikiran tokoh pendidikan Islam. Sebagian penelitian berfokus pada kompetensi guru dalam perspektif Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, sementara penelitian lainnya hanya mengkaji pemikiran Ibnu JamaAoah atau Imam An-Nawawi secara Belum ditemukan kajian yang secara komprehensif mengintegrasikan kedua perspektif tokoh tersebut dalam satu kerangka analisis yang kemudian dikaitkan dengan konsep kompetensi kepribadian guru dalam regulasi Berdasarkan uraian tersebut, kepribadian guru menurut Ibnu JamaAoah dan Imam An-Nawawi, membandingkan pemikiran kedua tokoh tersebut, serta mengkaji kepribadian guru sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kajian memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan konsep kompetensi kepribadian guru berbasis integrasi nilai-nilai pendidikan Islam dan regulasi pendidikan nasional, sekaligus profesionalisme guru dalam konteks pendidikan kontemporer. Metode Penelitian Penelitian ini pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian berfokus pada eksplorasi dan interpretasi konsep, nilai, serta makna kompetensi kepribadian guru dalam pemikiran Ibnu JamaAoah dan Imam An-Nawawi secara mendalam. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memahami fenomena sosial dan kemanusiaan berdasarkan makna yang terkandung dalam sumber data yang dikaji. Menurut Sugiyono. MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 | 107 Relevansi Kompetensi Kepribadian Guru Perspektif Ibnu Jama'ah dan Imam An-Nawawi terhadap UU Nomor 14 Tahun 2005 penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti objek dalam kondisi alamiah dengan peneliti sebagai instrumen utama (Sugiyono, 2. , sedangkan Creswell dan Creswell menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan makna yang muncul dari permasalahan sosial dan kemanusiaan. (Creswell. Metode studi pustaka dipilih karena seluruh data penelitian bersumber dari dokumen tertulis yang relevan dengan objek kajian, meliputi karya-karya Ibnu JamaAoah, karya-karya Imam An-Nawawi. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta berbagai literatur ilmiah yang membahas kompetensi kepribadian guru dan pendidikan Islam. Pemilihan metode ini sejalan dengan tujuan penelitian yang tidak berorientasi pada pengukuran empiris, melainkan pada analisis konseptual dan komparatif terhadap pemikiran kedua tokoh serta relevansinya dengan kerangka regulasi pendidikan nasional. Penelitian ini Pendekatan interpretatif digunakan untuk memahami makna subjektif yang terkandung dalam pemikiran tokoh dan konteks yang Denzin dan Lincoln pendekatan interpretatif bertujuan memahami realitas sosial berdasarkan makna yang dibangun dalam konteks tertentu (Denzin & Lincoln, 2. Sementara menafsirkan teks-teks klasik secara mempertimbangkan aspek historis, filosofis, dan sosial yang melingkupi lahirnya pemikiran tersebut. Melalui pendekatan ini, konsep kompetensi kepribadian guru tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga dianalisis berdasarkan nilai-nilai pendidikan Islam yang menjadi landasannya. Pemilihan desain penelitian ini didasarkan pada kebutuhan untuk kompetensi kepribadian guru dalam perspektif Ibnu JamaAoah dan Imam AnNawawi, mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya, dengan kompetensi kepribadian guru sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan demikian, pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dinilai paling sesuai untuk menghasilkan analisis yang mendalam, sistematis, dan kontekstual terhadap objek penelitian. Hasil dan Pembahasan Ibnu JamaAoah adalah salah satu ulama terkemuka dalam tradisi pendidikan Islam klasik yang dikenal melalui pemikirannya tentang adab pendidik dan peserta didik. Nama Badruddin Muhammad bin Ibrahim bin SaAodullah 108 | MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 Moh. Salman Alfarisi bin JamaAoah al-Kinani. Beliau hidup pada abad ke-7 H/13 M dan memperoleh pendidikan dari sejumlah ulama terkemuka pada masanya dalam bidang fikih, hadis, tafsir, dan bahasa Arab. Latar belakang keilmuannya yang kuat menjadikan Ibnu JamaAoah dikenal sebagai ahli pendidikan, qadhi, sekaligus ulama yang memiliki pembentukan karakter pendidik. Di antara karya terpentingnya adalah kitab Tadzkirat al-SAmiAo wa alMutakallim f Adab al-AoAlim wa alMutaAoallim. Kitab ini secara khusus membahas etika guru dan peserta didik serta dipandang sebagai salah satu referensi utama dalam pendidikan Islam klasik. Dalam kitab tersebut. Ibnu JamaAoah keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu, tetapi juga oleh kualitas adab dan mengelompokkan adab guru ke dalam tiga aspek utama, yaitu adab terhadap diri sendiri, adab dalam proses pembelajaran, dan adab dalam berinteraksi dengan peserta didik. Imam An-Nawawi memiliki nama lengkap Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Beliau lahir di Nawa. Damaskus, pada tahun 631 H dan dikenal sebagai salah satu ulama besar dalam bidang hadis, fikih, dan akhlak. Sejak usia muda beliau menunjukkan kecintaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan hidupnya untuk belajar, menulis, dan Pendidikan ditempuhnya berpusat di Damaskus dengan berguru kepada banyak ulama terkemuka dalam berbagai disiplin Islam. Imam An-Nawawi menghasilkan banyak karya yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam dunia Islam, seperti Riyadh alShalihin. Al-ArbaAoin al-Nawawiyyah. AlMajmuAo, dan Al-TibyAn f AdAb amalat al-QurAoAn. Kitab Al-TibyAn secara khusus membahas adab para pencari dan pengajar Al-QurAoan. Dalam kitab ini. Imam An-Nawawi menekankan bahwa aktivitas pendidikan merupakan bagian dari ibadah yang harus dilandasi keikhlasan, akhlak mulia, tanggung jawab moral, dan keselarasan antara ilmu dengan amal. Guru dipandang sebagai figur yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan spiritual dan moral bagi peserta didik. Pemikiran Ibnu JamaAoah dan Imam an Nawawi tentang Kompetensi Guru Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian guru menurut Ibnu JamaAoah dibangun atas (Kinani, n. ) Guru dituntut memiliki keikhlasan dalam mengajar, menjaga kehormatan diri . uruAoa. , bersikap tawadhuAo, sabar, disiplin, bertanggung jawab, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didik. Selain itu, guru harus menjaga hubungan yang baik dengan ilmu pengetahuan, proses pembelajaran, dan peserta didik sebagai bagian dari MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 | 109 Relevansi Kompetensi Kepribadian Guru Perspektif Ibnu Jama'ah dan Imam An-Nawawi terhadap UU Nomor 14 Tahun 2005 Temuan kepribadian menurut Ibnu JamaAoah berintegritas, dan mampu menjalankan profesi pendidikan secara etis. (Aly. Hasil menunjukkan bahwa Imam An-Nawawi menempatkan keikhlasan sebagai inti Keikhlasan berfungsi sebagai dimensi internal yang menentukan kualitas seluruh aktivitas pendidikan. Selain itu, guru harus memiliki akhlak mulia, sikap waraAo, kesabaran, kejujuran, dan konsistensi antara ilmu dan amal. (Al-Nawawi, 1. Guru ideal tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang diajarkannya dalam kehidupan seharihari. Interpretasi dari temuan ini kepribadian menurut Imam AnNawawi memiliki dimensi spiritual yang lebih dominan dibandingkan dimensi administratif atau profesional (Fachrunnisa, 2. Analisis menunjukkan adanya kesamaan mendasar antara Ibnu JamaAoah dan Imam An-Nawawi, terutama pada aspek keikhlasan, keteladanan, tanggung jawab moral, pengabdian dalam profesi guru. Perbedaannya terletak pada titik tekan Ibnu JamaAoah menonjolkan aspek adab sosial dan etika profesi, sedangkan Imam AnNawawi lebih menekankan dimensi spiritual dan penyucian jiwa. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa menurut kedua tokoh memiliki kompetensi kepribadian guru dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 yang menekankan kepribadian mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia, dan menjadi teladan bagi peserta didik. Penjelasa di atas menegaskan profesionalisme guru. Perspektif ini sejalan dengan teori kompetensi guru kepribadian sebagai salah satu dari sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005. Kompetensi kepribadian tidak hanya mencerminkan kualitas moral dan integritas yang memengaruhi seluruh aktivitas pendidikan. Konsep yang Ibnu JamaAoah memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada kualitas adab guru. Temuan ini mendukung penelitian Rahman dan Syamsudin (Rahman & Syamsudin, 2. yang menyimpulkan bahwa nilainilai etika, kesadaran diri, dan tanggung 110 | MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 Moh. Salman Alfarisi jawab moral dalam pemikiran Ibnu JamaAoah memiliki relevansi yang kuat dengan kompetensi guru dalam regulasi nasional. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian Andro Prayogi dkk. (Prayogi et al. , 2. yang menunjukkan bahwa stabilitas emosi, kebijaksanaan, dan etika merupakan unsur penting dalam interaksi edukatif yang efektif. Sementara itu, penekanan Imam An-Nawawi pada keikhlasan dan integrasi antara ilmu serta amal kepribadian ke arah dimensi spiritual. Hasil ini mendukung penelitian (Ridwan. Supraha, & Alim, 2. yang merupakan karakter utama guru menurut Imam An-Nawawi. Temuan tersebut juga sejalan dengan penelitian (Indaya & Roifah, 2. yang menempatkan tazkiyatun nafs sebagai fondasi pembentukan kepribadian Dalam kontemporer, temuan penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi. Berbagai profesi, dominasi beban administratif, dan lemahnya internalisasi nilai pengembangan kompetensi guru sering kali lebih berorientasi pada aspek teknis dibandingkan aspek moral dan Kondisi ini mengakibatkan munculnya kesenjangan antara standar normatif yang ditetapkan dalam regulasi dan praktik pendidikan di Secara kritis, penelitian ini kepribadian tidak dapat dibangun hanya melalui pelatihan profesional yang bersifat administratif. Kompetensi internalisasi nilai yang berkelanjutan melalui pembinaan moral, spiritual, dan Dalam hal ini, pemikiran Ibnu JamaAoah dan Imam An-Nawawi menawarkan pendekatan yang lebih pengembangan kompetensi modern yang cenderung menitikberatkan pada aspek teknis dan kinerja. Kontribusi teoretis penelitian ini terletak pada integrasi antara teori kompetensi guru modern dengan konsep pendidikan Islam klasik. Penelitian ini menghasilkan sintesis konseptual yang mempertemukan dimensi profesional, moral, dan kompetensi kepribadian guru yang Sementara penyediaan landasan konseptual bagi pendidikan guru, dan pembuat kebijakan dalam merancang model pembinaan guru yang tidak hanya kompetensi profesional, tetapi juga pada pembentukan karakter, integritas moral, dan spiritualitas pendidik. Dengan demikian, pemikiran Ibnu MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 | 111 Relevansi Kompetensi Kepribadian Guru Perspektif Ibnu Jama'ah dan Imam An-Nawawi terhadap UU Nomor 14 Tahun 2005 JamaAoah dan Imam An-Nawawi tetap relevan sebagai dasar pengembangan kompetensi kepribadian guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Simpulan Penelitian bahwa kompetensi kepribadian guru menurut Ibnu JamaAoah dan Imam AnNawawi memiliki kesamaan mendasar akhlak mulia, tanggung jawab, dan keteladanan sebagai fondasi utama profesi pendidik. Ibnu JamaAoah lebih menekankan aspek adab dan etika profesi, sedangkan Imam An-Nawawi menonjolkan dimensi spiritual melalui keikhlasan, penyucian jiwa, serta keselarasan antara ilmu dan amal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dikembangkan kedua tokoh memiliki relevansi yang kuat dengan kompetensi kepribadian guru dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, khususnya pada aspek kewibawaan, tanggung jawab, dan Temuan ini berkontribusi dalam memperkaya kajian kompetensi kepribadian guru melalui integrasi perspektif pendidikan Islam klasik dan modern, serta memberikan landasan karakter dan integritas pendidik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji implementasi nilainilai tersebut dalam praktik pendidikan kontemporer melalui pendekatan empiris guna memperluas validitas dan relevansi temuan. Daftar Rujukan Adibah. Kompetensi Guru Dalam Perspektif Pendidikan Islam. Sumbula, 1, 1Ae24. Al-Nawawi. Al-Tibyan fi Adabi Hamalati Al-Quran. In Dar Ibn Hazm. Beirut: Dar Ibn Hazm. Aly. Penciptaan Lingkungan Edukatif dalam Pembentukan Karakter: Studi terhadap Aplikasi Pemikiran Ibnu JamaAoah. Tsaqafah, 8. , 51. Creswell. Research Design Qualitative. Quantitative, and Mixed Metods Approaches. Fachrunnisa. Kompetensi Kepribadian Guru Menurut Pandangan An Nawawi (TelaAoah Kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalah Al- QurAoan Karya Imam Abu Zakariya Yahya Bin Syaraf An-Nawaw. Fakhruddin. Annisa. Putri. & Sudirman. Kompetensi Seorang Guru dalam Mengajar. Journal on Education, 5. , 3418Ae3425. Indaya. , & Roifah. Kompetensi Kepribadian Guru dalam Pembinaan Akhlak Siswa ( Studi Kasus di MTs Al-MaAoarif Brudu Suobito Jombang ). ILmuna, 3. , 46Ae65. Kinani. Al. Tadzkirat alSamiAo Wa al-Mutakallim Fi Adab 112 | MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 Moh. Salman Alfarisi al-AoAlim Wa al MutaAoallim. Maulana. Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibnu JamaAoah. Tawazun Jurnal Pendidikan Islam, 15. , 295Ae300. Mujrimin. Ali. , & Tinggi Agama Islam Ibnu Sina Batam. Kontribusi Pemikiran alGhazali terhadap Pembentukan Guru Ideal dalam Pendidikan Islam Modern. Jurnal Arriyadhah, 8. No. I(I), 46Ae60. Mulyani. konsep kompetensi guru dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ( Kajian Ilmu Pendidikan Islam ). Jurnal Pendidikan Universitas Garut, 03, 1Ae8. Prayogi. Lingga. Rabumas. , & Nanda. Penerapan kompetensi kepribadian guru jamaAoah. Maslahah. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1. , 59Ae76. Rahman. , & Syamsudin. Konsep kompetensi pendidik menurut Ibnu JamaAoah dan kompetensi pendidik dalam UU No . 14 Tahun 2005. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 5. , 972Ae982. Ridwan. Supraha. , & Alim. Kompetensi Guru Tahfizh Perspektif Imam AnNawawi dan Implementasinya di Pondok Pesantren Mahasiswa Dan Sarjana Ulil Albaab Universitas Ibn Khaldun Bogor. Rayah Al-Islam, 5. , 264Ae282. Siswa. Permatasari. Arianto. & Kediri. kompetensi kepribadian guru sebagai upaya pengembangan karakter siswa. IDEA: Jurnal Psikologi, 6, 57Ae63. Sugiyono. metode penelitian kuantitatif, kualitatif,dan R&D. In CV. Alfabeta. Bandung. Udin. Inayah. Hamid. Hidayat, . Aeni. Ratnawati. Jubaeli. Pendidikan Karakter Tanpa Kekerasan. Padang: U ME Publishing. UU NOMOR 14 TAHUN 2005 GURU DAN DOSEN. MODELING. Volume 13. Nomor 1. Maret 2026 | 113