KURVATEK Vol. No. April 2025, pp. e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 ANALISIS MORFOLOGI DETIL UNTUK MEMETAKAN KARAKTERISTIK SATUAN BATUAN PERMUKAAN DETAIL MORPHOLOGICAL ANALYSIS TO MAPPING SURFACE LITOLOGICAL CHARACTERISTIC UNIT Maritimo1*. Budianta1. Setianto1 Department of Geological Engineering. Universitas Gadjah Mada Jl. Grafika No. 2 Kampus UGM. Yogyakarta 55281 *Email corresponding: febrianmaritimo@mail. Email: wbudianta@ugm. Email: agung_setianto@ugm. Cara sitasi: F. Maritimo. Budianta, and A. Setianto, "Analisis Morfologi Detil untuk Memetakan Karakteristik Satuan Batuan Permukaan". Kurvatek, vol. 10, no. 1, pp. April 2025. 33579/krvtk. 5740 [Onlin. Abstrak Ai Perencanaan tata ruang wilayah memerlukan data-data yang akurat sesuai dengan skala Salah satu kendala yang ditemui dalam analisis rencana tata ruang di Indonesia adalah belum tersedianya beberapa data dasar yang memiliki tingkat kedetilan sesuai dengan kebutuhan perencanaan, termasuk data geologi. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten mensyaratkan semua peta yang dihasilkan berada pada tingkat kedetilan Skala 1:50. 000, sedangkan ketersedian Peta Geologi Skala 1:50. dari Kementerian ESDM masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data distribusi geologi permukaan beserta karakteristiknya yang dibutuhkan dalam perencanaan tata ruang dengan pendekatan analisis morfologi. Analisis morfologi detil dilakukan dengan mengolah data Digital Elevation Model dengan resolusi spasial 8 meter. Pendetilan klasifikasi morfologi dilakukan pada klasifikasi Bentuk Muka Bumi. Interpretasi morfologi dilakukan secara bertahap dengan membagi permukaan lahan dari general menuju detil menghasillkan kelas perbukitan tinggi berigir memanjang, perbukitan rendah berigir memanjang, lembah bergelombang antar perbukitan dan dataran. Interpretasi landform dilakukan dengan menambahkan data struktur geologi dan jenis batuan dalam analisis menghasilkan kelas landform perbukitan tinggi memanjang zona sesar, perbukitan rendah memanjang zona sesar, lembah bergelombang antar perbukitan zona sesar, dan dataran alluvial. Satuan Landform perbukitan memanjang zoan sesar dapat didetilkan berdasarkan pola relief serta kemiringan lerengnya menjadi igir, lereng curam, dan lereng landai. Perbukitan rendah memanjang zona sesar dapat dibagi menjadi igir dan lereng landai. Sedangkan lembah bergelombang antar perbukitan zona sesar dan dataran alluvium tidak menunjukkan adanya variasi lebih Satuan batuan breksi andesit merupakan litologi pembentuk morfologi perbukitan berigir memanjang, lembah bergelombang antar perbukitan terbentuk dari satuan batuan koluvium breksi andesit, sedangkan dataran alluvial terbentuk dari satuan batuan alluvium. Pembagian morfologi detil pada perbukitan mencerminkan perbedaan karakteristik derajat pelapukan batuannya serta karakteristik material pelapukan. Satuan batuan breksi andesit pada igir mengalami pelapukan kuat dan menghasilkan material tanah insitu yang banyak. Batuan dasar breksi andesit yang tersingkap di lereng curam mengalami pelapukan tahap awal dengan endapan tanah yang tipis di atasnya serta memiliki beberapa bongkah andesit yang terendapkan di tekuk-tekuk lerengnya. Lereng landai memiliki satuan batuan permukaan yang didominasi oleh material Satuan ini terdiri dari bongkah-bongkah breksi andesit yang tersebar di permukaan bercampur dengan material tanah lapuk hasil pelapukan dari igir dan/atau lereng curam. Lembah bergelombang antar perbukitan juga memiliki karakteristik satuan batuan permukaan yang terdiri dari bongkah-bongkah breksi andesit di permukaan lahan dengan tanah yang tebal hasil akumulasi tanah pelapukan dari perbukitan. Satuan batuan alluvium pada dataran alluvial tidak mencerminkan variasi yang berarti. Kata kunci: Morfologi detil. Satuan Batuan Permukaan. Abstract Ai Regional spatial planning requires accurate data according to the planning scale. One of the problems encountered in the analysis of spatial planning in Indonesia is the unavailability of some basic data that have a level of detail according to planning needs, including geological data. RTRWK requires a map at a scale of 1:50,000, while the availability of a Geological Map at a Scale of 1:50,000 from the Ministry of Energy and Mineral Resources is still very limited. This study aims to produce surface geological distribution data and its characteristics needed in spatial planning with a morphological analysis approach. Detailed morphological analysis is carried out by processing Digital Elevation Model data with a spatial resolution of Received March 11, 2025. Revised April 21, 2025. Accepted April 24, 2025 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. 8 meters. Detailing of the morphological classification is carried out on the BMB classification. Morphological interpretation is carried out in stages by dividing the land surface from general to detailed, producing classes of high ridged hills, low ridged hills, undulating valleys between hills and plains. Landform interpretation is carried out by adding geological structure data and rock types in the analysis, producing landform classes of high hills elongated fault zones, low hills elongated fault zones, undulating valleys between hills in fault zones, and alluvial plains. Landform units of elongated hills of fault zones can be detailed based on the relief pattern and slope gradient into ridge, steep slope, and gentle slope. Low hills elongated fault zones can be divided into ridge and gentle slope. Meanwhile, the undulating valleys between the hills of the fault zone and the alluvial plains do not show any further variations. The andesite breccia rock unit is the lithology that forms the morphology of elongated ridged hills, the undulating valleys between the hills are formed from andesite breccia colluvium rock units, while the alluvial plains are formed from alluvium rock units. The division of detailed morphology in the hills reflects the differences in the characteristics of the degree of weathering of the rocks and the weathering materials. The andesite breccia rock unit on the ridge experiences strong weathering and produces a lot of in-situ soil material. The andesite breccia bedrock exposed on steep slopes experiences early weathering with thin soil deposits on top and has several andesite boulders deposited in the bends of the slopes. Gentle slopes have surface rock units dominated by colluvium material. This unit consists of andesite breccia boulders scattered on the surface mixed with weathered soil material from ridge and/or steep slopes. The undulating valleys between hills also have characteristics of surface rock units consisting of andesite breccia boulders on the land surface with thick soil resulting from the accumulation of weathered soil from the hills. Alluvial rock units on alluvial plains do not reflect significant variations. Keywords: Detailed Morphology. Surface Lithological Unit PENDAHULUAN Perencanaan pengembangan dan pembangunan suatu wilayah dalam konteks tata ruang wilayah harus mempertimbangkan kondisi fisik lahan sebagai dasar analisis kemampuan lahan . Data-data geologi adalah bagian dari data fisik lahan yang dibutuhkan dalam analisis kondisi fisik dalam perencanaan tata ruang. Dalam peraturan tersebut disebutkan data-data kegeologian yang dibutuhkan dalam analisis rencana tata ruang adalah data morfologi, tingkat kekerasan batuan, kestabilan lereng, kestabilan batuan dasar, kelolosan air/drainase, pelapukan batuan, dan bencana geologi. Salah satu hambatan yang terjadi dalam perencanaan tata ruang wilayah di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan data-data spasial yang dibutuhkan untuk keperluan analisis . Ketersediaan data-data geologi yang bersumber dari pemerintah masih terbatas pada data dengan skala menengah dan Peta Geologi Regional yang dibuat oleh Badan Geologi. Kementerian ESDM memiliki skala 1:50. 000 untuk cakupan yang sangat terbatas, skala 1:100. 000 untuk cakupan Pulau Jawa dan skala yang lebih kecil untuk luar Pulau Jawa. Ketersediaan data geologi yang bersumber resmi dari pemerintah belum mencukupi kebutuhan analisis di tingkat semi detil hingga detil. Keperluan pembuatan peta-peta RTRW Kabupaten berada pada data-data spasial dengan skala minimal 1:50. 000, sedangkan ketersediaan Peta Geologi Skala 1:50. 000 belum tersedia secara menyeluruh untuk wilayah Indonesia. Data-data analisis turunan geologi yang dibutuhkan dalam analisis perencanaan tata ruang skala 1:50. 000 juga belum tersedia. Morfologi, tingkat kekerasan batuan, kestabilan lereng, kelolosan air/drainase, dan pelapukan batuan adalah data-data yang termasuk dalam karakteristik geologi permukaan yang dibutuhkan untuk analisis rencana tata ruang. Data-data tersebut berfokus pada karakteristik batuan permukaan yang akan dimanfaatkan dalam tata ruang. Karakteristik batuan permukaan berhubungan erat dengan bentuk muka permukaan bumi. Hal ini dikarenakan bentuk permukaan bumi yang ada saat ini merupakan hasil dari interaksi jenis batuan dengan tenaga geologi yang bekerja padanya. Jenis tenaga tersebut adalah kombinasi antara tenaga endogen yang bersifat membangun dan tenaga eksogen yang cenderung Terdapatnya bentukan sebuah perbukitan dipengaruhi oleh jenis batuan pembentuknya yang menyebabkannya tetap resisten, tenaga endogen yang membentuknya menjadi sebuah tinggian, serta tenaga eksogen yang menyebabkan proses pengikisan pada tubuh perbukitan tersebut. Dengan demikian maka morfologi permukaan bumi dapat dijadikan acuan dalam memetakan distribusi satuan-satuan batuan permukaan serta petunjuk untuk menginterpretasi karakteristiknya. Morfologi adalah salah satu aspek dari geomorfologi. Morfologi berfokus pada kajian bentuk permukaan bumi. Klasifikasi bentuk permukaan bumi dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Klasifikasi morfologi yang didasarkan aspek-aspek kuantitatif telah banyak dilakukan oleh peneliti dengan memanfaatkan data Digital Elevation Model dikenal dengan istilah morfometri. Nilai ketinggian pada setiap cell dapat dijadikan data dasar untuk melakukan analisis morfometri. Analisis morfometri yang kerap dilakukan adalah slope, curvature, dan hillshade. Jasiewicz. J . melakukan pengolahan KURVATEK Vol. No. April 2025: 99 Ae 110 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 data DEM untuk memodelkan bentuk-bentuk dasar permukaan bumi yang dia sebut dengan istilah geomorphons . Petra dkk. dan Abhista . A . menggunakan data Lidar untuk menginterpretasi secara visual unit geologi teknik suatu lokasi . Unit geologi teknik yang dihasilkan antara lain adalah sedimen alluvium, kolluvium longsoran, serta talus. Unit-unit tersebut dapat diinterpretasi dengan menganalisis pola bentuk muka buminya. Karakteristik batuan permukaan yang berhubungan dengan pola morfologi permukaan antara lain adalah derjat pelapukan dan tingkat kekerasan batuan. Budel . dalam Guiterrez . menyebutkan bahwa bentuk lahan dipengaruhi oleh resistensi batuan terhadap proses pelapukan dan erosi . Derajat pelapukan batuan mencerminkan tingkat pelapukan yang terjadi pada batuan. Material batuan yang terpapar karena tersingkap di permukaan akan mengalami disintegrasi secara mekanik maupun dekomposisi mineral yang menyusunnya. Proses pelapukan pada material batuan seringkali terjadi secara gradual dari dalam massa batuan hingga ke bagian luar dan membentuk tanah residu atau tanah hasil proses pelapukan. Semakin tinggi derajat pelapukan batuan yang terjadi maka semakin rendah tingkat kekerasan batuannya. Semakin tinggi derajat pelapukan batuannya maka potensi proses erosi juga akan semakin besar. Proses erosi yang intensif di permukaan lahan akan tercermin pada torehan-torehan yang terjadi di permukaan lereng. Torehan yang terjadi di permukaan lahan akan berpengaruh pada kekasaran lahan, sehingga tingkat kekesaran lahan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam menginterpretasi derajat pelapukan satuan batuan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi satuan-satuan batuan yang ada di permukaan lahan beserta dengan karakteristiknya dengan menggunakan data DEM Terrasar yang memiliki resolusi spasial 8 meter dengan melakukan analisis morfologi secara detil. II. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian terdapat di Desa Kamal Kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo. Secara umum terdapat dua satuan batuan di lokasi penelitian, yaitu Qa dan Ommbx (Gambar . Qa merupakan satuan batuan alluvium yang terdiri dari kerikil hingga pasir dan lempung. Satuan batuan Qa ini menumpang di atas satuan batuan yang lebih tua yaitu Ommbx yaitu Satuan Breksi Andesit Formasi Mandalika. Satuan batuan Ommbx ini terdiri dari breksi andesit dengan sisipan lava andesit, breksi batuapung dan breksi polimik serta retas diorit/mikrodiorit hornblenda. Gambar 1. Lokasi penelitian dalam Peta Geologi Skala 1:50. 000 oleh I. Warmada. Novita. Titisari. Setianto. Setyowiyoto dikeluarkan oleh Pusat Survei Geologi-Badan GeologiKementerian ESDM tahun 2024 Penelitian ini dilakukan dengan melakukan beberapa digital terrain analysis pada data DEM Terrasar dengan resolusi spasial 8 meter. Analisis data DEM diolah menjadi beberapa model turunan untuk melakukan interpretasi morfologi permukaan, yaitu geomorphons, streams, hillshade, slope, range serta perhitungan surface roughness. Analisis Morfologi Detil untuk Memetakan Karakteristik Satuan Batuan Permukaan (F. Maritimo. Budianta dan A. Setiant. 102 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Interpretasi morfologi permukaan dilakukan dengan menganalisis pola bentukan dari model geomorphons . , stream, hillshade dan model relief . Kemudian kelas-kelas morfologi dianalisis dengan tambahan data sekunder Peta Geologi skala 1:50. 000 untuk mengetahui jenis satuan batuan penyusunnya serta struktur geologi yang bekerja dalam pembentukan morfologinya. Peta bentuklahan sesuai dengan klasifikasi landform Bentuk Muka Bumi (BMB) . kemudian didetilkan kembali aspek morfologinya dengan menggunakan data model relief dan surface roughness. Pendetilan dilakuan secara bertahap dengan menganalisis kombinasi pola relief dominan, ada tidaknya kelas kemiringan lereng yang berbeda secara kontras, serta kekasaran permukaannya. Peta morfologi detil digunakan sebagai dasar untuk melakukan kegiatan survei lapangan. Survei lapangan dilakukan dengan cara melakukan identifikasi jenis litologi, derajat pelapukan, serta kekerasan batuan di setiap unit morfologi detil. Pengumpulan data lapangan bertujuan untuk melakukan validasi peta tentatif yang telah dihasilkan sebelumnya. Hasil dari validasi lapangan adalah berupa tiga peta, yaitu Peta Distribusi Satuan Batuan Permukaan. Peta Derajat Pelapukan Batuan, dan Peta Tingkat Kekerasan Batuan. Diagram alir penelitian secara lengkap tersaji pada Gambar 2. Gambar 2. Diagram alir penelitian Klasifikasi Landform Bentuk Muka Bumi (BMB) Klasifikasi landform BMB dibuat untuk tujuan pemetaan geomorfologi di skala 1:25. Klasifikasi ini disusun dengan mendasarkan variasi morfologi yang ada di permukaan bumi yang dibentuk oleh tenaga endogen dan eksogen. Sistem klasifikasi BMB dirasa sesuai dengan lingkup klasifikasi morfologi pada penelitian ini. Kelas-kelas morfologi digunakan sebagai jembatan dalam menginterpretasi batas-batas satuan batuan beserta dengan karakteristiknya. Klasifikasi morfologi yang diacu pada penelitian ini khusus pada bentangalam pegunungan sesar (Gambar . Hal ini dikarenakan lokasi penelitian memiliki bentuk perbukitan yang berasosiasi dengan garis sesar . yang memanjang sejajar dengan igir perbukitan yang berorientasi arah baratlaut-tenggara. Kesejajaran igir dengan garis sesar mengindikasikan genesa pembentukan perbukitan tersebut sangat berkaitan dengan proses struktural yang menghasilkan zona sesar. Pegunungan tersebut terbentuk dari satuan batuan Breksi Andesit Formasi Mandalika (Ommb. yang berasal dari aktivitas vulkanisme yang terjadi pada kala Oligosen Akhir hingga awal Miosen Tengah yang kemungkinan berasal dari Gunungapi purba Gajahmungkur dengan pusat erupsi di Gunung Tenong Selogiri . yang berada di sebelah timur lokasi penelitian. Saat ini, morfologi kerucut tubuh gunungapi purba tersebut sudah tidak terlihat. Gunungapi purba Gajahmungkur diperkirakan telah mengalami fase destruktif sehingga menghancurkan sebagian besar tubuh gunungapinya, dan saat ini hanya menyisakan sebagian dari sisa tubuhnya yang menyerupai bentuk kaldera yang terbuka ke arah utara. Lokasi penelitian merupakan bagian dari lereng bagian barat dari gunungapi purba Gajahmungkur, dengan ditemukannya perselingan breksi andesit dan KURVATEK Vol. No. April 2025: 99 Ae 110 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 lava andesit yang tersingkap di lereng sisi utara. Morfologi kerucut gunungapi telah mengalami penghancuran dan sudah tidak mencerminkan bentuklahan gunungapi lagi menjadikan dasar klasifikasi bentuklahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentangalam pegunungan sesar yang terbentuk pada pegunungan dengan material gunung api. Gambar 3. Acuan klasifikasi Bentuk Muka Bumi pada bentang alam pegunungan sesar . Digital Terrain Analysis Analisis terrain secara digital menggunakan data DEM sebagai data dasar. Alat pengolah yang digunakan adalah perangkat lunak pengolah data spasial atau GIS. Analisis terrain berkaitan dengan analisis morfologi, sehingga beberapa data turunan dari DEM dapat dibuat untuk menganalisis bentuk permukaan bumi. Pengolahan dasar untuk menganalisis morfologi atau bentuk permukaan bumi yang dapat dilakukan secara visual antara lain adalah hillshade, slope dan stream line (Gambar . Interpretasi morfologi secara visual mensyaratkan data dengan kenampakan mendekati tiga dimensional. Dengan kenampakan visual menyerupai tiga dimensi maka bentukan-bentukan dasar permukaan bumi seperti tinggian, dataran ataupun lembah dapat diinterpretasi. Melalui tools spatial analyst dan 3D analyst yang tersedia pada perangkat pengolah data spasial atau GIS maka hillshade, slope dan stream line dapat diolah menggunakan data DEM. Kualitas dan skala hasil pengolahan yang didapatkan akan sangat bergantung pada kualitas dan resolusi spasial data DEM yang digunakan. Gambar 4. Pengolahan DEM menjadi . slope dan . stream line Analisis Morfologi Detil untuk Memetakan Karakteristik Satuan Batuan Permukaan (F. Maritimo. Budianta dan A. Setiant. 104 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Model Relief Model relief dibuat berdasarkan klasifikasi relief yang diajukan oleh Dessaunett . dalam bukunya Catalogue of Landform for Indonesia. Kelas relief digunakan untuk menginterpretasi bentukan permukaan bumi atau morfologi sebelum dilakukan analisis lebih lanjut untuk menentukan genesa suatu Klasifikasi relief dibuat berdasarkan kelas kelerengan dan beda tinggi (Gambar . sesuai dengan yang tercantum dalam Table 1. Data DEM diolah kemiringan lerengnya dengan menggunakan tools slope pada perangkat lunak GIS, sedangkan beda tinggi diolah dengan menggunakan tools focal statistic range. Slope dan range kemudian dikombinasikan dengan tools raster calculator untuk mendapatkan hasil model reliefnya (Gambar . Tabel 1. Klasifikasi morfologi permukaan bumi berdasarkan Desaunettes . No. Kelas Morfologi Flat Undulating Rolling Hummocky Hillocky Hilly Mountainous Kelerengan (%) 03-Aug Aug-16 >16 >16 >16 >16 Beda Tinggi . <10 <10 <10 <10 Oct-50 >300 Gambar 5. Pengolahan DEM menjadi slope . dan range . atau beda tinggi Gambar 6. Model relief hasil pengolahan kombinasi slope dan range Geomorphons Geomorphons merupakan salah satu tools dalam perangkat pengolah GIS yang tersedia dalam Geomorphons adalah istilah yang digunakan untuk merepresentasikan landskap permukaan bumi. Geomorphons diidentifikasi berdasarkan perbedaan ketinggian antara satu titik di lokasi tertentu dengan beberapa titik lain disekitarnya. Jasiewics . mengklasifikasikan geomorphons kedalam 10 jenis pola landform, yaitu flat, peak, ridge, shoulder, spur, slope, hollow, footslope, valley dan pit . dengan ilustrasi masing-masing pola terlihat pada Gambar 7. Hasil pengolahan geomorphons dengan menggunakan moving windows selebar 3 cells terlihat pada Gambar 8. Gambar 7. Representasi 3D sepuluh jenis landform menurut Jasiewics . KURVATEK Vol. No. April 2025: 99 Ae 110 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Gambar 8. Hasil pengolahan geomorphons dengan MV 3 cells Surface Roughness Kekesaran permukaan lahan digunakan untuk menginterpretasi tingkat torehan yang terjadi di permukaan lahan. Tingkat kekeasaran diperoleh dengan mencari perbandingan antara selisih perbedaan ketinggian rata-rata - ketinggian minimum dengan selisih ketinggian maksimum Ae ketinggian minimum . Konsep ini dapat dimodelkan dengan data DEM menggunanakan perangkat pengolah GIS melalui tools focal statistic dengan memilih parameter mean, maximum dan minimum. Masing-masing hasil pengolahan focal statistic tersebut kemudian dieksekusi dengan tools raster calculator. Kemudian untuk menganalisis pola pengelompokan yang terjadi secara spasial, maka hasil dari surface roughness tersebut dicari nilai rata-ratanya pada moving windows yang lebih luas. Gambar 9. Pengolahan DEM menjadi . mean dengan MV 3 cells, . maximum dengan MV 3 cells dan . min dengan MV 3 cells Gambar 10. Pengolahan raster calculator menghasilkan model surface roughness . dengan MV 3 cells, dan hasil menghitung rerata . dengan MV 10 cells untuk melihat pola pengelompokkannya i. HASIL DAN DISKUSI Penelitian ini menghasilkan beberapa hasil pengolahan data DEM dari analisis terrain digital yang kemudian digunakan untuk melakukan interpretasi morfologi permukaan, bentuklahan berdasarkan kalasifikasi BMB, mendetilkan morfologi pada beberapa bentuklahan yang bervariasi dan melakukan interpretasi distribusi karakteristik geologi derajat pelapaukan batuan. Alur tahapan pendetilan morfologi yang dilakukan pada penelitian ini tergambar pada Gambar 11 di bawah ini. Analisis Morfologi Detil untuk Memetakan Karakteristik Satuan Batuan Permukaan (F. Maritimo. Budianta dan A. Setiant. 106 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Gambar 11. Alur pendetilan morfologi pada lokasi penelitian Interpretasi Morfologi Permukaan Morfologi permukaan diinterpretasi secara bertahap dengan menggunakan model relif yang di tumpang susun dengan data-data dasar lain yaitu hillshade dan stream line menghasilkan morfologi general yang dapat membagi permukaan bumi menjadi tinggian dan dataran. Kemudian interpetasi lebih lanjut dilakukan dengan menganalisis pola-pola bentuk dari tinggian tersebut berdasarkan perbedaan tinggi dan pola igir atau puncaknya. Hasilnya adalah kelas tinggian diketahui memiliki pola igir yang memanjang dan sebagian memiliki relief hilly atau perbukitan tinggi dan sebagain memiliki relief hillocky atau perbukitan rendah. Daerah dataran berdasarkan relief diketahui ada yang memiliki relief bergelombang . olling hingga hummock. dan terdapat dataran yang memiliki relief lebih rendah . lat hingga rollin. Dataran bergelombang tersebut secara morfoaransemen terletak tepat di antara dua perbukitan, sehingga morfologi dataran tersebut dapat diklasifikasikan sebagai lembah bergelombang antar perbukitan. Distribusi delineasi batas morfologi terlihat pada Gambar 12 di bawah ini. Gambar 12. Hasil delineasi batas-batas morfologi Interpretasi Bentuklahan Analisis bentuklahan membutuhkan informasi yang lebih holistik dibanding hanya menginterpretasi morfologi . Setelah melakukan interpretasi morfologi atau bentukan permukaan bumi maka KURVATEK Vol. No. April 2025: 99 Ae 110 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 setiap morfologi dapat dianalisis lebih lanjut berdasarkan genesa pembentukannya. Analisis genesa pembentukan menggunakan data-data geologi. Data geologi yang digunakan adalah informasi jenis satuan batuan dan struktur geologi yang didapat dari Peta Geologi Skala 1:50. 000 lembar Wonogiri . (Gambar . Diketahui bahwa morfologi perbukitan memanjang di lokasi penelitian berasosiasi dengan struktur sesar yang memanjang searah baratlaut-tenggara. Terdapat dua sistem sesar yang berpengaruh pembentukan perbukitan di lokasi penelitian, keduanya adalah sesar turun. Sesar tersebut memiliki pola yang sama dengan lereng perbukitan, memanjang dengan arah baratlaut-tenggara. Dengan dasar tersebut maka kompleks perbukitan di lokasi penelitian termasuk kelas perbukitan memanjang zona sesar pada sistem klasifikasi landform BMB. Dari peta geologi yang sama diketahui pula bahwa satuan batuan pembentuk perbukitan tersebut adalah Satuan Breksi Andesit Formasi Mandalika (Ommb. Perbukitan memanjang zona sesar tersebut terbentuk dari sisa tubuh gunungapi purba Gajahmungkur yang telah mengalami fase destruktif sehingga saat ini hanya menyisakan bentukan deretan perbukitan yang menyerupai kaldera bekas tubuh gunungapi dengan bukaan ke utara . Satuan batuan ini pula yang menjadi material pembentuk lembah antar perbukitan. Morfologi dataran di sebelah utara perbukitan memiliki material penyusun satuan batuan Alluvium yang berasal dari proses pengendapan sungai, sehingga bentuklahan dataran tersebut adalah dataran alluvium. Gambar 13. Proses Interpretasi bentuklahan dimulai dengan menganalisis morfologi . , kemudian analisis genesa dilakukan dengan memanfaatkan informasi struktur geologi dan satuan batuan pada Peta Geologi . , sehingga dihasilkan satuan-satuan bentuklahan di daerah penelitian . Pendetilan Morfologi Kelas bentuklahan yang dapat diinterpretasi memiliki variasi yang lebih tinggi dibanding dengan jenis satuan batuan . Hal ini dikarenakan dalam pemetaan geologi, satuan batuan yang diidentifikasi adalah batuan dasar, sedangkan dalam proses perkembangan bentuklahan, batuan dasar yang tersingkap ke permukaan terus mengalami proses-proses geologi baik endogenik maupun eksogenik. Perbedaan bentuk muka bumi pada satu jenis satuan batuan yang seragam dipengaruhi oleh tenaga endogen baik itu patahan, lipatan maupun proses gunungapi. Kompleks perbukitan lokasi penelitian merupakan bagian dari sisa tubuh gunungapi purba Gajahmungkur yang kemudian mengalami proses patahan sehingga menghasilkan bentukan deretan perbukitan zona sesar yang saat ini terlihat. Proses eksogen menjadi proses yang dominan merubah bentuk permukaan bumi hingga masa ini. Proses inilah yang menyebabkan terbentuknya banyak variasi bentuk permukaan bumi walaupun memiliki satuan batuan yang seragam. Namun bila dibandingkan secara skala terjadinya, maka proses endogen memiliki skala perubahan yang dapat jauh lebih besar dibanding dengan proses eksogen. Bentuk permukaan bumi dari proses patahan Analisis Morfologi Detil untuk Memetakan Karakteristik Satuan Batuan Permukaan (F. Maritimo. Budianta dan A. Setiant. 108 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. akan menghasilkan tinggian yang jauh lebih besar dibanding dengan torehan erosi lereng yang terjadi akibat proses eksogen. Perbedaan morfologi yang lebih detil akibat dari proses endogen dan eksogen tersebut masih dapat diidentifikasi menggunakan data DEM. Dalam sebuah bentuklahan perbukitan memanjang zona sesar, morfologinya masih dapat dibagi menjadi igir, lereng curam dan lereng landai. Igir merupakan area yang relatif datar yang memanjang di posisi paling atas sebuah perbukitan. Lereng curam dan landai diidentifikasi dari perbedaan relief dan kelas kemiringan lerengnya. Hasil pendetilan morfologi tersaji pada Gambar 14. Gambar 14. Pendetilan morfologi pada bentukalahan Perbukitan Memanjang Zona Sesar Interpretasi Karakteristik Geologi Morfologi detil dari bentuklahan perbukitan memanjang zona sesar berkaitan dengan perkembangan proses geomorfologinya. Proses geomorfologi yang disebabkan oleh tenaga eksogen mempengaruhi karakteristik batuan yang ada di permukaan . Proses pelapukan batuan adalah proses yang pertama terjadi pada batuan yang terkena tenaga eksogen. Pelapukan menyebabkan batuan terpecah-pecah menjadi material yang lebih kecil dan halus. Hal ini mengakibatkan beberapa hal, yaitu berkurangnya tingkat kekerasan batuan dan terbentuknya tanah hasil pelapukan. Tanah yang terbentuk dari proses pelapukan batuan juga akan selalu mengalami proses geomorfologi lebih lanjut. Tanah yang terbentuk akan mengalami proses pemindahan dari lokasi yang lebih tinggi ke lokasi yang lebih rendah melalui proses erosi. Akibatknya adalah lapisan tanah yang terbentuk akan terkikis dan batuan yang ada di bawahnya akan tersingkap kembali, dan proses pelapukan akan terulang kembali. Proses pelapukan dan erosi tersebut menyebabkan variasi bentuk permukaan bumi lebih lanjut. Pada bagian igir perbukitan, proses pelapukan akan berlangsung paling intensif, hal ini menyebabkan pembentukan tanah juga akan dominan. Namun jika kemiringan lerengnya tidak stabil, maka proses erosi akan menyertainya. Hal ini akan mengakibatkan terangkutnya tanah hasil pelapukan ke lereng-lereng yang lebih rendah menyisakan batuan-batuan dasar yang kembali tersingkap ke permukaan. Perbukitan di lokasi penelitian merupakan bagian dari lereng sebelah barat tubuh gunungapi purba Gajahmungkur yang memiliki pusat erupsi di Gunung Tenong Selogiri. Wonogiri . Material penyusun perbukitan didominasi oleh breksi dengan fragmen andesit dengan perselingan lava andesit di beberapa lokasi. Satuan batuan ini terpetakan sebagai satuan batuan Breksi Andesit Formasi Mandalika pada Peta Geologi Lembar Wonogiri Skala 1:50. Umur volkanisme Gunungapi purba Gajahmungkur berkisar antara Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah. Morfologi perbukitan yang kasar mengindikasikan bahwa satuan batuan ini telah mengalami proses pelapukan yang intensif. Jenis batuan breksi andesit sebagai penyusun utamanya akan mengalami pelapukan pada matriksnya terlebih dahulu, dan menyisakan fragmen-fragmen andesit yang lebih resisten. Pelapukan juga dominan terjadi pada rekahan-rekahan yang terbentuk akibat patahan hasil tenaga endogen. Hal ini menyebabkan akan banyak bongkah-bongkah breksi andesit ataupun fragmen andesit yang terpindahkan ke lereng-lereng yang ada di Morfologi lereng curam perbukitan memanjang zona sesar ditemui bongkah-bongkah breksi andesit yang terpindahkan dari lereng atas. Proses pelapukan tidak seintensif dibanding yang terjadi di igir, kekerasan batuan dasar masih keras. Material tanah yang ditemu di lereng curam adalah tanah eksitu, tanah yang mengalami transportasi dari lereng atas, namun dikarenakan kemiringan lereng ini masih sangat tinggi maka ketebalan tanah rata-rata adalah tipis. Lereng landai memiliki banyak bongkahKURVATEK Vol. No. April 2025: 99 Ae 110 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 bongkah breksi andesit hasil transportasi dari lereng atas. Material tanahnya juga cukup tebal akibat dari proses sedimentasi material yang berasal dari lereng di atasnya. Dikarenakan kemiringan lereng yang lebih landai, maka material tanah akan banyak terakumulasi pada lereng ini. Distribusi karakteristik permukaan pada setiap satuan bentuklahan tersaji pada Gambar 15. Gambar 15. Karakteristik material geologi permukaan pada morfologi detil IV. KESIMPULAN Data DEM dengan resolusi spasial 8 meter dapat digunakan untuk melakukan interpretasi morfologi secara detil. Interpretasi morfologi dengan menganalisis data-data turunan DEM dapat membuat acuan batas satuan unit litologi dengan lebih akurat. Kelas morfologi detil pada bentuklahan Perbukitan Memanjang Zona Sesar yang diajukan adalah igir, lereng curam, dan lereng landai. Kelas morfologi detil dapat menunjukkan perbedaan karakteristik geologi permukaan, terutama derajat pelapukan batuan dan karakteristik material hasil pelapukan. Material penyusun perbukitan berasal dari produk aktivitas vulkanisme Gunungapi Purba Gajahmungkur dengan umur vulkanisme berkisar antara Oligosen Akhir hingga Miosen Tengah telah mengalami pelapukan yang intensif. Proses eksogen yang saat ini dominan terjadi adalah proses erosi, transportasi dan sedimentasi. Proses yang dominan terjadi pada morfologi igir adalah erosi dari tanah hasil pelapukan yang telah lama terjadi, menghasilkan bentukan sisa breksi andesit yang telah terkikis bagian luarnya. Morfologi lereng curam adalah bagian dengan proses transportasi paling intensif, menghasilkan tanah yang tipis dengan banyak batuan dasar yang tersingkap di permukaan berupa breksi andesit dan lava andesit. Morfologi lereng landai dan lembah antar perbukitan memiliki proses sedimentasi yang lebih dominan. Morfologi tersebut terdiri dari akumulasi tanah hasil pelapukan yang bercampur dengan pecahan-pecahan sisa breksi andesit yang telah lapuk dan ikut tertransport. Satuan morfologi lereng landai serta lembah antar perbukitan memiliki karakteristik tanah yang tebal hasil akumulasi pengendapan dari igir dan lereng-lereng yang berada di atasnya. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang telah memberikan dukungan penelitian. DAFTAR PUSTAKA