PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . EKSPLORASI PREFERENSI RUANG KERJA DITINJAU DARI FAKTOR PERSONAL DAN KEPRIBADIAN MAHASISWA EXPLORING WORKSPACE PREFERENCES: THE ROLE OF PERSONAL FACTORS AND PERSONALITY AMONG UNIVERSITY STUDENTS Fatiya Halum Husna. Yuli Rahmawati. Ridwan Aji Budi Prasetyo Universitas Brawijaya fatiyahalum@ub. rahmawati@ub. prasetyo@ub. ABSTRAK Pada era waktu kerja fleksibel, mahasiswa memiliki kebebasan untuk memilih ruang kerja yang sesuai dengan preferensi masing-masing seperti mengerjakan di perpustakaan, communal space, atau di ruang belajar informal lainnya. Namun, ruang kerja yang tidak ideal dapat menggangu performa dari individu. Pemilihan ruang kerja didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan khusus seperti faktor personal dan Tujuan penelitian yakni untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor personal . sia dan uang sak. dan kepribadian dengan preferensi ruang kerja pada Subjek penelitian sebanyak 226 orang mahasiswa yang diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. Kepribadian diukur menggunakan Neuroticism-Extraversion-Openness Five Factor Inventory (NEO-FFI). Data penelitian dianalisis menggunakan analisis chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa diantara faktor personal lain seperti usia dan kepribadian, hanya uang saku mahasiswa yang memiliki hubungan dengan preferensi ruang kerja. Temuan penelitian ini menegaskan urgensi bagi pihak terkait untuk mempertimbangkan faktor ekonomi mahasiswa dalam menyediakan berbagai pilihan ruang kerja atau ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan keterjangkauan mahasiswa. Kata Kunci: kepribadian, mahasiswa, ruang kerja, usia, uang saku ABSTRACT In the flexible-work era, students have the freedom to choose a workspace that suits their preferences such as working in the library, communal spaces, or other informal learning However, non-ideal workspaces can interfere with the performance of individuals. The choice of workspace is based on specific considerations such as personal and personality The purpose of the study was to identify the relationship between personal factors . ge and pocket mone. and personality with workspace preferences in university students. The research subjects were 226 students who were taken using accidental sampling Personality was measured using the Neuroticism-Extraversion-Openness Five Factor Inventory (NEO-FFI). The research data were analyzed using chi-square analysis. The results showed that among other personal factors such as age, regional origin, and personality, only students' pocket money had a relationship with workspace preference. The findings of this study emphasize the urgency for relevant parties to consider students' economic factors in providing various workspace or study space options that suit students' needs and affordability. Keywords: age, pocket money, personality, university students, workspace http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Preferensi individu untuk memilih tempat kerja terjadi di lingkungan universitas yang mana mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan untuk menyelesaikan tugas yang menjadi pekerjaannya. Hal ini salah satunya disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran universitas untuk memberikan ruang kerja umum seperti gazebo bagi mahasiswa agar bisa bekerja secara kolaboratif. Selain ruang kerja yang disediakan oleh kampus, mahasiswa juga memiliki preferensi untuk mengerjakan tugas di ruang belajar informal seperti kafe atau coffee shop. Salah satu alasan mahasiswa memilih untuk mengerjakan tugas di ruang belajar informal yakni ruang kerja informal dapat memberikan fasilitas fisik yang memuaskan sehingga diharapkan dapat meningkaykan prestasi belajar (Adityawirawan & Kusuma, 2. Selain itu hasil penelitian Hunter dan Cox . menunjukkan bahwa mahasiswa mempertimbangkan suasana latar belakang ruang kerja informal yang mereka pilih untuk belajar atau mengerjakan tugas. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki berbagai pertimbangan dalam memilih ruang untuk belajar atau menyelesaikan tugas mereka. Preferensi ruang kerja khususnya ruang kerja yang kreatif dapat didefinisikan sebagai lingkungan kerja dengan struktur fisik yang unik dan elemen-elemen desain untuk memantik kreativitas dan inovasi dari karyawan (Maier dkk. , 2. Hasil penelitian Jahncke & Hallman . menunjukan lingkungan fisik di tempat kerja maupun ruang kerja dapat memengaruhi performa kognitif dari individu. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik seperti kebisingan, kenyamanan, dan aspekaspek fisik lainnya menjadi salah satu pertimbangan keberhasilan individu. Penelitian Chafi dkk. mengidentifikasi faktor-faktor ruang kerja yang menjadi preferensi individu yakni jumlah karyawan dalam ruangan, kondisi organisasi seperti kebersihan meja, fitur-fitur arsitektur umum, ruang kerja yang memiliki meja dan kursi untuk karyawan melakukan diskusi atau rapat. Pemilihan ruang kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor pada individu yang membuat masing-masing individu memiliki preferensi yang berbeda-beda salah satunya faktor personal. Faktor personal merupakan aspek-aspek dalam diri individu yang membedakan satu individu dengan individu lainnya yang mana memiliki dampak pada cara individu merespon lingkungan sekitar (Gifford & Nilsson, 2. Faktor-faktor personal non-kepribadian yang dilibatkan dalam penelitian ini meliputi usia dan uang http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Pemilihan faktor-faktor personal ini berdasarkan pada hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian Rothe dkk. menemukan adanya perbedaan yang menunjukkan bahwa generasi yang lebih tua menekankan tempat kerja yang mengutamakan keberlanjutan dibandingkan karyawan yang lebih Generasi milenial lebih nyaman untuk bekerja pada ruang kerja yang memungkinkan mereka untuk berkolaborasi dengan orang lain meskipun membutuhkan konsentrasi lebih besar dibandingkan milenial yang lebih tua (Juwono dkk. , 2. Faktor personal dari sisi ekonomi memiliki hubungan dengan berbagai preferensi Individu dengan sumber daya yang lebih sedikit baik secara ekonomi maupun sosial akan mempertimbangkan prioritas mereka dan mengalokasikan pada kebutuhan yang bersifat jangka pendek (Boon-Falleur dkk. , 2. Salah satu sumber daya ekonomi yang dimiliki mahasiswa adalah uang saku. Penelitian Agustina & Awnurropiq . menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara uang saku dan gaya hidup mahasiswa terhadap pola konsumsi mereka sehari-hari. Pola konsumsi tersebut dalam bentuk makanan ataupun non makanan seperti hal-hal yang berkaitan dengan tren. Selain uang saku, usia juga menjadi salah satu faktor yang menentukan pemilihan ruang yang terbuka atau tertutup bagi individu (Lindberg dkk. , 2. Individu berusia lebih muda cenderung lebih menyukai ruang kerja yang terbuka dibandingkan individu yang berusia lebih tua. Selain faktor personal seperti usia dan uang saku, kepribadian juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi preferensi ruang kerja individu. Kepribadian menurut Roberts & Mroczek . alam Feist & Feist, 2. merupakan suatu pola sifat yang relatif permanen dan karakteristik unik yang memberikan konsistensi dan individualitas pada perilaku seseorang. Hasil penelitian Baranski dkk. menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang signifikan antara tipe ruang kerja dengan tipe kepribadian extraversion, neuroticism, dan openness khususnya pada aspek kemampuan untuk memfokuskan diri pada pekerjaan. Selain itu, individu dengan karakteristik kepribadian tertentu yakni extraversion merasa lebih puas dengan situasi di dalam ruangan dibandingkan tipe kepribadian lainnya (Cheung dkk. , 2. Menurut hasil penelitian Kim & Hong . lingkungan yang tidak nyaman akan meningkatkan intensitas pengalaman emosional individu. Berdasarkan kajian terkait penelitian-penelitian sebelumnya tersebut maka dapat dilihat bahwa pemilihan individu terkait ruang kerja melibatkan berbagai variabel http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 prediktor seperti faktor personal dan kepribadian. Pemilihan ruang kerja yang tepat dapat menunjang performa individu dan meningkatkan keberhasilan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor personal . sia dan uang sak. dan kepribadian dengan preferensi ruang kerja pada mahasiswa. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yakni terdapat hubungan antara faktor personal dan kepribadian dengan preferensi ruang kerja pada mahasiswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan menggunakan analisis statistik chi-square . Adapun variabel dalam penelitian ini adalah faktor personal usia(X. , uang saku (X. dan kepribadian (X. , dan variabel preferensi ruang kerja (Y). Subjek dalam penelitian ini yakni 226 mahasiswa yang diambil menjadi sampel penelitian menggunakan teknik insidental. Adapun variabel usia, uang saku dan preferensi ruang kerja dikumpulkan menggunakan survei. Pertanyaan terkait usia berupa isian bebas yang mana partisipan dapat menuliskan sendiri sesuai kondisi pribadi masing-masing terkait usia. Pada pertanyaan terkait uang saku pilihan jawaban yang disediakan berupa rentang uang saku per-bulan mulai dari uang saku kurang dari 1 juta hingga lebih besar dari 2. 5 juta. Partisipan diminta untuk memilih salah satu dari lima pilihan rentang uang saku yang disajikan dalam form survei. Variabel preferensi ruang kerja diukur menggunakan survei yang berisikan daftar ruang kerja yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Adapun pilihan ruang kerja yang disajikan meliputi ruang kerja di dalam kampus dan ruang kerja di luar kampus. Pilihan ruang kerja dalam survei ini yakni perpustakaan, ruang kerja bersama di kampus . isal: gazebo fakulta. , laboratorium, ruang komunal mahasiswa, tempat ibadah, kantin kampus, rumah/kos/apartemen, cafy atau coffee shop. Partisipan diminta untuk mengurutkan pilihan ruang kerja mulai dari yang paling disukai untuk mengerjakan tugas hingga yang paling tidak disukai. Variabel tipe kepribadian pada penelitian ini diukur menggunakan NeuroticismExtraversion-Openness Five Factor Inventory (NEO-FFI) yang dikembangkan oleh McCrae dan Costa . dan diadaptasi dalam versi Bahasa Indonesia (Alhad & Turnip. Pengukuran menggunakan skala ini menghasilkan profil inventori kepribadian http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 yang paling dominan dari partisipan. Skala ini terdiri atas 60 item pernyataan yang terbagi dalam 5 faktor kepribadian berdasarkan teori Big-Five yakni neuroticism, extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness. Masing-masing faktor memiliki 12 item pernyataan dengan empat pilihan jawaban yakni AuSangat Sesuai (SS)Ay. AuSesuai (S)Ay. AuTidak Sesuai (TS)Ay, dan AuSangat Tidak Sesuai (STS)Ay. Pernyataan tersebut kemudian diberi skor yakni 1 hingga 4 untuk pernyataan favorable dan 4 Ae 1 untuk pernyataan unfavorable. Skala penelitian yang digunakan dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitas dari instrumen. Hasil uji validitas menggunakan validitas kontruk Confirmatory Factor Analysis (CFA) menunjukkan bahwa Skala NEO-FFI ini valid, terdapat kesamaan antara model teoritis dengan model empiris (RMSEA=0,077. GFI=0,. Terkait dengan uji reliabilitas, masing-masing faktor dari Skala NEO-FFI dianalisis dengan melihat reliabilitas skor komposit mengingat bahwa konstruk Big-Five Personality merupakan konstruk multidimensi. Hasil uji reliabilitas komposit masingmasing faktor dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Uji Reliabilitas Komposit Skala NEO-FFI Faktor Neuroticsm Extraversion Openness Agreeableness Conscientiousness Nilai Cronbach 0,888 0,809 0,709 0,716 0,826 Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Berdasarkan hasil uji reliabilitas di atas dapat diketahui bahwa semua faktor dari Skala NEO-FFI memiliki nilai reliabilitas komposit yang memenuhi untuk dapat mengukur kepribadian secara konsisten dan tepat. Data penelitian yang terkumpul dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik Chi-square dengan aplikasi JASP. HASIL PENELITIAN Hasil dari proses pengambilan data pada dari 226 subjek kemudian dilakukan analisis lebih lanjut. Hasil survei terkait usia, uang saku, dan kepribadian berupa data Kategori dari data untuk masing masing variabel mengacu pada berikut: http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 2. Data demografis penelitian Variabel Usia Kategori Uang Saku <1. >2. Trait Big-Five Agreeableness Neuroticism Extraversion Openness Conscientiousness Preferensi Ruang Personal Space Kerja Coffee Shop Communal Space Jumlah Persentase 0,44% 1,77% 18,14% 46,47% 24,34% 7,96% 0,88% 20,35% 28,32% 20,8% 17,26% 13,27% 23,01% 23,9% 28,32% 17,7% 7,07% 74,34% 17,26% 8,4% Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa rentang usia subjek penelitian bergerak dari usi 16-22 tahun dengan mayoritas subjek berusia 19 tahun . ,47%). Hanya ada 1 orang subjek penelitian yang berusia 16 tahun. Variabel uang saku dikategorikan dalam 5 rentang nominal uang saku. Hasil pengambilan data menunjukkan mayoritas subjek penelitian sebanyak 64 orang memiliki uang saku antara 1. 000 perbulan . ,32%). Pada variabel kepribadian yang dikelompokkan dalam lima kategori trait big-five diketahui bahwa sekitar 28,32% subjek penelitian memiliki trait yang dominan yakni extraversion. Terkait preferensi ruang kerja, mahasiswa mayoritas memilih bekerja di ruang kerja pribadi . ersonal spac. seperti rumah, kamar kos, asrama, atau apartemen . ,34%). Data demografis di atas kemudian dianalisis dengan mengaitkan dengan preferensi ruang kerja. Data terkait uang saku dikategorikan menjadi lima kategori yakni Ausangat rendahAy untuk pilihan uang saku <1. AurendahAy untuk pilihan uang saku 000. AusedangAy untuk pilihan uang saku 1. AutinggiAy untuk pilihan uang saku 2. 000, dan Ausangat tinggiAy untuk pilihan uang saku >2. Preferensi ruang kerja dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan tiga kategori yakni ruang pribadi . ersonal spac. , coffee shop, dan ruang http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 kerja umum di dalam kampus . ommunal spac. Hasil analisis data untuk uji hipotesis penelitian dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Analisis Chi-Square Variabel X1yY X2yY X3yY Value Keterangan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan X1=usia. X2=uang saku. X3=kepribadian. Y=preferensi ruang kerja. Berdasarkan hasil uji analisis data pada tabel diatas dapat diketahui bahwa dari tiga variabel bebas dalam penelitian ini yakni usia, uang saku, dan kepribadian hanya variabel uang saku sebagai faktor personal yang secara signifikan berperan terhadap preferensi ruang kerja mahasiswa (X2=18. 374, p=0. 019, p<0. Variabel bebas lainnya yakni usia, dan kepribadian tidak memiliki hubungan dengan preferensi ruang kerja mahasiswa. DISKUSI Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, dapat diketahui bahwa diantara faktor-faktor personal . sia dan uang sak. dan kepribadian hanya faktor personal berupa uang saku yang terbukti secara signifikan dapat menjadi prediktor preferensi ruang kerja mahasiswa. Preferensi ruang kerja yang diidentifikasi dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi tiga yakni ruang kerja pribadi . ersonal spac. seperti rumah, kamar kos, asrama. coffee shop, dan ruang kerja umum di dalam kampus atau communal space . isal: gazebo fakultas, perpustakaan, ruang bac. Hasil penelitian Chafi dkk. menunjukkan bahwa beberapa aspek yang menjadi pertimbangan karyawan dalam memilih ruang kerja yakni atribut fungsional, aspek sosial seperti kedekatan dengan rekan kerja/orang lain, atribut suasana yang diinginkan, pembatasan atas stimulus visual maupun audio, dan atribut emosional seperti kemungkinan untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Ruang kerja yang paling mendekati dengan karakteristik tersebut yakni co-working space atau cafy yang mana diprediksi menjadi tempat yang paling disukai mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Faktor personal yang secara signifikan memprediksi preferensi ruang kerja mahasiswa dalam penelitian ini yakni uang saku. Penelitian Sakdiyah & Handayani . menunjukkan bahwa uang saku mahasiswa memiliki pengaruh yang signifikan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 pada perilaku konsumtif. Semakin tinggi uang saku mahasiswa akan diikuti dengan perilaku konsumtif yang lebih tinggi. Bentuk perilaku konsumtif yang berkaitan dengan pemilihan ruang kerja termasuk memilih mengerjakan tugas di co-working space atau coffee shop. Jika dikaitkan dengan temuan penelitian ini, mayoritas mahasiswa memiliki uang saku berkisar antara 1. 000 yang masuk dalam kategori rendah dan sebagian besar memilih mengerjakan tugas di personal space atau ruang kerja pribadi seperti di rumah, kos, atau apartemen. Hal ini menunjukkan bahwa besaran uang saku menjadi salah satu pertimbangan individu untuk memilih ruang kerja tempat mereka untuk mengerjakan tugas. Pilihan mahasiswa untuk mengerjakan tugas di rumah, kos, atau apartemen meminimalisir dampak ekonomis yakni mereka tidak perlu mengeluarkan uang saku. Faktor ekonomi dapat menjadi determinan yang kuat dalam menentukan pola perilaku individu dibandingkan faktor lainnya seperti usia dan kepribadian. Menurut Boon-Falleur dkk. besaran sumber daya pada individu menjadi pertimbangan dalam mengalokasikan sumber daya tersebut. Semakin sedikit sumber daya yang dimiliki maka individu akan memilih mengalokasikan sumber daya tersebut untuk kebutuhan dengan keuntungan yang lebih besar dan berorientasi jangka pendek. Sumber daya yang dimaksud salah satunya adalah uang, waktu, dan lain sebagainya. Mahasiswa memiliki sumber daya berupa uang saku yang terbatas sehingga sangat mungkin untuk lebih mengalokasikan uang sakunya untuk kebutuhan utama seperti untuk makan atau mobilitas ke kampus. Uang saku yang tidak mencukupi, akses coffee shop yang mahal, dan ruang komunal di dalam kampus yang terbatas membuat mahasiswa memilih untuk mengerjakan tugas di rumah, kos atau apartemen. Mayoritas mahasiswa lebih memilih bekerja di ruang kerja pribadi atau personal space seperti rumah, kamar kos, atau apartemen. Temuan ini sejalan dengan penelitian Beckers dkk. yang mana menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki preferensi untuk mengerjakan tugas individu di rumah dan aktivitas belajar kelompok di lingkungan Faktor lainnya seperti jenis tugas yang dikerjakan dan jenis aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa termasuk faktor yang lebih penting menjadi pertimbangan mahasiswa dalam memilih ruang kerja mereka (Yau dkk. , 2. Pada penelitian Yau dkk. disebutkan bahwa mahasiswa memilih ruang yang sunyi untuk melakukan aktivitas seperti tugas belajar mandiri . elf stud. Jenis tugas seperti menghafal dirasa http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 lebih mudah dilakukan di rumah, tugas menghitung lebih mudah dikerjakan saat di perpustakaan, dan mahasiswa lebih mudah mengerjakan tugas yang membutuhkan kreativitas di luar kampus atau tempat makan (Nagai dkk. , 2. Pemahaman terkait kebutuhan ruang kerja bagi mahasiswa dapat membantu pihak-pihak seperti universitas untuk menyediakan ruang kerja sesuai tugas-tugas mahasiswa. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa diantara faktor personal pada mahasiswa yakni usia, uang saku dan kepribadian hanya uang saku yang memiliki hubungan dengan preferensi ruang kerja mahasiswa. Selain itu, dapat diketahui bahwa mayoritas mahasiswa memiliki preferensi untuk mengerjakan tugas di ruang kerja pribadi . ersonal spac. seperti rumah, kamar kos, atau apartemen. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi memiliki hubungan dengan keputusan mahasiswa dalam memilih tempat mereka dalam mengerjakan tugas yang menjadi temuan baru dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya. Temuan penelitian ini dapat menjadi pertimbangan bagi universitas untuk menyediakan fasilitas ruang kerja bagi mahasiswa sesuai dengan preferensi mereka. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi masukan bagi penyedia layanan ruang kerja komersil . offee shop atau co-working spac. yang menyasar pada konsumen mahasiswa untuk menyesuaikan harga layanan sesuai dengan besaran uang saku mahasiswa didaerahnya. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yakni homogenitas subjek yang terdiri atas subjek mahasiswa di satu kampus di Kota Malang. Penelitian ini juga hanya memberikan pilihan preferensi ruang kerja secara umum tanpa mengukur preferensi dari segi aspek fisik dari masing-masing ruang kerja. Penjelasan terkait pertanyaan preferensi mengerjakan tugas juga sangat umum sehingga dapat membuat subjek menjadi bias. Saran bagi peneliti selanjutnya yakni mengukur preferensi ruang kerja dengan melibatkan aspek-aspek kualitas lingkungan dalam ruangan . ndoor environmental qualit. agar dapat lebih dalam mengeksplor karakteristik ruang kerja. Selain itu, pengembangan penelitian serupa dengan melibatkan subjek dengan karakteristik yang berbeda seperti remote worker atau freelancer yang banyak bekerja di co-working space atau cafy dan telah memiliki penghasilan sendiri dapat menambah perkembangan penelitian terkait ruang kerja. Penjelasan konteks yang spesifik misalkan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 tempat mengerjakan tugas individu atau tugas berkelompok juga dapat diberikan untuk meminimalisir kesalahan dalam memahami konteks penelitian. DAFTAR PUSTAKA