OPTIMASI BIAYA POKOK PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK PADA POLA PENGOPERASIAN PLTMH SISTEM SULBAGSEL MENGGUNAKAN TOOLS JOINT RESOURCE OPTIMIZATION AND SCHEDULER (JROS) Diani Rida Pratiwi1. Mohammad Mulia2 Sekolah Tinggi Teknologi Duta Bangsa Jl. Kalibaru Timur Kel. Kalibaru Medan Satria Kota Bekasi dianiridap@gmail. com1 mochammad. mulia@sttdb. Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) terus berkembang sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 guna memenuhi kebutuhan listrik nasional yang PLN bekerja sama dengan Independent Power Producer (IPP) dalam menyediakan energi listrik, termasuk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Akan tetapi, tarif listrik dari PLTMH memiliki komponen biaya variabel yang lebih tinggi dibandingkan beberapa pembangkit energi primer lainnya. Selain itu, pengoperasian pembangkit IPP yang melebihi rencana pembebanan serta kurangnya pengawasan realtime menyebabkan meningkatnya biaya pokok penyediaan listrik, sehingga mengurangi efisiensi ekonomi sistem kelistrikan. Oleh karena itu, diperlukan kajian dan studi optimasi guna menentukan pola pengoperasian pembangkit yang lebih optimal. yang andal, berkualitas, dan ekonomis. Untuk Kata Kunci : Energi Baru dan Terbarukan. PLN. PLTMH, biaya pokok penyediaan, optimasi Producer mencapai hal tersebut, diperlukan pola operasi sistem kelistrikan yang optimal, terutama dalam menghadapi peningkatan kebutuhan listrik serta Energi Baru Terbarukan (EBT) sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017. Sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagse. , yang dikelola oleh PLN UIP3B Sulawesi UP2B Sistem Makassar, mencakup berbagai jenis pembangkit, termasuk tenaga uap, air, diesel, gas bumi, surya, dan angin. Salah satu strategi pemanfaatan EBT adalah melalui kerja sama PLN dengan Independent Power Pembangkit (IPP) Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Akan tetapi, tarif listrik dari PLTMH PENDAHULUAN Latar Belakang yang dikelola swasta memiliki biaya variabel yang lebih tinggi dibandingkan pembangkit Energi listrik memiliki peran penting dalam Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan kehidupan sosial dan ekonomi, sehingga PLN untuk mengkaji dan mengoptimasi biaya pokok bertanggung jawab memastikan pasokan listrik penyediaan energi listrik di sistem Sulbagsel guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sistem kelistrikan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian ini berfokus pada optimasi biaya pokok penyediaan tenaga listrik pada pola pengoperasian PLTMH di sistem Sulbagsel menggunakan Joint Resource Optimization and Scheduler . ROS). Adapun rumusan masalah dan Gambar 2. Aplikasi jROS (Joint Resource Optimization and Schedule. tujuan yang dikaji meliputi: . analisis kondisi awal biaya pokok penyediaan energi listrik terkait pola pengoperasian PLTMH IPP, . identifikasi metode dan skenario optimasi berdasarkan prinsip Desain Penelitian Diagram penelitian dibuat untuk mengerjakan sebuah penelitian secara runtut. keekonomian menggunakan jROS, serta . evaluasi perbandingan kondisi sebelum dan sesudah optimasi, termasuk estimasi potensi penghematan biaya berdasarkan hasil simulasi. METODOLOGI PENELITIAN Tempat. Waktu, dan Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT PLN (Perser. UIP3B Sulawesi UP2B Sistem Makassar pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025, dengan objek penelitian berupa optimasi biaya pokok penyediaan tenaga listrik pada pola pengoperasian PLTMH Sistem Sulbagsel menggunakan Tools jROS. jROS (Joint Resource Optimization and Schedule. energi buatan Siemens yang digunakan PLN dalam perencanaan operasi sistem kelistrikan, khususnya untuk kebutuhan economic dispatch. Gambar 2. Diagram Penelitian Metode Analisis Data Analisis dilakukan dalam tiga tahap: Analisis Kondisi Awal: Mengkaji kondisi awal biaya pokok penyediaan energi listrik untuk memahami dampak pola operasi PLTMH Biaya Pokok Penyediaan Sistem Sulbagsel Rencana Operasi FIX COST (R. 734,694,281,878. listrik di Sistem Sulbagsel akan di hitung VAR COST (R. 688,254,001,881. 681,371,461,862. ALL COST (R. 1,422,948,283,760. 1,416,065,743,741. menggunakan formulasi sebai berikut : PRODUKSI (MW. 1,111,469. 1,101,275. 1,280. 1,285. Perhitungan biaya pokok penyediaan energi BPP (Rp/kW. Realisasi Meter 734,694,281,878. Hasil analisa kondisi awal menujukkan masih terdapat beberapa PLTMH yang beroperasi diatas rencana operasi, yang Dimana : BPP (Rp/kW. = Biaya Pokok Penyediaan Energi Listrik Fix Cost (R. mengakibatkan naik nya BPP energi Listrik di Sistem Sulabasel. = Biaya Tetap komponen A,B,E Var Cost (R. = Biaya Variabel komponen C,D Produksi . WH) = Total energi listrik dibangkitkan 2 Simulasi Optimasi BPP Simulasi berdasarkan tiga case yaitu : Simulasi dengan Tools jROS: Menggunakan . PLTMH dioperasikan beban maksimal metode Hydro Thermal Coordination (HTC) . PLTMH dioperasikan beban minimum untuk penjadwalan pembangkitan dengan . PLTMH tidak dioperasikan mempertimbangkan minimasi biaya operasi. Evaluasi Hasil Optimasi: Membandingkan Tabel 3. Pola Pembebanan PLTMH untuk Tiga Case Simulasi kondisi sebelum dan sesudah optimasi untuk mengidentifikasi potensi penghematan biaya Pembangkit Harga Energi (Rp/kW. DMN (MW) Case 1 PLTMH Beban Maksimal Produksi (MW. Beban (MW) dalam sistem kelistrikan Sulbagsel. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Analisis Kondisi Awal Hasil analisa kondisi awal yang telah TANGKA MANIPI MALEA PONGBATIK SIMBUANG SITEBA TOMBOLO BUNGIN BANTAENG SALUNOA KORO YAENTU KORO TOMASA RANTEBALA KORO KOBALO MADONG MAITING HULU USSUMALILI TOMATA WAWOPADA Case 2 PLTMH Beban Minimum Beban (MW) Produksi (MW. Case 3 PLTMH Tidak Dioperasikan Produksi (MW. Beban (MW) dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 3. Analisa Kondisi Awal Produksi PLTMH Sistem Sulbagsel Pembangkit TANGKA MANIPI Harga Energi (Rp/kW. Daya Mampu Rencana Operasi Realisasi Netto (MW) Bulanan (MW. Meter (MW. 1,021. MALEA PONGBATIK 1,290. SIMBUANG SITEBA TOMBOLO % Pembebanan Realisasi terhadap Rencana Evaluasi Pembebanan Ic Lebih Tinggi Dari Rencana Ie Lebih Rendah Dari Rencana Ic Lebih Tinggi Dari Rencana Ic Lebih Tinggi Dari Rencana Ie Lebih Rendah Dari Rencana 1,020. Ie Lebih Rendah Dari Rencana BUNGIN 1,020. Ie Lebih Rendah Dari Rencana BANTAENG 1,320. Ic Lebih Tinggi Dari Rencana SALUNOA Ic Lebih Tinggi Dari Rencana KORO YAENTU Ie Lebih Rendah Dari Rencana KORO TOMASA Ie Lebih Rendah Dari Rencana RANTEBALA 1,020. Ic Lebih Tinggi Dari Rencana KORO KOBALO 1,320. Ic Lebih Tinggi Dari Rencana MADONG 1,320. Ic Lebih Tinggi Dari Rencana MAITING HULU Ic Lebih Tinggi Dari Rencana USSUMALILI Ic Lebih Tinggi Dari Rencana TOMATA 1,320. Ie Lebih Rendah Dari Rencana WAWOPADA 1,020. Ic Lebih Tinggi Dari Rencana Tabel 3. BPP Sistem Sulbagsel Kondisi Awal Gambar 3. Fomulasi Optimasi Pada Tools jROS 3 Analisis Hasil Simulasi Berdasarkan simulasi menggunakan Tools masing-masing sebesar Rp. 10/kWh Joint Resource Optimization and Scheduer . ROS) dan Rp. 66/kWh, dengan Case 3 didaptkan hasil sebagai berikut : sebagai opsi paling ekonomis tanpa Tabel 3. BPP Sistem Sulbagsel Hasil Simulasi Biaya Pokok Penyediaan Sistem Sulbagsel Hasil Simulasi Case 1 Case 2 PLTMH Beban Maksimal PLTMH Beban Minimum Realisasi Awal Case 3 PLTMH Tidak Dioperasikan PLTMH IPP. Namun. Case 2 menjadi opsi yang lebih FIX COST (R. 23,699,815,544. 23,699,815,544. 23,699,815,544. 23,699,815,544. VAR COST (R. 21,979,724,576. 23,258,543,745. 22,012,955,048. 20,204,389,717. ALL COST (R. 45,679,540,120. 46,958,359,290. 45,712,770,592. 43,904,205,262. PRODUKSI (MW. 35,525. 36,490,165. 36,490,165. 36,490,165. BPP (Rp/kW. 1,285. 1,286. 1,252. 1,203. POTENSI SAVING BPP (Rp/kW. POTENSI SAVING BPP Per Hari (R. 37,781,748,017. 1,207,806,949,705. 3,016,372,280,108. moderat karena selain efisien secara ekonomi, juga mendukung kebijakan Hasil analisa BPP Sistem Sulbagsel berdasarkan energi terbarukan sesuai Permen ESDM tiga case yang telah disimulasikan menggunakan No. 50 Tahun 2017. jROS pengoperasian PLTMH berpengaruh terhadap BPP Case 2 Saran Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengoperasian PLTMH menghasilkan biaya paling ekonomis. Akan tetapi, sesuai dengan kelistrikan, khususnya di PT PLN UP2B Sistem Permen ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Makassar, dengan menerapkan pola operasi pemanfaatan energi terbarukan, pengoperasian Case 2, yaitu pengoperasian PLTMH dengan PLTMH beban minim. Namun darpada itu agar IPP dapat menurunkan BPP sistem secara optimal dari sisi melengkapi instalasi komunikasi data agar dapat PLN. terintegrasi dengan master scada UP2B Sistem IPP Makassar, sehingga monitoring operasional PLTMH dapat dilakukan secara real-time. KESIMPULAN DAN SARAN Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat 1 Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimasi menambah wawasan dalam bidang Teknik Biaya Pokok Penyediaan (BPP) energi listrik pada Elektro, khususnya terkait optimasi sistem Sistem Sulbagsel menggunakan Joint Resource Saran dan kritik yang membangun Optimization and Scheduler . ROS) menunjukkan juga diharapkan untuk pengembangan studi variasi hasil berdasarkan skenario pengoperasian lebih lanjut guna menghasilkan penelitian yang PLTMH, yaitu : lebih akurat dan bermanfaat. Sebelum optimasi. BPP tercatat sebesar Rp. 1,285. 84/kWh, simulasi menunjukkan Case 1 sebesar Rp. 1,286. 88/kWh. Case Rp. 1,252. 74/kWh, dan Case 3 sebesar Rp. 1,203. 18/kWh. Dibandingkan kondisi awal. Case 2 dan Case 3 menunjukkan penurunan BPP DAFTAR PUSTAKA