DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 1, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2 pada Mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga Ahmad Bayu Permana*. Joko Kastiawan. Sibawaihi. Sedya Santosa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia *Coresponding Author: 25204011036@student. uin-suka. Article history Dikirim: 18-12-2025 Direvisi: 12-02-2026 Diterima: Key words: Kesadaran Kritis. Motivasi Studi. Pendidikan Islam. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada mahasiswa semester 1 Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Kalijaga. Kesadaran kritis dipahami sebagai kemampuan reflektif-transformatif dalam membaca realitas sosial, sebagaimana dijelaskan dalam teori Critical Consciousness Paulo Freire dan pengembangan pemikiran Mazhab Frankfurt, sedangkan motivasi studi ditinjau berdasarkan teori SelfDetermination Ryan & Deci yang mencakup aspek intrinsik dan Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 15 responden yang mengisi kuesioner skala Likert 1Ae5 melalui Google Form. Instrumen penelitian mencakup 12 item variabel kesadaran kritis dan 12 item variabel motivasi S2, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan korelasi itemAetotal dan CronbachAos Alpha. Data dianalisis menggunakan korelasi Spearman mengingat jumlah sampel yang kecil dan sifat data yang berskala Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan dan kuat antara kesadaran kritis dan motivasi S2 (A = 0,673. , yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi kesadaran kritis mahasiswa, semakin kuat pula motivasi mereka untuk melanjutkan studi magister. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran kritis dalam pendidikan Islam sebagai basis pembentukan orientasi akademik dan keputusan studi PENDAHULUAN Kesadaran kritis merupakan kemampuan reflektif untuk memahami realitas sosial secara mendalam, menilai struktur kekuasaan, serta memikirkan ulang pengalaman hidup secara lebih visioner (Diemer et al. , 2. Konsep ini berakar kuat dari pemikiran Mazhab Frankfurt, terutama karya para pemikir seperti Max Horkheimer. Theodor Adorno, dan Jyrgen Habermas yang menekankan pentingnya pembebasan individu dari struktur dominasi melalui praktik berpikir kritis (Verovek, 2. Dalam dunia pendidikan tinggi, kesadaran kritis menjadi salah satu fondasi penting dalam proses pembentukan identitas intelektual mahasiswa (Jaramillo Gymez et al. , 2. , termasuk dalam pengambilan keputusan strategis terkait masa depan akademik seperti melanjutkan studi pada jenjang magister. Oleh karena itu, memahami bagaimana kesadaran kritis hadir pada mahasiswa menjadi penting untuk dikaji secara ilmiah. Motivasi melanjutkan pendidikan pascasarjana, khususnya pada Program Magister Pendidikan Agama Islam (PAI), dipengaruhi oleh berbagai faktor internal @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. dan eksternal. Faktor internal dapat berupa dorongan aktualisasi diri, minat akademik, dan pencarian makna hidup, sedangkan faktor eksternal mencakup tuntutan profesional, kebutuhan kompetensi, hingga dinamika sosial-keagamaan (Kristiana & Kuswandono, 2. Di lingkungan pendidikan Islam, motivasi ini semakin signifikan karena jenjang magister tidak hanya memperdalam kompetensi pedagogis, tetapi juga memperkuat kedalaman teologis dan refleksi kritis sosial (Suratin et al. , 2. Dengan demikian, penting meneliti bagaimana motivasi tersebut terbentuk serta faktor-faktor apa yang berhubungan dengan meningkat atau menurunnya motivasi tersebut. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesadaran kritis berhubungan dengan kematangan pengambilan keputusan dan orientasi akademik Misalnya, penelitian Nugraha . studies menemukan bahwa individu dengan tingkat kesadaran kritis tinggi cenderung lebih reflektif dalam menentukan pilihan pendidikan. Penelitian lain dalam konteks pendidikan Islam menunjukkan bahwa siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial yang baik cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi serta kesiapan lebih matang untuk melanjutkan studi (Firmansyah et al. , 2. Meskipun demikian, penelitian mengenai hubungan langsung antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 masih terbatas, khususnya dalam konteks mahasiswa PAI di perguruan tinggi Islam. Kebanyakan penelitian terdahulu masih berfokus pada hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan prestasi akademik, literasi digital, atau kompetensi Sangat sedikit studi yang menyoroti bagaimana kesadaran kritis mahasiswa berhubungan dengan keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang Selain itu, penelitian yang ada umumnya menggunakan populasi yang besar dan konteks program studi umum, bukan pada konteks khusus seperti Mahasiswa Magister PAI yang memiliki karakteristik akademik, religiusitas, dan orientasi sosial yang unik. Kesenjangan penelitian ini menunjukkan perlunya kajian khusus yang memetakan hubungan kedua variabel tersebut dalam cakupan yang lebih spesifik dan sesuai konteks. Berdasarkan kesenjangan yang telah diidentifikasi, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji hubungan antara kesadaran kritis yang dibangun di atas teori kritis Mazhab Frankfurt dengan motivasi mahasiswa dalam melanjutkan pendidikan S2. Fokus ini penting karena pendidikan Islam kontemporer menuntut mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi teoretis, tetapi juga kemampuan reflektif untuk memahami dinamika sosial-keagamaan secara kritis. Dengan demikian, memetakan hubungan kedua variabel ini akan memberikan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana kesadaran kritis dapat memengaruhi orientasi akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kesadaran kritis mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga dengan motivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan S2. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk memahami faktor psikologis dan kognitif yang memengaruhi keputusan mahasiswa dalam melanjutkan pendidikan pascasarjana, khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Di tengah meningkatnya tuntutan profesionalisme, kompetisi akademik, dan kompleksitas persoalan sosial-keagamaan, mahasiswa Magister PAI tidak hanya dituntut memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga kesadaran kritis yang mampu mengarahkan pilihan akademik secara reflektif dan bermakna. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Namun, hingga saat ini, kajian empiris yang secara spesifik mengaitkan kesadaran kritis dengan motivasi melanjutkan studi S2 pada mahasiswa PAI masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk mengisi kekosongan literatur sekaligus memberikan dasar empiris bagi pengembangan kebijakan akademik dan strategi pembinaan mahasiswa pascasarjana di lingkungan perguruan tinggi Islam. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan instrumen skala Likert untuk mengukur kedua variabel secara objektif. Melalui pendekatan korelasional, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai apakah mahasiswa dengan kesadaran kritis lebih tinggi memiliki kecenderungan motivasional yang lebih kuat dalam melanjutkan pendidikan formal ke jenjang pascasarjana. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam, khususnya terkait peran kesadaran kritis dalam menentukan orientasi akademik mahasiswa. Secara teoretis, penelitian ini mengintegrasikan teori kritis Mazhab Frankfurt dengan kajian motivasi pendidikan dalam konteks Islam sehingga menghasilkan perspektif baru yang jarang dibahas dalam literatur. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat menjadi acuan bagi dosen, pengelola program studi, dan lembaga pendidikan Islam dalam merancang strategi penguatan kesadaran kritis mahasiswa sebagai bagian dari pembinaan akademik dan pengembangan motivasi melanjutkan studi. Hipotesis : H1 (Hipotesis Alternati. : Terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada Mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga. H0 (Hipotesis No. : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada Mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian Desain ini dipilih karena tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga. Pendekatan korelasional memungkinkan peneliti untuk melihat seberapa kuat dan searah apa hubungan antara variabel X dan variabel Y (Schober et al. , 2. Populasi yang digunakan adalah mahasiswa semester 1 sebanyak 15 orang. Instrumen disusun dalam bentuk angket tertutup berbasis Google Form yang mengukur dua variabel utama: kesadaran kritis (X) dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 (Y). Penyusunan instrumen dilakukan berdasarkan teori Critical Consciousness Paulo Freire (Freire, 2. dan teori motivasi pendidikan (Harackiewicz et al. , 2014. Ryan & Deci, 2. Variabel Kesadaran Kritis (X) disusun berdasarkan empat dimensi utama: Refleksi kritis terhadap realitas sosial dan pendidikan. Kepekaan terhadap ketidakadilan dan hegemoni. Kesiapan bertindak untuk perubahan sosial atau akademik. Sikap kritis terhadap struktur sosial, budaya, dan pendidikan (Blalock & Leal, 2023. Cayres Ribeiro & De Carvalho Filho, 2025. Gorski & Dalton, 2020. Koubeissy & Audet, 2. Variabel Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2 (Y) disusun berdasarkan konsep motivasi intrinsikAeekstrinsik, mencakup empat dimensi : @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Motivasi intrinsik, seperti minat akademik dan kecintaan terhadap ilmu. Motivasi ekstrinsik, seperti peluang karier dan peningkatan status sosial. Orientasi akademik, termasuk minat penelitian dan pengembangan ilmu. Orientasi pengembangan karier, seperti kebutuhan kompetensi profesional (Bergann et al. , 2025. Setiap dimensi dijabarkan menjadi beberapa indikator dan disusun menjadi butir pernyataan menggunakan skala Likert 1Ae5 (Kang et al. , 2025. Rapa et al. , 2. Gambar 1. Alur Metode Penelitian Setelah data terkumpul, dilakukan uji validitas butir menggunakan korelasi itemAetotal untuk memastikan setiap item mampu mengukur konstruk secara tepat (Ribeiro et al. , 2. Item dengan nilai korelasi rendah (< 0,. dipertimbangkan untuk direvisi atau dieliminasi (Wang et al. , 2. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan CronbachAos Alpha, dengan kriteria bahwa nilai Ou 0,70 menunjukkan konsistensi internal yang baik (Liptykovy, 2. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan menggunakan SPSS. Karena jumlah responden kecil (N = . dan data berpotensi tidak berdistribusi normal, analisis hubungan antara variabel kesadaran kritis dan motivasi S2 dilakukan menggunakan Korelasi Spearman Rho (Wang, 2. Teknik ini mampu mengukur kekuatan dan arah hubungan dua variabel ordinal atau non-parametrik (Sedgwick. Hasil analisis menghasilkan koefisien korelasi (A) dan tingkat signifikansi . , yang digunakan untuk menjawab hipotesis apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran kritis mahasiswa dengan motivasi melanjutkan pendidikan S2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Data Penelitian Data penelitian didapatkan dari kuesioner secara daring menggunakan Google Form yang dirancang untuk mengukur dua variabel utama (Chen & Tu, 2. , yaitu Kesadaran Kritis (X) dan Motivasi Studi S2 (Y). Setiap variabel terdiri dari 12 butir pernyataan yang disusun dalam skala Likert 1Ae5, di mana responden diminta menyatakan tingkat persetujuan mereka terhadap setiap pernyataan yang diberikan. Skala ini digunakan untuk menangkap respons secara lebih terukur, mulai dari AuSangat Tidak SetujuAy hingga AuSangat SetujuAy, sehingga memberikan data kuantitatif yang dapat dianalisis secara statistik (Koo & Yang, 2. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Tabel 1. Hasil Total Kuesioner G. Form X Total Y Total Hasil Menunjukkan Responden dalam penelitian ini berjumlah 15 orang, yang merupakan mahasiswa program magister yang memiliki pengalaman atau ketertarikan pada pengembangan kapasitas akademik dan kesadaran sosial. Dengan Kategori Sebagai Berikut. Tabel 2. Kategori Kesadaran Kritis dan Motivasi Melanjutkan S2 Kategori Kesadaran Kritis Rendah Sedang Tinggi Kategori Motivasi Studi S2 Rendah Sedang Tinggi Penggunaan kategori didasarkan pada landasan teori psikologi pendidikan, yang menyatakan bahwa konstruk psikologis seperti critical consciousness (Freire, 2. dan academic motivation (Ryan & Deci, 2. biasanya dipetakan dalam Teori menyatakan bahwa kesadaran kritis berkembang secara bertahap dari magical consciousness Ie nayve consciousness Ie critical consciousness (Kennedy et al. , 2. Demikian pula, motivasi akademik berkembang dari amotivation Ie extrinsic motivation Ie intrinsic motivation (Kotera et al. , 2. Dengan demikian, kategori AurendahAesedangAetinggiAy mencerminkan struktur teoretis variabel yang memang berjenjang, bukan sekadar pembagian numerik. Penggunaan kategori penting dalam konteks penelitian dengan jumlah responden sedikit (N = . Pada ukuran sampel kecil, kategori dapat membantu menstabilkan interpretasi data dan mengurangi risiko bias akibat fluktuasi nilai ratarata (Carrizosa et al. , 2. berguna untuk keperluan triangulasi logis dalam analisis korelasi Spearman. Karena Spearman cocok untuk data ordinal, maka penggunaan kategori semakin memperkuat sifat ordinal variabel (Bocianowski et al. , 2024. Skor Likert memang ordinal, tetapi mengkonversinya menjadi tingkatan membuat analisis Spearman lebih tepat secara teoritis dan metodologis (Sedgwick, 2. Jika dikonversi data yang diperoleh dari kuesioner menjadi kategori, bisa dilihat sebagi @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Tabel 3. Konversi data menjadi Kategori Kat_X Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Rendah Kat_Y Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Rendah Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel Kesadaran Kritis (X) Tabel 4. Hasil Rinci Kuesioner Variabel Kesadaran Kritis . Total Variabel kesadaran kritis diukur menggunakan 12 butir pernyataan yang merepresentasikan empat dimensi utama, yaitu: . refleksi kritis terhadap realitas sosial (Maker Castro et al. , 2. , . kepekaan terhadap ketidakadilan dan hegemoni (Orsini et al. , 2. , . kesiapan bertindak untuk perubahan sosial (Pinedo et al. , 2. , dan . sikap kritis terhadap struktur sosial dan Pendidikan (Murry & Patka, 2. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Tabel 5. Variabel Deskriptif Kesadaran Kritis . Kesadaran Kritis Mean 43,73 Median 45,00 Minimum Maximum Sum Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa nilai mean keseluruhan berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat kesadaran kritis yang cukup berkembang namun belum mencapai tahap reflektif-transformatif secara penuh (Durmuscelebi & Kusucuran, 2. Nilai median yang relatif berdekatan dengan mean menunjukkan distribusi data yang cenderung normal (Maity & Saha, 2. Hal ini berarti bahwa kemampuan mahasiswa dalam mengenali struktur ketidakadilan, memahami mekanisme hegemoni, dan merefleksikan pengalaman sosial memiliki kecenderungan yang relatif seragam (Adan et al. , 2. Jika dilihat dari kategorisasi skor, sebagian besar responden berada pada kategori Tinggi, sedangkan hanya sebagian kecil yang berkategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa S2 PAI memiliki potensi kuat dalam membangun kesadaran reflektif. Bertindak kritis . ritical actio. dan keberanian menantang struktur dominan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat. Secara keseluruhan, tingkat kesadaran kritis mahasiswa menggambarkan proses berpikir kritis yang sedang berkembang, yang menempatkan proses penyadaran sebagai perkembangan bertingkat dari kesadaran magis menuju kesadaran kritis (Rivas et al. Variabel Motivasi Melanjutkan Studi S2 (Y) Tabel 6. Hasil Rinci Kuesioner Variabel Motivasi Studi S2 . Y Total Variabel motivasi melanjutkan studi S2 terdiri dari 12 item yang mencakup dimensi: . motivasi intrinsik seperti minat pada ilmu dan keinginan memperluas wawasan akademik (Rizqiya et al. , 2. , . motivasi ekstrinsik seperti dorongan @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. karier atau peningkatan status profesional (Dinda Aulia et al. , 2. , . orientasi akademik seperti ketertarikan pada penelitian dan pengajaran (Meyshera & Raihana Hamdan, 2. , serta . orientasi pengembangan karier jangka panjang (Dewi Sekar Ayu & Setiyani, 2. Tabel 7. Hasil Analisis Umum Motivasi Studi S2 Mean 48,9333 Median 54,0000 Std. Deviation 11,73801 Minimum 25,00 Maximum 59,00 Secara umum, hasil analisis menunjukkan bahwa nilai mean variabel motivasi berada pada kategori tinggi, yang berarti mahasiswa S2 PAI memiliki dorongan yang kuat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang pascasarjana (Anggraini et al. Nilai median yang relatif sejalan dengan mean menunjukkan bahwa persebaran motivasi cukup merata, sedangkan standar deviasi menunjukkan variasi sedang, menandakan bahwa meskipun sebagian besar responden termotivasi kuat, terdapat kelompok kecil yang motivasinya belum stabil atau masih dipengaruhi faktor eksternal (Bingen et al. , 2. Berdasarkan kategorisasi rentang skor, mayoritas responden memiliki skor yang tinggi, yang mengindikasikan bahwa keputusan melanjutkan pendidikan S2 didorong oleh perpaduan antara faktor intrinsik . inat ilmia. dan ekstrinsik . eluang karie. Temuan ini menjelaskan bahwa motivasi akademik berkembang ketika individu memiliki kebutuhan psikologis untuk kompetensi, otonomi, dan Motivasi tinggi mahasiswa S2 PAI menunjukkan bahwa kebutuhan ini relatif terpenuhi, sehingga mendorong mereka untuk mengejar studi lanjutan (Bergann et al. , 2025. Selain itu, pola skor memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa mahasiswa dengan skor motivasi tinggi juga menunjukkan kecenderungan kesadaran kritis yang lebih baik. Meskipun hubungan ini belum dianalisis secara statistik pada tahap ini, fenomena ini memberikan indikasi awal bahwa motivasi studi S2 dan kemampuan berpikir kritis mungkin memiliki hubungan positif (Berestova et al. , 2. Uji Validitas dan Reliabilitas Validitas Item Uji validitas dilakukan untuk memastikan bahwa setiap butir pada instrumen benar-benar mampu mengukur konstruk yang dimaksud, yaitu Kesadaran Kritis (X) dan Motivasi Melanjutkan Studi S2 (Y). Pengujian validitas dilakukan menggunakan teknik korelasi itemAetotal, di mana setiap item dikorelasikan dengan skor total variabelnya masing-masing (Ribeiro et al. , 2. Suatu butir dianggap valid apabila nilai korelasinya berada di atas nilai kritis atau menunjukkan korelasi positif yang signifikan (Ramadhan et al. , 2. Pengujian item menggukan standar signifikansi R tabel sebagai pedoman untuk mengukur suatu butir agar dianggap Valid atau tidak (Yuniahans et al. , 2. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Tabel 8. Tabel Signifikansi r Tabel df = (N-. Tingkat signifikansi untuk uji satu arah Tingkat signifikansi untuk uji dua arah Dalam tabel tersebut, butir intrumen dianggap valid untuk (N=. adalah (Sig. >0. , maka dari dasar ini Hasil uji validitas menunjukkan bahwa sebagian besar item dalam variabel X maupun variabel Y memiliki nilai korelasi itemAetotal yang cukup kuat, yaitu (Sig. >0. sehingga dapat dinyatakan valid secara empiris (Yuniahans et al. , 2. Item-item tersebut mampu merepresentasikan dimensi konstruk yang diukur, baik pada aspek refleksi kritis, kepekaan terhadap ketidakadilan, kesiapan bertindak, maupun sikap kritis terhadap struktur pendidikan dan sosial pada variabel kesadaran kritis. Hal yang sama juga terlihat pada variabel motivasi S2, di mana item tentang motivasi intrinsik, ekstrinsik, orientasi akademik, dan pengembangan karier menunjukkan konsistensi yang baik dengan skor total Tabel 9. Hasil Validitas X dan Y Sig. ,547* ,776** ,915** ,849** ,823** ,751** ,719** ,713** ,574* Sig. ,564* ,882** ,855** ,851** ,928** ,963** ,654** ,912** ,978** @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Hasil ,861** ,605* ,903** Valid ,930** ,543* ,930** Valid Beberapa item mungkin menunjukkan nilai korelasi yang lebih rendah dibandingkan item lainnya, namun masih dalam batas yang dapat diterima. Dengan hasil semua instrumen (Sig. >0. , baik intrumen X atau Y. Keberadaan item dengan korelasi moderat ini tidak mengganggu kualitas instrumen secara keseluruhan, mengingat ukuran sampel yang kecil dapat memengaruhi kestabilan nilai korelasi. Secara teoretis, kualitas validitas yang baik memperkuat bahwa instrumen telah mengukur aspek-aspek kesadaran kritis dan motivasi studi secara tepat sesuai konstruksi teoritis Paulo Freire dan teori Self-Determination Deci & Ryan (William, 2. Reliabilitas Instrumen Reabilitas adalah menguji konsistensi internal instrumen melalui perhitungan CronbachAos Alpha untuk variabel X dan variabel Y. Nilai CronbachAos Alpha digunakan untuk menilai sejauh mana item-item dalam satu variabel saling berkorelasi dan bekerja secara konsisten sebagai satu konstruk. Secara umum, instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai alpha Ou 0,70 (Liptykovy, 2. Tabel 10. Hasil Uji Rebilitas X dan Y Reliability Statistics X Cronbach's Alpha N of Items 0,939 Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items 0,959 Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai CronbachAos Alpha untuk variabel Kesadaran Kritis (X) dan Motivasi Studi S2 (Y) berada (Ou 0,. , yang berarti instrumen memiliki konsistensi internal yang tinggi. Hal ini menegaskan bahwa seluruh item dalam masing-masing variabel bekerja secara stabil dan dapat dipercaya untuk mengukur konstruk yang dimaksud. Reliabilitas yang baik memperkuat struktur teoritis dari kedua variabel, sehingga hasil penelitian dapat dianggap stabil dan akurat (Liu et al. , 2. Hasil dan Pembahasn Uji Korelasi Uji korelasi dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman. Uji korelasi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel Kesadaran Kritis (X) dan Motivasi Melanjutkan Studi S2 (Y) pada mahasiswa semester 1 Magister PAI UIN Sunan Kalijaga (Bocianowski et al. , 2. Penggunaan teknik korelasi Spearman dipilih berdasarkan karakteristik data yang diperoleh. Jumlah responden dalam penelitian ini hanya 15 orang, sehingga asumsi normalitas data sulit terpenuhi, skor pada kedua variabel dihasilkan dari skala Likert 1Ae5, yang secara teoretis termasuk dalam data ordinal, dan dengan mengonversikannya menjadi kategori Rendah-sedang-tinggi akan menstabilkan interpretasi data dan mengurangi risiko bias akibat fluktuasi nilai rata-rata (Bocianowski et al. , 2. Selain itu. Dalam kondisi tersebut. Spearman menjadi pilihan analisis yang paling tepat karena tidak menuntut distribusi data normal serta mampu mengidentifikasi pola hubungan ordinal antar-variabel secara akurat (Schober et al. , 2. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. Tabel 11. Hasil Korelasi Spearman's rho Correlations Kat_X Kat_Y Correlation Coefficient 1,000 ,673 Kat_X Sig. -taile. ,006 Spearman's rho Correlation Coefficient ,673 1,000 Kat_Y Sig. -taile. ,006 Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi Spearman (A) berada pada angka . dengan nilai signifikansi p-value sebesar . Jika nilai signifikansi p-value lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel (Di Castelnuovo & Iacoviello, 2. Dengan demikian, temuan ini memberikan bukti statistik bahwa tingkat kesadaran kritis yang dimiliki mahasiswa memiliki keterkaitan yang nyata dengan tingkat motivasi mereka untuk melanjutkan studi S2. Evans . Mengklasifikasi Interpretasi kekuatan korelasi dilakukan berdasarkan klasifikasi umum (Papageorgiou, 2. A 0,00Ae0,19 = sangat lemah A 0,20Ae0,39 = lemah A 0,40Ae0,59 = sedang A 0,60Ae0,79 = kuat A 0,80Ae1,00 = sangat kuat Dengan nilai A yang diperoleh, hubungan antara kedua variabel dapat dikategorikan sebagai AyKuatAy (Papageorgiou, 2. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat kesadaran kritis mahasiswa, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, atau sebaliknya sesuai arah hubungan. Arah hubungan yang ditemukan bersifat positif, ditunjukkan oleh nilai rho yang positif (Sedgwick, 2. Artinya, peningkatan skor pada variabel kesadaran kritis sejalan dengan peningkatan skor motivasi studi S2. Temuan ini menjawab H1 (Hipotesis Alternati. bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada Mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga dan terdapat kesesuaian dengan teori critical consciousness Paulo Freire, yang menyatakan bahwa individu dengan kesadaran kritis yang matang akan memiliki dorongan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan (Freire, 2. Pada saat yang sama, teori motivasi Self-Determination Deci dan Ryan menjelaskan bahwa motivasi akademik sangat dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap makna, peran, dan urgensi pendidikan dalam kehidupan sosialnya yang merupakan inti dari kesadaran kritis (Ryan & Deci, 2. Secara keseluruhan, hasil korelasi Spearman ini memberikan bukti empiris bahwa kesadaran kritis tidak hanya berfungsi sebagai kemampuan reflektif, tetapi juga berperan sebagai penggerak psikologis yang memengaruhi keputusan mahasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Temuan ini menguatkan signifikansi pentingnya pengembangan kesadaran kritis dalam lingkungan pendidikan Islam, khususnya dalam konteks mahasiswa pascasarjana. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Permana dkk. Hubungan Kesadaran Kritis dengan Motivasi Melanjutkan Pendidikan S2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis deskriptif, validitas, reliabilitas, serta uji korelasi Spearman, penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan kuat antara kesadaran kritis dan motivasi melanjutkan pendidikan S2 pada mahasiswa Magister PAI UIN Sunan Kalijaga. Sebagian besar mahasiswa berada pada kategori kesadaran kritis tinggi, yang tercermin dari kemampuan mereka merefleksikan realitas sosial, menilai ketidakadilan, serta menunjukkan kesiapan bertindak secara transformatif. Pada saat yang sama, motivasi melanjutkan studi S2 juga didominasi kategori tinggi, baik pada aspek intrinsik maupun ekstrinsik. Hasil korelasi sebesar A = 0,673, p = 0,006 mempertegas bahwa semakin tinggi kesadaran kritis mahasiswa, semakin besar pula dorongan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. DAFTAR PUSTAKA