Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Volume 6 Nomor 1 (December 2. : 1-21 DOI: 10. 55076/didache. ANALISIS TEOLOGIS KONSEP KASIH ALLAH DAN MISI DALAM DOKTRIN PREDESTINASI YOHANES CALVIN DAN IMPLIKASINYA KEPADA GEREJA - GEREJA REFORMED INDONESIA Timotius1 . Ramly Lumintang2. Amran Simangunsong3. Sekolah Tinggi Teologi Moriah. Indonesia 1-3 Email: timotius80@yahoo. Submitted: 6 September 2024 Revision: 2 December 2024 Accepted: 17 December 2024 Abstract This research aims to analyze the concept of God's love and mission in Calvin's theology and to implement it in the context of the Reformed Church in Indonesia to become more active in mission work. One manifestation of God's love according to Calvin is the preaching of the Gospel to all people so that they may experience God's love through Jesus Christ. However. Reformed churches in Indonesia that adhere to Calvin's teachings seem to be less active in evangelistic missions, thus not fully carrying out Jesus' command to preach the Gospel to all This research uses a descriptive qualitative method. The novelty of this research lies in the application of contextual theology to implement Calvin's concept of universal love of God within the Indonesian context. The research findings indicate the need for education on the correct understanding of the concept of predestination, which often becomes an obstacle for the congregation in missions, as well as the importance of contextualizing the concept of God's love in missions to enhance congregation participation and expand the reach of the Gospel. Keywords: Love of God. Predestination. John Calvin. Mission. Grace Christian Church. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kasih Allah dan misi dalam teologi Calvin serta mengimplementasikannya dalam konteks Gereja Reformed di Indonesia agar lebih aktif bermisi. Salah satu wujud kasih Allah menurut Calvin adalah pemberitaan Injil kepada semua orang agar mereka mengalami kasih Allah melalui Yesus Kristus. Namun, gereja-gereja Reformed di Indonesia yang menganut paham Calvin tampaknya kurang aktif dalam melakukan misi penginjilan, sehingga tidak sepenuhnya melaksanakan perintah Yesus untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan teologi kontekstual untuk mengimplementasikan konsep kasih Allah universal Calvin ke dalam konteks Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan perlunya edukasi terhadap pemahaman konsep predestinasi yang keliru, yang sering menjadi penghalang bagi jemaat dalam bermisi, serta pentingnya kontekstualisasi konsep kasih Allah dalam misi untuk meningkatkan partisipasi jemaat dan memperluas jangkauan pemberitaan Injil. Kata kunci: Kasih Allah. Predestinasi. Yohanes Calvin. Misi. Gereja Kristen Kasih Karunia. Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen by https://jurnal. id/index. php/didache/ is licensed under a Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4. 0 Internasional PENDAHULUAN Yohanes Calvin memiliki pandangan bahwa kasih Allah bersifat universal yaitu kepada semua orang yang berdosa, ia jelas berkata bahwa kasih Allah adalah kepada semua manusia. Ia menekankan bahwa kasih Allah tidak bergantung pada perbuatan baik manusia, melainkan merupakan anugerah semata. Allah mengasihi manusia bukan karena mereka layak dikasihi, tetapi karena kasih-Nya yang membuat mereka layak. 2 Bahkan orang berdosa yang tersesat tetap menjadi objek kasih Allah, dan Allah terus memberikan berkat kepada semua umat manusia, meskipun mereka mungkin menolak atau mengabaikan-Nya. Calvin sangat menekankan pentingnya penginjilan. Ia percaya bahwa pemberitaan Injil adalah tugas mulia yang diberikan kepada semua orang kristen. 4 Menurut Calvin, penginjilan adalah manifestasi dari kasih Allah kepada umat manusia. Dalam pandangannya, ketaatan terhadap perintah untuk memberitakan Injil bukan hanya merupakan tanggung jawab, tetapi juga merupakan ekspresi kasih Allah yang dalam, yang ingin setiap individu mengalami penebusan melalui Yesus Kristus. Namun, meskipun demikian gereja-gereja Reformed di Indonesia saat ini kurang dalam memenuhi tanggung jawab ini,6 terutama kurang dalam memberitakan Injil,7 sehingga tidak merangkul orang-orang yang belum mengenal Kristus,8 Gereja Kristen Kasih Karunia yang memegang teologi Calvin tidak aktif menginjili akibatnya mengalami penurunan jemaat cukup Dimana pada tahun 2000 Ibadah setiap minggu Rata-rata kehadiran jemaat berjumlah 500 orang, akan tetapi pada tahun 2023 ini menjadi 300 orang. Jean Calvin. Institution de La Religion Chrestienne (Genyve: Jehan Girard, 1. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,22,7. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. II,16,. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne II,16,. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. II,16,. Benyamin Fleming Intan. AuMisi Kristen Di Indonesia: Kesaksian Kristen Protestan,Ay Societas Dei: Jurnal Agama Dan Masyarakat 2, no. : 335. Sarel P Van der Walt and Nico Vorster. Reformed Theology Today: Practical-Theological. Missiological and Ethical Perspectives (AOSIS, 2. , 53. Mark A Noll. The Old Religion in a New World: The History of North American Christianity (Wm. Eerdmans Publishing, 2. , 84. Petrus adalah gembala sidang Gereja Kristen Kasih Karunia. Penulis melakukan wawancara 15 November 2023. Jika dibandingkan dengan perkembangan gereja Karismatik yang pesat. Selama hampir 10 tahun terakhir gereja Karismatik sudah mendirikan 700 gereja. 10 Di Jawa rata-rata berhasil mendapatkan 5000 jemaat baru setiap tahunny. 11 Di perhitungkan bahwa pada tahun 2025 nanti akan ada 50 ribu gereja dengan 25 juta jemaat Karismatik di Indonesia. 12 Sebaliknya, gerejagereja reformed di Indonesia mengalami kecenderungan penurunan jemaat. Untuk menjawab masalah ini penulis ingin melakukan penelitian ini. Untuk menemukan hal baru dalam penelitian ini, penulis telah melakukan pencarian literatur secara luas dan menyeluruh untuk mencari tahu apa yang perlu diklarifikasi lagi. Kontribusi sumber data kepustakaan dalam penelitian ini berguna menyusun State of Art. Adapun penelitian terdahulu tersebut sebagai berikut: John H. Leith dalam bukunya AuJohn Calvin's Doctrine of the Christian LifeAy. 13 Menggunakan pendekatan sistematis-teologis. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Calvin jelas menyatakan bahwa Allah mengasihi semua manusia tanpa terkecuali. 14 R. Kendall dalam bukunya yang berjudul AuCalvin and English Calvinism to 1649Ay. Metode penelitian yang digunakan pendekatan historis. Kendall meneliti pemikiran Calvin dari awal masa Calvin di Jenewa sampai masa akhir hidupnya. Kendall menyimpulkan bahwa sepanjang hidup Calvin, dia secara konsisten percaya bahwa Allah mengasihi dan menginginkan keselamatan semua orang berdosa, tanpa membatasi hanya pada kelompok tertentu. 15 R. Scott Clark dalam bukunya "Caspar Olevian and the Substance of the Covenant". Clark melakukan studi komparatif antara pemikiran Calvin dan Olevianus . okoh Reformasi Jerma. Clark menyimpulkan bahwa baik Calvin maupun Olevianus sama-sama memiliki keyakinan bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Richard Muller dalam "Calvin and the Reformed Tradition," melakukan analisis teologis- sistematis menunjukkan bahwa konsep predestinasi Calvin tidak kontradiktif dengan misi karena Muller menunjukkan bahwa fondasi teologi Calvin bisa menjadi penggerak misi, sekalipun percaya pada predestinasi. Fransiskus Irwan Widjaja. Fredy Simanjuntak, and Noh Ibrahim Boiliu. AuThe Third Pentecostal Phenomenon in Indonesia,Ay Journal of Pentecostal Theology 31, no. : 343. Widjaja. Simanjuntak, and Boiliu. AuThe Third Pentecostal Phenomenon in Indonesia. Ay Widjaja et al. , 344. John H. Leith. John CalvinAos Doctrine of the Christian Life (Westminster: John Knox Press, 2. Leith. John CalvinAos Doctrine of the Christian Life. Kendall. Calvin and English Calvinism to 1649 (Eugene: Wipf and Stock, 2. Scott. Clark. Caspar Olevian and the Substance of the Covenant (Grand Rapids. Michigan: Reformed Heritage Books, 2. Muller. Calvin and the Reformed Tradition: On the Work of Christ and the Order of Salvation (Grand Rapids: Baker Publishing House, 2. Penelusuran penulis terhadap literatur yang sudah ada, belum ada yang melakukan penelitian ini dengan memakai teologi kontekstual dalam mengimplementasikan konsep kasih Allah Calvin Reformed Indonesia. Jadi kebaruan dalam penelitian ini ada pada penerapan teologi kontekstual dalam mengimplementasikan konsep kasih Allah dalam doktrin predestinasi Calvin guna mendorong misi di gereja Reformed di Indonesia. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dari berbagai sumber literatur, termasuk jurnal teologi, buku-buku, dan wawancara dengan aktivis gereja Reformed di Indonesia, khususnya GKK. Penulis menganalisis tulisan-tulisan Calvin untuk menemukan gagasan tentang kasih Allah kepada semua orang dan predestinasi Allah bagi orang berdosa dalam kaitannya dengan penginjilan. Data dikumpulkan melalui kajian literatur yang mendalam dan wawancara semiterstruktur dengan aktivis gereja Reformed di Indonesia. Teknik pengambilan data melibatkan analisis dokumen dan wawancara. Analisis dokumen dilakukan terhadap tulisan-tulisan Calvin untuk menemukan gagasan tentang kasih Allah dan predestinasi. Wawancara dilakukan dengan aktivis gereja untuk memahami penyebab kurangnya gerakan penginjilan. Data yang dikumpulkan akan dianalisis menggunakan analisis tematik. Analisis ini melibatkan pengidentifikasian tema-tema utama yang muncul dari data, yang kemudian akan diinterpretasikan dalam konteks teologi Calvin dan praktik penginjilan di gereja Reformed di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi agar semangat penginjilan yang diajarkan oleh Calvin dapat diimplementasikan di gereja-gereja Reformed di Indonesia dalam rangka melaksanakan perintah Tuhan Yesus agar Injil diberitakan kepada semua orang. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari data hasil wawancara, ditemukan faktor penyebab utama mengapa Gereja Reformed Kristen Kasih Karunia sebagai gereja beraliran Reformed Calvinis kurang bermisi. Konsep Predestinasi Calvin: Klarifikasi atas Pemahaman yang Keliru Menurut wawancara dengan Ibu Ria 18 dan Bapak Yono,19 salah satu faktor yang menghalangi upaya misi gereja adalah adanya pemahaman yang keliru tentang predestinasi, di mana sejumlah anggota gereja percaya bahwa Allah hanya mengasihi mereka yang sudah ditentukan untuk diselamatkan. Akibatnya, mereka tidak merasa perlu untuk memberitakan Injil kepada orang lain karena yakin bahwa Allah akan menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih tersebut. 20 Bapak Yono menjelaskan bahwa jemaat yang tidak memahami predestinasi dengan benar merasa bahwa karena segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan, jadi orang kristen tidak perlu penginjilan. 21 Dampak kesalahpahaman predestinasi terhadap misi gereja mencakup kurangnya minat dan partisipasi dalam misi. Jemaat jarang mengadakan kegiatan penginjilan karena itu jemaat tidak merasa di dorongan untuk terlibat. Wiley menjelaskan banyak umat kristen awam memiliki pemahaman yang keliru tentang doktrin predestinasi Calvinis. 23 Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengajaran yang memadai di gereja. Sebagian gereja tidak memberikan pengajaran yang mendalam mengenai doktrin predestinasi, karena topik ini dianggap rumit dan kontroversial. 24 Doktrin predestinasi Calvin dapat disalahpahami sebagai doktrin yang fatalistik, sebagai hasilnya, jemaat merasa tidak perlu memberitakan Injil. 25 Wiley menekankan pentingnya pengajaran dengan cara yang jelas, komprehensif, dan seimbang, sehingga orang awam Kristen dapat memahami doktrin ini dengan benar dan menghindari kesalahpahaman. McGrath juga mengatakan Calvin prihatin bahwa banyak orang salah memahami terkait predestinasinya karena penyederhanaan berlebihan konsep ini oleh para pengkhotbah 27 Dia bersikeras bahwa doktrin ini tidak boleh diubah menjadi formula yang kaku, tetapi harus dihubungkan dengan penekanannya pada kasih Allah dan anugerah Yesus Kristus. Calvin tidak pernah bermaksud untuk membuat doktrin predestinasi menjadi sesuatu yang mudah dipahami. Dia sadar bahwa doktrin ini sulit dipahami, akan menjadi sumber perdebatan Ibu Ria adalah wakil gembala sidang Gereja Kristen Kasih Karunia. Bapak Yono adalah ketua majelis di Gereja Kristen Kasih Karunia. Ria. Wawancara (Jakarta, 2. Yono. Wawancara (Jakarta, 2024. Ria. Wawancara. David Neeld Wiley. CalvinAos Doctrine of Predestination: His Principal Soteriological and Polemical Doctrine (Duke University, 1. , 73. Wiley. CalvinAos Doctrine of Predestination: His Principal Soteriological and Polemical Doctrine, 74. Wiley. CalvinAos Doctrine of Predestination: His Principal Soteriological and Polemical Doctrine, 84. Wiley. Wiley. CalvinAos Doctrine of Predestination: His Principal Soteriological and Polemical Doctrine, 53. Alister E McGrath. AuShapers of Protestantism: John Calvin,Ay The Blackwell Companion to Protestantism . : 57. McGrath. AuShapers of Protestantism: John Calvin, 59. selama berabad-abad. Doktrin ini dapat membingungkan dan sulit dipahami, rumit dan kontroversial dalam teologi Kristen,29 bahkan bagi orang Kristen yang sudah dewasa,30 dan dia memperingatkan para pengkhotbah agar tidak menyederhanakannya secara berlebihan. Menurut Niesel Calvin sendiri sebenarnya berhati-hati dalam membahas doktrin predestinasi. Dia menekankan bahwa predestinasi harus dipahami dalam konteks kedaulatan Allah dan kasih karunia-Nya. Predestinasi Memotivasi Penginjilan, bukan menghalangi Predestinasi, sebuah doktrin sentral dalam teologi Calvin, sering disalahpahami sebagai doktrin yang melumpuhkan dan melenyapkan semangat penginjilan. Pandangan ini keliru. Calvin justru melihat predestinasi sebagai motivator kuat bagi umat Kristen untuk menjalankan penginjilan mereka di dunia. Meskipun keselamatan manusia sudah ditentukan sebelumnya. Calvin menekankan bahwa predestinasi tidak bertentangan dengan tanggung jawab manusia untuk mengabarkan Injil. Justru karena manusia sudah diselamatkan oleh kasih Allah, mereka dimampukan dan dimotivasi untuk membagikan kasih Allah kepada orang lain. 34 Mengapa predestinasi disebutkan bisa memotivasi penginjilan? . Kasih Karunia Allah: Kesadaran bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang tak terduga mendorong rasa syukur dan kasih yang mendalam kepada-Nya 35. Orang Kristen yang memahami predestinasi akan termotivasi untuk memuliakan Allah dengan memberitakan kuasa dan rencana keselamatan-Nya kepada seluruh dunia. 36 Selain itu, mereka yang memahami predestinasi dengan benar akan melihat ketaatan kepada perintah Yesus untuk memberitakan Injil sebagai bagian integral dari iman mereka. Kemuliaan Allah: Predestinasi menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala sesuatu. 38 Umat Kristen berusaha memuliakan Allah dengan memberitakan kuasa dan rencana keselamatan-Nya ke seluruh dunia. Calvin menjelaskan. Charles Hodge. Systematic Theology (CCEL, 2. , https://books. com/books?hl=id&lr=&id=74oNYRA0p8AC&oi=fnd&pg=PT14&dq=Charles Hodge Systematic Theology. Vol. 2&ots=RsEk0CO6PE&sig=QMV57swTpmm9QFcInREeXg6JLlo. Wayne A Grudem. Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Zondervan Academic, 2. , 54. McGrath. AuShapers of Protestantism: John Calvin,Ay 61. Wilhelm Niesel. The Theology of Calvin, vol. 48 (James Clarke & Co. , 1. , 30. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,12-13. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,24,. Jon Balserak. Calvinism: A Very Short Introduction (Oxford University Press, 2. , 12. Balserak. Calvinism: A Very Short Introduction, 15. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,1. tujuan utama penciptaan manusia adalah agar mereka mengenal dan memuliakan Allah, dan pengetahuan ini hanya bisa diperoleh melalui Injil. 39 Calvin mendorong orang kristen untuk memberitakan kuasa dan kasih Allah kepada semua orang, bersaksi kepada mereka tentang kasih Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, dan membantu mereka yang belum mengenal Kristus untuk menerima-Nya sebagai Juruselamat. Kepedulian terhadap Orang Lain: Calvin percaya bahwa semua orang diciptakan menurut gambar Allah dan berharga di mata-Nya sehingga memiliki martabat yang unik 41. Oleh karena itu, umat Kristen yang memahami predestinasi akan tergerak untuk menjangkau orang lain, dan memberitakan kabar keselamatan kepada mereka. 42 Doktrin predestinasi seharusnya memotivasi orang Kristen untuk memberitakan Injil kepada orang lain, karena Allah telah memilih orang-orang untuk diselamatkan melalui iman. 43 Injil harus diberitakan kepada semua orang, tanpa kecuali, karena manusia tidak tahu siapa yang telah dipilih Allah untuk diselamatkan. Ketaatan kepada Kristus: Yesus Kristus telah memberikan perintah untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa. Umat Kristen yang memahami predestinasi akan melihat ketaatan kepada perintah ini sebagai bagian integral dari iman mereka. 45 Calvin membahas tentang Amanat Agung Yesus Kristus dan bagaimana hal itu merupakan perintah yang wajib bagi semua orang Kristen. 46 Calvin membahas tentang hubungan antara predestinasi dan penginjilan. Dia mengatakan bahwa orang Kristen yang memahami predestinasi tidak akan menjadi fatalis yang pasif, melainkan akan terdorong untuk memberitakan Injil kepada semua orang sebagai bentuk ketaatan mereka kepada perintah Kristus. 47 Calvin menjelaskan Amanat Agung Yesus Kristus secara rinci dan menekankan pentingnya Doktrin predestinasi tidak menghalangi tanggung jawab orang kristen untuk memberitakan Injil. Sebaliknya, doktrin ini memotivasi umat Kristen untuk menjalankan misi mereka di dunia dengan semangat dan tekad yang kuat. Kesadaran bahwa mereka telah Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. I,3,1. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne , i,23,14. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. I,15,3-4. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,12. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,14. Jean Calvin. Commentarii in Matthaeum Evangelium (Geneva: Joannes Crispinus, 1. Matius 28:19. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,13. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, 1541, i,23,14. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,23,12-14. Calvin. Commentarii in Matthaeum Evangelium. Matius 28:20. diselamatkan oleh kasih karunia Allah mendorong mereka untuk membagikan kasih Allah tersebut kepada orang lain, demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa yang masih terbelenggu dalam dosa. Allah menggunakan Penginjilan untuk Memanggil Manusia yang Berdosa KepadaNya Bagi Calvin, penginjilan adalah instrumen yang digunakan oleh Allah untuk memanggil manusia yang berdosa kembali kepada-Nya. Oleh Karena itu. Yesus memberikan amanat agung kepada semua pengikut-Nya untuk pergi dan memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19-. Penginjilan bukan hanya tugas pendeta atau misionaris, melainkan tugas semua orang Kristen. Calvin, dalam tafsirannya mengenai Kisah Para Rasul, menekankan bahwa Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20 adalah perintah bagi semua orang Kristen untuk pergi dan menyampaikan Injil kepada seluruh bangsa. 50 51 Selain itu, dalam pembahasannya mengenai Kisah Para Rasul 10:1-48. Calvin membahas bagaimana Allah memakai Petrus untuk menyampaikan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Ini menunjukkan bahwa misi Kristen bersifat universal dan inklusif. Calvin meyakini bahwa setiap individu Kristen dipanggil oleh Allah untuk melayaniNya, sebuah panggilan yang tidak terbatas pada peran pendeta atau misionaris, melainkan mencakup semua orang percaya, tanpa memandang profesi atau status sosial mereka. Keyakinan ini ditegaskan dengan merujuk pada ayat-ayat Alkitab seperti Efesus 2:10 dan 1 Petrus 2:9, yang menggambarkan orang Kristen sebagai Auciptaan baruAy dan Auimamat rajani,Ay dengan tanggung jawab untuk melayani Tuhan 53. Dalam konsep AuPanggilan Umum Manusia. Ay Calvin menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan tujuan melayani Allah. Pembahasan Calvin tentang AuPanggilan KhususAy menegaskan bahwa Allah memanggil beberapa orang untuk melayani-Nya dengan cara yang lebih khusus. Calvin merinci bahwa Aupanggilan khusus" ini dapat mencakup peran sebagai pendeta, misionaris, atau pelayan lainnya, menunjukkan variasi dalam panggilan yang diterima oleh individu sesuai dengan kehendak Allah. 55 Dalam konteks Amanat Agung (Matius 28:19-. Calvin menekankan Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. IV,3,4. Jean. Calvin. Commentaire Sur Les Actes Des Apytres (Geneve: Jean Gerard, 1. Kisah Para Rasul 8:12. Calvin. Commentaire Sur Les Actes Des Apytres. Kisah Para Rasul 8:12. Calvin. Commentaire Sur Les Actes Des Apytres. Kisah Para Rasul 10:1. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,10,6. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,10,8. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,10,10. bahwa perintah ini tidak bisa diabaikan, dan bahwa setiap orang Kristen memiliki peran dalam memenuhinya, tidak hanya melalui pengabaran Injil secara verbal, tetapi juga melalui kehidupan yang mencerminkan iman kepada Kristus dan menjadi terang bagi dunia. Predestinasi tidak Membatasi Tanggung Jawab Menjalankan Misi Bagi Calvin, doktrin predestinasi tidak membuat manusia pasif dan juga tidak membatasi tanggung jawab manusia untuk menjalankan misi. Justru, doktrin ini memberikan motivasi dan keyakinan bagi orang Kristen untuk memberitakan Injil kepada seluruh bangsa. Hart menegaskan kembali bahwa Calvinisme bukanlah agama yang pasif. Justru. Calvinisme adalah agama yang menekankan tanggung jawab manusia untuk menjalankan misi Allah. Alasan di balik hal ini adalah bahwa predestinasi bukanlah fatalisme, yang berarti Calvin tidak mengajarkan bahwa manusia adalah robot yang tidak memiliki kehendak bebas. Manusia tetap bebas untuk memilih antara percaya kepada Yesus Kristus atau menolaknya. Calvin menjelaskan bahwa predestinasi adalah ketetapan Allah yang kekal untuk menyelamatkan orang-orang berdosa melalui Yesus Kristus. Ketetapan ini tidak berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas. Manusia tetap bebas untuk memilih antara percaya kepada Yesus Kristus atau menolaknya. 60 Calvin menegaskan bahwa Allah memilih orangorang untuk keselamatan, tetapi mereka tetap harus beriman dan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Injil adalah panggilan agar manusia berdosa untuk beriman, sehingga mereka dapat memperoleh keselamatan. Selanjutnya, doktrin predestinasi memberikan kepastian bahwa Allah akan menyelesaikan pekerjaan-Nya, memberikan motivasi bagi orang Kristen untuk terus memberitakan Injil meskipun mereka tidak melihat hasil secara langsung. Calvin membahas doktrin predestinasi secara mendalam, ia menjelaskan bahwa Allah telah memilih orang-orang tertentu untuk keselamatan sebelum penciptaan dunia. Dia menegaskan bahwa doktrin ini tidak boleh menciptakan perasaan putus asa atau kemalasan, melainkan seharusnya menjadi pendorong bagi orang Kristen untuk hidup dengan penuh syukur dan tekun dalam memberitakan Injil. 62 Selanjutnya, predestinasi mendorong kerendahan hati dengan Calvin. Commentarii in Matthaeum Evangelium. Matius 28:19. Darryl Hart. Calvinism: A History (Yale University Press, 2. , 23. Hart. Calvinism: A History, 27. Louis Berkhof. Systematic Theology (Lulu. com, 2. , 72. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,21,1. Jean Calvin. Commentaires Sur Les Epistres de Sainct Paul Aux Galates et Aux Ephesiens (Geneva: Robert Estienne, 1. Efesus 1:11. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne, i,21,21. mengingatkan manusia bahwa keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Ini memupuk sikap kerendahan hati dan rasa syukur dalam menjalankan misi. Predestinasi adalah doktrin yang menghibur dan menguatkan orang Kristen. Doktrin ini mengingatkan kita bahwa keselamatan kita tidak bergantung pada usaha kita sendiri, melainkan pada kasih karunia Allah. 64 Contoh yang mencerminkan hal ini adalah David Livingstone, seorang misionaris dan penjelajah Skotlandia yang terkenal dengan karyanya di Afrika. Livingstone percaya pada predestinasi, tetapi dia tetap bekerja keras untuk memerangi perdagangan budak dan membawa Injil ke Afrika. Meskipun dia percaya pada predestinasi. Livingstone tidak percaya bahwa manusia harus pasif. Dia percaya bahwa manusia harus bekerja keras untuk mencapai tujuan mereka, karena itulah yang Tuhan inginkan. 65 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa predestinasi Calvin tidak membatasi tanggung jawab manusia untuk menjalankan misi, melainkan memberikan motivasi, keyakinan, kepastian, dan kerendahan hati bagi orang Kristen dalam memberitakan Injil kepada seluruh bangsa. Menerjemahkan Kasih Allah Dalam Pemahaman dan Pengertian Tionghoa : Pendekatan Teologi Kontekstual Model Translation Gereja Reformed di Indonesia ada yang mayoritas beretnis Tionghoa terkhusu GKK. Penyebaran Injil di kalangan masyarakat Tionghoa menghadirkan tantangan unik bagi GKK, yaitu bagaimana menyampaikan pesan Injil dengan cara yang relevan dan mudah dipahami dalam konteks budaya yang berbeda. Pendekatan teologi kontekstual model translation menawarkan solusi yang tepat untuk mengatasi tidak bermisinya di GKK, dengan fokus pada penerjemahan pesan Injil ke dalam bahasa dan budaya Tionghoa. Ini dilakukan dengan mempertahankan keaslian dan kemurnian ajaran Kristian. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini. GKK dapat menjembatani kesenjangan budaya dan menyampaikan pesan Injil dengan lebih efektif kepada masyarakat Tionghoa. Oleh sebab itu, bagian selanjutnya dari artikel ini akan membahas lebih mendalam penerapan model translation dalam konteks budaya Tionghoa. Menerjemahkan Kasih Allah ke Dalam Nilai-Nilai Budaya Tionghoa Nilai-nilai budaya Tionghoa menjunjung tinggi prinsip-prinsip seperti penghormatan pada hierarki dan otoritas, pentingnya keharmonisan dan keselarasan, serta penekanan pada Benjamin Charles Milner. AuCalvinAos Doctrine of the Church,Ay in CalvinAos Doctrine of the Church (Brill, 2. , 71. John Knox. The First Blast of the Trumpet against the Monstrous Regiment of Women (Lulu. , 91. Tim Jeal. Livingstone: Revised and Expanded Edition (Yale University Press, 2. , 154. kebijaksanaan dan moralitas. 66 Prinsip-prinsip ini sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran-ajaran Kristen, terutama dalam konteks kasih Allah dan misi. Misalnya, penghormatan pada orang yang lebih tua sejalan dengan ajaran dalam kekristenan tentang kasih Allah yaitu menghormati orang yang lebih tua. Berikut beberapa contoh penerapan nilai menghormati orang yang lebih tua dalam tradisi Tionghoa yang dapat diintegrasikan dengan misi penginjilan agar kasih Allah dirasakan oleh mereka yang belum percaya: Penerapan Kasih Allah Dalam Penghormatan Terhadap Orang yang Lebih Tua Menyapa orang tua dengan sapaan yang sopan, seperti. AuGong-gongAy (Kake. dan AuPho-phoAy . Akhiu (Pama. Aji (Bib. Cie Cie (Kakak Perempua. , koko . akak lakilak. , serta mendengarkan nasihat mereka dengan penuh perhatian, mencerminkan kasih Allah yang tulus. Dalam ajaran Kristen, kasih Allah ditunjukkan melalui tindakan yang penuh perhatian dan penghargaan. Sebagaimana Allah mengasihi umat-Nya tanpa syarat, orang Kristen juga dipanggil untuk menunjukkan kasih dan penghargaan yang sama kepada orang yang lebih tua. Menghindari berbicara kasar atau membantah mereka yang lebih tua menunjukkan sikap yang penuh hormat yang selaras dengan ajaran Kristen tentang kasih Allah, yang mengutamakan penghormatan dan penghargaan kepada orang yang lebih tua. Tindakan-tindakan ini bukan hanya mencerminkan etika sosial, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kasih Allah bekerja dalam kehidupan sehari-hari melalui orang Kristen, memperkuat hubungan antar manusia berdasarkan cinta kasih dan penghormatan. Integrasi Tradisi Penghormatan Leluhur Dalam Konteks Misi Penginjilan Jemaat gereja-gereja Reformed di Indoneisa juga bisa menerapkan pendekatan dalam penginjilan dengan berpartisipasi bersama dengan tetangga atau teman orang-orang Tionghoa dalam mengunjungi makam leluhur pada hari-hari tertentu. Contohnya, orang Kristen, terutama dari GKK bisa menghadiri ritual penghormatan leluhur yang dilakukan oleh keluarga lain, meskipun praktik ini berbeda dengan tradisi Kristen. Kehadiran dalam ritual penghormatan leluhur menunjukkan rasa hormat dan kasih Allah yang mencakup semua Mengikuti dan membantu dalam mempersiapkan ritual penghormatan leluhur juga merupakan wujud nyata dari kerjasama dan solidaritas antarbudaya. Daniel K Gardner. Confucianism: A Very Short Introduction, vol. 395 (Oxford University Press. USA, 2. , 35. Fu Youde and Wang Qiangwei. AuA Comparison of Filial Piety in Ancient Judaism and Early Confucianism,Ay Journal of Chinese Humanities 1, no. : 290. Charles A Moore. The Chinese Mind: Essentials of Chinese Philosophy and Culture (University of Hawaii Press, 1. , 24. Kasih Allah dalam Tindakan Nyata: Merayakan Tahun Baru Imlek Pada perayaan imlek jemaat GKK bisa menawarkan bantuan kepada tetangga lansia dalam menyiapkan hidangan tradisional Imlek atau mengunjungi panti jompo dan membagikan angpao kepada para lansia dimana biasanya gereja-gereja melakukan kunjungan ke panti jompo pada hari Natal. Ini menunjukkan kasih Allah dan perhatian yang nyata dalam tindakan. GKK juga bisa menyelenggarakan kegiatan bersama di sekitar gereja, seperti membersihkan makam leluhur atau belajar sejarah dan tradisi keluarga lain, yang menunjukkan penghargaan terhadap leluhur mereka dan memperkuat nilai kasih Allah dalam masyarakat. Hal ini akan membuat orang sekitar gereja melihat bahwa GKK sangat menghargai tradisi Tionghoa. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun relasi yang positif dengan masyarakat serta menghormati kearifan Selain fokus pada menjalin hubungan yang baik dan menunjukkan kasih Allah kepada sesama, tujuan kegiatan ini juga termasuk penyebaran nilai-nilai positif guna membentuk komunitas yang harmonis. Menyampaikan Kasih Allah Melalui Aksara Tionghoa Agama memberikan pengaruh yang kuat pada budaya dan menyediakan kekuatan pendorong dalam gerakan perubahan sosial. 69 Kemampuan beradaptasi dengan budaya dan berkomunikasi dengan bahasa setempat menjadi kunci penting dalam sebuah misi. 70 Jika seseorang ingin memberitakan Injil ke suatu tempat maka ia harus menerjemahkan pokokpokok ajaran kristen ke dalam budaya setempat, mengakomodir pemikiran, adat, kebiasaan masyarakat lokal. Yang pertama dan terpenting adalah menghormati budaya masyarakat setempat sebagai pendekatan awal agar Injil dapat diperkenalkan dengan kasih Allah sebagai landasan utama. Menurut penulis, langkah penting dalam menerjemahkan iman Kristen ke dalam budaya Tionghoa bisa menjadi jalan masuk untuk memperkenalkan kebenaran Kristen kepada masyarakat Tionghoa. Salah satu upaya yang dilakukan oleh penulis adalah menemukan makna yang tidak bertentangan dengan ajaran Kristen dalam aksara Tionghoa, sehingga menjadi sarana untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik baik tentang Injil dan menerima ajaran tersebut melalui lensa budaya mereka sendiri. Penulis menerjemahkan kasih Allah ke dalam beberapa aksara Tionghoa agar kasih Allah dipahami oleh orang-orang Tionghoa sebagai metode bermisi. Christopher Dawson. Religion and the Rise of Western Culture: The Classic Study of Medieval Civilization (BoDAeBooks on Demand, 1. , 67. Li. The Rites Controversy in China. (Shanghai: Shanghai Classics Press, 1. , 92. Hao. Fang. My Own Selections at Age of 60 (Taiwan: Taiwan Academic Bookstore, 1. , 64. Kontekstualisasi Kasih Allah ke Dalam Aksara TionghoaO Melalui Kisah Bahtera Nuh Aksara Chinese dari simbol O di baca Chuan berarti perahu. Di dalam aksara Chinese ini terdapat kisah air bah seperti yang dijelaskan oleh Alkitab. Penjelasannya adalah hurufO terdiri dariO Obaca zhouO artinya kapal, lalu I . aca b. berarti delapan, dan a . berarti mulut. Melalui penjelasan tersebut terlihat jelas secara implisit aksaraO yang berarti kapal itu menunjuk tentang adanya delapan orang atau delapan mulut yang berada di kapal Nuh sesuai dengan catatan Alkitab yang berisi delapan orang yaitu Nuh, istrinya, dengan tiga anak dan menantunya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, dan pemahaman tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh Alkitab, yang menceritakan peristiwa zaman Nuh seperti yang ditulis oleh Musa. Dalam kisah Nuh ini. Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberikan peringatan kepada Nuh tentang air bah yang akan datang, serta menyediakan instruksi untuk membangun bahtera sebagai sarana keselamatan. Meskipun dunia dipenuhi kejahatan. Allah tetap menunjukkan belas kasihan-Nya dengan menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Ini menggambarkan kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya, meskipun mereka hidup di tengah dunia yang penuh dosa. Kasih Allah yang terungkap dalam kisah Nuh juga termanifestasi dalam kesabaranNya, di mana Dia memberikan waktu kepada Nuh untuk membangun bahtera dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk bertobat. Ini menunjukkan bahwa Allah selalu memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat dan kembali kepada-Nya sebelum hukuman datang. Kasih Allah tidak hanya berfungsi sebagai penyelamat, tetapi juga sebagai peluang bagi manusia untuk mengubah jalan hidup mereka. Oleh karena itu, dengan menjelaskan makna aksara O (Chua. yang berarti kapal atau perahu dalam kaitan dengan peristiwa Nuh, orang-orang Tionghoa yang sedang diinjili mungkin akan merasakan kedekatan kasih Allah kepada semua orang melalui cerita Alkitab yang terdapat dalam aksara Tionghoa tersebut. Mereka yang belum beriman dapat melihat bahwa kasih Allah melampaui perbedaan budaya dan bahasa, dan bahwa Allah selalu menyediakan jalan keselamatan bagi mereka yang mau mendengarkan dan mengikuti-Nya, sebagaimana yang dilakukannya bagi Nuh dan keluarganya. dan Ethel R. Nelson Kang. The Discovery of the Truth: How the Truths o f Genesis Were Found Hiddenin the Chinese Language (St. Louis: Concordia Publishing House, 1. , 56. Kontekstualisasi ini menunjukkan bahwa kasih Allah dan misi penginjilan dapat dijalankan dengan memahami dan menggunakan budaya serta bahasa setempat. Dengan demikian, orang kristen akan lebih termotivasi untuk aktif dalam kegiatan penginjilan, karena mereka melihat bagaimana kasih Allah dinyatakan secara konkret dalam budaya mereka sendiri, mempermudah penyampaian pesan Injil. Peristiwa Nuh menjadi simbol universal dari kasih dan penyelamatan Allah, yang relevan dalam setiap budaya, termasuk melalui aksara Tiionghoa. Hal ini menguatkan pesan bahwa kasih Allah adalah untuk semua orang, dan penginjilan dapat disampaikan secara efektif melalui pemahaman budaya yang mendalam, sehingga orang yang kita injili dapat merasakan kasih Allah yang nyata dan personal dalam kehidupan mereka. Kontekstualisasi Kasih Allah ke Dalam Aksara TionghoaAMelalui Kisah Penciptaan Aksara Chinese A . aca Za. berarti mencipta. Aksara ini saat dipisahkan menjadi u . aca t. , a . berarti mulut menunjuk kepada manusia, lalu garis yang disamping uU mengindikasikan tentang kehidupan atau gerakan. Setelah digabungkan menjadi berarti bisa bergerak/berjalan. Dari aksaraAini menjelaskan bahwa manusia tercipta dari tanah dan diberikan kehidupan sehingga bisa bergerak menjadi makhluk hidup. Penafsiran ini sejalan dengan kitab kejadian 2:7, yang mengatakan bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah dan memberikan nafas hidup ke dalamnya. Auketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Manusia ciptaan pertama tersebut bukan bayi tetapi manusia dewasa yang bisa berjalan. Ay 73 Interpretasi ini menegaskan bahwa manusia, sebagai ciptaan pertama, bukan hanya bayi tetapi manusia dewasa yang bisa berjalan. Ini bukan hanya kisah asal-usul manusia, tetapi juga bukti cinta kasih Allah terhadap setiap Penciptaan manusia sesuai dengan aksara ZhaoA mengajarkan bahwa setiap individu merupakan hasil dari rencana ilahi yang penuh kasih, bukan hanya sebagai penciptaan fisik, tetapi juga sebagai penerima kasih dan perhatian yang diberikan oleh Sang Pencipta. Dalam konteks penginjilan, hal ini menggarisbawahi bahwa kasih Allah meliputi semua dimensi dan E. Kang. The Discovery of the Truth: How the Truths o f Genesis Were Found Hiddenin the Chinese Language, 76. kehidupan manusia, tanpa memandang perbedaan budaya atau bahasa mereka. Kasih Allah yang universal ini mempersatukan umat manusia dalam sebuah komunitas global yang saling mendukung dan mengasihi. Melalui pemahaman ini, diharapkan orang Tionghoa yang diinjili mampu melihat nilai dirinya dan orang lain sebagai bagian dari karya besar Tuhan yang penuh dengan makna dan tujuan yang dalam. Kasih Allah tidak hanya menuntun manusia dalam perjalanan hidupnya, tetapi juga memberikan pengharapan dan kekuatan di setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, kasih Allah menjadi fondasi yang kokoh bagi setiap hubungan dan interaksi antar manusia, menciptakan harmoni dan kedamaian yang abadi. Dengan memahami signifikansi yang tersirat dalam aksara Zhao A, orang kristen bisa mendekati masyarakat Tionghoa dengan cara yang lebih individual dan relevan. Pendekatan ini sejalan dengan misi penginjilan Calvin, yang menyoroti pentingnya memahami latar belakang budaya dalam menyampaikan pesan Injil. Dengan demikian, pemanfaatan aksara Zha A dikaitkan dengan penciptaan Allah dapat menjadi pangkal yang kokoh untuk menyampaikan kasih Allah kepada masyarakat Tionghoa yang belum mengenal-Nya. Penggunaan aksara Zhao Amemungkinkan kita untuk menjembatani perbedaan budaya dan menemukan titik temu yang dapat membuka hati mereka terhadap pesan Injil, sambil tetap menghormati warisan budaya mereka. Kontekstualisasi Kasih Allah ke Dalam Aksara TionghoauMelalui Kisah Kejadian 2:18 Calvin melihat persatuan dalam pernikahan antara perempuan dan laki-laki merupakan refleksi dari kasih dan harmoni dalam Tritunggal. Calvin memandang pernikahan sebagai salah satu cara di mana kasih Allah diwujudkan di bumi dan dinikmati oleh kedua pasangan, yang menunjukkan hubungan antara Kristus dan gereja-Nya. 74 Pernikahan, menurut Calvin, adalah sebuah gambaran kasih Allah yang mencakup keutuhan, kerja sama, dan kebersamaan yang harmonis75, sama seperti yang dilambangkan oleh aksara Hao u. Kasih yang terjadi dalam pernikahan dapat dilihat sebagai perwujudan dari kasih Allah kepada umat manusia, yang juga menjadi dasar misi penginjilan. Dalam misi penginjilan. Calvin menekankan pentingnya membawa kabar baik tentang kasih Allah kepada seluruh umat manusia. 76 Seperti aksara Hao u yang menggambarkan kebaikan dalam persatuan antara laki-laki dan perempuan, demikian juga penginjilan Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. II,10,12. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. II,10,12. Calvin. Institution de La Religion Chrestienne. IV,3,23. bertujuan untuk menyatukan umat manusia dengan kasih Allah melalui Kristus. Kasih Allah yang menyelamatkan ini harus menjadi dorongan utama dalam misi gereja untuk membawa kabar baik kepada seluruh bangsa, sesuai dengan Amanat Agung Yesus Kristus. Dengan demikian, konsep aksara Hao u ini tidak hanya menunjukkan kebaikan dalam hubungan manusia, tetapi juga menjadi simbol yang relevan dalam menggambarkan kasih Allah dan misi penginjilan dalam teologi Calvin. Kontekstualisasi Kasih Allah ke Dalam Aksara TionghoaMelalui Domba sebagai korban persembahan Aksara Tionghoa yang dibaca Yi dalam karakter Hanzi sederhana berbentuk O, sedangkan dalam bentuk tradisionalnya berbentuk . Karakter tersebut terdiri dari dua kata yakni domba O . ibaca yan. dan AuakuAy Oc . ibaca w. Analisis dari dua bentuk karakter Hanzi inilah yang dikaitkan dengan Yi (O) yang menunjukkan bahwa orang Chinese mengenali representasi rohani domba sebagai sumber kebenaran, kebaikan, kecantikan, kebenaran dan kekekalan. 77 Saat digabungkan, karakter Yi secara harfiah berarti, "Saya " Secara simbolis berarti melakukan pengorbanan atas nama keadilan, untuk mendapatkan kebenaran. 78 Hal ini bisa dikaitkan dengan Kristus dalam kekristenan yang adalah domba paskah sebagai pengganti manusia berdosa. Sehingga umat-Nya memperoleh kebenaran sebagai wujud dari kasih Allah kepada manusia berdosa. Pada saat jemaat kristen melihat hal ini akan menjadi dorongan yang kuat untuk meningkatkan upaya penginjilan. Dengan memahami makna simbol-simbol dan ritual dalam budaya Tionghoa membuat mereka merasa lebih mampu menyampaikan pesan-pesan Injil dan kasih Allah dengan cara yang lebih relevan dan akrab bagi masyarakat Tionghoa. Penemuan ini memicu semangat mereka untuk aktif dan kreatif dalam mengembangkan strategi penginjilan dengan memanfaatkan budaya dan tradisi lokal sebagai sarana memperluas Injil. Implikasi Kontekstual sebagai Pendekatan dalam Penginjilan Melalui penjelasan di atas adanya pemahaman yang sama dari budaya Tionghoa terkhusus pada aksara Tionghoa dengan kekristenan bisa menjadi jalan masuk pada saat memberitakan Injil kepada orang-orang Tionghoa. Oleh sebab itu, yang bisa dilakukan adalah: Memberitakan Injil dengan pendekatan budaya dengan menjelaskan bahwa adanya pemahaman yang sama dengan kekristenan dalam aksara Tionghoa Kui Shin Voo and Larry Hovee. AuThe Lamb of God Hidden in the Ancient Chinese Characters,Ay CEN Technical Journal 13, no. : 82. Hovee. AuThe Lamb of God Hidden in the Ancient Chinese Characters,Ay 82. Pertemuan antara Injil dan kebudayaan dapat memberikan dorongan penting untuk menciptakan pendekatan yang lebih bijak dalam memberitakan Injil. 79 Dengan demikian, para pemberita Injil tidak hanya sekadar mengajarkan ajaran Kristen, tetapi juga menghargai dan memasukkan nilai-nilai lokal ke dalam proses penyampaian pesan Injil. Hal ini tidak hanya membantu dalam memperlancar penerimaan Injil oleh masyarakat setempat, tetapi juga mendorong terciptanya dialog yang saling menghormati antara budaya lokal dan ajaran Kristen. Orang kristen perlu melakukan pendekataan budaya dalam memberitakan Injil kepada orang Tionghoa agar mereka bisa merasa ada makna yang sama dengan kekristenan sudah terkandung dalam aksara Tionghoa yang tentu akan memudahkan mereka menerima kekristenan karena mereka akan menyadari bahwa Injil bukanlah sesuatu yang asing bagi kebudayaan Tionghoa. Akan tetapi, sekalipun memiliki makna yang sama tentang Tuhan, dalam budaya Tionghoa tidak memberikan kepada mereka jalan untuk keselamatan, karena jalan menuju kepada keselamatan hanya diperoleh melalui Yesus Kristus. Untuk memberitakan Injil kepada orang Tionghoa, penting untuk memahami aksara dan budaya Tionghoa, dikarenakan adanya kesamaan etnis, budaya serta penguasaan bahasa Tionghoa memungkinkan pekerjaan misi ini lebih dapat diterima oleh masyarakat Tionghoa. Pendekataan budaya juga dipakai oleh para rasul pada saat memberitakan Injil. Sebagaimana dikisahkan oleh Lukas di dalam Kisah Para Rasul menampakkan upaya Paulus dan para misionaris Kristen untuk masuk melalui pintu tradisi Yahudi atau tradisi Yunani agar Injil bisa diwartakan kepada mereka. Peribadatan di Sinagoge merupakan tradisi peribadatan Yahudi yang dimanfaatkan oleh Paulus sebagai jalan untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Yahudi. 83 Demikian juga di Atena. Paulus memanfaatkan salah satu elemen keagamaan. mana penduduk Atena sebagai pintu penginjilian yakni ketika dia mempergunakan gagasan tentang mezbah yang dipersembahkan kepada Allah yang tidak dikenalAy untuk mewartakan Allah dan tindakan keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus (Kis 18:22-. David Eko Setiawan. AuMenjembatani Injil Dan Budaya Dalam Misi Melalui Metode Kontektualisasi,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 3, no. : 165. Setiawan. AuMenjembatani Injil Dan Budaya Dalam Misi Melalui Metode Kontektualisasi,Ay 165. Yogi Fitra Firdaus. AuKAJIAN HISTORIS TERBENTUKNYA JEMAAT TIONGHOA DI JAWA BARAT,Ay Jurnal ABDIEL 4, no. : 79. Firdaus. AuKajian Historis Terbentuknya Jemaat Tionghoa Di Jawa Barat,Ay 80. Stanislaus Eko Riyadi. AuGereja Dan Dialog Budaya Bercermin Pada Misi Paulus,Ay Orientasi Baru 25, 2 . : 121. Riyadi. AuGereja Dan Dialog Budaya Bercermin Pada Misi Paulus,Ay 123. Membedah Perbedaan dan Mengungkap keunikan Iman Kristen Hal kedua yang dilakukan setelah menjelaskan tentang ada persamaan antara kekristenan dengan berita yang ada di aksara Tionghoa. Langkah kedua adalah menjelaskan tentang keunikan Kristen yang melebihi pandangan yang ada pada budaya Tionghoa sebagai jalan keluar bagi permasalahan dosa yang sedang dihadapi, dimana tidak ada jalan keluar bagi dosa manusia baik melalui perbuatan baik karena tidak ada perbuatan baik yang bisa manusia lakukan hingga membuat Tuhan menerima manusia berdosa. Hanya melalui Kristus manusia memperoleh keselamatan karena Yesus yang tidak berdosa telah menebus manusia yang sudah berdosa melalui salib. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa inti dari teologi Calvin adalah kasih Allah yang universal dan tanpa batas. Calvin meyakini bahwa Allah mengasihi semua orang, termasuk mereka yang berdosa, berdasarkan kasih karunia-Nya. Pandangan Calvin tentang predestinasi, yang menegaskan bahwa Allah telah menetapkan siapa yang akan diselamatkan, tidak menghalangi kasih-Nya kepada mereka yang tidak terpilih. Calvin menegaskan bahwa Allah tetap mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana teologi Calvin, khususnya doktrin kasih Allah dan predestinasi, dapat diimplementasikan dalam konteks Indonesia untuk mendorong misi penginjilan. Melakukan penginjilan dengan mengkontekstualisasikan kasih Allah dianggap sebagai solusi yang tepat untuk mengatasi ketidakaktifan misi di gereja-gereja Reformed di Indonesia yang menganut ajaran Calvin. Gereja Reformed di Indonesia harus bersama-sama menelusuri ajaran-ajaran Calvin lebih dalam, terutama yang berkaitan dengan misi dan kontekstualisasi di Indonesia. Penerapan ajaran Calvinisme harus mempertimbangkan konteks budaya dan dinamika sosial masyarakat Indonesia saat ini. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana teologi kontekstual dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas misi gereja-gereja Reformed di Indonesia. Penerapan ajaran Calvinisme harus mampu memberikan jawaban atau pandangan terhadap isu-isu aktual yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Federans Randa. AuKarya Keselamatan Allah Dalam Yesus Kristus Sebagai Jaminan Manusia Bebas Dari Hukuman Kekal Allah,Ay Logon Zoes: Jurnal Teologi. Sosial dan Budaya 3, no. : 37. DAFTAR PUSTAKA