Jurnal Basicedu Volume 4 Nomor 3 Tahun 2020 Halm. 577- 585 JURNAL BASICEDU Research & Learning in Elementary Education https://jbasic. org/index. php/basicedu PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES Masani Romauli Helena Marudut1. Ishak. Bachtiar2. Kadir3. Vina Iasha4 Universitas Negeri Jakarta. DKI Jakarta. Indonesia1,2,4 Universitas Islam Negeri Jakarta. Banten. Indonesia3 E-mail : masaniromauli_pd15s2@mahasiswa. id, 2Gary. bachtiar@gmail. com, 3kadir@uinjkt. iasha@gmail. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Cawang 07 Jakarta Timur. Data dikumpulkan dengan wawancara, tes, observasi dan catatan lapangan. Penelitian ini mengunakan rencana action research, yaitu rancangan penelitian berdaur ulang . Temuan penelitian tentang keberhasilan guru menggunakan pendekatan keterampilan proses, pada tindakan siklus 1 pertemuan pertama menunjukkan bahwa, dari 5 indikator yang direncanakan terdapat 3 indikator yang dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga dikategorikan Kurang (K). Pada tindakan siklus 2 pertemuan kedua menunjukkan bahwa dari 5 indikator yang direncanakan terdapat 5 indikator yang dapat dilaksanakan dengan baik, sehingga dikategorikan Sangat Baik (SB). Hasil kerja siswa pada tindakan siklus 2, menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa siswa dalam memahami pembelajaran IPA sudah sesuai dengan yang diharapkan, sebagaimana dilihat dari hasil tes siswa dalam menyelesaikan soal yang diberikan secara tertulis memperoleh nilai rata-rata 74,6 % sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu Ou 70% dengan nilai paling rendah 6,2. Dari data hasil jawaban siswa tersebut terungkap bahwa siswa sudah mengalami peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis dalam pelajaran IPA dengan baik. Kata kunci: berpikir kritis, pembelajaran IPA, pendekatan keterampilan proses Abstract This research purposes to improve studentsAo critical thinking skiils on science learning of grade IV students of SDN Cawang 07 Jakarta Timur through the implementation of science process learning approach. It was conducted at grade IV of SDN Cawang 07 Jakarta Timur with interview, test, observation and field note as its This is a classroom action reseacrh with cycling method. The findings showed that in cycle I, 3 indicators were accomplished and categorzed adequate and improved at 5 indicators in cycle II and categorized excellent. The studentsAo learning outcome in cycle II proved that the science process learning approach is recommended to be implemented in the science learning process. The mean score of post test was 6% with minimum score was 6. It can be concluded that the implementation of science process learning approach was suggested to be used in science learning on Elementary level. Keywords: Critical Thinking. Science Learning. Science Process Learning Approach Copyright . 2020 Masani Romauli Helena Marudut. Ishak. Bachtiar. Kadir. Vina Iasha A Corresponding author : Address : Jakarta Timur ISSN 2580-3735 (Media Ceta. Email : vina. iasha@gmail. ISSN 2580-1147 (Media Onlin. Phone : 082113366567 DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. PENDAHULUAN (Fitria. Pembelajaran IPA Sehubungan dengan perkembangan jaman diharapkan dapat menjadi bantuan bagi peserta yang semakin maju tersebut, menuntut setiap siswa didik untuk mempelajari alam sekitar dan dirinya sendiri (Laksana, 2. perubahan yang terjadi. Berpikir kritis bertujuan Pembelajaran IPA di SD juga bertujuan untuk mengembangkan keterampilan dasar yang untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada dengan metode pembelajaran beragam, tergantung menanamkan sikap hidup ilmiah dan menerapkan metode ilmiah dalam menyelesaikan masalah, dan pengembangan berpikir kritis (Florea. , & mengajarkan peserta didik untuk lebih mengenal Hurjui, 2. Guru hendaknya mengkaji dan dan mengetahui cara kerja serta menghargai para memperbaiki kembali praktik-praktik pengajaran ilmuan penemunya (Laksana, 2. Menyadari Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas pentingnya suatu sistem pembelajaran untuk dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPA mengembangkan kemampuan berpikir siswa, maka di SD adalah agar peserta didik memahami dan mutlak diperlukan adanya pembelajaran yang lebih mengembangkan pengetahuan konsep-konsep IPA banyak melibatkan siswa secara aktif dalam proses yang saling berkaitan dengan kehidupan sehari- pembelajaran itu sendiri. Hal ini dapat terwujud hari serta memahami lingkungan alam, lingkungan melalui suatu bentuk sistem pembelajaran yang fisik, dan mampu menerapkan metode ilmiah yang dirancang sedemikianrupa sehingga mencerminkan sederhana dan bersikap ilmiah memecahkan keterlibatan siswa secara aktif yang menanamkan kesadaran berpikir kritis (Massa, 2. Siswa keterampilan proses. Kemampuan berpikir kritis siswa-siswi keterampilan berpikir kritis untuk menyelesaikan Indonesia masih terbilang rendah. Hal ini diketahui suatu masalah. Hasil penelitian (Florea. , & dari hasil Programne For International Student Hurjui, 2. mengemukakan bahwa berpikir Assessment (PISA, 2. , skor literasi Indonesia kritis didasarkan pada pembaruan pengetahuan adalah 382 dengan peringkat 64 dari 65 negara. menganalisis perbedaan dan perbandingan, yaitu Soal yang digunakan terdiri atas 6 level . evel 1 terendah dan level 6 tertingg. Siswa di Indonesia mengamati dan mengidentifikasi hubungan sebab- hanya mampu menjawab pada level l dan level 2 akibat, mengekstraksi ide dan evaluasi tentang (Florea. , & Hurjui, 2. Hal ini Pembelajaran menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengajarkan individu membuat penilaian yang menjawab soal yang mengacu pada kemampuan benar . udgment vali. dari nilai-nilai ilmu berpikir kritis masih sangat rendah. Proses pengetahuan ilmiah dan ilmu pengetahuan yang pembelajaran yang demikian menunjukkan bahwa IPA Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. Menurut Baron dan Stemberg menyebabkan rendahnya berpikir kritis siswa menyatakan bahwa berfikir kritis merupakan suatu pikiran yang difokuskan untuk memutuskan apa praktik-praktik pembelajaran yang telah digunakan selama ini namun kurang meningkatkan kemampuan berpikir Mahmuzah, 2. kritis siswa dan proses pembelajaran yang belum optimal (Saputri, 2. (Rifaatul Dalam proses pembelajaran selain untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang Salah satu fakta yang terjadi dikelas IV C dipelajari, perlu ditanamkan ketrampilan berpikir SDN Cawang 07 pada pelajaran IPA adalah kritis terhadap siswa. Menyer & Goodchild terdapat beberapa siswa tidak memperhatikan menyatakan berpikir kritis merupakan sebuah dengan baik ketika guru sedang menyampaikan proses kognitif yang sistematis dan aktif dalam materi, artinya banyak yang siswa yang terdapat di kelas tersebut kurang antusias dan kurang fokus kenyataan, menilai kekayaan dan hubungan dua dalam mengikuti pelajaran. Kemudian model dan objek atau lebih serta memberikan bukti-bukti metode yang digunakan dalam pembelajaran untuk menerima atau menolak sebuah pernyataan. kurang melibatkan siswa untuk berpartisipasi aktif argumen-argumen. Menurut Pierce dan interaktif selama kegiatan belajar mengajar (Desmita, 2. beberapa karakteristik yang Selain itu kemampuan berpikir siswa diperlukan dalam berpikir kritis, yaitu: masih rendah dalam pembelajaran, dan mereka Kemampuan untuk menarik kesimpulan dari Kemampuan untuk mengidentifikasi asumsi Definisi yang paling umum dari berpikir Kemampuan untuk berpikir secara deduktif adalah berkembangnya ide dan konsep didalam Kemampuan untuk membuat interpretasi diri seseorang. Ruggiero mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental untuk membantu Kemampuan untuk mengevaluasi argumentasi mana yang lemah dan mana yang kuat Karakter ini harus dimunculkan dalam memenuhi hasrat keingintahuan . ulfill a desire to proses pembelajaran sedini mungkin. Akan tetapi, kemampuan berpikir kritis ini banyak ditentukan menegaskan bahwa ketika seseorang merumuskan oleh manipulasi dan interaksi aktif anak dengan suatu masalah, memecahkan masalah, ataupun Pengalaman-pengalaman fisik dan ingin memahami sesuatu, maka ia melakukan manipulasi lingkungan memiliki arti penting bagi suatu aktivitas berpikir. terjadinya perubahan perkembangan. Sama halnya (Izzati, secara logis Pendapat Menurut kutipan Beyer (Wardhani, 2. dengan interaksi sosial yang memberikan pengaruh menyatakan, "Berpikir, singkatnya adalah proses besar dalam mengembangkan pemikiran anak mental oleh individu yang masuk akal dari Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. sehingga membuat anak-anak dapat berpikir secara mengembangkan kemampuan berpikir analisis dan kritis dan logis. deduktif dengan menggunakan berbagai konsep Menurut Ennis terdapat dua belas indikator berpikir kritis yang dikelompokkan dalam lima kemampuan berpikir (Dina Mayadiana Suwarna, 2. pendekatan keterampilan proses dan juga ditinjau . lementary dari berpikir kritis diharapkan siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru dan siswa juga lebih senang terhadap mata pelajaran Ketika Memberikan peristiwa alam. pembelajaran yang efektif salah satunya yaitu dan prinsip IPA untuk menjelaskan berbagai IPA, serta siswa pastinya akan lebih aktif dikelas Membangun . asic dan akhirnya mendapatkan nilai mata pelajaran apakah sumber dapat dipercaya/ IPA yang maksimal. tidak, mengamati dan mempertimbangkan Keterampilan laporan hasil operasi. keterampilan yang biasa dilakukan ilmuwan untuk Membuat inferensi . memperoleh pengetahuan. Padilla dalam Keil, mendefinisikan bahwa keterampilan proses sains menginduksi dan mempertimbangkan hasil sebagai kemampuan yang dapat ditransfer secara induksi, menentukan pertimbangan. tepat untuk beberapa disiplin ilmu, dan merefleksi Membuat penjelasan lebih lanjut . dvanced dari para ilmuwan. Dia juga menegaskan bahwa keterampilan proses sains mencakup keterampilan mengidentifikasi asumsi-asumsi. yang terintegrasi. Dasar proses keterampilan Mengatur strategi dan taktik . trategies and proses sains meliputi : mengobservasi, melakukan percobaan, mengkomunikasikan, mengklasifikasi- berinteraksi dengan orang lain. Menurut (Ahmad kan dan memprediksi (Keil, 2. Funk membagi keterampilan proses menjadi menyatakan bahwa: AuIPA adalah usaha manusia dua tingkatan, yaitu keterampilan proses tingkat dasar . asic science proses skil. dan ketrampilan pengamatan yang tepat pada sasaran, serta proses terpadu . ntegrated science process skil. menggunakan prosedur dan dijelaskan dengan Ketrampilan proses tingkat dasar meliputi : observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran. Susanto. Ay Menurut prediksi, dan inferensi. Sedangkan ketrampilan (Nur proses terpadu meliputi menentukan variabel. Andriani, 2. mengungkapkan bahwa pada menyusun tabel data, menyusun grafik, memberi dasarnya mata pelajaran IPA merupakan mata hubungan variabel, memproses data, menganalisis penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan Haryono Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. siswa lain dan peminat lainnya (Oemar penyelidikan dan melakukan eksperimen (Trianto. Hamalik, 2. Menurut Ada 7 . jenis kemampuan yang Mengamati: umur 2 sampai 12 tahun, perkembangan pribadi anak dimulai dengan makin berkembanganya fungsi-fungsi indera anak untuk mengadakan pengamatan (Haryu Islamuddin, 2. Maka menggunakan alat-alat inderanya . elihat, dapat dipahami pada masa ini siswa belajar dan mendengar, meraba, mencium, dan meras. berkomunikasi dengan lingkungannya melalui untuk mengumpulkan data/informasi yang proses pengamatan indera. Menurut Menggolongkan/ mengklasifikasikan: siswa Piaget, peserta didik kelas IV masuk kedalam mengurutkan berdasarkan warna, bentuk dan menggantikan pikiran intuitif selama penalaran Menafsirkan . : siswa dapat diterapkan pada contoh dan khusus dan harus memiliki keterampilan menafsirkan konkret (John W. Santrock, 2. fakta, data, dan informasi, atau peristiwa perkembangan masa kanak-kanak, yaitu antara relevan dengan kepentingan belajarnya Jacques keterampilan proses, antara lain: Jean Meramalkan: Berdasarkan peneliti bermaksud melakukan penelitian lebih keterampilan menghubungkan fakta, data, dan jauh mengenai pendekatan ketrampilan proses dalam meningkatan kemampuan berpikir kritis Siswa mengantisipasi dan meramalkan kegiatan atau siswa pada pelajaran IPA. peristiwa yang mungkin terjadi pada masa METODE yang akan datang Penelitian ini dilaksanakan di SDN Cawang konsep yang telah dipelajari dan dikuasai ke 07 Jakarta Timur yang beralamat di Jalan JaAoani dalam situasi atau pengalaman baru Nasir RT 5/ RW 11 Cawang. Kramatjati. Daerah Merencanakan penelitian: siswa harus mampu Khusus Ibukota Jakarta 13630. Jumlah peserta menentukan masalah dan variabel-variabel didik kelas IV C sebanyak 32 siswa. Waktu yang akan diteliti, tujuan, dan ruang lingkup 2019/2020. Menerapkan: Mengkomunikasikan: siswa harus mampu Metode penelitian yang digunakan dalam menyusun dan menyampaikan laporan secara penelitian ini adalah action research. Pelaksanaan sistematis dan menyampaikan perolehannya, action research model Kemmis dan McTaggart baik proses maupun hasil belajarnya kepada dirancang mengikuti empat tahapan yang harus Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. dilalui yaitu: . perencanaan, . pelaksanaan subjek penelitian yakni berjumlah 32 Siswa. tindakan, . observasi, dan . Pada Penelitian menunjukkan bahwa banyaknya siswa action research dilaksanakan dalam beberapa yang dapat melaksanakan indikator pertama yaitu siklus, dengan tahapan . bagian persiapan, 20 orang, indikator kedua hanya 9 orang, indikator . pelaksanaan, . pengamatan, . ketiga hanya 13. Adapun action research ini menggunakan sumber Temuan penelitian tentang keberhasilan data dari guru, peserta didik, kepala sekolah dan guru dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa alam pelajaranIPA melalui pendekatan keterampilan proses, pada siklus 2 pertemuan dokumentasi berupa foto-foto dan video rekaman pertama menunjukkan bahwa, dari 5 indikator kegiatan pembelajaran di kelas. Dokumentasi dan yang direncanakan terdapat 4 indikator yang dapat catatan lapangan dilakukan pada setiap siklus. dilaksanakan dengan baik. 1 butir indikator yang Sedangkan data pendukung lainnya adalah hasil belum dilakukan adalah membangun keterampilan refleksi yang telah dianalisis dengan berdiskusi Selain bersama kolaborator. Teknik pengumpulan data Pada yangdilakukan dengan cara observasi, wawancara, direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik. Sangat menggunakan lembar soal tes kemampuan berpikir Baik (SB). kritis yang telah dikembangkan untuk mengetahui Aktivitas guru pada tindakan 2 pertemuan pertama kemapuan berpikir kritis siswa dikelas IV SD. berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam belajar serta berpengaruh pada tingkat kritis siswa dalam pelajaran IPA. Pada tindakan siklus 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus, pertemuan pertama diharapkan siswa mampu pada tindakan siklus 1 pertemuan pertama melakukan 5 indikator yang telah ditetapkan dari menunjukkan bahwa, dari 5 Indikator yang keseluruhan subjek penelitian yaitu 35 siswa. direncanakan terdapat 3 Indikator yang dapat menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam pertama dapat dikategorikan kurang (K). Indikator memecahkan masalah sudah sesuai dengan yag yang belum dilakukan adalah membuat inferensi diharapkan, sebagaimana dilihat dari hasil tes dan membangun keterampilan dasar. siswa dalam menjawab soal yang diberikan secara Sehingga Hasil kerja siswa pada tindakan siklus 2 Aktivitas guru pada siklus 1 berpengaruh tertulis memperoleh nilai rata-rata 74,6%, sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu Ou 70% dengan nilai paling rendah kemampuan kritis siswa. Pada pertemuan pertama 6,2. Dari data hsil jawaban siswa tersebut ini diharapkan siswa mampu melakukan 5 butir indikator yang telah ditetapkan dari keseluruhan Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. kemampuan berpikir kritis siswa meningkat. Hasil penelitian yang terdiri atas aktivitas siswa dan kemampuan berpikir kritis dalam Berdasarkan data dari tindakan siklus 2 IPA dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan menggunakan pendekatan keterampilan proses berpikir kritis siswa rata-rata dikategorikan baik. mengalami peningkatan yang signifikan. Hal Hasil tindakan siklus pertama belum mencapai hasil yang diharapkan, dan masih dengan baik. Hasil observasi dan hasil tes siswa di analisis bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA keterampilan proses yang belum dilaksanakan. dengan menggunakan pendekatan keterampilan Pada tahap pertama melaksanakan pembelajaran, proses, pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang siswa sudah dapat melaksanakan tiga indikator indikator-indikator membuktikan bahwa siswa sudah memahami langkah-langkah pembelajaran yang dilaksanakan disimpulkan bahwa hasil penelitian tindakan siklus dengan menggunakan pendekatan keterampilan II, dianalisis dan direfleksi bahwa: proses, yang pada akhirnya menghasilkan nilai IPA. Oleh Siswa mampu berpikir kritis dalam proses peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa Hal kemampuan berpikir kritis yang dikategorikan pembelajaran terutama pada penggunaan alat peraga sebagai model dalam pembelajaran dan kualifikasi Sangat Baik (SB) karena pada kegiatan dikaitkan langsung dengan kehidupan Keberhasilan indikator-indikator mengalaminya langsung bukan sekedar menghafal. keterampilan proses. Hal ini menunjukkan bahwa Guru sudah lebih memperhatikan siswa- siswa telah memahami betul langkah langkah siswa yang kurang percaya diri dalam mengajukan pembelajaran pendekatan keterampilan proses. Hal pertanyaan ataupun dalam menjawab soal dengan ini sejalan dengan pendapat Harlen (Patta Bundu, cara mendekati dan membimbing siswa saat 2. yang mengatakan bahwa setelah memahami indikator masing-masing keterampilan proses, maka siswa dapat merancang kegiatan percoban meningkat sehingga dapat lebih meningkat pada yang dapat memberikan kesempatan siswa untuk tindakan siklus II. melatih dan menunjukkan keterampilan yang Guru sudah melaksanakan keseluruhan Keberhasilan tindakan dari siklus dari rencana pembelajaran yang telah direncanakan pertama ke siklus kedua karena siswa telah sebelumnya dengan baik. Hasil belajar siswa dari memahami indikator keterampilan proses yaitu siklus pertama ke siklus kedua mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jurnal Basicedu Vol 4 No 3 Tahun 2020 p-ISSN 2580-3735 e-ISSN 2580-1147 Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Keterampilan Proses Ae Masani Romauli Helena Marudut. Ishak G Bachtiar. Kadir. Vina Iasha DOI: https://doi. org/10. 31004/basicedu. menginterpretasi data, keterampilan meramalkan atau menyimpulkan, keterampilan menerapkan. KESIMPULAN Penggunaan proses dapat meningkatkan kemampuan berpikir pengamatan maupun penelitiannya kepada orang siswa dalam pelajaran IPA kelas IV C di SDN lain baik secara lisan maupun secara tertulis. Cawang 07 Jakarta Timur. Hal ini terbukti adanya Usman dan depdikbud (Hafid, 1. yang perkembangan aktivitas belajar dari siklus pertama menyatakan bahwa keterampilan proses sains yang dengan kualifikasi Baik (B) ke siklus kedua diharapkan dimiliki oleh dan berkembang pada dengan kualifikasi Sangat Baik (SB). Proses siswa diantaranya adalah keterampilan melakukan pendekatan keterampilan proses dapat dicapai keterampilan meramalkan atau menyimpulkan karena dari satu siklus ke siklus berikutnya terus data, keterampilan menerapkan, merencanakan diadakan refleksi dan perbaikan. Hasil ini dapat penelitian, dan mengkomunikasikan hasil. dicapai karena adanya kerjasama antara peneliti. IPA Experiments and hands-on activities can pengamat, dan wali kelas IV C dalam merancang, be inspiring and can help students develop a melaksanakan, mengobservasi, dan merefleksi conceptual understanding of scientific ideas and secara berdaur ulang selama dua siklus. transferable skills, such as critical thinking. But in order for these kinds of activities to be truly REFERENSI